Anda di halaman 1dari 17

Distilasi Normal

DISTILASI NORMAL
I. TUJUAN Untuk memisahkan campuran homogen dari dua jenis zat cair berdasarkan perbedaan titik didihnya sehingga dapat meningkatkan kemurnian dari zat cair yang diinginkan. II. TEORI Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4. Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat terbakar, ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801873). Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Jadi ada perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap, dan hal ini merupakan syarat utama supaya pemisahan dengan distilasi dapat dilakukan. Kalau komposisi fase uap sama dengan komposisi fase cair, maka pemisahan dengan jalan distilasi tidak dapat dilakukan. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton. Ini adalah gambaran distilasi yang sangat sederhana ditemukan. Namun konsep dasar destilasi seperti yang tersebut di atas hampir sama terhadap berbagai jenis teknik jenis lainnya. Terdapat berbagai macam teknik distilasi, diantaranya :

1. Distilasi Normal Biasanya distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan zat cair yang titik didih nya rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat atau miniyak. Proses ini dilakukan dengan mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun hasilnya tidak benar-benar murni atau biasa dikatakan tidak murni karena hanya bersifat memisahkan zat cair yang titik didih rendah atau zat cair dengan zat padat atau minyak. 2. Distilasi Bertingkat (Fraksionasi) Proses ini digunakan untuk komponen yang memiliki titik didih yang berdekatan. Pada dasarnya sama dengan destilasi sederhana, hanya saja memiliki kondensor yang lebih banyak sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memliki perbedaan titik didih yang bertekanan. Pada proses ini akan didapatkan substan kimia yang lebih murni, karena melewati kondensor yang banyak. 3. Distilasi Azeotrop Teknik distilasi ini digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi. 4. Distilasi Vakum (Destilasi Tekanan Rendah) Distilasi vakum adalah distilasi yang tekanan operasinya 0,4 atm (300 mmHg absolut). Distilasi yang dilakukan dalam tekanan operasi ini biasanya karena beberapa alasan yaitu : Sifat penguapan relatif antar komponen biasanya meningkat seiring dengan menurunnya boiling temperature. Sifat penguapan relatif yang meningkat memudahkan terjadinya proses separasi sehingga jumlah stage teoritis yang dibutuhkan berkurang. Jika jumlah stage teoritis konstan, rasio refluks yang diperlukan untuk proses separasi yang sama dapat dikurangi. Jika kedua variabel di atas konstan maka kemurnian produk yang dihasilkan akan meningkat. Distilasi pada temperatur rendah dilakukan ketika mengolah produk yang sensitif terhadap variabel temperatur. Temperatur bagian bawah yang rendah menghasilkan beberapa reaksi yang tidak diinginkan seperti dekomposisi produk, polimerisasi, dan penghilangan warna. Proses pemisahan dapat dilakukan terhadap komponen dengan tekanan uap yang sangat rendah atau komponen dengan ikatan yang dapat terputus pada titik didihnya. Reboiler dengan temperatur yang rendah yang menggunakan sumber energi dengan harga yang lebih murah seperti steam dengan tekanan rendah atau air panas. 5. Refluks / Destruksi.

Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan dalam macam macam destilasi walau pada prinsipnya agak berlainan. Refluks dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan tetapi tidak akan mengurangi jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa organik adalah lambat maka campuran reaksi perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat cepat, dengan jalan pemanasan dan jumlahnya selalu tetap reaksinya dapat dilakukan secara refluks. 6. Distilasi Kering Prinsipnya memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairnya. Contohnya untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu bara.

III. PROSEDUR PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan a) Alat Labu destilasi, berfungsi sebagai wadah atau tempat suatu campuran zat cair yang akan di destilasi. Termometer, biasanya digunakan untuk mengukur suhu uap zat cair yang didestilasi selama proses destilasi berlangsung, dan seringnya termometer yang digunakan harus berskala suhu tinggi di atas titik didih zat cair yang akan didestilasi. Termometer ini ditempatkan pada labu destilasi atau steel head dengan ujung atas reservoir sejajar dengan pipa penyalur uap ke kondensor. Kondensor, memiliki 2 celah, yaitu celah masuk dan celah keluar Untuk aliran uap hasil reaksi, serta celah masuk dan celah keluar untuk aliran air pendingin. Penangas air, berfungsi untuk memanaskan bahan pada labu distilasi. Erlenmeyer, sebagai wadah penampung distilat (hasil distilasi). b) Bahan Sampel, berupa metanol yang akan dimurnikan dari zat lainnya (impurities). Kristal Kupri Sulfat Anhidrat (CuSO4), sebagai zat penguji adanya kandungan air pada hasil distilat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data Percobaan : - Suhu terjadinya tetesan pertama Suhu selama distilasi berlangsung Suhu ruang percobaan Massa piknometer kosong Massa piknometer + air Massa piknometer + sampel awal Massa piknometer + distilat Massa piknometer + residu

: 65 C : 65 C : 27 C : 15,219 g : 23,324 g : 23,34 g : 23,214 g : 23,10 g

Berat Jenis Distilat = (massa piknometer + distilat) massa piknometer kosong Volume piknometer

Massa distilat = (massa piknometer + distilat) massa piknometer kosong = 23,324 g - 15,219 g = 7,995 g Berat Jenis Distilat = Massa distilat Volume piknometer = 7,995 g

10 mL = 0,7995 g/mL Dari percobaan didapatkan berat jenis dari distilat (metanol) adalah 0,7995 g/mL . Dan berdasarkan data dari literatur berat jenis dari distilat (metanol) adalah 0,7930 g/mL (tergantung kemurnian). 0,7920 g/mL -

4.2 Pembahasan Setelah semua alat dan bahan untuk distilasi normal telah tersedia. Laboran merangkai alat-alat tersebut sebuai skema alat. Dalam memasang alat ada hal yang harus diperhatikan, yaitu metode distilasi normal ini merupakan sistem tertutup. Dan jangan sampai ada celah dalam sistem ini, jika hal ini terjadi maka ada kemungkinan isi sampel dan uap dari pemanasan sampel akan terbawa keluar. Hal ini akan mengurangi keakuratan nantinya. Setelah memasukkan senyawa campuran, laboran memasukkan batu didih ke dalam labu ditilasi. Hal ini dilakukan agar selama proses distilasi berlangsung batu didih akan meratakan panas atau menyebabkan pemanasan atau pendidihan mejadi teratur dengan mengeluarkan sedikit demi sedikit selama proses pemanasan, serta menyerap panas. Selain itu batu didih juga berfungsi untuk mencegah terjadinya bumping (ledakan atau tumbukan suatu cairan selama penyulingan di bawah tekanan 1 atm). Ketika sampel telah mendidih, maka dari senyawa campuran itu yang pertama kali meguap adalah metanol (CH3-OH) pada suhu 65C. Hal ini diakibatkan karena diantara komponenkomponen yang terdapat pada sampel, metanol adalah komponen yang memilki titik didih terendah, yaitu 64 C-65 C. Pada proses distilasi, laboran harus tetap menjaga suhu agar tetap konstan, karena jika suhu telah melebihi titik didih terendah dari komponen yang akan dimurnikan (metanol), maka akan ada komponen-komponen lain yang akan ikut menguap. Dan hal ini akan mengurangi kesempurnaan laboran laboran dalam memurnikan salah satu komponen dari senyawa campuran karena telah bercampur dengan komponen lain yang juga ikut menguap. Ketika metanol menguap, uapan dari metanol akan bergerak ke arah pendingin (kondensor). Hal ini dapat terjadi karena suhu dan tekanan udara di labu distilasi lebih tinggi daripada suhu dan tekanan di kondensor, sehingga udara uap metanol akan bergerak ke dalam pendingin atau kondensor. Di dalam kondensor, yang selalu dialiri oleh air dari bawah ke atas sehingga suhuny tetap rendah dan dapat melakukan pendinginan dengan baik, uap metanol tersebut akan mengalami pengembunan (perubahan zat dari gas menjadi cair). Pada saat inilah uap metanol akan berubah kembali menjadi metanol dalam bentuk zat cair. Metanol dalam bentuk cair akan mengalir ke dalam erlenmeyer karena pendingin atau kondensor diposisikan miring ke bawah, sehingga metanol, berdasarkan sifat zat cair yang mengalir

dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, akan mengalir sepanjang kondensor dan kemudian akan tertampung di dalam erlenmeyer.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari praktikum distilasi normal didapatkan berat jenis dari distilat (metanol) adalah 0,7995 g/mL . Dan berdasarkan data dari literatur berat jenis dari distilat (metanol) adalah 0,7930 g/mL (tergantung kemurnian). 0,7920 g/mL -

5.2 Saran Setelah dilakukannya praktikum ini terdapat beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan. Pertama dan yang terpenting sekali adalah tentang keselamatan kerja di laboratorium. Distilasi ini dilakukan dengan memanfaatkan panas dari mantel pemanas. Meskipun cukup aman untuk pekerja, namun hal ini bisa menjadi potensi bahaya terhadap alat gelas yang digunakan. Pemasangan labu distilasi yang benar pada mantel harus diperhatikan. Karena kelalaian pada bagian ini bisa menyebabkan kerusakan pada alat gelas. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemasangan rangkaian alat distilasi. Begitu juga dengan aliran air pendingin, perlu diperiksa dan diuji sebelum digunakan. Selain itu, pada pemasangan wadah penampung distilat, meskipun distilasi sederhana dilakukan dengan tekanan antara sistem dan lingkungan yang sama, kita perlu menutup dan memastikan tidak ada celah pada pemasangan wadah. Metanol yang didistilasi tersebut sangat mudah menguap. Apabila pada pemasangan wadah penampung dibiarkan terbuka, uap metanol yang tadinya telah terkondensasi dapat kembali menguap sebagian. Hal ini bisa mnyebabkan volume distilat jadi berkurang.

TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM 1. Apa kegunaan penambahan batu didih? Selama proses pemanasan, batu didih akan mengeluarkan udara sedikit demi sedikit sehingga pemanasan atau pendidihan menjadi teratur. Batu didih ini juga digunnakn untuk mencegah terjadinya bumping (ledakan atau tumbukan suatu cairan selama penyulingan di bawah tekanan 1 atm), jadi batu didihlah yang menyerap panas dan meratakan panas 2. Bagaimana cara menentukan kemurnian distilat? Menambahkan kupri sulfat unhidrat (CuSO4). Dengan ini, pada distilat yang diperoleh, maka akan timbul dua macam warna sebagai patokan untuk membedakan dan menentukan sifat kemmurnian distilat, yaitu : a. b. Biru : Bila distilat masih mengandung air sekaligus menentukan kalau percobaan masih belum sempurna. Putih atau abu-abu : Bila distilat yang diperoleh sudah merupakan zat murni (tidak mengandung molekul air).

DAFTAR PUSTAKA http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Meggy%20Yulia%20A%20060221/prinsip_perb edaan_titik_didih.html http://ndarucs.blogspot.com/2010/02/distilasi.html http://www.bungel.com http://www.pharmainfo.net/files/images/stories/article_images/Fractional%20distillation%202.png

DISTILASI TRAPPING I. TUJUAN Untuk mengisolasi minyak atsiri dari suatu contoh yang mengandung minyak atsiri. II. TEORI Distilasi trapping adalah suatu metode pemisahan campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air kedalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang lebih rendah daripada dengan pemanasan langsung . Prinsip kerja dari distilasi adalah : Pemisahan senyawa berdasarkan perbedaan titik uap dengan bantuan media panas. Senyawa ini hanya dapat digunakan untuk pengambilan senyawa organik untuk golongan minyak atsiri. Jadi cara distilasi uap ini hanya digunakan untuk mengambil senyawa organik yang dapat diuapkan bersama uap air. Metode distilasi trapping ini bisa dterapkan pada senyawa yang mudah menguap, contohnya adalah minyak atsiri, minyak nilam, minyak kayu putih, dan lain sebagainya. Minyak atsiri, atau yang dikenal dengan volatile oil, atau dikenal juga sebagai essential oil, adalah cairan pekat yang tidak larut air, mengandung senyawa-senyawa beraroma yang berasal dari berbagai tanaman. Senyawa atsiri juga merupakan senyawa organik yang mudah menguap yang memiliki gugus aldehid, keton, alkohol yang memiliki rantai pendek yang merupakan sisa metabolit sekunder dalam tumbuh-tumbuhan dan dapat diperoleh salah satunya dengan distilasi uap dengan pelarut air. Minyak atsiri umumnya diperoleh dengan cara distilasi, dan juga dapat diperoleh melalui proses ekspresi, ekstraksi pelarut, selain itu metode sokletasi juga bisa digunakan. Distilasi minyak atsiri dilakukan dengan cara menampung bahan baku yang berasal dari tanaman, seperti daun, kulit kayu, biji, dan akar, ke alat distilasi diatas air. Ketika air dipanaskan, uap air akan melewati bahan baku tersebut dan ikut menguapkan minyak atsiri. Uap minyak atsiri akan mengalami kondensasi kembali menjadi cairan dan ditampung di alat penampung. Cairan ini dinamakan hidrosol atau hidrolat. Contoh hidrosol yang terkenal adalah rose water dan lavender water. Jika pada metode distilasi uap untuk pemisahan minyak atsiri tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi atau perkolasi, maka cara yang terbaik yang

didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi. Metode sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metode maserasi atau perkolasi. Proses untuk mendapatkan minyak atsiri dikenal dengan cara menyuling atau destilasi terhadap tanaman penghasil minyak. Didunia komersil, metode destilasi/penyulingan minyak atsiri dapat dilakukan dengan 3 cara, antara lain : 1. Penyulingan dengan sistem rebus (Water Distillation) 2. Penyulingan dengan air dan uap (Water and Steam Distillation) 3. Penyulingan dengan uap langsung (Direct Steam Distillation) Penerapan penggunaan metode tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan seperti jenis bahan baku tanaman, karakteristik minyak, proses difusi minyak dengan air panas, dekomposisi minyak akibat efek panas, efisiensi produksi dan alasan nilai ekonomis serta efektifitas produksi. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan lain-lain. Salah satu contohnya yaitu minyak sereh. Secara umum, sereh dibagi menjadi dua jenis, yaitu sereh dapur dan sereh wangi. Komponen utama dari sereh wangi adalah citronella, sedangkan sereh dapur adalah sitral . Sereh dapur terbagi menjadi 2 varietas, yaitu sereh flexuosus atau Fast Indian lemongrass oil dan sereh citratus atau West Indian lemongrass oil. Minyak sereh India Timur lebih berharga daripada India Barat, terutama karena kandungan sitralnya yang lebih tinggi. Perbandingan sifat fisika-kimia kedua jenis minyak sereh dapur : Sifat Fisika-Kimia Berat Jenis 25C Indeks Bias 25C Putaran Optik Kelarutan dalam etanol 70% Kadar Sitrat Warna minyak Tipe East Indian 0,8902 1,487 +0,25 1:2 80,2% Kuning tua- coklat merah tua Tipe West Indian 0,8731 1,4587 +0,2 1:4 76,1% Kuning muda- coklat muda

Minyak atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan persenyawaan padat yang berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Berdasarkan sifat tersebut, maka minyak atsiri dapat diekstrak dengan 4 macam cara, yaitu: Penyulingan (Destilation), Pressing (Eks-pression), Ekstraksi dengan pelarut (Solvent ekstraksion)

dan Absorbsi oleh menguap lemak padat (Enfleurage). Cara yang tepat untuk pengambilan minyak dari daun sereh adalah dengan cara penyulingan (Destilation). Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari 2 macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air minyak sereh wangi. Jumlah minyak yang menguap bersama-sama uap air ditentukan oleh 3 faktor, yaitu: besarnya tekanan uap yang digunakan, berat molekul dari masing-masing komponen dalam minyak dan kecepatan minyak yang keluar dari bahan. Penyulingan minyak sereh wangi di Indonesia biasanya dilakukan dengan menggunakan uap air yaitu dengan dua cara, secara langsung dan secara tidak langsung. Pada penyulingan secara langsung, bahan atau daun sereh wangi yang akan diambil minyaknya dimasak dengan air, dengan demikian penguapan air dan minyak berlangsung bersamaan. Kendati penyulingan langsung seolah-olah memudahkan penanganan tetapi ternyata mengakibatkan kehilangan hasil dan penurunan mutu. Penyulingan langsung dapat mengakibatkan teroksidasi dan terhidrolisis, selain itu menyebabkan timbulnya hasil sampingan yang tidak dikehendaki. Pada penyulingan secara tidak langsung, yaitu dengan cara memisahkan penguapan air dengan penguapan minyak. Bahan tumbuhan diletakkan ditempat tersendiri yang dialiri uap air, atau secara lebih sederhana bahan tumbuhan diletakkan di atas air mendidih. Pada awal penyulingan, akan tersuling sejumlah besar geraniol dan sitronellal, sedangkan pada penyulingan lebih lanjut, total geraniol dan sitronellal yang dihasilkan semakin berkurang. Berdasarkan pengalaman pada penyulingan 4,5 jam akan menghasilkan minyak sereh wangi dengan kadar geraniol maksimum 85 % dan sixronellal 35%. Dengan demikian penyulingan diatas 4,5 jam (5- 6) jam tidak akan menambah kadar kedua zat tersebut. Lama penyulingan tergantung dari tekanan uap yang dipergunakan dan faktor kondisi terutama kadar air daun sereh. Pada prinsipnya, tekanan yang dipergunakan tidak boleh terlalu tinggi, karena pada tekanan yang terlalu tinggi minyak akan terdekomposisi, terutama pada waktu penyulingan yang terlalu lama. Suatu hal yang penting dalam penyulingan minyak sereh adalah agar suhu dan tekanan tetap seragam dan tidak menurun secara tiba-tiba selama proses berlangsung. III. PROSEDUR PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan A. Alat 1. Labu didih tempat menampung sampel selama pemanasan

2. Trapping 3. Pendingin 4. Pemanas 5. Standar dan klem 1.1.1 Bahan 1. Sereh wangi 2. Air

tempat minyak atsiri dialirkan untuk mengubah uap cairan menjadi cair untuk memanaskan sampel atau sebagai sumber panas tempat berdirinya alat distilasi dan sebagai pegangan alat distilasi sebagai bahan/sampel untuk memudahkan minyak atsiri terpisah/keluar dari sampel

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Massa sampel Volume minyak atsiri (minyak sereh) Massa jenis minyak sereh : 200 gram : 0,8 mL : 0,8902 g/mL

% minyak atsiri = x berat jenis minyak atsiri x 100% % minyak atsiri (minyak sereh) = x 0,8902 g/mL x 100% = 0,35608 % = 0,4 % Dari percobaan dan perhitungan diatas, maka % minyak atsiri yang diperoleh adalah 0,4 %. 3.2 Pembahasan Setelah semua alat dan bahan untuk distilasi trapping telah tersedia, kami merangkai alat-alat tersebut sesuai dengan skema alat. Dalam pemasangan alat ada hal yang harus diperhatikan, yaitu metode distilasi trapping ini merupakan sistem tertutup. Jangan sampai ada celah dalam sistem ini, jika hal ini terjadi maka ada kemungkinan isi sampel dan uap dari pemanasan sampel akan terbawa keluar. Selain itu, sampel juga dapat terkontaminasi oleh lingkungan luar jika sistem terbuka. Oleh karena itu, dalam distilasi trapping ini, kami menggunakan alumunium voil, tissue, dan isolasi untuk menutupi setiap celah antar penyambung alat, agar mendapatkan hasil yang diinginkan. Pada distilasi trapping, salah satu alat yang digunakan adalah trapping. Trapping terbagi dua, yaitu trapping lurus dan trapping segitiga. Penggunaan trapping ini tergantung kepada berat jenis sampel. Jika berat jenis sampel yang digunakan lebih kecil dari berat jenis air, maka trapping yang digunakan adalah trapping segitiga. Dan jika sampel memiliki berat jenis lebih besar dari berat jenis

air, maka trapping yang digunakan adalah trapping lurus. Karena berat jenis sampel yang kami gunakan lebih kecil dari berat jenis air dan luas permukaan sampel kami kecil, maka trapping yang digunakan adalah trapping segitiga dengan distilasi uap langsung. Distilasi uap dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara langsung dan secara tak langsung. Distilasi uap langsung digunakan jika sampel atau bahan yang akan diambil minyak atsirinya mempunyai luas permukaan yang tidak begitu besar, maka sampel atau bahan dan air berada didalam satu tempat. Sedangkan distilasi uap tak langsung diguanakan jika sampel atau bahan yang akan diambil minyak atsirinya mempunyai luas permukaan yang cukup besar, maka sampel atau bahan dan air diletakkan pada tempat yang terpisah. Dikarenakan berat jenis sampel lebih kecil dari berat jenis air, maka minyak atsirinya akan berada diatas dan air berada dibawah. Untuk menghasilkan minyak atsiri, pelarut yang mudah dan murah untuk didapatkan adalah air. Air merupakan pelarut universal untuk melarutkan senyawa orgganik. Penambahan air pada sampel bertujuan untuk memudahkan minyak atsiri terpisah/keluar dari sampel tumbuhan terseebut. Pada prinsipnya, untuk melakukan pemisahan dengan menggunakan proses distilasi uap dengan sampel tumbuhan yang masih segar, karena minyak atsiri tersebut bisa menguap dan sedikit sekali kemungkinan minyak atsiri ada pada sampel yang kurang segar. Selain itu, pemasangan alat yang benar sangat berarti dalam percobaan ini, kebocoran akan berpengaruh pada distilat yang dihasilkan. Minyak atsiri dan air akan terlihat memiliki bidang batas, artinya minyak dan air tidak bercampur. Namun pada percobaannya, minyak atsiri yang kami dapatkan hanya sedikit yaitu 0,8 mL. Hal ini diakibatkan karena antara labu distilasi dan mulut traping terdapat celah yang memungkinkan masuknya udara sehingga minyak atsiri ikut juga menguap bersama air. Adapun faktor yang mempengaruhi/menentukan minyak atsiri menguap bersama air, diantaranya : 4 Besarnya tekanan uap yang digunakan Berat sampel/molekul Kecepatan keluarnya minyak dari sampel KESIMPULAN DAN SARAN Dari praktikum yang telah dilakukan, dihasilkan 0,8 mL minyak atsiri (minyak sereh) dari 200 gram sampel, yaitu sereh. Berat jenis sampel yaitu 0,8902 g/mL. Dan dari data praktikum yang didapat,

4.1 Kesimpulan

maka diperoleh hasil perhitungan dari persentase minyak atsiri (minyak sereh) terhadap banyaknya sampel yang digunakan, yaitu 0,4%. Pada proses distilasi trapping ini, kami menggunakan distilasi uap langsung karena sampel atau bahan yang akan diambil minyak atsirinya mempunyai luas permukaan yang tidak begitu besar, sehingga sampel atau bahan dan air berada didalam satu tempat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi atau menentukan minyak atsiri menguap bersama air, diantaranya besarnya tekanan uap yang digunakan, berat sampel/molekul, dan kecepatan keluarnya minyak dari sampel. 4.2 Saran Praktikan harus cermat dan teliti agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Pastikan tidak ada celah dalam sistem distilasi trapping untuk menjaga keakuratan dan kemurnian hasil (minyak atsiri). Dan pastikan juga semua alat berada dalam kondisi bersih dan kering, agar tidak terjadi reaksi lain dalam praktikum distilasi trapping. Jangan potong sampel terlalu kecil atau terlalu besar. Selain itu jaga kondisi labu agar tidak berada pada suhu yang terlalu panas, agar tidak terjadi kecelakaan dalam praktikum. Ketahui lebih dahulu berat jenis sampel agar mudah dalam penentuan tipe trapping yang akan digunakan. TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM 1. Apa yang dimaksud dengan senyawa atsiri ? Senyawa atsiri adalah senyawa organik yang mudah menguap yang memiliki gugus aldehid, keton, dan alkohol yang memiliki rantai pendek yang merupakan sisa metabolit sekunder dalam tumbuhan, dan juga disebut volatile oil atau essential oil yang merupakan cairan pekat yang tidak larut air, mengandung senyawa-senyawa beraroma yang berasal dari berbagai tanaman. 2. Jelaskan metode lain yang dapat digunakan untuk mengekstrak senyawa atsiri (minyak atsiri) ! Sokletasi Metode pemisahan suatu komponen yang terdapat didalam sampel padat dengan cara penyarian secara berulang-ulang dengan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi. Ekstraksi pelarut (solvent extraction)

Digunakan untuk memperoleh minyak atsiri yang terlalu sedikit untuk diperas atau terlalu rentan terhadap panas untuk didistilasi. Proses ekspresi

3. Jelaskan jenis-jenis senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada sampel alam (tumbuhtumbuhan) ! Monoterpen Sesquiterpen Alkaloid Terpen Saponin Senyawa fenol dan turunannya Senyawa tanin Steroid Hidrokarbon Flavonoid DAFTAR PUSTAKA http://kimiamagic.blogspot.com/2010_02_01_archive.html http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/minyak_atsiri.html http://aliemalfigry.blogspot.com/2010/05/sokletasi.html http://lansida.blogspot.com/2010/12/proses-penyulingan-minyak-atsiri.html