Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum AMMP

Hari/Tanggal PJP Asst. Dosen

: Senin,29 Nopember 2010 : Neny Maryani, STP : Made Gayatri, A.Md

UJI ANTIMIKROBA KOMPONEN BIOAKTIF ASAL BUMBU DAN REMPAH DENGAN METODE CAKRAM KERTAS SARING DAN DIFUSI SUMUR
OLEH: KELOMPOK : 4/2B /P2

Dhea Yolanda .Z Nur Hartina Sendy Hilda K. M. Ricki Cahyana

J3E109105 J3E109089 J3E109081 J3E109117

PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

BAB I HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Uji dengan menggunakan metode difusi sumur : Kel I =

Kel II = Kel III = Kel IV = Kel V = Kel VI = Uji dengan mengguanakn metode kertas saring : Kel I = (daun sirih, pala, jahe, kunyit) Daun sirih terdapat luas areal bening 2= Kontrol = tidak ada Daun sirih terdapat luas areal bening 2= Kel III = (sereh, cengkeh, bawang putih, daun jeruk) Tidak terdapat luas areal bening Kel IV = (sereh, cengkeh, bawang putih, daun jeruk) Tidak terdapat luas areal bening Kel V = (kayu manis, lengkuas, bayang merah, kencur) Tidak terdapat luas areal bening Kel VI = (kayu manis, lengkuas, bayang merah, kencur) 1= 0.91 1= (1.2 , 1 , 0.4 , 1.2)

Kel II = (daun sirih, pala, jahe,kunyit)

Tidak terdapat luas areal bening

1.2 Pembahasan Sebelum melakukan pengujian pada rempah, yang perlu dilakukan pertama ialah mempersiapkan sampel rempah tersebut. Kami menggunakan bawang putih dan daun jeruk. Yang pertama bagian luar rempah atau daun jeruk dibersihkan dengan air, lalu daun jeruk dan bawang putih ditimbang sebanyak 1-10 gram. Setelah ditimbang, daun jeruk dan bawang putih dididihkan dalam air panas yang sudah menggolak 100 ml. Biarkan 5 hingga 10 menit, lalu rempah-rempahnya diangkat dan ditiriskan, hingga mencapai suhu kamar. Untuk daun jeruk, dipisahkan dari daun dan airnya. Setelah melakukan persiapan sampel rempah, dan suhu yang kira-kira sudah mencapai suhu kamar, langsung dibuat dengan metode cakram kertas saring dan metode difusi sumur. Untuk metode cakram kertas saring, diinokulasikan 0.1 ml suspensi kultur dalam cawan petri steril, lalu dituang NA cair dalam cawan petri yang sudah berisi suspensi kultur tersebut, lalu dihomogenkan hingga memadat. Setelah NA sudah menjadi padat, kertas saring dicelupkan ke dalam ekstrak rempah, tiriskan dan diletakan pada permukaan media NA. Untuk setiap cawan diletakkan 4 kertas saring yang mengandung dua ekstrak rempah dan satu kertas saring untuk kontrol yang dicelupkan pada air steril. Lalu diinkubasikan pada suhu 37C selama 2 hari. Lalu diamati penghambatan pertumbuhan mikroba dan zona penghambatannya diukur. Untuk metode difusi sumur, dibuat suspensi kultur murni pada larutan pengencer hingga pengenceran 10 ^(-1). Lalu diambil 0.1 ml suspensi kultur yang telah diencerkan dan dimasukkan dalam cawan petri steril. Setelah dimasukkan suspensi kultur, dituang NA dalam cawan tersebut. Homogenkan dan dibiarkan memadat. Setelah menjadi padat, dibuat 5 lubang sumur pada permukaan NA. Lalu diberi kode lubang-lubang tersebut 1-5. Diambil 10 l ekstrak rempah daun jeruk dan bawang putih yang sudah dingin, dan dimasukkan ke dalam 4 lubang tersebut. Lubang yang ke lima dijadikan kontrol dengan memasukkan 10 l air steril.

Setelah itu, inkubasikan pada suhu 37C selama dua hari. Lalu diamati penghambatannya dan zona penghambatnya. Antimikroba merupakan senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Manusia telah dihadapkan oleh kerusakan atau penurunan mutu bahan pangan, terutama bahan pangan yang mengandung kandungan air dan gizi yang tinggi. Penambahan bahan pengawet pada makanan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan pada bahan pangan. Bahan pengawet untuk mencegah kerusakan biologi yang disebabkan oleh mikroorganisme disebut dengan antimikroba. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (mikrobisidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (microbiostatik). Seiring dengan trend back to nature atau kembali ke alam, berbagai jenis tanaman obat kembali dicari sebagai antimikroba, dan dimanfaatkan masyarakat, tidak terkecuali sirih yang cukup terkenal sebagai obat mujarab itu. Sirih (Piper betle L) telah lama diketahui dan digunakan secara turun temurun untuk pengobatan. Bagian-bagian dari tanaman sirih seperti akar, biji, dan daun berpotensi untuk pengobatan, tetapi yang paling sering dimanfaatkan untuk pengobatan adalah daunnya. Pemanfaatan sirih dalam pengobatan tradisional ini disebabkan adanya sejumlah zat kimia atau bahan alami yang mempunyai aktivitas sebagai senyawa antimikroba. Tanaman sirih (Piper betle Linn) merupakan tanaman terna, tumbuh merambat atau menjalar menyerupai tanaman lada. Sirih merupakan salah satu tanaman obat yang telah dimanfaatkan bangsa-bangsa di Asia Tenggara sejak zaman Neolitikum, 3000 tahun yang lampau. Selain dimanfaatkan sebagai tanaman obat, sirih juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai ritual adat. Berdasarkan bentuk daun, rasa dan aromanya, sirih dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain sirih jawa (sirih hijau), sirih cengkih, dan sirih hitam atau sirih keling. Daun sirih mengandung minyak atsiri yang terdiri dari betlephenol, kavikol, seskuiterpen, hidroksikavikol, cavibetol, estragol, eugenol, dan karvakrol. Komponen aktif dari daun sirih terdapat dalam minyak atsiri tersebut. Selain itu, sirih juga mengandung terprnnena, fenil propana, tannin, diastase, gula dan pati.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa daun sirih memiliki sifat styptic (menahan perdarahan), vulnerary (menyembuhkan luka kulit), stomachic (obat saluran pencernaan), menguatkan gigi, dan membersihkan tenggorokan. Pemanfaatan daun sirih dalam pengobatan tradisional ini disebabkan adanya sejumlah senyawa zat kimia atau bahan alami sehingga daun sirih juga mempunyai kekuatan sebagai antioksidasi dan fungisida. Kandungan eugenol dan hidroksikavikol dalam daun sirih memiliki aktivitas antimikroba, dan kandungan lain seperti kavikol, kavibetol, tannin, karvakrol, kariofilen dan asam askorbat juga mempunyai aktivitas antibakteri. Minyak atsiri dari daun sirih mampu melawan beberapa bakteri gram positf dan gram negatif. Adapun beberapa penelitian berhasil menguji kemampuan aktivitas antibakteri terhadap enam jenis bakteri yang meliputi gram positif dan gram negatif, seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Listeria monocytogenes, Escheria coli, Salmonela typhimuriumdan Pseudomonas aeruginosa. Pengujian aktivitas dilakukan dengan menggunakan jenis pelarut ekstraksi yang dapat menghasilkan ekstrak sirih hijau dengan aktivitas antibakteri yang kuat, terhadap enam jenis bakteri patogen pangan tersebut. Pemilihan jenis pelarut dengan menggunakan metode difusi sumur terhadap bakteri uji Escheria coli dan Staphylococcus aureus menunjukkan bahwa ekstrak sirih hijau yang diperoleh dari ketiga jenis pelarut yaitu air, etanol, dan etil asetat secara umum mempunyai kemampuan mengahambat uji bakteri yang beragam (10-24 mm) dan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95%. Dari ketiga jenis pelarut yang digunakan, ekstrak dengan air mempunyai kemampuan menghambat bakteri uji terendah disusul kemudian pelarut etil asetat dan etanol. Ekstrak air mempunyai kemampuan penghambatan terhadap E. coli dengan diameter penghambatan 10 mm dan 11,5 mm untukS.aureus. Ekstrak etil asetat mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan diameter penghambatan yang lebih tinggi daripada ekstrak air yaitu 12,7 mm untukE.coli dan 16 mm untuk S.aureus. dari hasil penelirtian ini S. aureuslebih pekat terhadap ekstrak etanol bila dibandingkan denganE.coli. Ekstrak etanol sirih hijau mempunyai kemampuan menghambat tertinggi terhadapS.aureus (24 mm) dan terhadapE.coli (14 mm). hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukarminah (1997), dimana S. aureus lebih dihambat daripada bakteri uji yang lainnya seperti P.aeruginosa, S. Typhumurium, E.coli,dan L. monocytogenes.

Pengujian aktivitas antibakteri terhadap enam jenis baktei uji dilakukan terhadap ekstrak sirih hijau terpilih dengan daya hambat terkuat yaitu ekstrak etanol dengan berbagai konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak sirih hijau maka aktivitas penghambatannya semakin kuat. Ekstrak sirih hijau efektif menghambat bakteri gram positif dan gram negatif dengan diameter penghambatan bervariasi antara 7 mm sampai 24 mm.

Secara umum bakteri yang paling efektif dihambat dari bakteri Gram negatif adalah S. Typhimurium dengan diameter penghambatan 20-24 mm dan yang paling tahan adalah bakteriE.coli yaitu dengan diameter penghambatan bervariasi antara 7 - 12,3mm. Terhadap bakteri uji yang lainnya, ekstrak atanol sirih hijau berturut turut mampu menghambat bakteri P. aeruginosa dengan diameter penghambat antara 14,6 19,7 mm ; S. aureus (11 mm 17,5 mm); L. monocytogenes,B. cereus, E. coli, S.Typhimuriumdan P. aeruginosa dengan diameter penghambatan berkisar antara 11-15,4 mm. Dari hasil yang diperoleh maka ekstrak sirih hijau dapat digolongkan ke dalam bahan yang mempunyai kemampuan menghambat sedang sampai tinggi tergantung dari konsentrasi yang digunakan. Dari hasil penelitian didapatkan konsentrasi ekstrak sirih hijau dengan kemampuan menghambat tinggi adalah pada konsentrasi 40% sehingga dalam penelitian selanjutnya digunakan konsentrasi akstrak sirih 40%. Kemampuan menghambat dari ekstrak etanol pada konsentrasi 40% memberikan pengaruh yang nyata pada semua bakteri uji (uji Duncan) diketahui bahwa aktivitas antibakteri ekstrak terhadap B. cereus, L. Monocytogenes dan S. aureus tidak berbeda nyata. Aktivitas antibakteri ekstrak terhadap S. Typhimurium adalah tertinggi dan berbeda nyata terhadap bakteri uji lainnya (p<0,005).

BAB II KESIMPULAN DAN SARAN 2.1 Kesimpulan Daun sirih didalam aktivitasnya sebagai antimikroba mampu menghambat bakteri gram positif dan gram negatif dengan diameter penghambatan bervariasi antara 7 mm sampai 24 mm. Senyawa yang terkandung dalam ekstrak sirih yang diduga berperan sebagai antimikroba adalah senyawa fenolik. Selain fenolik dari ekstrak sirih senyawasenyawa yang lain seperti alkaloid, tannin dan steroid juga dapat berfungsi sebagai antibakteri. 2.2 Saran Didalam proses pengolahan sirih sebagai pangan fungsional terutama dalam bentuk minuman, sebaiknya dilakukan proses pengolahan secara baik dan benar, agar senyawa antimikroba tersebut tidak berkurang atau hilang.

DAFTAR PUSTAKA Nurwitri,CC. Maryani, Neny. Nur Fadila Elzha. Penuntun praktikum analisis mutu mikrobiologi pangan.Bogor:Direktorat Program Diploma IPB

LAMPIRAN Soal Pre-Lab 1. Semakin besar zona jernih yang dihasilkan, apa artinya? Jawab : Semakin baik untuk menghambat pertumbuhan mikroba 2. Jelaskan keunggulan metode difusi sumur dibaningkan dengan metode cakram kertas saring ! Jawab : Akurasi volume platting lebih tepat Pertanyaan 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komponen bioaktif ! Jawab : Komponen zat yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri