Anda di halaman 1dari 19

POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN KUNINGAN DAERAH CILIMUS KOMODITAS UBI JALAR Mata Kuliah Perencanaan Wilayah

Disusun Oleh: Handoko Tri Atmojo Jufriadi Nurman Yudhistira Elfhat Patriot Rachman Wulan Dias N 150610090023 150610090047 150610090076 150610090159 150610090161

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2012

KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat ALLAH S.W.T atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-NYA saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan selesai tepat pada waktunya,dalam memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Wilayah di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen Perencanaan Wilayah Ibu Endah Djuwendah yang membimbing kami dalam pengerjaan tugas makalah ini. Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang bagaimana keterlibatan dalam pengembangan wilayah Agropolitan serta kuni keberhasilan Agropolitan Penulis merasa bahwa dalam menyusun makalah ini masih menemui beberapa kesulitan dan hambatan, disamping itu juga menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan lainnya, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak. Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan karunia-Nya dan membalas segala amal budi serta kebaikan pihak-pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini dan semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Jatinangor, 7 Agustus 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkup wilayah yang menjadi pengembangan kawasan agropolitan adalah mencakup wilayah seluas 117.857,55 ha, yang dibagi menjadi 4 distrik. Secara umum pembagian distrik didasarkan kepada pertimbangan untuk mempercepat akselerasi pengembangan wilayah Kabupaten Kuningan melalui pengembangan sektor pertanian dan ekonomi masyarakat secara terpadu. Empat (4) Distrik yang menjadi Kawasan Pengembangan Agropolitan yaitu Distrik Cilimus, Distrik Kuningan, Distrik Luragung dan Distrik Ciawigebang. Pada masing-masing distrik, ditetapkan suatu pusat primer (kawasan inti) dan pusat sekunder (kawasan pendukung) yang diharapkan dapat menjadi pusatpusat pertumbuhan baru sehingga akselerasi pengembangan wilayah lebih cepat terjadi. Keempat distrik tersebut berikut penetapan pusat (primer dan sekunder) dan hinterland (kawasan layanannya). Secara umum pembagian distrik didasarkan kepada pertimbangan untuk mempercepat akselerasi pengembangan wilayah Kabupaten Kuningan melalui pengembangan sektor pertanian dan ekonomi masyarakat secara terpadu. Pembagian distrik pengembangan kawasan agropolitan di dasarkan pada pertimbangan sebagian berikut : a. Pergerakan eksternal dan internal kawasan yang mendukung pengembangan wilayah.
b. Faktor agroklimat yang sesuai untuk pengembangan komoditas unggulan pertanian,

c. Berpotensi untuk pengembangan agribisnis,


d. Daya dukung sarana dan prasarana (ekonomi, fisik dan lembaga pendukung) yang

memadai untuk pengembangan agribisnis seperti; pasar (pasar produk pertanian, sarana pertanian, pasar lelang), gudang penampung hasil pertanian, tempat pengolahan hasil pertanian, lembaga keuangan, kelembagaan petani (kelompok tani dan koperasi), jaringan perhubungan (jalan), jaringan irigasi yang optimal, sarana transportasi, listrik, air bersih dan lain-lain.

Konsep Agropolitan didefinisikan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya (Deptan, 2002). Konsep tersebut ditindaklanjuti dengan penyusunan Masterplan Agropolitan yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 11 Tahun 2005. Dalam Masterplan tersebut telah ditetapkan menjadi 4 (empat) Distrik Pengembangan Agropolitan, yaitu : Distrik Kuningan, Distrik Cilimus, Distrik Ciawigebang, dan Distrik Luragung. Setiap distrik memiliki karakteristik yang berbeda ditinjau dari potensi sumber daya alam dan pemanfaatannya dalam bentuk kegiatan pertanian. Dari perspektif pengembangan wilayah, maka pertimbangan penting yang biasa digunakan untuk melihat potensi komoditas suatu kawasan adalah komoditas tersebut dapat mencukupi kebutuhan sendiri dan mampu mensuplai ke kawasan lain serta komoditas tersebut memiliki daya saing pasar terhadap komoditas lainnya. Dalam hal ini, komoditas ubi jalar dijadikan sebagai basis komoditas unggulan dalam mendukung pengembangan kawasan agropolitan Distrik Cilimus, didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya dari data produksi 7 komoditas palawija utama di setiap distrik pengembangan agropolitan, menunjukkan bahwa produksi komoditas ubi jalar sebagian besar dihasilkan di Distrik Cilimus (Tabel 1).

Data produksi ubi jalar pada tahun 2005, Indonesia hanya menghasilkan 1,2 persen dari total produksi dunia. Departemen Pertanian (2005) menyebutkan kebutuhan nasional

mencapai 2.170.426 ton/tahun dengan produksi mencapai 2.753.356 ton/tahun. Sebagian besar surplus produksi ubi jalar secara nasional diekspor ke negara Malaysia, Singapura, Jepang, Korea dan Cina. Produktivitas ubi jalar di Indonesia secara umum masih sangat rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara lain yaitu rata-rata 9,8 ton/ha, sedangkan di Cina telah mencapai 20.85 ton/ha dan Jepang mencapai 24.73 ton/ha. Produksi ubi jalar di Kabupaten Kuningan pada tahun 2007 telah mencapai 104.833 ton (30 persen dari total produksi Provinsi Jawa Barat) dengan produktivitas 18,8 ton/ha. Selain itu berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya dalam Masterplan Agropolitan (2003), menunjukkan bahwa komoditas ubi jalar di Distrik Cilimus : (1) nilai LQ (Location Quetiont) >1, yang berarti bahwa terjadinya pemusatan produksi ubi jalar di kawasan Distrik Cilimus secara relatif dibandingkan dengan total produksi Kabupaten Kuningan, selain itu ditunjukkan dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan mampu mensuplai ke luar distrik; (2) nilai LI (Location Indeks) mendekati 1, yang berarti bahwa produksi ubi jalar cenderung berkembang memusat; (3) budidaya ubi jalar memiliki nilai R/C Ratio sebesar 2,94. Nilai R/C Ratio >1 menunjukkan bahwa secara finansial usahatani ubi jalar menguntungkan; (4) komoditas ubi jalar memiliki daya saing agribisnis yang baik dibandingkan komoditas lain, hal ini didukung dengan keberadaan beberapa industri pengolahan ubi jalar di Distrik Cilimus; (5) Komoditas ini dipilih karena dilihat dari perkembangan luas areal tanam yang mencapai 6.150 ha dan produktivitas yang semakin meningkat mencapai 18.8 ton/ha. Namun untuk dapat mengembangkan komoditas ubi jalar di Distrik Cilimus dalam suatu sistem agribisnis diperlukan perencanaan yang komprehensif sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi petani, pengusaha, masyarakat, pemerintah dan stakeholder lainnya serta tidak saja bagi pengembangan kawasan agropolitan Distrik Cilimus tetapi juga bagi perkembangan ekonomi wilayah Kabupaten Kuningan secara keseluruhan. BAB II PEMBAHASAN

2.1

Keterlibatan dalam Agropolitan di Kabupaten Kuningan Konsep agropolitan di Kabupaten Kuningan terdiri dari beberapa distrik dimana

distrik-distrik agropolitan didefinisikan sebagai kawasan pertanian yang mayoritas penduduknya bekerja disektor pertanian dengan kecenderungan menggunakan pola pertanian modern. Pengembangan kawasan agropolitan dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan/kesejahteraan petani melalui percepatan pengembangan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing tinggi, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan otonomi di kawasan agropolitan. Sebagian besar petani di Distrik Cilimus menjual ubi jalar dalam bentuk ubi jalar segar (mentah) langsung di on-farm (di lahan). Tata niaga seperti ini, selain membuat posisi tawar petani menjadi lemah dalam menentukan harga (karena petani tidak mempunyai kesempatan memilih jalur pemasaran lain) dan tidak ada nilai tambah yang dapat diperoleh petani. Nilai tambah pengolahan ubi jalar menjadi berbagi produk pangan cenderung dinikmati oleh pihak lain (industry pengolahan atau industri makanan). Meskipun ada beberapa petani yang telah melakukan pengolahan, namun masih terbatas pada pengolahan yang bersifat tradisional, seperti pembuatan penganan dan kue berbahan dasar ubi jalar. Keberhasilan pengembangan kawasan agropolitan Distrik Cilimus sangat ditentukan oleh adanya keterlibatan stakeholder. Untuk itu perlu diketahui bagaimana preferensi stakeholder dalam memilih jenis pengembangan agribisnis komoditas ubi jalar yang paling tepat dan diharapkan dapat mendukung perkembangan kawasan agropolitan Distrik Cilimus. Selanjutnya apakah pengembangan kawasan agropolitan Distrik Cilimus mempunyai dampak terhadap kesejahteraan petani secara umum.

2.2

Pengembangan Agropolitan di Kabupaten Kuningan

Berdasarkan potensi wilayah Kabupaten Kuningan dan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat, maka Kabupaten Kuningan perlu mengembangkan 2 sektor unggulannya yaitu agribisnis dan pariwisata. Untuk itu diperlukan arahan dalam kegiatan pengelolaan sumber daya alam dan pemanfaatan ruang sehingga mampu untuk mewadahi dan menampung perkembangan Kabupaten Kuningan. Dengan pertimbangan arahan kebijakan pengembangan wilayah pada tingkat makro serta arahan kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Kuningan sebagaimana dituangkan dalam Perda Kabupaten Kuningan No. 30 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Daerah (Propeda) 20012005 dan kebijakan sektoral yang mengarah pada pengembangan kegiatan agribisnis dengan basis ekonomi pertanian yang mantap yang didukung oleh kegiatan industri yang berorientasi kepada agroindustri dan pengembangan sektor pariwisata, maka model pendekatan teoritis yang dapat diaplikasikan dalam proses penyusunan RTRW Kabupaten Kuningan adalah Konsep Agropolitan. Konsep agropolitan yang akan dikembangkan tertuang dalam RTRW Kabupaten Kuningan 20032013 dan kemudian rencana yang lebih detil tertuang dalam MasterPlan Agropolitan 20052014 . Sehingga terdapat sinergi antara perkembangan yang terjadi di pusat-pusat pertumbuhan dan pelayanan dengan pertumbuhan yang terjadi di wilayah hinterland yang dalam proses perkembangannya akan dilayani melalui pembagian sistem distrik. Secara konseptual, model agropolitan merupakan pendekatan pembangunan yang komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas dan intensif melalui bottom-up planning. Dilakukan secara sinergis dengan melibatkan multi sektor dan program pembangunan yang secara langsung diarahkan pada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan tetap mempertimbangkan aspek keserasian dan kelestarian daya dukung lahan. Konsep ini pada dasarnya merupakan strategi pembangunan wilayah perdesaan yang dipercepat dengan berbasis pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan agar proses percepatan

pertumbuhan secara lebih merata dapat segera tercapai dan kesejahteraan masyarakat dapat lebih cepat terwujud. Hal ini mengandung pemahaman bahwa fokus model agropolitan diarahkan pada upaya pemberdayaan masyarakat yang pada intinya mencakup 3 (tiga) aspek, yaitu pemberdayaan sosial kemasyarakatan; pemberdayaan ekonomi masyarakat; dan pendayagunaan prasarana dan sarana, sesuai dengan kondisi potensi dan peluang yang dimiliki (RTRW Kuningan, 2003). Pengelompokan kawasan pertumbuhan akan membentuk kawasan pertumbuhan suatu wilayah dengan demikian akan diketahui pula keunggulankeunggulan yang berbasis local resource wilayah tersebut. Hal ini merupakan dasar untuk pengembangan kawasan agropolitan sehingga kawasan agropolitan yang dibentuk benar-benar tepat sasaran. Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan konsep agropolitan diharapkan dapat mengangkat posisi petani agar mempunyai posisi tawar yang lebih baik terhadap pasar, dengan cara menghasilkan produk yang berkualitas, dengan harga yang bersaing. Grand skenario untuk memberdayakan petani di Kabupaten Kuningan melalui penerapan konsep agropolitan diharapkan dapat menjadi kenyataan dengan cara membuat perencanaan yang komprehensif. Pengembangan kawasan agropolitan dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan/kesejahteraan petani melalui percepatan pengembangan wilayah dan peningkatan keterkaitan desa dan kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing tinggi, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan otonomi di kawasan agropolitan. Sistem usaha agribisnis membangun usaha budidaya (on farm) dan juga usaha lain yang menunjang budidaya seperti pasca panen, penyediaan alat-alat/sarana, pertanian, pemasaran dan jasa penunjang lainnya (off farm). Menurut hasil kajian dari P4W-IPB, 2004, ada beberapa masalah yang potensial terjadi dalam pelaksanaan agropolitan, yaitu : (1) aspek teknologi yaitu pengolahan hasil pertanian dan peralatannya; (2) aspek ekonomi yaitu modal dan pemasaran hasil produksi; dan (3) aspek sosial yaitu koordinasi antar stakeholder dan pemahaman mengenai konsep agropolitan.

2.3

Potensi dan Pengembangan Agroindustri Komoditas Ubi Jalar Keunggulan komparatif industri yang dibangun berdasarkan sumberdaya lokal dan

padat tenaga kerja di wilayah perdesaan akan tinggi, tidak saja mampu bersaing di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Atas dasar pemikiran itu pula, Kabupaten Kuningan menetapkan kebijakan pembangunan dalam jangka menengah, dengan menetapkan MasterPlan Agropolitan sebagai dasar kebijakan pembangunan pertanian dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah. Dengan prioritas pengembangan pertama adalah pengembangan Distrik Cilimus dengan komoditas unggulan ubi jalar. Dengan harapan dapat memadukan antara pembangunan pertanian dengan pengembangan agroindustri berbahan baku lokal. Perkembangan agroindustri tidak terlepas dari karakteristik bahan bakunya. Bahan baku pertanian seperti halnya komoditas ubi jalar selalu dihadapkan pada tiga karakteristik utama yaitu musiman, mudah rusak serta dihasilkan dalam jumlah dan mutu yang tidak seragam dari waktu ke waktu. Komoditas ubi jalar sebagaimana komoditas pertanian secara umum yang dihasilkan amat bergantung pada kondisi biologis seperti hama dan penyakit serta iklim, sehingga suplai komoditas tersebut tidak tersedia sepanjang tahun. Berbeda dengan industri lain, agroindustri selalu menghadapi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran, sehingga diperlukan manajemen penyimpanan yang baik, penjadwalan produksi, koordinasi antara produksi, pengolahan serta rantai pemasaran sejak dari usahatani. Perubahan-perubahan bahan baku menjadi produk akhir tersebut seperti dikemukakan di atas terkait erat dengan besarnya investasi, teknologi, pengelolaan serta mutu tenaga kerja yang terlibat. Agroindustri berbahan baku lokal komoditas ubi jalar telah dirintis di Kabupaten Kuningan sejak tahun 1993. Pada saat itu ada salah satu investor dari Korea yang menangkap peluang pasar dari komoditas olahan ubi jalar. Pada tahun itu berdiri satu perusahaan PMA yang bergerak dalam pengolahan pasta ubi jalar dengan orientasi untuk ekspor ke negara Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pada awalnya lokasi pabrik berada di kecamatan Ciawigebang, karena wilayah tersebut memang diperuntukkan untuk wilayah industri. Tetapi

pada tahun 2000 pabrik tersebut dipindahkan lokasinya ke kecamatan Cilimus (merupakan sentra komoditas ubi jalar), dengan alasan supaya lokasi pabrik lebih dekat dengan lokasi bahan baku. Alasan ini sejalan dengan teori yang dikemukan oleh Charles Toubout tentang locational rent yang berarti bahwa keuntungan (surplus) perusahaan akibat adanya selisih harga antara A dan B karena perbedaan lokasi (Rustiadi et al., 2007). Konsep locational rent juga dikemukan pada tahun 1842 oleh von Tunen, bahwa nilai land rent bukan hanya ditentukan oleh kualitas lahan (ricardian rent) tetapi nilai land rent merupakan fungsi dari lokasinya (Rustiadi et al., 2007). Tidak seperti halnya bahan baku yang digunakan oleh industri lain, agroindustri amat bergantung pada bahan baku yang tidak tahan lama disimpan atau mudah rusak. Oleh karena itu, industri ini memerlukan kecepatan dan kehati-hatian dalam menangani dan menyimpan bahan bakunya. Jika hal tersebut diabaikan, maka akan berpengaruh pada kualitas seperti menurunnya kandungan nutrisi terutama untuk agroindustri pangan. Karateristik lain dari bahan baku agroindustri adalah variabilitas dalam jumlah dan kualitas dari bahan baku yang dihasilkan. Demikian juga dengan kualitasnya amat beragam, walaupun telah ditemukan sejumlah teknologi untuk mengatasinya, namun ketidaseragaman tetap tidak dapat dihindari. Hal ini juga dialami oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam dalam rangka pengembangan agropolitan di Distrik Cilimus. Banyaknya permasalahan dalam masalah budidaya (on farm) sampai pada masalah teknologi pengolahan dan pemasaran (off farm) menjadi catatan tersendiri untuk menjadi bahan evaluasi. Pada tahun 2007 setelah diluncurkannya Program Pengembangan Kompetensi Indeks Pembangunan Manusia (PPKIPM) dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang salah programnya adalah meningkatkan daya beli masyarakat melalui pengembangan agribisnis ubi jalar. Lokasi yang menjadi prioritas adalah wilayah Cilimus dan sekitarnya. Dengan adanya stimulus berupa bantuan pembangunan pabrik pengolahan chip/tepung ubi jalar di 6 lokasi (semua lokasi berada di Distrik Cilimus) dan bantuan berupa peralatan untuk pengolahan ubi jalar kepada kelompok tani dan kelompok IKM, berdampak pada perkembangan ekonomi lokal. Salah satu indikator yang jelas terlihat adalah membaiknya harga jual ubi jalar di tingkat petani

yang bisa mencapai Rp.800 Rp.1.200. Hal ini tidak terlepas karena adanya pabrik pengolahan chip dan tepung ubi jalar, yang membeli ubi jalar segar dari petani pada tingkat harga Rp.800 Rp.1.000. Keadaan ini berdampak pada posisi tawar petani dalam menjual ubi jalar segar, karena petani sudah mempunyai pilihan untuk menjual ke bandar atau ke industri. Sehingga bandar tidak bisa lagi menekan harga serendah mungkin, karena petani sudah memiliki pilihan pemasaran. Tetapi ada kelemahannya jika petani menjual ke industri, karena keterbatasan modal yang dimiliki oleh industry chip maka pembayaran ke petani tidak selalu bisa tunai (ada grass period pembayaran). Hal ini menjadikan peran bandar tidak berkurang, karena mereka punya kelebihan bisa membayar tunai kepada petani. Dalam rangka terus mendorong perkembangan agribisnis (agroindustri) pada tingkat kelompok tani dan kelompol IKM yang berada di distrik agropolitan Cilimus, selain dikembangkan pabrik pengolahan chip dan tepung ubi, masih harus dicari dan dikembangkan teknologi pengolahan ubi jalar yang sederhana dengan biaya murah dan dapat dilakukan oleh petani pada skala industry rumahan (home industry). 2.4 Kunci Keberhasilan Agropolitan di Kabupaten Kuningan Pengembangan wilayah dengan pendekatan sistim agropolitan harus menyentuh (1) pembangunan fisik wilayah, seperti: pembangunan jalan, pasar, terminal, dan lain lain , (2) sumberdaya manusia dan sosial yaitu: koordinasi antar stakeholder dan pemahaman tentang konsep agropolitan, (3) aspek tehnologi yaitu: pengolahan hasil pertanian dan peralatannya. Masalah yang potensi terjadi dalam pelaksanaan agropolitan: (1) aspek teknologi yaitu pengolahan hasil pertanian dan peralatannya, (2) aspek ekonomi yaitu modal dan pemasaran hasil produksi, (P4W-IPB, 2004). Dilihat dari kajian masalah tersebut akan menjadi keberhasilan suatu kawasan agropolitan di tinjau dari : a. Aspek teknologi yaitu pengolahan hasil pertanian dan peralatannya Teknologi yang dikembangkan sebenarnya merupakan pengolahan sementara (intemediate processing) agar bisa tahan disimpan sebelum pengolahan tahap selajutnya yang

lengkap. Dengan demikian ubi jalar segar dapat segera diolah agar tidak mengalami pembusukan dan penyusutan. Teknologi pengolahan ubi segar, secara garis besar dapat dijelaskan pada

satu teknologi yang dapat diadopsi untuk mengembangkan teknologi pengolahan ubi jalar seperti yang telah dikembangkan oleh Vietnam (Anonim, 1991). Teknologi yang dikembangkan pada dasarnya sangat sederhana dan diharapkan dapat diterapkan di desa desa sebagai upaya untuk merangsang tumbuhnya industri rumahan. Sebagaimana Indonesia, penduduk di Vietnam mengkonsumsi ubi jalar segar secara langsung (direbus atau dibakar), dibuat keripik atau sebagian diolah menjadi pakan ternak. Namun karena masa simpan ubi segar relatif pendek dan susut karena pembusukan dari sejak masa panen bisa mencapai 30%. Untuk menekan susut yang besar tersebut, teknologi tepat guna untuk mengolah ubi jalar baik untuk makanan manusia maupun pakan ternak, akan sangat membantu petani meningkatkan pendapatan dan mengurangi kerugian.

b. aspek ekonomi yaitu modal dan pemasaran hasil produksi Ada beberapa jenis pengembangan agribisnis ubi jalar yang dapat dikembangkan dan menjadi pilihan alternatif masyarakat petani di Distrik Cilimus ini yaitu :
1. Petani menjual langsung komoditas ubi jalar segar, baik melalui pedagang maupun

langsung ke konsumen, namun pilihan ini tidak memberikan nilai tambah yang lebih bagi petani. Nilai tambah pada komoditas ubi jalar akan dinikmati oleh pihak lain. Tetapi dari hasil wawancara, pilihan ini banyak dipilih oleh petani karena kebanyakan petani hanya berpikir untuk segera mendapatkan uang setelah masa panen tiba untuk sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Nilai tambah komoditas ubi jalar akan terjadi bila komoditas tersebut mengalami proses pengolahan. Hal ini memerlukan modal dan ketrampilan khusus yang belum semua petani memilikinya. Dalam hal ini peran pemerintah Kabupaten Kuningan sangat penting untuk dapat membantu dan memfasilitasi modal dan juga memberikan pelatihan dan penyuluhan tentang pengolahan sederhana komoditas ubi jalar.
2. Petani bermitra sebagai penyedia bahan baku, alternatif sudah dijalani oleh beberapa

kelompok petani. Petani bermitra dengan anak perusahaan pabrik pasta, sebagai penyedia bahan baku ubi jalar segar. Dari segi pendapatan yang diterima petani agak lebih besar, karena harga yang diterima lebih mahal dibanding dijual ke pihak lain. Tetapi petani yang bermitra mempunyai keterikatan kepada pihak perusahaan, antara lain dalam menanam varietas ubi jalar harus sesuai dengan yang diminta dan kualitas produksi harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Keuntungannya petani tidak lagi harus pusing memikirkan pemasaran, karena sudah ada kepastian yang akan membeli dengan harga yang lebih mahal dari harga berlaku. Tetapi kerugiannya terjadi ketika harga ubi jalar melonjak naik, petani yang bermitra tidak akan mendapatkan keuntungan, karena harga sudah dipatok sesuai dengan perjanjian.
3. Industri Rumah Tangga (home industry), menjadi alternatif agribisnis ubi jalar yang

dapat dikembangkan oleh petani. Sebagian kecil rumah tangga petani sudah ada yang melakukan pengolahan komoditas ubi jalar segar menjadi makanan ringan atau kue

kue. Namun kegiatan ini masih terbatas dilakukan yaitu pada saat menjelang hari raya tiba, karena pada momen itu permintaan akan jenisjenis kue cukup tinggi. Selain itu, pada saat hari raya biasanya harga tepung terigu melonjak naik, sehingga mereka menggantikan tepung terigu dengan tepung ubi jalar dengan harga yang relatif murah. Pada harihari biasa, rumah tangga petani jarang melakukan kegiatan ini, karena kegiatan ini memerlukan modal dan pemasarannya masih sangat terbatas. Dalam hal ini bantuan dari pemerintah Kabupaten Kuningan, diharapkan bisa memberikan bantuan permodalan dan juga bantuan mencarikan pemasaran untuk produk kue dan makanan ringan berbahan baku ubi jalar buatan industri rumah tangga petani. Selain itu petani dapat diberikan penyuluhan dan pelatihan untuk mengembangkan jenis jenis kue dan makanan berbahan baku ubi jalar yang disukai konsumen.
4. .Industri kecil penyedia bahan baku setengah jadi, alternatif ini bila ditinjau dari segi

bisnis sangat menguntungkan, karena selain prosesnya tidak terlalu sulit dan juga nilai tambah dari komoditas ubi jalar dapat dinikmati oleh petani. Industri kecil ini mengolah bahan baku ubi jalar segar menjadi chip ubi jalar dan tepung ubi jalar. Untuk membantu agar nilai tambah dari komoditas ubi jalar lebih banyak dinikmati oleh petani, Pemerintah Kabupaten Kuningan telah memberikan bantuan yaitu dengan menyediakan 6 pabrik pengolahan chip ubi jalar, satu merupakan pabrik yang dapat mengolah chip ubi jalar menjadi tepung ubi jalar. Selain itu juga telah diberikan bantuan kepada beberapa kelompok petani dan kelompok IKM, bantuan berupa alat pengolah chip yang sederhana dengan kapasitas yang kecil. Selain itu, tujuan yang utama dari pembangunan beberapa pabrik pengolahan adalah untuk merintis pembangunan agroindustri di Kabupaten Kuningan. Peningkatan Kinerja Usahatani Ubi jalar Usahatani ubi jalar merupakan usahatani yang menguntungkan dari sisi finansial dan berpotensi untuk meningkatkan pendapatan petani tradisional yang selama ini terpaku pada komoditas padi sebagai tanaman utamanya. Dengan permintaan ubi jalar yang menunjukkan kecenderungan meningkat ditambah harga yang semakin tinggi dan stabil, menjadikan

usahatani yang yang mempunyai prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih besar. Supaya kinerja pengembangan agribisnis ubi jalar di distrik agropolitan Cilimus pada masa yang akan datang menjadi lebih baik, diperlukan dukungan dari semua pihak terkait termasuk petani, pemerintah daerah, pengusaha, pedagang. Faktorfaktor pendukung yang perlu diperhatikan agar pengembangan agropolitan di Distrik Cilimus yang berbasis agribisnis komoditas ubi jalar terlaksana dengan baik dan mampu mendorong perekonomian lokal, yaitu : a. Areal Tanam Di Distrik Cilimus Ubi jalar ditanam di lahan kering dan ditanam pada awal musim penghujan. Sedangkan di lahan basah, biasanya ditanam setelah padi pada awal musim kemarau atau masa bera. Pada umumnya, petani di Distrik Cilimus membudidayakan tanaman ubi jalar di lahan basah, dengan pola tanam ubi jalar padi padi. Dari hasil analisis kesesuaian lahan di Distrik Cilimus potensi lahan masih dapat diintensifkan dengan menambah frekuensi tanam menjadi 2 kali atau 3 kali. Tetapi cara penanaman intensif ini, dikhawatirkan dapat mengakibatkan penurunan kualitas lahan dan menyebabkan terjadinya degradasi lahan. Alternatif perluasan areal tanam adalah menanam pada lahan kering (ladang, belukar dan perkebunan) yang cukup tersedia di distrik ini. b. Tehnik Budidaya dan Pasca Panen Tehnik budidaya yang perlu mendapat perhatian adalah menanam varietas unggul, tehnik pengelolaan lahan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit serta tehnik pascapanen. Untuk varietas unggul, tahun 2008 Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan telah melepas varietas unggul AC Merah dan AC Putih. Tehnik pasca panen menjadi salah faktor untuk menghasilkan mutu ubi jalar yang baik. Karena kesalahan pada saat panen, dapat menyebabkan kerusakan umbi dan menurunkan harga jual. c. Sarana produksi Ketersediaan bahan saprodi menjadi syarat mutlak lainnya dalam pengembangan agribisnis ubi jalar. Karena ketersediaan biibt, pupuk, obatobatan dan alsintan dalam

jumlah, waktu, tempat harga terjangkau merupakan hal penting yang dapat menjaga kesinambungan budidaya ubi jalar. Sejauh ini di Distrik Cilimus telah tersedia 11 KUD (Koperasi Unit Desa) dan toko saprodi (sarana produksi) non KUD, yang dapat memenuhi permintaan petani untuk keperluan usahatani. d. Permodalan Aspek permodalan sangat penting dalam meningkatkan skala usahatani ubi jalar. Untuk perlu dukungan dari lembaga perbankan berupa kredit usahatani yang berbunga murah dan dengan proses yang mudah. Sedangkan pemerintah daerah, bisa memberikan bantuan berupa dana bergulir dan bantuan peralatan dan mesin berteknologi sederhana pengolah ubi jalar, untuk mendorong berkembangnya agroindustri di Distrik Cilimus. e. Sumberdaya Manusia Menurut data dari Departemen Pertanian (2003), ratarata tingkat pendidikan petani di perdesaaan tidak tamat SD. Rendahnya tingkat pendidikan petani, memerlukan usaha yang keras dari aparat pemerintah daerah khususnya para penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian Kabuapten Kuningan dalam menyampaikan adalah inovasi dan teknologi pertanian yang terbaru untuk tanaman ubi jalar. f. Infrastruktur Pendukung Dalam mendukung kegiatan seluruh agribisnis di Distrik Cilimus, perlu dukungan berupa infrastruktur yang menunjang kegiatan usahatani mulai dari kegiatan on farm dan off farm. Salah satu sarana penunjang yang sangat vital untuk dapat segera dibangun di kawasan pengembangan agropolitan Distrik Cilimus adalah pembangunan STA (sub terminal agribisnis), untuk menunjang proses tata niaga komoditas ubi jalar. Selama ini proses transaksi komoditas ubi jalar dilakukan di banyak tempat tersebar di seluruh kawasan pengembangan agropolitan Distrik Cilimus, hal ini menyebabkan proses transaksi komoditas ubi jalar menjadi kurang efektif dan dampaknya dapat menambah biaya tdalam proses transaksi tersebut. Tambahan biaya tersebut harus ditanggung oleh petani dan pedagang, dana dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh.

g. Sistem Tata Niaga Aspek tata niaga merupakan salah faktor yang memegang penting dalam menunjang keberhasilan sistem agribisnis. Bila mekanisme tata niaga sudah berjalan dengan baik, maka semua pihak yang terlibat dalam tata niaga komoditas ubi jalar akan diuntungkan. Selama ini marjin yang diterima petani dalam tata niaga ubi jalar relatif kecil dibandingkan dengan resiko biaya, tenaga dan gagal panen yang harus ditanggung petani. Olehkarena itu, hal yang penting yang menjadi perhatian adalah bagaimana rantai tata niaga menjadi lebih efisien. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalkan biaya dalam proses transaksi komoditas ubi jalar, kemudian dilakukan penataan jalur tata niaga menjadi lebih efisien, tidak terlalu banyak mata rantai, sehingga selisih harga di tingkat petani dan konsumen tidak terlalu tinggi. Hal lain yang dapat dilakukan adalah keterlibatan pemerintah Kabupaten Kuningan dalam memberikan insentif kepada petani ubi jalar, dengan cara melakukan pembinaan dan memberikan dorongan untuk melakukan pengolahan ubi jalar, sehingga petani akan memperoleh keuntungan dan menikmati nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan ubi jalar.

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA Anonim 1991, Teknologi Processing ubi jalar dengan biaya murah. Buletin pangan No VIII, Vol II, April 1991 [BAPEDDA]. 2005 . Master Plan Agropolitan Kabupaten Kuningan. Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Kuningan.