Anda di halaman 1dari 42

TUGAS FARMAKOGNOSI II

DISUSUN OLEH: WINDA SEPTIANA NIM: 080101006

DOSEN PENGASUH: Ema Ratna Sari, M.Farm, Apt

STIFI BHAKTI PERTIWI 2010

1. Alkaloid dengan prekursor Ornithine a. Alkaloid dengan inti Tropane


atropine, kokaina, ecgonine, scopolamine, catuabine

KECUBUNG (Datura metel, Linn.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Solanales : Solanaceae : Datura : Datura metel

Sinonim: Datura fastuosa, Linn. D. alba, Ness. D. fastuosa, Linn. Var alba C.B.Clarke. Daturae folium, Hindu datura, Datura sauveolens, Datura stramonium, Hyoscyamus niger,Black Henbane, Devil's Trumpet, Metel, Downy Thorn-Apple.

Nama Lokal: Kecubung (Jawa, Sunda), Kacobhung (Madura), Bemebe (Madura), Bulutube (Gorontalo), Taruapalo(Seram), Tampong-tampong (Bugis), Kecubu (Halmahera, Ternate), Padura (Tidore), Karontungan, Tahuntungan (Minahasa). Kecubung juga terdapat di Cina, Inggris, dan Belanda Nama Melayu: Kechubung, Terung pengar, Terung pungak Khasiat : Spasmolitik, antitusif, analgesik Sifat khas: pahit, pedas, menghangatkan, dan sangat beracun. Bagian yang digunakan; bunga, daun, dan buah. Nama simplisia: Datura albae Flos ; bunga Kecubung Datura albae Folium ; daun Kecubung Morfologi: Kecubung (Datura metel) termasuk jenis tumbuhan perdu tahunan yang mempunyai pokok batang kayu, keras dan tebal. Cabang : Cabangnya banyak dan mengembang ke kanan dan ke kiri sehingga membentuk ruang yang lebar. Tinggi dari tumbuhan kecubung 0,5-2 m.

Daun

: Berbentuk bulat telur, tunggal, tipis, dan pada bagian tepinya berlekuk lekuk tajam dan letaknya berhadap-hadapan. Serta ujung dan pangkal meruncing dan pertulangannya menyirip. Daun Kecubung berwarna hijau.

Bunga

: Bunga Kecubung tunggal menyerupai terompet dan berwarna putih atau lembayung. Mahkotanya berwarna ungu. Panjang bunga lebih kurang 12-18 cm.

Bunga bergerigi 5-6 dan pendek. Tangkai bunga sekitar 1-3 cm. Kelopak bunga bertaju 5 dengan taju runcing. Tabung mahkota berbentuk corong, rusuk kuat, dan tepian bertaju 5. Taju dimahkotai oleh suatu runcingan. Benang sari tertancap pada ujung dari tabung mahkota dan sebagai bingkai berambut mengecil ke bawah. Bunga mekar di malam hari. Bunga membuka mnjelang matahari tenggelam dan menutup sore berikutnya.

Buah

: Buah Kecubung hampir bulat yang salah satu ujungnya didukung oleh tangkai tandan yang pendek dan melekat kuat. Buah Kecubung bagian luarnya dihiasi duri-duri pendek dan dalamnya berisi biji-biji kecil warna kuning kecoklatan. Diameter buah ini sekitar 4-5 cm. Buah yang masih muda berwarna hijau, sedangkan yang sudah tua berwarna hijau tua. Bakal buah dalam paroan bawah beruang 4 dan pada puncak beruang 2. Buah duduk pada dasar bunga yang menebal dan melebar ditambah sisa-sisa dari kelopak. Buah berbentuk bola, dinding pada waktu masak terpecah kecil-kecil dan tidak teratur.

Biji Akar

: Berwarna kuning cokelat, gepeng berbentuk telinga, berbintik atau bersaluran (tidak terang). : Akar Kecubung adalah sistem perakaran tunggang.

Anatomi: 1. Batang Batang Kecubung mempunyai jaringan-jaringan sebagai berikut: Jaringan Epidermis Terdiri dari selapis sel yang menyelubungi batang, berbentuk persegi, dan dinding selnya dilapisi kutikula. Terdapat stomata di antara sel-sel epidermisnya.

Derivat epidermis pada batang terdiri dari stomata, trikomata, sel silika, dan sel gabus. Jaringan Korteks Terdiri dari jaringan parenkim, kolenkim, dan sklerenkim. Jaringan kolenkim terdapat pada bagian tepi korteks (perifer) dan berbentuk seperti silinder utuh. Jaringan parenkim terdapat pada bagian tepi dekat permukaan batang dan mengandung kloroplas. Parenkim berisi tepung, kristal, dan zat lain. Pada batang muda Kecubung, lapisan sel korteksnya banyak mengandung tepung dan disebut fluoterma. Jaringan Pengangkut Jaringan pengangkut terdiri atas xilem dan floem. Xilem berfungsi mengangkut zat hara dan air dari dalam tanah menuju ke daun. Sedang floem mengangkut hasil asimilasi dari daun ke seluruh tubuh. Tipe jaringan pengangkut pada Kecubung adalah tipe berkas pengangkut bikolateral. Berkas pengangkutnya mempunyai floem kuar dan floem dalam dengan xilem terletak di antaranya. Stele Stele dengan jaringan pengangkut bikolateral mempunyai jendela daun dan jaringan interfasikuler tidak dapat dibedakan satu sama lain. 2. Daun Daun Kecubung mempunyai jaringan-jaringan sebagai berikut: Jaringan Epidermis Terdiri dari selapis sel dan tidak mengandung plastida yang berkembang baik kecuali sel penutupnya. Sel penutup dikelilingi oleh satu atau lebih sel tetangga (salah satunya lebih kecil) dengan ukuran yang berbeda dari sel epidermis sekelilingnya. Dinding sel epidermis mengandung kutin dan lignin. Pada permukaan epidermis daun banyak terdapat trikoma. Jaringan Mesofil Mesofil mengalami diferensiasi menjadi; Jaringan palisade Berbentuk silindris memanjang pada sumbu transversal daun dan mengandung banyak kloroplas. Tersusun dalam ikatan yang padat menjadi 1 lapis atau lebih. Jaringan bunga karang Tersusun oleh sel yang tidak teratur, bercabang-cabang, berisi kloroplas. Selselnya dipisahkan ruang antar sel yang besar. Sel mesofil yang menyelubungi berkas pengangkut mengandung lebih sedikit kloroplas dan dindingnya lebih tebal.

Jaringan Pengangkut Mengandung xilem dan floem yang fungsinya sama dengan yang di batang. Berkas floemnya di bagian adaksial dan berkas xilem di bagian abaksial. Selain itu juga terdapat tulang daun yang menguatkan daun serta sebagai jalan transport air dan zat hara yang terlarut di dalamnya pada arus transpirasi dan pada proses translokasi hasil fotosintesis ke bagian tubuh lain.

3. Bunga a. Sepala dan Petala Terdiri dari jaringan parenkim, berkas pengangkut, dan epidermis. Sepala berwarna hijau karena mengandung kloroplas. Mesofil sepala tersusun atas sel-sel yang isodiametris dan renggang. Epidermis sepala dilapisi kutin tipis dan meiliki trikomata dan stomata. Petala tidak berwarna hijau karena ada kromoplas dalam vakuola. Mesofil petala terdiri dari perenkim yang terusun rapat dan renggang. Epidermis petala permukaannya agak bergelombang membentuk tonjolan pendek. b. Stamen (Benang sari) Tipe berkas pengangkut stamen Kecubung adalah ampikribral. Jaringan dasar penyusun tangkai sari adalah parenkim tnpa ruang antar sel dan jaringan dasar penyusun kepala sari adalah parenkim yang telah berspesialisasi menjadi sel kelamin. Ovarium (Bakal buah) Dinding bakal buah terdiri dari parenkim dan berkas pengangkut dengan lapisan epidermis di sebelah luar.

c.

4. Akar Akar terdiri dari jaringan-jaringan berikut: Jaringan Epidermis Bulu akar merupakan tonjolan dari epidermis tunggal untuk mnyerap dan menunjang tumbuhan dan disebut trikoblas. Trikoblas berasal dari pembelahan sel induk epidermis (protoderm) yang tidak sama besar. Jaringan Korteks Tersusun atas jaringan parenkim berisi tepung dan sel idioblas. Eksodermis Terdiri dari selapis sel, sel panjang, dan memilik pita Caspary yaitu bgian dinding primer yang menebal. Endodermis

Terdiri dari selapis sel yang struktur anatomi dan fungsi fisiologinya berbeda dengan jaringan di sebelah luar dan dalamnya. Sel endodermis mengalami penebalan selulosa dan lignin. Sel yang tidak mngalami penebalan disebut sel peresap yang terletak di depan protoxilem. Jaringan Pengangkut Terdiri dari xilem dan floem dan unsur bukan pengangkut. Empulurnya terletak di pusat silinder akar dan bersifat seperti parenkim. Xilem akar merupakan bangunan teras di tengah dengan tonjolan serupa jari-jari ke arah luar dan di antaranya terdapat floem.

5. Buah Terdiri dari 3 lapisan yaitu epikarpium, mesokarpium, dan endokarpium. Kulit buah Kecubung buah berdaging berparenkim yang dinding buahnya berasal dari karpela dan jaringan lain. Bentuknya seperti bangunan yang disusun oleh parenkim berdinding tipis.

6. Biji Terdiri atas beberapa bagian yaitu: Embrio Bekas pelekatan biji pada plasenta berupa hilum. Embrio mempunyai 3 jaringan meristem yaitu protoderm, prokambium, dan meristem dasar. Endosperm terdiri dari endosperm non selular, selular, dan helobial. Endosperm mempunyai sel berdinding tipis dengan vakuola besar. Berisi cadangan makanan dengan sel-sel yang rapat tanpa ruang antar sel Testa berasal dari integumen dan terdiri dari sel berdinding tipis. Epidermis kulit biji berdinding tebaldan berisi zat warna. Kecubung cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian tanah 800 m di atas permukaan laut. Selain itu tumbuh liar di ladang-ladang, Kecubung juga sering ditanam di kebun atau pelataran halaman rumah di pedesaan. Perbanyakan tanaman ini melalui biji dan stek.

Kandungan kimia: Kecubung (Datura Metel) mengandung beberapa senyawa kimia, diantaranya: hiosin, cooksalat, zat lemak, atropin (hyosiamin) dan skopolamin.

b. Alkaloid dengan inti Pyrolidine


hygrine, cuscohygrine, nikotina, alkaloid lupin.

Lupin
Spesies : Lupinus L. Nama Inggris : Lupin ; - Lupinus albus: White lupin, Egyptian lupin.; - Lupinus angustifolius: Blue lupin, narrow leaved lupin.; - Lupinus luteus: European yellow lupin, yellow lupin.; - Lupinus mutabilis: Andean lupin, South American lupin, pearl lupin Deskripsi : Terna setahun/semusim (annual) atau tahunan (perennial), tumbuh tegak atau memanjat; terdapat akar pemanjat (taproot) yang kuat dan dalam. Daun majemuk campuran, tangkai daun panjang, terdiri atas 5 - 12 anak daun. Perbungaan tandan terminal, terdiri atas 20-30 bunga; kelopak daun berbibir, yang terbagi hampir di bagian dasar; daun mahkota memilki beraneka ragam warna; benang sari 10, benang sari berberkas satu (monadelphous). Buah pecah (dehiscent) memiliki bangun lurus, pipih, menhandung 3-12 biji. Ukuran, bentuk dan warna biji bervariasi. Distribusi/Penyebaran : Daerah asli tumbuhan Lupinus tidak diketahui; Spesies ini tersebar luas di wilayah Mediterranean. Pada wilayah tersebut, spesies ini dijumpai mulai dari selatan Eropa hingga ke dataran tinggi Afrika Utara dan Timur, dan benua Amerika. Di benua Amerika, spesies ini dijumpai di bagian timur dari Amerika Utara dan Amerika Selatan, namun tidak ditemukan di lembah Amazon. Hanya ada 12 spesies saja yang merupakan spesies asli dari Dunia Lama (Old World), termasuk spesies-spesies budidaya yaitu Lupinus albus, Lupinus angustifolius dan Lupinus luteus. Lupinus albus berasal dari Balkan dan daerah Aegean, Lupinus angustifolius berasal dari sebelah selatan Eropa dan Lupinus luteus dari sebelah timur Mediterranean. Lupinus mutabilis merupakan tanaman budidaya utama di Amerika, yang berasal dari pegunungan Andes.|Proses domestikasi Lupin sudah dimulai dari : 4000-3000 SM. Spesies budidayanya telah tumbuh tersebar di penjuru dunia, mulai dari kawasan dingin beriklim sedang hingga ke kawasan subtropis dan tropis. Habitat : Pada masa pertumbuhannya, Lupinus memerlukan suhu lingkungan yang sesuai yaitu pada kisaran 15-25C. Lupins merupakan tumbuhan yang tahan terhadap kekeringan dikarenakan memiliki akar yang dapat menembus jauh ke dalam tanah. Perbanyakan : Ketika menanam Lupinus, lubang tanam yang dalam diperlukan untuk memfasilitasi pertumbuhan akar.

Manfaat tumbuhan : Lupin telah dibudidayakan sejak dahuli kala sebagai bahan pembuatan pupuk hijau dan makanan ternak. Lupinus albus, Lupinus mutabilis, Lupinus arboreus Sims dan Lupinus polyphyllus Lindley memainkan peran penting sebagai pengontrol erosi, khususnya di Brazil, Peru, New Zealand dan German. Lupinus arboreus, tanaman asli California ini biasa ditanam untuk memadatkan tanah-tanah di daerah pantai dan mereklamasi areal-areal bekas tabang. Ekstrak alkaloid dari biji-biji Lupin digunakan sebagai biostimulan dan insektisida alami.

c. Alkaloid dengan inti Pyrrolizidine Bandotan

Bandotan, Ageratum conyzoides

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae (tidak termasuk) Eudicots (tidak termasuk) Asterids Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Bangsa: Eupatorieae Genus: Ageratum Spesies: A. conyzoides Nama binomial Ageratum conyzoides L.

1. Pemerian botanis
Terna berbau keras, berbatang tegak atau berbaring, berakar pada bagian yang menyentuh tanah, batang gilig dan berambut jarang, sering bercabang-cabang, dengan satu atau banyak kuntum bunga majemuk yang terletak di ujung, tinggi

hingga 120 cm. Daun-daun bertangkai, 0,5-5 cm, terletak berseling atau berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah. Helaian daun bundar telur hingga menyerupai belah ketupat, 2-10 0,5-5 cm; dengan pangkal agak-agak seperti jantung, membulat atau meruncing; dan ujung tumpul atau meruncing; bertepi beringgit atau bergerigi; kedua permukaannya berambut panjang, dengan kelenjar di sisi bawah. Bunga-bunga dengan kelamin yang sama berkumpul dalam bongkol rata-atas, yang selanjutnya (3 bongkol atau lebih) terkumpul dalam malai rata terminal. Bongkol 68 mm panjangnya, berisi 60-70 individu bunga, di ujung tangkai yang berambut, dengan 2-3 lingkaran daun pembalut yang lonjong seperti sudip yang meruncing. Mahkota dengan tabung sempit, putih atau ungu. Buah kurung (achenium) bersegi5, panjang lk. 2 mm; berambut sisik 5, putih.

2. Penyebaran dan ekologi

Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat.

3. Manfaat
Di Bogor, babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Menurut Heyne, daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum. Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina.

Sintrong

Sintrong, Crassocephalumcrepidioides

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae (tidak Eudicots termasuk) (tidak Asterids termasuk) Ordo: Asterales

Famili: Asteraceae Bangsa: Senecioneae Genus: Crassocephalum Spesies: C. crepidioides Nama binomial Crassocephalum crepidioides
(Benth.) S. Moore

Sinonim Gynura crepidioides Benth.

1. Pemerian
Terna tegak, tinggi hingga 1 m, berbau harum aromatis apabila diremas. Batang lunak beralur-alur dangkal. Daun-daun terletak tersebar, dengan tangkai yang sering bertelinga. Helaian daun jorong memanjang atau bundar telur terbalik, 8-20 3-6 cm, dengan pangkal menyempit berangsur sepanjang tangkai daun dan ujung runcing, bertepi rata atau berlekuk hingga berbagi menyirip, bergigi bergerigi kasar dan runcing. Daun yang paling atas lebih kecil dan sering duduk. Bunga majemuk berupa bongkol-bongkol yang tersusun dalam malai rata terminal. Bongkol hijau dengan ujung jingga coklat hingga merah bata, silindris, 13-16 5-6 mm, mengangguk; tegak setelah menjadi buah. Mahkota kuning, dengan ujung merah kecoklatan, bertaju-5. Buah keras (achene) ramping memanjang, seperti gelendong berusuk 10, sekitar 2,5 mm panjangnya; dengan banyak rambut sikat (pappus) berwarna putih, 9-12 mm.

2. Ekologi dan penyebaran

Perawakan

Sintrong memiliki asal-usul dari Afrika tropis, kini telah menyebar ke seluruh wilayah tropika di Asia. Di Indonesia, gulma ini tercatat dijumpai pertama kali di dekat Medan pada tahun 1926. Dari sini dibawa ke Jawa, dan kemudian meliar dan menyebar ke seluruh Nusantara. Kerap ditemui di tanah-tanah terlantar yang subur, tepi sungai, tepi jalan, kebunkebun teh dan kina, terutama di bagian yang lembab, hingga ketinggian 2.500 m dpl. Juga di sawah-sawah yang mengering. Biji-biji (buah) menyebar dengan bantuan angin. Walaupun berbunga sepanjang tahun, terna ini merupakan tumbuhan pengganggu yang relatif mudah diatasi.

3. Kegunaan
Sintrong merupakan lalap yang digemari di Jawa Barat. Di Afrika, selain dimanfaatkan sebagai sayuran, beberapa bagian tanaman sintrong digunakan sebagai bahan obat tradisional; di antaranya untuk mengatasi gangguan perut, sakit kepala, luka, dan lain-lain. Gulma ini juga disukai sebagai pakan ternak Meskipun demikian tumbuhan ini mengandung alkaloida pirolizidina yang bisa memicu tumor

2. Alkaloid dengan prekursor Tyrosine a. Alkaloid dengan inti Benzyl-iso-Quinoline


alkaloid-alkaloid opium (papaverine, narcotine, narceine), sanguinarine, hydrastine, berberine, emetine, berbamine, oxyacanthine

Bratawali
Bratawali, brotowali, atau batrawali (Tinospora crispa (L.) Miers ex Hoff.f.; juga T. cordifolia (Thunb.) Miers dan T. rumphii Boerl.) adalah tanaman obat tradisional Indonesia yang biasa ditanam di pekarangan atau tumbuh liar di hutan. Rebusan batangnya yang terasa sangat pahit biasa dijadikan obat rematik, mengurangi gula darah, menurunkan panas, dan membantu mengurangi gejala kencing manis. Di Indonesia, selain dikenal dengan nama bratawali, tanaman ini juga dikenal dengan nama daerah andawali, antawali, putrawali atau daun gadel. Klasifikasi dari tanaman ini termasuk kedalam famili tanaman Menispermaceae. Tanaman ini kaya kandungan kimia antara lain alkaloid (berberina dan kolumbina yang terkandung di akar dan batang, damar lunak, pati, glikosida pikroretosid, zat pahit pikroretin, hars, berberin, palmatin, kolumbin (akar), kokulin (pikrotoksin).

Klasifikasi ilmiah ekerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Ranunculales Famili: Menispermaceae Genus: Tinospora Spesies: T. crispa Nama binomial Tinospora crispa
(L.) Miers ex Hoff.f

1. Karakteristik
Tumbuhan ini menyukai tempat panas, berupa perdu memanjat, tinggi batang sampai 2,5 m. Batang sebesar jari kelingking, berbintil-bintil rapat yang rasanya pahit. Daun tunggal, bertangkai, berbentuk seperti jantung atau agak bundar seperti telur dengan ujung lancip, panjang 7-12 cm, lebar 5-10 cm, bunga kecil, berwarna hijau muda. Selain itu, Bratawali juga dapat diperbanyak dengan stek.

2. Manfaat
Tanaman Bratawali merupakan tanaman obat yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional yang memiliki banyak manfaat dalam kesehatan terutama dalam penyembuhan berbagai penyakit dalam maupun luar. Pemanfaatan dari tanaman Bratawali ini banyak terdapat pada bagian batang tanaman. Biasanya bagian batang tanaman perlu direbus dahulu kemudian air rebusan batang bratawali dipakai untuk mencuci luka. Kulit-batangnya mengandung zat-zat seperti alkaloida dan damar lunak berwarna kuning sedang akarnya mengandung zat berberin dan kolumbin. Kandungan alkaloid berberina berguna untuk membunuh bakteri pada luka. Zat pahit

pikroretin dapat merangsang kerja urat saraf sehingga alat pernapasan bekerja dengan baik dan menggiatkan pertukaran zat sehingga dapat menurunkan panas. Selain sebagai obat, bratawali juga berfungsi sebagai penambah nafsu makan dan menurunkan kadar gula dalam darah. Sebagai obat, bratawali biasa direbus dan diminum ataupun dioleskan pada kulit untuk luka luar. Penyakit-penyakit yang dapat diobati dengan menggunakan bratawali ialah rheumatic arthritis, rheumatik sendi, demam, demam kuning, kencing manis, malaria, diabetes, serta penyakit luar seperti memar, kudis, dan luka. Di Indo-Cina semua bagian tumbuh-tumbuhan dari bratawali dipakai sebagai obat demam yang dapat menggantikan kinine. Di Filipina, bratawali dianggap sebagai obat serba bisa yang dapat dipakai untuk mengobati penyakit gila. Di Bali batangnya dipakai sebagai obat sakit perut, demam dan sakit kuning, bahkan sebagai obat gosok untuk mengobati sakit punggung dan pinggang. Sedangkan, di Jawa, air rebusannya dapat digunakan untuk mengobati demam,obat luar untuk luka, dan gatal-gatal. Pada beberapa penyelidikan, ternyata air rebusan batang bratawali dapat memberi ketenangan pada tikus, dengan demikian pemakaiannya bermanfaat dalam menangani penyakit kesadaran (psychosis).

3. Alkaloid dengan prekursor Trypthophane a. Alkaloid dengan inti Indole


o Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeO-DMT, bufotenine, psilocybin o Ergolines (alkaloid-alkaloid dari ergot ): ergine, ergotamine, lysergic acid o Beta-carboline: harmine, harmaline, tetrahydroharmine o Yohimbans: reserpine, yohimbine o Alkaloid Vinca: vinblastine, vincristine o Alkaloid Kratom (Mitragyna speciosa): mitragynine, 7hydroxymitragynine o Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine, coronaridine o Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, brucine

Tapak dara

Tapak dara adalah perdu tahunan yang berasal dari Madagaskar, namun telah menyebar ke berbagai daerah tropika lainnya. Nama ilmiahnya Catharanthus roseus (L.) Don. Di Indonesia tumbuhan hias pekarangan ini dikenal dengan bermacam-macam nama, seperti di disebut sindapor (Sulawesi), kembang tembaga (bahasa Sunda), dan kembang tapak dr (bahasa Jawa). Orang Malaysia mengenalnya pula sebagai kemunting cina, pokok rumput jalang, pokok kembang sari cina, atau pokok ros pantai. Di Filipina ia dikenal sebagai tsitsirika, di Vietnam sebagai hoa hai dang, di Cina dikenal sebagai chang chun hua, di Inggris sebagai rose periwinkle, dan di Belanda sebagai soldaten bloem.

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Gentianales Famili: Apocynaceae Genus: Catharanthus Spesies: C. roseus Nama binomial Catharanthus roseus
(L.) G.Don

1. Deskripsi
Perdu kecil tahunan, berasal dari Amerika Tengah. Tumbuh baik mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini menyukai tempat-tempat yang terbuka, tapi tak menutup kemungkinan bisa tumbuh di tempat yang agak terlindung pula. Habitus perdu tumbuh menyamping, Tinggi tanaman bisa mencapai 0,2-1 meter. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau, tersusun menyirip berselingan. Panjang daun sekitar 2-6 cm, lebar 1-3 cm, dan tangkai daunnya sangat pendek. Batang dan daunnya mengandung lateks berwarna putih. Bunganya aksial (muncul dari ketiak daun). Kelopak bunga kecil, berbentuk paku. Mahkota bunga berbentuk terompet, ujungnya melebar, berwarna putih, biru, merah jambu atau ungu tergantung kultivarnya. Buahnya berbentuk gilig (silinder), ujung lancip, berambut, panjang sekitar 1,5 - 2,5 cm, dan memiliki banyak biji.

2. Khasiat
Bunga dan daunnya berpotensi menjadi sumber obat untuk leukemia dan penyakit Hodgkin. Kandungan bahan kimianya adalah vincristine, vinblastine, reserpine, ajmalicine, dan serpentine. Kandungan lainnya adalah catharanthine, leurosine, norharman, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, vindolinine, akuammine, vincamine, vinleurosin, dan vinrosidin. Berbagai alkaloid ini

beracun. Tanda-tanda keracunan tapak dara adalah demam, loya, dan muntahmuntah dalam tempo 24 jam. Tanda-tanda yang lain adalah neuropati, kehilangan refleks tendon, berhalusinasi, koma, dan kematian.

3. Budidaya
Tumbuhan ini tidak tahan terhadap pemangkasan besar dan dapat mati karenanya. Tapak dara biasanya diperbanyak dengan bijinya yang lembut. Caranya, sediakan biji-biji yang tua, lalu semaikan pada suatu tempat persemaian. Masukkan biji ke dalam tanah, lalu tutup dengan lapisan tanah setipis tebal bijinya. Rajinlah menyiram. Bila biji-biji mulai tumbuh, dan tingginya sudah mencapai sekitar 15 - 20 cm, umumnya dapat dipindahkan ke tempat yang diinginkan. Jika ingin ditanam dalam pot, tentu perlu disiapkan pot dan media tanamnya. Pot bisa dari tanah liat, semen, atau kaleng bekas. Media tanamnya berupa campuran tanah subur, kompos, dan pupuk kandang (2 : 1 : 1). Bibit langsung ditanam, dan setelah itu diletakkan di tempat teduh. Seminggu kemudian, ditempatkan di tempat terbuka. Jika ingin ditanam di kebun pekarangan, perlu dibuat lubang tanah berukuran 15 x 151 x 15 cm, dengan jarak di antara lubang 50 cm. Tiap lubang diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 1,5 kg. Masukkan bibit ke dalam lubang, lalu timbun dengan tanah, dan siram. Untuk perawatannya, tapak dara tidak menuntut perawatan khusus. Asal disiram dan diberi pupuk, sudah cukup. Pada awal pertumbuhan, gunakan pupuk yang kandungan nitrogennya tinggi, atau pupuk daun yang disemprotkan pada permukaan bawah daun di pagi hari. Kemudian, ketika tanaman mulai berbunga, untuk merangsang pembungaan, dapat digunakan pupuk yang memiliki kandungan fosfor tinggi.

b. Alkaloid dengan inti Quinoline


kuinina, kuinidina, dihidrokuinina, dihidrokuinidina, strychnine, brucine, veratrine, cevadine

KINA
( Chinchona sp. )

1. SEJARAH SINGKAT Kina merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia. Daerah tersebut meliputi hutan-hutan pada ketinggian 900-3.000 m dpl. Bibit tanaman kina yang masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari Bolivia, tetapi tanaman kina yang tumbuh dari biji tersebut akhirnya mati. Pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina dari Bolivia ditanam di Cibodas dan tumbuh 75 pohon yang terdiri atas 10 klon. Nama daerah : kina, kina merah, kina kalisaya, kina ledgeriana 2. URAIAN TANAMAN 2.1 Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Keluarga : Rubiaceae Genus : Chinchona Spesies : Chinchona spp.

2.2 Deskripsi
1. C. succirubra : Tanaman berupa pohon dengan tinggi hingga 17m, cabang berbentuk galah yang bersegi 4 pada ujungnya, mula-mula berbulu padat dan pendek kemudian agak gundul dan berwarna merah. Daun letaknya berhadapan dan berbentuk elips, lama kelamaan menjadi lancip atau bundar, warna hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur berwarna merah. Tulang daun terdiri dari 11 12 pasang, agak menjangat, berbentuk galah, daun penumpu sebagian berwarna merah, sangat lebar. Ukuran daun panjang 24 25cm, lebar 17 19cm. Kelopak bunga berbentuk tabung, bundar, bentuk gasing, bergigi lebar bentuk segitiga, lancip. Bunga wangi, bentuk bulat telur sampai gelendong. 2. C. calisaya : Letak daun berhadapan, bentuk bundar sungsang lonjong, panjang 8 15cm, lebar 3 6cm, permukaan bagian bawah berbulu halus seperti beludru terutama pada daun yang masih muda, panjang tangkai 1 1.5cm. Daun penumpu lebih panjang dari tangkai daun, bila sudah terbuka daun penumpu akan gugur. Bunga bentuk malai, berbulu halus, bunga mengumpul di setiap ujung perbungaan, kelopak bentuk tabung dan bergigi pada bagian atasnya. Bunga bentuk bintang, berbau wangi dengan ukuran panjang 9mm, helaian mahkota bunga bagian dalam berwarna merah menyala, berbulu rapat dan pendek, panjang benang sari setengan bagian tabung bunga. Buah berwarna kemerahan bila masak, bentuk seperti trelur panjang 4mm dan bersayap.

3. C. ledgeriana : Tinggi pohon antara 4 10m, cabang bentuk segi empat, berbulu halus atau lokos. Daun elip sampai lanset, bagian pangkal lancip dan tirus, ujung daun lancip dan jorong, helaian tipis, berwarna ungu terang tetapi daun muda berwarna kemerahan, tangkai daun tidak berbulu, berwarna hijau atau kemerahan, panjang tangkai 3 6mm. Ukuran daun panjang 25.5 28.5cm, lebar 9 13cm, namun adakalanya panjang 7cm dan lebar 2cm. Daun penumpu bundar sampai lonjong panjang 17 32mm dan tidak berbulu. Mahkota bunga berwarna kuning agak putih dan berbau wangi, bentuk melengkung dengan ukuran panjang 8 12mm. Panjang malai 7 18cm dan gagang segi empat sangat pendek dan berbulu rapat. Kelopak bunga bentuk limas sungsang 3 4mm, tabung tebal ditutupi bulu warna putih, tabung mahkota bunga bagian luarnya berbulu pendek tapi bagian dalamnya gundul dengan 5 sudut. Tangkai sari tidak ada. Buah lanset sampai bulat telur dengan ukuran panjang 8 12mm dan lebar 3 4mm. Biji lonjong sampai lanset panjang 4 5mm.

2.3 Jenis Tanaman Dari sekian banyaknya spesies kina di Indonesia, hanya 2 spesies yang penting yaitu C. succirubra Pavon (kina succi) yang dipakai sebagai batang bawah dan C. ledgriana (kina ledger) sebagai bahan tanaman batang atas..Klon-klon unggul yang dianjurkan adalah antara lain: Cib 6, KP 105, KP 473, KP 484dan QRC. C. calisaya Wedd. (kina kalisaya) juga banyak dikenal dan ditanam oleh masyarakat. 3. MANFAAT TANAMAN Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk obat. Di antara alkaloid tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untuk penyakit malaria dan kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik. 4. SENTRA PENANAMAN Sentra produksi kina di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Barat. 5. SYARAT PERTUMBUHAN 5.1. Iklim
1. Angin yang kencang dan lama menyebabkan banyak kerusakan karena patahnya cabang dan gugurnya daun. 2. Curah hujan tahunan untuk lokasi budidaya kina yang ideal adalah 2.000-3.000mm/ tahun dan merata sepanjang tahun. 3. Tanaman ini memerlukan penyinaran matahari yang tidak terlalu terik. 4. Tanaman tumbuh baik pada temperatur antara 13,5-21 derajat C. 5. Tanaman menghendaki daerah beriklim lembab dengan kelembaban relatif harian minimum dalam satu tahun 68 % dan 97 %.

5.2. Media Tanam


1. Tanah yang cocok untuk tanaman kina adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak bercadas dan berbatu. 2. Derajat keasaman (pH) antara 4,6-6,5 dengan pH optimum 5,8.

5.3. Ketinggian Tempat Di daerah asalnya di pegunungan Andes tanaman ini tumbuh pada ketinggian 1050 1500 m diatas permukaan laut (dpl). Di Indonesia tanaman ini menyukai daerah dengan ketinggian 8002.000 m dpl dengan ketinggian optimum untuk budidaya tanaman kina adalah 1.400-1.700 m dpl. 6. PEDOMAN BUDIDAYA 6.1. Pembibitan.Pada kebun produksi, kina diperbanyak dengan cara vegetatif. Penyediaan bahan tanaman dilaksanakan dengan semai sambung, stek sambung, semai ledger, dan stek ledger. Di Indonesia penyiapan dilakukan dengan cara stek sambung.
1. Pembibitan Semai Sambung 1. Batang bawah : Batang bawah adalah semai kina succi yang ditanam di kebun dan batang atas entres kina ledger. Penyambungan dilaksanakan pada saat bibit bawah berumur 8-12 bulan, tinggi 30-40 cm dan diameter batang 1 cm. Satu-dua minggu sebelum penyambungan daun semai succi dirempel sampai ketinggian 20-25 cm dari permukaan tanah. 2. Entres batang atas : Didapat dari tanaman berumur 3-5 tahun dengan daya regenerasi optimal. Setiap 5 tahun pohon induk entres dipangkas setinggi 1 m dari permukaan tanah agar ranting entres selalu muda. 3. Penyambungan : Batang bawah, pada ketinggian 4-5 cm dari permukaan tanah, disayat dari atas ke bawah sepanjang 1,5 cm. Siapkan entres kina ledger (1 cm) yang daunnya sudah dibuang dan runcingkan bagian bawah entres. Selipkan entres ke sayatan di batang bawah, ikat dengan tali bambu dan oleskan lilin sambungan penutup luka (lilin dicairkan dulu) sampai tertutup rapat. Penyambungan dilakukan sekitar pukul 12.00, jika cuaca tidak terik dapat dilakukan sampai pukul 14.00. Setelah sambungan berumur 3 minggu tunas entres telah tumbuh, pucuk batang bawah succi dipotong. Pada saat umur 7-8 minggu panjang tunas 3-4 cm batang bawah dipotong setengahnya. Setelah berumur 12 minggu dan panjang tunas sambungan 12 cm, batang suci dipotong kira-kira 1 cm dari sambungan. 4. Pemeliharaan : Pemeliharaan yang dilakukan selama periode persemaian bibit ini (disebut persemaian II) adalah penyiangan, pemberantasan hama-penyakit dan pemupukan. Pupuk diberikan setiap 3 bulan dimulai pada waktu bibit sambungan berumur 2 bulan dan berakhir 1 bulan sebelum dicabut (dipindahtanam). Pupuk berupa 160-200 g Urea, 80-100 g TSP dan 160-200 g KCl yang diberikan dalam larikan sedalam 2-3 cm di antara barisan bibit setelah disiangi. 5. Pindah tanam : Bibit dipindahkan ke kebun produksi saat berumur 1 tahun di persemaian II, tinggi 40 - 50 cm dan akar tunggang 50 cm. Seminggu sebelum bibit dibongkar 2/3 bagian daun dibuang dan sehari sebelum dibongkar tanah pembibitan disiram air sampai basah. 50 bibit diikat menjadi satu. 2. Pembibitan Stek Sambung. 1. Batang bawah Succi : Berasal dari batang muda atau tunas-tunas dari bekas tebangan, bukan dari cabang. Pohon induk yang baik dipilih dari pohon yang pertumbuhannya cepat dan mudah berakar dalam penyetekan. Bahan stek diambil setelah tunas berumur 8-12 bulan dan, mempunyai ukuran sebesar pinsil. 2. Batang atas ledger : Pohon induk batang atas ledger dipilih dari klon-klon yang dianjurkan. Pohon induk ditanam pada jarak 1,25 cmx1,25 cm, lokasi kebun dipilih datar, dekat tempat pembibitan. Pohon induk yang siap diambil steknya pada umur 3-5 tahun. 3. Bahan tanaman dan penyambungan : Batang bawah succi yang baik diambil dari pertumbuhan tunas berumur 10-12 bulan yang dipotong pada pohon induk sampai

pangkal pangkasan. Semua daun dibuang, batang dibungkus dengan batang pisang dan disimpan di tempat teduh. Bahan stek diambil dari bagian batang yang masih berair, berwarna coklat muda dan agak tua. Batang dipotong miring 45-60 menjadi stek-stek berukuran 10 cm dengan satu mata tunas. Bagian sisi ujung atas batang bawah dibelah sedalam 1,5-2,0 cm untuk menyelipkan batang atas. Pohon induk batang atas ledger terbaik berumur 3-5 tahun setelah pemangkasan. Batang atas hanya diambil pucuknya sekitar 12 cm, terdiri dari 3-4 ruas paling ujung. Pangkal pucuk dipotong runcing sepanjang 2 cm. Batang atas diselipkan ke belahan batang bawah, diikat dengan tali bambu. 4. Media tanam : Pembibitan stek sambung dilakukan di kantung plastik/polibag ukuran 12x25 cm. Pada sekeliling dan di tengah polibag bagian bawah diberi luang-lubang. Media tanaman berupa tanah andosol dengan pH 4,6- 6,0 yang diisikan ke dalam polibag sebanyak 2/3 bagiannya. Sebelumnya tanah disterilkan dengan larutan Trimaton 150 ml/15 l atau Vapam 250 ml/15 l untuk 1 m 3 . 5. Penanaman stek : Media dalam polibag disiram sampai lembab, oleskan Rootone (perangsang akar) pada ujung tanaman stek sambung lalu tanamkan pada media sedalam 5 cm. Padatkan tanah di sekitar stek supaya tanaman tegak. 6. Penyungkupan : Bedengan diberi sungkup plastik dengan rangka dari bambu, besi atau kawat dengan jari-jari 50-70 cm dengan tinggi puncak 70 cm. Sungkup jangan bocor dan air hujang yang menggenangi plastik harus dibuang. 7. Pemeliharaan : Penyiraman dilakukan 3-4 minggu sekali. Sungkup dibuka setelah stek berumur 3-4 bulan dan tinggi 20-25 cm. Pembukaan dilakukan secara bertahap. Jika hujan, sungkup ditutup. Pada bulan ke 6 sungkup dibuka sama sekali dan pada bulan ke 7 dilakukan seleksi bibit. Tanaman diberi pupuk daun Gandasil atau Bayfolan 0,2-0,3% setiap minggu atau urea 0,2%. Pemupukan hanya dilakukan pada bibit yang tumbuhnya lambat sebanyak 1-5 g NPK 15-15-15/polibag. Penyiangan.dilakukan dengan tangan, penyemprotan insektisida dilakukan jikaada gejala serangan. 8. Pindah tanam : Bibit dipindahkan ke kebun setelah berumur 10-12 bulan, tinggi 40-50 cm. Dan akar telah mencapai dasar polibag. 3. Pembibitan Semai Ledger 1. Bibit semai kina ledger : Adalah bibit semai dari biji kina ledger yang berasal dari poliklonal dengan klon-klon yang terpilih dan dipelihara khusus. Penyiapan bibit relatif singkat hanya 1,5 tahun karena tidak perlu penyambungan. 2. Persemaian : Dilakukan langsung pada bedengan atau dengan memakai polibag berukuran 12 x 25 cm berisi tanah hutan. 3. Pindah tanam : Bibit dipindahtanamkan pada umur 1 tahun dan tinggi 40-50 cm. Bibit dari bedengan dipindahkan dengan cara dicabut sedangkan bibit dari polibag dipindahkan dengan tanahnya setelah polibag disobek dengan hati-hati. 4. Pembibitan Stek Ledger 1. Stek ledger : Setek ledger adalah bibit kina dari pucuk ledger. Tanaman kina ledger umumnya sulit dikembangbiakan dengan stek. Bahan stek yang digunakan adalah pucuk, dari pohon induk yang telah berumur 3-5 tahun, dan setiap 3-5 tahun harus dipangkas setinggi 25-30 cm dari sambungan. Pohon induk ditanam dari bibit semai sambung dengan jarak tanam 1,25x1,25 m. Bahan stek dipilih dari pucuk yang coklat muda, masih berair tetapi sudah agak tua dengan panjang 20-25 cm dan dipetik di pagi hari. Panjang stek 12-15 cm terdiri dari 3-4 ruas. Sebelum ditanam daun dibuang /dirompes setengahnya. 2. Pembibitan : Persiapan pembibitan, media, bedengan, penanaman stek, penyungkupan dan pemeliharaan sama dengan pembibitan stek sambung. Bibit dipindahtanamkan ke lapangan umur 10-12 bulan, tinggi rata-rata 40-50 cm.

6.2. Pengolahan Media Tanam

Pengolahan tanah dimaksudkan untuk mendapatkan tanah yang gembur, bersih dari tunggul sisa-sisa akar dan gulma. Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan pencangkulan tanah sedalam 60 cm, dan pengolahan tanah ke dua sedalam 40 cm dilakukan 2-3 minggu setelah pengolahan tanah pertama. Pada pertanian organic saat pengolahan tanah yang kedua yaitu menghancurkan bongkahan dan membuat struktur tanah lebih remah dan gembur, juga dilakukan penebaran pupuk kandang atau kompos sekitar 50 60 ton per hektar sebagai pupuk dasar..
1. Persiapan Lahan : Setelah pengolahan tanah dilakukan pengukuran dan pematokan dengan memberi tanda, setiap 20 m ke arah mendatar, ke arah kemiringan atas dan bawah. Dengan demikian terbentuk petakan-petakan areal seluas 20 x 20 m2 = 400m 2 yang disebut satu patok. Tanda-tanda patok berupa hanjuang dipelihara dengan baik dan mati segera diganti. 2. Pengapuran : Pengapuran hanya dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 4,5 dengan dosis kapur yang sesuai dengan keperluan. Kapur berupa dolomit, kalsit, dicampurkan merata 100gram/lubang. 3. Pemupukan (sebelum tanam) : Pupuk untuk memacu pertumbuhan bibit diberi 50 gram TSP. Diberikan dalam larikan sekitar tanaman.

6.3. Teknik Penanaman


1. Penentuan Pola Tanaman : Pola penanaman tergantung tofografi lahan. Tiga macam jarak tanam yaitu jarak tanam rapat 75 cm x 75 cm, jarak tanam menengah 100 cm x 100 cm, dan jarak tanam lebar yaitu 1,25 cm x 1,25 cm. PTP Nusantara VIII di Bukit Tunggul menerapkan jarak tanam 100 x 150 cm dengan populasi tanaman per hektar sekitar 6.500. 2. Pembutan Lubang Tanam : Pengajiran untuk pedoman penanaman sehingga sesuai dengan pola dan jarak tanam yang dibuat. Lubang tanam dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 40 cm (untuk bibit dari polibag) dan 30 cm x 30 cm x 40 cm (untuk bibit cabutan). 3. Cara Penanaman : 1. Bibit cabutan : Panjang akar bibit sekitar 30 cm, tinggi bibit 40-50 cm dan 2/3 daunnya dirompes. Masukkan bibit dengan tegak jangan miring. Tanah timbunan dipadatkan dengan cara diinjak dengan kaki, kemudian diratakan. 2. Bibit dalam Polibag : Polibag dibuka dengan cara menyobeknya lalu bibit ditanam bersama medianya, disangga dengan belahan bambu, ditimbun dengan tanah. Tanah di sekitar batang dipadatkan dan tanaman disiram. 3. Tanaman pelindung : Tanaman ini berfungsi sebagai penutup tanah dan memperbaiki iklim mikro agar lebih segar. Tanaman berupa legum Crotalaria atauTephrosia yang ditanam selama 3 tahun. 4. Perioda Tanam : Masa penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan yaitu pada bulan September dan biasanya di saat kondisi tidak terlalu terik untuk menghindari penguapan yang terlalu banyak dari bibit yang akan ditanam. Dengan menentukan masa tanam secara tepat maka akan menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman.

6.4. Pemeliharaan Tanaman


1. Penyulaman : Penyulaman dilakukan satu bulan setelah penanaman, dilakukan secara terusmenerus sampai 3 bulan, menjelang kemarau. Penyulaman pada tahun ke tiga tidak dianjurkan. Kebutuhan bibit sulaman maksimum 10% dan pada tahun kedua 5% 2. Penyiangan : Penyiangan dimaksudkan untuk penggemburan tanah sedalam 10 cm dengan menggunakan cangkul. Penyiangan dilakukan 1,52 bulan sekali. Kegiatan penyiangan sampai umur 2-3 tahun. 3. Pembubunan : Untuk pertanaman kina sebenarnya tidak diperlukan kegiatan pembubunan karena memang tanaman ini merupakan tanaman pohon

yang berumur dalam. Namun demikian pada tanaman muda dapat dilakukan kegiatan ini untuk menimbun kembali tanah di sekitar daerah perakaran yang terbawa air dan dilakukan sekaligus pada saat pemberian pupuk organic kompos setiap 3 4 bulan sekali agar pertumbuhan perakarannya lebih baik. 4. Pemupukan : 1. Pemupukan Organik : Pemupukan secara organic dengan menggunakan pupuk kompos yang merupakan pupuk organic komplek bias diberikan sbb: Untuk tanaman muda dilakukan pemupukan secara rutin setiap 2 3 bulan sekali sebanyak 5 7 kg per tanaman. Sedangkan untuk tanaman yang telah tua (diatas 3 tahun) bias dilakukan pemupukan kompos organic setiap 6 bulan sekali sebanyak 10 12 kg pertanaman. Adapun pemberian pupuk di sekitar batang tanaman di daerah perakaran dilakukan sekaligus dengan pekerjaan dangir dan penyiangan. 2. Pemupukan Konvensional Tanaman muda 1 tahun: Urea 108 kg, TSP 62 kg, KCl 30 kg dan Kieserit 19 kg. 2 tahun: Urea 173 kg, TSP 83 kg, KCl 40 kg dan Kieserit 37 kg.. 3 tahun: Urea 217 kg, TSP 124 kg, KCl 60 kg dan Kieserit 37 kg. 4 tahun: Urea 325 kg, TSP 165 kg, KCl 80 kg dan Kieserit 56 kg. Tanaman dewasa 5 tahun: Urea 390 kg, TSP 186 kg, KCl 80 kg dan Kieserit 56 kg. 6 tahun: Urea 390 kg, TSP 186 kg, KCl 80 kg dan Kieserit 56 kg. 7 tahun keatas: Urea 433 kg, TSP 207 kg, KCl 100 kg dan Kieserit 75 kg.

Catatan : Kieserit iberikan jika ada gejala kekurangan Mg. Pemupukan dilakukan saat curah hujan terakhir antara 100-300 mm, dilaksanakan dua kali setahun. Cara pemberian pupuk diberikan secara setempat. 7. HAMA DAN PENYAKIT 7.1. Hama
1. Ulat : Ulat yang menyerang daun atau ranting muda adalah: 1. Ulat jeungkal (Boarmia bhurmitra, Antitrygoides divisaria, Hyposidra talaca) dikendalikan dengan insektisida Thiodan 35 EC; 2. Ulat sinanangkeup (Paralebeda plagifera) dikendalikan dengan Dedevap 650 EC; 3. Ulat bugrug (Metanastria hirtaca) dikendalikan dengan Lebaycid 550 EC; 4. Ulat badori (Attacus atlas), dikendalikan dengan Baythroid 50 EC; 5. Ulat kaliki (Samia cyntia) dikendalikan dengan Bayrusil 250 EC; 6. Ulat kenari (Cricula trifenestrata) dikendalikan dengan Karphos 25 EC; 7. Ulat bajra (Setora nitens) dikendalikan dengan Lannate L; 8. Ulat kantong (Clania variegata) dikendalikan dengan Decis 2,5 EC, Thuricide, Ripcord 5 EC; 9. Ulat merang (Euproctis flexuosa) dikendalikan dengan Lannate 25 WP; Pengendalian mekanis: dilakukan dengan mengumpulkan telur, kupu serta telur-telurnya, kemudian dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar. 2. Penggerak cabang merah (Zeuzera coffeae) Gejala: menyerang cabang dan ranting hingga layu dan mudah patah. Pada ranting patah ada lubang gerekan. o Pengendalian: memangkas cabang atau ranting yang terserang. 2. Penggerek pangkal batang (Phasus damor) o

3.

4.

5.

6.

Gejala: kerusakan pada leher akar, daun kuning atau kemerahan, layu, kering, rontok dan tanaman mati. o Pengendalian: menanam bibit yang sehat dan insektisida. Penggerek cabang (Xyleberus. Sp). o Gejala: pada ranting, cabang atau batang terlihat adanya tahi gergaji yang halus. Hama ini berasosiasi dengan jamur ambrosia. o Pengendalian: menyemprot larutan fungisida sistemik dan insektisida Gusadrin 150 ESC, Benlate 50 W). Penggerek pucuk (Alcalides cinchonae) o Gejala: bekas serangan menyebabkan pucuk berwarna coklat dan mati. o Pengendalian: penyemprotan dengan insektisida Gusadrin 150 ESC, Benlate 50 WP. Kutu putih (Pseudaulacaspis pentagona) o Gejala: menyerang ranting dan mengisap cairan selnya, ranting menjadi berwarna putih dan dihuni oleh hewan kecil lonjong. Hama ini tidak menimbulkan kerugian dan serangan akan hilang dengan datangnya musim hujan. Helopeltis (Helopeltis theivora, H. antonii) o Gejala: daun dan pucuk yang terserang menjadi salah bentuk. Pada serangan berat tanaman mati dan dari jauh bagian daun kebun kina kelihatan warna kehitamhitaman. o Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida Lannate L, Lannate 25 WP, Lebaycid 550 WP.

7.2. Penyakit
1. Kanker batang o Penyebab: jamur Phytophthora Sp. Terdapat tiga spesies jamur kanker batang yaitu: 1. P. cinnamomi penyebab kanker garis, serangannya di Indonesia sangat luas. 2. P. parasitica penyebab kanker gelang, serangannya relatif sedikit. 3. P. citricola hanya menyerang tunas-tunas kina muda, serangannya juga terbatas. Kanker garis membentuk jalur sempit yang mengendap pada kulit batang. o Gejala: berbeda-beda tergantung umur dan klon. Kanker gelang membentuk warna karat pada permukaan kulit batang. Jika kulit luar dikupas tanpak bahwa kulit bagian dalam membusuk. Pembusukan ini berkembang melingkari batang yang dapat menyebabkan tanaman mati. o Pengendalian: kulit yang sakit dikorek, jaringan busuk dipotong sampai ke bagian sehat dan dilumasi Antimucin WBR 0,5% dan Difolatan 4F 3%. Setelah obat mengering luka ditutupi dengan petrolatum 2295 A, Shell Tapflux atau.Shell Otina Compound. Permukaan kayu yang terbuka ditutup ter untuk mencegah masuknya kumbang penggerek. 2. Penyakit jamur upas (Upasia salmonicolor) o Gejala: sebelum mengering daun-daun dari cabang yang sakit berwarna kuning kemerahan. Pada batang atau cabang terdapat benang-benang jamur yang belum masuk ke dalam kulit, dan mirip dengan sarang laba-laba. o Pengendalian: menyemprotkan bubur Bordeaux. Dapat juga dilakukan pelumasan dengan bubur bordeaux pekat, Perenox 3%, Calixin Ready mix atau Calixin RM (tridemorf) dengan menggunakan kuas. 3. Penyakit mopog (Rhizoctonia solani) o Gejala: di bedengan-bedengan pesemaian terdapat kelompok-kelompok semai yang mati seperti tersiram air panas. o Pengendalian : dengan mengurangi kelembaban persemaian, menyemprotkan fungisida pada tanah bedengan berupa Brassicol sebanyak 30 g/m 2 dan mengurangi penyiraman. Persemaian dapat disemprot dengan Dithane M-45 atau Brestan 0,05%.

7.3. Gulma Gulma di areal tanam terdiri atas golongan rumput-rumputan seperti lempuyangan (Panicum repens) dan paparean (Phalaris arundinaceae); golongan berdaun lebar seperti sintrong (Crassocephalum crepidioides) dan babadotan (Ageratum conyzoides). Pengendalian: dengan memperbaiki kultur teknis, menyiangi/mencabut, menggunakan tanaman penutup tanah lebum dan dengan herbisida pra tumbuh dan purna tumbuh. 7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organic Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah sbb:
1. 2. 3. 4. 5. Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia. Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta.rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial. 6. Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:
1. Tembakau (Nicotiana tabacum ) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids. 2. Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah. 3. Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan. 4. Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro. 5. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida. 6. Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

8. PANEN 8.1. Ciri dan Umur Panen Bagian tanaman kina yang biasa diambil hasilnya adalah bagian kulit batang, dahan, cabang dan ranting. Produk ranting dapat dimulai saat tanaman berumur 6-7 tahun tahun (sebelum tebangan), dengan bagian yang terkecil yang diambil adalah kulit cabang yang diameternya lebih 1 cm. Ranting yang diameternya kurang dari 1 cm memiliki kadar kinin sulfat (SQ) yang rendah, dan biaya pengambilannya relatif mahal. Umur tanaman yang siap panen untuk panen cara tebangan adalah 9-11 tahun dan untuk panen cara penjarangan adalah 3,5, 5, 6, 7, 8,12, 18 dan 24 tahun dengan jumlah tanaman yang dicabut untuk masing-masing penjarangan adalah 12,5% dari total tanaman. 8.2. Cara Panen
1. Cara penebangan. : Tanaman kina ditebang hati-hati dengan gergaji pada ketinggian 20-30 cm dari sambungan, atau leher akar dengan kemiringan 45 derajat. Batang kina dari batas ini dipotong sampai ketinggian 2 meter. Kulit kina dilepaskan dari batang dengan cara dipukulpukul. Panen tebangan pertama disebut Stumping 1. Dari tunggul diharapkan tumbuh tunastunas baru, dan dipelihara maksimum 4 tunas untuk dipanen berikutnya. Penen berikutnya disebut stumping 2 dst. Setelah 4 kali stumping tanaman dibongkar. Panen tebangan yang baik pada awal musim penghujan, hindari terik matahari. 2. Cara penjarangan : Dilakukan dengan cabutan untuk memanen secara bertahap dalam persentase yang telah direncanakan. Pemilihan tanaman yang akan dibongkar tergantung persentase panenan setiap periode. Apabila tanaman akan dibongkar adalah 10%, maka dari 10 tanaman diambil 1 tanaman secara rata-rata.

8.3. Periode Panen Pemanenan biasanya dilakukan secara bertahap yaitu pada saat dilakukan pemangkasan cabang dan ranting dan pemangkasan batang utama. Pemanenan dilakukan pada ranting/cabang yang telah memenuhi ukuran standar yaitu lebih dari 1cm (diameter). Pemanenan sebaiknya dilakukan saat musim kemarau pada pagi hari. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mengelola hasil panen secara langsung terutama masalah pengeringan. Untuk menghindari cemaran cendawan karena kadar air yang tinggi pada kulit batang maka sebaiknya setelah panen/pengulitan segera dilakukan pengeringan dengan jalan menjemur di bawah terik matahari. 8.4. Perkiraan Hasil Panen Dari 1 batang utama kina (2 meter) didapatkan 1-1,5 kg kulit. Hasil kulit kina diperhitungkan dalam kadar SQ7 maupun besarnya produksi kulit, sehingga hasilnya diperhitungkan dari perkalian kadar SQ7 dengan berat kulit kering dalam kg yang disebut potensi produksi. Pola produksi kulit kering dan kadar kinine sulfat (SQ7) hasil panenan cara penjarangan dapat dilihat berikut ini:
1. Umur 3,5 tahun, sistim panenan: penjarangan I (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 500 kg/ha pada kadar SQ7 3 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 15,00 kg/ha. 2. Umur 5,0 tahun, sistim panenan: penjarangan II (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 700 kg/ha pada kadar SQ7 5 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 37,50 kg/ha.

3. Umur 6,0 tahun, sistim panenan: penjarangan III (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 1.000 kg/ha pada kadar SQ7 6 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 60,00 kg/ha. 4. Umur 7,0 tahun, sistim panenan: penjarangan IV (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 1.375 kg/ha pada kadar SQ7 6 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 82,50 kg/ha.. 5. Umur 8,0 tahun, sistim panenan: penjarangan V (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 1.750 kg/ha pada kadar SQ7 7 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 122,50 kg/ha. 6. Umur 12,0 tahun, sistim panenan: penjarangan VI (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 3.125 kg/ha pada kadar SQ7 8 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 250,00 kg/ha. 7. Umur 18,0 tahun, sistim panenan: penjarangan VII (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 6.250 kg/ha pada kadar SQ7 6 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 375,00 kg/ha. 8. Umur 24,0 tahun, sistim panenan: penjarangan VIII (12,5% panenan) dengan produksi kulit kering 9.375 kg/ha pada kadar SQ7 5 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 468,75 kg/ha.

9. PASCAPANEN
1. Penyortiran Basah dan Pencucian : Batang yang akan diambil kulitnya dikumpulkan di suatu tempat yang teduh. Cabang dan ranting dipotong tepat pada pertautan cabang dengan batang, Cabang atau ranting yang ukuran garis tengahnya di atas 1 cm dibersihkan dari ranting kecil dan daun-daun. Setelah itu batang tersebut dibersihkan, kemudian dipotong sepanjang 40 - 50 cm untuk diambil kulitnya. Pencucian pada kulit batang dilakukan dengan air bersih, jika air bilasannya masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember. 2. Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. Pengeringan kulit batang dilakukan selama kira-kira 2 - 3 hari atau setelah kadar airnya dibawah 8%. Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan di atas tikar atau rangka pengering, pastikan bahan tidak saling menumpuk. Selama pengeringan kulit batang harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi bahan tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50C - 60C. Kulit batang yang akan dikeringkan ditaruh diatas tray oven dan alasi dengan kertas Koran dan pastikan bahwa tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah yang dihasilkan. 3. Penyortiran Kering.Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang dikeringkan dengan memisahkannya dari benda-benda asing atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah bahan hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya). 4. Pengemasan : Setelah bersih, bahan yang kering dikumpulkan dalam wadah yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya), dapat berupa kantong plastik atau karung. Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya. Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30C, dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

4.

Alkaloid dengan prekursor Pyridine a. Alkaloid dengan inti Pyridine


piperine, coniine, trigonelline, arecoline, arecaidine, guvacine, cytisine, lobeline, nikotina, anabasine, sparteine, pelletierine.

Pinang

Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur. Pinang juga merupakan nama buahnya yang diperdagangkan orang. Pelbagai nama daerah di antaranya adalah pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Md.), jambe (Sd., Jw.), bua, ua, wua, pua, fua, hua (aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku) dan berbagai sebutan lainnya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree, dan nama ilmiahnya adalah Areca catechu.

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Liliopsida Ordo: Arecales Famili: Arecaceae Genus: Areca Spesies: A. catechu

Nama binomial Areca catechu L.

1. Deskripsi

Batang lurus langsing, dapat mencapai ketinggian 25 m dengan diameter lk 15 cm, meski ada pula yang lebih besar. Tajuk tidak rimbun. Pelepah daun berbentuk tabung dengan panjang 80 cm, tangkai daun pendek; helaian daun panjangnya sampai 80 cm, anak daun 85 x 5 cm, dengan ujung sobek dan bergerigi. Tongkol bunga dengan seludang (spatha) yang panjang dan mudah rontok, muncul dibawah daun, panjang lebih kurang 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap, sumbu ujung sampai panjang 35 cm, dengan 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya dengan banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning; benang sari 6. Bunga betina panjang lebih kurang 1,5 cm, hijau; bakal buah beruang 1. Buah buni bulat telur terbalik memanjang, merah oranye, panjang 3,5 - 7 cm, dengan dinding buah yang berserabut. Biji 1 berbentuk telur, dan memiliki gambaran seperti jala.[2] Di Jawa, pinang tumbuh hingga ketinggian 1.400 m dpl.

2. Kegunaan

Buah pinang yang masak Pinang terutama ditanam untuk dimanfaatkan bijinya, yang di dunia Barat dikenal sebagai betel nut. Biji ini dikenal sebagai salah satu campuran orang makan sirih, selain gambir dan kapur. Biji pinang mengandung alkaloida seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolina (arecoline), yang sedikit banyak bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak. Sediaan simplisia biji pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita. Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah. Zat yang dikandung buah ini antara lain arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya. Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, dan kudisan. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak.

Perkebunan pinang di Taiwan Akar pinang jenis pinang itam, di masa lalu digunakan sebagai bahan peracun untuk menyingkirkan musuh atau orang yang tidak disukai. Pelepah daun yang seperti tabung (dikenal sebagai upih) digunakan sebagai pembungkus kue-kue dan makanan. Umbutnya dimakan sebagai lalapan atau dibikin acar. Batangnya kerap diperjual belikan, terutama di kota-kota besar di Jawa menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, sebagai sarana untuk lomba panjat pinang. Meski kurang begitu awet, kayu pinang yang tua juga dimanfaatkan untuk bahan perkakas atau pagar. Batang pinang tua yang dibelah dan dibuang tengahnya digunakan untuk membuat talang atau saluran air. Pinang juga kerap ditanam, di luar maupun di dalam ruangan, sebagai pohon hias atau ornamental

3. Perdagangan

Buah pinang yang masih muda di pohonnya Saat ini biji pinang sudah menjadi komoditi perdagangan. Ekspor dari Indonesia diarahkan ke negara-negara Asia selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, atau Nepal. Negara-negara pengekspor pinang utama adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Myanmar. Biji pinang yang diperdagangkan terutama adalah yang telah dikeringkan, dalam keadaan utuh (bulat) atau dibelah. Di negaranegara importir tersebut biji pinang diolah menjadi semacam permen sebagai makanan kecil.

Kandungan kimia
Zat yang dikandung buah ini antara lain arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya

5. Alkaloid dengan prekursor Lysine a. Alkaloid dengan inti Quinolizidine

b. Alkaloid dengan inti Piperidine


Anatabine, anabasine, piperine

Lada Hitam (Piper nigrum L.)

Suku : Piperaceae Sinonim : Piper globrispicum DC. Kandungan kimia Minyak atsiri 1-2,5% yang komposisinya antara lain: #Dari kelompok Monoterpene hydrocarbon 5,7,8,10,11,12 : Kamfene ^-3-Karen p-Simen Limonen Mirsen cis-Osimen L-Fellandren a-Fellandren b-Fellandren a-Pinen b-Pinen Sabinen Terpinen-4-ol a-Terpinen y-Terpinen Terpinolen a-Thujen #Dari kelompok Sesquiterpene hydrocarbon: a-cis-bergamoten b-Bisabolen b-Kadinen A-trans-bergamoten Kalamen y-Kadinen B-Kariofillen a-Kopaene a-Kubeben Ar-Kurkumen b-Elemen b-Kubeben b-Farnesen a-guaien a-Humulen Iso-Kariofillen y-murolen a-santalen a-Selinen b-Selinen. #Dari kelompok Monoterpen yang teroksigenasi : Borneol Kamphor Karvakrol Cis-Karveol trans-Karveol Karvon Karvetonasetone 1,8-cineol Kripton a-Terpineol 1-terpinen-5-ol Linalool

Mirtenal Mirtenol b-Pinon P-Simene-8-ol Dihidrokarveol Dihidrokarvon p-Simene-8-metil-eter cis-2,8-Mentadien-2-ol 3,8(9)-p-Mentadien-1-ol 1(7),2-p-mentadien-6-ol 1(7),2-p-mentadien-4-ol 1,8(9)-p-mentadien-5-ol 1,8(9)-p-menthadien-4-ol Metilkarvakrol Trans-sabinen hidrat 1-terpinen-4-ol Cis-p-2-menten-1-ol trans-sabinene hidrat 1,1,4-Trimetilsilohepta-2,4-dien-6-one. #Dari kelompok Fenil ester: Eugenol, Safrol, Miristisin, Metil eugenol.

#Dari kelompok Sesquiterpen teroksigenasi : 5.10(15)-Kadin-4-ol Kariofilla-3(12),7(15)-dien-4-b-ol B-kariofillen alkohol Kariofilla-2,7(15)-dien-4-b-ol Kariofillen keton Kariofilla-2,7(15)-dien-4-ol Kariofillene oksida Epoksi-dihidrokariofillene Nerolidol Sesquisabinen 4,10,10-trimetil-7-metilen-bisiklo-(6,2,0) dekane-4-carboksaldehid Senyawa lain : Asam butirat Asam 3-Metil Butirat Asam heksanoat Asam 2-Me-pentanoat Asam benzoat Asam Fenil Asetat Asam sinamat Asam piperonat Me-heptanoat Me-oktanoat 2-undekanoat Piperonal m-Me-asetofenon n-Butirofenon N-Nonan p-Me-asetofenon N-Tridekan Piperidin Tinalool Nerolidol b-pinol b-Pinon N-Formalpiperidin Alkaloid 2-5%, yang terutama terdiri dari trans-Piperin 90-95% (beras pedas), kandungan lainnya adalah 7,10,12) Kavisin Piperidin Piperettin Piperanin (0,1%) Piperylin Piperaestin A Piperolein A Piperolein B. Asam lemak 7% Amilum 30-40% Lignan b-metil proline Piperin berasa pedas, rasa pedas ini masih dapat terasa hingga pada pengenceran 1:200.000. Kavisin merupakan kandungan yang bertanggung jawab terhadap rasa pedas, dia merupakan isomer basa dari piperin, C17H19NO3, berupa kristal kuning dengan jarak lebur antara 129130OC. Sementara piperin sedikit larut dalam air, larut dalam 15 bagian alkohol atau 36 eter. Bila dikecap mula-mula tidak berasa, lama-lama terasa tajam menggigit. Apabila Piperin dihidrolisis akan terurai menjadi Piperidin dan asam piperat. Piperidin adalah cairan mudah menguap, larut dalam alkohol atau air, ia merupakan Heksahidropiridin, C5H11N. Dalam 100 gram buah Piper nigrum dilaporkan mengandung :

Efek biologik Sama halnya dengan Piper cubeba, tana-man ini memiliki aksi mengiritasi membrana mukosa, dan digunakan sebagai stimulansia (misalnya sebagai perangsang keluarnya air seni, air liur, keringat angin perut dan semacamnya). Senyawa aktif seluruhnya juga dikeluarkan dari tubuh lewat ginjal, pada organ inipun, lewat sepanjang saluran kencing akan mengiritasi membrana mukosa yang bersangkutan, hingga merangsang keluarnya air seni, dan karena Piperine juga mempunyai sifat antiseptik, maka digunakan untuk memperlambat berkembangnya penyakitpenyakit infeksi kelamin pada orang yang bersangkutan.7) Piperine juga mempunyai potensi terha-dap infeksi malaria dan bersifat sebagai insektisida.2,10) Disamping itu juga berefek memperlama waktu tidur binatang percobaan yang disebabkan karena Hexobarbital.4) Efek yang tidak diinginkan Di Rusia, banyak terjadi kasus penyakit kanker esophagus, dan setelah diamati, masyarakat di sana banyak mengkonsumsi Piper nigrum, terutama di musim dingin. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, senyawa Piperine strukturnya mirip sekali dengan hasil metabolit safrol 3piperidyl-1-(3'-4'-metilenedioksifenil)-1-propanon dalam air seni, yang diyakini bersifat mutagenik dan karsinogenik. Sama halnya safrol, piperine terbukti bersifat merangsang regenerasi sel-sel hepar secara agresif (percobaan pada tikus).5) Dosis - Sebagai oleoresin sebesar 0,015 ml hingga 0,06 ml - Sebagai serbuk sebesar 0,3 hingga 1,3 gram.7) Bentuk sediaan Oleoresin Piperis : Serbuk Piper nigrum (di bawah ayakan no 40) sebanyak 500 gram direndam dengan eter dalam sebuah perkolator tertutup (untuk mencegah hilangnya minyak menguap), lalu teteskan pelan-pelan. Apabila cadangan eter yang merendam serbuk berkurang, maka

tambahkan lagi eter sampai semua tetesan menjadi jernih tidak berwarna. Hasil tetesan (perkolat) diuapkan hingga diperoleh sari yang pekat (hati-hati, karena yang diuapkan adalah eter yang mudah terbakar, maka jangan menggunakan api, cukup dengan diangin-anginkan di bawah kipas angin pada wadah yang bermulut lebar). Residu yang berupa bahan-bahan yang mengkristal seperti Piperin dipisahkan dengan jalan disaring dengan kain kasa. Dalam hal ini yang digunakan sebagai oleoresin adalah hasil saringannya. Simpan oleoresin dalam botol yang tertutup kedap. Dosis 0,03 gram.1) Kegunaan di masyarakat Selain digunakan sebagai pelengkap bum-bu dapur, juga sering dipakai untuk obat tradisional, penguat lambung (stomachicum), dan merangsang keluarnya angin perut (carminativa), tekanan darah tinggi, sesak nafas dan merangsang keluarnya keringat.11)

Deskripsi Perawakan: semak, memanjat, 5 - 15 m. Batang: bulat, beralur, berakar melekat, gundul. Daun: tunggal, bertangkai, duduk berseling, bentuk bulat terbalik, melebar - bulat memanjang, pangkal membulat - tumpul - pasak, ujung meruncing, gundul, permukaan atas hijau tua mengkilat, bawah berlilin dengan bintik kelenjar rapat, 8 - 20 cm x 5 - 15 cm, tangkai 0,7 - 8 cm. Bunga: majemuk bulir (untai), bunga banci, bulir menggantung, tangkai 1 - 3,5 cm, ruas 3,5 - 22 cm, ada rambut di pangkal bakal buah, kadang gundul. Daun Pelindung: bulat memanjang, gundul, adnate melebar, 4-5 mm x 1 mm, benangsari 2, tangkai tebal, tua 1 mm, kepala putik 2-5 umumnya 3 - 4. Buah: bebas, bentuk bola atau elip langsing, hijau - merah hitam. Biji: panjang kurang lebih 4 mm.3)

Asal-usul : India Waktu berbunga : Januari - Desember Distribusi Di Jawa pada elevasi 1 - 1500 m dpl, di tanam. Sifat khas : Warna buah. Budidaya Tanaman ini ditanam melalui stek. Cara menyediakan stek ada dua jenis, yaitu stek yang

berukuran 7 ruas (tanpa daun) atau menggunakan stek satu ruas (berdaun satu) dari batang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, sementara pohon panjatan yang baik adalah pohon turi (Sesbania grandiflora) atau tanaman gamal (Glyricidia sp.). Media stek yang dipakai adalah tanah yang gembur dan miskin pasir, lingkungan stek harus lembab, namun tidak becek, pembuangan kelebihan air perlu diperhati-kan. Stek daun tidak tahan terhadap sengatan panas matahari, maka perlu naungan atap atau sejenisnya . Penyakit yang sering dijumpai ialah Cephaleuros virescens, suatu ganggang yang dapat menimbulkan bercak-bercak pada daun dan ranting dan dapat menggugurkannya. Sedangkan gangguan yang berupa hama antara lain diakibatkan oleh jenis-jenis kumbang Lophobaris piperis, L. serratipes dan Diplogomphus hewitii Dist

Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)

Suku : Piperaceae Sinonim : Chavica labilardierei Miq. Chavica maritima Miq. Piper officinarum (Miq.) DC.

Kandungan kimia Buahnya mengandung minyak atsiri 0,6-0,7%. Di samping itu, terdapat pula alkaloid (piperin) dan suatu senyawa amida yang mirip dengan senyawa yang terkandung dalam Piper longumin yaitu piplartin, piplasterin dan sesamin. Pada bagian batang dapat ditemukan pula harsa, piperin, piplartin, triakontan dan 22,23-dihidro-stigmasterin. Rimpang mengandung piperin, 0,2-0,25% piperlongumin dan lebih kurang 0,002% piperlonguminin.7)

Tanaman ini mengandung alkaloid yang mempunyai inti piperidin dengan ikatan rangkap pada posisi 3,4 (Piperlongumin). Akar tanaman ini mengandung 6 macam alkaloid yaitu, Sefaradion B, Sefaradion A, Sefaranon B, Aristolactam A II, Norsefaradione B, 2-hidroksi-1-metoksi-4Hdibenzoquinolin-4,5(6H)-dione,10-amino-4-hidroksi-3-metoksi fenantrene-1-karboksilik asam laktam (piperolaktam A); 10-amino-4-hidroksi-2,3-dimetoksifenantrene-1-car-boksilik asam laktam (piperolaktan B) dan 2-hidroksi-1-metoksi-6-metil-4H-dibenzo-quinoline-4,5 (6H)dione (piperadion). Disamping itu ditemukan pula suatu senyawa amida retofraktamida A, B, C, D.5)

Senyawa yang memberikan rasa pedas adalah Piperin, 5-(3,4-dioksimetlene fenil)-2-trans, 4trans; dan bentuk asam pentadienoik yakni Piperidida. Senyawa-senyawa homolognya, seperti Piperittin (trienoik), Piperanin (monoenoid) dan Piroperine (analog dengan pirolidin) dilaporkan hanya memberikan rasa pedas yang amat lemah atau bahkan tidak memberi rasa pedas. Resapan Ultra Violet pada panjang gelombang 342 nm adalah karakteristik untuk sistem konjugasi diene yang tersambung pada cincin aromatik yang dipakai untuk memperkirakan adanya Piperine dan senyawa lain yang segolongan.2)

Piperine adalah prisma berkerucut satu yang pada awalnya tidak berasa, lama-lama tajam, pedas menggigit, melebur pada suhu 130OC, bersifat netral terhadap lakmus. PK pada 18 drjtC = 12,22 sedikit larut dalam air (pada 18 drjtC 40 gram per liter air) dan tidak larut dalam petroleum eter. Satu gram larut dalam 15 ml alkohol, 1,7 ml kloroform dan 36 ml eter. Larut dalam benzena, asam asetat.11)

Di bidang industri makanan digunakan sebagai bahan penambah rasa pedas pada minuman keras. Di bidang industri pestisida digunakan sebagai insektisida, karena piperin diketahui lebih poten terhadap lalat dibanding piretrum, dalam hal ini 0,05% piperin dan 0,01% piretrum diketahui lebih poten dibanding 0,10% piretrum tunggal.12)

Piperidin berupa cairan dengan bau yang karakteristik dan bila diraba serasa seperti sabun, namun bila digojog tidak berbusa. Dia akan menjadi padat bila didinginkan pada suhu 13 drjtC di bawah nol. Melebur pada suhu 7OC di bawah nol, dan titik didihnya 106OC. Senyawa ini memiliki indeks bias 1,4534 (suhu 20 drjtC) dan specific gravity 0,8622 (d420).12)

Efek biologik Piplartin mempunyai efek sebagai pereda batuk. Sifat estrogen yang menginduksi aktivitas alkalin fosfatase pada proses pematangan endometrium kelinci dihambat dengan pemberian sari buah dan akar Piper retrofractum Vahl.

Daun dan atau akar tidak menunjukkan aktivitas sebagai antifertilitas pada tikus putih dan mencit. Buahnya menghambat perkembangan ja-nin pada tikus betina yang hamil, juga memperpanjang fase estrus siklus vaginal pada tikus dan babi. Sari buah / biji memiliki aktivitas antifertilitas pada tikus.2)

Kegunaan di masyarakat Sebagai bahan obat pada penyakit de-mam, persalinan kurang lancar, mulas, kejang perut, kolik, beri-beri, keringat tidak keluar, lemah syahwat, daunnya untuk obat kumur (radang mulut), akarnya untuk mengurangi rasa sakit pada radang gusi.8,11) Deskripsi Perawakan: semak memanjat, ujung menggantung, 2 - 10 m. Batang: bulat, berakar pelekat di setiap buku yang membenjol, jarang merayap, tajuk di atas pohon lain atau dinding tua. Daun: tunggal, bertangkai, duduk berseling, bentuk bulat telur - bulat memanjang, pangkal jantung tumpul - pasak, meruncing, gundul, permukaan bawah dengan kelenjar bening rapat, 0,5 - 20 x 3.5 - 13 cm, tangkai 0,5 - 3 cm. Bunga: bulir, tegak atau patent, tangkai 0,75 - 2 cm, daun pelindung oval - bulat telur, 1,5 - 2 cm, menguning. Bulir jantan: 2,5 - 8,5 cm, kepala putik 2 3, pendek, tumpul, tetap. Buah: berlekatan dengan tangkai atau daun pelindung, membulat lebar, merah terang. Biji: diameter 2 - 2,5 mm.3)

Waktu berbunga : Januari - Desember Distribusi : Di Jawa pada elevasi 1 - 600 m.dpl, di tanam di tanah kering berpasir. Sifat khas : Warna buah.

Budidaya Untuk memperbanyak digunakan biji atau stek batang. Sama halnya dengan Piper yang lain, maka untuk pengadaan stek bibit diambil dari batang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Metode pengambilan stek bisa menggunakan 7 ruas atau stek 1 ruas berdaun satu. Tumbuhan ini memerlukan rambatan, dan pohon rambatan yang sering digunakan oleh masyarakat adalah pohon turi (Sesbania grandiflora) atau juga pohon gamal (Glyricidia sp.). Media stek yang dipakai adalah tanah yang gembur dan tidak berlempung, lingkungan stek harus lembab, namun tidak becek, pembuangan kelebihan air perlu di perhatikan. Usahakan stek daun tidak terkena sengatan panas matahari langsung, perlu diberi naungan atap atau

sejenisnya. Penyakit yang sering dijumpai ialah Cephaleuros virescens, suatu ganggang yang dapat menimbulkan bercak-bercak pada daun dan ranting dan dapat menggugur-kannya.