Anda di halaman 1dari 12

OBESITAS PADA BALITA

Makalah

Diajukan sebagai tugas mata kuliah Epidemiologi Gizi

Kelompok 4: AHDIYATUL FAUZA AYU LESTARI JASRA GEBBY PRATAMA PUTRI RESTIRA VIANTI TIARA AFDELITA Kelas II B

PROGRAM DIII JURUSAN GIZI POLITEKNIK KESEHATAN PADANG KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2012

1. Pengertian Obesitas Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Kita tahu bahwa setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh, yang gunanya untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Ratarata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.

Obesitas pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di masyarakat kita dewasa ini. Di Amerika, obesitas pada anak dikatakan telah meningkat sebesar 3 kali lipat selama 30 tahun terakhir. Sedangkan di Indonesia sendiri masalah ini juga meningkat tajam sebesar 2 kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Sayangnya, walaupun masalah ini sudah dapat dikatakan berada pada taraf yang mengkhawatirkan, baik pemerintah, masyarakat maupun para orang tua masih belum memahami bahaya dari kondisi ini pada si anak. Sebagian besar dari mereka tidak atau belum mengerti bahwa Obesitas Pada Anak dapat membawa dampak yang sangat serius bagi si penderitanya.

Pada saat mereka masih bayi, gemuk akan membuatnya tampak lucu. Akan tetapi, apabila menginjak usia prasekolah (4-6 tahun) status gizi anak masih obesitas, maka hal ini perlu menjadi perhatian khusus orang tua. Apabila hal ini tidak teratasi, berat badan berlebih (bahkan obesitas) akan berlanjut sampai anak beranjak remaja dan dewasa. Konsekuensi kelebihan berat badan pada anak juga menyangkut kesulitan-kesulitan dalam psikososial, seperti: diskrikminasi dari teman-teman, self-image negatif, depresi, dan penurunan sosialisasi. Menurut Freedman et al (1999), bukti-bukti saat ini menunjukkan bahwa banyak anak-anak overweight memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskuler, seperti: hyperlipidemia, hipertensi, atau hyperinsulinemia. kegemukan pada bayi

Karena terlalu gemuk, proses perkembangan bayi bisa terlambat, misalnya terlambat untuk duduk dan berjalan, dibandingkan dengan bayi yang beratnya normal. Kaki bayi yang kelewat gemuk tidak mampu menahan berat badannya. Selain itu, kegemukan diperkirakan dapat menimbulkan penyakit pernapasan dan umumnya kegemukan ini akan dibawa sampai dewasa jika sejak dini cara pencegahannya tidak diupayakan. Ada banyak cara untuk mencegah kegemukan berlanjut. Salah satunya, aturlah pola makan yang seimbang sejak dia mengenal aneka ragam makanan. Sebagai contoh, utamakan makanan berbahan segar yang cukup protein, karbohidrat, sayuran dan buah. Pola makan berlebihan yang diterapkan sejak bayi tentunya akan meningkat sesuai bertambahnya usia. Oleh karena itu, sejak dini diterapkan pola makan seimbang. Jika pola ini dilaksanakan, berat badan

bayi relatif normal dan sehat. Dengan demikian, anak juga akan terhindar dari berbagai penyakit yang diakibatkan oleh obesitas. 2. Segitiga Epidemiologi Penyakit Obesitas Pada Balita 1. Host Host ialah semua faktor yang terdapat pada diri manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya serta perjalanan suatu penyakit. Dalam hal ini, yang berperan sebagai faktor pejamu dalam timbulnya serta perjalanan penyakit obesitas yang timbul dipengaruhi oleh banyak faktor di dalamnya, antara lain yaitu: 1. Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

2. Umur Obesitas dapat terjadi pada seluruh golongan umur, baik pada anak-anak sampai pada orang dewasa Obesitas dapat terjadi pada balita ketika dalam tubuhnya terjadi ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, dimana konsumsi kalori (energy intake) terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi (energy expenditure). Dalam hal ini asupan energi yang berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik rata-rata per hari yang seimbang maka akan mempermudah terjadinya kegemukan atau obesitas pada seorang balita.

3. Kurangnya aktivitas fisik Masa anak-anak identik dengan masa bermain. Dulu, permainan anak umumnya adalah permainan fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat atau gerakan lainnya. Tetapi, hal itu telah tergantikan dengan game elektronik, komputer, Internet, atau televisi yang cukup dilakukan

dengan hanya duduk di depannya tanpa harus bergerak. Hal inilah yang menyebabkan anak kurang melakukan gerak badan sehingga menyebabkan kelebihan berat badan.

4. Terlalu cepat memberi makanan padat saat bayi (Perlu diperhatikan buat ibu-ibu yang punya balita) Jika memberi makanan terlalu banyak kepada anak, baik itu ASI atau susu formula ataupun makanan padat, itu akan mengakibatkan terlalu banyak kalori yang diterima anak, dan mereka akan belajar makan terlalu banyak. Bayi yang minum susu formula, bukan ASI, berisiko mengalami obesitas jika memulai makanan padat terlalu cepat. 5. Kebiasaan Makan yang Buruk Anak yang tidak atau kurang suka mengkonsumsi buah, sayur dan biji-bijian (grains) dan lebih memilih fast food, minuman manis maupun makanan kemasan, memiliki kecenderungan untuk memiliki berat berlebih karena makanan tersebut merupakan makanan yang tinggi lemak dan kalori tetapi memiliki nilai gizi yang rendah.

6. Tidak Aktif Secara Fisik Teknologi modern banyak memaksa anak-anak untuk lebih banyak duduk diam menghabiskan waktu mereka di depan layar komputer maupun televisi sehingga mereka tidak banyak bergerak. Jika konsumsi kalori dan lemak mereka berlebih, padahal tubuh tidak membakarnya, maka obesitas pada anak akan terjadi pada mereka. 7. Faktor perkembangan. Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat

dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

2. Agent Agent merupakan suatu substansi atau elemen tertentu yang kehadiran atau ketidakhadirannya dapat menimbulkan atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Substansi dan elemen yang terkandung dalam agent dari penyakit obesitas yang diderita oleh seorang balita merupakan golongan nutrien. Faktor nutrisi yang merupakan penyebab obesitas pada balita dalam hal ini apabila konsumsi makanan yang diberikan melebihi yang dibutuhkan tubuh, sehingga akan terjadi kelebihan energi yang kemudian akan disimpan sebagai cadangan energi, dimana cadangan energi secara berkesinambungan ditimbun setiap hari yang akhirnya akan menimbulkan kegemukan Selain faktor keturunan, faktor yang paling berperan sebagai penyebab obesitas pada anak adalah pola makan, aktivitas fisik dan pola istirahat yang diterapkan pada si Kecil. Banyak anak mengalami obesitas karena pola makan dengan porsi yang berlebihan dan pilihan makanan yang terlalu banyak karbohidrat serta lemak, seperti:

Permen dan coklat. Minuman yang mengandung banyak gula. Makanan cepat saji (junk food). Kue-kue yang mengandung banyak gula dan coklat. Keju dan kacang-kacangan, dll. Makanan cepat saji (fast food)

1. Makanan cepat saji

Sekarang ini banyak sekali kita jumpai makanan cepat saji dalam kehidupan sehari-hari. Ini juga dipicu oleh gencarnya iklan mereka yang sangat menarik bagi anak-anak, dan juga ditambah hadiah mainan yang mereka tawarkan untuk paket anak-anak.

2. Minuman ringan (soft drink) Sama seperti makanan cepat saji, minuman ringan (soft drink) terbukti memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga berat badan akan cepat bertambah bila mengkonsumsi minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan menjadikan anak-anak sangat menggemari minuman ini. 3. pemberian antibiotik. Tidak bisa sembarangan memberi antibiotik pada bayi yang ternyata memiliki efek samping. Sebuah penelitian menemukan, memberi antibiotik pada bayi yang berumur di bawah 6 bulan dapat membuat membuat mereka menjadi anak gemuk. Leonardo Trasande dari New York University School of Medicine mengatakan hal ini terjadi karena mikroba dalam usus mati karena antibiotik. "Mikroba dalam usus mungkin berperan dalam penyerapan kalori. Paparan antibiotik, terutama di awal kehidupan, dapat membunuh bakteri yang mempengaruhi penyerapan nutrisi dalam tubuh kita," katanya. Jan Blustein yang juga berasal dari New York University menyebutkan penelitian ini berangkat dari keingintahuan mereka tentang pengaruh antibiotik terhadap berat badan manusia, khususnya pada anak-anak. Pasalnya, bagi hewan antibiotik juga dapat menggemukkan. "Dalam beberapa tahun terakhir, petani tahu bahwa antibiotik dapat memacu berat sapi untuk dijual ke pasar," ujar dia. Para peneliti kemudian mengevaluasi penggunaan antibiotik pada 11.532 bayi yang lahir di daerah Avon Inggris pada 1991 dan 1992. Hasilnya, mereka menemukan 22 persen anak-anak yang mengkonsumsi antibiotik lebih gemuk dibandingkan yang lain. Sedangkan anak-anak yang menggunakan antibiotik pada usia enam hingga 14 bulan tak mengalami peningkatan massa tubuh dibanding saat masih kecil. Adapun anak-anak yang mengkonsumsi antibiotik pada usia 15 hingga 23 bulan memiliki indeks massa tubuh sedikit lebih tinggi pada usia tujuh tahun, namun tak ada pertumbuhan signifikan yang memungkinkan mereka untuk menjadi gemuk atau obesitas.

4. Faktor kesehatan. Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya: o Hipotiroidisme o Sindroma Cushing o Sindroma Prader-Willi o Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

5. Obat-obatan. Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

3. Lingkungan Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya. 3. Cara Mendeteksi Anak Obesitas Secara singkat, BB lebih dapat dilihat dengan memperhatikan KMS anak Anda. Apabila di atas garis hijau, maka kemungkinan anak Anda memiliki berat badan berlebih. Dari WHONCHS, tidak ada klasifikasi overweight atau obesitas. Sehingga, indikator ini sulit dilihat secara objektif. Cara yang lain adalah dengan melihat grafik IMT (BMI, Body Mass Index) khusus anak di atas 2 tahun pada grafik di bawah ini:

Klasifikasinya adalah: Persentil >95 : obesitas

Persentil 75-95 : overweight persentil 25 75: normal persentil <25 : kurang 4. Cara Mengatasi Anak Obesitas Anak yang obesitas, terutama apabila pembentukan jaringan lemaknya (the adiposity rebound) terjadi sebelum periode usia 5-7 tahun, memiliki kecenderungan berat badan berlebih saat tumbuh dewasa. Sama seperti orang dewasa, kelebihan berat badan anak terjadi karena ketidak seimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar; terlalu banyak makan, atau terlalu sedikit beraktivitas, atau pun keduanya. Akan tetapi, berbeda dengan orang dewasa, berat badan anak pada kasus obesitas tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Laju pertumbuhan berat badan sebaiknya dihentikan atau diperlambat sampai proporsi berat terhadap tinggi badan mencapai normal. Perlambatan ini dapat dicapai dengan cara mengurangi makan sambil memperbanyak olahraga. Kepada anak yang rakus makan dan terlanjur gemuk, bukan berarti dunia sudah kiamat. Kuncinya ada pada keluarga. Ada banyak cara untuk mengendalikan kegemukannya. 1. Berilah susunan makanan yang sehat secara seimbang, awasi kebiasaan makannya, jangan berikan makanan yang kandungan lemaknya tinggi seperti gorengan. Pilihlah daging yang tidak berlemak, misalnya sebelum dimasak dan disajikan; Buanglah lemak (visible fat) dan kulit pada daging ayam. 2. Berikan banyak sayuran dan buah setiap makan. Jangan banyak diberikan masakan yang memakai banyak lemak (misalnya bersantan kental). 3. Upayakan banyak kesempatan beraktivitas fisik, terutama kegiatan di luar ruangan (outdoor) seperti lari, berenang, atau bermain bersama teman, bermain bola, dan lain-lain. Kurangi jam untuk menonton TV. Jangan berikan banyak makanan dan minuman manis, karena ini adalah sumber kalori yang dapat meningkatkan berat badan.

4. Seandainya upaya di atas tidak berhasil, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi bagaimana solusinya yang terbaik. Hindari pemakaian pil penurun berat badan karena ini berbahaya. Cara lain mengatasi obesitas pada anak adalah: 1. Perhatikan makanan yang akan diberikan kepada anak. Ini sepertinya semua orang tua sudah melaksanakannya. Kalau belum ya, segeralah diperhatikan makanan/asupan yang diberikan kepada anak-anak. 2. Beri bekal ke sekolah dan biasakan sarapan. 3. Perbaiki cara/tehnik mengolah masakan (buat ibu-ibu nih) 4. Buatlah aturan makan Waktu atau jam-jam makan, buatlah secara teratur. 5. Lakukan kegiatan yang memerlukan gerakan fisik 6. Batasi jumlah jam anak2 saat main game, dll. 7. Untuk batita atau balita, buatlah si kecil tidur dengan lelap. Penelitian menunjukkan, anak kecil yang tidur dengan lelap dapat mencegah obesitas.

DAFTAR PUSTAKA Arisman. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC. Centers for Disease Control and Prevention. 2000. 2000 CDC growth charts for the United States: methods and development. Washington: Departement of Health and Human Services. Freedman DS et al. 2001. Relationship of Childhood Obesity to Coronary Heart Disease Risk Factors in Adulthood: The Bogalusa Heart Study. Pediatrics 108:712. Mahan, Kathleen dan Escott-stump. 2000. Krauses Food, Nutrition, and Diet Therapy 11th Edition. NY: Saunders. Soekirman, Susana H., Giarno, M.H., Lestari, Y. 2006. Hidup Sehat, Gizi Seimbang dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: Gramedia. Supariasa, I. N., Bakri, B., Hajar, I. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.