Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah 

Revisi 1 15 September 2010 

MATERI PERTEMUAN KE 1: I. PENDAHULUAN

3 (2-4) SKS
PUSTAKA : 1. 2. SOETOMO, ILMU UKUR TANAH DAVIS. SURVEYING

15 September 2010

I-

1

I. PENDAHULUAN ILMU UKUR WILAYAH

=

ILMU UKUR TANAH

( SURVEYING )

BAGIAN DARI ILMU GEODESI
15 September 2010 I2

 

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah 

Revisi 1 15 September 2010 

GARIS BESAR ISI PERKULIAHAN
• • • • • • • I. PENDAHULUAN II. PENGETAHUAN ALAT III. PENGUKURAN JARAK IV. PENENTUAN ARAH & SUDUT V. PENENTUAN LUAS VI. PENENTUAN BEDA TINGGI VII. SIFAT UKUR DATAR MEMANJANG • • • • • • VIII. SIFAT UKUR DATAR PROFIL IX. PENENTUAN POSISI TITIK X. PEMETAAN TOPOGRAFIS XI. PENGETAHUAN PETA XII. RANCANGAN PERATAAN LAHAN XIII. DASAR FOTOGRAMETRI

15 September 2010

I-

3

DUA MAKSUD ILMU GEODESI
(1) MAKSUD ILMIAH
MEMPELAJARI BENTUK & BESAR BUMI, PLANET (TATA SURYA)

(2) MAKSUD PRAKTIS
• • MENGGAMBARKAN SEBAGIAN PERMUKAAN BUMI MENIDENTIFIKASI POTENSI SDA DI PERMUKAAN & BAWAH PERMUKAAN BUMI

ILMU UKUR WILAYAH
15 September 2010 I4

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah 

Revisi 1 15 September 2010 

PEKERJAAN UTAMA UKUR WILAYAH
• MELAKUKAN PENGUKURAN UNTUK MENENTUKAN POSISI TITIK/TITIK2 DI ATAS/PADA PERMUKAAN BUMI • MENGGAMBARKAN KEADAAN FISIK DARI SEBAGIAN PERMUKAAN BUMI • MEMBACA HASIL PEMETAAN • MENGINTERPRETASI HASIL PEMOTRETAN (FOTO UDARA)

15 September 2010

I-

5

DUA MACAM PEKERJAAN UKUR WILAYAH

(1) PEKERJAAN KANTOR • PERENCANAAN  PENGUKURAN • ANALISIS DATA • PENGGAMBARAN • PERANCANGAN • INTERPRETASI

(2) PEKERJAAN LAPANGAN • MENCARI BENCH  MARK/TITIK ACUAN • PEMASANGAN PATOK • PENGUKURAN • PENERAPAN HASIL  RANCANGAN

15 September 2010

I-

6

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah 

Revisi 1 15 September 2010 

RUANG LINGKUP/CABANG SURVEYING
• LAND SURVEYING ‐ INVENTARISASI LAHAN‐LAHAN NEGARA/TERLANTAR
‐ MENENTUKAN BATAS‐BATAS LAHAN ‐ MENGUKUR LUASAN LAHAN

• • •

CADASTRAL SURVEYING
PENGUKURAN TANAH‐TANAH  MILIK (SERTIFIKASI)

TOPOGRAPHIC SURVEYING
PEMBUATAN PETA RELIEF/BENTUK PERMUKAAN LAHAN 

ROUTE SURVEYING
PEMBUATAN PETA TOPOGRAFI LAHAN MEMANJANG UNTUK   PERENCANAAN JALAN, SALURAN, JARINGAN KABEL

15 September 2010

I-

7

• HYDROGRAPHIC SURVEYING
PENGUKURAN TOPOGRAFI DASAR PERAIRAN UNTUK PENENTUAN  JALUR PELAYARAN, KONSTRUKSI DALAM AIR, MENHITUNG POLUME   TAMPUNGAN SUATU RESERVOAR ATAU BADAN AIR

* AGRICULTURE SURVEYING
PENGUKURAN YANG BERKATAN DENGAN KEGIATAN PERTANIAN

* MINE SURVEYING
PENGUKURAN YANG BERKATAN DENGAN KEGIATAN PERTAMBANGAN

* CITY SURVEYING
PENGUKURAN UNTUK PERENCANAAN/PENGEMBANGAN KOTA

* PHOTOGRAMETRIC SURVEYING
PEMOTRETAN & INTERPRETASI FOTO UDARA

15 September 2010

I-

8

 MENGHITUNG VOLUME   TAMPUNGAN SUATU RESERVOAR ATAU BADAN AIR • AGRICULTURE SURVEYING PENGUKURAN YANG BERKAITAN DENGAN KEGIATAN PERTANIAN • MINE SURVEYING PENGUKURAN YANG BERKAITAN DENGAN KEGIATAN PERTAMBANGAN • CITY SURVEYING PENGUKURAN UNTUK PERENCANAAN/PENGEMBANGAN KOTA • PHOTOGRAMETRIC SURVEYING PEMOTRETAN & INTERPRETASI FOTO UDARA 15 September 2010 I- 9 KAITAN IUW DENGAN MATA KULIAH LAIN DI  BIDANG PERTANIAN • AGRONOMI • • ILMU UKUR WILAYAH • TEKNOTAN • 15 September 2010 I- TANAH PERIKANAN 10 . KONSTRUKSI DALAM AIR.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  • HYDROGRAPHIC SURVEYING PENGUKURAN TOPOGRAFI DASAR PERAIRAN UNTUK PENENTUAN  JALUR PELAYARAN.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  • AGRONOMI ‐ KETINGGIAN TEMPAT                   ADAPTASI TANAMAN ‐ LUAS LAHAN                       POTENSI PRODUKSI  • TANAH ‐ SUPERIMPOSE PETA TOPOGRAFI DENGAN PETA GEOLOGI  MENGHASILKAN PETA GEOMORFOLOGI SEBAGAI DASAR     PENENTUAN JENIS TANAH ‐ BESAR & PANJANG LERENG TERKAIT DGN KESESUAIAN LAHAN ‐ ARAH & JARAK DIGUNAKAN DALAM SURVEY LAPANGAN  • PERIKANAN (PENANGKAPAN IKAN DI LAUT) ‐ NAVIGASI  ‐ KECEPATAN ARUS  ‐ KEDALAMAN PERAIRAN • TEKNOTAN KETINGGIAN TEMPAT & RELIEF LAHAN BERPENGARUH PADA: ‐ PEMILIHAN DAYA DAN JENIS TRAKTOR ‐ PEMBUKAAN LAHAN  ‐ PENETAPAN LOKASI BANGUNAN AIR. JARINGAN IRIGASI DAN  DRAINASE SERTA TEKNIK KONSERVASI 15 September 2010 I- 11 DUA PRINSIP DASAR PENGUKURAN (1)                                 (2) • PENGUKURAN GEODESI  (GEODETIC SURVEYING) ‐ DIGUNAKAN PADA PENG‐ UKURAN LAHAN YANG LUASNYA >  DARI 55 KM2.DATAR  15 September 2010 I- • PENGUKURAN MENDATAR  (PLANE SURVEYING) DIGUNAKAN PADA PENGUKURAN  LAHAN DENGAN LUASAN  TERBATAS (< 55 KM2) PERMUKAAN BUMI DIANGGAP  DATAR ATAU LENGKUNGAN BUMI  DIABAIKAN ‐ ‐ >5.500 KM2   >100KM2   < 55KM2 ELIPSOID       BULAT      DATAR 12 . ‐ LENGKUNGAN BUMI HARUS  DIPERHITUNGKAN ‐ UNTUK DIBUAT PETA DATA  PENGUKURAN HARUS  DIPROYEKSIKAN DULU DARI  BENTUK BUMI ELIP     BULAT    BID.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  PERBEDAAR ANGGAPAN ANTARA GEODETIC  DAN PLANE  SURVEYING GEODETIK                                    PLANE JARAK A-B = BUSUR (LENGKUNG) A B a-b ~ TALI BUSUR (DATAR) ά a b SUDUT ά = DIBATASI DUA GARIS LENGKUNG ά = DIBATASI DUA GARIS LURUS ά ARAH BATU DUGA MENUJU PUSAT BUMI 15 September 2010 I- SEJAJAR 13 PERBEDAAN ANGGAPAN ANTARA GEODETIC  DAN PLANE  SURVEYING GEODETIK • • • PLANE • a  b JARAK A                 B A‐B=BUSUR (LENGKUNG) • • a‐b ~ TALI BUSUR (DATAR) • • • SUDUT                      ά = DIBATASI DUA GARIS LENGKUNG ά • • ά = DIBATASI  DUA GARIS LURUS ά • • ARAH BATU DUGA MENUJU PUSAT BUMI • SEJAJAR 15 September 2010 I- 14           .

Peralatan Kantor Peralatan kantor adalah alat atau peralatan yang digunakan ketika pekerjaan dilakukan di kantor atau dalam ruangan. PENGETAHUAN ALAT Secara Umum alat Ukur Wilayah dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu : 1. 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Mistar Busur Derajat Sablon Rapido Jangka Kalkulator Meja gambar Pantograf Curvimeter Planimeter Stereoskup (Cermin/Saku Zoom Transferskop Macam Kegunaan Mengukur Jarak di Peta . Adapun beberapa peralatan kantor dan kegunaannya antara lain. 2. membuat/mengukur sudut Menghitung/analisis waktu Alas/Alat gambar Memperbesar/memperkecil gambar/peta Mengukur Jarak dari suatu lintasan atau garis ertica Mengukur luas di Peta Memperoleh pandangan tiga dimensi dari foto udara Peralatan Prosesing peta/foto udara . 3. seperti terlihat pada Tabel 1. mengukur jarak. membuat garis Membuat dan mengukur sudut Menulis.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  MATERI PERTEMUAN KE 2 : II. Macam Peralatan Kantor dan Kegunaannya No. alat ukur dan alat hitung dalam ruangan. Menggambar atau mendisain peta atau laporan hasil pengukuran Menulis atau menggambar Membuat lingkatan. Tabel 1. 1. Alat ini biasanya berupa alat tulis.

tahan lama/tahan air Pemuaian kecil sehingga pengukuran lebih teliti Agak berat. Karakteristik alat ini : • • • • ketelitian bergantung dari karakteristik kayu Mudah mengalami perubahan ukuran Mudah rusak Tidak dapat digunakan sebagai alat ukur wilayah dalam jumlah/areal luas. d. Meteran Baja Alloy Terbuat dari bahan campuran baja dan nikel Karakteristik alat : • • • • Pemuaian kecil 1/3 meteran baja Hampir tidak dipengaruhi suhu Ketelitian tinggi Cukup berat sehingga memerlukan tenaga untuk merentangkannya . terbuat dari baja tipis. Meteran kain.lereng Membuat sudut siku-siku (90o). Meteran ini terbuat dari kain linen atau anyaman kawat halus. Karakteristik alat ini : • • Fleksibel. Meteran kayu. sudut . panjang biasanya antara 20 – 100 m.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  2. Peralatan Lapangan Macam dan kegunaan peralatan lapangan anrata lain sebagai berikut : 1. • • Mengukur jarak. b. panjang biasanya 1 meter contoh: meteran untuk mengukur kain. Karaktersitik alat: • • • Agak kaku. meteran yang terbuat dari kayu. memerlukan tarikan kuat agar bentangan tetap mendatar (horizontal). Meteran (Tape = Pita Ukur) Kegunaan utama alat ini adalah . tapi mudah rusak Pemuaian besar sehingga ketelitian rendah c. lingkaran Jenis-jenis meteran a. Meteran baja. Meteran ini seperti meteran kain.

Terdiri dari beberapa bagian. Tiap bagian panjangnya 20 cm. Meteran Rantai baja (Rantai ukur) Meteran ini terbuat dari batangan baja diameter 3-4 mm. 3. masuk di saku • Pemakaian cukup dipegang tangan b.5 n c. Odometer Alat pengukuran di lapangan yang berupa roda dengan keliling tertentu yang dipasang pada suatu tangkai sebagai pegangan pada tangkai tersebut dipasang alat hitung putaran roda berupa bunyi atau angka. Transit Compass (Bousole) • Bentuknya seperti surveyor’s compass yang diletakkan diatas transit atau alat ukur teodolit. Kegunaan : digunakan pada survai kasar untuk : • Menentukan Arah • Mengukur Sudut Jenis Kompas Magnit : a. Surveyor compass • Ukuran agak besar. • • • • Pemuaian Kecil Ketelitian tinggi Tidak terpengaruh suhu Berat sehingga memerlukan tenaga untuk membentangkan agar diperoleh pengukuran ertical l 2. 25 cm atau 50 cm yang disambung dengan cincin sehingga menyerupai rantai. Pocket compass • Ukuran kecil. Kompas Alat ini terdiri dari : • Berbentuk lingkaran berskala (0 – 360o) • Jarum bergerak bebas di porosnya mengapung diatas cairan ( ertica/eter) • Salah satu ujung jarum dipasang magnit bergerak bebas menyusuri busur dan selalu mengarah ke Utara.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  e. Dilengkapi alat pembidik (peep sight) • Pemakaian diletakkan diatas satu tangkai dengan tinggi 1. . Kegunaan : alat ini biasanya digunakan untuk mengukur jarak.

Bak Ukur (rambu ukur) Peralatan lapang ini berupa mistar terbuat dari kayu atau alumunium lebar ± 8 cm. 7.5 m. Plane Table Kaki tiga yang diatasnya dipasang meja untuk menempatkan kertas gambar dan alat ukur alidade/teodolit 10. Pins (Chaining Pins/taping pins) Alat yang berfungsi sebagai patok/tanda sementara terbuat dari tangka besi dengan diameter 3 –4 mm. Sering kali dipasang bendera agar mudah dikenali. 6. Alat ini dapat dipanjang/pendekkan. 8. Level Instrument Alat yang bagian utamanya ada : • Teropong/teleskop • Nivo Pembagian mendasarkan cara pemakaian : 1) Hand level.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Cara kerja mirip dengan speedometer 4. Kegunaan peralatan ini adalah untuk penunjuk lokasi titik yang akan dibidik/diukur. tinggi 3 – 4 meter dilengkapi skala satuan panjang. . Umumnya digunakan pada pengukuran kasar/ketelitian rendah. sehingga ada gelembung. Kegunaan alat ini untuk kelengkapan alat teropong (teleskup) dalam penentuan lereng. Unting-unting (batu duga = plumb bob) Peralatan lapang ini berupa bandul terbuat dari besi yang dipasang pada benang. panjang 30 – 40 cm 5. Jalon diberi warna merah/hitam dan putih. Kaki tiga (Tripod) Peralatan lapang ini berupa tiga kaki terguat dari kayu atau alumunium. pipa besi atau bahan khusus (campuran ertica dan besi) diameter 3 – 4 mm panjang 2 – 2. 9. Kegutaan alat ini adalah untuk menyangga alat berteropong atau level instruments. Nivo (bubble Tube = Spirit Level) Bagian utama alat ini adalah tabung kaca lengkung (nivo tabung) atau berbentuk kotak yang salah satu bagian atasnya cembung (nivo kotak) berisi carian tidak penuh. Cairan yang digunakan adalah ertica/eter. Kegunaan alat ini adalah untuk memperoleh pendangan mendatar 11. alat ini digunakan dengan cara cukup dipegang dengan tangan. Jalon (range Pole/Flag Pole) Fungsi peralatan lapangan ini sama dengan pin tetapi penggunaan untuk titik-titik yang sangat berjauhan terbuat dari kayu. jarak dan beda tinggi.

bagian utama alat : teropong dan nivo Kegunaan : untuk memperoleh pandangan mendatar b) Klinometer.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  a) Teropong tangan biasa. teropong tangan yang dilengkapi ½ busur derajat Kegunaan : memperoleh pandangan mendatar atau mengukur besarnya lereng. Electronic Distance Meter (EDM) 1) Waterpas (alat sipat datar) Bagian utama waterpas • Teropong (teleskup) • Sumbu ertical • Nivo kotak dan Nivo tabung (nivo U) • Tiga skrup pendatar Kegunaan : • • • • Memperoleh pandangan mendatar atau lurus Menentukan beda tinggi Bila dilengkapi benang stadia dapat mengukur jarak Bila dilengkapi lingkatan ertical l berskala dapat mengukur sudut ertical l Tiga syarat waterpas yang baik • • • Garis bidik sejajar garis nivo Sumbu ertical harus betul-betul tegak Garis mendatar difragme harus betul-betul mendatar 2) Teodolit (Alat Ukur Sudut) Kegunaan : . Waterpas (engineering level) 2). Ada dua jenis tripod level a) Y (why) level Alat ini dipasang/diletakkan tidak permanen pada penyangga berbentuk Y yang terpasang di atas kaki tiga b) Dumpy level Alat dipasang di atas kaki tiga. kemudian disambung dengan skrup sehingga seolah-olah menjadi satu/bersatu Tiga jenis dumpy level: 1). Contoh: abney level. Teodolit (Engineering Transit) 3). klinometer 2) Tripod level Pada saat pemakaian alat ini dipasang di atas kaki tiga (tripod).

dst Gb. Direction Refered To Meridian Sudut adalah besarnya busur yang dibentuk oleh dua garis Beberapa Pengertian 1) Sudut Horizontal adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan dua garis horizontal atau dua garis pada bidang horizontal. SUDUT. Gb. PENENTUAN ARAH.) Meridian U D θ γ C β α B C γ A α β A B membentuk sudut α dari A C membentuk sudut β dari AB Dst .2. DAN LUAS 3. Penentuan Arah dan Sudut • Arah suatu garis umumnya dinyatakan dengan besarnya sudut horizontal yang dibentuk oleh garis tersebut dengan garis/arah tertentu yang dijadikan sebagai acuan.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  alat mengukur sudut ertical l dan ertical memperoleh pandangan mendatar (diatur besarnya bacaan sudut ertical = 90o atau 100 g • Bila dilengkapi benang stadia dapat digunakan untuk mengukur jarak ( ertical l.1.3.3. .1 atau garis tertentu seperti meridian (Gambar 3. Direction By Angle • B A membentuk sudut α dari U B membentuk sudut β dari U. seperti Gambar 3. Gambar 3.1. Garis acuan dapat sembarang.2. miring. ertical) Empat syarat Teodolit dalam keadaan baik: • • • • Sumbu ke satu harus tegak lurus Sumbu ke dua (II) harus mendatar Garis bidik harus tegak lurus pada sumbu II Kesalahan indek pada skala lingkaran tegak harus sama dengan nol • • MATERI PERTEMUAN KE 3 : III.3.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Bidang horizontal a α  b Gb. 7) Sudut Zenith adalah sudut vertikal. bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan. sehingga didefinisikan sebagai sudut vertikal yang . bergerak searah atau berlawanan arah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan. 4) Sudut Bearing adalah sudut horizontal yang dimulai dari arah utara atau selatan magnit. Sudut horizontal 2) Sudut Azimuth adalah sudut horizontal yang dimulai dari arah utara magnit.4.4.3. 6) Sudut Vertikal adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan dua garis pada bidang vertikal. dan umumnya salah satu garis diantaranya dijadikan sebagai acuan. o a & b = garis horizontal α = garis horizontal  U 60o T 70o 70o Kn 45o Kr T S 60o T 45o : U 60o T artinya U 60o dari utara ke arah timur Gambar 3. 3. dimana garis acuannya adakah garis yang mengarah ke atas (zenith). seperti Gambar 3. Sudut Bearing dan Sudut kanan/Kiri 5) Sudut Kanan/Kiri adalah sudut yang dibentuk oleh garis/arah yang bersangkutan dengan perpanjangan garis/arah sebelumnya bergerak kea rah kanan atau kiri. seperti Gambar 3. maksimal di arah timur atau barat. U 60 B 60o S Keterangan : Sudut bearing S 60o T artinya U 60o dari selatan ke arah timur Sudut kanan/kiri : 70o Kn artinya 70o ke arah kanan 45o Kr artinya 45o ke arah kiri.4. bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan (= sudut meridian) 3) Sudut Jurusan adalah sudut horizontal yang dimulai dari arah utara bumi.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  dimulai dari arah ke atas. yang berarti 1 lingkaran = 400 g 1 g dibagi 100 bagian atau 100 centigrid (= 60 cg) 1cg dibagi 100 bagian atau 100 centi-centigrid (=60ccg) 3) Radial Pada system ini lingkaran dibagi menjadi 2 π radial (2 π Rad) 1 radial menyatakan besarnya sudut di pusat lingkaran yang panjang busurnya sama dengan jari-jari. yang berarti 1 lingkaran = 360 o 1 o dibagi 60 bagian atau 60 menit (= 60’) 1’ dibagi 60 bagian atau 60 detik (= 60”) 2) Sentisimal Pada system ini lingkaran dibagi menjadi 400 bagian yang dinyatakan dalam satuan grig (g). Konversi ketiga system di atas : = 400 g 2 π radial = 360 o π radial = 100 o = 200 g o = 100 g ½ π radial = 90 .5 Sudut Miring (slope) 3. Satuan Ukuran Sudut Ada tiga system satuan ukuran sudut : 1) Seksagesimal Pada system ini lingkaran dibagi menjadi 360 bagian yang dinyatakan dalam satuan derajat (o). 8) Sudut Nadir adalah sudut vertikal. bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan. Positif (naik) Garis mendatar Negative (turun) Lingkaran tegak Gambar 3. seperti Gambar 3. sehingga didefinisikan sebagai sudut vertikal yang dimulai dari arah ke bawah . 9) Sudut Miring (slope) adalah sudut vertikal yang dimulai dari arah mendatar.5.2. dimana garis acuannya adakah garis yang mengarah ke bawah (nadir).atau turun). bergerak berlawanan arah jarum jam bertanda posisif (+ atau naik) sampai arah yang bersangkutan. bergerak searah jarum jam bertanda negative (. bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan.

diperoleh titk D • Hubungkan A dan D. AD akan tegak lurus EF Cara 2 (Gb.6 : • Membuat sudut siku di titik C pada garis AB • Tentukan titik D.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  1 radial = 57. Metode setengan lingkaran (Gb. Cara 1 (Gb. sehingga memotong AB di C • Hubungkan C ke F hingga memotong lingkaran Di titik E A o • Hubungkan D ke E. ada 2 cara . Menggunakan Alat Siku (Gb.3.3. Menggunakan Meteran 1).6 Metode 3-4-5 A E B B E // // F D C Gb. AD akan tegak lurus EF 3).7.3. sehingga A membentuk segitiga siku-siku ECD.3.3.3.10) E 5m D 4m C 3m B Gb.296 o = 63. • Bagi 2 BC. 4 meter dari titik C • Letakan angka nol meteran di titik C dan angka 8 meter di titik D • Pada 3 meter tarik sedemikian. D // // C F Gb.9) .3. sudut CDE = 90 3.662 g 3. Metode 3-4-5 Lihat gambar 3.1.2.3.8 A E F B C D (Gb. Membuat Sudut Siku-siku (90 o) 3. 2). Metode talibusur (Chord Method).3.3.9) • Misal membuat sudut siku di titik D pada garis AB: • Tentukan titik F sembarang di luar garis AB • Dengan pusat F buat lingkaran dengan jari-jari FD.3.7): • Membuat sudut siku pada garis EF • Tetapkan titik A di luar garis EF • Dari A buat lingkaran memotong garis EF di titik B dan C.8) : • Tentukan titik B dan C sembarang pada garis EF • Buat busur lingkaran dari B dengan jari-jari r • Buat busur lingkaran dari C dengan jari-jari r dan memotong busur dari B di A • Bagi 2 BC diperoleh D • Hubungkan A dan D.

3.3.3.3.. S = ½ (a+b+c B b2 = m2 +t2 a2 = n2 +t2 b α A m t n c a 2) Segi empat Luas segi empat ABCD = panjang x lebar 3) Jajaran Genjang . 3.12) 3.3. Bentuk-bentuk geometris 1) Segitiga C Luas ABC = c x t/2 = ½ b c sin α = S ( S − a )( S − b )( S − c ).10) B D A c B (Gb. Cara Mengukur Sudut Salah satu pekerjaan utama dalaam ukur wilayah adalah pengukuran sudut. bidik 1 ke tongkat di titik D E • Bidik 2 ke arah satu lagi dan Bidik 1 pasang pancang di titik E • Sudut DCE adalah siku-siku Bidik 2 A C (Gb.11) Menggunakan Busur Derajat ( Gb 3. Pengukuran Luas B D Dasar penentuan Pengukuran luas suatu bidang lahan umumnya dilakukan melalui gambar atau peta lahan tersebut yang disertai ukuran atau skala Mengukur luas Mengukur atau menentukan luas suatu lahan dapat dilakukan dengan : A.3.4.12) Bingkai salib incar Membuat sudut siku di titik C pada garis AB • Alat berdiri di titik C.11) Angka 0o dan 180o berada di garis AB C pusat lingkaran atau ½ lingkaran (busur) D menunjukkan angka 90o 3.5.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  A 3. Menggunakan Bingkai Salib Incar (Gb.3. • • • C (Gb.4.

maka luas lahan dapat dihitung D II III VII . Cara Grafis. dengan menghitung jumlah kotak . Gambar lahan dibuat pada kertas grafik.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  D t A a 4) Trapesium D b C t A a B B C Luas ABCD = a x t Luas ABCD = ½ (a+b) x t 5) Rangkaian Trapesium Luas ABCD = luas trapesium I + II + III + IV + V h1 d h2 d h3 d h4 d h5 d h6 =d( h1 + h 2 +h2 + h3 + h4 + h5) 2 h1 + hn +h2 + h3 + h4 + …+hn) =d( 2 6) Segi banyak Tidak Beraturan Dihitung dengan bentuk-bentuk geometris Masing-masing bentuk geometris sisi-sisinya diukur E F I A IV B V VI C Luas ABCDEF = Luas segitiga I + luas trapezium II + luas segitiga III + luas segitiga IV + luas trapezium V + luas trapezium VI – luas segitiga VII B.

020 3 0. 3). Jarak Miring (slope distance = dm) antara dua titik adalah panjang garis atau permukaan lahan antara kedua tititk tersebut.080 5 0.500 15 1.1.130 20 2.980 95.125 10 0. Jarak Horizontal. Cara Mekanis Menggunakan alat yang disebut planimeter.955 99. 2). 4. yaitu bidang datar yang menyinggung ratarata permukaan bumi.1. Pengertian 1). Ketelitian pengukuran jarak adalah angka yang menunjukkan perbedaan atau selisih antara jarak hasil pengukuran (jarak sesuai kondisi lahan) dengan jarak horizontal sebenaynya (true distance= horizontal distance) Untuk lebih jelasnya pengertian-pengertian di atas dapat dilihat Gambar 4.610 True distance.020 30 4. Ketelitian alat adalah satuan terkecil yang dapat dibaca dengan pasti dari alat tersebut. PENGUKURAN JARAK Pekerjaaan utama lainnya dalam ukur wilayah adalah mengukur jarak.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  C. 4).390 Bid. in m 99. MATERI PERTEMUAN KE 4 : IV.920 99.870 97. Datar 2 dh Gb.005 2 0. 1 dm dv 2 Bid. in % or m per 100 m Error in slope distance (m per 100 m) 1 0. yaitu garis searah garis gravitasi.995 99.045 4 0. Jarak Horizontal (horizontal distance = dh) antara dua titik adalah jarak yang diproyeksikan pada bidang horizontal. Jarak vertikal (vertical distance = dv) antara dua titik adalah jarak yang diproyeksikan pada bidang atau garis vertikal.Datar 1 .980 99. Vertikal dan Miring Konversi jarak miring terhadap jarak horizontal : Slope. 4.500 98. 5).875 99.1.

Menggunakan skala peta Jarak dari Bandung ke Bogor diukur pada peta kemudian dikalikan skalanya 3). 4. Menggunakan Meteran a.Jarak seadanya (miring) • Letakan nol meteran di titik 1 • Rentangkan meteran sejajar permukaan lahan sampai di titik 2 • Baca angka di titik 2 1 baca mendatar 2 baca 2 Ketelitian dapat mencapai 0. Beberapa Cara Pengukuran Jarak 1).000 m.2): • Letakan nol meteran di titik 1 1 • Rentangkan meteran dalam keadaan mendatar sampai di titik 2 • Baca angka di titik 2 b.5 – 1 % atau kesalahan 0.01 % atau 2 – 1 m per 10. Dihitung jumlah putaran roda. Ketelitian dapat mencapai 1 %.5 – 1 m per 100 m. Memperoleh jarak horizontal (lihat Gb 4. Menggunakan Odometer Alat odometer digelindingkan pada jalur yang diukur jaraknya. inch.02 -0.3. millimeter (mm) British system : mile . Satuan Ukuran jarak Metric System : kilometer (km). meter (m). 4). Cara Kira-Kira (approximation) Dilakukan secara kira-kira dengan pandangan mata atau pendugaan Misal jarak dari alun-alun Bandung ke alun-alun Cimahi kira-kira 20 km. tergantung dari : • Konvigurasi /lereng lahan • Diameter roda • Jarak yang dikehendaki apakah jarak horizontal atau jarak miring • Operator 5).2. Jarak diperoleh dengan mengalikan jumlah putaran dengan panjang keliling lingkaran rodanya. yard . Menggunakan langkah (Pacing) Jarak diukur dengan menghitung jumlah langkah dikalikan panjang setiap langkah. 2). centimeter (cm). feet.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  4. Orang berpengalaman dapat mencapai ketelitian 0. tergantung dari : • Jenis meteran .

PENGUKURAN/PENENTUAN BEDA TINGGI 5.1. 2). Barometric Leveling Beda tinggi diukur dari perbedaan tekanan udara dengan menggunakan barometer yang dikonversi ke ketinggian dengan menggunakan daftar konversi baku.2. Dengan altimeter Altimeter adalah alat yang mempunyai prinsip sama dengan barometer. yaitu menentukan beda tinggi dengan alat menyifat datar. Sifat Ukur Datar. Slang plastik (slang plastic transparan berisi air) t2 2 beda tinggi = t1 – t2 . Metode Penentuan Beda Tinggi 1).Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  • Operator • Gaya tarikan • Mendatar atau sejajar lereng MATERI PERTEMUAN KE 5 : V.1. Pengertian • Beda tinggi antara dua titik adalah jarak vertical antara dua bidang datar yang melalui kedua titik tersebut. Datum yang biasanya digunakan adalah bidang rata-rata permukaan laut dengan elevasi atau ketinggian = 0(nol) 2 1 El1 El = 0 m (datum) El2 Beda tinggi 1 & 2 Bidang 1 Bidang 2 5. 3). namun dengan alat ini ketinggian tempat dapat dibaca langsung dari bacaan alat. antara lain dengan : a. Tabung U (tabung U berisi air) mendatar U t1 1 b. seperti terlihat pada Gambar 5. • Evevasi suatu tempat atau titik adalah jarak vertical diatas atau dibawah suatu bidang datar yang dijadikan sebagai acuan yang disebut datum.

Ketinggian alat atau ketinggian garis bidik adalah ketinggian alat dalam keadaan mendatar diatas datum 6. Fore Sight (FS = Bidikan kemuka) adalah pembacaan benang tengah rambu yang dipasang di titik yang akan ditentukan elevasi/posisinya. Benchmark (BM) yaitu titik yang sudah diketahui elevasinya yang dapat dipakai sebagai standar/dasar penentuan elevasi titik-titik lainnya. sehingga perlu dilakukan beberapa kali mendirikan alat. 4. Dalam SUDM ada beberapa hal yang harus diketahui sebagai dasar dalam pengukuran yaitu : 1. Pengertian Sipat Ukur Datar Memanjang (SUDM) adalah pengukuran menyipat datar untuk menentukan elevasi/beda tinggi antara titik yang letaknya sangat berjauhan. Biasanya merupakan titik dalam jaringan titik nasional sebagai jaringan pemetaan nasional misalnya titik milik BPN atau milik BAKOSURTANAL.1.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  mendatar t1 1 MATERI PERTEMUAN KE 6 : t2 2 beda tinggi = t1 – t2 SIFAT UKUR DATAR MEMANJANG DAN PROFIL 7. 5. 2. Turning point (TP = titik bantu) adalah titik sementara sebagai titik bantu dimana elevasinya ditentukan dari BM yang ada. Tinggi alat adalah ketinggian teropong dari permukaan tanah . 3. Back Sight (BS = bidikan bekakang (BB)) adalah pembacaan BT (benang tengah) rambu yang dipasang di titik yang telah diketahui elevasi/posisinya.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  7. Pengukuran Sipat Ukur Datar Memanjang Table 7. Prosedur Pengerjaan Tahapan yang harus dilakukan dalam sipat ukur datar memanjang adalah sebagai berikut : 1.3 Beda Tinggi + 0.60 .6 +0.30 101.2 + 0.00 100.1. Contoh Hasil Pengukuran SUDM Tempat Alat I Tinggi Alat II TP2 III 1. Jalur antara titik yang diukur dibagi kedalam beberapa bagian yang disebut langkah 2.1. 3.6 Titik Bidik P TP1 TP1 TP2 TP3 TP3 Q BB 1. Gambar 7.3 1.2 1. Pada setiap langkah dilakukan pengukuran beda tingginya. sehingga setiap kali mendirikan alat dapat melakukan bidikan ke belakang dan bidikan kemuka (kecuali pada kondisi tertentu) lihat gambar.9 1.10 101.60 101.7 1.5 + 0. Pada waktu pengukuran sebaiknya alat diletakkan diantara dua titik.4 1.2.6 BM 1.3 Elevasi 100.

Menggunakan dua rambu ukur Penggunaan dua rambu ukur atau lebih akan menghemat waktu dan meminimalkan kesalahan karena bila rambu hanya satu pembacaan depan dan pembacaan belakang tidak dapat dilakukan sekaligus.2. Gambar 7. Pamasangan Rambu dan cara Pengukuran dalam SUDM 2. pengukuran memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi oleh sebab itu diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan ketelitian . .3. Usaha–usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketelitian pengukuran adalah : 1. Meningkatkan Ketelitian Sebagai salah satu kegiatan lapangan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan akumulasi kesalahan bacaan muka atau bacaan belekang. Mendirikan alat dengan jarak bidikan belakang dan bidikan kemuka sama atau jumlah jarak bidikan ke belakang sama dengan jumlah bidikan ke muka (Σ BB ≈ Σ BM).Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  7. sehingga pada waktu memindahkan rambu dari bacaan belakang ke pembacaan depan akan mengalami kesalahan/keterlambatan.

S = jarak pengukuran 5. karena bila terlalu jauh hasil pengukuran akan terpengaruh oleh faktor lingkungan dan angka bidikan tidak jelas.3. 4.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  3. rata-rata maksimal 50 m. Membagi ke dalam langkah dengan junlah genap.2. Melakukan pengukuran bolak-balik (dari A ke B.3. . Jarak Bidikan tidak melebihi kapasitas alat .2. = pengukuran tingkat ke 1. pembagian ganjil menghasilkan angka yang tidak utuh hal ini dapat meningkatkan kesalahan. kemudian dari B ke A) Selisih kedua pengukuran tidak boleh lebih dari K1 = 2 S K2 = 3 S K3 = 6 S Dimana : K = Selisih yang diperbolehkan (mm) 1.

sehingga potongan melintang (profil) jalur tersebut dapat digambarkan. Profil memanjang adalah profil ke arah memanjang suatu jalur misalnya jalur jalan. jalur memanjang biasanya ditentukan dari peta topografi atau peta teknis sebagai bagain dari perencanaan awal.1. Menentukan jalur memanjangnya. 1. biasanya digunakan dalam kajian perencanaan kontruksi jalan dan saluran. Pengertian Sipat ukur datar profil (SUDF) adalah penentuan elevasi titik sepanjang jalur tertentu.2. Menentukan (patok) titik-titik pengukuran (umumnya titik-titik ini ditempatkan pada lokasi perubahan ventuk lahan) 3. 2. . Prosedur Kerja Prosedur kerja pembuatan profil memanjang 1.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  VIII. SIPAT UKUR DATAR PROFIL (SUDF) 8. Gambar Sket Profil Memanjang dan Melintang dalam SUDF 8. SUDF dilakukan untuk menggambarkan profil hasil sifat ukur datar memanjang. Profil melintang adalah profil/potongan ke arah melintang yatiu tegak lurus ara memanjang Gambar 8.1. 2. Mendirikan alat disuatu tempat dimana juru ukur mampu melakukan pembidikan ke belakang dan ketitik-titk ppengukuran lainnya sebagai bidikan ke muka sebanyak mungkin. Hal-hal yang perlu diketahui dalam SUDF adalah .

Contoh Hasil pengukuran SUDF Tempat Alat Tinggi Alat Titik Bidikan BB BM Beda tinggi Elevasi .Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  PQ = Jalur pengukuran 1 – 12 = titik-titik pengukuran profil Gambar 8.2.1. Titik-titik pengukuran dalam SUDF Tabel 8.

3.10 99.00 99.2 1.4 1.10 99.20 99.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  I - P 1 2 3 4 5 0.1 +0.4 1.60 99. Jarak tiitik pada profil melintang umumnya sama (Mengabaikan perubahan bentuk lahan).7 100.6 1.40 99.4 -0.8 1.1 -0.5 -0.8 -0.2 99.6 1. hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kenampakan penampang melintang yang sesuai dengan kondisi lapangan dan meminimalkan kesalahan.90 II - 5 6 7 III 10 1.1 +0. terutama kesalahan perencanaan selanjutnya misalnya perataan lahan dan sebagainya.60 98. MATERI PERTEMUAN KE 7 : .6 +0.10 98.00 100.3 -0. 2.3 - 0.7 1.80 99.5 Prosedur Pembuatan Profil Melintang 1.7 1.90 99.2 0.8 1.9 -0.6 -0.

1.Posisi Titik secara Planimetris adalah: posisi kearah horisontal Posisi Topografis adalah posisi ke arah vertikal (elevasi) Posisi Relatif adalah posisi yang diikatkan pada titik sembarang atau bersifat lokal Posisi Fix adalah posisi yang diikatkan pada benchmark (titik-titik acuan secara luas/nasionla –internasional. posisi relatif dapat ditentukan dengan jarak dari suatu titik pada suatu garis lurus Gambar 9. Adapun posisi titik dapat dilihat bagi menjadi : . Posisi relatif dapat ditentukan dari an jarak dari suatu titik yang elah diketahui Gambar 9. global) 9. Pengertian Posisi titik dapat dipandang dari berbagai sisi yang masing-masing menentukan ukuran dan nilainya.1. Penentuan Posisi Relatif Melalui Jarak .2. PENENTUAN POSISI TITIK 9. Metoda Penentuan Posisi Planimetris Posisi Relatif 1.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  VII.2. Penentuan Posisi Relatif Melalui Jarak 2.

3. Posisi relatif dapat diketahui melalui arah dari suatu titik yang diketahui dan jarak dari titik lain yang diketahui. Yp). Penentuan Posisi Relatif Melaui Jarak dan Arah 4. Penentuan Posisi melalui Arah B. Posisi FIX Posisi fix umumnya dinyatakan dengan sistem koordinat (absis. Posisi titik P (Xp . Misalnya P (489765 . X dan Ordinat. Y). Gambar 9. Posisi relatif dapat ditentukan melalui arah atau jarak dari dua titik yang diketahui Gambar 9. 9160983) 1. . Prinsip Dasar Posisi titik ditentukan dari titik acuan yang telah diketahui koordinatnya dengan diketahui sudut jurusan yang menunjukkan arahnya dan jarak dari titik acuan tersebut.5.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  3.

6.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Gambar. Posisi FIX 3. Penentuan Sudut Jurusan dari Dua Titik Acuan .Besarnya sudut bergerak searah jarum jam .sin αpq dpq Cosαpq = Yq − Yp → Yq = Yp + dpq.Besar sudut jurusan dari utara bumi sampai di arah yang bersangkutan 3.Tg αqp = αpq + 1800 Sinαpq = Xq − Xp → Xq = Xp + dpq. 9. Menentukan sudut jurusan dari dua titik acuan Tgαpq = Xq − Xp Yq − Yp Xq − Xp Yq − Yp αpq = Arc.Sudut dimulai dari arah utara bumi . Sudut Jurusan : Sudut jurusan adalah besarnya sudut yang dibentuk oleh arah yang bersangkutan terhadap arah utara dengan ketentuan sebagai berikut : .7.Cosαpq dpq Xq − Xp Yq − Yp dpq = = Sinαpq Cosαpq Gambar 9.

Tgα = X − →( ) r + α = 1800 + α Sinα = X − →( ) + r α = 3600 − α Sinα = X − →( ) r + Cosα = − Y →( ) + r Cosα = Y + →( ) r + . Y + →( ) r + Tgα = X + →( ) Y − α = 180o − α Sinα = Cosα = Kuadran III.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  4. Tgα = Sinα = X + →( ) Y + X + →( ) r + Cosα = II. Tgα = X − →( ) Y − X + →( ) r + Y − →( ) r + Kuadran IV. Penentuan Kuadran Sudut Jurusan Sudut Jurusan Besarnya antara 0o – 360o (0g – 400g) Kuadran I.

cara triangulasi 1) Cara Pengikatan Ke Muka Cara pengikatan ke muka memerlukan persyaratan sebagai berikut : Diperlukan dua titik referensi (BM) Pengukuran dilakukan dari dua titik tersebut Contoh : Penentuan titik 1 dari titk P (Xp. Metoda Penentuan Posisi FIX Penentuan posisi titik dapat dilakukan dengan metoda satu titik atau lebih dari satu titik. Yp) dan Q (Xq. Yq) . Pembagian Sudut Jurusan dan Perhitungan Sudut Jurusan MATERI PERTEMUAN KE 9: 4. Penentuan posisi fix menggunakan metoda satu titik dapat dibagi menjadi dua cara yaitu : cara pengikatan ke muka cara pengikatan ke belakang Penentuan posisi titik menggunakan metoda lebih dari satu titik dibagi menjadi dua yaitu: .cara poligon .Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Gambar 9.8.

αp.q = Xq − Xp Xq − Xp atau αp.360o Dengan menggunakan aturan sinus pada segitiga.q = Arc. Penentuan titik dengan pengikatan ke muka Contoh Penyelesaian: koordinat P dan Q diketahui Sudut α dan β diukur di lapangan Dicari X1.Tg Yq − Yp Yq − Yp dimana αqp = αpq + 180 αp = αpq -α αq = αpq + β . dq . αq Untuk mendapatkan sudut jurusan (αp) dan (αq) Tgαp. maka dp : Sinβ = dpq : Sinγ → dp = dpqSinβ sin γ dpqSinα sin γ dq : Sinα = dpq : Sinγ → dp = dpq = Xq − Xp Yq − Yp → atau →= dpq = Sinαpq Cosαpq .Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Gambar 9. Y1 Rumus : Dari P X1 = Xp + dp Sin αp Y1 = Yp + dp Cos αp Dari Q X1 = Xq + dq Sin αq Y1 = Yq + dq Cos αq Dari rumus di atas yang diperlukan antara lain: dp.9.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  γ = 1800 − (α + β ) 2) Contoh perhitungan Menentukan Koordinat P dari 3) Pengikatan ke Belakang Diperlukan tiga (tiga) titik referensi (BM) Pengukuran dilakukan di titik yang dicari posisinya Contoh : Penentuan posisi titik P yang diikatkan ke titik A (Xa. lingkaran tersebut akan memotong garis antara titik P dengan titik referensi yang ketiganya (H) .Membuat lingkaran yang melalui titik P dan dua titik referensi. penentuan posisi titik dengan metode pengikatan ke belakang 4) Penyelasian Hitungan . Yc) Gambar 9. Ya).Koordinat titik P dapat dicari dengan cara pengikatan ke muka dari titik A dan B (perlu dicari besarnya sudut γ dan σ) . Yb) dan C (Xc.9. B ( Xb.Terlebih dahulu di cari koordinat titik H dengan cara mengikat ke muka ( agar dapat membaca sudut γ .

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  MATERI PERTEMUAN KE 10 : X.10) Berdasarkan tingkatannya poligon dibagi kedalam : poligon utama poligon cabang Poligon ranting Berdasarkan pengikatannya Terikat sempurna Tanpa pengikatan Terikat tidak sempurna 5.9) Poligon tertutup (gambar 9. Memperoleh titik P untuk BM padapemetaan di loksi yang bersangkutan dari BM dan B2 Sebagai kerangka dasar pengukuran Gambar 9.10 . Untuk memperoleh titik pengikatan (referansi) dari ttik referensi (BM) yang lokasinya jauh. Poligon dan pembagian kerangka pengukuran Jenis-Jenis Poligon Poligon terbuka (Gambar 9. POLIGON Poligon adalah metoda penentuan posisi (koordinat) dari rangkaian titik-titik. Poligon Terikat Sempurna . Kegunaan .

s2.2 Dan seterusnya . d2 .1 X 2 = X 1 + d1. 3 dan 4 adalah titik-titik polygon yang akan dicari koodinatnya. Posisi titik ditentukan berdasarkan arah dan jarak dari titik yang diketahui menggunakan rumus sebagai berikut : d1 s2 2 d3 s3 d4 s4 4 d5 B sn S Keterangan A = Titik awal αpq = arah awal B = titik akhir α bq = arah akhir = titik pengikat (koordinatnya diketahui) X 2 = X 1 + d1.2.11. Ya) .1 Y1 = Ya + d a.2 Sinα1.2 Y2 = Y1 + d1.2 Pada Gambar diatas : X 1 = X a + d a.2 Sinα1. Ys) Diukur di Lapngan : sudut : s0. Q (Xq.2 Y2 = Y1 + d1.2Cosα1.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Poligon terikat sempurna adalah poligon yang pada awal dan akhir pengukuran terikat pada posisi dan arah tertentu (pada awal dan akhir pengukuran terikat pada dua titik yang diketahui) 3 Q 1 s1 d2 s0 A Gambar 9. S (Xs. Yq) B (Xb. Yb) .d3 dan sn Titik-titik 1.1Cosα a. s3 dan sn Jarak : d0.1Sinα a. d1. s1.2Cosα1. Poligon terikat sempurna Yang diketahui : A (Xa.

2 +S2 – 360o = (αap + S0+S1+S2 –360o + 180) + S3 – 360o = αap + S0 +S1+S2+S3 – 540o αbq = αq.1 = αa.p + S0 + 180o) + S1 – 360o = αap + S0 + S1 –180o α2.1 = d1 D1.3 + S4-360o = (αap+S0+S1+S2+S3 – 540o + 180oo) +S4 – 360o = αap + S0+s1+s2+s3+s4 – 720o αbq = αap + S0 + S1 + S2+ S3+ S4 – 720o atau S0 + S1 + S2 + S3 + S4 = (αbq .1 + S2 – 360o = (αap + S0 + S1 – 180o + 180o) + S2 – 360o = αap + S0 + S1 + S2 – 360o α3b = α3.p + S0 α1.2 = d2 Dan seterusnya αa.3 = α2.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Da.αap) + 720o ∑ Si = (α dimana : akhir − α awal ) + n(180 0 ) ΣSi = jumlah sudut terukur n = banyaknya sudut yang diukur Persyaratan Poligon terikat sempurna .2 = α1.a + S1 _ 360o = (αa.

2 + d3 Sin α2.3 + d4 Sin α3.b Xb = Xa + d1Sinαa.1 ' d 2' = d 2 Sinα1.1 + d2 Sin α1.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Syata 1 Jumlah sudut-sudut yang diukur sama dengan selisih sudut jurusan akhir dan sudut kjurusan awal ditambah kelipatan dari 180o Syarat 2 Jumlah d Sinα harus sama dengan selisih absis titik akhir dan absisi titik wal poligon Σ dSinα = Xakhir – X awal) dari Gambar : Xb = Xa + d1 + d2 + d3 + d4 d1'' = d1Sinα a.b Xb – Xa = Σ d Sinα Syarat 3 .3 ' d 4' = d 41 Sinα 3.Jumlah d Cos α harus sama dengan selisih ordinat titik akhir dan ordinat titik awal poligon Σ d Cos α = Y akhir – Y awal Yb = Ya + d1 + d 2 + d 3 + d 4 .2 d 3'' = d 3 Sinα 2.

Hasil pengukuran diperoleh : Σ Sudut yang diukur = {(α akhir . Misal Titik 1 mendapat koreksi d1 x∫ X ∑d dan d1 x ∫Y ∑d MATERI PERTEMUAN KE 11 : PENENTUAN POSISI TITIK MENGGUNAKAN GPS MATERI PERTEMUAN KE 12 : KONVIGURASI LAHAN . ada enam sudut yang diukur mendapat 1/6 x 25”. bila masih ada tersisa.α awal) + n . 180o}± ƒα Σ d Sin α = (X akhir – X awal) ±ƒX Σ d Cos α = (Y akhir – Y awal) ±ƒY dimana : ƒα = Kesalahan sudut ƒX = kesalahan absis ƒY = kesalahan ordinat ± menunjukkan hasil pengukuran dapat lebih besar atau lebih kecil Kesalahan ƒα dibagi rata ke setiap sudut ukuran . misal ƒα = + 25”.Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  Umunya hasil pengukuran sudut dan jarak tidak memenuhi ketiga syarat diatas. kelebihan tersebut diberikan ke sudut yag kaki-kakinya terpendek Kesalahan ƒX dan ƒY dibagi pada absis dan ordinat secara proporsional sesuai jarak yang diukur.

Bahan Ajar Ilmu Ukur Wilayah  Revisi 1 15 September 2010  MATERI PERTEMUAN KE 13 : PENGETAHUAN PETA MATERI PERTEMUAN KE 14 : PERATAAN LAHAN MATERI PERTEMUAN KE 15 : DASAR FOTOGRAMETRI .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful