Anda di halaman 1dari 72

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN KEMITRAAN ANTARA PETANI DAN PENYULING AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT

Oleh IRMA OKTAVIA H24070066

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

RINGKASAN Irma Oktavia. H24070066. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kemitraan antara Petani dan Penyuling Akar Wangi di Kabupaten Garut. Di bawah bimbingan Heti Mulyati dan Alim Setiawan S. Bisnis minyak akar wangi merupakan salah satu bisnis yang dapat menghasilkan devisa negara. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak akar wangi terbesar di dunia setelah Haiti dan Bourborn (disperindag.jabarprov.go.id, 2006). Bisnis minyak akar wangi saat ini dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk sehingga mampu mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar. Sentra produksi minyak akar wangi di Indonesia berlokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis kondisi rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut, Jawa Barat dan (2) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, pengisian kuesioner dan studi literatur. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Analisis kondisi rantai pasokan minyak akar wangi dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi. Variabel yang diamati untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemitraan antara lain komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, saling ketergantungan dan hubungan nilai. Alat pengolah data yang digunakan antara lain Microsoft Excel 2007, Minitab 14 dan SPSS versi 16.0. Anggota rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir. Model fungsi regresi linear berganda tidak cukup baik menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kemitraan terhadap hubungan kemitraan antara petani dan penyuling karena koefisien determinasi yang dihasilkan kecil yaitu 39,1 persen. Selain itu peluang kesalahan di bawah nilai yang ditolerir pada penelitian sosial (20%). Lemahnya model fungsi regresi linear berganda pada penelitian ini disebabkan oleh (1) ketidakcocokan model, (2) adanya faktor lain dan hubungan yang tidak langsung dan (3) masalah teknis dari sisi responden dan dari sisi kuesioner.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN KEMITRAAN ANTARA PETANI DAN PENYULING AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh IRMA OKTAVIA H24070066

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

Judul Skripsi : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kemitraan antara Petani dan Penyuling Akar Wangi di Kabupaten Garut Nama NIM : Irma Oktavia : H24070066

Menyetujui Pembimbing I, Pembimbing II,

(Heti Mulyati, S.TP., MT) NIP 19770812 200501 2 001

(Alim Setiawan, S.TP., M.Si.) NIP 19820227 200912 1 001

Mengetahui Ketua Departemen,

(Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc) NIP 19610123 198601 1 002

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Subang pada tanggal 1 Oktober 1989. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Suhadi dan Ibu Anis Ratnaningsih. Menyelesaikan pendidikan di Taman Kanak-kanak Seroja pada tahun 1994, lalu melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri Rosela Indah Subang di tahun 1995. Pada tahun 2001 melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Subang dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun 2007 menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Subang. Pada Tahun 2007 diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama masa studi cukup aktif di berbagai kepanitiaan yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Manajemen antara lain acara Gema Alunan Syukur, Pujangga dan FEMily Day juga pernah menjadi salah seorang pengajar mata kuliah metode kuantitatif di program kumulasi yang diadakan oleh Himpro Com@ (Center of Management).

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas segala rahmat serta karunia-Nya akhirnya skripsi yang berjudul Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kemitraan antara Petani dan Penyuling Akar Wangi di Kabupaten Garut dapat diselesaikan dengan baik. Skipsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini membahas kondisi rantai pasokan minyak akar wangi dan hubungan kemitraan antara petani dan penyuling di Kabupaten Garut. Rantai pasokan merupakan salah satu masalah operasional yang sering terjadi dan sangat mempengaruhi kualitas minyak akar wangi. Rantai pasokan yang tidak efektif dan efisien menimbulkan masalah pada pengadaan minyak akar wangi. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau referensi yang berguna bagi pihak yang menjalankan bisnis minyak akar wangi untuk merumuskan kebijakan di masa depan berupa penetapan struktur rantai pasokan yang optimal sesuai dengan karakteristik minyak akar wangi. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kualitas minyak akar wangi. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan oleh penulis untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Bogor, Agustus 2011

Penulis

iii

UCAPAN TERIMA KASIH

Skripsi ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menghaturkan rasa hormat dan penghargaan setinggi-tingginya dari lubuk hati terdalam serta mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu Heti Mulyati, S.TP., MT dan Bapak Alim Setiawan, S.TP., M.Si sebagai dosen pembimbing yang berkenan memberikan bimbingannya dalam penyusunan skripsi ini. 2. Bapak R. Dikky Indrawan, SP, MM sebagai penguji dalam sidang skripsi yang telah memberikan masukan pada skripsi ini. 3. Kedua orang tua, adik dan keluarga atas doa serta dukungannya kepada penulis. 4. Seluruh dosen, staf Departemen Manajemen yang telah mempermudah dan memperlancar penulisan skripsi ini. 5. Bapak H. Ede Kadarusman serta seluruh petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut atas bantuannya dalam proses pengumpulan data. 6. Teman-teman satu bimbingan: Agung Cahya Nugraha, Intania Sudarwati, Izni Sorfina, Mursaliena Noorlaela dan Reni Mei Farida yang selalu mendorong untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini dan tiada henti mengingatkan untuk terus semangat. 7. Kak Roni, Imel, Nene, Iyut, Laras, Miu, Chemi, Una, Dini, Windi dan Ana yang selalu memberi dukungan kepada penulis. 8. Teman-teman Manajemen 44 atas pertemanan selama ini. 9. Irawan Yudha Pamungkas yang selalu memberi dukungan kepada penulis. 10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan berkah yang berlimpah kepada sahabat-sahabat yang membantu dan ikut bersusah payah dalam penulisan skripsi ini.

iv

DAFTAR ISI

Halaman RINGKASAN RIWAYAT HIDUP........................................................................................... ii KATA PENGANTAR .... iii UCAPAN TERIMA KASIH........................................................................... iv DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR LAMPIRAN ix I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Perumusan Masalah 1.3. Tujuan Penelitian 1.4. Ruang Lingkup Penelitian .. 1.5. Manfaat Penelitian .. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan 6 2.2. Kemitraan 8 2.3. Pola Kemitraan Agribisnis............................................................................. 10 2.4. Regresi Linier Berganda . 13 2.5. Penelitian Terdahulu ... 15 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran 3.2. Tahapan Penelitian .. 3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian .. 3.4. Jenis dan Metode Pengumpulan Data . 3.5. Variabel dan Rumusan Hipotesis Penelitian 3.6. Teknik Penarikan Contoh .. 3.7. Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Uji Validitas dan Reliabilitas .. 3.7.2 Regresi Linier Berganda .. IV. HASIL DAN PEMBASAHAN 4.1. Analisis Rantai Pasok Minyak Akar Wangi 4.1.1 Aktivitas Petani Akar Wangi 4.1.2 Aktivitas Pengumpul Akar Wangi 4.1.3 Aktivitas Penyuling Akar Wangi . 4.1.4 Aktivitas Pengumpul Minyak Akar Wangi .. 4.1.5 Sumber Daya Rantai Pasokan ..
v

1 3 4 4 4

17 18 22 22 24 25 26 27 28

32 37 40 41 44 45

4.2. Gambaran Umum Kemitraan ........................................................................ 46 4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kemitraan ............................ 48 4.4. Implikasi Manajerial ......................................................................................51 KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan 52 2. Saran .. 53 DAFTAR PUSTAKA 54 LAMPIRAN 56

vi

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak Akar Wangi, 2001-2005 ... 1 2. Kebutuhan, Jenis, Metode dan Sumber Data.. 23 3. Variabel-variabel Penelitian dalam Kuesioner 24 4. Jumlah Contoh untuk Kuesioner Rantai Pasokan dalam Penelitian.......... 26 5. Jumlah Contoh untuk Kuesioner Kemitraan dala Penelitian...................... 26 6. Uji Kolmogorov Smirnov............................................................................29 7. Uji Multikolinearitas................................................................................... 29 8. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda...................................................... 30 9. Sentra Produksi Akar Wangi di Indonesia.................................................. 32 10. Luas Areal dan Produksi Akar Wangi di Kabupaten Garut........................ 33 11. Perbandingan Mutu Minyak Akar Wangi Penyulingan Rakyat dengan Beberapa Standar Nasional dan Internasional................................ 35

vii

DAFTAR GAMBAR

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Halaman Rantai Pasokan............................................................................................ 7 Pola Kemitraan Inti plasma ......... 10 Pola Kemitraan Subkontrak . 11 Pola Kemitraan Dagang umum................................................................... 11 Pola Kemitraan Keagenan........................................................................... 12 Pola Kemitraan KOA.................................................................................. 12 Kerangka Pemikiran Penelitian................................................................... 18 Tahapan Penelitian...................................................................................... 21 Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Indonesia......................................... 34 Jumlah Penyuling Menurut Bentuk Usaha.................................................. 41 Persepsi Petani terhadap Kemitraan........................................................... 47

viii

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Halaman

1. Hasil Pengukuran Validitas 57 2. Hasil Regresi Linier Berganda . 58

ix

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Bisnis minyak akar wangi merupakan salah satu bisnis yang dapat menghasilkan devisa negara. Hal tersebut dapat dilihat dari data perkembangan ekspor dan impor minyak akar wangi (Tabel 1). Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak akar wangi terbesar di dunia setelah Haiti dan Bourborn (disperindag.jabarprov.go.id, 2006). Pasar minyak akar wangi Indonesia adalah Jepang, Singapura, Inggris, USA, Swiss, Italia, Jerman, Hongkong dan India (garutkab.go.id, 2010). Tabel 1. Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak Akar Wangi, 2001-2005
Ekspor Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Volume (Kg) 1.583.798 79.714 45.821 58.444 74.210 Nilai (US $) 1.759.241 1.973.451 1.428.682 2.445.744 1.544.618 Volume (Kg) 2.312 2.572 2.465 2.231 532 Impor Nilai (US $) 43.728 46.312 18.680 51.305 22.890

Sumber: BPS 2001-2005 Tanaman akar wangi di Indonesia terdapat di daerah Garut, Wonosobo, Pasuruan dan Lumajang. Sentra budidaya dan produksi terbesar minyak akar wangi di Indonesia berada di Kabupaten Garut, khususnya Kecamatan Samarang, Bayongbong, Cilawu dan Leles. Penetapan kawasan

pengembangan budi daya akar wangi seluas 2.400 Ha melalui Keputusan Bupati Garut nomor 520 Tahun 1990, dan Penetapan Konservasi Terpadu Budi daya Akar Wangi (garutkab.go.id, 2010). Lahan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan budi daya akar wangi tersebut pada kenyataannya hanya terdapat 2.318 Ha areal perkebunan yang digunakan. Hal tersebut menyebabkan para pengusaha akar wangi merasa kesulitan dalam memenuhi permintaan tersebut karena kurangnya pasokan bahan baku akar wangi untuk diolah menjadi minyak akar wangi. Selain itu, proses produksi minyak akar wangi di Kabupaten Garut masih dilakukan secara tradisional yang menyebabkan rendahnya mutu minyak akar wangi sehingga berpengaruh pada harga jual minyak akar wangi.

Bisnis minyak akar wangi saat ini dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk sehingga mampu mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar. Hal tersebut dapat mendorong daya saing minyak akar wangi Indonesia menjadi lebih baik. Peningkatan daya saing dapat dilakukan dengan cara mengembangkan keunggulan dalam sistem manajemen rantai pasokan agar dapat lebih efektif dan efisien. Anggota primer rantai pasokan dalam bisnis minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling minyak akar wangi, pengumpul minyak akar wangi dan eksportir minyak akar wangi. Bentuk kemitraan yang sudah ada berupa pembentukan kelompok tani dan koperasi USAR yang sebagian besar anggotanya adalah penyuling minyak akar wangi. Selama ini hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi baru terbatas pada pemberian pinjaman modal untuk budidaya dari penyuling ke petani. Manfaat yang dapat diperoleh petani antara lain memperoleh informasi yang dapat dipercaya mengenai harga akar wangi, mendapat bantuan modal untuk melakukan usaha budidaya, mendapat kepastian pasar dan meningkatkan pendapatan. Sedangkan manfaat yang diperoleh penyuling dari hubungan kemitraan adalah kepastian ketersediaan bahan baku akar wangi. Selama ini belum ada penelitian yang mengidentifikasi pengaruh kemitraan terhadap keberlangsungan usaha dan melihat faktor mana yang berpengaruh terhadap kemitraan dalam kelompok tani yang selama ini telah dilakukan antara petani dan penyuling akar wangi. Penelitian mengenai kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi perlu dilakukan karena dapat memberikan keuntungan bagi petani dan penyuling pada khususnya serta bagi anggota rantai pasokan minyak akar wangi pada umumnya. Keuntungan bagi petani adalah mendapat bantuan modal, sedangkan bagi penyuling adalah mendapat jaminan pasokan akar wangi. Keuntungan bagi anggota rantai pasokan antara lain rantai pasokan akar wangi menjadi lebih efektif serta terjadinya kesinambungan usaha dalam bisnis akar wangi. Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan kemitraan rantai pasokan antara petani dengan penyuling akar

wangi, apakah ada pengaruh yang signifikan antara faktor-faktor kemitraan dengan hubungan kemitraan terhadap bisnis minyak akar wangi. Dimensi kunci hubungan kemitraan diantaranya adalah komunikasi dan berbagi informasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, hubungan nilai,

ketidakseimbangan kekuasaan dan saling ketergantungan, adaptasi dan konflik (Boeck dan Wamba, 2007).

1.2. Perumusan Masalah Minyak akar wangi Indonesia harus meningkatkan keunggulan bersaing di pasar internasional. Hal yang dapat dilakukan adalah minyak akar wangi harus memenuhi kualitas dan standar produk yang ditetapkan di pasar internasional. Upaya yang dapat dilakukan adalah pembenahan dalam sistem manajemen rantai pasokannya agar dapat lebih efektif dan efisien. Selain pembenahan dalam sistem manajemen rantai pasokan, hubungan kemitraan rantai pasokan dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing bisnis minyak akar wangi. Hubungan kemitraan rantai pasokan dapat memberikan beberapa keuntungan yaitu memperoleh informasi yang dapat dipercaya, mendapat bantuan modal untuk melakukan usaha budidaya, mendapat kepastian pasar, meningkatkan pendapatan dan mendapat kepastian ketersediaan bahan baku akar wangi. Hubungan kemitraan yang sudah terjalin antara petani dengan penyuling minyak akar wangi selama ini belum dilihat faktor-faktor mana yang berpengaruh. Pentingnya mengetahui faktor-faktor tersebut adalah untuk membuat strategi dalam meningkatkan hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi. Pada penelitian ini akan dilihat faktor-faktor mana yang berpengaruh dalam hubungan kemitraan untuk dapat terus ditingkatkan agar hubungan kemitraan yang sudah terjalin dapat berjalan dengan lebih baik. Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut? 2. Bagaimana kemitraan yang sudah terjadi antara petani dan penyuling selama ini?

3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dengan penyuling akar wangi?

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan diadakan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menganalisis rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut. 2. Menganalisis kemitraan yang terjadi antara petani dan penyuling akar wangi. 3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini difokuskan pada bisnis minyak akar wangi dengan mengkaji tentang sistem manajemen rantai pasokan, anggota rantai pasokan yang terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi serta hubungan kemitraan yang dijalankan antara petani dengan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut.

1.5. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Bagi penulis Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu mengenai manajemen rantai pasokan dalam bisnis usaha kecil dan menengah serta ilmu yang terkait dengan kemitraan dalam rantai pasokan. 2. Bagi pihak yang berkepentingan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sistem manajemen rantai pasokan akar wangi serta kemitraan antara petani dan penyuling minyak akar wangi.

3. Bagi ilmu pengetahuan Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya dan memberikan informasi mengenai manajemen rantai pasokan dan kemitraan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan Menurut Heizer dan Render (2010), rantai pasokan mencakup aktivitas untuk menentukan (1) penyedia transportasi, (2) transfer uang secara kredit dan tunai, (3) para pemasok, (4) distributor, (5) utang dan piutang usaha, (6) pergudangan dan persediaan, (7) pemenuhan pesanan, serta (8) berbagi informasi pelanggan, prediksi, dan produksi. Indrajit dan Pranoto (2002) mendefinisikan rantai pasokan sebagai suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai pasokan merupakan jaringan yang terdiri dari berbagai organisasi yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut. Model rantai pasokan merupakan suatu gambaran mengenai hubungan mata rantai dari pelaku-pelaku tersebut yang dapat membentuk seperti mata rantai yang terhubung satu dengan yang lain. Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan rantai pasok adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat diantara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan. Heizer dan Render (2010) mendefinisikan manajemen rantai pasokan sebagai integrasi aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup aktivitas pembelian dan pengalihdayaan (outsourcing), ditambah fungsi lain yang penting bagi hubungan antara pemasok dan distributor. Manajemen rantai pasokan adalah proses perencanaan, penerapan, dan pengendalian operasi dari rantai pasokan dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan pelanggan seefisien mungkin yang mencakup semua pergerakan dan gudang penyimpanan dari bahan baku, persediaan barang dalam pengolahan, dan barang sejak jadi dari titik produksi ke titik konsumsi (Haming dan Nurnajamuddin, 2007).

Manajemen rantai pasokan merupakan strategi alternatif yang memberikan solusi dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui pengurangan biaya operasi dan perbaikan pelayanan konsumen dan kepuasan konsumen. Manajemen rantai pasokan menawarkan suatu mekanisme yang mengatur proses bisnis, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi biaya operasional perusahaan (Annatan dan Ellitan, 2008). Siagian (2005) menyatakan manajemen rantai pasokan berkaitan langsung dengan siklus lengkap bahan baku dari pemasok ke produksi, gudang dan distribusi kemudian sampai ke pelanggan. Sementara perusahaan meningkatkan kemampuan bersaing mereka melalui penyesuaian produk, kualitas yang tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan mencapai pasar diberikan penekanan tambahan terhadap rantai pasokan. Rantai pasokan dapat dilihat pada Gambar 1.
Informasi penjadwalan Arus kas Arus pesanan

Pemasok

Persediaan

Perusahaan

Distribusi

Pelanggan

Arus kredit Arus bahan baku

Gambar 1. Rantai Pasokan (Siagian, 2005)

2.2. Kemitraan Kemitraan merupakan mekanisme koordinasi untuk para pemasok dan perusahaan dalam suatu penciptaan nilai jejaring bisnis. Kemitraan merupakan suatu tipe hubungan dimana tanggung jawab dan keuntungan potensial dibedakan dari satu bentuk koordinasi terkait dengan hubungan penjual dan pembeli secara umum dan tingkat investasi spesifik secara khusus (Rudberg dan Olhager dalam Anatan dan Ellitan, 2008). Menurut Marimin dan Maghfiroh (2010), pola kelembagaan kemitraan rantai pasok adalah hubungan kerja diantara beberapa pelaku rantai pasok yang menggunakan mekanisme perjanjian atau kontrak tertulis dalam jangka waktu tertentu. Dalam kontrak tersebut dibuat kesepakatan-kesepakatan yang akan menjadi hak dan kewajiban pihak-pihak yang terlibat. Dimensi kunci kemitraan antara penjual dan pembeli menurut Boeck dan Wamba (2007): 1. Komunikasi dan berbagi informasi: jumlah, frekuensi dan kualitas aliran informasi antara mitra dagang. 2. Kerjasama: kesediaan untuk melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama. 3. Kepercayaan: keyakinan bahwa mitra dagang akan menjalankan kewajiban dan melakukan yang terbaik demi kepentingan dari mitra. 4. Komitmen: keinginan untuk memastikan bahwa hubungan akan berkesinambungan. 5. Hubungan nilai: pilihan antara manfaat dan pengorbanan mengenai semua aspek dari hubungan. 6. Ketidakseimbangan kekuasaan dan saling ketergantungan: kemampuan mitra dagang untuk mempengaruhi mitra lain untuk melakukan sesuatu yang biasanya tidak akan dilakukan. 7. Adaptasi: pengubahan perilaku dan organisasi yang dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari yang lain. 8. Konflik: keseluruhan tingkat dari ketidaksesuaian antara mitra dagang.

Menurut Marimin dan Maghfiroh (2010), keberhasilan kelembagaan rantai pasok komoditas pertanian tergantung pada kunci sukses yang melandasi setiap aktivitas di dalam kelembagaan tersebut. Kunci sukses tersebut adalah: 1. Trust Building Kepercayaan yang terbangun diantara anggota rantai pasokan mampu mendukung kelancaran aktivitas rantai pasokan. Kepercayaan diantara pihak-pihak yang bekerjasama dibangun untuk membuat kesepakatan. Kesepakatan yang dijalankan dengan membangun manajemen yang bersifat transparan terutama menyangkut pembagian hak dan kewajiban, harga dan pembagian keuntungan, serta membangun komitmen yang tinggi antara pihak yang bermitra dapat meningkatkan kepercayaan sehingga pihak-pihak yang bekerjasama dapat fokus menjalankan tanggungjawab masing-masing. Dengan demikian, trust building yang terbangun di dalam rantai pasokan dapat menciptakan rantai pasokan yang kuat. 2. Koordinasi dan Kerjasama Koordinasi diantara anggota rantai pasokan sangat penting guna mewujudkan kelancaran rantai pasokan, ketepatan pasokan mulai dari produsen hingga ke retail dan tercapainya tujuan rantai pasokan. Koordinasi dalam bentuk perencanaan memungkinkan terjadinya transparansi informasi pasar. Koordinasi tersebut guna mengurangi risiko kesalahan pasokan atau risiko lainnya seperti bullwhip effect. Agar koordinasi diantara anggota rantai pasokan berjalan dengan baik dan lancar, maka perlu diwujudkan hubungan kerjasama diantara anggota rantai pasokan tersebut. 3. Kemudahan Akses Pembiayaan Akses pembiayaan yang mudah disertai dengan bentuk administratif yang tidak rumit akan memudahkan pihak-pihak di dalam rantai pasokan dalam mengembangkan usahanya. Akses pembiayaan yang mudah diharapkan mengembangkan usaha, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal

10

tersebut mampu mengimbangi permintaan pasar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. 4. Dukungan Pemerintah Peran pemerintah sebagai fasilitator, regulator, dan motivator sangat penting dalam mewujudkan iklim usaha yang kondusif dan struktur rantai pasokan yang mapan.

2.3. Pola Kemitraan Agribisnis Menurut Sumardjo, Sulaksana dan Darmono (2004), terdapat lima bentuk kemitraan antara petani dengan pengusaha besar dalam sistem agribisnis di Indonesia. Bentuk-bentuk kemitraan yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Pola kemitraan inti plasma Pola ini merupakan hubungan antara petani, kelompok tani, atau kelompok mitra sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra usaha. Perusahaan inti menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung dan mengolah, serta memasarkan hasil produksi. Kelompok mitra bertugas memenuhi kebutuhan perusahaan inti sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati. Pola kemitraan inti plasma dapat dilihat pada Gambar 2.
Plasma Plasma Perusahaan Plasma Plasma

Gambar 2. Pola Kemitraan Inti plasma (Sumardjo, Sulaksana dan Darmono, 2004) 2. Pola kemitraan subkontrak Pola subkontrak merupakan pola kemitraan antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha yang memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Pola kemitraan subkontrak dapat dilihat pada Gambar 3.

11

Kelompok mitra Pengusaha mitra Kelompok mitra

Kelompok mitra

Kelompok mitra

Gambar 3. Pola Kemitraan Subkontrak (Sumardjo, Sulaksana dan Darmono, 2004) 3. Pola kemitraan dagang umum Pola kemitraan dagang umum merupakan hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi. Pihak yang terlibat dalam pola ini adalah pihak pemasaran dengan kelompok usaha pemasok komoditas yang diperlukan oleh pihak pemasaran tersebut. pola hubungan ini dapat dilihat pada Gambar 4.
Memasok

Kelompok mitra

Perusahaan mitra

Perusahaan mitra

Memasarkan produk kelompok mitra

Gambar 4. Pola Kemitraan Dagang umum (Sumardjo, Sulaksana dan Darmono, 2004) 4. Pola kemitraan keagenan Pola kemitraan keagenan merupakan bentuk kemitraan yang terdiri dari pihak perusahaan mitra dan kelompok mitra atau pengusaha kecil mitra. Pihak perusahaan mitra memberikan hak khusus kepada kelompok mitra untuk memasarkan barang atau jasa perusahaan yang dipasok oleh pengusaha besar mitra. Pola ini dapat dilihat pada Gambar 5.

12

Memasok

Kelompok mitra

Perusahaan mitra

Konsumen/ Masyarakat

Memasarkan produk kelompok mitra

Gambar 5. Pola Kemitraan Keagenan (Sumardjo, Sulaksana dan Darmono, 2004) 5. Pola kemitraan Kerja sama Operasional Agribisnis (KOA) Pola kemitraan KOA merupakan pola hubungan bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dan perusahaan mitra. Kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja, sedangkan pihak perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen dan pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditas pertanian. Pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis tersaji pada Gambar 6.
Memasok

Kelompok mitra

Perusahaan mitra

Lahan Sarana Teknologi

Biaya Modal Teknologi Manajemen

Gambar 6. Pola Kemitraan Kerjasama operasional agribisnis (Sumardjo, Sulaksana dan Darmono, 2004)

13

2.4. Regresi Linier Berganda Analisis regresi berganda adalah suatu analisis yang mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang pengukuran pengaruh antarvariabelnya melibatkan lebih dari satu variabel bebas. (Sunyoto, 2009). Persamaan estimasi regresi linier berganda sebagai berikut: Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 + ... + b n X n......................................... (1) Menurut Algifari (2000), persamaan regresi yang diperoleh dari suatu proses penghitungan dapat diketahui apakah persamaan tersebut baik untuk mengestimasi nilai variabel dependen atau tidak dengan cara: 1. Koefisien regresi (uji parsial) yang bertujuan untuk memastikan apakah variabel independen yang terdapat dalam persamaan tersebut secara individu berpengaruh; 2. Persentase pengaruh semua variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap nilai variabel dependen; 3. Pengaruh semua variabel independen di dalam model terhadap nilai variabel dependen (uji simultan). Persamaan regresi yang dihasilkan dapat diketahui baik atau tidaknya dengan melakukan beberapa pengujian dan analisis sebagai berikut: 1. Uji Normalitas Menurut Suliyanto (2005), uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah residual yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Nilai residual berdistribusi normal dapat dilihat dari suatu kurva berbentuk lonceng (bellshaped curve) yang kedua sisinya melebar sampai tidak terhingga. Distibusi data tidak normal disebabkan oleh adanya nilai ekstrem dalam data yang diambil. Cara mendeteksinya dengan menggunakan histogram regression residual yang sudah distandarkan serta menggunakan analisis kai kuadrat dan kolmogorov-smirnov. Kurva nilai residual terstandarisasi dikatakan menyebar dengan normal apabila nilai kolmogrov-smirnov Z Z tabel atau nilai asymp. sig. (2-tailed) > .

14

2. Uji multikolineritas Uji multikolineritas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya variabel independent yang memiliki korelasi antar variabel independent lain dalam satu model. Multikolineritas diuji dengan melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang tidak lebih dari 10 sehingga model dapat dikatakan terbebas dari multikolineritas. Semakin tinggi VIF maka semakin rendah Tolerance (Nugroho, 2005). 3. Uji Heteroskesdastisitas Uji heteroskesdastisitas dilakukan untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan ragam dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan ragam dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskesdastisitas. Ada tidaknya heteroskesdastisitas dapat diprediksi dengan melihat pola gambar Scatterplot. 4. Koefisien determinasi (R2) adalah salah satu nilai statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan pengaruh antara dua variabel. Nilai koefisien determinasi menunjukkan persentase variasi nilai variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh persamaan regresi yang dihasilkan. Secara matematis persamaan koefisien determinasi (R2) dapat ditulis sebagai berikut: ................................................................... (2)

Besarnya koefisien determinasi adalah 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati nol besarnya koefisien determinasi (R2) suatu persamaan regresi, semakin kecil pula pengaruh semua variabel independen terhadap nilai variabel dependen. Sebaliknya, semakin mendekati satu besarnya koefisien determinasi (R2) suatu persamaan regresi, semakin besar pula pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen (Algifari, 2000).

15

5. Uji koefisien regresi dilakukan dengan dua macam, yaitu: i. Uji parsial dilakukan untuk menentukan signifikan atau tidak signifikan masing-masing nilai koefisien regresi secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikat (Y). H0: b1 = 0 Ha: b110 Pengujian parsial menggunakan statistik uji t. ii. Uji simultan melibatkan semua variabel bebas terhadap variabel terikat dalam menguji ada tidaknya pengaruh yang signifikan secara simultan/ bersama-sama. H0: b1, b2 = 0 Ha: b1 , b210 Pengujian secara simultan menggunakan distribusi F, yaitu membandingkan antara F hitung dan F tabel (Sunyoto, 2009).

2.5. Penelitian Terdahulu Satria (2009) melakukan penelitian yang terkait dengan topik kemitraan yang berjudul Analisis Rencana Kemitraan Antara Petani Kacang Tanah dengan CV Mitra Priangan (Kasus pada Petani Kacang Tanah di Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis kondisi masing-masing pelaku kemitraan, dalam hal ini kondisi CV Mitra Priangan dan petani kacang tanah, mengidentifikasi dan menganalisis tujuan serta faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan kemitraan menurut CV Mitra Priangan dan petani mitra, dan menentukan pola kemitraan yang paling sesuai bagi CV Mitra Priangan dengan petani mitra. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi perusahaan secara keseluruhan memiliki banyak faktor kekuatan (pemasaran, keuangan dan sumber daya manusia) dibandingkan faktor kelemahan (produksi dan operasi). Pola kemitraan yang paling sesuai adalah pola KOA karena umumnya petani telah memiliki lahan sendiri dan sarana usahatani, sehingga yang dibutuhkan adalah bimbingan serta modal dari perusahaan.

16

Aryani (2009) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Pengaruh Kemitraan Terhadap Pendapatan Usahatani Kacang Tanah (Kasus Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Kacang Tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani mitra di Desa Palangan dan menganalisis pengaruh kemitraan terhadap peningkatan pendapatan usahatani kacang tanah di Desa Palangan. Hasil penelitian ini adalah pendapatan usahatani, petani mitra memperoleh pendapatan usahatani lebih besar dari pada petani non mitra, baik untuk pendapatan atas biaya tunai maupun pendapatan atas biaya total. Mulyati, Setiawan, dan Rusli (2009) melakukan penelitian yang berjudul Rancang Bangun Sistem Manajemen Rantai Pasokan dan Risiko Minyak Akar Wangi Berbasis IKM di Indonesia. Hasil penelitian ini adalah teridentifikasi peta potensi minyak akar wangi di Indonesia, gambaran rantai pasokan minyak akar wangi berbasis IKM di Indonesia, dan teridentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha minyak akar wangi. Potensi pengembangan minyak atsiri masih terbuka karena tanah dan iklim Indonesia cocok untuk pengembangan atsiri, didukung oleh ketersediaan areal potensial, terbukanya peluang pasar baik lokal maupun ekspor, serta adanya dukungan lembaga penelitian yang menyiapkan teknologi untuk peningkatan mutu. Gambaran rantai pasokan minyak akar wangi tidak berbeda jauh secara umum dengan rantai pasokan minyak atsiri. Penelitian ini menjadi bahan masukan untuk mengkaji manajemen rantai pasok minyak akar wangi dan risiko minyak akar wangi.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Perkembangan dalam bisnis minyak akar wangi menyebabkan terjadinya persaingan antara negara-negara penghasil minyak akar wangi dalam mempertahankan dan memperluas pangsa pasarnya. Setiap negara pengekspor harus dapat mengoptimalkan pengelolaan manajemen secara efektif dan efisien dalam bisnisnya agar dapat mencapai keunggulan bersaing. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memperbaiki dan mengembangkan sistem manajemen rantai pasokan. Pasokan minyak akar wangi perlu diupayakan berjalan dengan baik. Oleh karena itu pengusaha minyak akar wangi harus mampu menyediakan produk dengan kualitas dan kuantitas yang tepat, di waktu yang tepat dan tempat yang tepat pula. Pemenuhan dalam penyediaan akar wangi dengan kualitas dan kuantitas yang tepat dapat dilakukan dengan melakukan hubungan kemitraan antara petani dan penyuling. Hubungan kemitraan rantai pasokan antara petani akar wangi dengan penyuling akar wangi secara berkesinambungan merupakan hal penting dalam rantai pasokan. Analisis hubungan kemitraan antara petani dan penyuling penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh hubungan kemitraan tersebut terhadap keberlangsungan bisnis minyak akar wangi. Analisis hubungan kemitraan tersebut dilihat berdasarkan faktor-faktor kemitraan. Landasan dalam menyusun faktor-faktor kemitraan adalah jurnal mengenai kemitraan yaitu RFID and Buyer-Seller Relationship in the Retail Supply Chain oleh Boeck dan Wamba (2007). Hubungan kemitraan rantai pasokan mempunyai peranan yang sangat penting karena dapat menghasilkan manfaat bagi semua pelaku yang terlibat dalam proses rantai pasokan. Manfaat yang diterima oleh pelaku proses rantai pasokan tersebut pada akhirnya dapat menjamin ketersediaan bahan baku akar wangi dan dapat meningkatkan pendapatan yang diperoleh petani dan penyuling akar wangi. Kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 7.

18

Perkembangan bisnis minyak akar wangi

Muncul persaingan ketat antar negara pengekspor

Menuntut pengoptimalan pengelolaan bisnis secara efektif dan efisien

Manajemen Rantai Pasokan

Hubungan kemitraan rantai pasok antara petani dengan penyuling akar wangi

Analisis hubungan kemitraan berdasarkan faktor-faktor kemitraan

Peningkatan manfaat bagi petani dan penyuling

Terjaminnya ketersediaan bahan baku akar wangi

Keunggulan bersaing untuk minyak akar wangi Garut

Gambar 7. Kerangka pemikiran penelitian

3.2. Tahapan Penelitian Tahapan penelitian merupakan rincian dari langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan teknik pemodelan. Tahapan penelitian terdiri dari: 1. Penentuan topik dan judul penelitian. Topik yang diteliti pada penelitian ini terkait dengan masalah manajemen rantai pasokan, khususnya pada hubungan kemitraan antara petani dengan penyuling akar wangi.

19

2. Perumusan masalah. Hal tersebut dilakukan berdasarkan topik yang telah dipilih, dirumuskan permasalahan khususnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan. 3. Studi pustaka dilakukan untuk memahami sistem yang akan dipelajari. Pustaka yang menjadi acuan adalah pustaka yang berhubungan dengan manajemen rantai pasokan dan pola kemitraan. Studi pustaka dilakukan selama penelitian ini berlangsung. 4. Penentuan tujuan penelitian ditetapkan berdasarkan perumusan masalah dan studi pustaka yang telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut serta mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut. 5. Rancangan Pengumpulan Data. Pada tahapan ini dilakukan perancangan mengenai identifikasi kebutuhan data yang terdiri dari data kondisi rantai pasokan akar wangi dan data kemitraan antara petani dan penyuling, metode pengumpulan data yang akan dilakukan yang terdiri dari wawancara, observasi, pengisian kuesioner dan studi literatur serta pemilihan teknik analisis yang akan digunakan. 6. Pengamatan pendahuluan dilakukan dengan cara mengobservasi langsung kondisi rantai pasokan akar wangi dan hubungan kemitraan rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut. Selain itu, pengamatan pendahuluan dilakukan dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang terkait dengan bisnis akar wangi. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai rantai pasokan dan hubungan kemitraan antara petani dengan penyuling akar wangi. 7. Pengumpulan data. Tahapan ini dilakukan dengan cara mewawancarai para petani yang menjalin hubungan kemitraan dengan penyuling dalam bentuk kuesioner identifikasi rantai pasok dan kuesioner kemitraan yang dilakukan dengan metode purposive sampling serta mengumpulkan datadata sekunder dari Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Garut.

20

8. Input data dilakukan dengan cara menginput data-data dari hasil wawancara dan kuesioner ke dalam software Microsoft Excel 2007 dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 16.0. 9. Pengolahan dan analisis data. Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskriptif dan regresi linier berganda yang dilakukan dengan menggunakan bantuan software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 16.0, Microsoft Excel 2007 dan Minitab versi 14. Setelah pengolahan dilakukan, dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan rantai pasok antara petani dan penyuling. 10. Hasil dan pembahasan dilakukan setelah pengolahan data berdasarkan hasil dari penelitian. Pembahasan bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi identifikasi rantai pasok minyak akar wangi di Kabupaten Garut dan mendeskripsikan hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi. 11. Kesimpulan dan saran. Penulis memberikan kesimpulan secara keseluruhan untuk menjawab permasalahan yang ingin dipecahkan. Penulis juga mengajukan saran untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan topik kemitraan rantai pasokan. Tahapan penelitian disajikan pada Gambar 8.

21

Penentuan topik dan judul penelitian: Hubungan kemitraan rantai pasokan antara petani dengan penyuling Perumusan masalah: 1. Bagaimana rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut? 2. Bagaimana kemitraan yang sudah terjadi antara petani dan penyuling selama ini? 3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dengan penyuling akar wangi? Penentuan tujuan penelitian: 1. Menganalisis rantai pasokan akar wangi di Kabupaten Garut. 2. Menganalisis kemitraan yang terjadi antara petani dan penyuling akar wangi. 3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut. Rancangan Pengumpulan Data: Identifikasi kebutuhan data, metode pengumpulan data dan pemilihan teknik analisis.

1. 2.

Pengamatan pendahuluan: Gambaran umum rantai pasokan. Hubungan kemitraan antara petani dan penyuling. Pengumpulan data: Struktur rantai pasokan akar wangi, Manajemen rantai pasokan. Faktor-faktor hubungan kemitraan. Variabel dependen yaitu kemitraan sedangkan variabel independen yaitu komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, saling ketergantungan dan hubungan nilai. Input data

Observasi langsung dan wawancara

1. 2.

Metode: - observasi langsung - wawancara - studi literatur

Pengolahan dan analisis data: Analisis rantai pasokan minyak akar wangi Analisis deskriptif dengan SPSS versi 16.0. Identifikasi dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kemitraan Analisis regresi linier berganda dengan Minitab14. Hasil dan pembahasan

Kesimpulan dan saran

Gambar 8. Tahapan penelitian

22

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2011. Lokasi penelitian di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya Kecamatan Samarang, Cilawu, Bayongbong dan Leles.

3.4. Jenis dan Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, wawancara dengan pihak-pihak terkait dan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari internet, jurnal, data dari Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut dan hasil penelitian terdahulu pada tahun 2009. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data tentang gambaran umum mengenai bisnis minyak akar wangi, data tentang kondisi rantai pasokan minyak akar wangi yang diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak terkait, serta data yang diperlukan untuk mengkaji hubungan kemitraan rantai pasokan antara petani dengan penyuling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu : 1. Wawancara Wawancara dilakukan untuk mengetahui gambaran umum kondisi rantai pasokan minyak akar wangi. Respondennya adalah petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling minyak akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi. Pada teknik ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Kuesioner yang digunakan antara lain kuesioner rantai pasokan akar wangi dan kuesioner kemitraan. Kuesioner rantai pasokan akar wangi dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama merupakan kuesioner khusus untuk petani akar wangi. Hal-hal yang ditanyakan pada kuesioner tersebut mencakup tentang identitas usaha, aspek budidaya dan pasca panen, aspek pemasaran, aspek keuangan dan kemitraan. Bagian kedua merupakan kuesioner khusus untuk penyuling akar wangi. Kuesioner tersebut mencakup tentang identitas usaha, aspek penyulingan akar wangi, aspek pemasaran, aspek keuangan dan aspek kemitraan.

23

Bagian ketiga merupakan kuesioner khusus untuk pengumpul bahan baku akar wangi. Kuesioner tersebut berisi tentang identitas usaha, aspek pemasaran, aspek keuangan dan kemitraan. Bagian keempat adalah kuesioner khusus untuk pengumpul minyak akar wangi. Hal-hal yang terdapat dalam kuesioner tersebut mencakup identitas usaha, aspek pemasaran, aspek keuangan dan kemitraan. Sedangkan kuesioner kemitraan dikhususkan untuk petani dan penyuling akar wangi yang melakukan hubungan kemitraan. Kuesioner tersebut berisi tentang pernyataan-pernyataan mengenai faktor komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, saling ketergantungan dan hubungan nilai dalam kemitraan yang telah dijalankan. 2. Observasi Pada teknik ini dilakukan pengamatan terhadap objek penelitian baik secara langsung maupun tidak langsung oleh peneliti. Misalnya mengunjungi perkebunan akar wangi untuk melihat proses budi daya yang dilakukan. 3. Studi literatur Studi literatur dilakukan dengan membaca buku yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Peneliti mencari literatur yang sesuai dengan permasalahan topik penelitian, diantaranya literatur yang berjudul manajemen rantai pasokan. Jenis dan sumber data yang diperlukan pada penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Kebutuhan, Jenis, Metode dan Sumber Data.
No 1 Tujuan Jenis Data Penelitian Menganalisis Primer rantai pasokan minyak akar wangi Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan Primer Metode Observasi, wawancara dan studi pustaka. Observasi dan wawancara. Sumber Data Analisis Data Analisis deskriptif

Petani, pengumpul, penyuling, eksportir akar wangi Petani dan Analisis regresi penyuling linier akar wangi berganda

24

3.5.

Variabel dan Rumusan Hipotesis Penelitian Variabel yang diamati untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan yang digunakan mengacu pada Boeck dan Wamba (2007). Tabel 3. Variabel-variabel penelitian dalam kuesioner
Variabel Komunikasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kerjasama 1. 2. 3. 4. 5. Kepercayaan 1. 2. 3. 4. 5. Komitmen 1. 2. Indikator Komunikasi yang tepat Komunikasi dua arah Frekuensi komunikasi Kualitas komunikasi Komunikasi sebagai umpan balik Cara komunikasi Aliran informasi, pertukaran informasi Kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama Keinginan untuk kerjasama Saling tergantung, menimbulkan tanggung jawab, menciptakan semangat kerja Simbiosis mutualisme Kerjasama untuk sukses, memperbaiki kualitas, disiplin kerja Kepercayaan tinggi, saling percaya Kepercayaan untuk hubungan jangka panjang Pengaruh terhadap komitmen Pengaruh terhadap peningkatan kualitas Integritas dan kredibilitas, saling terbuka, kejujuran Komitmen tinggi, hubungan berkesinambungan Komitmen untuk memasok, komitmen untuk memajukan industri, komitmen untuk hubungan baik Saling ketergantungan, ketidakseimbangan kekuasaan Kemampuan mempengaruhi, saling ketergantungan untuk meningkatkan produktivitas kerja, kepentingan bersama Keterangan X1 Nomor di kuesioner 1, 2 3 4, 5, 6 7, 8 9 10 11, 12, 13 1 2 3, 4, 5 6 7, 8, 9

X2

X3

1, 2 3 4 5 6, 7, 8

X4

1, 2 3, 4, 5

Saling 1. ketergantungan 2.

X5

1, 2 3, 4, 5

25 Hubungan nilai 1. Kesamaan budaya, kesamaan prinsip, etika dan hubungan baik 2. Nilai yang disepakati bersama, pengorbanan untuk kepentingan bersama, sistem nilai 1. Kemitraan mempengaruhi ketersediaan, pendapatan 2. Pembinaan kemitraan mempengaruhi kualitas, daya saing, produktivitas X6 1, 2, 3, 6, 7 4, 5, 8, 9 Y 1, 2, 7, 8 3, 4, 5, 6, 9

Kemitraan

Hipotesis yang disusun dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : H0= Tidak terdapat pengaruh variabel komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, saling ketergantungan dan hubungan nilai

secara signifikan dan positif terhadap variabel kemitraan (Y). H1= Terdapat pengaruh variabel komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, saling ketergantungan dan hubungan nilai secara signifikan dan positif terhadap variabel kemitraan (Y). 3.6. Teknik Penarikan Contoh Contoh merupakan bagian dari populasi yang dianggap mewakili populasi. Pengambilan contoh dalam penelitian ini dilakukan dengan probability sampling dan non probability sampling. Probability sampling dilakukan secara stratified random sampling sedangkan non probability sampling dilakukan secara purposive sampling dan snowball sampling. Stratified random sampling merupakan teknik pengambilan contoh yang menganggap suatu populasi heterogen menurut suatu karakteristik tertentu dikelompokkan dalam beberapa subpopulasi sehingga tiap kelompok akan memiliki anggota sampel yang relatif homogen. Subpopulasi ini secara acak diambil anggota sampelnya. Populasi dalam penelitian ini adalah pelaku industri minyak akar wangi. Populasi tersebut dikelompokkan menjadi petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi dan pengumpul minyak akar wangi. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan contoh yang dilakukan dengan pertimbangan tertentu, dalam kasus pada penelitian ini pertimbangannya yaitu lokasi usaha, status usaha, dan keberlanjutan usaha pelaku industri minyak akar wangi. Snowball sampling merupakan teknik

26

penentuan contoh yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian contoh ini diminta memilih responden lain untuk dijadikan contoh lagi, begitu seterusnya sehingga jumlah contoh menjadi semakin banyak. Jumlah populasi pada penelitian ini tidak teridentifikasi sehingga penentuan jumlah contoh yang digunakan disesuaikan dengan kondisi di lapangan dengan pertimbangan responden yang mudah ditemui. Jumlah contoh dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5. Tabel 4. Jumlah contoh untuk kuesioner rantai pasokan dalam penelitian
No 1 2 3 4 5 Kecamatan Samarang Bayongbong Cilawu Leles Garut Kota Total No 1 2 3 4 Total Petani 10 7 7 1 25 Penyuling 5 4 2 1 12 Pengumpul Akar Wangi 2 1 3 Petani 14 9 6 1 30 Pengumpul Minyak Akar Wangi 1 1 2 Penyuling 5 3 2 1 11

Tabel 5. Jumlah contoh untuk kuesioner kemitraan dalam penelitian


Kecamatan Samarang Bayongbong Cilawu Leles

3.7. Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode regresi linier berganda. Metode deskriptif merupakan metode statistik yang digunakan untuk menggambarkan data yang telah terkumpul. Analisis data secara deskriptif dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan keadaan umum rantai pasok minyak akar wangi. Sedangkan metode regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi.

27

3.7.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Uji validitas dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana suatu alat pengukur mengukur apa yang ingin diukur (Umar, 2003). Uji validitas digunakan untuk menghitung nilai korelasi (r) antara data pada masing-masing pertanyaan dengan skor total. Teknik yang dipakai untuk menguji validitas adalah teknik korelasi product moment pearson:

.(1)

Di mana: r = Angka korelasi Xi = Skor masing masing pernyataan ke-i Y = Skor total n = Jumlah responden Data dikatakan valid apabila nilai korelasi hitung data melebihi nilai korelasi tabelnya. Jika rhitung positif dan rhitung lebih besar daripada nilai rtabel, maka variabel tersebut dinyatakan valid. Pada kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini, pengujian validitas dengan 41 orang responden dengan tingkat signifikansi 5 persen maka diperoleh angka kritik sebesar 0,308. Nilai rhitung positif dan lebih besar daripada nilai rtabel maka seluruh pertanyaan dalam kuesioner ini dinyatakan valid. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan Microsoft Excel 2007. Hasil uji validitas dapat dilihat pada Lampiran 1. Reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat ukur di dalam mengukur gejala yang sama (Umar, 2003). Reliabilitas alat ukur dalam bentuk skala dapat dicari dengan menggunakan teknik alpha cronbach:

(2)

28

Di mana: r11 k t b = Reliabilitas instrumen = Banyak butir pernyataan = Varian total = Jumlah varian pernyataan Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbachs Alpha lebih dari 0,60. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 16.0. Pada kuesioner dalam penelitian ini, nilai Cronbachs Alpha adalah 0,958 maka konstruk variabelnya dapat dikatakan reliabel.

3.7.2 Regresi Linier Berganda Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi adalah analisis regresi linier berganda. Persamaan analisis regresi linier berganda dapat ditunjukkan sebagai berikut : ................................... (3) Subskrip i menunjukkan nomor pengamatan dari 1 sampai N untuk data populasi atau sampai n untuk data contoh. Xki merupakan pengamatan ke-i untuk peubah bebas Xk. Koefisien 1 dapat merupakan intersep model regresi, jika semua pengamatan X1i bernilai 1 sehingga model (3) menjadi:
....................................... (4)

Y : Variabel respon yang dibentuk dalam vektor kolom dengan n buah observasi. Sebelum menganalisis hasil dari regresi linier berganda yang sudah didapat, terlebih dahulu harus melakukan beberapa pengujian yaitu uji normalitas, uji multikolineritas dan uji heteroskedastisitas. Uji autokorelasi tidak dilakukan karena data yang digunakan dalam penelitian bukan merupakan data time series.

29

1. Uji normalitas Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk mengetahui normalitas data yaitu metode Kolmogorov Smirnov. Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa Pvalue yaitu Asymp.Sig (2-tailed) bernilai 0,905 > 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual telah memenuhi asumsi distribusi normal. Hasil uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Gambar pada P Plot dimana titik-titik residual mengikuti pola garis lurus dan kurva berbentuk lonceng yang kedua sisinya melebar sampai tak terhingga juga dapat dilihat untuk mengetahui kenormalan data (Lampiran 2). Tabel 6. Uji Kolmogorov smirnov
Model Unstandardized Residual 0,554 0,918 > 0,05 Z Asymp.Sig Kriteria (2-tailed) Kesimpulan Data Berdistribusi Normal

2. Uji multikolineritas Pada penelitian ini menunjukkan tidak adanya gejala multikolinieritas karena nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 dan nilai VIF tidak lebih besar dari 10, seperti yang terlihat pada Tabel 7. Hasil uji multikolinerasi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 7. Uji Multikolinearitas
Variabel Komunikasi Kerjasama Kepercayaan Komitmen Saling ketergantungan Hubungan nilai Tolerance 0,228 0,400 0,313 0,487 0,333 0,453 VIF 4,395 2,498 3,191 2,055 2,999 2,205 Kriteria Kesimpulan Terbebas dari asumsi multikolinea ritas

Tolerance > 0,1 VIF < 10

3. Uji heteroskedastisitas Hasil pengolahan data pada model regresi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas. Hal tersebut terlihat dari Scatterplot yang menunjukkan terdapat titik-titik data yang tersebar di atas, di bawah dan sekitar angka nol, dan penyebaran titik data tidak berpola (Lampiran 2). Model analisis regresi linier berganda pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel komunikasi, kerjasama, kepercayaan, komitmen, saling ketergantungan dan hubungan nilai terhadap

30

hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi. Uji pembuktian dari hipotesis dilakukan dengan perhitungan koefisien korelasi yang menyatakan arah dan besar ataupun kuatnya korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil analisis regresi linier berganda dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Prediktor Konstan X1 X2 X3 X4 X5 X6 Koefisien 0,6799 0,1342 0,0199 -0,2662 0,2451 0,2350 0,3640 t 1,33 0,50 0,10 -1,24 1,30 1,07 1,69 P 0,191 0,621 0,923 0,224 0,204 0,292 0,101 R square F P

39,1 %

3,64

0,007

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 10, maka dapat dibuat model persamaan regresi linier berganda dari faktor-faktor kemitraan terhadap hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut sebagai berikut:
Y = 0,6799+0,1342 X1+0,0199 X20,2662 X3+0,2451 X4+0,2350 X5+0,3640 X6

Berdasarkan persamaan tersebut dapat dijelaskan beberapa hal yaitu: 1. Koefisien regresi X4 sebesar 0,2451 menunjukkan bahwa apabila variabel komitmen meningkat 1 satuan maka hubungan kemitraan akan meningkat sebesar 0,2451 dengan anggapan variabel bebas lainnya tetap. 2. Koefisien regresi X6 sebesar 0,3640 menunjukkan bahwa apabila variabel hubungan nilai meningkat 1 satuan maka hubungan kemitraan akan meningkat sebesar 0,3640 dengan anggapan variabel bebas lainnya tetap. 3. Nilai Koefisien determinasi (R2) dari model persamaan regresi linier berganda pada penelitian ini 39,1 persen. Hal ini menunjukkan bahwa model persamaan regresi dalam penelitian ini dapat menjelaskan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 39,1 persen. 4. Berdasarkan hasil analisis, nilai Fhitung > Ftabel (Fhitung sebesar 3,64 > Ftabel sebesar 2,41 (df1=6, df2=34, Q=0.05)), maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi (X1), kerjasama (X2), kepercayaan (X3), komitmen (X4), saling ketergantungan (X5) dan hubungan nilai (X6) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap hubungan kemitraan antara petani dan

31

penyuling akar wangi di Kabupaten Garut pada tingkat kepercayaan 95 persen (menolak H0 dan menerima H1). Berdasarkan analisis pada tingkat kepercayaan 90 persen dengan ttabel 1,645, variabel yang signifikan adalah hubungan nilai (X6) dengan thitung 1,69. Pada tingkat kepercayaan 80 persen dengan ttabel 1,282, variabel yang signifikan adalah komitmen (X4) dengan thitung 1,30. Variabel yang tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 90 persen maupun 80 persen adalah komunikasi (X1), kerjasama (X2), kepercayaan (X3) dan saling ketergantungan (X5). Pada variabel komitmen dan hubungan nilai tolak H0 dan terima H1 sedangkan pada variabel komunikasi, kerjasama, kepercayaan dan saling ketergantungan terima H0 dan tolak H1.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Analisis Rantai Pasok Minyak Akar Wangi Minyak akar wangi merupakan jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman akar wangi. Sentra produksi akar wangi di Indonesia ditunjukkan pada Tabel 9. Berdasarkan tabel tersebut, terdapat tiga propinsi yang menjadi sentra produksi akar wangi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Sentra akar wangi di Jawa Barat yang terletak di Kabupaten Garut merupakan penghasil akar wangi terbanyak dengan luas lahan terbesar yaitu 2.500 Ha. Sentra akar wangi di Kabupaten Garut mampu menghasilkan 90 persen lebih dari total produksi minyak akar wangi Indonesia, yaitu sekitar 60-75 ton per tahun (Sinar Tani, 2009). Sedangkan sentra produksi yang berada di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tidak mengalami perkembangan. Tabel 9 . Sentra Produksi Akar Wangi di Indonesia Jumlah Kabupaten 1 Jawa Barat 1 2 Jawa Tengah 2 3 DI Yogyakarta 3 Jumlah 6 Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (2007) No Propinsi Luas (Ha) 2.500 29 11 2.540

Budidaya akarwangi di Kabupaten Garut berdasarkan keputusan Bupati Kabupaten Garut Nomor : 520/SK. 196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996 menetapkan bahwa luas areal perkebunan akar wangi dan pengembangannya oleh masyarakat seluas 2.400 Ha, namun pada kenyataannya hanya terdapat 2.318 Ha areal perkebunan akar wangi yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Samarang seluas 1.141 Ha, Kecamatan Bayongbong seluas 112 Ha, Kecamatan Cilawu seluas 240 Ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 Ha. Lahan seluas 2.318 Ha tersebut dapat menghasilkan 75 ton minyak akar wangi dalam satu tahun, dengan rincian dapat dilihat pada Tabel 10.

33

Tabel 10. Luas Areal dan Produksi Akar Wangi di Kabupaten Garut Luas Areal Hasil Produksi (Ha) (Ton) Cilawu 240,00 8,00 Bayongbong 112,00 3,70 Samarang 1.141,00 37,40 Pasirwangi 75,00 2,50 Leles 750,00 23,40 Jumlah 2.318,00 75,00 Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Garut (2009) Berdasarkan data Dinas Perkebunan (2010), kegiatan pengembangan budidaya akar wangi melibatkan 1.203 orang sebagai pemilik (Kepala Keluarga) dan 52.717 orang tenaga kerja. Petani akar wangi tergabung dalam 33 Kelompok Tani yang tersebar di Kecamatan Samarang (9 Kelompok Tani), Leles (12 Kelompok Tani), Cilawu (10 Kelompok Tani) dan Bayongbong (2 Kelompok Tani). Jumlah pengolah atau penyuling sebanyak 30 unit usaha yang tersebar di Kecamatan Samarang dan Pasirwangi (11 unit usaha), Leles (12 unit usaha), Bayongbong (5 unit usaha), dan Cilawu (2 unit usaha). Minyak akar wangi asal Kabupaten Garut diekspor ke beberapa negara, diantaranya Jepang, Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Swiss, Italia, Jerman, Hongkong dan India. Negara yang saat ini mengembangkan komoditi akar wangi adalah Haiti dan Bourborn. Hasil produksi minyak akar wangi asal Kabupaten Garut termasuk nominatif dunia tetapi produksinya masih sangat terbatas baik dalam teknologi maupun permodalannya. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Perkoperasian Kabupaten Garut, pada tahun 2009 dan 2010 nilai penjualan ekspor komoditas minyak akar wangi tidak berubah yaitu sebesar 25.750 kg dengan nilai 1.416.250,00 US$. Kecamatan

34

Pada Gambar 9 dapat dilihat kegiatan rantai pasokan minyak akar wangi.

Gambar 9. Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Indonesia Rantai pasokan minyak akar wangi pada umumnya merupakan rangkaian kegiatan produktif yang terhubung antara aktifitas nilai yang satu dengan yang lain membentuk rantai nilai industri. Rantai pasok minyak akar wangi di Indonesia terputus sebatas eksportir saja, sedangkan konsumen industri merupakan negara tujuan ekspor. Anggota primer rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani akar wangi, pengumpul akar wangi, penyuling akar wangi, pengumpul minyak akar wangi dan eksportir minyak akar wangi. Setiap anggota rantai pasokan mempunyai fungsi dan peranan masing-masing untuk menghasilkan minyak akar wangi yang berkualitas tinggi. Rantai pasokan minyak akar wangi dimulai dari petani sebagai penghasil bahan baku akar wangi. Hasil panen akar wangi dari petani akan dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling akar wangi dengan harga antara Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000 per kg pada musim kemarau. Harga akar wangi sangat tergantung pada kualitas akar wangi sedangkan kualitas akar wangi sangat dipengaruhi oleh musim, keadaan tanah dan teknik budi daya yang dilakukan. Musim kemarau menyebabkan kualitas akar wangi lebih bagus karena dapat menghasilkan kandungan minyak yang lebih banyak. Pada

35

musim hujan, akar wangi dijual di bawah harga standar yaitu bisa mencapai Rp 1.200 per kg. Hasil panen akar wangi langsung diantarkan oleh petani ke penyuling ke tempat penyulingan dengan menggunakan mobil pick up atau truk. Biaya transportasi ditanggung oleh penyuling atau sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak. Selain pembelian langsung, pembelian akar wangi juga dapat dilakukan dengan cara penyuling membeli akar wangi yang masih ada di lahan dimana belum diketahui secara pasti berapa hasil panen akar wangi tersebut. Setelah bahan baku berada di tangan penyuling, kemudian dilakukan proses penyulingan untuk menghasilkan minyak akar wangi. Minyak akar wangi yang dihasilkan kemudian dijual ke pengumpul minyak akar wangi atau eksportir minyak akar wangi yang berada di luar wilayah Garut. Eksportir paling banyak berada di Bogor dan Jakarta. Eksportir mengekspor minyak akar wangi ke beberapa negara yaitu Jepang, Singapura, Inggris, USA, Swiss, Italia, Jerman, Hongkong, dan India. Harga minyak akar wangi berkisar antara Rp 1.000.000 sampai Rp 1.400.000 per kg tergantung pada kualitas minyak yang dihasilkan. Harga akan semakin mahal jika kualitas minyak semakin baik. Baik atau buruknya kualitas minyak akar wangi dapat diamati dari warna, bobot jenis, indeks bias dan kadar vetiverol. Gambaran mutu hasil penyulingan rakyat dibandingkan dengan beberapa standar mutu nasional dan internasional dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Perbandingan Mutu Minyak Akar Wangi Penyulingan Rakyat dengan Standar Mutu Nasional dan Internasional
Parameter Penyulingan Rakyat Coklat tua/gelap 0.98820.9870 1.5178-15221 26.82-51.17 Standar Mutu Indonesia Kuning mudacoklat kemerahan 0.980-1.003 1.520-1.530 10-35 Reunion Coklat-merah kecoklatan 0.99001.1015 1.52201.5300 Maks 35 Haiti Coklat-merah kecoklatan 0.98600.9980 1.521-1.526 Maks 14

Warna Bobot Jenis 20/20C Indeks Bias pada 20C Bilangan asam

36 Kelarutan dalam etanol 80% pada 20C Bilangan ester Vetiverol total (asetilasi) Kadar vetiverol

1:1 3.17-17.82 4.44-6.31

1:1 5-26 Min 50 -

Maks 1 : 2 5-16 -

Maks 1 : 2 5-16 -

Sumber: Tutuarima (2009) Aliran keuangan pada rantai pasokan minyak akar wangi terjadi dari konsumen, eksportir minyak akar wangi, pengumpul minyak akar wangi atau langsung ke penyuling minyak akar wangi, pengumpul akar wangi atau langsung ke petani akar wangi. Pengumpul minyak akar wangi atau penyuling memperoleh uang pembayaran yang ditransfer dari eksportir dalam jangka waktu satu sampai dua hari setelah minyak akar wangi dikirim. Petani memperoleh uang pembayaran secara tunai dari penyuling saat pengiriman akar wangi. Petani yang mempunyai hubungan kerjasama dengan penyuling sebesar 72 persen. Pada hubungan kerjasama tersebut penyuling memberikan modal kepada petani untuk usaha budidaya akar wangi. Hasil budidaya tersebut harus dijual kepada penyuling yang memberi modal dan dibeli dengan harga yang sedang berlaku yaitu Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Aliran informasi rantai pasokan minyak akar wangi terjadi pada eksportir minyak akar wangi, pengumpul minyak akar wangi, penyuling, pengumpul akar wangi dan petani. Aliran informasi tersebut mempunyai arus dua arah. Informasi dari konsumen ke eksportir berhubungan dengan status pengiriman, berapa banyak pesanan yang harus dikirim dan tanggal pengiriman. Komunikasi antara eksportir dengan penyuling terkait dengan harga minyak akar wangi yang berlaku dan tanggal pengiriman minyak akar wangi. Komunikasi tersebut dilakukan dengan menggunakan telepon selular. Komunikasi antara penyuling dengan petani dilakukan untuk mengetahui harga akar wangi, waktu panen akar wangi dan kapasitas panen akar wangi. Komunikasi tersebut biasanya dilakukan secara informal di lahan perkebunan saat para petani dan penyuling melakukan budidaya akar wangi.

37

Komunikasi antara petani akar wangi, pengumpul akar wangi dan penyuling minyak akar wangi dilakukan melalui rapat atau musyawarah. Rapat tersebut tidak dilakukan secara rutin. Biasanya rapat tersebut diadakan apabila ada hal yang sangat penting atau saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi USAR. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran anggota terhadap pentingnya rapat atau musyawarah. Masalah yang dibahas pada rapat tersebut berkaitan dengan bantuan modal, perijinan bahan bakar, penggunaan pupuk dan pemilihan bibit. Aktivitas pada anggota rantai pasokan akar wangi akan dibahas secara rinci pada sub bab berikut: 4.1.1 Aktivitas Petani Akar Wangi Usaha budidaya akar wangi di Kabupaten Garut dimulai pada tahun 1918. Umumnya kegiatan budidaya akar wangi merupakan kegiatan turun temurun. Petani akar wangi di Kabupaten Garut tersebar di Kecamatan Samarang (40 persen), Bayongbong (28 persen), Cilawu (28 persen) dan Leles (4 persen). Karakteristik petani akar wangi dibedakan menjadi tiga yaitu petani individu, petani kelompok dan petani penyuling. Sebesar 72 persen petani tergabung dalam kelompok tani. Kelompok tani diketuai oleh seorang penyuling yang berperan sebagai pemberi modal dan pembina teknik budidaya bagi anggotanya. Kesepakatan umum antara petani dan penyuling adalah petani harus menjual hasil panennya kepada ketua kelompok tani (penyuling pemberi modal). Namun, beberapa penyuling membebaskan anggota kelompok taninya menjual hasil panen kepada pengumpul atau penyuling lain dengan ketentuan petani dapat membayar modal pinjamannya. Kelompok tani akar wangi terdiri dari kelompok tani tidak berbadan hukum (40 persen) dan 32 persen lainnya berbentuk CV. Kelompok tani terbesar adalah Kelompok Tani Sinar Wangi jumlah anggota tani anggota. Luas lahan budidaya akar wangi milik petani bervariasi antara lain kurang dari 5 Ha (40 persen), 5-10 Ha (36 persen) dan lebih dari 10 Ha (24 persen). Hal tersebut mengindikasikan bahwa petani akar wangi di Kabupaten Garut merupakan petani kecil. Rata-rata hasil produksi akar wangi mencapai sebanyak 200

38

10-21 ton per hektar. Usaha budidaya akar wangi umumnya merupakan usaha turun temurun. Lama usaha budidaya yang telah dijalankan oleh petani antara lain kurang dari 10 tahun (12 persen), 10-20 tahun (40 persen), 20-30 tahun (32 persen), 30-40 tahun (12 persen) dan lebih dari 40 tahun (4 persen). Budidaya akar wangi dapat dilakukan dengan sistem monokultur dan tumpang sari. Petani yang melakukan budidaya akar wangi dengan sistem tumpang sari sebanyak 84 persen. Tahapan budidaya akar wangi yaitu pembibitan, pencangkulan, penanaman, pemangkasan daun, penyiangan, pemupukan dan pemanenan. Pembibitan akar wangi dilakukan dengan cara memisahkan daun dan akar kemudian diambil bonggol akarnya untuk ditanam. Bibit yang diperlukan untuk satu hektar lahan 10.000 rumpun. Setelah penyiapan bibit, proses budidaya dilanjutkan dengan pencangkulan secara manual kemudian dilakukan proses penanaman. Saat akar wangi berusia lima bulan sebaiknya dilakukan pemangkasan daun agar meningkatkan pertumbuhan akar. Proses penyiangan dilakukan sebanyak tiga kali selama musim tanam. Masa penyiangan pertama dilakukan pada saat akar berusia antara satu sampai dua bulan. Masa penyiangan kedua dilakukan antara usia tiga sampai empat bulan dan masa penyiangan ketiga dilakukan antara usia empat sampai enam bulan. Proses penyiangan dimaksudkan untuk menghilangkan tanaman-tanaman penganggu yang dapat mengurangi nutrisi bagi akar. Selain itu penyiangan juga berpengaruh pada jumlah rendemen minyak akar wangi. Pemupukan dilakukan saat akar berusia dua sampai empat bulan. Tidak semua petani melakukan proses pemupukan karena tidak sesuainya harga beli pupuk yang dikeluarkan dengan harga jual akar wangi yang dihasilkan. Selain alasan tersebut, sebagian petani menyatakan bahwa tanaman akar wangi dapat tetap tumbuh dengan baik walaupun tidak diberi pupuk. Pemberian pupuk biasanya dilakukan oleh petani akar wangi yang menerapkan sistem tumpang sari. Jenis pupuk anorganik yang digunakan antara lain ZA, TSP, NPK dan KCL sedangkan pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang. Saat tanaman akar wangi berusia 12 bulan maka tanaman siap dipanen. Sebagian besar petani memanfaatkan tenaga kerja borongan untuk proses

39

pemupukan, penyiangan dan pemanenan. Upah tenaga kerja borongan sebesar Rp 15.000 Rp 20.000 per hari untuk wanita dan Rp 25.000 Rp 35.000 per hari untuk laki-laki. Permasalahan yang ditemui dalam budidaya akar wangi antara lain ketersediaan bibit yang tidak konsisten, mutu bibit tidak sesuai dengan yang diharapkan dan cuaca yang tidak menentu. Petani menjual hasil panen akar wangi kepada pengumpul atau penyuling. Petani individu menjual hasil panennya kepada pengumpul atau penyuling yang membeli dengan harga paling tinggi. Petani kelompok menjual hasil panennya kepada penyuling yang memberi pinjaman modal sedangkan petani penyuling langsung menyuling hasil panen tersebut sendiri. Harga jual akar wangi berkisar antara Rp 1.200-Rp 3.000 per kg berat basah. Harga jual akar wangi cenderung turun pada harga Rp 1.200 saat musim hujan. Namun kebanyakan petani menjual pada harga Rp 2.000 per kg. Tidak ada kendala yang signifikan dalam penjualan akar wangi karena seluruh hasil panen pasti dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling akar wangi. Modal petani umumnya adalah modal sendiri atau modal pinjaman dari saudara. Modal yang dibutuhkan petani dalam satu masa tanam kurang dari Rp 25.000.000. Kendala modal sering dihadapi oleh petani karena lamanya masa tanam. Hal tersebut menyebabkan petani menjual akar wangi dengan sistem ijon saat tanaman berumur delapan bulan dan siap dipanen setelah berumur 12 bulan. Sebagian besar petani tidak memanfaatkan fasilitas kredit dari lembaga keuangan karena persyaratan yang terlalu memberatkan dan berbelit-belit. Petani sangat mengharapkan peran pemerintah dalam memberi bantuan permodalan atau meringankan persyaratan pinjaman di lembaga keuangan. Petani akar wangi yang melakukan kemitraan sebesar 76 persen. Mitra petani antara lain adalah kelompok tani, penyuling, pengumpul bahan baku, Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Garut. Bentuk kemitraan yang dilakukan antara lain pembelian bibit, pelatihan budidaya akar wangi, pemberian modal dan pemasaran akar wangi. Manfaat yang diperoleh selama bermitra antara lain meningkatkan

40

pendapatan dan meningkatkan hasil budidaya karena adanya pembinaan budidaya. Harapan petani untuk bisnis akar wangi antara lain meluasnya pangsa pasar akar wangi Indonesia di dunia dengan peningkatan kualitas dan kuantitas akar wangi, tingginya harga akar wangi sehingga dapat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani akar wangi. Selain itu bantuan dari pemerintah untuk meningkatkan bisnis akar wangi juga sangat diharapkan.

4.1.2 Aktivitas Pengumpul Akar Wangi Pengumpul akar wangi mengumpulkan hasil panen akar wangi dari beberapa petani yang kemudian dijual kepada penyuling akar wangi. Pengumpul individu bekerja sendiri karena tidak ada kelompok pengumpul akar wangi secara khusus. Pengumpul yang juga berperan sebagai petani atau penyuling bergabung dalam suatu kelompok tani. Jumlah pengumpul akar wangi tidak banyak, hanya terdapat satu atau dua orang pengumpul dalam satu wilayah kecamatan. Lama usaha yang telah dijalankan oleh pengumpul rata-rata lebih dari lima tahun. Usaha lain yang dijalankan oleh pengumpul akar wangi adalah sebagai petani sayuran atau pedagang kelontongan. Pengumpul akar wangi membeli akar wangi langsung dari petani setelah panen. Pengumpul biasanya mendapat modal dari penyuling untuk mencari akar wangi. Apabila terjadi kekurangan pasokan, maka pengumpul mencari akar wangi ke luar wilayah. Sebagian pengumpul akar wangi melakukan penyulingan sendiri dengan menyewa alat suling kepada penyuling. Pengumpul akar wangi mampu mengumpulkan rata-rata 4-5 ton per hari dengan harga Rp 2.000 - Rp 3.000 per kg. Sistem pemesanan dilakukan secara langsung dengan mekanisme bayar cash and carry yaitu membayar secara langsung (kas) kemudian dapat membawa akar wangi yang sudah dibeli. Modal yang digunakan oleh pengumpul berasal dari modal sendiri atau pinjaman dari penyuling. Modal awal yang dibutuhkan oleh pengumpul antara lain kurang dari Rp 25.000.000 untuk pengumpul berskala kecil dan Rp 25.000.000 sampai Rp 50.000.000 untuk pengumpul berskala besar. Tidak

41

ada pengumpul akar wangi yang memanfaatkan pinjaman kredit dari bank karena persyaratan yang rumit. Solusi dalam masalah permodalan yaitu dengan melakukan kerjasama dengan penyuling. Kerjasama tersebut dilakukan dengan cara pengumpul mencari bahan baku akar wangi dari petani untuk penyuling dengan menggunakan modal pinjaman dari penyuling. Kendala yang dialami pengumpul adalah ketersediaan akar wangi yang tidak konsisten serta mutu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mutu yang tidak sesuai menyebabkan rendahnya harga akar wangi. Harapan pengumpul akar wangi untuk keberlanjutan bisnis akar wangi di masa depan adalah bisnis akar wangi akan semakin baik.

4.1.3 Aktivitas Penyuling Akar Wangi Penyuling akar wangi di Kabupaten Garut tersebar di Kecamatan Samarang, Bayongbong, Cilawu, Leles dan Pasirwangi. Penyuling individu di Kabupaten Garut sebesar 25 persen sedangkan penyuling yang bergabung dalam kelompok penyuling USAR sebesar 75 persen. Bentuk usaha penyuling akar wangi adalah tidak berbadan hukum (66,7 persen), persekutuan komanditer (8,3 persen) dan koperasi (25 persen). Persentase jumlah penyuling menurut bentuk usaha dapat dilihat pada Gambar 10. Lama penyuling menjalankan usaha antara lain lebih 20 tahun sebesar 75 persen, 10 20 tahun sebesar 16,67 persen dan kurang dari 10 tahun sebesar 8,3 persen.

Gambar 10. Jumlah Penyuling Menurut Bentuk Usaha Penyuling akar wangi yang juga merupakan petani akar wangi di Kabupaten Garut sebesar 44 persen. Penyuling membeli akar wangi dari pengumpul akar wangi atau langsung dari petani akar wangi. Penyuling akar wangi yang diberi pinjaman modal oleh pengumpul minyak akar wangi atau eksportir minyak akar wangi dengan ketentuan minyak akar wangi hasil sulingannya didistribusikan kepada pemberi pinjaman modal sebesar 50

42

persen. Pengiriman minyak dilakukan apabila minyak sudah terkumpul ratarata 40 kg. Saat musim kemarau yaitu pada bulan Juli September, produksi minyak akar wangi lebih banyak. Penyuling dapat mengumpulkan 50 kg minyak akar wangi selama seminggu. Modal awal yang dibutuhkan oleh penyuling akar wangi adalah sebesar Rp 100.000.000. Penyuling memenuhi kebutuhan modal tersebut dari modal sendiri (50 persen) dan 50 persen lainnya dari pinjaman eksportir. Penyuling yang memanfaatkan jasa kredit dari Bank Umum sebesar 8,33 persen dan jasa kredit dari Kementrian UKM sebesar 16,67 persen, sedangkan 75 persen penyuling tidak memanfaatkan jasa kredit karena rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi. Hal tersebut menyatakan bahwa umumnya penyuling akar wangi di Kabupaten Garut tidak memanfaatkan jasa kredit untuk permodalan dari perbankan. Proses produksi minyak akar wangi dilakukan dengan cara dikukus menggunakan ketel stainless steel (50 persen), menggunakan boiler atau sistem uap terpisah (33 persen) dan menggunakan sistem rebus (17 persen). Bahan bakar yang digunakan dalam proses produksi adalah solar dan oli bekas. Harga solar Rp 4.500 per liter sedangkan harga oli antara Rp 2.200 sampai Rp 2.500 per liter. Namun di daerah Leles masih menggunakan kayu bakar. Kenaikan harga bahan bakar minyak membuat biaya operasional semakin meningkat. Selain itu kelangkaan bahan bakar memperburuk kondisi penyulingan. Akibatnya banyak usaha penyulingan yang tidak beroperasi karena tidak bisa menutupi biaya operasional dari harga jual minyak. Kualitas minyak akar wangi dipengaruhi oleh suhu dan tekanan yang digunakan selama proses produksi. Penyuling menghemat bahan bakar dengan cara melakukan proses pengukusan yang tidak terlalu lama dan menaikkan tekanan pada 5 bar yang sebelumnya dijaga pada 3 bar dengan suhu 140-160C pada sistem kukus. Pada sistem uap terpisah atau boiler suhu ditetapkan pada 120 dengan tekanan 2-3 bar selama 20 jam. Tekanan yang rendah membuat kualitas minyak akar wangi lebih baik. Tekanan yang tinggi dapat menyebabkan minyak akar wangi gosong.

43

Penyuling membutuhkan waktu 12 jam untuk satu kali proses penyulingan. Waktu yang digunakan untuk memasukkan dan membongkar akar wangi ke dalam tungku adalah dua jam dan sepuluh jam digunakan untuk proses pengukusan. Satu hari satu alat suling dapat digunakan untuk dua kali proses penyulingan. Kapasitas tungku per penyulingan sebesar 1,2-2 ton akar wangi. Minyak akar wangi yang dihasilkan dalam satu kali suling sebesar 4-8 kg dalam kondisi akar wangi yang bagus. Rendemen rata-rata yang dihasilkan adalah 0,4-0,5 persen. Hasil minyak akar wangi kemudian dijual ke pengumpul minyak akar wangi atau ke eksportir. Permasalahan yang dihadapi oleh penyuling adalah ketersediaan bahan baku yang tidak konsisten, kualitas bahan baku yang tidak sesuai standar, modal dan alat suling yang tidak sesuai standar. Alat pemisah air dan minyak yang masih sederhana menyebabkan kualitas minyak kurang bagus dan rendahnya rendemen akibat tingginya penyusutan. Selain itu, mutu oli bekas yang rendah membuat pembakaran tidak optimal karena terlalu banyak dicampur dengan cairan lain. Tidak ada kesulitan yang dialami oleh penyuling akar wangi dalam memasarkan minyak akar wangi. Wilayah pemasaran minyak akar wangi yaitu 75 persen di Kabupaten Garut dan 25 persen di Jakarta dan Bogor. Penyuling melakukan penjualan minyak secara individu ke pengumpul atau eksportir. Pengumpul biasanya mendatangi tempat penyulingan atau penyuling mengirim langsung minyak ke pengumpul atau eksportir tersebut. Penyuling melakukan kerjasama dengan petani, pengumpul atau eksportir dan pemasok bahan bakar. Kerjasama antara penyuling dengan pemasok bahan bakar berupa dagang umum dengan hubungan jangka pendek. Sedangkan kerjasama antara penyuling, petani dan pengumpul atau eksportir merupakan hubungan sub kontrak jangka panjang. Kerjasama yang dibentuk memudahkan penyuling untuk melakukan usaha penyulingan. Manfaat melakukan kerjasama antara lain mendapat informasi dengan efektif. Informasi yang didapat berupa informasi mengenai proses penyulingan, harga minyak akar wangi dan mutu minyak akar wangi.

44

4.1.4 Aktivitas Pengumpul Minyak Akar Wangi Berdasarkan suvey, jumlah pengumpul minyak akar wangi berskala besar di Kabupaten Garut ada dua. Kedua pengumpul minyak akar wangi tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Salah satu pengumpul minyak akar wangi di Kabupaten Garut merupakan perwakilan eksportir dari PT. Djasula Wangi Jakarta. PT Djasula Wangi merupakan perusahaan ekspor impor minyak atsiri yang didirikan sejak 1962. Pengumpul yang merupakan perwakilan PT Djasula Wangi ini sangat memperhatikan kualitas minyak akar wangi sedangkan pengumpul yang lain tidak memperhatikan kualitas minyak akar wangi. Adanya pengumpul yang tidak memperhatikan kualitas minyak akar wangi menyebabkan penyuling tidak memperhatikan kualitas pada proses penyulingannya karena menganggap minyak akar wangi akan tetap terjual walaupun dengan kualitas yang rendah. Hal tersebut juga menyebabkan daya saing minyak akar wangi Indonesia di dunia menurun. Harga minyak akar wangi Indonesia tidak dapat bersaing dengan harga minyak akar wangi dari negara pesaing. Lama usaha yang telah dijalankan oleh pengumpul minyak akar wangi yaitu lebih dari sepuluh tahun. Modal awal yang dibutuhkan oleh pengumpul minyak akar wangi lebih dari Rp 100.000.000. Pada umumnya pengumpul minyak akar wangi mendapatkan bantuan modal dari eksportir. Pasokan minyak akar wangi berasal dari penyuling yang berada di Kabupaten Garut. Saat panen raya pengumpul minyak mampu

mengumpulkan 100 kg 400 kg minyak akar wangi dalam satu minggu. Sedangkan saat musim paceklik hanya mampu mengumpulkan 200 kg dalam waktu sepuluh hari. Minyak yang terkumpul tersebut langsung dikirim ke eksportir yang berada di luar wilayah Garut yaitu Jakarta dan Bogor. Pengumpul minyak akar wangi merupakan price taker sehingga tidak mengetahui secara pasti harga ekspor minyak. Permasalahan yang sering muncul adalah ketersediaan minyak akar wangi yang tidak konsisten dan mutu minyak akar wangi yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan eksportir. Mutu minyak yang tidak sesuai dengan standar yang ditentukan tidak akan diterima oleh eksportir. Oleh karena itu, pengumpul minyak akar

45

wangi membutuhkan pengalaman untuk menguji standar mutu sebelum diuji oleh laboratorium eksportir.

4.1.5 Sumber Daya Rantai Pasokan 1. Sumber Daya Fisik Sumber daya fisik rantai pasokan minyak akar wangi meliputi lahan pertanian dan sarana prasarana penyulingan. Sarana dan prasarana penyulingan seperti ketel dan pipa harus mendapat perhatian khusus. Umur ekonomis dari alat suling (ketel) adalah sekitar 10 15 tahun. 2. Sumber Daya Teknologi Penyulingan akar wangi di Kabupaten Garut masih dilakukan secara tradisional yaitu menggunakan sistem kukus. Penyulingan dengan menggunakan sistem uap terpisah (boiler) masih sangat sedikit. Bantuan peralatan yang didapat masih ada kendala operasional yaitu kapasitas mesin yang masih kurang. Kendala lain adalah belum adanya operator yang ahli tentang mesin tersebut dan mesin masih banyak kendala teknis. Perbedaan tipis keuntungan antara proses penyulingan uap terpisah dengan proses kukus membuat penyuling masih menggunakan sistem kukus. 3. Sumber Daya Manusia Proses penyulingan melibatkan dua orang tenaga kerja dalam satu kali penyulingan yang bertindak sebagai operator. Proses pencucian melibatkan pekerja borongan yang biasanya dilakukan oleh suami dan istri. 4. Sumber Daya Permodalan Pembiayaan pada budidaya akar wangi cukup sulit didapat dari perbankan. Syarat yang rumit dan adanya agunan membuat petani enggan untuk meminjam modal dari perbankan. Petani lebih memilih menggunakan modal sendiri, modal dari saudara atau modal pinjaman dari penyuling. Petani lebih nyaman membayar pinjaman dengan hasil panen mereka. Hal serupa juga terjadi pada penyuling. Penyuling lebih memilih menggunakan modal sendiri atau modal pinjaman dari pengumpul minyak atau eksportir. Syarat perbankan yang menuntut kepastian hasil dari penyuling sedangkan

46

rendemen tidak dapat ditentukan secara pasti membuat penyuling tidak menggunakan jasa kredit dari perbankan. Anggota rantai pasokan minyak akar wangi sangat memerlukan bantuan modal dari pemerintah dan perbankan. Sistem bagi hasil perlu diterapkan untuk memberikan bantuan modal kepada penyuling atau petani sehingga tidak memberatkan bagi peminjam.

4.2. Gambaran Umum Kemitraan Kemitraan antara petani dan penyuling pada bisnis akar wangi terjadi dalam suatu kelompok tani. Kemitraan yang terjadi ada yang termasuk pada pola kemitraan inti plasma dimana penyuling sebagai perusahaan inti menyediakan lahan, modal serta memasarkan hasil produksi dan para petani sebagai plasma yang bertugas memenuhi kebutuhan perusahaan inti dengan persyaratan yang telah disepakati. Keunggulan dari sistem inti plasma diantaranya adalah terciptanya saling ketergantungan dan saling memperoleh keuntungan serta terciptanya peningkatan usaha karena adanya pembinaan dari perusahaan inti. Kelemahan dari sistem inti plasma antara lain pihak plasma masih kurang memahami hak dan kewajibannya sehingga kesepakatan yang telah ditetapkan berjalan kurang lancar serta belum adanya kontrak kemitraan yang menjamin hak dan kewajiban komoditas plasma sehingga terkadang pengusaha inti mempermainkan harga komoditas plasma. Kelompok tani diketuai oleh penyuling yang mempunyai beberapa petani binaan sebagai anggotanya. Menurut hasil survey, alasan para petani bergabung dalam suatu kelompok tani antara lain untuk mendapat bantuan modal (53,3 persen), untuk mendapatkan jaminan pasar (43,3 persen) dan untuk mengetahui tata cara budidaya yang baik (3,3 persen). Petani yang mengetahui dan memahami peraturan kemitraan yang dilakukan sebesar 90 persen sedangkan 10 persen tidak mengetahuinya. Petani yang terlibat dalam pembuatan peraturan kemitraan sebesar 70 persen. Hak petani dalam kemitraan antara lain mendapat bantuan modal dan mendapat pengetahuan mengenai tata cara budidaya akar wangi yang benar sedangkan kewajibannya adalah

47

memasok hasil panen akar wangi kepada penyuling dan mengembalikan pinjaman modal. Jumlah petani yang mendapatkan bantuan sarana produksi dalam kemitraan sebesar 6,7 persen. Jarangnya bantuan sarana produksi dalam suatu kelompok tani dikarenakan biasanya petani sudah mempunyai sendiri peralatan untuk bertani. Petani yang mendapat bantuan modal sebesar 53,3 persen sedangkan 46,7 persen tidak mendapat bantuan modal. Secara keseluruhan petani menganggap tidak merasakan ada masalah selama mengikuti kemitraan. Petani mengganggap peranan kemitraan terhadap keberlangsungan usaha sangat penting (30 persen), 56,7 persen menjawab penting dan 13,3 persen menjawab cukup penting. Secara keseluruhan petani menganggap peranan kemitraan terhadapkeberlangsungan usaha penting karena dapat menghasilkan manfaat timbal balik baik bagi petani maupun penyuling. Persentase persepsi petani terhadap hubungan kemitraan dapat dilihat pada Gambar 11. Peran pemerintah dalam kemitraan kelompok tani akar wangi di Kabupaten Garut masih jarang, hanya 13,3 persen petani yang menjawab adanya peran pemerintah dalam kemitraan yang dijalankan.

13,3% 30%

56,7%

Gambar 11. Persepsi Petani terhadap Kemitraan Alasan penyuling akar wangi bergabung dalam kelompok tani adalah untuk mendapatkan jaminan pasokan akar wangi dari petani. Penyuling mengetahui dan memahami peraturan kemitraan yang dilakukan karena biasanya para penyuling yang membuat peraturan tersebut. Hak penyuling dalam kemitraan antara lain mendapat pengembalian pinjaman modal yang diberikan kepada petani dan mendapat pasokan akar wangi. Kewajibannya

48

antara lain memberi bantuan modal dan memberi binaan mengenai tata cara budidaya akar wangi yang baik. Jumlah penyuling yang menganggap tidak ada masalah dalam melakukan kemitraan sebesar 72,7 persen sedangkan 27,3 persen penyuling menjawab masih ada masalah dalam kemitraan. Masalah yang terjadi dalam kemitraan adalah selama mengikuti kemitraan petani mitra terkadang menjual sebagian hasil produksi akar wanginya ke penyuling lain. Penyuling yang menganggap bahwa peranan kemitraan terhadap keberlangsungan usaha adalah sangat penting sebesar 63,3 persen. Bentuk kemitraan lain yang terjadi antara petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut adalah koperasi. Koperasi tersebut didirikan pada tahun 2010 dengan nama Koperasi USAR (Usaha Rakyat) yang diketuai oleh Bapak Ede Kadarusman. Kegiatan koperasi tersebut saat ini adalah proses sosialisasi dan perekrutan kepada petani dan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut. Koperasi USAR diharapkan dapat memberikan keuntungan bersama baik saat proses budidaya maupun proses penjualan dan penetapan harga agar terciptanya kesejahteraan pada pelaku usaha akar wangi khususnya petani.

4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kemitraan Kondisi kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi dilihat berdasarkan faktor-faktor kemitraan antara lain: 1. Komunikasi Komunikasi dalam suatu kelompok tani antara petani dan penyuling dilakukan secara lisan dan dua arah. Komunikasi tersebut biasanya dilakukan secara intensif di lahan perkebunan saat para petani bekerja dan penyuling yang memonitori. 2. Kerjasama Kerjasama yang dilakukan dalam kelompok tani selama ini merupakan hubungan simbiosis mutualisme. Petani memperoleh manfaat bantuan modal sedangkan penyuling mendapat ketersediaan pasokan bahan baku akar wangi.

49

3. Kepercayaan Kepercayaan antara petani dan penyuling terjadi dengan cukup baik. Petani maupun penyuling percaya bahwa mitra mereka akan menjalankan kewajibannya dan melakukan yang terbaik demi hubungan kemitraan. 4. Komitmen Komitmen dalam hubungan kemitraan akar wangi tidak cukup baik. Masih ada petani yang memasok bahan baku kepada penyuling lain serta memasok bahan baku dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda dengan yang telah disepakati. 5. Saling ketergantungan Antara petani dan penyuling selalu ada saling ketergantungan. Biasanya dalam kelompok tani, penyuling mempunyai kemampuan untuk

mempengaruhi petani melakukan apa yang diinginkannya. 6. Hubungan nilai Kesamaan budaya dan kesamaan prinsip yang dianut oleh petani maupun penyuling dapat meningkatkan hubungan nilai dalam kelompok tani. Variabel bebas yang signifikan berdasarkan uji t pada tingkat kepercayaan 90 persen adalah hubungan nilai. Faktor hubungan nilai pada hubungan kemitraan antara petani dan penyuling akar wangi salah satunya ditentukan oleh kesamaan budaya. Pada kasus dalam penelitian ini, para petani dan penyuling yang tergabung dalam suatu kelompok tani biasanya memiliki tempat tinggal yang berdekatan atau masih dalam satu wilayah. Hal tersebut menyebabkan adanya kesamaan budaya diantara mereka. Seseorang cenderung lebih baik, lebih menghargai dan lebih mempercayai orang lain yang memiliki budaya yang sama, maka hal tersebut dapat menyebabkan meningkatnya hubungan yang erat antara petani dan penyuling. Selain kesamaan budaya, hubungan nilai ditentukan juga oleh kesamaan prinsip, etika dan hubungan baik antara petani dan penyuling. Kesamaan prinsip dapat membuat pelaku kemitraan tersebut lebih semangat dalam menjalankan peran masing-masing sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati bersama untuk mecapai tujuan bersama. Sedangkan etika dan hubungan baik

50

dapat meningkatkan hubungan kemitraan. Petani dan penyuling saling menjaga etika dan hubungan baik demi terjaganya hubungan kemitraan. Hubungan kemitraan antara petani dan penyuling juga dipengaruhi oleh faktor komitmen. Seluruh anggota dalam suatu kelompok tani dituntut untuk menjalankan tugas masing-masing sesuai dengan kesepakatan dan

memastikan bahwa hubungan mitra tersebut akan berkesinambungan. Pada kemitraan di bisnis akar wangi masih ada petani yang melanggar komitmennya dengan menjual hasil panennya kepada penyuling lain. Hal tersebut membuat hubungan kemitraan yang dijalankan tidak berjalan sesuai harapan. Hubungan kemitraan yang telah dibangun dalam suatu kelompok tani dapat dikelola dengan meningkatkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemitraan tersebut agar pelaksanaan kemitraan dapat berjalan dengan baik dan dapat memberikan hasil yang optimal kepada para pelaku kemitraan. Peningkatan dalam faktor hubungan nilai dapat dilakukan dengan cara lebih menjaga etika dan hubungan baik antara petani dan penyuling serta lebih memahami dan menyadari nilai-nilai yang telah disepakati bersama. Komitmen antara petani dan penyuling dapat ditingkatkan dengan membuat kesepakatan tertulis yang dapat mengikat para pelaku kemitraan untuk menjalankan kewajibannya dengan baik dan tidak melanggar ketentuan yang sudah disepakati. Adanya kesepakatan tertulis, apabila ada salah satu mitra yang melanggar kesepakatan dapat dikenai sanksi. Petani dan penyuling akar wangi serta semua pelaku bisnis minyak akar wangi dapat mengambil contoh dari hubungan kemitraan yang dijalankan oleh pebisnis minyak nilam di Medan. Hubungan kemitraan minyak nilam dilakukan dengan pendekatan Proyek Kemitraan Terpadu (PKT). PKT merupakan suatu kemitraan terpadu yang melibatkan usaha besar, usaha kecil dan bank sebagai badan pemberi kredit dalam suatu kontrak kerjasama yang dituangkan dalam surat perjanjian. PKT mempunyai tujuan meningkatkan kelayakan plasma, meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma. Perusahaan inti (industri pengolahan atau eksportir) dan petani mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dalam PKT.

51

Kemitraan yang dilakukan disertai dengan pembinaan oleh perusahaan inti, dimulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi.

4.4. Implikasi Manajerial Rantai pasokan minyak akar wangi harus berjalan secara efektif dan efisien. Hal yang dapat dilakukan agar rantai pasokan berjalan dengan baik antara lain perencanaan sumber daya manusia, keuangan, pemasaran dan teknologi. Perencanaan sumberdaya manusia dapat dilakukan dengan

peningkatan keahlian setiap anggota rantai pasokan agar dapat menghasilkan kualitas minyak akar wangi yang baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan budidaya akar wangi dan pelatihan penyulingan akar wangi. Perencanaan pemasaran dapat dilakukan dengan hubungan kerjasama antar pelaku rantai pasok akar wangi mulai dari petani sampai eksportir. Hal tersebut dapat memberikan kepastian pasar bagi produk minyak akar wangi yang dihasilkan. Perencanaan teknologi dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi terkini dalam proses penyulingan minyak akar wangi. Setelah perencanaan disusun maka harus dilakukan pengaplikasian dari rencana tersebut, yang kemudian harus dilakukan kontrol dan evaluasi terhadap apa yang sudah direncanakan dan yang terjadi saat pelaksanaan rencana. Petani dan penyuling akar wangi dalam suatu kelompok tani diharapkan untuk lebih membina hubungan baik agar kemitraan yang dijalankan dapat memberikan manfaat. Salah satu manfaat bagi petani adalah mendapatkan bantuan modal untuk proses budidaya akar wangi agar usaha budidayanya dapat berjalan berkesinambungan. Selain itu manfaat lainnya adalah kepastian terjualnya hasil panen akar wangi dengan harga yang telah disepakati. Sedangkan untuk penyuling, manfaat yang didapat adalah mendapat pasokan bahan baku akar wangi agar keberlangsungan usaha penyulingan akar wangi yang ia miliki tidak terhenti karena kurangnya pasokan bahan baku. Selain itu hubungan kemitraan juga dapat meningkatkan pendapatan bagi petani dan penyuling akar wangi.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan uraian hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal dari hasil penelitian, antara lain : 1. Sentra produksi minyak akar wangi di Kabupaten Garut terdapat di Kecamatan Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Anggota primer rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari petani, pengumpul akar wangi, penyuling, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir. Akar wangi yang telah dipanen oleh petani dibeli oleh pengumpul akar wangi atau penyuling. Minyak akar wangi yang dihasilkan oleh penyuling langsung dijual dan dikirim kepada pengumpul minyak akar wangi atau langsung ke eksportir. Harga akar wangi ditentukan oleh penyuling atau kesepakatan petani dan penyuling. Sedangkan harga minyak akar wangi ditentukan oleh pengumpul minyak akar wangi atau eksportir. Harga akar wangi atau minyak akar wangi bergantung pada tingkatan kualitasnya. Semakin tinggi kualitas maka harganya semakin tinggi. Aliran informasi berupa komunikasi personal dan kelompok antar anggota rantai pasok yang berlangsung secara dua arah. 2. Pelaksanaan kemitraan antara petani dengan penyuling akar wangi di Kabupaten Garut dapat diteruskan karena dengan mengikuti kemitraan memberikan manfaat bagi petani maupun penyuling. Manfaat yang diperoleh penyuling adalah dapat memenuhi kebutuhan bahan baku. Sedangkan manfaat yang diperoleh petani adalah adanya jaminan pasar untuk hasil produksi akar wanginya dan mendapat bantuan modal. 3. Berdasarkan hasil analisis model fungsi regresi linear berganda tidak mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan kemitraan antara petani dan penyuling karena koefisien determinasi dari model tersebut kecil, yaitu 39,1 persen terhadap hubungan kemitraan. Sedangkan nilai peluang kesalahan dalam model ini adalah 0,007.

53

2. Saran Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah : 1. Sebaiknya fungsi dari kelompok kemitraan lebih ditingkatkan secara efektif dan efisien agar dapat memberikan manfaat yang besar untuk petani dan penyuling akar wangi. 2. Penelitian lanjutan yang terkait dengan hubungan kemitraan agar dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor kemitraan yang lebih sesuai dengan kondisi petani dan penyuling akar wangi.

54

DAFTAR PUSTAKA

Algifari. 2000. Analisis Regresi, Teori, Kasus dan Solusi. BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta. Anatan, L. dan Ellitan, L. 2008. Supply Chain Management, Teori dan Aplikasi. Alfabeta, Bandung. Aryani, L. 2009. Analisis Pengaruh Kemitraan Terhadap Pendapatan Usahatani Kacang Tanah (Kasus Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Kacang Tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Skripsi pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Boeck, H. dan S Wamba. 2007. RFID and Buyer-Seller Relationships in the Retail Supply Chain. International Journal of Retail & Distribution Management 36: 433-460. Dinas Perkebunan Kabupaten Garut. 2010. Luas Lahan dan Produksi Akar Wangi tahun 2009. Garut. Garutkab. 2009. Peluang Investasi Minyak Akar Wangi. http://www.garutkab.co.id. [4 Mei 2011] Haming, M. dan M Nurnajamuddin. 2007. Manajemen Produksi Modern, Operasi Manufaktur dan Jasa. Bumi Aksara. Jakarta. Heizer, J. dan B Render. 2010. Manajemen Operasi. Buku 2. Salemba Empat, Jakarta. Marimin. dan N Maghfiroh. 2010. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Rantai Pasok. IPB Press, Bogor. Mulyati H, Rusli MS, Cahyadi ER, Setiawan A. 2009. Rancang Bangun Sistem Manajemen Rantai Pasokan dan Risiko Minyak Akar Wangi Berbasis IKM di Indonesia. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor. Nugroho, B. A. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian Dengan SPSS. Andi Offset, Yogyakarta. Pratiwi, D R. 2006. Mempelajari Efektivitas Peran Gugus Kendali Mutu dalam Peningkatan Kinerja Perusahaan (Studi Kasus: PT Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap). Skripsi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Satria, T A. 2009. Analisis Rencana Kemitraan antara Petani Kacang Tanah dengan CV Mitra Priangan (Kasus pada Petani Kacang Tanah di Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur). Skripsi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Siagian,Y. M. 2005. Aplikasi Supply Chain Management dalam Dunia Bisnis. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Sinar Tani. 2009. Akar Wangi Sebagai Penghasil Minyak Atsiri. http://www.sinartani.com. [20 Juni 2011]

Suliyanto. 2005. Analisis Data Dalam Aplikasi Pemasaran. Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor. Sunyoto, D. 2009. Analisis Regresi dan Uji Hipotesis. MedPress, Yogyakarta. Sumardjo. dan J Sulaksana, W A Darmono. 2004. Teori dan Praktik Kemitraan Agribisnis. Penebar Swadaya, Depok. Tutuarima, T. 2009. Rekayasa Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi Dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap. Tesis pada Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Umar, H. 2002. Metode Riset Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

57

Lampiran 1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas


Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kemitraan
Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nilai r 0,644 0,594 0,708 0,806 0,814 0,869 0,550 0,537 0,646 0,691 0,500 0,499 0,622 0,481 0,504 0,505 0,361 0,521 0,586 0,485 0,526 1,000 0,481 0,600 0,675 0,473 0,358 0,352 0,485 1,000 Nilai r Tabel 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 Validitas VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID Pertanyaan 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Nilai r 0,608 0,529 0,742 0,616 0,747 0,675 0,598 0,623 0,752 0,580 0,829 0,516 0,517 0,593 0,403 0,471 0,434 0,531 0,462 1,000 0,309 0,485 0,335 0,357 0,369 0,469 0,341 0,341 1,000 Nilai r Tabel 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 0,308 Validitas VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID VALID

Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total 41 0 41 % 100.0 .0 100.0

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .958 N of Items 59

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

58

Lampiran 2. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda 1. Uji Normalitas


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test data N Normal Parametersa Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. 41 1.68045957805E2 2.790501998818E1 .089 .089 -.085 .567 .905

59

2. Uji Mulkolinearitas
Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) x1 x2 x3 x4 x5 x6 a. Dependent Variable: y B .680 .134 .020 -.266 .245 .235 .364 Std. Error .510 .269 .204 .215 .189 .220 .216 .140 .021 -.296 .249 .248 .335 Coefficients Beta t 1.333 .498 .097 -1.237 1.296 1.070 1.687 Sig. .191 .621 .923 .224 .204 .292 .101 .228 .400 .313 .487 .333 .453 4.395 2.498 3.191 2.055 2.999 2.205 Collinearity Statistics Tolerance VIF

60

3. Uji Heteroskedastisitas

4. Analisis Regresi Linier Berganda


Regression Analysis: y versus x1; x2; x3; x4; x5; x6 The regression equation is y = 0,680 + 0,134 x1 + 0,020 x2 - 0,266 x3 Predictor Coef SE Coef T P Constant 0,6799 0,5101 1,33 0,191 x1 0,1342 0,2694 0,50 0,621 x2 0,0199 0,2038 0,10 0,923 x3 -0,2662 0,2151 -1,24 0,224 x4 0,2451 0,1891 1,30 0,204 x5 0,2350 0,2197 1,07 0,292 x6 0,3640 0,2157 1,69 0,101 + 0,245 x4 + 0,235 x5 + 0,364 x6 VIF 4,4 2,5 3,2 2,1 3,0 2,2

S = 0,482494 R-Sq = 39,1% R-Sq(adj) = 28,4% PRESS = 11,4496 R-Sq(pred) = 11,92% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 6 5,0836 0,8473 3,64 0,007 Residual Error 34 7,9152 0,2328 Total 40 12,9988 Source DF Seq SS x1 1 3,0409 x2 1 0,0497 x3 1 0,0110 x4 1 1,0897 x5 1 0,2295 x6 1 0,6629 Unusual Observations Obs x1 y Fit 21 2,16 1,7662 2,6838 25 2,68 2,0266 3,1865

SE Fit 0,1583 0,2045

Residual -0,9177 -1,1599

St Resid -2,01R -2,65R

R denotes an observation with a large standardized residual.

Durbin-Watson statistic = 1,76942