Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN

by Anggi Febriana Nur Sa'diah Actions ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KEHILANGAN I. Pengertian Kehilangan adalah suatu keadaan berpisahnya individu dengan sesuatu yang sebelumnya dimiliki atau ada. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama masa kehidupan dan cenderung akan berulang kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda, peristiwa kehilangan dapat terjadi secara tiba-tiba atau bertahap, bersifat sementara atau menetap. Dirumah sakit tim kesehatan selalau menghadapi klien dan harus menangani reaksi dan masalah dari berbgai macam kehilangan misalnya kehilangan fungsi tubuh atau kesehatan tubuhnya, kehilangan peran akibat dirawat, kehilangan orang yang dicintai. Perawat bertanggung jawab unutk membantu klien dan keluarga dalam menghadapi kehilangan tersebut. II. Bentuk Atau Macam-Macam Kehilangan a. Kehilangan orang yang berarti atau dicintai - Kematian - Perceraian - Perpisahan b. Kehilangan bio-psiko-sosial - Kehilangan fungsi tubuh - Kehilangan ide dan perasaan tentang diri sendiri - Kehilangan peran social - Kehilangan pekerjaan dan kedudukan - Kehilangan seksualitas c. Kehilangan milik pribadi - Kehilangan uang - Kehilangan perhiasan - Kehilangan barang dan rumah III. Rentang Respon Individu Terhadap Kehilangan

Adaptif Mal-adaptif

Penyangkalan Marah Tawar menawar Depresi Penerimaan (Denial) (Anger) (Bargaining) (Acceptance) Keterangan Rentang Respon : 1. Fase Penyangkalan (Denial) Fase ini merupakan reaksi pertama individu terhadap kehilangan/individu tidak percaya. Menolak atau tidak menerima kehilangan yang terjadi. Pernyataan yang sering diucapkan

adalah itu tidak mungkin saya tidak percaya seseorang yang mengalami kehilangan karena kematian orang yang berarti baginya, tetap merasa bahwa orang tersebut masih hidup. Dia mungkin mengalami halusinasi, melihat orang yang meninggal tersebut berada di tempat yang biasa digunakan atau mendengar suaranya. 2. Fase Marah (Anger) Fase ini dimulai dengan timbulnya kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan. Individu menunjukkan perasaan marah pada diri sendiri atau kepada orang yang berada di lingkungannya. Reaksi fisik yang terjadi pada fase ini antara lain, muka merah, nadi cepat, susah tidur, tangan mengepal mau memukul, agresif 3. Fase Tawar Menawar (Bargaining) Individu yang telah mampu mengekspresikan rasa marah akan kehilangannya, maka orang tersebut akan maju ke tahap tawar menawar dengan memohon kemurahan Tuhan, individu ingin menunda kehilangan dengan berkata seandainya saya hati-hati atau kalau saja kejadian ini bisa ditunda, maka saya akan sering berdoa. 4. Fase Depresi Individu berada dalam suasana berkabung, karena kehilangan merupakan keadaan nyata, individu sering menunjukkan sikap menarik diri, tidak mau berbicara atau putus asa dan mungkin sering menangis. 5. Fase Penerimaan (Acceptance) Pada fase individu menerima kenyataan kehilangan, misalnya : ya, akhirnya saya harus dioperasi, apa yang harus saya lakukan agar saya cepat sembuh, tanggung jawab mulai timbul dan usaha untuk pemulihan dapat lebih normal. Secara bertahap perhatiannya beralih pada objek yang baru, dan pikiran yang selalu terpusat pada objek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Jadi individu yang masuk pada fase penerimaan atau damai, maka ia dapat mengakhiri proses berduka dan mengatasi perasaan kehilangannya secara tuntas. IV. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian 1. Faktor pendukung a) Genetik Seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu permasalahan, termasuk dalam menghadapi proses kehilangan. b) Kesehatan jasmani Seseorang dengan fisik yang sehat, pola hidup teratur cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stress yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan seseorang yang sedang mengalami gangguan fisik. c) Kesehatan mental Individu yang mengalami gangguan jiwa misalnya depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya, pesimis, selalu dibayangi masa depan yang suram, biasanya sangat peka dalam menghadapi situasi kehilangan. d) Pengalaman kehilangan di masa lalu Seseorang yang mengalami kehilangan dimasa kanak-kanak akan mempengaruhi kemampuan individu dalam mengatasi kehilangan pada masa dewasa, orang tersebut akan sulit mencapai fase penerimaan.

2. Faktor pencetus Faktor pencetus perasaan kehilangan dapat berupa stress nyata atau imajinasi individu seperti kehilangan kesehatan, fungsi seksualitas, harga diri dan kehilangan pekerjaan dan lain-lain. 3. Perilaku Individu yang mengalami kehilangan sering menangis atau tidak mampu menagis. Marahmarah, putus asa. Kadang ada keinginan untuk bunuh diri atau membunuh orang lain. 4. Mekanisme koping Individu sering menggunakan mekanisme koping seperti represi, regresi, disosiasi, dan proyeksi. Pada tahap depresi individu sering menggunakan mekanisme koping regresi dan disosiasi secara berlebihan dan tidak tepat. b. Diagnosa Keperawatan Beberapa diagnosa yang mungkin timbul pada klien yang mengalami kehilangan antara lain : 1) Ketidakberdayaan 2) Perubahan nutrisi 3) Resiko perilaku kekerasan c. Perencanaan 1) Tujuan Tujuan umum : Klien berperan aktif melalui proses berduka secara tuntas. - Tujuan khusus: - Klien mampu: - Mengungkapkan perasaan berduka - Menjelaskan makna kehilangan - Membagi rasa dengan orang yang berarti - Menerima kenyataan kehilangan dengan damai - Membina hubungan baru yang bermakna dengan hal yang baru 2) Tindakan Keperawatan Tahap penyangkalan Prinsip : Memberi kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya. Tindakan keperawatan : a) Memberikan dorongan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya b) Mendengarkan dengan penuh perhatian c) Memberi dukungan dengan nonverbal seperti memegang tangan klien d) Menjawab pertanyaan klien dengan jelas e) Mengamati dengan cermat respon klien selama berinteraksi f) Meningkatkan kesadaran klien akan kenyataan secara bertahap Tahap marah Prinsip : Mendorong dan memberi waktu pada klien untuk mengungkapkan kemarahannya secara verbal tanpa melawan dengan kemarahan. Tindakan keperawatannya : 1. Menerima semua tingkah laku klien/keluarga karena kesedihannya, misalnya : marah, menangis. 2. Mendengarkan dengan empati dan jangan mencela. 3. Membantu klien memanfaatkan system pendukung Tahap tawar menawar Prinsip : Membantu klien mengidentifikasi rasa bersalah dan perasaan takutnya.

Tindakan keperawatan : 1. Mengamati perilaku klien 2. Mendengarkan ungkapan klien dengan penuh perhatian 3. Mendorong klien untuk mengungkapkan rasa takut maupun rasa bersalahnya 4. Bersama klien membahas alasan dari rasa bersalahnya Tahap depresi Prinsip : Mengidentifikasi tingkat depresi, resiko merusak diri dan membantu klien mengurangi rasa bersalahnya. Tindakan keperawatan : 1. Mengamati perilaku klien 2. Mendiskusikan bersama tentang perasaannya 3. Mencegah tindakan merusak diri 4. Hargai perasaan klien 5. Membantu klien mengidentifikasi dukungan positif yang terkait dengan kenyataan 6. Member kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan perasaannya 7. Bersama klien untuk membahas pikiran yang selalu timbul Tahap penerimaan Prinsip : Membantu klien untuk menerima kehilangan yang tidak bisa dielakkan. Tindakan keperawatannya : 1. Sediakan waktu untuk mengunjungi klien secara teratur 2. Bantu klien untuk berbagi rasa, karena biasanya tiap anggota tidak berada di tahap yang sama pada saat yang bersamaan 3. Bahas rencana setelah masa berkabung terlalui 4. Beri informasi yang akurat terhadap kebutuhan klien atau keluarga Evaluasi 1. Apakah klien sudah dapat mengungkapkan perasaannya secara spontan? 2. Apakah klien dapat menjelaskan makna kehidupan tersebut terhadap kehidupannya? 3. Apakah klien mempunyai sistem pendukung untuk mengungkapkan perasaannya (keluarga, teman, lembaga)? 4. Apakah klien menunjukkan tanda-tanda penerimaan? 5. Apakah klien sudah dapat menilai hubungan baru dengan orang lain atau objek lain? Contoh kasus Tn A berangkat bekerja ke akntor naik motor, tiba-tiba ditengah perjalanan Tn A tertabrak mobil tangki sehingga dia terpelanting lebih kurang 5 meter dari motornya, kondisi Tn A sangat mengenaskan dia berlumuran darah dan kaki kanannya patah, sehingga dia dibawa ke Rumah sakit terdekat. Dari pemeriksaan tim dokter dinyatakan kaki Tn A tidak dapat dipertahankan sehingga Tn A harus dilakukan operasi sito Amputasi. Tn A sangat terkejut mendengarkan pernyataan dari tim dokter tersebut sehingga dia tampak tidak percaya, ekspresi wajah tampak tegang dan sedih dan mengatakan saya tidak mau dilakukan amputasi karena saya tidak mau kehilangan anggota tubuh saya. Saya malu dan tidak bisa melakukan aktifitas apa-apa lagi, setelah diberikan penjelasan akhirnya Tn A bersedia dilakukan operasi tersebut. Dari kasus tersebut dapat dilakukan analisa data sebagai berikut : Data Subjektif Klien mengatakan tidak mau dilakukan amputasi karena akan kehilangan anggota tubuhnya yaitu kakinya. Klien merasa malu dan tidak bisa melakukan aktifitas apa-apa lagi. Data Objektif Klien tampak terkejut, tidak percaya dengan apa yang didengarnya, ekspresi wajah tegang

dan sedih. Dari analisa data diatas dapat disimpulkan diagnosa keperawatan yang terdapat pada Tn A ini karena amputasinya adalah : 1. Putus asa 2. Gangguan body image 3. Gangguan fungsi social Tujuan yang diharapkan adalah sebagai berikut : - Klien dapat menyadari bahwa tindakan amputasi adalah merupakan alternatif yang terbaik untuk kesembuhan penyakit Tn A. - Klien tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kesedihan atau depresi - Klien mau mengungkapkan masalah yang dihadapinya atau yang dirasakan terutama yang berhubungan dengan amputasi kakinya - Klien mau mengikuti dan melakukan kegiatan untuk mengkompensasikan kecacatan yang dialaminya - Klien tidak merasa tergantung terutama dalam ADLs dan mampu melakukannya sesuai dengan kondisi dan kemampuan klien Perencanaan 1. Jelaskan kepada klien tentang tujuan dari tindakan dilakukannya amputasi yang dilakukan terhadap dirinya adalah merupakan salah satu alternatif yang terbaik untuk kesembuhan penyakit klien 2. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan atau mengemukakan tentang segala sesuatu yang menjadi ganjalan perasaannya. 3. Dengarkan dan berikan perhatian secara empati terhadap klien. 4. Alihkan perhatian klien kepada hal-hal positif yang membuat klien senang (Distraksi) 5. Yakinkan dan berikan latihan-latihan untuk mengantisipasi kecacatan akibat adanya amputasi. 6. Berikan penjelasan kepada klien tentang sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan di masyarakat. 7. Libatkan keluarga dalam memberikan dorongan psikologis untuk kesembuhan dan menghilangkan beban psikologis 8. Jelaskan pada klien tentang gejala setelah dilakukan tindakan amputasi. Pelaksanaan 1. Menjelaskan kepada klien tentang tujuan dari tindakan dilakukannya amputasi yang dilakukan terhadap dirinya adalah merupakan salah satu alternatif yang terbaik untuk kesembuhan penyakit klien. 2. Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya atau mengemukakan tentang segala sesuatu yang menjadi ganjalan perasaannya dan perawat berusaha untuk mendengarkan dan mengerti apa yang dirasakan oleh klien. 3. Mendengarkan dan berikan perhatian secara empati terhadap klien. 4. Mengalihkan perhatian klien kepada hal-hal yang positif terhadap yang membuat klien senang (Distraksi) misalnya mendengarkan musik, memberikan bacaan yang ringan, berkomunikasi dengan sesama klien. 5. Meyakinkan klien dan memberikan bimbingan dan latihan-latihan fisik untuk mengantisipasi kecacatan akibat adanya amputasi. 6. Memberikan penjelasan kepada klien tentang bahwa amputasi juga banyak dialami oleh orang lain, tetapi masih bisa melakukan fungsi-fungsi sehari-hari secara optimal. 7. Bekerja sama dan melibatkan keluarga dalam memberikan dorongan moril maupun materiil untuk kesembuhan klien 8. Menjelaskan pada klien bahwa aka nada gejala seakan-akan bagian tubuh yang diamputasi tersebut masih ada, dan gejala ini adalah merupakan suatu yang normal.

Evaluasi - Apakah klien dapat menjelaskan mengapa tindakan amputasi dilakukan terhadap dirinya - Apakah klien memperhatikan tanda-tanda bersedih atau depresi - Apakah klien mau mengungkapkan perasaannya tanpa keraguan - Apakah klien mau dan dapat melakukan secara optimal kegiatan-kegiatan fisiknya sesuai dengan kondisinya - Apakah klien memperlihatkan tanda-tanda ketergantungan terhadap orang lain terutama dalam ADLs.