Anda di halaman 1dari 7

Penambahan Bubuk Arang Pada Beton Di Suhu dan Tekanan Ruang

1. R. Didin Kusdian, 2. M.Riyanto 3. Sidra Sari Abstrak Beton merupakan bahan yang semakin banyak digunakan dalam membangun perkerasan jalan untuk tipe perkerasan kaku. Tipe perkerasan kaku sangat cocok untuk digunakan di wilayah dengan curah hujan tinggi dimana potensi kerusakan struktur jalan oleh air akan lebih mudah terjadi pada penggunaan tipe perkerasan lentur dibanding perkerasan kaku. Perkerasan kaku yang menggunakan semen sebagai bahan pengikat, setelah mengering akan cenderung berwarna terang sehingga memberikan efek silau pada pengemudi. Penelitian ini menguji penambahan bubuk arang pada beton dengan bertujuan untuk mendapatkan efeknya secara kuantitatif dalam pengurangan berat beton dan kuat tekan, serta secara kualitatif dalam penampakan warna beton. Kata kunci : bubuk arang, beton ringan, perkerasan kaku jalan Abstract The using of concrete as one of civil engineering material is more common in develop the rigid pavement for road. Rigid pavement is good for use at high rainfall area where road structure damage potency is more easy to appear on flexible pavement than rigid pavement. Rigid pavement which use portland cement as material, is tend to have bright color when it dry, so that give effect to the drivers. This research tested the adding fowder into concrete in purpose to determine quantitative effect in reduce concrete weight, stress, and qualitative effect in concrete color performance. I. Pendahuluan Eksplorasi melalui riset menyangkut bahan (material) yang meliputi pengamatan sifat-sifat bahan atau campurannya sebagai hasil inovasi, akan terus dibutuhkan kelanjutannya untuk dimanfaatkan pada bidang rekayasa. Riset seperti ini akan mencakup penerapan hukumhukum alam yang telah disimpulkan sains sebelumnya secara estafet, kumulatif, dan simultan. Hal ini sesuai dengan yang sudah lama dikemukanan oleh Zilsel (1976, dalam Widagdo, 2000) bahwa 3 unsur yang selalu hadir dalam ilmu pengetahuan modern yang membedakan dengan ilmu pengetahuan sebelumnya, yaitu unsur hukum alam, eksperimen, dan kemajuan. Jika dirangkum yang dapat dikategorikan pada bahan teknik terdiri dari 3 golongan yaitu: logam, polimer, dan keramik. Logam mencakup besi dan baja, besi cor, tembaga dan paduannya, alumunium dan paduannya, magnesium dan paduannya, titanium dan paduannya, nikel dan paduannya, seng dan paduannya, timbal dan paduannya, bahan listrik dan magnet. Bahan polimer mencakup: resin, plastik, dan karet. Sedangkan bahan keramik termasuk keramik putih, semen, mortar, beton, batu gerinda, ampelas, keramik elektronik, keramik magnet, karbon dan grafit. Pembahasan bahan-bahan tersebut dijelaskan oleh Surdia dan Saito (2005). Beton dibuat dari campuran semen, agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil) dan air. Beton menjadi keras karena reaksi antara semen dan air. Semen disebut pengikat hidrolis. Sifat semen dan beton sebagai bahan struktur adalah kuat terhadap tarik tetapi tidak kuat terhadap tekan. Bahan campuran pada beton yang telah biasa digunakan misalnya campuran Zat AE dan zat penghilang air (zat pendispersi) untuk peningkatan workability, zat pengeras cepat untuk penguatan awal, pelambat awal untuk memperlambat hidrasi sehingga waktu pengerasan dapat dikendalikan, dan zat tahan air untuk membuat struktur lebih padat dan kedap air. Sejarah penggunaan beton telah dimulai kirakira tahun 3000 S.M. oleh Bangsa Mesir untuk membangun pyramida, dimana digunakan bahan berbutir sejenis beton dan menggunakan bahan pengikat kapur. Demikian pula Bangsa Romawi telah mempergunakan bahan sejenis beton dengan memanfaatkan bahan pengikat hydraulic cement berupa campuran kapur dengan pozzolanic volcanic ash dari Gunung

Vesuvius. Kemudian sejak tahun 1756 hydraulic cement mulai digunakan lagi dan pada tahun 1796 oleh James Parker dari Inggris diminta patent dengan nama natural cement. Peningkatan penggunaan beton sejak abad 20 berlangsung sampai sekarang, setelah ditemukannya beton bertulang (reinforced concrete), dimana bahan beton diberi tambahan tulangan dari bahan baja pada bagian penampang yang mendapat gaya tarik. Berbeda dengan sifat beton yang hanya kuat terhadap gaya tekan tetapi tidak kuat terhadap gaya tarik, baja adalah bahan yang bersifat homogen dimana kekuatan terhadap gaya tarik sama dengan kekuatan terhadap gaya tekan. Sifat baja ini dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan sifat beton, pada beton bertulang. Dengan ditemukannya beton bertulang, kemungkinan pembuatan gedung tinggi dimungkinkan. Arah riset beton yang terus berlangsung sampai sekarang antara lain menyangkut pencarian terus komposisi bahan untuk mendapatkan beton ringan dengan kekuatan tinggi. Beton tidak hanya digunakan sebagai bahan bangunan gedung. Dengan dinamiknya perbandingan harga antara aspal dan semen, dan terutama untuk alasan kemudahan dan efisiensi dalam pemeliharaan, beton makin banyak dianjurkan sebagai bahan perkerasan jalan. Dari contoh-contoh yang telah dibangun dan digunakan, jalan dengan bahan beton terasa lebih menimbulkan efek silau jika dilalui pada siang hari yang terang. Karena warnanya yang lebih terang dibanding aspal, cahaya matahari akan lebih banyak yang dipantulkan oleh beton dibandingkan oleh aspal yang warnanya lebih gelap mendekati hitam. Menurut hukum fisika, benda warna hitam akan cenderung lebih menyerap cahaya sedang benda warna terang (mendekati putih) akan cenderung memantulkan cahaya. Penelitian ini berawal dari hipotesa bahwa bubuk arang akan dapat digunakan sebagai bahan pencampur beton, dan memberikan harapan manfaat dari dua sisi. Sisi pertama adalah mengarah pada memperingan beton, dan sisi kedua mengarah pada memberikan II.

warna gelap pada beton. Untuk itu dilakukan eksperimen di laboratorium sehingga dapat diketahui pula sifat-sifat lainnya sesuai prosedur pengujian beton. Bahan dan Metoda Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen, pasir, kerikil, dan air, yang memenuhi standar sesuai yang telah lazim didalam bidang ilmu tekni sipil. Untuk mengetahui pemenuhan standar dilakukan test dengan menggunakan alat yang terdapat di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Sangga Buana YPKP, dengan mengikuti prosedur pemeriksaan, serta kriteria menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) dan American Standard for Testing Materials (ASTM) yang terkait pada: pengujian pasir, pengujian kerikil, pengujian adonan beton, dan pengujian benda uji (kubus) beton. Bahan khusus yang menjadi topik ujian adalah bubuk arang, yang dalam penelitian skala laboratorium ini digunakan arang yang biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga, kemudian ditumbuk untuk menjadi bubuk arang. Metoda penelitian yang dilaksanakan adalah metoda eksperimen. Pengujian yang dilakukan terhadap agregat halus adalah pengujian kadar air, kadar lumpur, analisa saringan, berat jenis (bulk specific gravity), peresapan (water absorption), berat isi. Sedangkan terhadap agregat kasar pengujian yang dilakukan adalah pengujian kadar air, kadar lumpur, analisa saringan, berat jenis, peresapan dan berat isi. Langkah selanjutnya adalah pembuatan adonan beton yang dibuat dengan menggunakan bahan semen dan agregat yang telah diuji diatas. Untuk bahan semen tidak dilakukan pengujian khusus. Sesuai dengan topik khusus penelitian dilakukan perhitungan analisis disain campuran (mix design analysis) beserta langkah koreksinya untuk 4 (empat) kategori bahan uji yaitu: Penambahan 0% (tanpa) bubuk arang

Penambahan 10% (terhadap pasir) bubuk arang Penambahan 25% (terhadap pasir) bubuk arang Penambahan 50% (terhadap pasir) bubuk arang Acuan perhitungan campuran adalah untuk target mutu beton K225. Pengujian dilakukan terhadap adonan (campuran sebelum kering), berupa slump test. Kemudian dibuat benda uji kubus beton ukuran 15 x 15 x 15 cm3, untuk umur 28 hari. Terhadap kubus beton dilakukan pengujian kuat tekan.

III.

Hasil dan Pembahasan Dari hasil pengujian kadar air pasir bahan uji, didapat rata-rata 10,357%, sedangkan pada kerikil 1,851 %. Kadar lumpur pasir bahan uji didapat 3,456% sedangkan untuk kerikil 0,463%. Hasil analisa saringan untuk pasir adalah seperti tercantum pada Tabel 1, kemudian secara grafis digambarkan kembali pada Gambar.1 Sedangkan hasil analisa saringan untuk kerikil adalah seperti tercantum pada Tabel 2, kemudian digambarkan pada Gambar 2.

TABEL 1 HASIL ANALISIS SARINGAN PASIR BAHAN UJI NOMOR UKURAN SARINGAN STANDARD INTERNASIONAL 4(4.75 mm) 8(2.36 mm) 16(1.18 mm) 30(0.425 mm) 50(0.15 mm) 100(0.075 mm) Pan BERAT SAMPEL YANG TERTAHAN (GR) 5.500 56.00 134.780 202.191 75.100 16.120 6.690 496.381 BERAT SAMPEL YANG TERTAHAN (%) 1.10 11.20 26.96 40.44 15.02 3.22 1.34 99.276% 99.276 98.176 86.976 60.020 19.582 4.562 1.338 1.100 12.300 39.256 79.694 94.724 97.938 99.276 BERAT KUMULATIF YANG LOLOS (%) BERAT KUMULATIF TERTAHAN (%)

120 Berat Komulatif yang lolos (%) 100 80 60 40 20 0 0 0.075 0.15 0.425 1.18 2.36 Ukuran Saringan (mm) Berat Komulatif yang lolos (%) Berat Komulatif yang tertahan

120 100 80 60 40 20 0 4.75 Berat Komulatif yang tertahan (%)


BERAT KUMULATIF TERTAHAN (%) 0.33 2.83 31.16 44.50 77.83 84.62 99.616

GAMBAR 1 GRADASI PASIR BAHAN UJI

TABEL 2 HASIL ANALISIS SARINGAN KERIKIL BAHAN UJI


NOMOR UKURAN SARINGAN STANDARD INTERNASIONAL 1.0(25mm) (19 mm) (12.5 mm) (9.52 mm) (7 mm) 4 (4.75 mm) Pan BERAT SAMPEL YANG TERTAHAN (GR) 9.88 75.99 850 400 1000 203.59 450 2988.489 BERAT SAMPEL YANG TERTAHAN (%) 0.327 2.503 28.333 13.333 33.333 6.786 15.000 99.616% 99.616 99.290 96.786 68.453 55.120 21.786 15.000 BERAT KUMULATIF YANG LOLOS (%)

120 Berat Komulatif yang lolos (%) 100 80 60 40 20 0 0 4.75 7 9.52 12.5 19 25 Ukuran Saringan (mm) Berat Komulatif yang lolos (%) Berat Komulatif yang tertahan
GAMBAR 2 GRADASI KERIKIL BAHAN UJI

120 100 80 60 40 20 0 Berat Komulatif yang tertahan (%)

Setelah pengujian bahan uji dilakukan perhitungan analisa campuran dan dibuat adonan beton beberapa tahap, setiap tahap dibedakan dalam kandungan prosentase bubuk arang yang ditambahkan. Dari hasil-hasil pencatatan di laboratorium ada dua hasil yang menarik untuk disampaikan pada tulisan ini yaitu hasil pengujian berat sampel beton kering ( Tabel 3), dan hasil pengujian berat isi beton kering (Tabel 4). Dapat dilihat bahwa dalam dimensi berat,

penambahan arang menunjukan penurunan berat pada beton. Hal ini memberikan indikasi awal yang menarik untuk diteliti dan dibuktikan lebih lanjut dalam kerangka upaya pengembangan beton ringan.

Tabel 3 Hasil Pengujian Berat Sampel Beton Kering NO. SAMPEL 1 2 1 2 1 2 1 2 BERAT SAMPEL (KG) 7.31 7 6.65 6.6 5.85 5.9 5.15 4.9 RATARATA (KG) 7.155 6.625 5.875 5.025 Campuran 0 % Bubuk Arang Campuran 10 % Bubuk Arang Campuran 25 % Bubuk Arang Campuran 50 % Bubuk Arang KETERANGAN

Tabel 4 Hasil Pengujian Berat Isi Beton Kering NO. JENIS CAMPURAN BERAT ISI BETON KERING (TON/M) I II III IV Campuran 0 % Bubuk Arang Campuran 10 % Bubuk Arang Campuran 25 % Bubuk Arang Campuran 50 % Bubuk Arang 2.150 2.059 1.96 1.94 1.720 1.735 1.514 1.441 1.4775 1.7275 1.95 2.10 RATA-RATA (TON/M)

Gambar 3 Perbandingan Warna Benda Uji Beton

Dari sisi kecenderungan penyerapan cahaya juga menunjukan bahwa penambahan bubuk arang terlihat sangat berpengaruh dalam merubah warna beton menjadi lebih gelap. Hal ini menguntungkan untuk penggunaan beton bagi perkerasan jalan (Gambar 3). Uji tekan tanpa penambahan arang pada percobaan ini mencapai kuat tekan kubus 133,33 kg/cm2, sedangkan makin banyak penambahan arang kuat tekan beton cenderung berkurang, misalnya untuk penambahan sampai 25% dari berat pasir penurunan

kuat tekan mencapai 30%. Hal ini masih menjadi pertanyaan yang perlu dijawab melalui penelitian lanjutan yang lebih lengkap Dapat dikemukakan disini bahwa hipotesa untuk penelitian lanjutan antara lain adalah pendetailan kembali untuk penambahan bubuk arang antara 5% sampai 15% dari berat pasirBubuk arang dapat menjadi objek penelitian yang lebih mendetail. dari sisi perbedaan komposisi berdasarkan perbedaan asal jenis kayu. Arang diperkirakan banyak mengandung unsur karbon. Jika disimak dalam susunan berkala kimia,unsur karbon memiliki massa atom yang tergolong ringan.

Penambahan kadar karbon pada baja dengan cara tertentu pada keadaan tertentu dapat meningkatkan kekerasan baja, hal ini telah dijelaskan oleh Surdia (2005). Cara dan keadaan pencampuran bubuk arang pada beton didalam penelitian ini adalah masih mengikuti cara konvensional pembuatan beton dan dalam kondisi tekanan dan temperatur ruang. Perlu pengembangan lanjut dalam penelitian ini jika diinginkan hasil yang lebih baik dalam hal pengujian dari sisi kuat tekan beton IV. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

5. SKSNI 08-1989-F, 1989, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 6. SKSNI-M-13-1989-F, 1989, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 7. SKSNI-M-10-1989-F, 1989, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 8. SKSNI 03-1753,1990, 1990, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 9. SNI 1971-1990-F, 1990, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 10. Widagdo, 2005, Desain dan Kebudayaan, cetakan ke-3 (edisi revisi), Penerbit ITB. Biodata Penulis : 1. R. Didin Kusdian Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Sangga Buana YPKP Gedung C, Lantai 3 Jl. PH. Mustopa 68 Bandung Telepon 022-7275489 M. Riyanto Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Sangga Buana YPKP Lab Teknik Sipil, Gedung E Lantai Dasar Jl. PH. Mustopa 68 Bandung Telepon 022-7275489 Sidra Sari Lulusan Jurusan Teknik Sipil Universitas Sangga Buana YPKP Jl. PH. Mustopa 68 Bandung Telepon 022-7275489

1. Penambahan bubuk arang pada pembuatan beton di temperatur dan tekanan ruang cenderung mengurangi kuat tekan beton. 2. Penambahan bubuk arang pada pembuatan beton dapat menurunkan berat beton 3. Penambahan bubuk arang pada pembuatan beton berpotensi manfaat untuk digunakan sebagai cara mengurangi efek silau pada jalan dengan tipe perkerasan kaku V. Daftar Pustaka

2.

3. 1. Peraturan Beton Indonesia (PBI), 1971, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 2. Sudarsono, D.U., Rencana Campuran Untuk Beton Aspal, Aspal Mastik, Base & Sub Base Course, Beton, PC., 1985, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum 3. Surdia, Tata, Saito, Shinroku, 2005 Pengetahuan Bahan Teknik, cetakan ke 6, PT. AKA 4. SKSNI T 15-1990-03, 1990, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum