Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR 1. Definisi Gagal Jantung adalah ketidak mampuan jantung mempertahankan curah jantung (cardiac output) dalam memenuhi kebutuhan metabolisme. (Karim dan Kabo 1996). Gagal Jantung kongertif adalah suatu keadaan terjadi kongertif pada sirkulasi karena daya kontraksi miokard menurun sehingga curah jabtung tidak adekuat dalam mempertahankan aliran darah keseluruh organ dan jaringan tubuh. (Brunner dan Suddarth, 2002). 2. Anatomi fisiologi Jantung merupakan organ kecil yang kira-kira sebesar genggaman tangan dan sebagian tertutup oleh paru. Jantung melebar kesebelah bagian atas (base) dibandingkan kesebelah bawahnya (apek) dan terletak didalam dada dengan ujung tumpul dari apek menonjol kedepan sebelah kiri. (Elong, 1996). Dalam sistem kardioveskuler jantung berfungsi sebagai pompa dan untuk menghasilkan penampilan kerja yang baik sistem ini dipengaruhi oleh oleh banyak hal diantaranya : kontraksi, otot jantung neuro pulmonal, pre load serta kecepatan denyut nadi. (Atmoko S, 1996). 3. Etiologi Gagal Jantung dapat disebabkan oleh : a. Disfungsi miokord (kegagalan miokord, dapat disebabkan oleh iskemi miokord miokorditis dan kardiomiopati). b. Beban volume yang berlebihan dapat disebabkan oleh insufisiensi aorta mitral trikuspidlis dan hipovilemik sekunder.

c. Kebutuhan yang meningkat dapat disebabkan oleh anomiatirotoksi demam dan beri-beri. d. Hambatan pada ventrikel (ventrikel felling disorder) dapat disebabkan oleh perikarditis netriktif temponade jantung. 4. Patofisiologi Jantung normal dapat berespon terhadap peningkatan metabolisme konpensasi yang bervariasi untuk mempertahankan fungsi cardiar output yang meliputi : a). Respon saraf simpatis terhadap baro reseptor atau kemo reseptor. b).Pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuaikan terhadap volume. c). Vasokontriksi arteri renal dan aktifitas sistem renin angiotensin d).Reseptor terhadap serum sodium dan regulasi ADH dari reabsorbsi cairan. Kegagalan mekanisme konpensasi dapat dipercepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang dikumpulakan untuk menentang peningkatan resistensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung mempercepat waktu pengisian ventrikel dan arteri coronaria menurunkan cardiac output dan menyebabkan oksigenasi tidak adekuat kemiokardium. (New York Healt Asosiation) 5. Penatalaksanaan a. Pengobatan dan pengendalian penyebab dan pencetus gagal jantung antara lain dengan tindakan kooperatif untuk memperbaiki kelemahan anatomis. b. Mengatasi sindroma gagal jantung. 1. Meningkatkan kembali daya kontraksi jantung dengan pemberian preparat. 2. Mengatasi cairan badan yang berlebih.

3. Memperbaiki oksigenasi jaringan dengan konsentrasi 24 28 % kelembaban cukup pecepatan pemberian 2 3 lt permenit melalui nasal. c. Mengatur kebutuhan sirkulasi darah, tirah baring, mengurangi kerja fisik, mengatasi High output yang disebabkan tritoksin anemia dan beri-beri. d. Menurunkan hemodialisis jantung, memperbaiki pre load dan arteri load dengan pemberian obat-obatan vaso dialatasi. 6. Dampak Masalah a). Biologis Anorexia, sesak nafas, dan adanya kelemahan tubuh sehingga akan berpengaruh pada status nutrisi pada pasien gagal jantung. b).Psiokologis Perasaan cemas, putus asa, takut, ketidak mampuan mengambil keputusan dan perasaan tidak berdaya serta ketergantungan akan meyebabkan konsep diri pasien berubah kondisi tersebut berpengaruh terhadap perawatan diri. c). Seksual Terjadi perubahan hubungan interpersonal penderita sehari-hari terjadinya hambatan dalam melaksanakan perannya dalam kaluarga maupun lingkungan sekitar. d).Spritual Selama bedrest klien dalam berhubungan dengan tuhannya sangat tergantung pada pengetahuan pasien tentang kewajiban beribadah kepada tuhannya.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung meliputu beberapa tahap yaitu : I. Pengkajian a). Pengumpulan Data 1. Identitas Klien Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, tanggal mrs, no register, dan diagnosa medis. 2. Keluhan Utama Adanya keluhan sesak, nyeri dada atau dada terasa berat. 3. Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan lalu. Apakah klien sebelumnya pernah sakit seperti yang dideritanya sekarang. b. Riwayat kesehatan sekarang. Keluhan pasien saat datang dan menyebabkan dibawa ke RS. Seperti adanya keluhan sesak, terbangun di malam hari karena serangan sesak, anoreksia, mual-muntah. (Asih, 1993). c. Riwayat kesehatan keluarga. Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit jantung atau penyakit-penyakit berat lainnya. 4. Pola-Pola Fungsi Kesehatan a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Adanya perubahan penata laksanaan dan pemeliharaan kesehatan dirinya sehingga muncul masalah dalam merawat diri. b. Pola nutrisi dan metabolisme Adanya perubahan nafsu makan, mual muntah dan adanya perubahan pola diit yang sesuai dengan penyakit pasien. c. Pola aktivitas Adanya kelemahan fisik dan sesak yang makin bertambah bila klien beraktivitas. d. Pola eliminasi

Adanya keluhan nokturia, dan dapat terjadi obstipasi. e. Pola sehat dan tidur Adanya gangguan dan pola kebutuhan tidur karena pasien sering terbangun y ang disebabkan oleh serangan sesak anfas dan bisa juga disebabkan oleh perubahan lingkungan. f. Pola persepsi diri Adanya kelemahan dan kelelahan sehingga menyebabkan pasien tidak tidak mampu mengambil keputusan sehingga terjadi perubahan pada persepsi dirinya. g. Pola persepsi dan kognitif Persepsi pasien tentang dirinya, penyakitnya, pengobatannya, dan adanya keluhan nyeri pada panca indera. h. Pola hubungan dan peran Adanya penurunan hubungan interpersonal yang disebabkan penurunan kondisi kesehatan pasien. i. Pola reproduksi dan seksual Adanya kelemahan dan kelelahan sehingga mempengaruhi hubungan sex pasien. j. Pola penanggulangan stress Adanya ketidak efetifan mengatasi masalah sehingga menimbulakan kecemasan. k. Pola tatanilai dan kecemasan Timbulnya distres spiritual sehingga menyebabkan pasien takut dalam menghadapi kematian. 5. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum Pada penderita gagal jantung, umumnya ada keluhan sesak nafas, nyeri dada dan dada terasa berat, tanda-tanda vital mengalami abnormal misalnya terjadi Takikardi (7120 X / menit), tekanan darah meningkat sampai hypertensi kemudian berangsur-angsur menurun. Berat badan > 4,5 kg dalam 5 hari setelah terapi.

b. Rambut, kulit, dan kuku Adanay keluhan sesaknafas didapatkan kelainan pada sistem integumen mengalami sianosis termasuk kulit dan kuku dengan warna pucat dan didapatkan edema pitting. c. Kepala dan leher Pada penderita gagal jantung terjadi peningkatan Vena Jugularis termasuk pada penderita dengan kelainan jantung kanan. d. Mata Pada penderita gagal jantung dengan faktor pencetus karena serangan hipertensi, biasanya didapatkan penglihatan kabur dan keadaan anemia pada konjungtiva. e. Telinga, hidung, dan tenggorokan Pada umunnya penderita gagal jantung didapatkan keluhan batuk terutama batuk malam hari. f. Thorax dan abdomen Pada umumnya didapatkan kelainan berupa nyeri dada dan dada terasa berat, hidrothorax dan asiles serta terjadi hepatomegali. g. Sistem respirasi Umumnya terjadi dispneu noktunal paroksismal atau orthopneu, pernafasan cheyne stokes dan didapatkan suara tambahan ronki berupa ronki basah tidak nyaring. h. Sistem kardio vaskuler Pada kelainan jantung kiri terdapat pembesaran jantung kiri dengan irama derap. Ventrikuler heaving, bunyi derap52 dan 54 dengan pernafasan cheyne stokes, pulsus alternans, dan kongesti vena pulmonalis, pada pemeriksaan fisik gagal jantung kanan didapatkan hipertrofi jantung kanan, heaving ventrikel kanan, irama derap atrum kanan, murmus, tekanan vena jagularis meningkat, bunyi P2 mengeras. i. Sistem genitourinaria

Pada pasien gagal jantung umumnya terjadi keluhan nokturia, dan diberikan terapi diuretik sehingga diperlukan pemasangan kateter, pada pola BABnya obstifasi. j. Sistem gastro interstinal Pada umumnya penderita gagal jantung terjadi anoreksia. Kadang penurunan berat badan > 4,5 kg dalam waktu 5 hari dan perut kembung serta mual. 6. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan foto toraks dapat mengarah ke kardiomegali, corakum vaskuler paru menggambarkan kranialisasi, garis kerley A/B, infiltrat prekordial kedua paru dan efusi pleura. Fungsi elektro kardiograki (EKG) untuk melihat penyakit yang mendasari seperti infark miokard dan aritmia, pemeriksaan lain seperti pemeriksaan Hb, elektrolit, ekokardiografi angiografi, fungsi ginjal dilakukan atas indikasi. b). Analisis Data Data yang diperolah kemudian dikelompokkan dan dianalisa sehingga didapatkan suatu kesimpulan yang dirimuskan kedalam diagnosa keperawatan (Budiana Kelliat, Skep, Msc, 1991) II. Diagnosa Keperawatan 1. gangguan pertukaran gas CO2 dan O2 dalam tubuh sehubungn dengan penurunan curah jantung ditandai dengan adanya keluhan sesak nafas, frekuensi nafas meningkat / takipneu, takikardi, nadi cepat, ronchi, pernapasan chyenes store. III. Perencanaan c). 2. 3. C. D. E. BNEARNGEGERGRE fsgn nmlkb