Anda di halaman 1dari 4

IBADAT SABDA Tema: jangan menghakimi

PEMBUKAAN Lagu pembukaan P : Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus U : amin

Salam P U

: semoga Tuhan beserta kita : sekarang dan selama-lamanya

Kata Pengantar Saudara-saudaraku yang terkasih, selamat sore. Selamat bertemu kembali di Rumah Tuhan. Semoga kita tetap bersemangat dalam mengikuti ibadat sabda. Bacaan-bacaan pada hari ini mengajak kita untuk tidak menghakimi sesama kita. Karena dalam perkataan dan perbuataan kita - baik sengaja maupun tidak seringkali kita menjadi hakim. Menghakimi orang lain sampai membuat orang lain menjauh dari nilai-nilai Kerajaan Allah. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma,menasehati agar menerima orang lain apa adanya. Tanpa banyak menuntut orang lain. Lalu dalam bacaan injil akan diperdengarkan injil dari Lukas. Kita diajak untuk menjadi seperti Bapa yang murah hati, dengan tidak menghakimi orang lain. Tobat Oleh sebab itu, menyadari kita adalah manusia yang penuh dengan kelemahan dan dosa. Mari kita mohon ampun atas dosa-dosa kita, agar layak mengikuti peristiwa keselamataan ini. P : saya mengaku . . . . Diakhiri, P : semoga Allah yang mahakuasa mengasihi kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal. U : Amin

Tuhan Kasihanilah Kami P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau diutus menyembuhkan orang yang remuk redam hatinya, Tuhan kasihanilah kami . . U : Tuhan kasihanilah kami P : Engkau datang memanggil orang yang berdosa, Kristus Kasihanilah kami . . U : Kristus kasihanilah kami P : Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami, Tuhan kasihanilah kami . . U : Tuhan ksihanilah kami

Doa Pembukaan P : Marilah kita berdoa . . Allah yang mahabaik, setiap saat kau melimpahi kami dengan segala berkat-Mu. Semoga ibadat yang kami langsungkan pada hari ini membimbing kami kepada keselamatan kekal. Amin.

SABDA Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi Bacaan injil ( luk 6: 36-38) 6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." 6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. HOMILI DOA UMAT P : saudara-saudara yang terkasih, Allah pernah bersabda mintalah, maka kamu akan diberi. Oleh karena itu, marilah dengan rendah hati kita mohon kepada-Nya.

Ditutup dengan: P : Demikianlah ya Bapa, doa-doa yang kami sampaikan ke hadirat-Mu. Semoga Engkau berkenan mengabulkannya, terutama yang sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab semua ini kami sampaikan kepada-Mu dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus, yang hidup kini dan sepanjang masa. U : Amin Bapa Kami P : atas petunjuk Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa: U : bapa kami . . .

PENUTUP Doa Penutup P : Marilah kita berdoa . . Allah Bapa yang mahabaik, Engkau menganugerahkan kami keselamatan melalui sengsara, wafat, dan bangkit Putera-Mu. Semoga kami mampu hidup pantas sebagai orang-orang yang telah diselamatkan. Karena Engkaulah Allah yang hidup sepanjang masa. U : Amin Mohon Berkat P : Saudara-saudaraku yang terkasih, sebelum pulang marilah kita memohon berkat dan rahmat Allah, agar kita dapat mengamalkan Sabda Allah yang baru kita dengar tadi dalam hidup kita sehari-hari. Untuk itu marilah kita hening sejenak, dan mempersiapkan diri. Hening . . . P : Semoga Tuhan beserta kita U : sekarang dan selama-lamanya. P U : Semoga kita selalu dilimpahi rahmat Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera, dan Roh Kudus. : Amin

Pengutusan P : saudara-saudara yang terkasih, dengan demikian perayaan sabda telah selesai. U : syukur kepada Allah P : marilah kita pergi sambil membawa damai Tuhan. U : amin Lagu penutup

Khotbah Jangan Menghakimi Bacaan: Rom 14:1-12 Suarta Kasmiran Luk 6:36-38 1. ilustrasi Saudara-saudaraku yang terkasih, beberapa bulan lalu saya mempunyai seekor ikan cupang. Ikan cupang adalah sejenis ikan petarung. Tentu kita banyak yang mengenal ikan ini. Sebelum ikan ini mati, dia mempunyai sebuah kebiasaan. setelah saya menganti air kotor di akuariumnya dengan air bersih, ia akan menyerang kaca akuarium di sekelilingnya. Saudara-saudaraku tahu mengapa? Karena dia melihat bayangannya sendiri. Dia mengira itu musuhnya. Dia menyerang, mengigit, dan mengembangkan siripnya. Seolah-olah sedang bertarung dengan musuh besar. Saya kadang berpikir: Coba kalau dia tahu itu bayangannya, pasti dia tidak sibuk menyerang seperti itu. Bukankah itu hanya melelahkan saja. Coba kalau dia hanya tersenyum, tentu bayangan itu akan balas tersenyum. Coba saja ia hanya melambaikanlambaikan ekornya saja. Tentu balasan dari perbuatannya adalah menerima hal yang sama. Saudara-saudaraku yang terkasih, dari kebiasaan si ikan somang saya belajar sesuatu tentang hidup. Dalam hidup kita, hal yang kita perbuat bagi orang lain pasti akan memberi balas kepada kita. Jika kita marah kepada orang, tentu balasnya pasti ada rasa tidak enak dari orang lain. Serta jika kita menghakimi orang lain, maka pada suatu saat kita akan dihakimi orang lain. Sebaliknya, jika kita murah hati, pasti akan ada banyak orang murah hati kepada kita. Seperti injil pada hari ini. Dikatakan: Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Demikianlah, kita seringkali menghakimi orang lain dengan perkataan kita atau mungkin perbuatan kita, baik sengaja atau tidak. Mungkin saja hal itu akan kembali kepada kita. Saudara-saudaraku terkasih, walaupun sekarang kita punya hukum yang mulai tertata, tapi ada saja penghakiman yang kita lihat. Baik itu di pemerintahan, komunitas kantor, komunitas pertemanan, atau mungkin saja di komunitas ini. Lalu apa sih penghakiman itu? 2. apa, mengapa dan bagaimana Saudara yang terkasih, bacaan-bacaan yang telah kita dengar jelas berbicara tentang penghakiman. Namun apakah yang dimaksud penghakiman itu? Penghakiman berarti: a. Penghakiman berarti kita menjadi seorang hakim. Sementara orang lain menjadi terdakwa di hadapan kita. Saudara-saudara apakah pernah mendengar berita tentang seorang pencuri ayam yang dihakimi di tempat hingga meninggal? Atau berita tentang pencuri yang diseret ke lapangan oleh warga, lalu di pukul ramai-ramai? Beberapa bulan lalu saya membacanya di Koran Surya. Demikianlah, ini suatu realita penghakiman di masyarakat kita. Saya bisa mengatakan itu penghakiman tak berprikemanusiaan. Karena hak pencuri sebagai seorang manusia tak dipedulikan lagi. Pencuri mati di tempat, semntara pejabat masih tersenyum berseri. Saudarasaudaraku yang terkasih, kecendrungan dari kita adalah menentukah hidup orang lain. kamu itu lo salah! Atau kamu itu lo bodoh!, dia itu jahat, jangan dekat dengan orang itu! begitu sering kita menghakimi orang lain. Tidak hanya dengan perkataan, termasuk dengan penilaian subjektif kita. Seperti seekor burung rajawali yang hidup diantara telur ayam semenjak dari saat ia belum menetas. Ia tidak pernah diberi kebebasan menjadi dirinya sendiri. Akhirnya hingga mati, si rajawali tidak pernah mengetahui bahwa ia adalah seekor rajawali. Kamu itu harusnya begini, tidak boleh seperti itu! Kita membatasi orang-orang sekitar kita untuk melebarkan sayapnya. Melarang orang untuk menjalani hal yang sebenarnya baik. Bukannya membantu ia menjadi seekor rajawali sesungguhnya. b. penghakiman berarti kita mengambil hak milik Allah Saudara-saudara yang terkasih, apa yang saya maksud dengan mengambil hak Allah? Saudara-saudaraku yang terkasih, dalam bacaan pertama tadi kita menemukan jawabannya. Dalam ayat 8 dikatakan: Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Lalu milik siapakah kita? Milik Kristus. Milik siapakah penghakiman itu? Lalu apakah hak kita untuk menghakimi orang lain? Allah menciptakan semua kebaikan untuk semua orang. Matahari,hujan,panas,nafas,semua yang baik ada untuk semua orang. Itu berarti bukan hanya untuk orang Kristen, Katolik, Islam, tapi semua orang, termasuk untuk orang Atheis. Mengapa tidak boleh menghakimi? a. Allah adalah murah hati. Kita diajak untuk menerima orang lain tanpa menghakimi. Kita diajak untuk mencintai semua orang tanpa memandang muka, asal, warna kulit atau isi dompet. Di dunia ini tidak ada yang tanpa kekurangan. Seorangpun tidak. Oleh sebab itu kita diajak untuk bersabar terhadap kelemahan-kelemahan orang lain, sambil terus membantu dia bangkit. Bukan membuat dia putus asa dengan menghakiminya. Dari belajar sabar terhadap orang lain kita banyak belajar. Kita bisa berusaha mengusahakan keutamaan-keutamaan. Kita juga bisa belajar menata hati dan pikiran kita secara postif. b. dalam diri kita tidak ada kebenaran sejati kita di dunia ini sama-sama orang berdosa. Sama-sama orang yang sedang berziarah menuju kehidupan abadi. Kebenaran sejati hanya ada pada Allah. Oleh sebab itu, Allah turun ke dunia dalam wujud manusia karena kita ini berdosa. Jadi, buat apa kita menghakimi? Lebih baik kita selalu mawas diri. Bagaimana seharusnya? a. segalanya berasal dari hati Walau berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan sesuatu yang jahat pasti nanti ketahuan. Walau berusaha menahan diri, tapi akan keluar kata-kata jahat apabila kita tidak menata hati kita. Oleh sebab itu, mari kita tata hati kita. b. positive thinking Berusahalah berpikir positif tentang orang lain. Mohonlah bembingan Tuhan untuk mampu melihat orang lain sebagai sahabat, bukan musuh. 3. Aplikasi Saudara-saudaraku yang terkasih diakhir renungan saya ini, saya hanya ingin mengajak kita untuk menghadirkan Tuhan bagi orang sekitar kita. Menghadirkan Tuhan, bukannya hantu. Berikan kebaikan kepada sesama, maka akan terpancar buah-buah kebaikan dari semua itu. Mari dengan perkataan kita, kita saling membantu dalam perkembangan. Bukannya menjatuhkan teman, membuat ia tidak mampu

berkembang atau jatuh dalam keputusasaan. Karena dengan memberi kebaikan, kita akan menerima kebaikan. Karena Tuhan yang kita imani adalah murah hati. Mengapa kita harus menghakimi? Amin