Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH SKENARIO 1 Memutihkan Gigi

KELOMPOK 3 : Zuhda Febrina Ramadhani Nida Amalia M. Fauzan Anshari Sindi Sativa Prasetyo Gusti Febby Aprilia Eka Oktavia Ruswanti Achmad Riwandy Dian Novita Sari Nisa Yanuarti Hasanah M. Herry Septianoor I1D110003 I1D110009 I1D110013 I1D110020 I1D110024 I1D110035 I1D110204 I1D110212 I1D110217 I1D110218

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU PSKG 2010

Kata Pengantar

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena rahmat dan hidayahNya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan nabi Muhammad SAW yang telah memberi petunjuk sehingga berada di jalan yang benar. Makalah ini diharapkan dapat membantu kita dalam menghadapi masalah pemilihan tambalan gigi serta efek yang ditimbulkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Penulis sadar bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan,oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat memperbaiki sangat kami harapkan.

Banjarbaru, 11 Mei 2011

Penyusun

DAFTAR ISI Judul ...... 1 Kata Pengantar .............. 2 Daftar Isi ........... 3 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang . 4 1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 5 1.3 Tujuan Penulisan .. 6 Bab II Isi 2.1 Pengertian tumpatan amalgam ..................................... 2.2 Komposisi amalgam ....................................................................... 7 2.3 Kelebihan dan kekurangan tumpatan amalgam.. ..... 8 2.4 Penyebab diskolorisasi pada tumpatan amalgam ..... 8 2.5 Mekanisme diskolorisasi pada tumpatan ......................................... 2.6 Pengertian tumpatan komposit ....................................................... 2.7 Komposisi komposit ...................................................................... 2.8 Kelebihan dan kekurangan tumpatan komposit ................................ 2.9 Pengertian bleaching ..................................................................... 2.10 Bahan-bahan bleaching ................................................................ 2.11 Macam-macam teknik bleaching .................................................... 2.12 Efek samping bleaching ............................................................... Bab III Penutup 3.1 Kesimpulan ...... 19 3.2 Saran ....... 19 Daftar Pustaka ...... 20 9 10 11 11 12 12 13 17 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dental amalgam merupakan bahan tumpatan yang sering digunakan di Kedokteran

Gigi. Pertama diperkenalkan di Perancis pada awal 1800-an, berisi campuran air raksa dengan setidaknya satu logam lainnya. Amalgam telah menjadi metode restoratif pilihan selama bertahun-tahun karena biaya rendah, kemudahan aplikasi, kekuatan, ketahanan, dan efek bakteriostatik. Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan penggunaan baru-baru ini adalah dampak merugikan bagi kesehatan, estetika yang kurang, dan pencemaran lingkungan. Masalah estetika adalah karena warna metalik tidak berbaur dengan baik dengan warna gigi alami. Hal ini terutama menjadi perhatian bila digunakan pada gigi depan, tetapi dapat diatasi dengan menggunakan bahan gigi alternatif. Amalgam merupakan bahan yang paling sering digunakan karena bahan ini dapat bertahan lama sebagai bahan tumpatan, mudah memanipulasinya, mudah beradaptasi dengan cairan mulut dan harganya relatif murah. Namun, mengenai masalah efek samping yang ditimbulkan oleh bahan ini masih dipertanyakan karena masih ada anggapan bahwa amalgam berbahaya bagi kesehatan tubuh pasien, hal ini karena di dalam amalgam terkandung merkuri. Merkuri dalam keadaan bebas sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat meracuni tubuh oleh karena itu merkuri di dalam amalgam dianggap berbahaya. Bahaya merkuri ini tidak hanya mengancam kesehatan pasien tetapi juga dokter gigi itu sendiri, uap merkuri yang terhirup pada saat mengaduk amalgam dapat menimbulkan efek toksik kumulatif pada dokter gigi tersebut. Perubahan warna gigi terutama gigi anterior dapat menimbulkan suatu problema estetika yang mempunyai dampak psikologi yang cukup besar bagi

penderitanya. Pada saat ini, perkembangangan kosmetik bidang kedokteran gigi sangat menonjol dalam menanggulangi hal tersebut yaitu dengan cara restoratif misalnya pelapisan mahkota gigiatau dengan cara bleaching. Bleaching merupakan suatu cara pemutihan kembali gigi yang berubah warna,sampai mendekati warna gigi asli dengan proses perbaikan secara kimiawi dan tujuannya m e n g e m b a l i k a n f a k t o r e k s t r i n s i k p e n d e r i t a . T e k n i k bleaching m e m i l i k i b e b e r a p a keuntungan, antara lain lebih baik dari segi estetik karena tidak mengambil jaringan kerasdan teknik perawatan relatif lebih mudah dibandingkan dengan pembuatan suatu mahkota tiruan. Bleaching dapat dilakukan pada gigi vital ataupun gigi non vital yang mengalami perubahan warna.

1.2

Rumusan Masalah

Adapun identifikasi masalah yang didapat ialah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Pengertian tumpatan amalgam ? Komposisi amalgam ? Kelebihan dan kekurangan tumpatan amalgam ? Penyebab Diskolorasi pada tumpatan amalgam ? Mekanisme diskolorasi ? Pengertian tumpatan komposit ? Komposisi komposit ? Kelebihan dan kekurangan tumpatan komposit ? Pengertian bleaching ? Bahan bahan bleaching ? Macam macam teknik bleaching ? Efek samping bleaching ?
5

1.3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Tujuan Mengetahui pengertian tumpatan amalgam Mengetahui komposisi amalgam Mengetahui kelebihan dan kekurangan tumpatan amalgam Mengetahui penyebab diskolorasi pada tumpatan amalgam Mengetahui mekanisme diskolorasi Mengetahui pengertian tumpatan komposit Mengetahui komposisi komposit Mengetahui kelebihan dan kekurangan tumpatan komposit Mengetahui Pengertian bleaching Mengetahui Bahan bahan bleaching Mengetahui Macam macam teknik bleaching Mengetahui efek samping bleaching

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Tumpatan Amalgam Amalgam telah dipakai dalam restorasi lesi karies sejak awal abad ke -15 atau

bahkan lebih dini lagi, amalgam masih merupakan suatu bahan yang paling banyak dipergunakan. Kualitas yang paling baik dari amalgam gigi ini adalah tahan lama dan mudah manipulasinya. Cukup bisa beradaptasi dengan cairan mulut, amalgam adalah restorasi yang relatif murah dan dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Dapat dikatakan bahwa amalgam merupakan suatu bahan tambalan yang paling banyak dipergunakan dokter gigi.1 Amalgam adalah jenis logam campur khusus yang mengandung merkuri sebagai salah satu konstituennya. Karena merkuri bersifat cair dalam temperatur kamar, merkuri dapat dicampur dengan logam lain yang padat.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tambalan dapat dibagi dalam 2 group : pertama, faktor dari pabrik, seperti komposisi dan pembuatannya, dan hal yang kedua faktor dokter gigi dan asistennya. Hal-hal yang penting seperti metode triturasi dan waktu, teknik kondensasi, karakteristik anatomi dan prosedur penyelesaian tergantung kepada dokter gigi yang berada di kamar praktik. Keberhasilan klinik dari amalgam tergantung pada perhatian yang detail sewaktu pembuatannya, selama preparasi gigi, pengisian dan penyelesaian restorasi.1 2.2 Komposisi Amalgam

Komposisi tumpatan amalgam yaitu terdiri dari :1 a. Low copper alloy - Perak 67% - 24%

- Timah - Tembaga - Seng

25% - 27% 0% - 6% 0% - 2%

b. High Copper Alloy Perak Admixed Alloy Single Composition 40-60% Alloy 22-30% 13-30% 0-4% 69% Timah 17% Tembaga 13% Seng 1%

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Amalgam Amalgam memiliki beberapa kelebihan antara lain kuat, tahan lama, tahan terhadap tekanan kunyah, paling murah diantara tambalan lainnya, resiko terjadinya kebocoran yang menyebabkan masuknya bakteri dan makanan sangat kecil, serta dapat ditambalkan pada anak-anak dan pada pasien dengan kebutuhan khusus.1,2 Sedangkan kekurangan yang dimiliki amalgam adalah menyebabkan perubahan warna pada gigi karena bersifat korosi, membutuhkan banyak pengambilan jaringan gigi yang sehat sehingga cenderung melemahkan struktur gigi yang tersisa, cenderung menimbulkan reaksi alergi pada beberapa pasien, perbaikan tambalan amalgam juga membutuhkan perlakuan khusus untuk menghindari bahaya merkuri yang mungkin terlepas pada saat pembongkaran tambalan, dan pemolesan baru dilakukan pada kunjungan berikutnya.1,2 2.4 Penyebab Diskolorasi pada Tumpatan Amalgam Perubahan warna terjadi selama atau sesudah pembentukan email dan dentin. Ada perubahan warna yang tampak setelah gigi erupsi, dan ada pula yang timbul akibat prosedur perawatan. Kelompok pertama, perubahan warna alami (didapat), bisa terjadi pada permukaan atau di dalam struktur gigi. Adakalanya disebabkan oleh cacat pada email
8

atau cedera trauma. Kelompok kedua adalah perubahan warna iotrogenik yang timbul akibat prosedur perawatan gigi, biasanya tergabung dalam struktur gigi dan sebenarnya merupakan kejadian yang bisa dicegah.3 Diskolorasi gigi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu : Diskolorasi Ekstrinsik Diskolorasi ekstrinsik ditemukan pada permukaan luar gigi dan biasanya berasala lokal, seperti misalnya noda/strain tembakau. Beberapa diskolorasi ekstrinsik, misalnya diskolorasi hijau yang dihubungkan dengan membran Nasmyth pada anak anak, dan noda teh serta tembakau, dapat dihilangkan dengan skaling dan pemolesan pada waktu profilaksis gigi. Jenis lain diskolorasi ekstrinsik, seperti noda nitrat perak, hampir tidak dapat dihilangkan tanpa digerinda/diasah karena strain memasuki permukaan mahkota dan uskar dihilangkan hanya dengan bahan bahan kimiawi saja.4 Diskolorasi Intristik Diskolorasi intristik adalah noda yang terdapat di dalam email dan dentin yang disebabkan oleh penumpukan atau penggabungan bahan di dalam struktur struktur ini seperti strain tetracycline. Bila masuk ke dalam dentin menjadi kelihatan karena translusensi email. Dapat dihubungkan dengan periode perkembangan gigi, seperti pada dentinogenesis imperfekta, atau dapat diperoleh setelah selesainya perkembangan seperti pada nekrosis pulpa. Diskolorasi intristik seperti yang terjadi pada amelogenesis imperfekta atau dentinogenesis imperfekta tidak mungkin dihilangkan karena berasal dari kerusakan perkembangan email dan dentin, tetapi stain yang disebabkan karena nekrosis, dapat dihilangkan dengan prosedur pemutihan.4 2.5 Mekanisme Diskolorisasi Tumpatan Amalgam Perubahan warna gigi karena tambalan amalgam dapat terjadi karena bahan tambalan amalgam memiliki komposisi ; merkuri (Hg), Perak (Ag), Timah (Sn), Tembaga (Cu), dan
9

Seng (Zn). Saat proses triturasi untuk mencapur bahan-bahan tambalan amalgam dan kondensasi, terjadi kontaminasi air akibat kesalahan operator ini menyebabkan terjadinya reaksi air (H2O) dengan Seng (Zn) yang menghasilkan gas hydrogen radikal dan bebas, hydrogen hasil reaksi akan terjebab di dalam kavitas gigi dan meningkatkan tekanan internal tambalan amalgam. Jika hal ini terus berlanjut maka akan terjadi ekspansi tertunda, akibatnya terjadi penetrasi merkuri pada jaringan gigi di sekitar tambalan yang menyebabkan perubahan warna pada gigi. Proses inilah yang menyebabkan perubahan warna (diskolorasi).1

2.6 Pengertian Tumpatan Komposit Istilah bahan komposit dapat didefinisikan sebagai gabungan 2 atau lebih bahan berbeda dengan sifat-sifat yang unggul atau lebih baik dari pada bahan itu sendiri. Contoh bahan komposit alamiah adalah email gigi dan dentin. Pada enamelin mewakili matriks organik, sementara dalam dentin, matriks terdiri atas kolagen. Dalam kedua komposit ini, partikel-partikel bahan pengisi terdiri atas kristal hidroksiapatit. Perbedaan sifat kedua jaringan ini sebagian dikaitkan dengan perbedaan rasio bahan matriks dan bahan pengisi. 2 Komposit konvensional. Resin komposit yang dinamai resin tambalan direk tipe II dalam spesifikasi American Dental Association. Bahan ini pada dasarnya merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh R.Bowen.1 Istilah bahan komposit mengacu pada kombinasi tiga dimensi dari sekurangkurangnya dua bahan kimia yang berbeda secara kimia dengan suatu komponen pemisah yang nyata di antara keduanya. Bila konstruksi tepat, kombinasi ini memberikan kekuatan yang tidak dapat diperoleh bila bila hanya digunakan satu komponen saja. Bahan restorasi komposit adalah suatu bahan matriks resin yang di dalamnya ditambahkan pasi organik sedemikian rupa sehingga sifat-sifat matriksnya ditingkatkan.1

10

2.7 Komposisi Komposit Komposit memiliki komposisi sebagai berikut : 1,2 Matrix resin ( Monomer aromatic, BIS GMA,TEGDMA) Filler ( Quartz, heavy metal glasses) Coupling agent Bahan penghambat polimerisasi ( butylated hydroxytoluene) Camphroquinone Modifier optik Pigmen Warna ( ferric oxide, cadmium black , mercuric sulfide).

2.8 Kelebihan dan Kekurangan Tumpatan komposit Tumpatan komposit memiliki kelebihan, antara lain :1,2 Warna sangat mirip dengan gigi. Tidak korosi. Cukup kuat, tahan lama, dan tahan tekanan kunyah yang tidak terlalu besar pada ukuran tambalan kecil hingga sedang. Bisa digunakan untuk semua gigi, depan maupun belakang. Membutuhkan lebih sedikit pengambilan jaringan gigi yang sehat. Perbaikan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Pemolesan dilakukan langsung di akhir kunjungan. Kekurangan dari tumpatan komposit adalah :1,2 Lebih mudah pecah dan dapat terjadi sedikit abrasi permukaan dibanding amalgam. Paling sulit dalam pengaplikasiannya dibanding tambalan lain, memerlukan teknik sensitif dan keterampilan yang cukup. Lebih mahal dibanding amalgam.
11

Dapat menyebabkan reaksi alergi, walau sangat jarang, lebih jarang dibanding amalgam.

Lebih mudah terjadi kebocoran dan dapat terjadi sensitivitas gigi akibat penambalan dengan prosedur yang tidak tepat.

2.9 Pengertian Bleaching Bleaching, yaitu suatu cara pemulihan kembali gigi yang berubah warna, sampai mendekati warna gigi asli dengan proses perbaikan secara kimiawi dan tujuannya mengembalikan faktor estetik penderita.5 2.10 Bahan Bahan Bleaching Bahan pemutih gigi dapat berperan sebagai oksidator atau reduktor, kebanyakan preparat yang tersedia adalah oksidator. Macam-macam bahan-bahan pemutih gigi adalah sebagai berikut :6 1. Hidrogen peroksida Hidrogen peroksida merupakan oksidator kuat dan tersedia dalam berbagai konsentrasi, yang paling umum di pakai adalah konsentrasi 30-35 %. Contoh larutan hidrogen peroksida adalah superoxol, perhidrol. Cairan ini merupakan cairan bening tidak berwarna dan tidak berbau. 2. Pirozon Pirozon adalah larutan hidrogen peroksida 25 % dalam eter 75 %. Larutan ini bersifat kaustik, mudah menguap juga baunya merangsang menyebabkan rasa mual pada pasien. 3. Natrium perborat Natrium perborat dapat diperoleh dalam bentuk bubuk. Bahan yang masih baru mengandung kira-kira 95 % perborat dalam 9,9 % oksigen. Bahan ini bersifat alkali, lebih mudah dikontrol dan lebih aman daripada cairan hidrogen pekat. 4. Karbamid peroksida
12

Karbamid peroksida dikenal sebagai urea hidrogen peroksida, dapat diperoleh dalam berbagai konsentrasi antara 3-15 %. Umumnya preparat ini mempunyai pH 5-6,5 % dan mengandung kira-kira 10 % karbamid peroksida, biasanya mengandung gliserin atau propilen glikol, natrium stannat, asam fosfat atau asam sitrat dan aroma. 5. Larutan Mc. Innes Larutan ini terdiri atas 5 bagian asam klorida 36 %, 5 bagian hidrogen peroksida 30 % dan 1 bagian eter, biasanya digunakan untuk menghilangkan noda pada kasus fluorosis. 6. Natrium peroksiborat monohidrat Contoh bahan ini adalah amosan, yang melepaskan oksigen lebih banyak daripada natrium perborat, diindikasikan untuk pemutihan gigi secara internal. 2.11 Macam macam Tehknik Bleaching Bleaching (pemutihan gigi) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu bleaching secara eksternal yang dilakukan pada gigi vital yang mengalami perubahan warna dan bleaching secara internal, dilakukan pada gigi non vital yang telah dirawat saluran akar dengan baik. 2.11.1 Tehnik Bleaching secara Eksternal Pewarnaan pada gigi vital biasanya disebabkan oleh karena pewarnaan tetrasiklin dan faktor ekstrinsik, misalnya karena fluorosis atau defek superfisial. a. Tehnik Bleaching pada Gigi Vital yang Berubah Warna karena Tetrasiklin Bleaching secara eksternal dilakukan pada gigi vital yang berubah warna karena tetrasikllin yang belum parah yaitu gigi berwarna kuning. Tehniknya bleaching secara eksternal, sebagai berikut :6 1. Bersihkan gigi, lindungi jaringan lunak dengan mengulaskan pasta pelindung mulut, pasang karet isolator (rubberdam), ikat dengan benang (dental floss) pada gigi yang akan dirawat.

13

2.

Letakkan sepotong kapas yang telah dibasahi larutan hidrogen peroksida pada bagian labial dan palatinal gigi.

3.

Pemanasan dilakukan dengan cara memakai lampu reostat controlled photoflood yang diletakan sekitar 30 cm dari gigi selama 10-30 menit atau dengan hand-held thermostatically controlled yaitu dengan menempelkan ujung alat ini pada permukaan gigi yang telah diberi gulungan kapas yang dibasahi dengan superoxol.

4. 5.

Pemutihan gigi dilakukan selama 30-60 detik. Ulangi prosedur ini sebanyak 3 kali. Kapas dilepas, gigi dibilas dengan air hangat, buka ikatan dental floss, lepaskan Karet isolator, bersihkan sisa pasta pelindung mulut.

6. 7.

Suruh pasien menyikat gigi kemudian lakukan pemolesan. Pasien disuruh datang 1 minggu kemudian, bila belum memuaskan prosedur bleaching diulang

b.

Bleaching Tehnik Mouthguard Tehnik ini biasanya dipakai pada perubahan yang ringan, dianjurkan sebagai tehnik

pemutihan di rumah, biasa disebut juga tehnik pemutihan dengan matriks. Tehnik ini dapat dilakukan pada malam hari saat tidur disebut nightguard vital bleaching atau dipakai pada siang hari. Prosedur mouthguard bleaching adalah sebagai berikut :6 1. Pasien diberi penjelasan, lakukan profilaksis, dibuat foto permulaan dan selama perawatan. 2. Gigi dicetak, dibuat model lengkung rahang dari gips batu. Dua lapis relief die diulaskan pada bagian bukal cetakan gigi untuk membentuk reservoir bagi bahan pemutih. 3. Matriks plastik lunak setebal 2 mm dibuat dan dirapikan dengan gunting sampai 1mm melewati tepi ginggiva.

14

4.

Mouthguard dicoba pada mulut, lalu diangkat dan bahan pemutih dimasukkan kedalam ruangan dari setiap gigi yang akan diputihkan. Kemudian mouthguard dipasang atas gigi dalam mulut dan kelebihan bahan pemutih gigi dibuang.

5.

Pasien harus dibiasakan menggunakan prosedur ini, biasanya 3-4 jam sehari dan bahan pemutih diisi kembali setiap 30-60 menit.

6. c.

Perawatan dilanjutkan selama 4-24 minggu, pasien diperiksa setiap 2 minggu. Tehnik Bleaching pada Gigi Vital yang Berubah Warna karena Fluorosis Untuk memperbaiki pewarnaan karena fluorosis ini, cara yang lebih efektif adalah

tehnik asam hidroklorik-pumis yang terkontrol atau disebut tehnik pumis asam. Sebetulnya cara ini bukan cara pemutihan gigi murni (oksidasi), melainkan suatu tehnik dekalsifikasi dan pembuangan selapis tipis email yang berubah warna.6 2.11.2 Tehnik Bleaching secara Internal (Intrakoronal) Pemutihan gigi secara intrakoronal dilakukan pada gigi yang telah dirawat endodontik dengan baik. Metode bleaching yang umum dilakukan untuk gigi ini adalah tehnik walking bleach, termokatalitik dan kombinasi. a. Tehnik Walking Bleach Tehnik ini memakai campuaran superoxol dan natrium perborat, prosedurnya adalah sebagai berikut :6 1. 2. 3. Jaringan sekitar gigi yang akan dirawat dilindungi dengan vaselin. Isolasi gigi dengan karet isolator (rubberdam). Kamar pulpa dan tanduk pulpa dibersihkan, kemudian dentin bagian labial dalam kamar pulpa dikurangi 0,5 mm dengan bor kecepatan rendah. 4. 5. Kurangi gutaperca dengan plugger panas sebanyak 2 mm ke arah apikal. Daerah orifis ditutup dengan semen seng oksida eugenol setebal 1 mm.

15

6.

Bersihkan kamar pulpa dengan xylene atau isopropil alkohol 70 %, Kemudian keringkan dengan aliran udara. Menurut Hyess (1986) dapat juga dipakai asam fosfat 37 % yang dioleskan dalam kamar pulpa selama 1 menit, kemudian bilas dengan air dan keringkan.

7.

Letakkan pasta campuran natrium perborat dengan superoxol di dalam kamar pulpa, tekan dengan kapas ke arah dinding labial kemudian tutup dengan tumpatan sementara seng oksida eugenol.

8.

Kunjungan berikutnya dilakukan 3-7 hari kemudian. Bila pemutihan gigi Belum berhasil, ulangi prosedur di atas, tetapi bila sudah berhasil, bersihkan gigi kemudian lakukan tumpatan tetap dengan resin komposit.

b.

Tehnik Kombinasi Tehnik kombinasi ialah cara bleaching yang menggabungkan tehnik walking bleach

dengan tehnik termokatalitik secara bergantian, sehingga hasilnya lebih cepat dan memuaskan.Prosedur tehnik kombinasi adalah langkah pertama sama dengan tehnik termokatalitik, setelah dilakukan pemanasan, kapas yang telah dibasahi hidrogen peroksida dalam kamar pulpa dikeluarkan lalu gigi dikeringkan. Kemudian pasta hasil pencampuran superoxol dengan bubuk natrium perborat diletakkan dalam kamar pulpa. Tindakan selanjutnya seperti tehnik walking bleach.6 c. Tehnik Foto Oksidasi Ultra Violet Lampu ultraviolet diletakkan pada permukaan labial gigi yang akan diputihkan. Cairan hidrogen peroksida 30-35 % diletakkan di dalam kamar pulpa dengan kapas, lalu disinari dengan lampu ultraviolet selama 2 menit. Diduga hal ini mengakibatkan penglepasan oksigen sama dengan pemutihan tehnik termokatalitik. Cara ini kurang efektif dibandingkan dengan tehnik walking bleach serta memerlukan waktu yang lebih banyak.6

16

2.12 Efek Samping Bleaching Ada 2 efek samping yang paling sering terjadi yaitu gigi sensitif dan iritasi pada ginggiva. Selain sakit tenggoroka dan perih pada jaringan rongga mulut dan sakit kepala merupakan efek samping teteapi jarang dilaporkan. Ketika efek samping pada seseorang terjadi secara kebetulan selama proses bleaching, proses ini harus dihentikan. Bagi kebanyakan orang efek samping yang mereka rasakan tidak pernah terlalu signifikan dibandingkan dengan proses bleachingnya. Umumnya efek samping ringan pada seseorang yang dapat ditoleransi selama proses bleaching akan menurun dalam beberapa hari setelah beberapa hari setelah mereka menyelesaikan perawatannya.7,8 1. Gigi sensitif Beberapa pasien mempunyai riwayat gigi sensitif setelah sekali pengaplikasian dari bahan bleaching.Gigi menjadi sensitif terhadap udara, air ,panas dan dingin dan sensitif terhadap makanan dan minuman yang manis.Bahan bleaching ini merusak prisma rod enamel ,kerusakan ini dapat menyebabkan tersingkapnya dentin secara mikroskopis .Hydrogen peroxide dalam bentuk gel atau past ,secaa kimia memiliki sifat hypertonic dibandingkan cairan pada struktur gigi dn jaringan sekitarnya. Kondisi tersebut menyebabkan trjadinya proses penyerapan air dari tekanan yang lbih rendah. Dalam hal ini dari enamel ,tubulus dentin dan lapisan epitel mukosa atau gusi. Proses dehidrasi tersebut menyebabkan rasa ngilu dan sensitif.7,8 2. Iritasi gingiva Selama proses bleaching jaringan gingiva dapat menjadi iritasi. Iritasi gingiva dapa meluas dihubungkan dengan konsentrasi peroxide yang ditemukan pada bahan bleaching.Bisa juga dikarenakan tray mendorong melawan gingiva selam proses bleaching yang menyebabkan trauma mekanis. Larutan bleaching dengan konsentrasi tinggi dapat

17

menyebabkan trauma khemis. Hal-hal ini dapat menyebabkn resesi gingiva secara permanen.7,8 3. Sakit pada tenggorokan Bahan bleaching dapat tertelan.Hal ini tidak dapat dihindari selama proes bleaching .Ketika bahan tersebut tertelan ,dapat menyebakan iritasi paa jaringan mukosa pada tengggorokan.7,8 4. Masalah dengan material restorasi gigi Pemeriksaan laboratorium membuktikan efek bahan bleaching pada material gigi menunjukkan perubahan secara klinis tidak signifikan terhadap kebanyakan material restorasi gigi setelah bleaching. Gel Carbamide peroxide meningkatkan pelepasan merkuri dari amalgam gigi menyebabkan perbahan warna menjadi lebih buram.7,8 5. Perubahan morfologi enamel Carbamide peroxide menyebabkan sedikit perubahan morfologi dari permukaan enamel pada level pH yang beragam.Menurut penelitian Rosalina Tjandrawinat merendam sampel enamel dalam Carbamite peroxide dan Hydrogen peroxide menunjukkan hasil yang sama yaitu perubahan gambaran email menjadi lebih kasar ,berpori-pori dan adanya bercak warna putih akibat menggunakan bahan tersebut dilihat secar mikroskopis.7,8

18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Amalgam merupakan bahan tumpatan yang paling sering digunakan karena bahan ini dapat bertahan lama sebagai bahan tumpatan, mudah memanipulasinya, mudah beradaptasi dengan cairan mulut dan harganya relatif murah. Tetapi amalgam memiliki nilai estetika yang rendah serta dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi karena bersifat korosi. Komposit digunakan sebagai alternatif pengganti amalgam karena komposit cukup kuat untuk gigi posterior dan memiliki nilai estetika tinggi karena warna sangat mirip dengan gigi. Proses bleaching (pemutihan) gigi, merupakan suatu tindakan yang cukup efektif dan sederhana dalam menanggulangi perubahan warna gigi, baik pada gigi vital maupun pada gigi non vital yang telah dirawat endodontik.

3.2 Saran Sebaiknya dalam pemilihan tumpatan dokter gigi menjelaskan tentang kelebihan dan kekurangan tumpatan kepada pasien serta memilih tumpatan sesuai indikasi. Sebaiknya dokter gigi mempertimbangkan cara bleaching yang mana yang akan dikerjakan untuk memutihkan gigi sesuai dengan indikasinya sehingga akan memberikan hasil yang memuaskan.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Baum, Phillips, Land. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi. Jakarta : EGC, 1997. Anusavice, Kenneth J. Phillips : Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Edisi 10. Jakarta : EGC, 2003.

3. 4.

Walton, Richard E. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia. Jakarta : EGC, 2008. Grossman, Louis I. Ilmu Endodontik dalam Praktek Edisi Kesebelas. Jakarta : EGC, 1995.

5.

Tarigan, R. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti) Cetakan I. Jakarta : Widya Medika, 1994.

6.

Walton, R. & Torabinejab, M.. Principles and Practice of Endodontics. Second Edition. Philadelphia : W.B. Saunders Co, 1996.

7.

Tjandrawinata R. Pengaruh karbamid peroksida dan stanous flourida terhadap permukaan email gigi. FKG Universitas Trisakti, 1999

8.

Tam laura. The safety of home bleaching techniques.J Can Assoc 1999 ;65:453-5.

20