Anda di halaman 1dari 14

MODUL GERIATRI: DIABETES PADA LANSIA SKENARIO Laki-laki 68 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan menurut keluarganya

tiba-tiba terpeleset dan jatuh terduduk di depan kamar mandi tadi pagi. Setelah itu kedua tungkai tidak dapat digerakkan, tetapi kalau diraba atau dicubit masih dirasakan oleh penderita. Sejak seminggu penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas serta nafsu makan sangat berkurang tetapi tidak demam. Penderita selama ini mengidap dan minum obat penyakit kencing manis dan tekanan darah tinggi, kedua mata dianjurkan untuk operasi tetapi penderita selalu manolak.

PERTANYAAN 1. Mengapa fungsi motorik pada pasien tersebut terganggu sedangkan fungsi sensorik baik? 2. Jelaskan teori proses menua! 3. Perubahan apa saja yang terjadi akibat aging process? 4. Apa saja yang termasuk faktor resiko jatuh? 5. Bagaimana patomekanisme gejala, riwayat penyakit dan riwayat minum obat dihubungkan dengan skenario? 6. Sebutkan jenis gangguan penglihatan dihubungkan dengan skenario! 7. Apa hubungan antara penyakit yang diderita sebelumnya dengan keadaan pasien saat ini? 8. Bagaimana status gizi pasien tersebut? 9. Apa saja yang termasuk komplikasi jatuh? 10. Apa informasi dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan? 11. Bagaimana rencana dan prioritas penatalaksanaan terhadap pasien tersebut? 12. Apa upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar pasien tidak jatuh berulang? 13. Bagaimana prognosisnya? DIABETES MELITUS Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit metabolik di mana tubuh tidak dapat mengendalikan glukosa akibat kekurangan hormon insulin. Kekurangan hormon ini dalam tubuh

bisa disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Berdasarkan kedua faktor tersebut, diabetes mellitus (DM) terbagi menjadi DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 disebabkan oleh faktor genetik dan terjadi sejak kanak-kanak di mana sel-sel beta pankreas tidak dapat memproduksi insulin akibat adanya autoantibodi yang menyerang selsel beta pankreas. Sedangkan DM tipe 2 dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan seperti makanan dengan kadar glukosa tinggi yang dikonsumsi secara berlebihan dan terus menerus sehingga terjadi gangguan metabolisme glukosa dalam tubuh, didukung dengan adanya riwayat keluarga yang menderita DM. DM tipe 2 ini terjadi pada usia dewasa dan usia lanjut. DIABETES MELITUS PADA USIA LANJUT Usia lanjut merupakan masa usia di mana terjadi perubahan-perubahan yang menyebabkan terjadinya kemunduran fungsional pada tubuh. Salah satunya adalah terjadinya penurunan produksi dan pengeluaran hormon yang diatur oleh enzim-enzim yang juga mengalami penurunan pada usia lanjut. Salah satu hormon yang menurun sekresinya pada usia lanjut adalah insulin. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya diabetes mellitus pada usia lanjut. Namun demikian, beberapa faktor resiko seperti resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan terjadinya perubahan vaskular, kegemukan akibat kurangnya aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan asupan makanan yang adekuat, sering mengkonsumsi obat-obatan, faktor genetik, dan keberadaan penyakit lain yang memperberat diabetes mellitus, juga memegang peran penting. Diabetes melitus yang terdapat pada usia lanjut mempunyai gambaran klinis yang bervariasi luas, dari tanpa gejala sampai dengan komplikasi nyata dan kadang-kadang menyerupai penyakit atau perubahan yang biasa ditemui pada usia lanjut. Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia dan polifagia, pada DM usia lanjut tidak ada. Umumnya pasien datang dengan keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada usia lanjut, respon tubuh terhadap berbagai perubahan/gejala penyakit mengalami penurunan. Biasanya yang menyebabkan pasien usia lanjut datang berobat adalah karena gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan biasa.
2

KOMPLIKASI-KOMPLIKASI YANG DIALAMI OLEH PASIEN USIA LANJUT YANG MENDERITA DIABETES MELITUS DAN MENGAKIBATKAN JATUH Komplikasi DM pada usia lanjut ada yang akut dan ada pula yang kronik. Komplikasi DM akut antara lain ketoasidosis, koma diabetikum, dan sebagainya. Sedangkan komplikasi DM kronik antara lain makroangiopati, mikroangiopati dan neuropati. Komplikasi akibat makroangiopati terutama akan meningkatkan mortalitas, sedangkan komplikasi

mikroangiopati akan meningkatkan morbiditas. Komplikasi mikroangiopati antara lain retinopati diabetik dan nefropati diabetik; komplikasi makroangiopati antara lain terjadinya atherosklerosis yang menimbulkan komplikasi lebih lanjut pada serebrovaskular; sedangkan komplikasi berupa neuropati, disebut juga neuropati diabetik, yang tersering adalah neuropati perifer. Berbagai komplikasi yang disebutkan di atas dapat menyebabkan jatuh pada usia lanjut. Selain itu, kesalahan dalam mengkonsumsi obat antidiabetik oral oleh karena kelebihan/kekurangan dosis dan ketidakseimbangan antara asupan makanan dan obat antidiabetik oral dengan aktivitas sehari-hari yang menyebabkan hipoglikemi/hiperglikemi juga dapat membuat jatuh pada usia lanjut. Semuanya akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut. Retinopati Diabetik dan Katarak Komplikata Ada kaitan yang kuat antara hiperglikemia pada penderita DM dengan dengan insidens dan berkembangnya retinopati. Manifestasi dini retinopati berupa mikroaneurisma (pelebaran vaskular kecil) dari arteriole retina. Akibatnya terjadi perdarahan, neovaskularisasi dan jaringan parut retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Ganguan penglihatan lainnya adalah katarak disebabkan komplikasi dari penyakit diabetes melitus (katarak komplikata). Pada katarak komplikata akibat DM ini, terjadi penimbunan sorbitol dalam lensa oleh karena kekurangan insulin. Perlu diketahui, bahwa hiperglikemi pada DM menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan yang dapat mentranspor glukosa tanpa memerlukan insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol yang akan tertumpuk dalam sel/jaringan dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi jaringan tersebut.
3

Penumpukan sorbitol pada lensa ini mengakibatkan katarak dan kebutaan. Kedua penyakit tersebut merupakan faktor resiko intrinsik sebagai komplikasi DM. Pasien pada skenario dianjurkan untuk operasi mata akan tetapi pasien selalu menolak. Sementara itu, retinopati diabetik dan katarak sebenarnya dapat diobati jika ditangani lebih dini. Katarak dapat dioperasi dengan cara memasang lensa artifisial, sedangkan retinopati diabetik dapat diobati dengan fotokoagulasi retina di mana sinar laser difokuskan pada retina sehingga menghasilkan parut korioretinal yang di tempatkan dikutub posterior retina. Pengobatan ini juga dapat menekan neovaskularisasi dan perdarahan yang terjadi pada retinopati diabetik. Oleh karena tidak diobati, maka mata pasien tersebut menjadi kabur dan dapat menyebabkan pasien terjatuh, apalagi jika didukung oleh kelemahan otot akibat proses penuaan dan faktor lingkungan, seperti lantai yang licin, dan sebagainya. Neuropati Diabetik Diabetes melitus seringkali juga menimbulkan komplikasi di susunan saraf pusat dan perifer. Baik di pusat maupun perifer, kerusakan akibat diabetes melitus bersifat sekunder yaitu melalui vaskulitis. Karena itu, endotelium arteri-arteri menjadi rusak yang mempermudah pembentukan trombus. Permeabilitasnya menjadi lebih besar yang memperbesar kemungkinan masuknya mikroorganisme dan toksin dari sawar darah otak dan mempermudah terbentuknya mikro-aneurisme. Neuropati diabetika merupakan komplikasi vaskulitis di susunan saraf perifer. Anoksia akibat mikrotrombosis dan mudah terkena substansi toksik merupakan mekanisme yang mendasari disfungsi susunan saraf perifer, terutama komponen sensoriknya. Neuropati diabetik, selain sebagai komplikasi dari vaskulitis juga disebabkan karena pada jaringan saraf terjadi penimbunan sorbitol dan fruktosa serta penurunan kadar mioinositol yang menimbulkan neuropati. Perubahan biokimia dalam jaringan saraf akan mengganggu aktivitas metabolik sel-sel Schwann dan menyebabkan kehilangan akson. Akibatnya, kecepatan konduksi motorik akan berkurang, selanjutnya timbul nyeri, parestesia, berkurangnya sensasi getar dan proprioseptik dan gangguan motorik yang disertai hilangnya refleks-refleks tendon dalam dan kelemahan otot. Hal-hal tersebut dapat memungkinkan pasien lansia pada kasus mengalami jatuh.
4

Nefropati Diabetik Nefropati diabetik bermanifestasi secara dini sebagai proteinuria dan merupakan komplikasi dari penyakit hipertensi yang mengenai ginjal. Selain itu, pada nefropati diabetik, terjadi kebocoran pembuluh darah glomerulus akibat penyakit diabetes sehingga glukosa dapat keluar bersama urin dan terjadilah glukosuria. Jatuh yang dialami oleh penderita usia lanjut pada skenario kemungkinan disebabkan oleh karena banyaknya glukosa darah yang terbuang melalui urin akibat nefropati diabetik sehingga kadar glukosa dalam darah kurang. Terlebih lagi jika ternyata pada anamnesis tambahan, pasien seringkali melakukan aktivitas fisik yang cukup berat untuk orang seusianya tanpa didukung asupan makanan yang adekuat disertai mengkonsumsi obat antidiabetik, maka akan terjadi hipoglikemia dan otak kekurangan gukosa sebagai satu-satunya sumber energi sehingga mengakibatkankan pasien tersebut jatuh. Hipoglikemi Hipoglikemia dapat terjadi pada penderita yang tidak mendapat dosis obat antidiabetik yang tepat, tidak makan cukup atau dengan gangguan fungsi hati dan ginjal. Kecenderungan hipoglikemia pada orang tua disebabkan oleh mekanisme kompensasi dalam tubuh berkurang dan asupan makanan yang tidak adekuat karena kurangnya nafsu makan yang umumnya terjadi pada orang tua. Selain itu, hipoglikemia tidak mudah dikenali pada orang tua karena timbul perlahan-lahan tanpa tanda akut (akibat tidak ada refleks simpatis) dan dapat menimbulkan disfungsi otak sampai koma yang jika berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Hipoglikemia juga dapat terjadi akibat penurunan ekskresi dan metabolisme klorpropamid (salah satu obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea dengan waktu paruh yang lama) pada usia lanjut. Oleh karena itu, pasien pada skenario kemungkinan terjatuh akibat hipoglikemi setelah mengkonsumsi obat antidiabetik oral tersebut sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Hiperglikemia Hiperglikemia juga dapat menyebabkan jatuh pada pasien tersebut. Akan tetapi, sebelum menyimpulkan bahwa pasien jatuh oleh karena hiperglikemia, perlu anamnesis tambahan apakah pasien meminum obat antidiabetiknya teratur atau tidak, bagaimana aktivitasnya sehari-hari dan jumlah kalori dan kandungan glukosa makanan yang dikonsumsinya sehari-hari. Jika ternyata pasien tidak patuh meminum obat sesuai yang dianjurkan oleh dokter (jarang minum obat), disertai aktivitas fisik yang kurang, misalnya kurang olahraga dan sering diet dengan makanan tinggi kalori, maka kemungkinan pasien jatuh oleh karena hiperglikemi meskipun ia minum obat. Selain itu, penyakit DM juga dapat mencetuskan terjadinya atherosklerosis. Resistensi insulin yang terjadi pada penderita DM bertambah dengan semakin bertambahnya usia. Resistensi insulin ini akan meningkatkan sintesis VLDL di hati dan pada gilirannya akan menaikkan kadar trigliserid dalam darah. Kenaikan VLDL ini sedikit banyak juga akan menyebabkan kenaikan LDL karena pada proses metabolismenya, dari VLDL melalui IDL akhirnya akan terbentuk LDL. IDL dan LDL ini bersifat aterogenik yang akan mengakibatkan terbentuknya plak atherosklerosis pada pembuluh darah. Jika atherosklerosis ini terdapat pada pembuluh darah otak, maka perfusi di otak kurang, otak kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga dapat menyebabkan jatuh. Obat Antidiabetik Oral Pengaruh obat antidiabetik oral terhadap jatuhnya pasien sebagian telah dijelaskan di atas. Namun demikian, selain oleh karena proses penyakit (patologis), terjadinya perubahan farmakodinamik pada lansia terhadap obat-obatan yang dikonsumsi di dalam tubuh penderita juga berperan penting dalam kasus ini. Perubahan-perubahan tersebut melalui beberapa mekanisme, antara lain: terjadi perubahan jumlah reseptor obat, perubahan afinitas, transduksi sinyal dan perubahan target organ obat pada lansia. Hal ini mungkin bisa menjelaskan bahwa meskipun penderita meminum obat antidiabetik oralnya, efek obat tersebut dalam tubuh tidak maksimal. Adanya polifarmasi yang terjadi pada usia lanjut yang menyebabkan terjadinya interaksi antara obat yang satu dengan yang lainnya, dapat menimbulkan

hipoglikemia/hiperglikemia yang dapat memperbesar kemungkinan jatuhnya penderita tersebut. ANALISA DAN SINTESA SEMUA INFORMASI Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa kemungkinan besar pasien pada skenario mengalami jatuh disebabkan oleh gangguan penglihatan yang dialami sebagai komplikasi dari penyakit diabetes melitus yang dialami oleh pasien. Meskipun telah mendapatkan terapi pengobatan dari dokter mengenai penyakitnya, akan tetapi kemungkinan pasien tidak teratur dalam meminum obatnya, baik karena kekurangan dosis akibat jarang minum obat maupun kelebihan dosis akibat menurunnya daya ingat yang terjadi pada usia lanjut akibat proses menua sehingga dia tidak lupa apakah sudah minum obat atau belum. Selain itu, ketidakdisiplinan dalam meminum obat bisa jadi disebabkan karena kurangnya perhatian keluarga dalam hal ini. Untuk itu perlu anamnesis tambahan mengenai bagaimana hubungan pasien dengan anggota keluarganya yang terdekat. Kemungkinan lain yang juga bisa menjadi pertimbangan adalah meskipun pasien meminum obatnya dengan teratur, akan tetapi dalam skenario dikatakan ia kurang nafsu makan, ditambah lagi dengan batuk-batuk dan sesak nafas yang dialaminya yang tentu saja memerlukan energi yang diperoleh dari makanan, menyebabkan pasien mengalami hipoglikemia yang mengakibatkan pasien tersebut jatuh. Semua yang disebutkan di atas dapat memperparah penyakit diabetes melitus yang dialami pasien dan komplikasi kronik yang bisa timbul dan yang paling mungkin terjadi adalah katarak akibat diabetes melitusnya (katarak komplikata) sebab di dalam skenario dikatakan bahwa pasien sudah dianjurkan untuk operasi mata tetapi ia selalu menolak. Akibatnya, ia bisa jatuh karena visusnya menurun di samping karena faktor-faktor lingkungan, seperti pencahayaan lampu yang tidak baik di rumahnya, dan sebagainya. FAKTOR RESIKO JATUH Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh: 1. Sistem Sensorik

Yang berperan di dalamnya adalah visus (penglihatan), pendengaran, fungsi vestibuler, dan propioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menyebabkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses menua. Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi propioseptif. Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hamper sepertiga lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik. 2. Sistem saraf pusat (SSP) SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik. 3. Kognitif Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko jatuh. 4. Muskuloskeletal Faktor ini disebutkan leh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar-benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan musculoskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh: Kekakuan jaringan penghubung Berkurangnya massa otot Perlambatan konduksi saraf Penurunan visus/lapangan pandang Kerusakan propioseptif Yang kesemuanya menyebabkan: Penurunan range of motion (ROM) sendi
8

Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah Perpanjangan waktu reaksi Kerusakan persepsi dalam Peningkatan postural sway (goyangan badan) Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah/terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung, kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan jatuh. Secara singkat faktor risiko jatuh pada lansia dibagi dalam dua golongan besar, yaitu: 1) Faktor-faktor intrinsic (faktor dari dalam) 2) Faktor-faktor ekstrinsik (faktor dari luar) PENYEBAB TUNGKAI TIDAK DAPAT DIGERAKKAN Pada kasus ini pasien dinyatakan jatuh terpeleset. Mekanisme trauma Seseorang yang jatuh terpeleset kemungkinan bisa ke depan atau ke belakang. Jika jatuh ke depan maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas sebagai akibat menahan tubuh dengan tangan. Sedangkan jika jatuh ke belakang maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas atau cidera tulang belakang (vertebra). Pada kasus ini tidak dikeluhkan adanya trauma capitis atau cidera ekstremitas atas, cidera yang terjadi hanya berupa tungkai yang tidak dapat digerakkan tapi masih berasa. Ini berarti bahwa kemungkinan yang mengalami gangguan adalah persarafan motorik tungkai tersebut sementara saraf sensoriknya masih berfungsi dengan baik. Secara anatomis tungkai (ekstremitas bawah) dipersarafi oleh serabut saraf dari vertebra segmen lumbal dan sacral. Jadi kemungkinan besar ketika terjatuh, pasien tersebut mengalami trauma vertebra segmen lumbal-sakral yang mengakibatkan tertekannya ramus-ramus saraf di cornu anterior atau bagian dari kornu anterior dari segmen lunbosakral tersebut yang tertekan
9

yang berfungsi sebagai saraf motorik pada kedua tungkai yang mengakibatkan tungkai tidak dapat digerakkan. PEMERIKSAAN YANG PERLU DILAKUKAN Pada pasien geriatri/usia lanjut, kita harus melakukan pemeriksaan/assesmen secara holistik/paripurna, berkesinambungan dan tepat. Dengan maksud agar dapat meninjau keseluruhan dari gangguan fisisnya, psikososial dan juga gangguan fungsional sehingga nantinya dapat mengidentifikasikan masalah tersebut termasuk mengidentifikasikan faktor resiko yang berperan serta kemudian merencanakan penatalaksanaan menyeluruh dengan penekanan pada kemampuan fungsional pasien atau setidaknya memberikan perhatian yang sama dengan diagnosis dan pengobatan penyakit sebab kompleksitas masalah pada usia lanjut dapat meningkatkan resiko iatrogenik.. ( 1 : 267 ) Pemeriksaan yang dilakukan meliputi : A. Anamnesa riwayat penyakit (jatuhnya) Anamnesa dibuat baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi : 1. Seputar jatuhnya : mencari penyebab jatuhnya misalnya apa karena terpeleset, tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok atau sebaliknya, sedang buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin, sedang menolwh tiba-tiba ataupun aktivitas lainnya. 2. Gejala yang menyertai : seperti nyeri dada, berdebar-debar, nyeri kepala tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas. 3. Kondisi komorbid yang relevan : pernah menderita hipertensi, diabetes mellitus, stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, deficit rematik dll 4. Review obat-obatan yang diminum : anti hipertensi ( alfa inhibitor non spesifik dll ), diuretic, autonomic bloker, anti depresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik, ACE inhibitor dll
10

5. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh apakah licin/bertingkat-tingkat dan tidak datar, pencahayaannya dll B. Pemeriksaan Fisis 1. Mengukur tanda vitalnya : Tekanan darah (tensi), nadi, pernafasan(respirasinya) dan suhu badannya (panas/hipotermi) 2. Kepala dan leher : apakah terdapat penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising. 3. Pemeriksaan jantung : kelainan katup, aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus carotis dll 4. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll 5. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi, problem kaki (podiatrik), deformitas dll C. Assesmen Fungsionalnya Seyogyanya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebiasaan pasien dan aspek fungsionalnya dalam lingkungannya, ini sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan. Pada assesmen fungsional dilakukan observasi atau pencarian terhadap : 1. Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika bangkit dari duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau duduk dibawah dll. 2. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat Bantu ( kursi roda, tripod, tongkat dll) atau dibantu berjalan oleh keluarganya. 3. Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian, kontinens. Terutama kehidupannya dalam keluarga dan lingkungan sekitar ( untuk mendeteksi juga apakah terdapat depresi dll ) ( 2 : 168 )

PENANGANAN JATUH PADA LANSIA a. Operasi.


11

Jika pada pemeriksaan radiologis ditemukan adanya fraktur yang disebabkan karena pasien terjatuh ( terpeleset ) khususnya fraktur tulang belakang yang mengakibatkan kompresi pada saraf sehingga kedua tungkai tidak dapat digerakkan,merupakan indikasi untuk dilakukan operasi mis: fiksasi internal nerve root,spinal cord. b. Hospitalisasi (perawatan di rumah sakit). Hal ini bertujuan untuk memudahkan penanganan pasien khususnya dengan fraktur akut ( immobilisasi ) yang beresiko tinggi yang juga disertai dengan penyakit kronik,yang membutuhkan perawatan intensif.. c. Operasi mata ( operasi katarak). Gangguan penglihatan pada pasien ini kemungkinan besar berupa katarak senilis. Operasi dapat dilakukan jika pasien & keluarganya menyetujui dan kondisi kesehatan pasien memungkinkan. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang selama ini terganggu akibat gangguan penglihatan ( kemungkinan salah satu penyebab pasien terjatuh ). Indikasi operasi katarak : Gangguan penglihatan dengan Snellen aquity ( visus ) 20/50 atau dibawahnya. Ketidakmampuan salah satu mata untuk melihat.

Kontraindikasi : Jika penglihatan pasien dapat dikoreksi dengan penggunaan kaca mata atau alat bantu lainnya. Kondisi kesehatan pasien tidak memungkinkan.

d. Fisioterapi. Setelah dilakukan tindakan operasi untuk mengatasi fraktur dibutuhkan fisioterapi ( rehabilitasi ) yang penting untuk mengembalikan fungsi alat gerak dan mengurangi disabilitas selama masa penyembuhan. Penggunaan alat bantu berjalan misalnya tongkat biasanya

12

dibutuhkan untuk membantu permulaan berjalan kembali dan untuk mendukung aktifitas sehari-hari lainnya. e. Perbaikan status gizi. Penyusunan menu disesuaikan dengan kebutuhan kalori pasien setiap harinya dan kemampuan untuk mencerna makanan. Pemberian makanan diberikan secara

bertahap.dimulai dengan porsi kecil tetapi sesering mungkin diberikan. f. Kontrol penyakit dan penggunaan obat-obatan. Hindari polifarmasi yang justru lebih banyak menimbulkan efek samping,khususnya pada pasien beresiko tinggi. g. Pendidikan keluarga. Jika fraktur yang diderita oleh pasien mengharuskan immobilisasi untuk beberapa lama.keluarga harus senantiasa mengawasi,merawat pasien dengan mencegah pasien terlalu banyak berbaring ( posisi diubah-ubah ) untuk mencegah dekubitus dan penyakit iatrogenik. Berikan perhatian dan kasih sayang agar pasien tidak merasa terisolasi dan depresi. PENCEGAHAN Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan. Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan ini, antara lain: 1. Identifikasi faktor resiko Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/menyebabkan jatuh. Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah hartus cukup tapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yang
13

sudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaikknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding. 2. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimabangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat beresiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan(gait) juga harus dilakukan dengan cermat, apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan/penurunan. 3. Mengatur/mengatasi fakor situsional Faktor situasional yang bersifat serangan akut/eksaserbasi akut penyakit yang diderita lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat diatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktivitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktivitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh

14