Anda di halaman 1dari 26

MEMBUAT KURVA PLATEAU ( Percobaan 1 ) I.

TUJUAN PERCOBAAN Membuat kurva plateau dari hasil cacahan radiasi menggunakan detektor Geiger Muller II. DASAR TEORI Ada beberapa macam detector yang digunakan untuk mendeteksi arah radiasi nuklir, salah satu diantaranya adalah yang disebut gas filled detector atau detector yang diisi gas. Detektor jenis ini ada 3 macam yaitu: a. b. c. Tabung ionisasi Tabing proportional Tabung Geiger-Muller

Pada dasarnya ketiga macam jenis tabung ( detector ) tersebut adalah sama, yaitu sama-sama menggunakan medium gas atau campuran gas. Prinsip alatnya adalah suatu ruang tertutup yang berisi gas dan diberi 2 buah elektroda. Dinding tabung ( logam ) dipakai sebagai elektroda negative (katoda) dan kawat yang terbentang didalam pada poros tabung sebagai elektroda positif (anoda).

Gambar 2.1 konstruksi detektor isian gas Anoda mempunyai tegangan V ( positif ) terhadap dinding tabung. Jika zarah radiasi nuklir masuk kedalam rabung, maka zarah radiasi tersebut akan berinteraksi dengan medium gas sehingga akan terjadi pembebasan electron dan ion-ion. Ion positif akan bergerak kearah dinding tabung (katoda) dengan kecepatan yang relative lebih kecil disbanding dengan
1

electron-elektron yang bergerak kearah anoda depat. Kecepatan geraknya bergantung pada besarnya tegangan V. Besarnya tenaga yang diperlukan untuk pembentukan electron-ion tergantung pada macam gas pengisi yang digunakan seperti yang tampak pada tabel berikut ini : Tabel 2.1 Pembentukan electron ion Gas Pengisi H2 He Ar Kr Co2 Udara CH4 BF3 e.v/pasangan electron-ion 36,8 41,3 26,4 24,4 32,7 34,2 28,1 35,3

Detektor isian gas merupakan detektor yang paling sering digunakan untuk mengukur radiasi. Detektor ini terdiri dari dua elektroda, positif dan negatif, serta berisi gas di antara kedua elektrodanya. Elektroda positif disebut sebagai anoda, yang dihubungkan ke kutub listrik positif, sedangkan elektroda negatif disebut sebagai katoda, yang dihubungkan ke kutub negatif. Kebanyakan detektor ini berbentuk silinder dengan sumbu yang berfungsi sebagai anoda dan dinding silindernya sebagai katoda Radiasi yang memasuki detektor akan mengionisasi gas dan menghasilkan ion-ion positif dan ion-ion negatif (elektron). Jumlah ion yang akan dihasilkan tersebut sebanding dengan energi radiasi dan berbanding terbalik dengan daya ionisasi gas. Daya ionisasi gas berkisar dari 25 eV s.d. 40 eV. Ion-ion yang dihasilkan di dalam detektor tersebut akan memberikan kontribusi terbentuknya pulsa listrik ataupun arus listrik

Gambar 2.2 proses pembentukan ion positif dan negatif (ionisasi) dalam gas Ion-ion primer yang dihasilkan oleh radiasi akan bergerak menuju elektroda yang sesuai. Pergerakan ion-ion tersebut akan menimbulkan pulsa atau arus listrik. Pergerakan ion tersebut di atas dapat berlangsung bila di antara dua elektroda terdapat cukup medan listrik. Bila medan listriknya semakin tinggi maka energi kinetik ion-ion tersebut akan semakin besar sehingga mampu untuk mengadakan ionisasi lain

Gambar 2.3 karakteristik jumlah ion terhadap perubahan tegangan kerja detector Ion-ion yang dihasilkan oleh ion primer disebut sebagai ion sekunder. Bila medan listrik di antara dua elektroda semakin tinggi maka jumlah ion yang dihasilkan oleh sebuah radiasi akan sangat banyak dan disebut proses avalanche. Terdapat tiga jenis detektor isian gas yang bekerja pada daerah yang berbeda yaitu detektor kamar ionisasi yang bekerja di daerah ionisasi, detektor proporsional yang bekerja di daerah proporsional serta detector Geiger Mueller (GM) yang bekerja di daerah Geiger Muller

1.

Detektor Kamar Ionisasi (ionization chamber) Sebagaimana terlihat pada kurva karakteristik gas pada Gambar 3,

jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini relatif sedikit sehingga tinggi pulsanya, bila menerapkan pengukuran model pulsa, sangat rendah. Oleh karena itu, biasanya, pengukuran yang menggunakan detektor ionisasi menerapkan cara arus. Bila akan menggunakan detektor ini dengan cara pulsa maka dibutuhkan penguat pulsa yang sangat baik. Keuntungan detektor ini adalah dapat membedakan energi yang memasukinya dan tegangan kerja yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi (Muradi, 2008). 2. Detektor Proporsional Dibandingkan dengan daerah ionisasi di atas, jumlah ion yang dihasilkan di daerah proporsional ini lebih banyak sehingga tinggi pulsanya akan lebih tinggi. Detektor ini lebih sering digunakan untuk pengukuran dengan cara pulsa. Terlihat pada kurva karakteristik (Gambar 3) bahwa jumlah ion yang dihasilkan sebanding dengan energi radiasi, sehingga detektor ini dapat membedakan energi radiasi. Akan tetapi, yang merupakan suatu kerugian, jumlah ion atau tinggi pulsa yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh tegangan kerja dan daya tegangan untuk detektor ini harus sangat stabil (Muradi, 2008). 3. Detektor Geiger Mueller (GM) Jumlah ion yang dihasilkan di daerah ini sangat banyak, mencapai nilai saturasinya, sehingga pulsanya relatif tinggi dan tidak memerlukan penguat pulsa lagi. Kerugian utama dari detektor ini ialah tidak dapat membedakan energi radiasi yang memasukinya, karena berapapun energinya jumlah ion yang dihasilkannya sama dengan nilai saturasinya (Muradi, 2008). Detektor ini merupakan detektor yang paling sering digunakan, karena dari segi elektonik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rangkaian penguat. Sebagian besar peralatan ukur proteksi radiasi, yang harus bersifat portabel, terbuat dari detektor Geiger Muller (Knoll, 1989). 2.1 Prinsip kerja tabung dengan medium gas : a. Tabung Iomisasi :

Seperti kita ketahui massa electron lebih kecil dari pada massa ion dan inilah yang menyebabkan mengapa electron bergerak ke anoda lebih cepat daripada gerak ion kea rah dinding tabung atau katoda. Kecepatan gerak itu sendiri masih dipengaruhi oleh besarnya tegangan yang diberikan. Apabila tegangan V rendah maka gerakan electron dan ion akan lambat. Oleh karena geraknya lamabat maka sebelum masingmasing zarah samapai ke elektroda-elektroda ada kemungkinan antar electron ion akan bertemu dan bergabung kembali. Peristiwa penggabungan ini disebut peristiwa rekombinasi . Untuk menghindari timbulnya rekombinasi tegangan relatif harus besar, sehingga electron bias sampai ke anoda dan ion bisa sampai ke katoda. Dengan sampainya electron/ion ke electron maka akan timbul pulsa arus yang besarnya sama dengan jumlah muatan pasangan electron dan ion yang terjadi akibat interaksi zarah radiasi dengan medium gas. Dengan demikian besarnya pulsa akan sebanding dengan tenaga zarah radiasi. Jenis detector yang memanfaatkan sifat ini disebut detector ( tabung ) ionisasi. b. Tabung Proportional Bila tegangan V dinaikkan lebih besar, maka electron-elektron hasil ionoisasi akan bergerak lebih cepat kea rah anoda. Elektron tersebut disebut electron primer dalam geraknya kearah anoda electron tersebut dapat menimbulkan ionisasi baru sehingga timbul electronelektron lagi yang disebut electron sekunder. Terjadinya electron sekunder dapat terus-menerus dimana setiap electron primer dapat menimbulkan electron sekunder banyak sekali dan hal ini dinamakan peristiwa berondongan pelucutan electron sekunder atau peristiwa avalans. Oleh karena jumlah electron bertambah banyak maka timbunan muatan pada electrode bertambah besar. Walaupun demikian arus yang timbul masih sebanding (proportional) dengan banyaknya electron primer dari hasil ionisasi semula dan juga masih sebanding dengan tenaga zarah radiasi yang masuk. Peristiwa pembentukan

electron sekunder tersebut diatas dipakai sebagai dasar kerja detector (tabung) proportional. c. Tabung Geiger-Muller ( G.M ) Jika tegangan V dinaikkan lebih tinggi lagi, maka peristiwa avalans makin besar dan electron sekunder yang terbentuk banyak sekali akibatnya anoda bisa diselubungi serta terlindung oleh muatan negatif electron sekunder, sehingga peristiwa ionisasi akan terhenti. Karena gerak ion positf kedinding tabung (katoda) lambat, maka ionion ini dapat membentuk semacam lapier pelindung positif pada permukaan dinding tabung. Keadaan yang demikian ini disebut efek muatan ruang atau space charge effect. Tegangan V yang menimbulkan efek muatan ruang adalah tegangan maksimum yang membatasi terkumpulnya elektron-elektron pada anoda. Dalam keadaan seperti ini detektor tidak peka lagi karena adanya efek muatan ruang harus dihindarkan dengan cara menambah besarnya menambah besarnya tegangan V. Penambahan tegangan V ini dengan maksud supaya

terjadi pelepasan muatan (discharge) pada anoda, sehingga detector dapat bekerja normal kembali. Pelepasan muatan dapat terjadi karena electron mendapat tambahan tenaga kinetic akibat penambahan V. Bila tegangan V terus dinaikkan, terjadinya pelucutan electron sekunder akan makin banyak. Pada suatu tegangan tertentu peristiwa avalans electron sekunder tidak tergantung lagi oleh jenis zarah radiasi yang dating maupun tenaga tenaga zarah radiasi tersebut. Sifat demikian ini pertama kali diamati oleh Geiger, sehingga detector betektor yang bekerja atas dasar penemuan ini disebut Detektor GeigerMuller atau tabung G.M.

Jika tegangan tersebut lebih tinggi lagi dari daerah tegangan Geiger-Muller, maka detector bisa rusak karena susunan molekul gas (campuran gas) tidak pada perbandingan semula, atau terjadi suatu Cotinous discharge. Bagaimana hubungan antara besar tegangan V yang dipakai dan banyaknya ion yang dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 2.2 Cacah ion fungsi tegangan operasi Tamapak dari gambar diatas bahwa daerah G.M adalah daerah DE, dengan tegangan tertentu yang dapat mempercepat elektron primer membentuk electron sekunder dari ionisasi gas dalam tabung G.M. Peristiwa ionisasinya sudah tidak tergantung pada jenis dan besarnya tenaga zarah radiasi. Jelas di sini bahwa tabung G.M. memanfaatkan ionisasi sekunder sehingga setiap tembusan zarah radiasi akan menghasilkan pulsa dan tingginya tetap sama tidak dipengaruhi oleh tenaga radiasinya. Oleh karena itu tabung G.M. tidak dapat dipakai untuk mengukur spectrum energy 2.2 Daerah Plateu tabung Geiger-Muller Bentuk plateau suatu tabung Geiger-Muller merupakan salah satu karakteristik tabung Geiger-Muller. Tabung Geiger-Muller yang baik

bentuk plateaunya mendatar tidak boleh terlalu curam. Daerah tegangan kerja tabung Giger-Muller yang menghasilkan keadaan ini disebut daerah Geiger-Muller atau lebih dikenal sebagai daerah plateau Geiger-Muller. Untuk jelasnya lihat gambar berikut ini :

Gambar 2.3 Grafik Plateau Lebar tegangan plateau Geiger-Muller yang baik disekitar 200 volt dengan slope yang kecil. Besarnya slope dapat dinyatakan dalam % per volt terhadap N1, jadi Slope = / v2 v1 X 100 % ( 2.1 ) (Yohannes, 1979) 2.3 Radioisotop Cesium-137 Cesium-137 (137 Cs) merupakan radioisotop penghasil sinar gamma
137

Cs memancarkan sinar gamma dengan energi 0.667 MeV. Dalam


137

peluruhan

Cs berubah menjadi

137

Ba dengan meluruhkan beta (-).

Partikel dan karakteristik energi lemah sinar diserap oleh stenlisstil sehingga sumber klinisnya adalah pemancar . Sinar dari cesium memiliki daya tembus yang sama dengan Radium sinar pada jaringan (Khan, 2005).

2.4 Pemilihan Alat ukur radiasi Pemilihan peralatan ukur radiasi tergantung pada beberapa faktor. Beberapa persyaratan umum termasuk: portable (kemudahan untuk dibawa), kemampuan mekanis, kemudahan penggunaan dan pembacaan, kemudahan perawatan, serta kehandalannya. Di samping

persyaratanpersyartan umum ini, alat ukur radiasi harus dikalibrasi juga, serta harus memiliki karakteristik-karakteristik lain seperti: a. Kemampuan untuk memberikan tanggapan (response) pada radiasi yang sedang diukur. Hal ini dapat dijelaskan dengan sebuah contoh praktis: Sebuah alat ukur radiasi yang digunakan untuk

mengukur/mendeteksi radiasi beta dan gamma, yang berjendela pada salah satu sisinya, yang pada umumnya digunakan adalah dengan ketebalan dinding 30 mg/cm2. Peralatan ukur radiasi ini tidak akan berfungsi dengan baik untuk mengukur/mendeteksi beta yang berenergi rendah, seperti: C-14 atau S-35, atau untuk kontaminasi alfa, seperti: Po-210. Masing-masing dari jenis radionuklida ini akan memancarkan radiasi energi yan tidak dapat dapat menembus dinding alat ukur dengan tebal 30 mg/cm2. Demikian pula, akan terjadi kesalahan dalam menyimpulkan hasil pengukuran apabila menggunakan peralatan ukur radiasi beta untuk mengukur radiasi neutron. Maka, dalam pemilihan alat ukur radiasi, harus diperhatikan bahwa penggunaan masing-masing peralatan disesuaikan dengan obyek yang akan diukur b. Kepekaan (sensitivitas). Alat ukur radiasi yang digunakan harus peka terhadap radiasi yang diukurnya. Contoh praktisnya adalah: alat ukur radiasi/ detektor radiasi yang digunakan untuk mencari jarum radium yang hilang harus memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan alat ukur radiasi yang digunakan untuk mengukur radiasi di ruangan akselerator. Dalam ruangan akselerator, mungkin radisi yang ada mencapai ratusan mGy per jam. Sebuah alat ukur radiasi yang memiliki sensitivitas 0,01 mGy/jam dapat digunakan dan berfungsi dengan baik di lingkungan ang seperti ini. Dalam usaha

mencari jarum radium yang hilang, dengan menggunakan alat ukur yang sama akan sangat membatasi daerah kerjanya. Sebuah alat ukur radiasi Geiger muller yang memiliki tingkat sensitivitas 0,05 mGy/jam mungkin dapat lebih membantu. Misalnya: jika 1 mg jarum radium hilang, jarak pendeteksian antara sumber radiasi tersebut dengan alat ukur tertentu adalah 90 cm, sementara dengan menggunakan alat ukur Geiger Muller jarak tersebut adalah 412 cm. Sehingga dengan menggunakan alat ukur radiasi Geiger muller dapat meliputi daerah kerja 53,5 m2, sedangkan dengan menggunakan alat ukur radiasi yang pertama hanya mencakup daerah kerja seluas 2,5 m2 saja. Tingkat kepekaan yang tinggi pun pada keadaan tertentu tidak akan membantu kita mencapai tujuan pengukuran. Kisaran tingkat radiasi atau sensitivitas alat ukur radiasi harus juga dipertimbangkan dan sesuai dengan onyek pengukurannya ( Prayitno, 1997).

10

III. METODE PERCOBAAN 3.1 Alat 1. Counting Adalah alat yang digunakan untuk menempatkan sumber radioaktif, alat yang digunakan untuk mengetahui banyaknya cacahan pada sumber radioaktif, alat yang digunakan untuk mencacah sumber radioaktif dan alat yang digunakan untuk menunjukkan waktu atau frekuensi yang digunakan. 2. Penyedia Tegangan Tinggi Adalah sumber yang digunakan untuk menyediakan sumber tegangan tinggi 3.2 Bahan Radioisotop Cesium-137, Cobalt-60 dan Eu-152 berfungsi sebagai sumber radiasi sinar gamma

11

3.3 Diagram Kerja Mulai

Penyedia tegangan tinggi dinolkan, sehingga saklar HV dalam keadaan nol

Meletakan sumber radioaktif dalam planchet

Menaikkan HV secara pelan-pelan, sampai lampu pencacah menunjukkan adanya cacahan, kemudian mencatat besar starting voltage

Menaikkan HV dari 300-500 Volt, kemudian mencatat cacahan untuk tiap kenaikan 10 volt dalam waktu 10 sekon serta meneruskan sampai cacahan mulai naik dengan tajam, yaitu hampir mencapai daerah lucutan (discharge), dan diulang 2 kali

Selesai Gambar 3.1 Diagram Kerja pada percobaan Pembuatan Kurva Plateau

12

3.4 Diagram Proses Fisis

Tegangan dinolkan sehingga saklar HV dalam keadaan nol sehingga tidak ada arus yang bergerak yang menandakan tidak ada elektron yang bergerak. Hal ini menandakan tidak ada cacahan dalam tercatat.

Setelah sumber radioaktif dalam plancet, kemudian menaikkan HV secara pelan-pelan yang dilakukan agar kenaikan cacahannya dapat tercatat naik secara kontinu. Hal ini juga agar mengetahui starting voltagenya.

HV dinaikkan dari HV 300-500 volt yang dicatat setiap 10 volt tiap 10 sekon sehingga dapat dilihar kenaikan volume yang ditandai dari banyaknya cacahan seiring bertambahnya jumlah cacahan.

Hal ini dilakukan sampai pada cacahan mulai naik tajam dan tercacat daerah plateaunya. Pada cacahan mulai naik tajam, yaitu hampir mencapai daerah lucutan (discharge).

Gambar 3.2 Diagram Proses Fisis pada percobaan Pembuatan Kurva Plateau

3.5 Gambar Rangkaian Alat

13

Gambar 3.3 Gambar Rangkaian Alat Pada Praktikum Pembuatan Kurva Plateau

14

IV. METODE PENGOLAHAN DATA 4.1 Data Pengamatan V (Volt) 300 310 320 330 340 350 360 370 380 390 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500
60Co

Pengukuran ke1 2 3

Rata-rata (cacah/10s) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,67 26,00 177,67 564,33 737,67 790,33 782,33 810,00 863,67 883,67 893,33 930,33 953,33 955,67 1004,33 984,67

(cacah/10s) (cacah/10s) (cacah/10s) 0 0 0 0 0 5 35 213 575 738 774 778 795 876 852 848 938 977 939 1032 964 0 0 0 0 0 0 36 220 568 722 769 791 820 829 901 911 915 984 956 982 1017 0 0 0 0 0 0 7 100 550 753 828 778 815 886 898 921 938 899 972 999 973

15

4.2 Data Pengamatan 152Eu Pengukuran keV (Volt) 300 310 320 330 340 350 360 370 380 390 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 1 2 3 Rata-rata (cacah/10s) 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,33 33,67 61,67 328,33 389,33 422,00 431,33 442,00 472,67 490,67 472,00 497,67 510,00 504,00 532,33 527,67

(cacah/10s) (cacah/10s) (cacah/10s) 0 0 0 0 0 4 48 53 325 417 430 416 443 460 494 471 499 501 494 524 523 0 0 0 0 0 3 28 87 326 363 414 422 456 504 481 474 497 527 525 532 555 0 0 0 0 0 3 25 45 334 388 422 456 427 454 497 471 497 502 493 541 505

16

4.3 Data Pengamatan 137Cs V (Volt) 300 310 320 330 340 350 360 370 380 390 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 Pengukuran ke1 2 3 Rata-rata (cacah/10s) 0,00 0,00 1,00 3,00 4,67 6,67 35,67 138,67 159,00 171,67 180,67 192,33 192,33 193,67 215,00 223,67 206,00 205,67 216,33 211,33 214,67

(cacah/10s) (cacah/10s) (cacah/10s) 0 0 1 3 5 6 36 133 151 166 186 199 200 196 199 210 208 206 216 217 223 0 0 1 3 4 6 33 137 158 174 173 200 187 190 235 239 202 205 211 212 206 0 0 1 3 5 8 38 146 168 175 183 178 190 195 211 222 208 206 222 205 215

17

4.4 Grafik dari pengolahan data hubungan V ( volt ) Vs Cacah/10s 4.4.1 Grafik Co

Analisis Grafik Karena tegangan operasi terus dinaikkan maka radiasi yang tercacah bertambah, dimana tegangan operasi detektor adalah 350 Volt. Hal ini terjadi karena bertambahnya volume cacahan radiasi mengakibatkan detektor menjadi peka dan ini terus terjadi hingga mendekati konstan karena hampir seluruh volume detektor menjadi peka. Namun setiap dinaikkan tegangannya tidak seluruhnya mengalami pertambahan volume cacahan, sehingga daerah plateau kurang sempurna. Pada radioisotop Cobalt dihasilkan daerah plateau pada tegangan 400-450 Volt.

18

4.4.2 Grafik Eu

Analisa Grafik Kemiringan pada daerah plateau disebabkan oleh daerah yang peka benarbenar tersebar secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan batas volume dari detektor tersebut sudah benar-benar peka. Jika dilihat dari grafiknya dapat dilihat terjadi penurunan jumlah cacahan yang menunjukkan jumlah volumenya berkurang. Namun daerah plateau tetap dapat terbentuk karena penurunan jumlah cacahan tidak banyak. Saat tegangan dinaikkan terus akan menaikkan volume cacahan radiasi tiap cacahan/10 s. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya daerah plateau pada grafik. Apabila mencapai tegangan maksimum maka detektor tidak mampu lagi medeteksi penambahan jumlah volume radiasi tiap cacah/10s. Pada radioisotop ini menghasilkan daerah plateau pada tegangan 400-450 volt.

19

4.4.3 Grafik Cs

Analisa Grafik Pada kurva plateau pada radioisotop Cs ini perubahan cacahan tampak terlihat. Hal ini mengakibat kurva daerah plateau naik turun yang menunjukkan energinya pun tidak stabil. Tetapi dapat dilihat daerah plaeau yang terjadi pada grafik ini pada tegangan 375-425 volt.

20

V. PEMBAHASAN Tujuan kurva plateau ini bertujuan untuk membuat kurva palteau dari hasil cacahan radiasi menggunakan detektor Geuger Muller yang merupakan salah satu jenis detektor isian gas. Detektor jenis ini terdiri dari sebuah tabung berdinding logam yang diisi dengan gas dan mempunyai kawat ditengahnya. Dinding tabung merangkap sebagai katoda sedangkan kawat ditengah sebagai anoda. Percobaan kurva plateau menggunakan sumber radioaktif 137Cs, 121Au, dan
60Co

yang diuji dengan detektor Geiger Muller. Jenis-jenis radioaktif

yang digunakan harus memiliki intensitas yang cukup besar sehingga semua kejadian cacahannya dapat diketahui. Sistem pencacah radiasi, detektor Geiger Muller (GM) berfungsi sebagai penangkap radiasi dan merubahh radiasi tersebut menjadi pulsa listrik. Besaran yang di deteksi yaitu jumlah radiasi dan energi radiasi. Jumlah radiasi yang diperlukan untuk mengetahui aktivitas sumber radiasi sedangkan energi radiasi digunakan untuk menentukan sumber radiasi. Dalam hal ini setiap radiasi yang mengenai detektor akan diubah menjadi sebuah sinyal (pulsa) listrik yang berupa cacahan sehingga jumlah radiasi dapat ditentukan dengan mengukur jumlah pulsa listrik yang dihasilkan detektor. Tinggi sinyal (pulsa) menunjukkan energi radiasi yang mengenai detektor sehingga energi radiasi dapat ditentukan dengan mengukur tinggi pulsa listrik yang dihasilkan detektor. Pengoperasian detektor memerlukan tegangan tinggi (HV). Dalam detektor terdapat suatu inverter untuk mentransfer tegangan tinggi kedetektor dan yang digunakan untuk menerima pulsa listrik dari detektor yang

kemudian diteruskan ke rangkaian selanjutnya. Pulsa listrik yang dihasilkan inverter sudah dalam orde Volt sehingga dapat langsung diproses oleh rangkaian counter. Selanjutnya oleh counter pulsa listrik tersebut dicacah (menghitung jumlah). Selang waktu pencacahan dapat dilakukan secara otomatis menggunakan timer, yaitu alat yang dapat memberikan sinyal ke counter agar memulai atau menghentikan pencacahan dengan selang waktu

21

tertentu yang dapat diatur sebelumnya. Yaitu dengan selang waktu 10 sekon (cacah/10sekon). Apabila detektor Geiger Muller dikenakan sebesar V antar katoda (dinding tabung) dan anoda (kawat tabung) melalui tahanan luar maka akan timbul medan listrik dalam tabung yang berisi gas. Percobaan ini diberikan tegangan berkisar 300-500 volt, yang timbul medan listrik dalam tabung tersebut. Yang mana selang kenaikan tegangannya setiap 10 Volt sekali. Pada radioaktif Co, radiasi dicacah oleh counter pada detektor GM. Cacah radiasi yang diterima oleh detektor mulamula tidak menunjukkan kenaikkan yang signifikan yaitu pada saat diberikan tegangan 300 volt sampai dengan 340 volt jumlah cacah radiasinya nol, hal ini menunjukkan belum adanya radiasi yang terdeteksi oleh detektor GM. Dan pada saat diberikan tegangan diatas 350 volt, cacah radiasinya mulai menunjukkan besarnya cacah radiasi yaitu 1,67 cacah/10 sekon. Pada radioaktif Au, radiasi dicacah oleh counter pada detektor GM. Cacah radiasi yang diterima oleh detektor mula-mula tidak menunjukkan kenaikkan yang signifikan yaitu pada saat diberikan tegangan 300 volt sampai dengan 340 volt jumlah cacah radiasinya nol, hal ini menunjukkan belum adanya radiasi yang terdeteksi oleh detektor GM. Dan pada saat diberikan tegangan diatas 350 volt, cacah radiasinya mulai menunjukkan besarnya cacah radiasi yaitu 3,33 cacah/10 sekon. Ini menunjukkan telah terdapat cacah radiasi yang terdeteksi oleh detektor GM. Sedangkan pada radioaktif , radiasi dicacah oleh counter pada detektor GM. Cacah radiasi yang diterima oleh detektor mula-mula tidak menunjukkan kenaikkan yang signifikan yaitu pada saat diberikan tegangan 300 volt sampai dengan 310 volt jumlah cacah radiasinya nol, hal ini menunjukkan belum adanya radiasi yang terdeteksi oleh detektor GM. Dan pada saat diberikan tegangan diatas 320 volt, cacah radiasinya mulai menunjukkan besarnya cacah radiasi yaitu 1 cacah/10 sekon. Ini menunjukkan telah terdapat cacah radiasi yang terdeteksi oleh detektor GM.

22

Pada detektor Geiger Muller, jika tegangan dioperasikan dari nol sampai dengan tegangan tinggi (500 Volt) dan hasil cacahannya digambarkan dalam bidang datar yang disebut palteau. Daerah plateau terjadi jika ada perubahan tegangan dan hasil cacahan tidak berubah secara signifikan. Tegangan kerja dimana mulai timbul cacahan yaitu starting voltage. Bila V1 adalah tegangan mulainya plateau, V2 adalah tegangan batas dari plateau. Jika tegangan operasional dinaikkan terus maka radiasi yang tercacah bertambah seiring bertambahnya volume peka detector dan seterusnya mendekati konstan dan juga jika tegangan kerja terus dinaikkan, volume sensitive akan meluas sepanjang tabung detector. Sehingga proses ionisasi mengalami titik jenuh yang menyebabkan bentuknya mendatar. Percobaan yang dilakukan pada radioisotop Cs, lebar kurva plateau terjadi pada tegangan berkisar 375 425 volt, pada raioisotop Co, lebar kurva plateau terjadi pada tegangan berkisar 400-450 volt dan pada radioisotop Au, lebar kurva plateau terjadi pada tegangan berkisar 400-450 volt. Sedangkan dalam kurva plateau standar, bentuk daerah plateau mendatar tidak boleh curam. Karena dalam praktikum ini menggunakan Geiger Muller maka daerah kerja tabung Geiger Muller yang menghasilkan keadaan ini disebut daerah plateau Geiger Muller. Lebar tegangan plateau Geiger Muller yang baik berkisar antara 200 volt dengan slope (error) yang kecil. Pada percobaan membuat kurva plateu ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi lebar daerah plateu, yaitu: 1. Tegangan Besar cacahan dari pendeteksian Geiger Mueller dipengaruhi oleh besar tegangan yang diberikan. Semakin besar tegangan yang di berikan maka semakin besar nilai cacahan dari isotop tersebut. Dari hasil tersebut maka dapat menunjukkan daerah plateu yang didapat dari grafik.

23

2. Waktu paruh isotop Isotop Cs, Au, dan Co mempunyai waktu paruh yang bisa berkurang karena penggunaan dari isotop itu sendiri, dengan demikian intensitas radiasi isotop tersebut bisa berkurang sehingga hasil cacahannya pada detektor Geiger Mueller, nilainya sesuai dengan intensitas yang dimiliki oleh isotop Cs-137. Dengan kata lain nilai cacahan dari radioisotop semakin lama akan semakin berkurang.

VI. PENUTUP 6.1 Kesimpulan 1. Daerah plateau yang dilakukan pada radioisotop Cs, lebar kurva plateau terjadi pada tegangan berkisar 375 425 volt, pada raioisotop Co, lebar kurva plateau terjadi pada tegangan berkisar 400-450 volt dan pada radioisotop Au, lebar kurva plateau terjadi pada tegangan berkisar 400-450 volt. 2. Pengoperasian detektor GM memerlukan tegangan tinggi (HV) atau diatas daerah pengoperasiannya. Daerah pengoperasian counter yaitu dimana sudah terjadinya daerah plateau. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi daerah plateau yaitu: a. Tegangan b. Waktu paruh radioisotop 6.2 Saran Menggunakan radioisotop yang lebih banyak agar dapat diketahui enargi dan aktivitas yang berbeda-beda. Sehingga dapat mengetahui daerah plateau yang terjadi.

24

DAFTAR PUSTAKA

Buntarto, H. M.Sc. 1978. Kuliah & Praktikum Deteksi dan Pengukuran Radiasi. Teknik Nuklir.Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada.

http://www.google.com/pdf 12 mei 2011 09.25 WIB

H. C. Yohannes, Drs. 1979. Kuliah Deteksi dan Pengukuran Radiasi. Teknik Nuklir. Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada. http://www.google.com/pdf 12 mei 2011 09.25 WIB

Khan, M. Faiz. 2005. Physical Theory of Radiation Theraphy. Jakarta: Erlangga.

Prayitno, Budi. 1997. Alat Ukur Radiasi. http://www.google.co.id/Dinas Alat Ukur Radiasi.pdf 12 mei 2011 09.35 WIB

25

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMEN II

MEMBUAT KURVA PLATEAU

Disusun oleh: 1. Endriasmoro S 2. Siti Aisyah 3. Dita Aprilina (J2D009029) (J2D009031) (J2D009042)

Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang 2012

26