Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

Corpus alienum atau benda asing adalah masalah kesehatan keluarga yang biasanya terjadi pada anak anak. Bahan - bahan asing yang sering ditemukan biasanya makanan, mainan, dan peralatan rumah tangga yang kecil. Diagnosis pada pasien sering terlambat karena penyebab biasanya tidak terlihat dan gejalanya tidak spesifik dan sering terjadi kesalahan diagnosis pada awalnya. 1 Benda asing diesofagus sering ditemukan di daerah penyempitan fisiologis esophagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan tersangkut diservikal esophagus. Biasanya diotot krikofaring atau arkus aorta, kadang-kadang didaerah penyilangan esophagus dengan bronkus utama kiri atau pada sfingter kardio-esofagus. Tujuh puluh persen dari 2394 kasus benda asing esophagus ditemukan didaerah servikal, dibawah sfingter krikofaring, 12% didaerah hipoparing dan 7,7% di esophagus torakal. Dilaporkan 48% kasus benda asing yang tersangkut didaerah esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan atau infeksi local. Pada orang dewasa, benda asing yang tersangkut dapat berupa makanan atau bahan yang tidak dapat dicerna, seperti biji buah-buahan, gigi palsu, tulang ikan atau potongan daging yang melekat pada tulang. Insidens benda asing berupa batu baterai ( disc battery) 500-900 kasus tiap tahun di amerika serikat (1983). Daerah yang paling sering untuk tersangkut adalah jalan masuk ke esophagus setinggi otot krikofaringius. Daerah lain yang paling sering adalah dimana esophagus beridentasi oleh arkus aorta dan bronkus utama kiri serta jalan masuk kedalam gaster. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Esofagus Esophagus merupakan saluran yang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut kelambung. Dalam perjalanannya dari faring menuju gaster, esophagus melalui tiga kompertemen, yaitu leher, toraks, dan abdomen. Esophagus yang berada dileher adalah sepanjang lima sentimeter dan berjalan diantara trakea dan kolumna vertebralis, serta selanjutnya memasuki rongga toraks setinggi manubrium sterni.3 Didalam rongga dada, esophagus berada dimediastinum posterior mulai dibelakang aorta dan bronkus cabang utama kiri, kemudian akan membelok kekanan berada disamping kanan depan aorta torakalis bawah dan masuk kedalam rongga perut melalui hiatus esophagus dari diafragama dan berakhir dikardia lambung. Panjang esophagus yang berada dirongga perut berkisar dua sampai empat sentimeter. Otot esophagus sepertiga bagian atas adalah otot serat lintang yang berhubungan erat dengan otot-otot faring, sedangkan dua pertiga bagian bawah adalah otot polos yang terdiri atas otot sirkular dan otot longitudinal seperti ditemukan pada saluran cerna lainnya. esofagus menyempit pada tiga tempat, penyempitan pertama yang bersifat sfingter, terletak setinggi tulang rawan krikoid pada batas antara faring dan esophagus. Yaitu tempat peralihan otot serat lintang menjadi otot polos.3 Penyempitan kedua terletak dirongga dada dibagian tengah , akibat tertekan lengkung aorta dan bronkus utama kiri. Penyempitan ini tidak bersifat sfingter. Penyempitan terakhir terletak pada hiatus esophagus difragama, yaitu tempat esophagus berakhir dikardia lambung, otot polos pada bagian ini murni bersifat sfingter. Esophagus mendapat darahnya dari banyak ateri kecil. Bagian atas esophagus yang berada dileher dan rongga dada mendapat darah dari a. tiroidea inferior. Beberapa cabang arteri bronkialis

dan beberapa arteri kecil dari aorta. Esophagus dihiatus esophagus dan rongga perut mendapat darah dari arteri frenika inferior kiri dan cabang arteri gastrika kiri. 3

Gambar 1

2.2 Fisiologi Esofagus Fungsi utama esophagus adalah menyalurkan makanan dan minuman dari mulut kelambung. Proses ini mulai dengan pendorongan makanan oleh lidah kebelakang, penutupan glottis dan nasofaring, serta relaksasi sfingter faring esophagus. Proses ini diatur oleh serat lintang didaerah faring . didalam esophagus, makanan turun oleh peristalsis primer dan gaya berat terutama untuk makanan padat dan setengah padat, serta peristalsis ringan, makanan dari esophagus masuk kedalam lambung karena relaksasi sfingter esophagus kardia. Setelah makanan masuk kedalam lambung, tonus sfingter ini kembali kekeadaan semula sehingga mencegah makanan masuk kembali ke esophagus. 3 Proses muntah terjadi karena tekanan didalam rongga perut dan lambung meningkat serta terjadi relaksasi sementara sfingter esofagokardia sehingga secara reflex makanan dan cairan dari dalam lambung dan esophagus naik kefaring dan dikeluarkan melalui mulut. 3

2.3 Definisi Benda asing di esophagus adalah benda asing tajam maupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus baik yang sengaja maupun tidak sengaja adalah benda asing yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh. Peristiwa tertelan atau tersangkutnya benda asing merupakan masalah utama pada anak usia 6 bulan sampai 6 tahun dan dapat terjadi pada semua umur pada tiap lokasi di esophagus, baik di tempat penyempitan fisiologis maupun patologis dan dapat pula menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi. 4,2 2.4 Jenis-jenis Benda asing yang berasal dari luar tubuh disebut benda asing eksogen, biasanya masuk melalui hidung atau mulut. Sedangkan yang berasal dari dalam tubuh disebut benda asing endogen. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair dan gas. Benda asing eksogen padat terdiri dar zat organic seperti kacang-kacangan, daging, tulang yang berasal dari kerangka binatang dan zat organic seperti paku, jarum, peniti, batu, uang logam, baterai, gigi palsu, dan lain-lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair non iritatif, yaitu cairan dengan Ph 7,4. Benda asing endogen dapat berupa secret kental, darah atau bekuan darah, nanah, krusta dan lain-lain.2 2.5 Etiologi Dan Faktor Predisposisi Secara klinis masalah yang timbul akibat benda asing. Esophagus dapat dibagi dalam golongan anak dan dewasa. Penyebab pada anak antara lain, anomali kongenital termasuk stenosis kongenital, web, fistel trakeoesofagus dan pelebaran pembuluh darah. Faktor Predisposisi antara lain belum tumbuhnya gigi molar untuk dapat menelan dengan baik, koordinasi proses menelan dan sfringter laring yang belum sempurna pada kelompok usia 6 bulan sampai 1 tahun, retardasi mental, gangguan pertumbuhan dan penyakit penyakit neurologic lain yang mendasarinya. Pada orang dewasa tertelan benda asing sering dialami oleh pemabuk atau pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa (tactile sensation) dari palatum, pada pasien gangguan mental dan psikosis. 2 Faktor predisposisi lain ialah adanya penyakit-penyakit esophagus yang

menimbulkan gejala disfagia kronis, yaitu penyakit esophagitis refluks, striktur pasca esophagitis korosif, akhlasia, karsinoma esophagus atau lambung, cara mengunyah yang salah dengan gigi palsu yang kurang baik pemasanganya, mabuk (alkoholisme) dan intoksikasi (keracunan). 4 ,2 2.6 Patogenesis Benda asing yang berada lama di esofhagus dapat menimbulkan berbagai komplikasi, antara lain jaringan granulasi yang menutupi benda asing, radang periesofagus. Benda asing tertentu seperti baterai alkali mempunyai toksisisitis intrinsic local dan sistemik dengan reaksi edema dan imflamasi local, terutama bila terjadi pada anak-anak.2 Batu baterai (disc battery) mengandung elektrolit, baik natrium atau kalium hidroksida dalam larutan kaustik pekat (concentrated caustic solution). Pada peneletian binatang invitro invivo, bila baterai berada dalam lingkungan yang lembab dan basah, maka pengeluaran elektrolit akan terjadi dengan cepat, sehingga terjadi kerusakan jaringan (tissue saponification) dengan ulserasi local, perforasi atau pembentukan striktur. Absorbsi bahan metal dalam darah menimbulkan toksisitas sistemik. Oleh karena itu benda asing batu baterai harus segera dikeluarkan.2 2.7 Gejala dan tanda Gejala sumbatan akibat benda asing esophagus tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnyaa benda asing (apakah berada didaerah penyempitan esophagus yang normal atau patologis), komplikasi yang timbul akibat benda asing tersebut dan lama benda asing tertelan. Gejala permulaan benda asing esophagus adalah rasa nyeri didaerah leher bila benda asing tersangkut didaerah servikal. Bila benda asing tersangkut diesofagus bagian distal timbul rasa tidak enak didaerah substernal atau nyeri dipunggung. Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran benda asing. Disfagia lebih berat bila telah terjadi edema mukosa yang memperberat sumbatan, sehingga timbul rasa sumbatan esophagus yang persiste, gejala lain adalah odinofagia yaitu rasa nyeri ketika menelan makanan atau ludah, hipersalivasi, regurgitasi dan muntah. Kadang-

kadang ludah berdarah. Nyeri dipunggung menunjukkan tanda perforasi atau mediastinitis. Gangguan napas dengan gejala dispne, stridor dan sianosis terjadi akibat penekanan trakea oleh benda asing. Gejala-gejala dikaitkan dengan tertelan benda asing terjadi dalam tiga tahap. Pada tahap pertama gejala-gejala awal, serangan hebat dari batuk atau muntah. 2 Hal ini terjadi ketika benda asing pertama tertelan. Pada tahap kedua adalah interval tidak ada gejala. Benda asing telah tersangkut, serta gejala-gejala tidak lagi ditimbulkan. Pada tahap ini dapat berlangsung untuk sesaat atau sementara. Pada tahap ketiga terdiri dari gejala-gejala yang ditimbulkan oleh komplikasi. Kemungkinan timbul rasa tidak nyaman,disfagia, sumbatan, atau perforasi esophagus dengan dihasilkan mediastinitis.2 2.8 Diagnosis Diagnosis benda asing diesofagus ditegakkan berdasarkan anamanesis, gambaran klinis dengan gejala dan tanda, pemeriksaan radiologic dan endoskopik. Tindakan endoskopi dilakukan untuk tujuan dignostik dan terapi. Diagnosis tertelan benda asing, harus dipertimbangkan pada setiap anak dengan riwayat rasa tercekik (choking), rasa tersumbat ditenggorok (gagging), batuk, muntah. Gejala-gejala ini diikuti dengan disfagia, berat badan menurun, demam dan gangguan nafas. Harus diketahui dengan baik ukuran, bentuk dan jenis benda asing dan apakah mempunyai bagian yang tajam.5, 2 2.9 Pemeriksaan Fisik Terdapat kekakuan lokal pada leher bila benda asing terjepit akibat edema yang timbul progresif. Bila benda asing ireguler menyebabkan perforasi akut, didapatkan tanda pneumo-mediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi terdengar suara geteran didaerah prekordial atau interskapula. Bila terjadi mediastiniti, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat dideteksi. Perforasi langsung kerongga pleura dan pneumotoraks jarang terjadi, tapi dapat timbul sebagai komplikasi tindakan endoskopi. Pada anak-anak, gejal nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi ludah atau minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi, mengi (wheezing), demam abses leher atau tanda emfisema subkutan. Tanda lanjut, berat badan menurun dan gangguan pertumbuhan.

Benda asing yang berada didaerah servikal esophagus dan dibagian distal krikofaring, dapat menimbulkan gejala obstruksi saluran nafas dengan stridor, karena menekan dinding trakea bagian posterior (tracheoesophageal party wall). Radang dan edema periesopfagus. Gejala aspirasi rekurun akibat obstruksi esophagus sekunder dapat menimbulkan pneumoni, bronkiektasis dan abses paru.2 2.10 Pemeriksaan Radiologik Foto rontgen polos esophagus servikal dan torakal anteroposterior dan lateral, harus dibuat pada semua pasien yang diduga tertelan benda asing. Benda asing radioopak seperti uang logam, mudah diketahui lokasinya dan harus dilakukan foto ulang sesaat sebelum tindakan esefaguskopi untuk mengetahui kemungkinan benda asing sudah pindah kebagian distal. Letak uang logam umumnya koronal, maka hasil foto rontgen servikal/ toakal pada posisi PA akan dijumpai bayangan radio opak berbentuk bundar, sedangkan pada pasien lateral berupa garis radioopak yang sejajar dengan kolumna vertebralis. Benda asing seperti tulang, kulit telur dan lain-lain cenderung berada pada kondisi koronal dalam esophagus, sehingga lebih mudah dilihat pada posisi lateral. Benda asing radiolusen seperti plastik, aluminium dan lain-lain, dapat diketahui dengan tanda inflamasi pariesofagus atau hiperinflamasi hipofaring dan esophagus bagian proksimal. Foto rontgen torak dapat menunjukkan gambaran perforasi esophagus dengan emfisema servikal, emfisema mediastinal, pneumotoraks, pyotoraks mediastinitis, serta aspirasi pneumoni. Foto rontgen leher posisi lateral dapat menunjukkan tanda perforasi, dengan trakea dan laring tergeser kedepan, gelembung udara dan jaringan, adanya bayangan dan cairan atau abses bila perforasi telah berlangsung beberapa hari. 2 Gambaran radiologik benda asing batu baterai menunjukkan pinggir bulat dengan gambaran densitas ganda, karena bentuk bilaminer. Foto polos sering tidak menunjukkan gambaran benda asing, seperti daging dan tulang ikan, sehingga memerlukan pemeriksaan esophagus dengan kontras (esofagogram). Esofagogram pada benda asing radiolusen akan memperlihatkan filling defect persiisten. Pemeriksaan esophagus dengan kontras sebaiknya tidak dilakukan pada benda asing radioopak karena densitas benda asing

biasanya sama dengan zat kontras, sehingga akan menyulitkan penilaian ada tidaknya benda asing. Risiko lain adalah terjadinya aspirasi bahan kontras. Bahan kontras barium lebih baik dari pada zat kontras yang larut di air seperti gastrografin, karena sifatnya kurang tokisis terhadap saluran napas bila terjadi aspirasi kontras, sedangkan gastrografin bersifat mengiritasi paru. Oleh karena itu pemakaian kontras gastrografin harus dihindari terutama pada anak-anak. Xeroradiografi dapat menunjukkan gambaran penyangatan (enhancement) pada daerah pinggir benda asing. CT Scan esophagus dapat menunjukkan gambaran imflamasi jaringan lunak dan abses. MRI dapat menunjukkan gambaran semua keadaan patologik esophagus. Bagaimana juga, tanpa bukti radiologic, belum dapat menyingkirkan adanya benda asing di esophagus.2,7

Gambar.2. koin di esofagus 2.11 Penatalksanaan Pertolongan pertama pada tahap awal gejala-gejala sebaiknya mendorong untuk melakukan sesuatu. Memukul punggung pasien, menggantungkan anak dengan memegang tumitnya, meletakkan jari telunjuk dibawah tenggorokan pasien, atau mengusahakan

pengeluaran secara buta dapat mengubah benda asing tidak terkomplikasi sederhana kedalam sumbatan terkomplikasi. Benda asing diesofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi dengan menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing tersebut. Bila benda asing telah berhasil dikeluarkan harus dilakukan esofagoskopi ulung untuk menilai adanya kelainan-kelainan esophagus yang telah ada sebelumnya. Benda asing tajam yang tidak berhasil dikeluarkan dengan esofagoskopi harus segera dikeluarkan dengan pembedahan, yaitu servikotomi, torakotomi atau esofagotomi, tergantung lokasi benda asing tersebut. Bila dicurigai adanya perforasi yang kecil segera dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak menelan, baik makanan maupun ludah dan diberikan antibiotik berspektrum luas selama 7-10 hari untuk mencegah timbulnya sepsis. 5 Benda asing tajam yang telah masuk kedalam lambung dapat menyebabkan perforasi dipylorus. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan tanda perforasi sedini mingkin dengan melakukan pemeriksaan radiologik untuk mengetahui posisi dan perubahan letak benda asing. Bila letak benda asing menetap selama 2 kai 24 jam maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secara pembedahan (laparotomi). Benda asing uang logam diesofagus bukan keadaan gawat darurat, namun uang logam tersebut harus dikeluarkan sesegera mungkin dengan persiapan tindakan esofaguskopi yang optimal untuk mencegah komplikasi. Benda asing baterai bundar di esophagus merupakan benda yang harus dikeluarkan karena resiko perforasi esophagus yang terjadi dengan cepat dalam waktu 4 jam setelah tertelan akibat nekrosis esophagus. 2 2.12 Komplikasi Benda asing dapat menimbulkan laserasi mukosa, perdarahan, perforasi lokal dengan abses leher atau mediastiniti. Perforasi esophagus dapat menimbulkan selulitis local, fistel trakeoesofagus. Benda asing bulat atau tumpul dapat juga menimbulkan perforasi, sebagai akibat nsekunder dari imflamasi kronik dan erosi. Jaringan granulasi disekitar benda asing timbul bila benda asing berada diesofagus dalam waktu yang lama.2

Gejala dan tanda perforasi eofagus servikal dan torakal oleh karena benda asing atau lalat, antara lain emfisema subkutis atau mediastinum, krepitasi kulit didaerah leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher,demam dan menggigil, gelisah, nadi dan pernapasan cepat, nyeri yang menjalar kepunggung, retrosternal dan efigastrium. Bila terjadi perforasi kepleura dapat timbul pnemotoraks atau pyotoraks.2,7 2.13 Diagnosis banding Disfagia dan obstruksi oleh benda asing harus dibedakan dengan gejala karena penyakit lain, terutama pada orang dewasa dan usia lanjut, seperti akalasia esophagus, stenosis karena sriktur dan keganasan. Pada alkalasia tampak pelebaran lumen esophagus dengan bagian distal yang menyempit, terdapat sisa makanan dan cairan dibagian proksimal daerah penyempitan. Mukosa esophagus berwarna pucat, edema dan kadangkadang terdapat tanda-tanda esophagitis akibat retensi makanan.6,8

BAB III KESIMPULAN

Esophagus merupakan saluran yang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut kelambung, esophagus terdiri dari sepertiga atas adalah otot serat lintang dan 2/3 bawah adalah otot polos. Penyempitan pada esophagus terdapat pada muskulus krikofaringeus, pintu masuk torak, arkus aorta, bifurkasio trakea, hiatal. Benda asing di esophagus adalah benda asing tajam maupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus baik yang sengaja maupun tidak sengaja adalah benda asing yang berasal dari luar atau dalam tubuhyang dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh. Corpus alienum atau benda asing adalah masalah kesehatan keluarga yang biasanya terjadi pada anak anak. Bahan - bahan asing yang sering ditemukan biasanya makanan, mainan, dan peralatan rumah tangga yang kecil. Diagnosis pada pasien sering terlambat karena penyebab biasanya tidak terlihat dan gejalanya tidak spesifik dan sering terjadi kesalahan diagnosis pada awalnya. Diagnosis benda asing diesofagus ditegakkan berdasarkan anamanesis, gambaran klinis dengan gejala dan tanda, pemeriksaan radiologic dan endoskopik,

DAFTAR PUSTAKA

1. Mandasari, Nova R. 2010. Benda asing Di esophagus. Available at www.

Scribd.com. diakses tanggal: 8 september 2012


2. Yunizap M. Benda asing dalam esophagus. In: Soepardi, Eflaty A, Iskandar,

N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi Ke 6. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008. Hal: 299-302
3. Karnadihardja W. Esofagus dan diafragma. In: Sjamsuhidayat, R. Buku

Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-de Jong, Edisi3, Hal 512 -513

Jakarta : EGC. 1996

4. Siegel LG. Penyakit Jalan Nafas Bagian Bawah, Esofagus, dan Mediastinum.

Dalam : BOIES Buku Ajar penyakit THT. Editor: Adam GL, Higler PA. Edisi 6. Jakarta : EGC. 1997 Hal. 458
5. Mansjoer,

Arif

dkk. Kapita Hal : 135

Selekta Kedokteran,

Jakarta:

Media

Aesculapius. 2001

6. Hadjat, Fachri. Penyakit dan kelainan esophagus, In: Soepardi, Eflaty A,

Iskandar, N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi Ke 6. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008. Jakarta : Balai penerbit FKUI. Hal : 285
7. Kartika,

Heni.

2007.

Bronchoesophagology.

Available

at

www.

wordpress.com.

di akses tanggal: 8 september 2012

8. Santoso, Budi. 2009. Benda Asing di Esofagus. avaliable at www.

Oncologychannel.com. diakses tanggal : 8 september 2012