Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang The central nervous system contains more than 100 billion neurons.

Incoming signals enter this neuron through synapses located mostly on the neuronal dendrites, but also on the cell body. For different types of neurons, there may be only a few hundred or as many as 200,000 such synaptic connections from input fibers. Conversely, the output signal travels by way of a single axon leaving the neuron. Then, this axon has many separate branches to other parts of the nervous system or peripheral body. Sistem saraf pusat terdiri atas lebih dari 100 juta sel saraf atau neuron. Sebagian besar sinyal (impuls saraf) diterima oleh sel saraf oleh dendrit, dan sebagian lagi oleh badan sel. Untuk setiap jenis neuron yang berbeda, mungkin hanya terdapat beberapa ratus atau sekitar 200.000 sambungan sinaps dari serabut saraf input. Sebaliknya, sinyal keluar melaju malewati akson tunggal meninggalkan neuron. Kemudian aksin ini mamiliki banyak percabangan yang terpisah menuju bagian lain dari sistem saraf atau perifer.(Guyton, 2007) Sadar ataupun tidak, tubuh manusia selalu melakukan gerakan. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantar impuls oleh saraf. Bahkan seseorang yang memiliki keterbatasan pun akan tetap melakukan gerak. Saat kita melihat, mengedipkan mata, atau berbicara sesungguhnya telah terjadi gerak yang disebabkan oleh kontrasi otot. (Manikam, 2011)

Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun ada pula garak yang terjadi tanpa di sadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensoris di bawah ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak kemudian hasil olahan oleh otak berupa tanggapan, di bawah oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor. (Manikam, 2011) Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Dan dalam melakukan gerak tubuh kita melakukan banyak koordinasi dengan perangkat tubuh yang lain. Hal ini menunjukkan suatu kerja sama yang sinergis. (Manikam, 2011) Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat di katakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. (Manikam, 2011) Unit dasar setiap kegiatan refleks terpadu adalah lengkung refleks. Lengkung refleks ini terdiri dari alat indra, serat saraf aferen satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion simpatios saraf eferent dan efektor. (Manikam, 2011) Kegiatan pada lengkung refleks di mulai pada reseptor sensorik sebagai potensial reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat rangsangan. Lengkung refleks paling sederhana adlah lengkung refleks yang mempunyai satu sinaps antara neuron aferent dan eferent. Lengkung refleks semacam ini dinamakan

monosinaptik dan refleks yang terjadi di sebut refleks monosinaptik. (Manikam, 2011) B. Tujuan Adapun tujuan percobaannya adalah: 1. Mempelajari cara-cara pemeriksaan reflex fisiologis pada manusia 2. Melihat ada tidaknya gangguan konduksi impuls pada sistem saraf

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Refleks Refleks adalah mekanisme reaksi terhadap rangsangan di bawah sadar. Perilaku naluriah dari hewan yang lebih rendah dikuasai sebagai besar oleh refleks pada manusia perilaku lebih banyak merupakan suatu masalah dari persyaratan dan refleks bekerja sebagai mekanisme pertahanan dasar, namun refleks-refleks ini sangat penting artinya di dalam mendiagnosis dan melokalisasi lesi neurologi. (Manikam, 2011) Refleks adalah suatu bentuk respon untuk stimulus yang tidak disadari. Sebuah lengkung refleks adalah jalur yang ditempuh oleh impuls saraf selama refleks berlangsung. Kebanyakan refleks berupa impuls yang melintasi tulang belakang dengan jalur yang hanya melintasi sumsum tulang belakang. Selama refleks tulang belakang, informasi dapat ditransmisikan ke otak, tetapi pada tulang belakang, dan bukan otak, yang bertanggung jawab untuk integrasi informasi sensorik dan respon yang ditransmisikan ke neuron motorik. Beberapa refleks merupakan kranial refleks dengan jalur melalui saraf tengkorak dan batang otak.(Cliff, 2011) B. Gerak Refleks Gerak refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar, misalnya menutup mata saat terkena debu, menarik kembali tangan dari benda panas menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja. Gerak reflex dapat dihambat oleh kemauan sadar, misalnya ;

Gambar 1. refleks

bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan benda panas itu. (Evelyn, 2008) C. Klasifikasi Gerak Refleks Refleks-refleks yang penting bagi neurologi klinis dapat di bagi menjadi 4 kelompok, yaitu: 1. refleks superfisial (kulit dan lendir) 2. refleks tendon dalam (miotatik) 3. refleks viseral (organik) 4. refleks patologik (abnormal) Refleks juga dapat di klasifikasikan menurut tingkat dari refresentasi sentralnya yaitiu sabagai refleks spinal, bulbar (refleks postural dan penegakan), otak tangah atau cerebellum. (Manikam, 2011)

D. Jenis Refleks Refleks dapat dikelompokkan dalam berbagai tujuan, refleks

dikelompokkan berdasarkan : 1. Letak reseptor yang menerima rangsangan : a. Refleks ekstroseptif, timbul karena rangsangan pada reseptor permukaan tubuh. b. Refleks interoreseptif (viseroreseptif), timbul karena rangsangan pada alat-alat dalam atau pembuluh darah misalnya dinding kandung kemih dan lambung. c. Refleks proreseptif, timbul karena rangsangan pada reseptor otot rangka. Tendon, dan sendi untuk keseimbangan sikap. 2. Bagian Saraf pusat yang terlibat a. Refleks spinal, melibatkan neuron di medulla spinalis b. Refleks Bulbar, melibatkan neuron di medulla oblongata c. Refleks kortikal, melibatkan neuron korteks serbri. Sering terjadi refleks yang melibatkan berbagai bagian pada saraf pusat. Dengan demikian pembagian di atas tidak dapat digunakan. 3. Jenis atau ciri jawaban a. Refleks motorik, efektornya berupa otot dengan jawaban relaksasi atau kontraksi otot b. Refleks sekretorik, efektornya berupa kelenjar dengan jawaban berupa peningkatan/ penururnan sekresi kelenjar c. Refleks vasomotor, efektornya berupa pembulu darah dengan jawaban berupa vasodilatasi/ vasokonstriksi

4. Timbulnya Refleks. Refleks telah timbul sejak lahir, ada juga muncul setelah memenuhi persarafan yang dibutuhkan, dan refleks terakhir di dapat selama makhluk berkembang berupa pengalaman hidup. Berdasarkan hal tersebut di atas refleks di bagi dalam: a. Refleks tidak bersyarat, refleks yang di bawah sejak lahir , bersifat mantap tidak pernah berubah, dan dapat ditimbulkan bila ada rangsangan yang cocok, misalnya mengisap jari pada bayi b. Refleks bersyarat di dapat selama pertumbuhan berdasarkan pengalaman hidup, memerlukan proses belajar. Mempunyai cirri-ciri. Bersifat individual (seseorang memiliki tapi orang lain belum tentu), tidak mantap (dapat diperkuat dan bias hilang), dapat timbul oleh berbagai jenis rangsangan pada beberapa jenis reseptor asal disusuli oleh rangsangan bersyarat. 5. Jumlah neuron yang terlibat. a. Refleks monosinaps melalui satu sinaps dan dua neuron (satu neuron aferen, satu neuron eferen) yang langsung berhubungan pada saraf pusat. Contohnya refleks regang. b. Refleks polisinaps melalui beberapa sinaps, terdapat beberapa interneuron yang menghubungkan neuron eferen dengan neuron aferen, semua refleks lebih dari satu sinaps kecuali refleks regang otot. (Syaifuddin, 2006) 6. Jenis-jenis refleks: a. Deep reflexes/ Reflex dalam: Reflex dalam timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan, dan sebagai jawabannya maka otot

berkontraksi. Reflex ini juga dinamai reflex regang otot (muscle strect reflex), yang terdiri reflex tendon, reflex periostal, reflex miotik dan reflex fisiologis. Contoh dari reflex dalam yaitu reflex kuadrisep femoris(tendon lutut/patella), dan reflex glabella. b. Superficialis reflexes/ Reflex superficial: Reflex ini timbul karena terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan berkontraksinya otot yang ada di bawahnya atau di sekitarnya. Jadi bukan karena teregangnya otot seperti pada reflex-dalam. Contoh dari reflex superficial adalah reflex dinding perut, reflex kornea, refleks kremaster (sentuhan bagian pangkal paha), refleks anus superfisialis (rangsangan pada kulit anus. (Benson, 2005)

Gambar 2. Refleks

7. Refleks Regang Peregangan otot secara tiba-tiba merangsang muscle spindle dan sebaliknya. Ini menyebabkan reflex kontraksi dari otot yang sama. Karena alasan yang jelas, reflex ini disebut reflex regang. Reflex ini mempunyai komponen dinamik dan komponen static. 1. Refleks regang Dinamik Refleks regang dinamik disebabkan oleh isyarat dinamik yang kuat dari muscle spindle, yaitu bila otot tersebut diregangkan suatu isyarat kuat dikirimkan ke medulla spinalis melalui ujung primer. 2. Refleks Regang static Meskipun reflex regang dinamik berakhir dalam sepersekian detik setelah otot tersebut diregangkan kepanjangnya yang baru, suatu reflex regang static yang jauh lebih lemah terus berlangsung untuk waktu lama sesudah itu.(Guyton, 2007) E. Lengkung Refleks Impuls saraf melintasi jalur tertentu sepanjang jalur menuju system saraf. Bagian kecil dari jalur ini terdiri dari beberapa neuron, proses yang terjadi pada reflex melalui jalan tertentu disebut lengkung reflex. (Manikam, 2011) Lengkung reflex dimulai dengan reseptor rangsangan sensoris. Neuron ini biasanya peka terhadap rangsangan dan memulai mengirimkan rangsangan ke interneuron yang melintas sepanjang neuron yang dapat menghantarkan impuls menuju susunan saraf pusat,lalu rangsangan/ impuls tadi dianalisa/ diolah, di pusat reflex, lalu akan dikirim kembali langsung menuju efektor lewat neuron

motorik. Reflex yang lengkungannya melewati medulla spinalis disebut reflex spinal. (Manikam, 2011) Lengkung refleks sederhana, melibatkan sejumlah struktur reseptor yaitu organ indera yang khusus bagian akhir kulit atau fusus neuromuskularis yang perangsangannya memprakarsai suatu impuls neoron aferent yang mentransmisi impuls melalui suatu saraf perifer ke susunan saraf pusat, tempat di mana saraf bersinaps dengan suatu neuron interkalasi, satu atau lebih neuron interkalasi menyampaikan impuls ke saraf eferent. (Manikam, 2011) Neuron eferent berjalan keluar dalam saraf dan menyampaikan impuls ke suatu efektor. Dan efektor yaitu otot (otot polos, lurik, atau otot jantung) atau kelenjar yang memberikan respon. (Manikam, 2011) Sementara kesatuan anatomik susunan saraf adalah neuron, maka kesatuan fungsionalnya adalah lingkungan refleks ini merupakan dasar anatomik untuk kegiatan kegiatan refleks diluar pengendalian kemauan kita, ini berarti reaksi reaksi yang lebih kurang bersifat otomotik dan tidak berubah-ubah yang tidak melibatkan pusat-pusat fungsional susunan saraf pusat yang lebih

tinggi(Manikam, 2011) Lengkung reflex terdiri dari alat indra, serat saraf aferen, satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau yang di ganglion simpatis, serat saraf eferen, dan efektor. (Manikam, 2011) Komponen Lengkung Refleks. Komponen-komponen utama suatu lengkungan refleks yang paling sederhana terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: a. Suatu reseptor, yang peka terhadap suatu macam rangsangan.

10

b. Suatu neuron aferen (sensorik) yang dapat menghantarkan impuls menuju ke susunan saraf pusat (medula spinalis atau batang otak), dan mengadakar synapsis. c. Suatu neuron eferen (motorik) yang dapat mengantarkan impils-impuls ke perifer. d. Suatu alat efektor, yang merupekan tempat terjadinya reaksi, dan yang dapat diwakili oleh suatu serat otot atau sel kelenjar. (Manikam, 2011) A synapse is the site where the axon of a neuron communicates with effectors or other neurons. With very few exceptions, synaptic transmissions in mammals are mediated by chemicals, not by electrical signals. In response to an electrical signal in the axon, vesicles on the presynaptic membrane release transmitter substances (neurotransmitters) by exocytosis. The transmitter diffuses across the synaptic cleft (1040 nm) to the postsynaptic membrane, where it binds to receptors effecting new electrical changes. Sinaps adalah tempat dimana akson sebuah sel saraf berhubungan dengan efektor atau neuron yang lain. Dengan sedikit pengecualian, penyebaran impuls sinaptik pada mamalia dibawa oleh bahan kimia, bukan melalui sinyal listrik. Dalam merespon sinyal listrik di akson, vesikel dibagian atas membran presinaptik melepaskan penyebar substan (neurotransmitters) melalui eksositosis. Penyebaran difusi melalui celah sinaptik ke membran postsinaptik, dimana ia di ikat ke reseptor penerima perubahan elektrik baru.(Guyton, 2007) F. Waktu Refleks Penghantaran kegiatan sejak pemberian rangsangan pada reseptor sampai timbul jawaban di efektor, atau masa pemberian rangsangan hingga timbul

11

jawaban. Waktu refleks ini ditentukan oleh perlambatan rangsangan pusat yang dialami terutama bila melalui sinaps, gangguan pada masing-masing bagian lengkung refleks dapat mempengaruhi waktu refleks. Seiring terjadi jawaban reflex terus berlangsung meskipun rangsangan sudah lama dihentikan. Hal ini disebut lama reflex atau aksi ikutan reflex. Hal ini karena adanya susunan hubungan neuron berupa rantai tertutup atau rantai terbuka impuls yang berputarputar pada neuron tersebut, meskipun rangsangan sudah dihentikan, serat afferent terus mendapat rangsangan interneuron sehingga menyebabkan jawaban reflex akan tetap terjadi.(Syaifuddin, 2006) G. Kekuatan Refleks Kekuatan refleks dapat Ditentukan oleh kekuatan rangsangan serta lama pemberian rangsanagan. Bila diberikan dengan kekuatan yang lebih besar maka lebih banyak reseptor yang terlihat. Bila lebih banyak serat eferen yang menerusakan ke saraf pusat akan lebih banyak serat eferen terlihat menenruskan kegiatan ke efektor yang akan mengakibatkan peningkatan jawaban efektor. (Syaifuddin, 2006) H. Bentuk-Bentuk Pemeriksaan Reflex 1. Reflex biseps Reflex biseps didapat melalui peregangan tendon biseps pada saat siku dalam keadaan fleksi. Orang yang menguji menyokong lengan bawah dengan satu tangan sambil menempatkan jari telunjuk dengan menggunakan palu reflex. Respon normal dalam fleksi pada siku dan kontraksi biseps. (Anonim)

12

2. Reflex triseps Untuk menimbulkan reflex triseps lengan pasien difleksikan dan diposisikan di depan dada. Pemeriksa menyokong lengan pasien dan mengidentifikasi tendon triseps dengan mempalpasi 2,5 sampai 5 cm diatas siku. Pemukulan langsung pada tendon normalnya pada tendon menyebabkan kontraksi otot triseps dan ekstensi siku. (Anonim)

13

3. Reflex brakhioradialis (perioust radialis)

Pada saat pengkajian reflex brakhioradialis, penguji meletakkan lengan pasien di atas meja laboratorium atau disilangkan di atas perut. Ketukan palu dengan lembut 2,5 sampai 5 cm di atas siku. Pengkajian dilakukan dengan lengan dalam keadaan fleksi dan supinasi. (Anonim)

4. Reflex patella (KPR/knee pess refleks) Reflex patella ditimbulkan dengan mengetok patella tepat di bawah patella. Pasien dalam keadaan duduk atau tidur terlentang. Jika pasien telentang. Pengkaji menyokong kaki intuk memudahkan relaksasi otot. Kontraksi quadtiseps dan ekstensi lutut adalah respon normal. (Anonim)

14

5. Reflex ankle (Achilles pess reflex (APR) Buat pergelangan kaki dalam keadaan rileks, kaki dalam keadaan dorsi

fleksi pada pergelangan kaki dan palu diketok pada bagian tendon achilles. Reflex normal yang muncul adalah fleksi pada bagian flantar. Jika penguji tidak dapat menimbulkan reflex pergelangan kaki dan kemungkinan tidak dapat rileks, pasien diintruksikan untuk berlutut pada sebuah kursi atau tingginya sama dengan penguji. Tempat pergelangan kaki pada posisi dorsi fleksi dan kurangi tenaga otot gastroknemeus. Tendon Achilles digores menurun terjadi fleksi plantar. (Anonim)

6. Refleks Kontraksi Abdominal. Refleks superfisial yang ada ditimbulkan oleh goresan pada kulit dinding abdomen atau pada sisi paha untuk pria. Hasil yang didapat adalah kontraksi yang tidak disadari otot abdomen, dan selanjutnya menyebabkan skrotum tertarik. (Anonim)

15

Dalam salah satu literatur jurnal menerangkan bahwa : peripheral neuropathy, also called distal symmetric neuropathy or sensorimotor neuropathy, is nerve damage in the arms and legs. feet and legs are likely to be affected before hand and arms. meny people with diabetes have signs of neuropathy that a doctor could note but feel no simpton themselves. symptoms of pheripheral neuropathy may include : 1. numbness or insensitivity to pain or temperature 2. A tingling, burning, or prickling sensation 3. sharp pains or cramps 4. extreme sensitivity to touch, even light touch 5. loss of balance and coordination) neuropati perifer, neuropati juga disebut simetris distal atau neuropati sensorimotor, adalah kerusakan saraf di lengan dan kaki. kaki dan kaki cenderung terpengaruh sebelum tangan dan lengan. orang meny dengan diabetes memiliki tanda-tanda neuropati yang dokter bisa diketahui tetapi merasa tidak simpton sendiri.

16

gejala neuropati perifer mungkin termasuk 1. mati rasa atau ketidakpekaan terhadap nyeri atau temperature 2. Kesemutan sensasi, membakar, atau menusuk-nusuk 3. tajam nyeri atau kram 4. ekstrim kepekaan terhadap sentuhan, bahkan sentuhan ringan 5. kehilangan keseimbangan dan koordinasi

17

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. Nama Percobaan Pemeriksaan Reflex Fisiologis B. Alat dan Bahan Alat yang dibutuhakan adalah : 1. Palu perkusi 2. Kapas 3. Jarum 4. Baki alat C. Prosedur Kerja 1. Refleks kulit perut Orang coba berbaring terlentang dengan kedua tangan terletak lurus disamping badan. Goreslah kulit daerah abdomen dari lateral ke arah umbilicus. Respon yang terjasi berupa kontraksi otot dinding perut. 2. Reflex perioust radialis Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit dipronasikan. Ketuklah periosteum pada ujung distal os radii. Respon berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan. 3. Reflex perioust ulnaris Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan antara pronasi dan supinasi. Ketuklah pada perioust prosessus stilodeus. Respon berupa pronasi tangan.

18

4. Knee pess reflex (KPR) Orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan tergantung bebas atau orang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada sendi lutut. Ketuklah tendo patella dengan hammer sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps. 5. Achilles pess reflex (APR) Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan. Ketukalah tendo Achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius. 6. Reflex biseps Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku. Ketuklah pada tendo biseps akan menyababkan flesi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps. 7. Reflex triseps Leangan bawah difleksikan pada sendi siku sedikit dipronasikan. Ketuklah pada tendo triseps 5 cm diatas siku akan menyebabkan ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps. 8. Withdrawl reflex Lengan orang coba diletakkan diatas meja dalam keadaan ekstensi. Tunggulah sampai orang coba tidak melihat saudara, tusuklah dengan hati-hati dan cepat kulit tangan dengan jarum suntik steril, sehalus mungkin agar tidak melukai orang coba. Respon berupa flaksi lengan tersebut menjauhi stimulus.

19

D. Hasil Percobaan Hasil percobaan yang telah dipraktekkan adalah sebagai berikut: 1. Identitas orang coba : a. Nama : Ny.F b. Umur : 19 tahun 2. Jenis percobaan: a. Refleks kulit perut Respon yang terjadi berupa kontraksi otot dinding perut. b. Reflex perioust radialis Respon berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan. c. Reflex perioust ulnaris Respon berupa pronasi tangan. d. Knee pess reflex (KPR) Respon yang terjadi berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps. e. Achilles pess reflex (APR) Respon yang terjadi berupa plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius. f. Reflex biseps Respon yang terjadi berupa fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps. g. Reflex triseps Respon yang terjadi berupa ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps.

20

h. Wtihdrawl reflex Respon berupa fleksi lengan dengan cara menjauhi stimulus.

E. Analisa Hasil Percobaan 1. Refleks kulit perut Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah adanya reflex superfisial yang ada di timbulkan oleh goresan pada kulit dinding abdomen. Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot perut (efektor). Sehingga terjadi kontraksi otot dinding perut. Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls pada dinding perut dapat dituliskan sebagai berikut: Rangsangan (goresan kulit abdomen) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent medulla spinalis (perut bagian bawah: T11-T12&L, perut bagian tengah: T9-T11, perut bagian atas: T7-T9) n.asosiasi/ perantara s.motorik efektor (kontraksi otot dinding perut). 2. Reflex perioust radialis dan Reflex perioust ulnaris Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan. Hal ini di sebabkan karena pada saat ketukan perioustoeum, pada ujung radiks, yaitu dimana diberikan rangsangan, maka ujung-ujung saraf nervus radialis (reseptor) akan meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke medulla spinalis yaitu

21

pada radiks (C5-C6). Disini impuls di teruskan melalui interneuron/asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot os.radii (efektor). Sehingga terjadi respon berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan. Jalannya impuls perioust radialis dapat dituliskan sebagai berikut: Rangsangan (ketukan periousteum os.radialis) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent (N. Radialis) medulla spinalis/ C5-T1 (pusat) n.asosiasi/ perantara s.motorik (N. Radialis) efektor (otot-otot supinator dan flexor). . Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa pronasi pada tangan. Hal ini di sebabkan karena pada saat ketukan pada perious prosessus stilodeus (rangsang), ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke medulla spinalis (C5&T1). Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot os.ulna (efektor). Sehingga terjadi respon berupa pronasi tangan karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls perioust ulnaris dapat dituliskan sebagai berikut: Rangsangan (ketukan pada perious prosessus stilodeus) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent (N.Ulnaris) medulla spinalis/ C7&T1 (pusat) n.asosiasi/ perantara s.motorik (N. Ulnaris) efektor (otot-otot pronasi). 3. Knee pess reflex (KPR) Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot quadriceps

22

femoris. Hal ini di sebabkan karena pada saat lutut di ketuk (rangsang), ujung ujung saraf meneruskan pesan melalui neuron sensoris yaitu nervus femoralis ke medulla spinalis radiks (L3-L4). Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada gilirannya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot tungkai (efektor). Sehingga terjadi gerak ekstensi pada tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps femoralis. Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls pada lutut dapat dituliskan sebagai berikut: Rangsangan (ketukan pada patellae) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent (N.Femoris) medulla spinalis/ L3-L4 (pusat) n.asosiasi/ perantara s.motorik (N. Femoris) efektor (N.Quadratus femoris). 4. Achilles pess reflex (APR) Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius. Hal ini di sebabkan karena pada saat ketukan tendo achilles (rangsang), ujung ujung saraf (reseptor) yaitu nervus tibialis posterior, meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke medulla spinalis (S1&S2). Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot gastrocnemus (efektor). Sehingga terjadi respon berupa plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls pada tendo achilles dapat dituliskan sebagai berikut: karena tidak diolah dalam otak maka

23

Rangsangan (ketukan tendo acilles) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent (N. Tibialis) medulla spinalis/ L5&S2 (pusat) n.asosiasi/ perantara s.motorik (N. Tibialis) efektor (M. gastocnemius). 5. Reflex biseps Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps. Hal ini di sebabkan karena pada saat ketukan tendon otot biseps (rangsangan), ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron sensoris yaitu nervus musculocutaneus,ke medulla spinalis yaitu radiks (C5-C6). Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ n.asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot biseps (efektor). Sehingga terjadi Respon yang berupa fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls biseps dapat dituliskan sebagai berikut: Rangsangan (ketukan tendo otot biseps) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent (N. Musculocutaneus) medulla spinalis/ C5-C6 (pusat) n.asosiasi/ perantara Biceps Brachii). 6. Reflex triseps Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps. Hal ini di sebabkan karena pada saat ketukan tendo otot triseps (rangsangan), ujung s.motorik (N.Musculocutaneus) efektor (M.

24

ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke medulla spinalis (C6-C8). Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ n.asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot triseps (efektor). Sehingga terjadi respon yang berupa ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls triseps dapat dituliskan sebagai berikut: Rangsangan (ketukan tendo otot triseps) Impuls reseptor s.sensorik/ afferent (N.Radialis) medulla spinalis/ C5-C7 (pusat) n.asosiasi/ perantara s.motorik (N.Radialis) efektor (M.Triceps Brachii). 7. Withdrawl reflex Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa fleksi lengan dengan cara menjauhi stimulus. Hal ini di sebabkan karena pada saat tusukan kulit tangan (rangsangan), Ujung ujung saraf (reseptor) meneruskan pesan melalui neuron sensoris ke medulla spinalis. Disini impuls di teruskan melalui interneuron/ n.asosiasi ke neuron motorik. Neuron motorik pada selanjutnya meneruskan impuls ke sepanjang akson lalu ke otot triseps (efektor). Sehingga terjadi respon yang berupa fleksi lengan dengan cara menjauhi stimulus. Karena tidak diolah dalam otak maka berlangsung dengan cepat. Jalannya impuls dapat dituliskan sebagai berikut: Impuls reseptor s.sensorik/ afferent medulla spinalis n.asosiasi/ perantara s.motorik stimulus). efektor (fleksi lengan dengan cara menjauhi

25

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan praktikum refleks fisiologis, diperoleh: 1. Gerak refleks terjadi karena adanya respon terhadap stimulus yang terjadi akibat adanya kontak fisik dengan sesuatu hal baik itu karena tusukan, panas pada api, atau benturan atau pukulan. 2. Ada beberapa cara pemeriksaan gerak reflek, seperti : a. Reflex kulit perut : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah adanya reflex superfisial yang ada di timbulkan oleh goresan pada kulit dinding abdomen. b. Refleks periost radialis : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan. c. Refleks periost ullnaris : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon berupa pronasi pada tangan. d. Knee pess reflex (KPR) : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot quadriceps femoris. e. Achilles pess reflex (APR) : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastocnemius.

26

f. Reflex biseps : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa fleksi lengan siku dan tampak kontraksi otot biseps. g. Reflex triseps : Setelah melakukan percobaan, hasil yang kami dapatkan adalah respon yang terjadi berupa ekstensi tangan dan kontraksi otot triseps. 3. Orang coba dalam paraktikum ini, tidak mengalami gangguan konduksi impuls pada system syaraf. Dimana setelah dilakukan percobaan untuk orang coba berdasarkan pemeriksaan gerak refleks terlihat orang coba dalam keadaan normal. B. Saran Sebaiknya alat yang digunakan untuk praktikum lebih banyak agar masingmasing praktikan dpat mencoba dan kemudian lebih memahami tentang refleks.

27