Anda di halaman 1dari 8

I. II.

Tujuan Percobaan
Mengetahui cara pembuatan obat tetes telinga yang baik dan benar dengan melihat pengaruh pelarut terhadap suatu zat.

Dasar Teori
Preparat telinga kadang kadang dikenal sebagai preparat optic atau aural. Bentuk larutan paling sering digunakan pada telinga, suspensi, dan salep masih juga didapati penggunaannya. Preparat telinga biasanya diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil ke dalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran teling (lilin telinga) atau untuk mengobati infeksi, peradangan atau rasa sakit. Preparat untuk melepaskan kotoran telinga. Kotoran telinga merupakan campuran sekresi kelenjar keringat dan kelenjar sebasea dari saluran telinga bagian luar. Pengeluaran kotoran ini lalau didiamkan akan menjadi kering, setengah padat yang lekat dan menahan sel-sel epitel benda benda lain yang masuk saluran telinga. Tumpukan kotoran telinga yang berlebihan dalam telinga dapat menimbulkan rasa sakit, gatal, gangguan pendengaran dan merupakan penghalang bagi pemeriksaan otologik. Bila tidak dibuang secara periodik, kotoran tersebut akan berpengaruh buruk, dan mengeluarkannya akan menjadi lebih sukar dan menimbulkan rasa sakit. Telah bertahun tahun minyak mineral encer, minyak nabati, dan hydrogen peroksida biasa digunakan ntuk melunakkan kotoran telinga yang terjepit agar dapat dikeluarkan. Baru baru ini surfaktan sintetik dikembangkan untuk aktivitas cerumenolitik dalam melepeskan lilin teling. Tata cara dalam membuang lilin/kotoran telinga biasanya dimulai dengan menempatkan larutan optic pada saluran telinga dengan posisi telinga dengan posisi kepala pasien miring 45, lalu dimasukkan gumpalan kapas untuk menahan obat dalam telinga selama 15 30 menit, disusul dengan menymprot saluran telinga dengan air hangat perlahan lahan memakai penymprot telinga dari karet yang lunak. Preparat telinga untuk antiinfeksi, antiradang, dan analgetik. Obat obat yang digunakan pada permukaan bagian luar telinga untuk melawan infeksi adalah zat zat seperti kloramfenikol, kolistin sulfat, neomisin, polimiksin B sulfat, dan nistatin, zat yang terakhir dipakai untuk melawan infeksi jamur. Pada umumnya zat zat ini diformulasikan ke dalam bentuk tetes telinga (larutan atau suspensi) dalam gliserin anhidrat atau propilen glikol. Pembawa yang kental ini memungkinkan kontak antara obat dengan jaringan telinga yang lebih lama. Untuk membantu mengurangi rasa sakit yang sering menyertai infeksi telinga, beberapa preparat otic antiinfeksi juga mengandung bahan analgetik seperti antipirin dan anestetic lokal seperti lidokain, dibukain, dan benzokain. Beberapa preparat cair telinga memerlukan pengawetan terhadap pertumbuhan mikroba. Apabila pengawetan diharuskan maka bahan yang umumnya dipakai adalah klorobutanol (0.5%), timerosol (0.01%), dan kombinasi paraben paraben. Antioksidan seperti natrium disulfida dan penstabil lainnya juga dimasukkan ke dalam formulasi obat tetes telinga, jika dibutuhkan. Preparat telinga biasanya dikemas dalam wadah gelas atau plastik berukuran kecil (5 15 mL) dengan memakai alat penetes.

III.
ZAT AKTIF:

Data Preformulasi

Rumus molekul Berat Molekul

1. Kloramfenikol (Farmakope Indonesia edisi IV halaman 191; Martindale Edisi 28 halaman 1136). = C11H12Cl2N2O5. = 323,13.

Rumus Struktur Pemerian Kelarutan Titik Lebur pH OTT

Khasiat Penyimpanan

= Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang, putih hingga putih kelabu atau putih k = Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etenol, dalam propilena glikol. = Antara 1490 dan 1530 C. = Antara 4,5 dan 7,5. = Endapan segera terbentuk bila kloramfenikol 500 mg dan eritromisin 250 mg atau tetrasiklin Hcl 500 mg dan dicampurkan dalam 1 liter larutan dekstrosa 5%. Stabilitas = Salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian. Stabilitas baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2-7, suhu 25oC dan pH mempunyai waktu paruh hampir 3 tahun. Sangat tidak stabil dalam suasana basa. Kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrofilik pada lingkungan amida. Stabil dalam basis minyak dalam air, basis adeps lanae. (Martindale edisi 30 hal 142). Dosis = 5-10% (Martindale edisi 36 hal 242). = Antibiotik, antibakteri (Martindale edisi 30 hal 141). = Wadah tertutup rapat.

ZAT TAMBAHAN: 1. Gliserin (Farmakope Indonesia IV hal 413, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal 283) Rumus Molekul : C3H8O3 Berat Molekul : 92,09 Pemerian : Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis; hanya boleh berbau khas lemah higroskopis, netral terhadap lakmus, 0,6x lebih manis dari sukrosa. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dan dengan etanol; tidak larut dalam minyak lemak dan minyak menguap. BJ : Tidak kurang dari 1,249. Khasiat : Pembawa dan pengawet antimikroba. Dosis : Pengawet: < 20% Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. Viskosita : Konsentrasi 10% = 1,311mPas (1,311 cPs) pada suhu 20C. Stabilitas : Mengkristal pada suhu rendah. OTT : Oksidator kuat seperti kromium trioksida, potassium klorat, potassium permanganat. IV. ALAT DAN BAHAN Alat : 1.Beaker glass 2.Batang pengaduk 3. Spatula 4. Gelas ukur 5. Pipet tetes 6. Botol bening 7. Piknometer FORMULASI Bahan Kloramfenikol Gliserin

Bahan: 1. Kloramfenikol 2. Gliserin

V.

Formula 5% ad 250 ml

VI.

PERHITUNGAN Kloramfenikol = 5% x 150ml = 7,5 gram Propilen glikol = 250ml 7.5g = 242,5 ml

VII.

PENIMBANGAN Bahan Kloramfenikol Propilenglikol Formula 7,5 gram 242,5 ml

VIII. 1. 2. 3. 4. 5.

CARA KERJA Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Ditimbang semua bahan. Dikalibrasi botol 10 ml. Digerus kloramfenikol ad halus dan dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml. Ditambahkan gliserin sebagai pembawanya, diaduk dengan batang pengaduk ad homogen.

6. Ditambahkan sisa gliserin ad 150 ml. 7. Dipisahkan sebagian obat, dimasukkan ke dalam botol 10ml, kemas, serahkan. 8. Sisa sediaan digunakan stabilitas,viskositas). untuk uji evaluasi (BJ, pH, organoleptik,

IX.

EVALUASI DAN PEMBAHASAN I. Uji Evaluasi 1. Uji Organoleptik Formula 1 Bentuk Cair Bau Tidak berbau Rasa Warna Putih keruh 2. Uji Berat Jenis Gunakan piknometer bersih, kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot jenis piknometer dan bobot air yang baru didihkan pada suhu 25o, atur hingga suhu zat uji kurang 20o masukkan dalam piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25o , buang kelebihan zat uji dan timbang kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi. Nobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat denganbobot air dalam piknometer. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25oC. BJ = (berat piknometer+obat tetes) (berat piknometer kosong) (berat piknometer+air) (berat piknometer kosong) BJ obat tetes = 92,66 27,95 = 1,2514 g/ml 79,66 27,95 Formula 1 Piknometer kosong 27,95 g Piknometer + air 79,66 g Piknometer + obat tetes 92,66 g Bobot jenis 1,2514 g/ml

3. Uji Viskositas dan Rheologi Metode Viskometer Brookfield Alat : Viskometer Brookfield tipe LV Cara: 1. Pasang spindel pada gantungan spindel. 2. Turunkan spindel sampai batas spindel tercelup kedalam cairan yang akan diuji viskositasnya. 3. Nyalakan motornya dan biarkan spindelnya berputar. Lihatlah jarum merah pada skala setelah 3x putaran. Pembacaan skala rentang 10 - 100. 4. Dengan mengubah RPM, didapat viskositas pada berbagai RPM Perhitungan : Viskositas = faktor x skala Gaya (F) = skala x konstanta alat ( Kv) Kv = 673,3 dyne/cm Tabel Data Viscometer Brookfield Spindel RPM Faktor 1 1 1 1 1 3 6 12 6 3 20 10 5 10 20

Skala 19,5 59 72,5 34 16

Viskositas (cPs) 390 590 362,5 340 320

Gaya (dyne/cm) 13129,25 39724,7 48814,25 22892,2 10772,8

4. Stabilitas Sediaan disimpan selama beberapa hari pada suhu kamar, amati. Pengamatan Formula I Hari 0 Tidak jernih Hari 1 Tidak jernih Hari 2 Jernih ada endapan Hari 3 Jernih ada endapan 5. pH Untuk mengukur pH larutan, maka menggunakan alat pH universal. Sehingga didapatkan data sebagai berikut. Formula pH 1 5

X. PEMBAHASAN 1. Pada uji organoleptik, diperoleh tidak berbau dan warna sediaan putih keruh karena pengaruh kelarutan zat aktif terhadap pelarutnya. Sedangkan untuk rasa tidak diujikan karena sediaan tetes telinga merupakan sediaan topikal sehingga tidak dapat digunakan untuk oral. 2. Pada uji berat jenis nilainya melebihi satu, yang mana lebih besar dari berat jenis air, karena walaupun tidak larut komponen-komponennya terdipers dalam sediaan tetes telinga. 3. Untuk konstitensi sediaan tetes telinga yang baik ialah memiliki konstitensi kekentalan yang kental supaya sediaan ini dapat bekerja maksimal karena prinsipnya zat aktif harus nempel pada dinding dalam telinga. 4. Dari hasil uji evaluasi viskositas dan rheologi, sifat alir yang diperoleh adalah thiksotropik, yang mana ketika rpm dinaikkan viskositasnya menurun dan terjadi

pemecahan struktur yang tidak terbentuk kembali dengan segera. Rheogram ini juga dipengaruhi oleh lamanya waktu sediaan mengalami rate of shear. 5. Pada uji stabilitas (kejernihan), sediaan awalnya tidak jernih yang kemudian hari selanjutnya terdapat endapan walaupun hasilnya menjadi jernih. Hal ini dikarenakan pada dasarnya kelarutan zat aktif terhadap pelarutnya (gliserin) yaitu tidak mudah larut. IX. Kesimpulan Formula 1 Tidak berbau Putih keruh Cair

Organoleptik Bau Rasa Warna Bentuk -

Pengukuran BJ Formula 1 = 1,2514 g/ml Stabilitas (Kejernihan) Formula 1 = jernih Sifat alir Formula 1 = tiksotropik * Sediaan tetes telinga yang baik untuk zat aktif kloramfenikol, gliserin tidak dianjurkan sebagai pembawanya.

X.

Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta. 2. Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Jakarta. 3. Diktat Praktikum Formulasi Sediaan Setengah Padat dan Cair, 2012, Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta. 4. Howard, Ansel C, 1982, Pengatur Bentuk Sediaan Farmasi, Jakarta. 5. American Hospital Formulary Services Drug Information, 2010. 6. Kibbe, Orthur H, 2000. Handbook og Pharmaceutical Exipient, Edisi VI. Penerbit : Pharmaceutical Press, USA 7. Sweetman, S.C.,2009. Martindale The Complete Drug Reference 36. Pharmaceutical Press : London Chicago.

III. KLORAMFENIKOL Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Karena ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal. Kloramfenikol merupakan kristal putih yang sukar larut dalam air (1:400) dan rasanya sangat pahit. Rumus molekul kloramfenikol ialah kloramfenikol R= -NO2. 2.1 Farmakodinamik Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom sub unit 50s dan menghambat enzim peptidil transferase sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadangkadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Spektrum anti bakteri meliputi D.pneumoniae, S. Pyogenes, S.viridans, Neisseria, Haemophillus, Bacillus spp, Listeria, Bartonella, Brucella, P. Multocida, C.diphteria, Chlamidya, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan kebanyakan kuman anaerob. 2.2 Farmakokinetik Setelah pemberian oral, kloramfenikol diserap dengan cepat. Kadar puncak dalam darah tercapai hingga 2 jam dalam darah. Untuk anak biasanya diberikan dalam bentuk ester kloramfenikol palmitat atau stearat yang rasanya tidak pahit. Bentuk ester ini akan mengalami hidrolisis dalam usus dan membebaskan kloramfenikol. Untuk pemberian secara parenteral diberikan kloramfenikol suksinat yang akan dihidrolisis dalam jaringan dan membebaskan kloramfenikol. Masa paruh eliminasinya pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam. Kira-kira 50% kloramfenikol dalam darah terikat dengan albumin. Obat ini didistribusikan secara baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan otak, cairan serebrospinal dan mata. Di dalam hati kloramfenikol mengalami konjugasi, sehingga waktu paruh memanjang pada pasien dengan gangguan faal hati. Sebagian di reduksi menjadisenyawa arilamin yang tidak aktif lagi. Dalam waktu 24 jam, 80-90% kloramfenikol yang diberikan oral diekskresikan melalui ginjal. Dari seluruh kloramfenikol yang diekskresi hanya 5-10% yang berbentuk aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk glukoronat atau hidrolisat lain yang tidak aktif. Bentuk aktif kloramfenikol diekskresi terutama melalui filtrat glomerulus sedangkan metaboltnya dengan sekresi tubulus. Pada gagal ginjal, masa paruh kloramfenikol bentuk aktif tidak banyak berubah sehingga tidak perlu pengurangan dosis. Dosis perlu dikurangi bila terdapat gangguan fungsi hepar. 2.3 Penggunaan klinik Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi sebaiknya obat ini digunakan untuk mengobati demam tifoid dan meningitis oleh H.Infuenzae juga pada pneumonia; abses otak; mastoiditis; riketsia; relapsing fever; gangrene; granuloma inguinale; listeriosis; plak (plague); psitikosis; tularemia; whipple disease; septicemia; meningitis. Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada antimikroba lain yang masih aman dan efektif. Kloramfenikol dikontraindikasikan pada pasien neonatus, pasien dengan gangguan faal hati, dan pasien yang hipersensitif terhadapnya. Bila terpaksa diberikan pada neonatus, dosis jangan melebihi 25 mg/kgBB sehari. 2.4 Efek samping REAKSI SALURAN CERNA Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare, dan enterokolitis REAKSI ALERGI Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai. REAKSI NEUROLOGIK Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.

Sediaan a. Kloramfenikol Terbagi dalam bentuk sediaan : Kapsul 250 mg, Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari.Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan perbaikan klinis. Salep mata 1 % Obat tetes mata 0,5 % Salep kulit 2 % Obat tetes telinga 1-5 % Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.

BAB III PRAFORMULASI 3.1 Bahan Aktif Nama Bahan Aktif : kloramfenokol Rumus Molekul : C11H12Cl2N2O5 Berat Molekul : 323,13 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya Khasiat : Antibiotik Golongan Obat : Obat keras No Aspek atau Parameter Pengamatan 1. Organoleptis : Bentuk Hablur halus Bau Khas lemah Warna putih 2. Kemurnian : Kadar Bahan Aktif 3. Sifat kelarutan : Dalam Air Agak larut dalam air (dalam 400 bagian air) Dalam Kloroform sukar larut Dalam Etanol mudah Dalam Benzene Larut Dalam Minyak nabati 4. Stabilitas : Terhadap Cahaya Mudah terurai Terhadap Pemanasan Jenis sterilisasi Menggunakan Sterilisasi dengan cara sterilisasi akhir. 5. Farmakologi : Indikasi Antibiotik Dosis lazim untuk Anak-anak 50 mg/kgBB dalam sehari OTT (inkompatibilitas) Efek Samping 6. Cara penggunaan Spesifikasi dan Syarat sediaan yang Diinginkan Nama Produk Tetes mata kloramfenikol Bentuk Sediaan Tetes mata Bahan Aktif kloramfenikol Kemasan 10 ml Rangkuman Hasil Pengkajian PraformulasiBahan Tambahan

Masalah Solusi Keputusan Alasan 1. Zat aktif tidak larut dalam air Dilarutkan dalam pelarut netral atau agak asam Dilarutkan dalam natrii tetraboras dan dikombinasikan dengan asam borak Karena merupakan larutan asam yang tidak terlalu kuat . asam borak ditambahkan untuk meningkatkan efektifitas natrii tetraboras 2. Harus Isotonis Digunakan bahan pengisotonis 3. Harus Isohidris Diguakan dapar pH 7 Natrii tetraboras Natrii tetraboras juga berfungsi sebagai buffering agent 4. Air mudah ditumbuhi jamur Digunakan bahan pengawet Phenylhydrargyri Nitras Karena akan lebih mudah larut dalam dengan adanya asam nitrat atau alkali hidroksida.

5. Mampu dipanaskan dgn suhu 110oC Sterilisasi akhir Autoklaf Karena berupa larutan