Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN TERMOREGULASI PADA Tn.

M DENGAN HIPERTERMI DI RUANG PENYAKIT DALAM DAN SYARAF (MAWAR) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MUNTILAN

OLEH: 1. INDRA DWI LESTARI 2. IZA KHOIRINA 3. JANUARDI JAUHARI 4. JERI HERMANTO 5. YOYOK YUDIANTO

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN DASAR PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN 2012

TINJAUAN TEORI

A. Definisi Regulasi merupakan suatu proses untuk mencapai keadaan yang stabil. Regulasi dilakukan dalam banyak bentuk, misalnya regulasi untuk mempertahankan cairan tubuh, osmolaritas tubuh, keasaman, suhu, kadar lemak, gula dan protein darah ,dsb. Pada tubuh manusia, regulasi diperankan oleh antara lain syaraf dan hormone. karena kedua komponen merupakan pengendali utama dalam proses regulasi dalam tubuh. Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir (Campbell, 2004) Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya (firebiologi, 2007) Ketidak efektifan termoregulasi adalah keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami ketidakmampuan untuk

mempertahankan kestabilan suhu tubuh inti normal dengan adanya dampak buruk atau perubahan berbagai faktor eksternal. (carpenito, 2009).

B. Etiologi dan Faktor Resiko Etiologi: 1. Pengeluaran Panas Pengeluaran dan produksi panas terjadi secara simultan. struktur kulit dan paparan terhadap lingkungan secara konstan berpengaruh terhadap hilangnya panas tubuh. Pengeluaran panas secara normal bisa melalui 4 cara yaitu:radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi. a. Radiasi

Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan objek lain tanpa keduanya bersentuhan (Thibodeau dan Patton, l993). Panas berpindah melalui gelombang elektromagnetik. Aliran darah dari organ internal inti membawa panas ke kulit dan ke pembuluh darah permukaan. Jumlah panas yang dibawa ke permukaan tergantung dari tingkat vasokonstriksi dan vasodilatasi yang diatur oleh hipotalamus. Panas menyebar dari kulit ke setiap objek yang lebih dingin di sekelilingnya. Penyebaran meningkat bila perbedaan suhu antara objek juga meningkat. Vasodilatasi perifer juga meningkatkan aliran darah ke kulit untuk memperluas penyebaran yang ke luar.

Vasokonstriksi perifer meminimalkan kehilangan panas ke luar. Sampai 85% area permukaan tubuh manusia

menyebarkan panas ke lingkungan. Namun, bila lingkungan lebih hangat dari kulit, tubuh mengabsorpsi panas melalui radiasi. b. Konduksi Konduksi adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan kontak langsung. Ketika kulit hangat menyentuh objek yang lebih dingin, panas hilang. Ketika suhu dua objek sama, kehilangan panas konduktif terhenti. Panas berkonduksi melalui benda padat, gas, dan cair. Konduksi normalnya menyebabkan sedikit kehilangan panas. Perawat meningkatkan kehilangan panas konduktif ketika memberikan kompres es atau memandikan klien dengan air dingin. Memberikan beberapa lapis pakaian mengurangi kehilangan konduktif. Tubuh menambah panas dengan konduksi ketika kontak dilakukan dengan material yang lebih hangat dari suhu kulit. c. Konveksi

Konveksi adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Panas dikonduksi pertama kali pada molekul udara secara langsung dalam kontak dengan kulit. Arus udara membawa udara hangat. Pada saat kecepatan arus udara meningkat, kehilangan panas konvektif meningkat. Kipas angin listrik meningkatkan kehilangan panas melalui konveksi. Kehilangan panas konvektif meningkat ketika kulit lembab kontak dengan udara yang bergerak ringan. d. Evaporasi Evaporasi adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas. Selama evaporasi, kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang menguap (Guyton, 1991). Tubuh secara kontinu kehilangan panas melalui evaporasi. Kira-kira 600 sampai 900 ml sehari menguap dari kulit dan paru, yang mengakibatkan kehilangan air dan panas. Kehilangan normal ini dipertimbangkan kehilangan air tidak kasat mata dan tidak memainkan peran utama dalam pengaturan suhu.

2. Peningkatan Suhu Tubuh Hipertermi dapat disebabkan karena gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehinggak menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen yang dihasilkasn dari degenerasi jaringan tubuh yang dapat menyebabkan demam selama sakit.

Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh: 1. Usia

Pada saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat, yang relative konstan, masuk dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi dengan cepat. Suhu tubuh bayi dapat berespons secara drastis terhadap perubahan suhu lingkungan. Produksi panas akan meningkat seirinh dengan pertumbuhan bayi memasuki anak anak. Regulasi suhu tidak stabil sampai anak anak mencapai pubertas. Rentang suhu normal turun secara berangsur sampai seseorang mendekati masa lansia. Lansia lebih sensitive terhadap suhu yang ekstrem karena kemunduran mekanisme control, terutama pada control vasomotor (control vasokonstriksi dan vasodilatasi), penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas kelenjar keringat dan penurunan metabolisme.

2. Olahraga Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan produksi panas. Segala jenis olahraga dapat meningkatkan produksi panas akibatnya

meningkatkan suhu tubuh. Olahraga berat yang lama, seperti lari jarak jauh dapat meningkatkan suhu tubuh untuk sementara sampai 41oC.

3. Kadar hormon Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh lebih besar dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Kadar progesterone meningkat dan menurun secara bertahap selama siklus siklus menstruasi. Bila kadar progesterone rendah, suhu tubuh beberapa derajat di bawah kadar batas. Suhu tubuh yang rendah berlangsung sampai terjadi ovulasi. Selama ovulasi, jumlah progesterone yang lebih besar memasuki system sirkulasi dan meningkatkan suhu tubuh sampai kadar batas atau lebih tinggi. Perubahan suhu juga terjadi pada wanita selama menopause, hal itu terjadi karena control vasomotor yang tidak stabil dalam melakukan vasodilatasi dan vasokonstriksi. 4. Irama sirkadian Suhu tubuh berubah secara normal 0,50C sampai 10C selama periode 24 jam. Bagaimanapun, suhu merupakan irama paling stabil pada manusia. Secara umum, irama suhu sirkadian tidak berubah sesuai usia. 5. Stress Stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persyarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas akan menyebabkan suhu tubuhnya dapat lebih tinggi dari normal. 6. Lingkungan Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji dalam ruangan yang sangat hangat, klien mungkin tidak mampu meregulasi suhu tubuh melalui mekanisme pengeluaran panas dan suhu tubuh akan naik. Jika klien berada di lingkungan luar tanpa baju hangat, suhu tubuh mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas yang konduktif. Bayi dan lansia paling sering dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena mekanisme suhu mereka kurang efisien.

Faktor lain yang mempengaruhi termoregulasi adalah metabolisme basal, aktifitas muscular, hormone thyroxine dan epinephrine yang menstimulasi efek pada laju metabolisme, suhu yang berefek pada sel. (Marieb, 2007).

C. Manifestasi Klinis 1. Perubahan Suhu Perubahan suhu tubuh di luar rentang normal mempengaruhi set point hipotalamus. Perubahan ini dapat berhubungan dengan produksi panas yang berlebihan, pengeluaran panas yang berlebihan, produksi panas minimal, pengeluaran panas minimal atau setiap gabungan dari perubahan tersebut. Sifat perubahan tersebut mempengaruhi masalah klinis yang dialami klien, seperti: a. Demam Demam dapat terjadi karena mekanisme pengeluaran panas tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas, yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal. Selama demam, metabolisme meningkat dan konsumsi oksigen bertambah. Metabolisme tubuh meningkat 7% untuk setiap derajat kenaikan suhu. Fekuensi jantung dan pernapasan meningkat untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh terhadap nutrient. Metabolisme yang meningkat menggunakan energi yang memproduksi panas tambahan. Beberapa gejala yang menyertai demam seperti : 1) Nyeri punggung 2) Mialgia yang menyeluruh 3) Atralgia 4) Anoreksia 5) Somnolen 6) Kedinginan (chills) 7) Menggigil (rigors)

b. Kelelahan Akibat Panas Kelelahan akibat panas terjadi bila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang terpajan panas. Tanda dan gejala kurang volume cairan adalah hal yang umum selama kelelahan akibat panas. Tindakan pertama yaitu memindahkan klien ke lingkungan yang lebih dingin serta memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit. c. Hipertermi Hipertermi adalah meningkatnya suhu inti tubuh hingga 40C pada suhu rektal atau lebih tinggi lagi. Hal ini dapat terjadi jika: 1) Seseorang terpapar suhu eksternal yang tinggi, 2) Dalam keadaan cidera yang serius seperti luka bakar, 3) Terdapat kerusakan pusat pengendalian suhu dalam otak, 4) Terjadi infeksi. Gejala biasanya muncul seperti: 1) kulit yang panas, kemerah-merahan 2) jatuh pingsan 3) sakit kepala 4) mual 5) konvulsi

d. Hipotermi Hipotermi adalah penurunan suhu inti tubuh di bawah 35C pada suhu rektal. Hal ini dapat terjadi jika seseorang terpapar suhu dingin tanpa perlindungan yang memadai, pada usia lanjut jika seseorang terpapar suhu eksternal yang hanya 15,6C, dengan sengaja dilakukan sebelum pembedahan untuk memperlambat metabolisme tubuh. Gejala yang muncul seperti: 1) penurunan suhu tubuh 2) koordinasi yang lemah dan kekacauan mental

3) cara bicara yang bersambungan (tidak jelas) 4) penurunan laju pernapasan dan denyut jantung.

D. Patoghenesis Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual eksogen (Sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebra termasuk manusia. 1. Fase Aseksual dalam tubuh manusia Terbagi atas Fase Jaringan dan Fase Eritrosit. Pada Fase jaringan, sporozoit masuk dalam aliran darah ke sel hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Preoses ini disebut Skizigoni Praeritrosit. Selanjutnya Skizon pecah dan merozoit keluar masuk dalm aliran darah , disebut Sporulasi. Pada P. Ovale dan P. Vivax, sebagian sporozoit membentuk Hipnozoit dalam hati sehingga dapat mengakibatkan relaps jangka panjang dan rekurens. Fase eritrosit dimulai dari merozoit dalam darah menyerang eritrosit membentuk tropozoit . dalam eritrosit proses berlanjut menjadi tropozoit skizon pecah merozoit masuk dalam eritrosit baru. Setelah dua sampai tiga generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual (makro gamet dan mikrogamet).

2. Fase Seksual dalam Tubuh Nyamuk Parasit aseksual masuk dalam lambung nyamuk, mikro dan makrogametosit mengalami pematangan dan terjadilah pembuahan dan pembentukan zigot. Zigot menembus dinding nyamuk membentuk ookista ookista pecah maka ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar liur nyamuk. Cara infeksi dapat melalui gigitan nyamuk dan induksi bila stadium aseksual dalam eritrosit masuk dalam tubuh manusia melalui tranfusi, suntikan / pada janin melalui plasenta ibu

(kongenePATOFISIOLOGI

Dalam Tubuh Nyamuk Anopheles Dalam Tubuh Manusia Betina Dalam Hati (fase jaringan)
hipnozoit sporozoit

Dalam Kelenjar liur nyamuk

skizon

merozoit

Ookista

dalam darah / eritrosiit (fase eritrosit)

tropozoit

skizon

Dalam
merozoit

lambung nyamuk
makrogametosit makrogamet Zigot = ookinet mikrogametosit mikrogamet

Eritrosit yg mengandung ribuan merozoit pecah Fagositosis eritrosit yang mengandung parasit HEPATOSPLENOMEGALI NYERI

HEMOLISIS Demam Anemia ikterus Mual Muntah Sakit kepala anoreksia

E. Pemeriksaan Penunjang Jenis pemeriksaan untuk penegakan diagnosis penyakit malaria ada beberapa, namun hingga saat ini metode yang masih dianggap sebagai standar emas (gold standart) adalah menemukan parasit Plasmodium dalam darah. Beberapa jenis metode pemeriksaan parasit Plasmodium ini diantaranya : 1. Pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis ini dilakukan untuk menemukan parasit Plasmodium secara visual dengan melakukan identifikasi langsung pada sediaan darah penderita. Pemeriksaan mikroskopis ini sangat bergantung pada keahlian pranata laboratorium (analis kesehatan) yang melakukan identifikasi. Teknik pemeriksaan inilah yang masih menjadi standar emas dalam penegakan diagnosis penyakit malaria. Termasuk di dalam jenis pemeriksaan mikroskopis ini adalah pemeriksaan QBC (Quantitative Buffy Coat). Pada pemeriksaan QBC dilakukan pewarnaan fluorescensi dengan Acridine Orange yang memberikan warna spesifik terhadap eritrosit yang terinfeksi oleh parasit Plasmodium. Plasmodium akan mengikat zat warna Acridine Orange sehingga dapat dibedakan dengan sel lain yang tidak terinfeksi. Kelemahan teknik ini adalah tidak dapat membedakan spesies dan tidak dapat melakukan hitung jumlah parasit. Selain itu juga reagensia yang digunakan relatif mahal dibandingkan pewarna Giemsa yang sering kita gunakan sehari-hari untuk pewarnaan rutin sediaan malaria. 2. Pemeriksaan immunoserologis. Pemeriksaan secara immunoserologis dapat dilakukan dengan melakukan deteksi antigen maupun antibodi dari Plasmodium pada darah penderita.

a. Deteksi antigen spesifik. Teknik ini menggunakan prinsip pendeteksian antibodi spesifik dari parasit Plasmodium yang ada dalam eritrosit. Beberapa teknik yang dapat dipilih diantaranya adalah : Radio immunoassay Enzym immunoassay Immuno cromatography Penemuan adanya antigen pada teknik ini memberikan gambaran pada saat dilakukan pemeriksaan diyakini parasit masih ada dalam tubuh penderita. Kelemahan dari teknik tersebut adalah tidak dapat memberikan gambaran derajat parasitemia.

b. Deteksi antibodi Teknik deteksi antibodi ini tidak dapat memberikan gambaran bahwa infeksi sedang berlangsung. Bisa saja antibodi yang terdeteksi merupakan bentukan reaksi immunologi dari infeksi di masa lalu. Beberapa teknik deteksi antibodi ini antara lain : Indirect Immunofluoresense Test (IFAT) Latex Agglutination Test Avidin Biotin Peroxidase Complex Elisa 3. Sidik DNA. Teknik ini bertujuan untuk mengidentifikasi rangkaian DNA dari tersangka penderita. Apabila ditemukan rangkaian DNA yang sama dengan rangkaian DNA parasit Plasmodium maka dapat dipastikan keberadaan Plasmodium. Kelemahan teknik ini jelas pada pembiayaan yang mahal dan belum semua laboratorium bisa melakukan pemeriksaan ini.

F. Penatalaksanaan Medis Obat antimalaria terdiri dari lima jenis :

1. Skizontisid jaringan primer (: Proguamil, Pirimetamin) berfungsi membasmi parasit praeritrosit. 2. Skizontisid eksoeritrosit. 3. Skizontisid darah (: Kina, Kloroquin dan Amodiaquin) membasmi parasit fase eritrosit. 4. Gametosid yang menghancurkan bentuk seksual (: Primaquin, Kina, Kloroquin dan Amodiakuin). 5. Sporontosid ( : Primaquin dan Proguanil ) mencegah gametosit dalam darah untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk Anopheles. 6. Sering terjadi resisten pada P. Falciparum terhadap kloroquin maka dapat diberikan obat antimalaria lain, yaitu : a. Kombinasi sulfadoksin dan pirimetamin dalam dosis tunggal sebanyak 2 3 tablet. b. Kina selama tujuh hari. c. Antibiotik tetrasiklis dan minoksiklin selama tujuh hari d. Kombinasi kombinasi lain seperti kina dan tetrasiklin. Untuk pengobatan lain dilakukan secara umum (mengatasi hipertermi, syok hipovolemia, anemia, gangguan fungsi ginjal, dan lain lain) dilakukan sesuai indikasi pengobatan yang ada. jaringan sekunder (Primaquin) membasmi parasit

PENGKAJIAN o Tempat Ada banyak tempat untuk mengkaji suhu inti dan permukaan tubuh. Suhu inti dari arteri paru, esofagus dan kandung kemih digunakan untuk perawatan intensif. Pengukuran ini membutuhkan peralatan yang di psang invasif secara terus-menerus dalam rongga atau organ tubuh. Peralatan ini haus memiliki pembacaan akurat yang secara cepet dan terus-menerus menunjukkan pembacaan pada monitor elektronik. Tempat yang paling sering digunakan untuk pengukuran suhu ini juga invasif tetapi dapat digunakan secara intermiten. Termasuk membran timpani, mulut rektum dan aksila. Lapisan termometer noninvasif yang disiapkan secara kimia

juga dapat digunkan pada kulit. Tempat pengukuran seperti oral, rektal, aksila dan kulit menghandalkan sirkulasi efektif darah pada tempat pengukuran.panas dari darah di alirkan ke alat termometer. Suhu timpani mengandalkan radiasi panas tubuh erhadap sensor inframerah. Karena suplai darah arteri membran timpani dianggap sebagai suhu inti. Untuk memastikan bacaan suhu yang akurat, setiap tempat harus diukur dengan akurat. Variasi suhu yang didapatkan bergantung pada tempat pengukuran, tetapi harus antara 36 C dan 38 C. Walaupun temuan riset dari banyak dari banyak didapati pertentangan; secara umum diterima bahwa suhu rektal biasanya 0,5 C lebih tinggi dari suhu oraldan suhu aksila 0,5 C lebih rendah dari suhu oral. Setiap tempat pengukuran tersebut memiliki keuntungan dan kerugian. Perawat memilih tempat yang paling aman dan akurat untuk pasien. Perlu dilakukan pengukuran pada tempat yang sama bila pengukuran tersebut di ulang. o Termometer Ada tiga jenis termometer yang digunakan untuk menentukan suhu tubuh adalah air raksa-kaca, elektronik dan sekali pakai. Perawat bertanggung jawab untuk banyak menetahui dan terampil dalam menggunakan alat ukur yang dipilih. Tingkat pendidikan inservice dapat mempengaruhi keakuratan dan reabilitas pembacaan suhu. Setiap alat pengukuran menggunakan derajat celsius atau skala fahrenheit. Termometer elektronik membuat perawat dapat mengonversi skala dengan cara mngaktifkan tombol. Termometer air raksa-kaca Termometer air raksa-kaca adalah termometer yang paling dikenal, telah digunakan sejak abad ke-15. termometer tersebut terbuat dari kaca yang pada salah satu ujungnya ditutup dan jung lainya dengan bentolan berisi air raksa. Ada 3 jenis termometer kaca, yaitu oral ( ujungnya ramping), stubby, dan rektal (ujungnya berbentuk buah pir). Ujung termometer oral langsing, sehingga memungkinkan pentolan lebih banyak terpapar pada pembuluh darah di dalam mulut. Termometer oral biasanya memiliki ujung berwarna biru. Termometer stubby biasanya lebih pendek dan lebih gemuk dari pada jenis oral. Dapat digunakan mengukur suhu dimana saja. Termometer rektar memiliki ujung yang

tumpul atau runcing, untuk mencegah trauma terhadap jaringan rektal pada saat insersi. Termometer ini biasanya di kenali dengan ujung yang berwarna merah. Keterlambatan waktu pencatatan dan dan mudah pecah merupakan kerugian dari termometer air raksa-kaca. Keuntungan dari termometer air raksa-kaca adalah harga murah, mudah diperoleh, dan banyak tersedia. Termometer elektronik Termometer elektronik terdiri atas unit tampilan tenaga batere yang dapat diisi ulang, kabel kawat yang tipis dan alas yang memproses suhu yang dibungkus dengan kantung plastik sekali pakai. Salah satu bentuk termometer elektronik menggunakan alat seperti pensil. Probe tersendiri yang anti pecah tersedia untuk oral dan rektal. Probe untuk oral dapat juga digunakan untuk mengukur suhu di aksila. Selama 20 sampai 50 detik dari insersi, pembacaan terlihat pada unit tampilan tanda bunyi yang terdengar bila puncak pembacaan suhu terukur. Bentuk lain dari termometer elektronik digunakan secara khusus untuk pengukuran timpanik. Spekulum otoskop dengan ujung sensor inframerah mendeteksi penyebaran panas dari membran timpani. Dalam 2 sampai 5 detik dari mulai dimasukkan ke dalam kanal auditorius, hasilnya terlihat pada layar. Tanda bunyi terdengar saat puncak bacaan suhu telah tercapai. Termometer sekali pakai Termometer sekali pakai dan penggunaan tunggal berbentuk strip kecil yang terbuat dari plastik dengan sensor suhu pada salah satu ujungnya. Sensor tersebut terdiri atas matrik dari lekukan seperti titik yang mengandung bahan kimia yang larut dan berubah warna pada perbedaan suhu. Digunakan untuk suhu oral dan aksila, terutama pada anak-anak. Dipakai dengan cara yang sama dengan termometer aksila dan digunakan hanya sekali. Waktu yang dibutuhkan untuk menunjukkan suhu hanya 60 detik (Ericksonet al, 1996). Termometer di ambil dan dibaca setelah sekitar 10 detik supaya stabil. Bentuk lain dari termometer sekali pakai adalah koyo (patch) atau pita sensitif suhu. Digunakan pada dahi atau abdomen, koyo akan berubah warna pada suhu yang berbeda.

Kedua jenis termometer sekali pakai ini berguna untuk mengetahi suhu, khususnya pada bayi yang baru lahir.

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Perawat mengkaji temuan pengkajian dan mengelompokkan karateristik

yang ditentukan untuk membuat diagnosa keperawatan. Misalnya, pada peningkatan suhu tubuh, kulit kemerahan, kulit hangat saat disentuh, dan takikardia menandakan diagnosis, hipertermia. Diagnosis keperawatan

mengidentifikasi risiko klien terhadap perubahan suhu tubuh atau perubahan suhu yang aktual. Jika klien memiliki faktor resiko, perawat meminimalkan atau menghilangkan faktor yang meningkatkan perubahan suhu. Pengkajian suhu di batas normalmengarah pada diagnosa keperawatan. Pada contohnya hipertermia, faktor yang berhubungan dengan aktivitas yang berat akan menghasilkan intervensi yang sangat berdeda daripada faktor yang berhubungan dengan ketidakmampuan atau berkeringat. Proses Diagnostik Keperawatan terhadap Termoregulasi

Pengkajian Ukur tanda vital, termasuk suhu, nadi, pernapasan

Batasan karakteristik

Diagnosa keperawatan

Peningkatan suhu tubuh di atas Hipertermia yang berhubungan batas normal Takikardia Takipnea dengan proses infeksi

Palpasi kulit Observasi penampilan dan prilaku klien saat berbicara dan istirahat

Kulit hangat Gelisah Tampak kemerahan

C.

PERENCANAAN Klien yang beresiko mengalami perubahan suhu membutuhkan rencana

perawatan individu yang ditunjukkan dengan mempertahankan normotermia dan

mengurangi faktor resiko. Hasil yang diharapkan ditetapkan untuk menentukan kemajuan ke arah kembalinya suhu tubuh ke batas normal. Rencana perawatan bagi klien dengan perubahan suhu yang aktual berfokus pada pemulihan normotermia, meminimalkan komplikasi dan meningkatkan kenyamanan. (lihat rencana keperawatan)

Rencana asuhan keperawatan untuk hipertermia Diagnosa keperawatan : hipertermia yang berhubungan dengan proses infeksi Definisi : hipertermia adalah kondisi ketika suhu tubuh individu meningkat di atas batasan suhu normalnya. Tujuan Klien akan kembali ke batasan suhu tubuh normal pada 21/2 Hasil yg diharapkan Suhu tubuh turun paling sedikit 1C setelah terapi (pada 19/2) intervensi Pertahankan suhu ruangan pada 21C kecuali jika klien menggigil Rasional Suhu ruangan sekitar dapat meningkatkan suhu tubuh. Namun menggigil harus dihindari karena meningkatkan suhu tubuh (Guyton, 1991)

Antiseptik menurunkan set Suhu tubuh tetap sama antara 36C-38C smpai paling sedikit 24 jam (pada 20/2) Berikan asetaminofen sesuai program medik apabila suhu lebih tinggi dari 39C point

Kurangi penutup ekternal Klien mencapai rasa Klien mampu beristirahat nyaman dan istirahat pada 21/2 dengan tenang pada 21/2 pada tubuh klien . jaga supaya pakaian dan alas tempat tidur tetap kering Pakaian yang basah atau terlalu basah mencegah pengeluaran panas melalui radiasi, konveksi dan konduksi

D. Diagnosa

IMPLEMENTASI implementasi Memantau keadaan klien Memberikan asetaminofel Mengukur suhu klien

Hipertermia yang berhubungan dengan proses infeksi

E.

EVALUASI Semua intervensi keperawatan dievaluasi dengan membandingkan respon

aktual klien terhadap hasil yang diharapkan dari rencana perawatan.hal ini menunjukkan apakah tujuan keperawatan telah terpenuhi atau apakah dibutuhkan revisi terhadap rencana.

Evaluasi interensi terhadap hipertermia tujuan Suhu tubuh klien akan kembali ke Pantau batas normal intervensi Tindakan evaluasi suhu tubuh Hasil yang diharapkan setelah Suhu tubuh paling sedikit 1C setelah terapi Suhu tubuh tetap berada antara 36C dan 38C selama paling sedikit 24 jam pada 20/2

Klien mendapatkan rasa nyaman Tanyakan apa yang dirasakan klien dan istirahat pada 21/2 Observasi kelemahan. adanya

Klien terhadap

menyatakan istirahat

kepuasan dan tidur

kegelisahan, meningkat Klien dapat istirahat dan tidur dengan tenang.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall.2009.Diagnosis Keperawatan:Aplikasi Pada Praktik Klinis.Jakarta:EGC Hegner, Barbara R.2003.Asisten Keperawatan:Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.Jakarta:EGC