Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KOLOKIUM

PERSAMAAN DIFFERENSIAL
SIMULTAN
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat, hidayah, dan taufiq-Nya sehingga saya dapat
menyelesaiakan penyusunan makalah kolokium ini dengan judul Persamaan
Differensial Simultan.
Saya mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dosen Kolokium, Drs. Jefferson Roosevelt Watulingas, M.M yang
telah mengajar dan membimbing saya dalam perkuliahan.
2. Semua rekan-rekan yang membantu saya dalam penyusunan makalah
ini, terutama teman-teman dari Pendidikan Matematika
Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang
membaca, terutama bagi mahasiswa Pendidikan Matematika. Namuan saya
sebagai penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah
ini. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar
saya bias memperbaiki kekurangan saya.
Tenggarong, 21 Pebruari 2011

Penulis





BAB I
A. Latar Belakang
Pada zaman sekarang matematika sering digunakan dalam segala
bidang. Matematika adalah suatu ilmu yang berada disekitar kita. Setiap
hal yang kita lakukan selalu berhubungan dengan matematika. Oleh karena
itu matematika disebut sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan.
Karena begitu banyak materi yang terdapat pada matematika, sehingga
mengakibatkan adanya beberapa materi yang belum tuntas diajarkan.
Kolokium adalah salah satu mata kuliah pilihan yang diambil oleh
mahasiswa pendidikan matematika. Mata kuliah kolokium merupakan
mata kuliah baru dimana mahasiswa diharapkan bias mendalami suatu
materi secara autodidak.
Materi yang diangkat pada makalah kolokium ini adalah materi
yang baru atau jarang dibahas pada mata kuliah lainya.
Pada kesempatan kali ini penulis mengangkat materi tentang
Persamaan Differensial Simultan dalam penyelesaiannya akan berkaitan
dengan persamaan diferensial linier homogen dan tak homogen pada mata
kuliah persamaan differensial.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka masalah yang dipecahkan adalah :
Bagimana menentukan harga x, y dan z pada system persamaan
differensial?.
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca dapat
mengerti dan memahami tentang persamaan differensial simultan.
Penulisan makalah ini adalah untuk menentukan harga x, y, dan z
pada system persamaan differensial simultan.

D. Manfaat
Dengan adanya makalah ini diharapakan menambah pengetahuan
bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri dalam mendalami persamaan
differensial simultan.













BAB II
LANDASAN TEORI
Definisi :
suatu persamaan differensial persamaan yang mengandung variable-
variabel x, y, serta turunan-turunan y terhadap x
F .

/ . (1)
Order dari suatu persaamaan differensial adalah order tertiggi dari turunan.
Missal :
1.


2. ( )
3.


Contoh 1 persamaan differensial disebut persamaan differesnsial order 2
Contoh 1 persamaan differensial disebut persamaan differesnsial order 1
Contoh 1 persamaan differensial disebut persamaan differesnsial order 2 derajat 3
Solusi (jawab) dari persamaan differensial ialah suatu hubungan antara
variabel-variabel yang mana tak mengandung turunan dan memenuhi persamaan
differensial.

Jadi solusi dari .

/ .(1)
adalah ( ) atau f(x, y)=c
Solusi umum dari persamaan differensial order n adalah suatu solusi yang
mana mengndung maksimal n buah konstanta sembarang ditentukan
y=F(x, c
1
,c
2
,,c
n
) atau F(x, y, c
1
, c
2
, , c
n
)=0 .(2)

A. PERSAMAAN DIFFERENSIAL ORDER SATU
Bentuk umum ialah .

/ ..(A.1)
Bentuk umum ini dapat ditulis juga sebagai

( ) .(A.2)
Bentuk sederhana dari persamaan differensial order 1 ialah

() (A.3)
dimana solusinya mudah dicari dari rumus-rumus integral sebagai berikut

()
()
() ()
Missal :

)
(


Dari persamaan (A.2)

( )
( )
Jika F(x,y) =
()
()
maka persamaan(A.2) menjadi
M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0 ....... (A.4)
Yang merupakan bentuk lain dari persamaan differensial order 1
Dari bentuk (A.4), jika M (x,y) = f
1
(x) g
2
(y)dan N(x,y)=f
2
(x) g
1
(y)
maka (A.4) menjadi
f
1
(x) g
2
(y) + f
2
(x) g
1
(y) = 0 (A.5)
atau

()

()

()

()
.. (A.6)
Bentuk (A.5) menjadi (A.6) disebut persamaan differensial terpisah,
karena variabel-variabelnya dapat dipisahkan.
Jawab dari persamaan ( A.6) ialah

()

()

()

()
(A.7)
Contoh :
1. x dy y dx = 0


In y in x =c
in

=In C
1

atau y = C
1
x adalah solusinya




2.


arc tan y =arc tan x+C
kalau diteruskan, maka
arc tan y = arc tan x + arc tan C
1

= tan (arc tan x + arc tan C1)



3.

) (

| ||

)

(

)
(

)

(

)

(

)

(

atau

)

4.




Dari bentuk persamaan : differensial
M(x,y) dx + N(x,y) dy = 0
Maka persamaan differensial ini disebut homogen, jika M(x,y) dan N(x,y) adalah
homogen dengan derajat n jika berlaku
f(x, y) =
n
f(x, y) . (A.8)
cara mencari jawab dari Persamaan Differensial homogeny ialah dengan
memisalkan
y = vx, maka dy = vdx + x dv . (A.9)
contoh :
5. 2xy dy = (x
2
-y
2
) dx
Persaman differensial ini homogeny order 2, karena
M (x,y) = x
2
-y
2

M(x, y) =
2
x
2
-
2
y
2

=
2
(x
2
-y
2
)
=
2
M(x,y)
Misalkan y= vx maka
dy = v dx +x dv, kemudian subtitusikan ke soal
2x (vx)(v dx + x dv)= (x
2
- v
2
x
2
) dx
Bagi dengan x
2

2v (v dx + x dv) = (1 v
2
) dx
(2v
2
1 +v
2
) dx + 2xvdv = 0
(3v2 1) dx + 2xvdv = 0


In |3v
2
-1| + In |x| =In C
1

In x(3v
2
-1)

= In C
1

x
3
(3v
2
1) = C
2

x
3
.


3xy
2
x
3
=C
2

6.

( )

( )
Selidiki sendiri bahwa Persamaan differensial di atas adalah homogeny
Misalkan


Subtitusikan : x sin v (vx dx + xv dx + x
2
dv) + vx cos v (xv dx + x
2
dv vx
dx)=0
Di bagi dengan x
2
menghasilkan
sin v (2v dx +xdv) +v cos (x dv)=0
2v sin v dx + (x sin v + xv cos v) dv =0
2v sin v dx + x (sin v +v cos v) dv =0


|| ||
()


In vx
2
+ In |sin v| = In C
1

vx
2
sin v = C
1

merupakan solusi dari persamaan differensial



7. (x
2
2y
2
) dy 2xy dx = 0
Dengan memisalkan y=vx (karena merupakan persamaan differensial
homogenya didapat (x
2
-2x
2
v
2
)(xdv+vdx)-2vx
2
dx=0
(1-2v
2
)(xdv+v dx) -2v dx =0
(v-2v
3
+2v) dx + (1-2v
2
)x dv =0

)
(

)
(

)

||

||

)

In xv

In |3-2v
2
| =In C
1

x v

+ (3-2v
2
)

= In C
1

x
3
v(3-2v
2
) = C
2

y (3x
2
-2y
2
) = C
2

adalah solusi dari persamaan defferensialnya.
Pandangan bentuk Persamaan differensial biasa orde 1.
M (x,y) dx + N(x,y)dy = 0 . (A.4)
Persamaan Differensial ini disebut Eksak jika berlaku

. (A.10)
Persamaan (A.4) adalah differensial total dari z = F(x,y) dengan dz = 0
Jadi solusi umumnya orde z = c atau F(x,y)=C . (A.11)
Dari z=F(x,y)=C maka


Kita dapatkan dari persamaan M dx + N dy = 0 yakni

dan

. (A.12)
Dari

F= ()
Jika f diturunkan ke y kita dapat

*
()+
Sedang

, maka

*
()+ ( )
Atau :

*
+

() ( )

B. PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER
Bentuk persamaaan differensial linier adalah

() () .......... (B.1)
Atau

() () .......... (B.2)
Cara mencari solusi dari (B.1)
misal:
y = uv . (B.3), dimana u dan v merupakan fungsi dari x

; disubtitusi ke (B.1)

() ()

() () . (B.4)
Agar supaya persamaan ini dapat diselesaikan, maka

()

()

()
()

()
. (B.5)
Untuk mencari v, subtitusikan (B.5) ke (B.4)

()

()

()


()


Solusi dari persamaan (B.1) adalah

} .......... (B.6)
Analog untuk persamaan (B.2), solusinya adalah

} . (B.7)

PERSAMAAN BERNOULLI
Bentuknya ialah

()

() . (B.8)
Atau :

()

() (B.9)
Cara mencari solusinya :
Misal :
v=y
1-n

( )

....... (B.10)

.. (B.11)
Subtitusikan : ke (B.9), menghasilkan

() ()

( )() ( ) () . (B.12)
n 1
Bentuk (B.12) sama seperti persamaan differesial linier dengan
P(x) digantikan dengan (1-n) P(x)
Q(x) digantikan dengan (1-n) Q(x)

C. PERSAMAAN DIFFERENSIAL ORDE DUA
Bentuk-bentuk dari persamaan differensial orde 2 adalah :
1.

()
2.

( )
3.

()
4.

dengan A,B, dan C


Konstan atau merupakan fungsi x
Jika persamaan

mempunyai 2 akar berlainan

maka

adalah jawaban umum dari


persamaan differensial


Jawab umum sering disebut juga dengan jawab komplementer dari
persamaan

. Jika y=f(x)
Memenuhi persamaan

() maka y=f(x) disebut juga


jawab partikulasi. Jadi jawab umum dari persamaan adalah jawab
komplementer + jawab partikulasi.

D. LEBIH LANJUT TENTANG PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER
Bentuk umum persamaan differensial linier orde n
Bentuk umum persamaan differensial orde n adalah

()

()

()

() () . (D.1)
Suatu persamaan differensial yang tidak dapat dituliskan dalam bentuk ini
dinamakan taklinier.
Contoh 1.

adalah suatu persamaan linier orde


dua.
Contoh 2.

adalah bukan suatu persamaan linier


orde dua.
Jika R(x) di ruas kanan (D.1) diganti nol, maka persamaan differensial yang
dihasilkan dinamakan persamaan komplementer, tereduksi atau homogen. Jika
R(x)0, maka persamaan tersebut dinamakan persamaan lengkap atau tak
homogeny.
Contoh 3.
Jika

adalah persamaan lengkap , maka

adalah persamaan komplementer, tereduksi atau


homogen dari persamaan tersebut.
Jika a
0
(x), a
1
(x), , a
n
(x) adalah konstanta, (D.1) dikatakan mempunyai
koefisien konstanta; dalam hal lain dikatakan mempunyai koefisien peubah.


TEOREMA KEUJUDAN DAN KETUNGGALAN
Jika a
0
(x), a
1
(x), , a
n
(x) dan R(x) kontinu pada selang |x-x
0
|< dan
a
0
(x)=0, maka ada satu dan hanya satu penyelesaian dari (D.1) yang memenuhi
syarat
(


()
(

)
()
.. (D.2)

LAMBANG OPERATOR
Kadang-kadang baik sekali untuk menggunakan lambing Dy, D
2
y, ,
D
2
y untuk menyatakan

. Lambang D, D
2
, , D
a
dinamakan
operator differensial dan bersifat sama seperti besaran aljabar. Dengan
menggunakan lambang ini, kita menuliskan (D.1) sebagai
[a
0
(x)D
n
+a
1
(x)D
n-1
++a
n-1
(x)D+a
n
(x)]y= R(x) .(D.3)
atau disingkat (D)y=R(x)
Dimana (D)= a
0
(x)D
n
+a
1
(x)D
n-1
++a
n-1
(x)D+a
n
(x) dinamakan operator
suku banyak dalam D.
Contoh 4.

dapat ditulis sebagai (xD


2
+3D-2x)y=sinx

OPERATOR LINIER
Suatu operator L dinamakan operator linier jika untuk suatu konstanta A,
B dan fungsi u, v dimana L dapat digunakan, kita mempunyai hubungan
L(Au+Bv)=AL(u)+BL(v)
Operator D, D
2
, dan (D) adalah operator linier

TEOREMA DASAR PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER
Untuk menentukan penyelesaian umum dari
(D)y=R(x) . (D.4)
Di mana R(x)0, misalkan Y
c
(x)penyelesaian umum persamaan komplementer
tereduksi atau homogeny
(D)=0 .(D.5)
Kita seringkali menyebut Y
c
(x) sebagai penyelesaian komplementer atau
penyelesaian homogeny. Berikut ini kita mempunyai teorema penting yang
kadang-kadang dinamakan prinsip atau teorema superposisi.
Teorema 1:
Penyelesaian umum (D.4) diperoleh dengan menjumlahkan penyelesaian
komplementer Y
c
(x) ke sesuatu penyelesaian khusus Y
p
(x) dari (D.4) yaitu
y=Y
c
(x)+Y
p
(x)
Berdasarkan teorema ini, jelaslah bahwa kita dapat memandang secara terpisah
terhadap masalah menentukan penyelesaian umum persamaan homogeny dan
penyelesaian khusus persamaan takhomogen.

KETAKBEBASAN LINIER DAN DETERMINAN WRONSKIAN
Suatu himpunan n fungsi y
1
(x),y
2
(x), , y
n
(x) dikatakan takbebas linier
pada suatu selang jika ada n konstanta c
1
, c
2
, . , c
n
yang tidak semua nol.
Sehingga kesaamaan c
1
y
1
(x)+c
2
y
2
(x)++c
n
y
n
(x)=0 berlaku pada selang itu. Jika
tidak demikian himpunan fungsi itu dikatakan bebas linier.

Teorema 2:
Himpunan fungsi y
1
(x), y
2
(x), , y
n
(x) (diandaikan mempunyai turunan) adalah
bebas linier pada suatu selang jika dan hanya jika determinan.
(

)
|
|

()

()

()

()

()

()

()
()

()
()

()
()
|
|

Yang dinamakan Determinan Wronskian dari y
1
, , y
n
tidak nol pada
selang tersebut.
Teorema terakhir ini sangat penting dalam hubungannya dengan
penyelesaian homogeny atau persamaan tereduksikan.
Teorema 3
(Prinsip superposisi). Jika y
1
(x), y
2
(x), , y
n
(x) adalah n penyelesaian bebas
linier dari persamaan linier orde-n (D)y=0, maka
y=c
1
y
1
(x)+c
2
y
2
(x)+ +c
n
y
n
(x)
dimana c
1
,c
2
, , c
n
adalah konstanta sembarang, adalah penyelesaian umum
(D)y=0

PENYELESAIAN PERSAMAAN LINIER DENGAN KOEFESIAN
KONSTANTA
Catatan berikut dapat digunakan untuk menentukan persamaan (D.1).
Penyederhanaan khusus terjadi bilamana persamaan tersebut mempunyai
konstanta dan sekarang kita bahas kasus ini. Dua prosedur umum yang digunakan
pada kasus ini adalah yang tidak menggunakan teknik operator dan yang
menggunakannya. Untuk setiap kasus terdapat metode untuk menentukan
penyelesaian komplementer dan penyelesaian khususnya, dan keduanya kita
gabungkan dengan menggunakan Teorema Dasar 1.

TEKNIK TANPA OPERATOR
1. PENYELESAIAN KOMPLEMENTER ATAU PENYELESAIAN
HOMOGEN
Misalkan y=e
mx
, m=konstanta pada (a
0
D
n
+a
1
D
n-1
++a
n
)y=0 sehingga
diperoleh
a
0
m
n
+ a
1
m
n-1
+ + a
n
=0 . (D.6)
yang dinamakan persamaan pembantu atau persamaan karakteristik.
Persamaan ini dapat difaktorkan ke dalam
a
0
(m-m
1
) (m-m
2
)(m-m
n
) = 0 (D.7)
yang mempunyai akar m
1
, m
2
, , m
n
. Kita akan memandang tiga kasus
berikut ini.
Kasus 1. Semua akarnya rill dan berlainan.
Pada kasus ini e
m
1
x
,e
m
2
x
, , e
m
n
x
adalah n penyelesaian bebas linier
sehingga dangan menggunakan Teorema 3, penyelesaian yang diinginkan
adalah
y=c
1
e
m
1
x
+c
2
e
m
2
x
++c
n
e
m
n
x
. (D.8)
Kasus 2. Beberapa akarnya kompleks
Jika a
0
, a
1
, ,a
n
rill dan bilamana a+bi adalah akar dari (6), maka a-bi
juga akarnya (disini a,b rill). Maka penyelesaian yang berkaitan dengan
akar a+bi dan a-bi adalah
y=e
ax
(c
1
cos bx + c
2
sin bx) . (D.9)
yang diperoleh dengan menggunaakan rumus Euler e
lim
= cos u + i sin u.

Kasus 3. Beberapa akarnya berulang
Jika m
1
adalah suatu akar dengan multiplisitas (pengulangan) k, maka
suatu penyelesaian diberikan oleh
y=(c
1
+ c
2
x +c
3
x
2
+ + c
k
x
k-1
)e
m
1
x
. (D.10)

2. PENYELESAIAN KHUSUS
Dua metode penting untuk menetukan suatu penyelesaian khusus dari
(D)y=R(x) berikut ini sering digunakan
a. Metode Koefisien Taktentu
Dalam metode ini kita mengandaiakn bahwa suatu
penyelesaian coba-coba (trial solution) yang memuat konstanta
tidak diketahui (dinyatakan dengan a, b, c, ) dapat ditentukan
dengan memasukkannya kedalam persamaan yang diberikan.
Dalam setiap kasus, penyelesaian coba-coba tersebut diandaikan
bergantung pada kasus R(x) yang ditunjukan pada tebel berikut.
Pada setiap kasus f, g, p, q adalah konstanta yang diberikan dan k
sutu bilangan bulat positif yang juga diberikan.
b. Metode Variasi Parameter
Misalkan penyelesaian komplementer dari (D)y=R(x) adalah
y=c
1
y
1
(x) + c
2
y
2
(x) + + c
n
y
n
(x)
gantilah konstanta sembarang c
1
, c
2
, , c
n
dengan fungsi K
1
(x),
K
2
(x), , K
n
(x) yang akan ditentukan sehingga
y=K
1
y
1
+K
2
y
2
++K
n
y
n
adalah penyelesaian dari (D)y=R(x).
karena untuk menentukan n buah fungsi ini kita harus menentukan
n buah fungsi ini kita harus menentukan n permbatas padanya dan
karena satu dari pembatasa teresebut adalah persamaan
differensial harus dipenuhi, maka sisa pembatas yang harus di
tentukan adalah (n-1). Syarat yang harus dipenuhi untuk
penyederhanaannya diberikan oleh persamaan

()

()

()

()

()

()
()

( )
Dimana persamaan terakhir menyatakan syarat agar persamaan differensial yang
diberikan dapat dipenuhi.
Karena determinasi sistem persamaab di atas adalah determinasi
Wronskian dari y
1
, y
2
, ..., y
n
yang diandaikan tidak sama dengan nol, mka
persamaan tersebut dapat diselesaiakn untuk K
1
, K
2
, ..., K
n
. Dari sini K
1
, K
2
,
..., K
n
dapat ditentukan dengan mengintegralkan untuk memperoleh penyelesaian
yang diinginkan. Metode ini digunakan bilaman penyelesaian komplementernya
dapat ditentukan, termasuk kasus di mana a
0
, ..., a
n
tidak konstan.

TEKNIK OPERATOR
Bilamana a
0
, a
1
, ..., a
n
adalah konstanta, maka persamaan (D)y=R(x)
dapat ditulis dalam faktor berbentuk
a
0
(D-m
1
)(D-m
2
)...(D-m
n
)y=R(x) .......... (D.12)
dimana m
1
, ...,m
n
adalah konstanta dan orde dari faktor-faktor (D-m
1
),
....,(D-m
n
) tidak dipentingkan.. hak ini tidak benar untuk a
=
, a
1
, ...,a
n
bukan
konstanta. Konstanta m
1
, ...,m
n
sama seperti akar-akar persamaan pembantu (D.6)
atau (D.7), dan juga penyelesian komplementernya dapat dituliskan seperti
sebelumnya. Untuk menentukan penyelesaian khusu, metode operator, berikut ini
akan sangat berguna.
1. Metode Penurunan (reduksi) Orde
Misalkan a
0
(D-m
2
)...(D-m
n
)y=Y
1
. Maka (D.12) menjadi (D-
m
1
)Y
1
=R(x) yang dapat diselesaikan untuk Y
1
. Kemudian misalkan
a
0
(D-m
3
)...(D-m
n
)y=Y
2
sehingga(D-m
2
)Y
2
=Y1 dapat diselesaiakan
untuk Y
2
. Dengan melanjutkan cara ini, y dapat ditentukan. Metode ini
menghasilkan penyelesaian umum jika semua konstanta sembarangnya
diberikan, sedangkan bila konstanta sembarang dihilangkan akan
meghasilkan suatu penyelesaian khusus.

2. Metode Operator Invers
Misalkan

()
() didefinisikan sebagai suatu penyelesaian
khusus y
p
sehingga (D)y
p
=R(x). Kita namakan

()
suatu operator
invers. Dengan berpedoman pada jajaran dalam tabel berikut ini,
tenaga yang dilibatkan untuk menentukan penyelesaian khusus
(D)y=R(x) seringkali sangat berkurang. Dalam menggunakan ini kita
sering kali menggunakan teorema

()
*

()

()+

()

()

()

()
Yang secara sederhana menyatakan bahwa pernyatan

()
adalah suatu
operator linier.

PERSAMAAN LINIER DENGAN KOEFISIEN PEUBAH
Ada beberapa macam metode yang tersedia untuk menyelesaikan
persamaan differensial berbentuk (D.1) di mana a
0
,a
1
, ...,a
n
tak-konstan. Berikut
ini kita daftarkan beberapa metode penting.
I. Macam-macam Transformasi Peubah
1. Persamaan Cauchy atau Euler
Persamaan ini berbentuk
(b
0
x
n
D
n
+b
1
x
n-1
D
n-1
+...+b
n-1
xD+b
n
)y=R(x)
Dimana b
0
,b
1
,...,b
n
adalah konstanta. Ini dapat diselesaiakn dengan
memisalkan x=e
t
dan menggunakan hasil
xD=D
t
x
2
D
2
=D
t
(D
t
-1), x
3
D
3
=D
t
(D
t
-1)(D
t
-2), ...
dimana D
t
=d/dt, sehingga mereduksi persamaannya menjadi persamaan
dengan koefisien konstanta. Kasus dimanaR(x)=0 dapat diselesaikan
dengan memisahkan y=x
p
dan menentukan konstanta p.

2. Kasus dimana Satu Penyelesaian Diketahui
Jika satu penyelesaian y=Y(x) dari (D)y=R(x) diketahui, maka
penggatian y=vY(x) akan mentransformasikan persamaan differensial
tersebut ke dalam persamaan berorde (n-1) dalam v. Jika n = 2, persamaan
berorde (n-1) dalam v. Jika n = 2, persamaan tersebut dapat diselesaikan
secara eksak.

3. Reduksi ke bentuk Kanonik\
y + p(x)y + q(x)y =r(x) . (D.13)
dapat ditrasnformasikan kedalam bentuk kanonik
v + f(x)v=g(x) . (D.14)
dimana
() () ,()-

() () ()
()
. (D.15)
Dengan menggunakan penggatian

()
. (D.16)
Jadi jika (D.14) dapat diselesaikan, demikian juga (D.13)
II. Persamaan Eksak
Persamaan [a
0
(x)D
n
+a
1
(x)D
n-1
++a
n
(x)]y=R(x) dinamakan eksak jika
a
0
(x)D
n
+a
1
(x)D
n-1
++a
n
(x)=D[p
0
(x)D
n-1
++P
n-1
(x)]


III. Pemfaktoran Operator
Jika (D) dapat difaktorkan ke dalam factor-faktor dimana setiap faktornya
berbentuk p(x)D+q(x), maka metode penurunan tingkat dapat digunakan.

IV. Metode Deret
Persamaan a
0
(x)y+a
1
(x)y+a
2
(x)y=0 dimana a
0
, a
1
, a
2
adalah suku banyak
sering kali dapat diselesaikan dengan pengandaian bahwa

dimana c
k
= 0, k<0 (D.17)
dimana dan c
k
konstanta. Masukan (D.17) ke dalam persamaan differesial
agar dicapai suatu persamaan untuk c, yang dinamakan persamaan berindeks
(indical equation), dan persamaan untuk konstanta c
0
, c
1
, yang berbentuk
suatu rumus rekursi (recurcion formula). Dengan menyelesaiakannya untuk
dan konstanta lainnya, seringkali dapat diperoleh suatu penyelesaian berbentuk
deret. Deret ini dinamakan suatu deret frobenius dan metodenya seringkali
dinamakan metode Frobenius.



BAB III
MATERI INTI KOLOKIUM
(PERSAMAAN DIFFERENSIAL SIMULTAN)

A. Persamaan Differensial Simultan
Suatu sistem persamaan differensial dengan dua atau lebih peubah
takbebas dan satu peubah bebas dapat diselesaikan dengan mengeliminasi satu
dari peubah takbebasnya, sehingga diperoleh suatu persaman differensial yang
tunggal. Persamaan seperti itu membentuk suatu system persamaan yang
simultan. Cara yang ditempuh untuk penyelesaian persamaan menggunakan
sistem yang simultan, diantaranya :
1. Metode eliminasi dan subtitusi, yang secara simultan menghilangkan
salah satu variable terikat dan turunannya. Selanjutnya menyelesaikan
persamaan differensial yang tertinggal. Jawaban dari persamaan
differensial yang didapat disubtitusikan kedalam persamaan semula
untuk mendapatkan jawaban variable yang tereliminasi.
2. Metode matriks dan determinan (cramer), yang dapat dibuat
berdasarkan persamaan differensial yang diberikan. Selanjutnya
melakukan integral atau penyelesaian yang sesuai dengan ordo
persamaan differensial yang diperoleh.



y x
dt
dx
+ = 4
x y
dt
dy
2 =
dx
dy
B. Metode Eliminasi dan Subtitusi








Contoh soal:
Berikut adalah sistem persamaan differensial :
1.
2.
Prinsip : x dan y disubtitusikan
(y di turunkan sehingga dapat disubtitsikan)



Masih ada y (subtitusikan lagi)


di subtitusikan antara lain

solusi) konstanta 2 2(punya tingkat sistem
) , , (
) , , (
2
1

=
=
y x t f
dt
dy
y x t f
dt
dx
solusi) konstanta 3 3(punya tingkat sistem
) , , , (
) , , , (
2
1

=
=
z y x t f
dt
dy
z y x t f
dt
dx
dt
dy
dt
dx
dt
x d
+ = 4
2
2
) 2 ( 4
2
2
x y
dt
dx
dt
x d
+ =
y x
dt
dx
+ = 4







Persamaan homogen tingkat n


Persamaan karakteristik












x
dt
dx
y 4 =
x
dt
dx
dt
x d
2 ) ( 4
2
2
+ = x
dt
dx
4
0 6 5
2
2
= + x
dt
dx
dt
x d
0 ) 6 5 ( = + x D D
0 6 5 = + o o
0 ) 3 )( 2 ( = o o
3 2
2 1
= = o o
t t
e c e c x
3
2
2
1
+ =
t t
t t t t
e c e c y
e c e c e c e c y
x
dt
dx
y
3
2
2
1
3
2
2
1
3
2
2
1
2
) ( 4 3 2
4
=
+ + =
=
C. Metode Matriks dan determinan
Metode ini menggunakan operator differensial dalam membentuk matrik dan
determinan untuk mendapatkan jawaban umum dan setiap variabel terikat sebagai
fungsi variabel bebasnya.
Bentuk umum dari sistem persamaan ditulis sebagai berikut:


karena persamaan dapat ditulis dalam bentuk operator differensial sebagai berikut:
(1) (D2 + a1 D + a2) x + (D2 + b1 D +b2) y = h(x)
(2) (D2 + c1 D + c2) x + (D2 + d1 D +d2) y = gx)
dari kedua persamaan ini dapat dibuat matrik sebagai berikut:

dengan menggunakan metode cramer didapat :




) ( b x a a
dt
y
(1)
2 1
2
2
2 1
2
2
x h y b
dt
dy
dt
y d
dt
dx d
= + + + + +
) ( d x c c
dt
x
(2)
2 1
2
2
2 1
2
2
x h y d
dt
dy
dt
y d
dt
dx d
= + + + + +
) (
) (
) ( ) (
) ( ) (
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
x g
x h
y
x
y d D d D c D c D
y b D b D a D a D
=
+ + + +
+ + + +
DetA
DetA
y d D d D c D c D
y b D b D a D a D
y d D d D x g
y b D b D x h
t x
1
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( =
+ + + +
+ + + +
+ +
+ +
=
DetA
DetA
y d D d D c D c D
y b D b D a D a D
x g c D c D
x h a D a D
t y
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( =
+ + + +
+ + + +
+ +
+ +
=

Bila det A1 = 0, det A2 = 0, maka akan diperoleh persamaan differensial yang
homogen. Dari persamaan yang diperoleh, jawaban dari PD dapat diselesaikan sesaui
dengan cara-cara pada ordonya masing-masing.
Contoh :
1. Tentukan jawaban dari persamaan:


Jawab :
Persamaan dibuat dalam bentuk operator differensial
(1) (2D2 +3D-9) x + (D2 +7D-14) y = 4
(2) (D+1) x + (D+2) u = -8 e2t
Bentuk matrik utamanya adalah:

selanjutnya dapat dihitung nilai-nilai determinan sebagai berikut :

DetA =(2D
2
+3D-9)(D+2)-(D
2
+7D-14)(D+1)
t
y
x
D D
D D D D
2
2 2
8
4
) 2 ( ) 1 (
) 14 7 ( ) 9 3 2 (

=
+ +
+ +
4 14 7 9x 3
dt
y
2 (1)
2
2
2
2
= + + + + y
dt
dy
dt
y d
dt
dx d
t
e y
dt
dt d
2
8 2 x
dt
x
(2) = + + +
=(2D
3
+2D
2
-9D+4D
2
+4D
2
+6D-18-(D
3
+7D
2
-14D+D
2
+7D-14)
= D
3
-D
2
+4D-4
= D(D
2
+4)(D
2
+4)
=(D-1)(D
2
+4)
DetA
1
= 4(D+2)+8e
2t
(D
2
+7D-14)
= 4D+8+D
2
8e
2t
+7D8e
2t
+112e
2t

= 8+32e
2t
+112e
2t
-112e
2t

=32e
2t
+8
DetA
2
= -8e
2t
(2D
2
+3D-9)-4(D+1)
= -16e
2
e
2t
-24De
2t
-72e
2t
-D4-4
= -64e
2t
-48e
2t
+72e
2t
-4
= -40e
2t
-4
(1) Penyelesaian untuk bentuk x = f (t), didapat:

(D-1)(D
2
+4)x=32e
2t
+8
Fungsi komplementer dengan persamaan karakteristik
) 4 )( 1 (
8 32
) (
2
2
+
+
=
D D
e
t x
t
(m-1)(m
2
+4)=0

fungsi komplementer dalam bentuk x=f(t)
x
c
=c
1
e
t
+c
2
cos2t+c
3
sin2t
(2) Penyelesaian untuk bentuk y = f (t).

(D-1)(D
2
+4)y=-40e
2t
-8
dengan cara yang sama seperti di atas didapat, jawaban umum untuk, y = f(t).
y
c
=c
1
cos2t+c
2
sin2t+c
3
e
t
-5e
2t
+1

2. Tentukan nilai x, y dan z yang memenuhi persamaan differensial simultan di
bawah ini


Jawab :

)
`

=
=
i m
m
2
1
2
1
) 4 )( 1 (
4 40
) (
2
2
+

=
D D
e
t y
t

Diketehui


Ditanya : Berapa nilai x, y dan z ?
Penyelesaian :

di ganti

.. (1)
( )
(-2)x+(D-6)y=0
() =|


|
= ( )( )()
() =

(2)
x = |


| |


|=0

Maka diperoleh persamaan :

()
() , ..(3)

()
() ..(4)
2 dan 3 (

)















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bagimana menentukan harga x, y dan z pada system persamaan
differensial?.
1. Metode Eliminasi dan Subtitusi




2. Metode Matriks dan determinan
Metode ini menggunakan operator differensial dalam membentuk matrik
dan determinan untuk mendapatkan jawaban umum dan setiap variabel terikat
sebagai fungsi variabel bebasnya.
Bentuk umum dari sistem persamaan ditulis sebagai berikut:


karena persamaan dapat ditulis dalam bentuk operator differensial sebagai
berikut:
solusi) konstanta 2 2(punya tingkat sistem
) , , (
) , , (
2
1

=
=
y x t f
dt
dy
y x t f
dt
dx
solusi) konstanta 3 3(punya tingkat sistem
) , , , (
) , , , (
2
1

=
=
z y x t f
dt
dy
z y x t f
dt
dx
) ( b x a a
dt
y
(1)
2 1
2
2
2 1
2
2
x h y b
dt
dy
dt
y d
dt
dx d
= + + + + +
) ( d x c c
dt
x
(2)
2 1
2
2
2 1
2
2
x h y d
dt
dy
dt
y d
dt
dx d
= + + + + +
(1) (D2 + a1 D + a2) x + (D2 + b1 D +b2) y = h(x)
(2) (D2 + c1 D + c2) x + (D2 + d1 D +d2) y = gx)
dari kedua persamaan ini dapat dibuat matrik sebagai berikut:

dengan menggunakan metode cramer didapat :




Bila det A1 = 0, det A2 = 0, maka akan diperoleh persamaan
differensial yang homogen. Dari persamaan yang diperoleh, jawaban dari PD
dapat diselesaikan sesaui dengan cara-cara pada ordonya masing-masing.
B. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu pembaca
khususnya mahasiswa pendidikan matematika dalam mempelajari materi
kolokium khususnya persamaa differensial simultan.
) (
) (
) ( ) (
) ( ) (
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
x g
x h
y
x
y d D d D c D c D
y b D b D a D a D
=
+ + + +
+ + + +
DetA
DetA
y d D d D c D c D
y b D b D a D a D
y d D d D x g
y b D b D x h
t x
1
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( =
+ + + +
+ + + +
+ +
+ +
=
DetA
DetA
y d D d D c D c D
y b D b D a D a D
x g c D c D
x h a D a D
t y
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
2 1
2
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( ) (
) ( =
+ + + +
+ + + +
+ +
+ +
=