Anda di halaman 1dari 11

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.

1 Hasil Pengujian Untuk mengetahui pengaruh penambahan Abu Jerami terhadap kualitas semen dalam pembuatan mortar dilakukan analisis seperti analisis kuat tekan, komposisi kimia, kadar free lime, kadar hilang pijar, dan kehalusan pada semen dengan data sebagai berikut: 4.1.1 Hasil Analisis Komposisi Kimia Semen Pada tabel 10 dibawah ini akan ditunjukkan hasil analisis komposisi kimia dari klinker, gypsum, dan abu jerami dengan menggunakan X-Ray Spectrometer, sedangkan tabel 11 menunjukkan hasil analisis komposisi kimia semen. Tabel 10. Data Analisis Komposisi Kimia Klinker, Gipsum dan Abu Jerami Dengan Menggunakan Alat X-Ray Spectrometer Parameter (%) SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO K2O SO3 LSF SM AM C3 S C2 S C3 A C4AF Klinker 21,64 5,41 3,18 66,09 1,42 0,40 1,33 95,72 2,42 1,67 59,90 16,87 8,96 10,22 Gipsum 14,01 2,69 1,29 34,68 0,75 0,14 43,24 80,20 3,52 2,09 Abu jerami 82,44 0,33 5,86 0,61 1,13 2,54 -

Keterangan :(-) tidak terukur

45

46

Tabel 11. Analisis Komposisi Kimia Semen Dengan Menggunakan Alat XRay Spectrometer.

Parameter (%) SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO SO3 LSF SM AM C3 S C2 S C3 A C4AF 0 21,20 6,40 3,06 64,66 1,17 1,93 91,88 2,24 2,09 49,24 23,66 11,78 9,31

Penambahan abu jerami dalam semen (%) 5 22,81 6,30 3,09 64,18 1,13 1,91 85,72 2,43 2,04 35,73 38,45 11,47 9,40 8 23,84 6,22 3,08 63,80 1,10 1,95 82,05 2,56 2,02 26,79 48,15 11,27 9,37 12 24,45 6,12 2,97 63,35 1,03 2,01 77,03 2,80 2,06 13,38 62,87 11,19 9,04 15 25,95 6,08 2,87 63,14 1,03 1,93 75,63 2,90 2,12 9,37 67,33 11,26 8,73

47

4.1.2 Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Pada tabel 12 ini akan ditunjukkan hasil pengujian kuat tekan mortar dengan variasi penambahan abu jerami sehingga dapat dilihat seberapa besar pengaruh abu jerami terhadap kuat tekan. Tabel 12. Pengujian kuat tekan mortar pada semen dengan alat Hydraulic Strength Compressive. Abu No Jerami (%) 1 2 3 4 5 0 5 8 12 15 Min 125 Min 200 Min 280 Kuat tekan (Kg/cm2) SNI 15-2049-2004 3 hari 7 hari 28 hari Hasil Pengujian 3 hari 115 135 172 173 219 7 hari 188 241 284 303 330 28 hari 255 308 447 441 476

4.1.3 Hasil Pengujian Kadar Free Lime Pada tabel 13 ini dapat dilihat hasil pengujian kadar free lime dalam semen dimana penambahan abu jerami ternyata mempengaruhi kadar free lime. Tabel 13. Pengujian Kadar Free Lime dalam semen No 1 2 3 4 5 Abu Jerami (%) 0 5 8 12 15 Free Lime (F.CaO, %) 1,68 1,51 1,34 1,17 1,01

48

4.1.4 Hasil Pengujian Kadar Hilang Pijar/ Loss in Ignation (LOI) Pada tabel 14 ini dapat dilihat hasil pengujian kadar LOI dalam semen dimana penambahan abu jerami ternyata mempengaruhi kadar LOI. Tabel 14. Pengujian Kadar Hilang Pijar (LOI) dalam semen No Abu Jerami (%) Hilang Pijar (LOI, %) SNI 15-20492004 1 2 3 4 5 0 5 8 12 15 Maks 5 1,16 1,68 1,95 2,64 2,78 Pengujian

4.1.5 Hasil Pengujian Kehalusan (Blaine) Pada tabel 15 ini dapat dilihat hasil pengujian kehalusan semen dimana variasi penambahan abu jerami ini dapat mempengaruhi kehalusan semen. Tabel 15. Pengujian Kehalusan pada Semen dengan Alat Blaine NO Abu Jerami (%) Waktu (sekon) Blaine, cm2/gr SNI-15-20492004 1 2 3 4 5 0 5 8 12 15 95,20 100,50 145,04 197,25 212,86 Min 2800 3574 4208 5056 5896 6125 Pengujian

49

4.2 Pembahasan Pada pembahasan ini akan dibahas mengenai hasil pengujian yang telah dilakukan pada penelitian ini, seperti yang akan dijelaskan dibawah ini: 4.2.1 Analisis Komposisi Kimia Semen Analisis komposisi kimia semen dengan menggunakan alat X-Ray Spectrometer bertujuan untuk mengetahui komposisi senyawa kimia yang terkandung di dalam semen sehingga dari hasil pengujian dapat diketahui apakah semen yang dibuat memenuhi standar atau tidak. Dalam penentuan komposisi kimia semen yang telah dibuat menghasilkan kandungan senyawa kimia seperti : SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, SO3, LSF, SIM, ALM, C3S, C2S, C3A, dan C4AF. Tabel 10. Menunjukkan bahwa abu jerami memiliki kandungan SiO2 sebesar 82,44% yang berfungsi sebagai sumber SiO2 guna meningkatkan kandungan SiO2 dari semen yang dihasilkan dimana SiO2 akan bereaksi saling mengikat dengan kalsium oksida pada pembuatan pasta semen (mortar). Pada penelitian ini kandungan SiO2 dari abu jerami akan berpengaruh terhadap kualitas semen yang dihasilkan yang nantinya akan dibuat sebagai bahan baku pada proses pembuatan mortar. pada tabel 11. Menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan abu jerami pada proses pembuatan semen maka kandungan SiO2 dari semen yang dihasilkan akan semakin besar pula. Kandungan SiO2 didalam semen akan sangat mempengaruhi kekuatan tekan mortar hal ini dikarenakan SiO2 mempunyai sifat pozzolan. Pozzolan adalah bahan yang mengandung senyawa silica atau senyawa alumina, yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen, akan tetapi dalam bentuknya yang halus dan dengan adanya air, maka senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu kamar membentuk senyawa yang mempunyai sifat seperti semen (Aryati oktaviana, 2011). Pada saat proses hidrasi semen keberadaan kalsium hidroksida dari hidrasi kapur bebas ini sangat merugikan karena dapat menurunkan kuat tekan mortar, dengan adanya keberadaan silika yang berasal dari abu jerami akan menyebabkan terjadinya reaksi saling mengikat dengan kalsium

50

oksida pada proses hidrasi semen. Sehingga keberadaan kalsium hidorksida berkurang sekaligus meningkatkan kuat tekan mortar. 4.2.2 Pengujian Kuat Tekan Mortar Kuat tekan adalah kemampuan menahan dan memikul suatu beban tekan. Kekuatan yang diukur adalah kekuatan tekan mortar terhadap beban yang diberikan. Gambar 5 menunjukkan pengaruh penambahan abu jerami terhadap kuat tekan mortar.
500 450 Kuat Tekan (kg/cm2) 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0 5 10 Penambahan abu jerami (%) 15 20 3 hari 7 hari 28 hari

Gambar 5. Grafik Hubungan Antara % Penambahan Abu Jerami Dalam Semen Terhadap Kuat Tekan Gambar 5 diatas menunjukkan bahwa penambahan abu jerami meningkatkan kuat tekan mortar. Untuk mortar umur 3 hari, penambahan abu jerami 5 % didapat kuat tekan mortar sebesar 135 Kg/cm2. Kemudian terjadi peningkatan pada penambahan abu jerami sebesar 8 % menjadi 172 Kg/cm2. Peningkatan ini terus terjadi sampai penambahan abu jerami 15 % dengan kuat tekan sebesar 219 Kg/cm2. Untuk kuat tekan mortar umur 7 hari juga terjadi peningkatan kuat tekan pada setiap penambahan abu jerami pada pembuatan semen. Pada penambahan abu jerami sebesar 5% didapat kuat tekan mortar sebesar 241 Kg/cm2. Kemudian

51

terjadi peningkatan kuat tekan pada penambahan abu sebesar 8 % menjadi 284 Kg/cm2. Peningkatan ini terus terjadi sampai penambahan abu jerami sebesar 15 % dengan kuat tekan 330 Kg/cm2. Untuk kuat tekan 28 hari juga terjadi peningkatan sama seperti halnya pada kuat tekan 7 hari dengan kuat tekan tertinggi pada pada umur 28 hari didapat dari penambahan abu jerami sebesar 15 % yakni sebesar 476 kg/cm2. Untuk penambahan abu jerami sebesar 12 % mengalami penurunan kuat tekan dibanding penambahan abu jerami sebesar 10% dikarenakan pada saat penumbukkan mortar kurang merata sehingga mortar yang dihasikan kurang padat. Peningkatan kuat tekan ini dikarenakan pembakaran jerami yang menghasilkan abu mengandung bahan silika dan bahan aluminium yang bereaksi dan saling mengikat dengan kalsium oksida pada pasta semen dapat memungkinkan membentuk bahan yang kuat sehingga dapat meningkatkan mutu mortar.(wuwungan, N, 1993). Dari hasil pengujian kuat tekan yang dilakukan didapat bahwa pada penambahan abu jerami ini, kuat tekan yang dihasilkan seluruhnya memenuhi standar SNI. penambahan abu jerami paling maksimum yaitu sebanyak 15 % sebab dengan penambahan abu jerami tersebut di dapat kuat tekan tertinggi pada umur 28 hari yaitu 476 kg/cm2. sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan abu jerami pada proses pembuatan semen dapat meningkatkan kuat tekan mortar dimana semakin tinggi penambahan abu jerami kedalam semen maka semakin tinggi kuat tekan mortar.

4.2.3 Pengujian Kadar Kapur Bebas (Free Lime) Kapur bebas adalah kapur yang terhidrasi menghasilkan Ca(OH)2 yang membuat volume kapur bebas lebih besar. Sehingga dapat menyebabkan pengembangan volume saat pengikatan (setting time) yang pada akhirnya akan menyebabkan keretakkan dan kerusakan pada saat semen dan mortar sudah mengeras.

52

1.8 1.6 1.4 free lime (%) 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Penambahan abu jerami (%)

Gambar 6. Grafik Hubungan Antara % Penambahan Abu Jerami Dalam Semen Terhadap Free Lime Gambar 6 menunjukkan bahwa Free Lime semakin menurun dengan bertambahnya persentase penambahan abu jerami didalam semen. Pada penambahan abu jerami 5 % didapat kadar Free Lime sebesar 1,51 %, lalu terjadi penurunan pada penambahan abu jerami sebesar 8 % menjadi 1,34 %. Penurunan ini terus berlanjut hingga penambahan abu jerami sebesar 15 % dengan kadar Free Lime sebesar 1,01%. Hal ini dikarenakan keberadaan silika dan aluminium yang berasal dari abu jerami. Menurut Wuwungan N abu jerami mengandung bahan silika dan aluminium yang bereaksi saling mengikat dengan kalsium oksida. Sehingga dapat mengurangi keberadaan kapur bebas yang terhidrasi

menjadi Ca(OH)2 yang dapat mengurangi pengembangan volume kalsium hidroksida, sehingga mengurangi keretakkan dalam semen. Penambahan abu jerami yang maksimum untuk menurunkan kadar Free Lime ini yaitu sebesar 15 % karena pada penambahan abu jerami ini dapat menurunkan kadar paling rendah yaitu sebesar 1,01%. 4.2.4 Pengujian Kadar Hilang Pijar/Loss on Ignation Loss on Ignation merupakan berat yang hilang (dalam persen) dari sampel pada waktu dipijarkan pada suhu dan waktu tertentu. Hilang pijar pada semen

53

terutama disebabkan oleh hilangnya kapur pada semen saat dipijarkan pada suhu 950 0C.
3 2.5 LOI (%) 2 1.5 1 0.5 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Penambahan abu jerami (%)

Gambar 7. Grafik Hubungan Antara % Penambahan Abu Jerami Dalam Semen Terhadap Hilang Pijar (LOI) Gambar 7 diatas menunjukkan bahwa % Loss on Ignation akan semakin besar dengan semakin besarnya penambahan abu jerami dalam semen. Pada keadaan murni tanpa penambahan abu jerami kadar hilang pijar (LOI) sebesar 1,16 % lalu terjadi peningkatan pada penambahan abu jerami sebesar 5 % menjadi 1,68 %. Kemudian terjadi peningkatan kembali pada penambahan abu jerami sebesar 8 % menjadi 1,95 %. Peningkatan ini terus berlanjut sampai penambahan abu jerami sebesar 15 % dengan kadar hilang pijar sebesar 2,78 %. Hal ini dikarenakan banyaknya kapur yang terbakar saat sampel semen dipijarkan pada suhu 950 C. seperti yang diketahui semen murni tanpa campuran abu jerami memiliki kandungan kapur kemudian ketika ditambah dengan abu jerami pada campuran maka kadar kapur akan meningkat. Hal ini terjadi karena abu jerami sendiri memiliki kandungan kapur sebesar 5,865. Sehingga, semakin besar komposisi abu jerami yang ditambahkan maka semakin tinggi kadar kapur dalam semen sehingga semakin besar kadar hilang pijar semen. Dari hasil pengujian kadar hilang pijar didapat bahwa seluruh penambahan abu jerami menghasilkan kadar hilang pijar yang memenuhi standar SNI 15-20492009 yakni dengan kadar hilang pijar maksimal 5%. Untuk penambahan abu

54

jerami yang maksimum ditinjau hilang pijar adalah pada penambahan sebesar 15 % dengan kadar hilang pijar sebesar 2, 78 %. 4.2.5 Pengaruh Penambahan Abu Jerami Terhadap Kadar Kehalusan (Blaine) Kehalusan semen adalah salah satu syarat mutu fisika semen karena akan menentukan luas permukaan pertikel-partikel semen saat hidrasi. Semakin halus semen maka kekuatan, panas hidrasi, dan kebutuhan air persatuan luas akan semakin tinggi, serta reaksi hidrasi akan semakin cepat.
7000 6000 Blaine (cm2/gr) 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Penambahan Abu Jerami (%)

Gambar 8. Grafik Hubungan Antara % Penambahan Abu Jerami Dalam Semen Terhadap Kehalusan Gambar 8 diatas menunjukkan bahwa semakin besar % penambahan abu jerami akan menyebabkan semakin besar pula kehalusan (Blaine) semen. Pada penambahan abu jerami sebesar 5 % didapat kehalusan semen sebesar 4208, cm2/gr, selanjutnya pada penambahan abu jerami sebesar 8 % didapat kehalusan sebesar 5056 cm2/gr, kemudian terjadi peningkatan kembali hingga pada penambahan 15 % sebesar 6125 cm2/gr. Kehalusan semen akan mempengaruhi luas permukaan partikel semen, semakin tinggi permukaan semen maka reaksi hidrasi semakin cepat. Kehalusan juga mempengaruhi kuat tekan dimana semakin tinggi kehalusan maka semakin tinggi kuat tekan karena partikel semen yang

55

semakin halus akan menutupi pori-pori permukaan mortar sehingga kuat tekan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang. Blaine digunakan untuk mengukur partikel berdasarkan sifat porositas semen atau perbandingan volume rongga didalam semen. Maka dengan penambahan abu jerami rongga didalam semen akan tertutupi, dengan kata lain abu jerami merapatkan rongga antar partikel didalam semen. Dari hasil pengujian kehalusan semen didapat bahwa seluruh penambahan abu jerami menghasilkan semen dengan kehalusan yang memenuhi standar SNI 15-2049-2009 yakni dengan kehalusan min 2800 cm2/gr. Untuk penambahan abu jerami yang paling maksimum ditinjau dari kehalusan adalah pada penambahan sebesar 15 % karena pada penambahan abu jerami ini didapatkan kehalusan sebesar 6125 cm2/gr.