Anda di halaman 1dari 2

POTENSI PEMANFAATAN BATU KAPUR BAYAH BANTEN SELATAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT BAYAH,, SUDAHKAH???

Prolog Metalurgi menurut wikipedia (www.wikipedia.org) berarti ilmu, seni dan teknologi yang mengkaji proses pengolahan dan perekayasaan mineral & logam. Ruang lingkup metalurgi meliputi pengolahan mineral (mineral dressing), ekstraksi logam dari konsentrat mineral (extractive metallurgy), proses produksi logam (mechanical metallurgy) dan perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy). Jurusan/Program Studi teknik Metalurgi di Indonesia saat ini hanya terdapat di 3 Universitas dan 2 Institut, itupun dengan penekanan keilmuan dan nama prodi yang berbeda-beda (ITB-teknik material, ITB-teknik metalurgi, UNJANI-teknik metalurgi, ITSteknik material & metalurgi, UI-teknik metalurgi & material dan UNTIRTA-teknik metalurgi). Jurusan Teknik Metalurgi UNTIRTA yang notabenenya terletak di Propinsi BANTEN dan terdapat di lokasi strategis berdampingan dengan pabrik besi baja terbesar di Indonesia tentunya akan terkonsentrasi untuk pengembangan keilmuan di bidang hilir (produksi Besi Baja). Namun demikian, sebetulnya Metalurgi UNTIRTA pun mempelajari industri hulu -industri bahan-bahan pertambangan, bahan-bahan penyedia untuk industri hilir- Misalnya saja batu kapur, yang digunakan sebagai bahan pendukung dalam proses peleburan produksi baja di Krakatau Steel. Untuk itu tentunya metalurgi UNTIRTA tertantang untuk memberdayakan potensi yang ada di BANTEN, mengingat potensi pertambangan daerah banten cukuplah banyak. Potensi Pertambangan Kapur Propinsi Banten mempunyai sumber daya alam yang cukup banyak salah satunya adalah batu kapur (CaCO3) yang terletak di kecamatan Bayah. Bayah adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,. Bayah mempunyai luas wilayah 156.43 km2, dengan jumlah penduduk sekitar 37,124 jiwa, terdiri dari 9 desa yaitu: Bayah Barat, Sawarna, Cidikit, Suwakan, Cimancak, Darmasari, Bayah Timur, Cisuren, dan Pasir gombong. Cadangan batu kapur (CaCO3) di daerah ini diperkirakan kurang lebih 22 juta ton, yang tersebar di daerah perbukitan di tiap desanya. Potensi tersebut belum di manfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar, padahal kegunaan kapur sangatlah luas seperti pada industri peleburan logam (digunakan sebagai fluks), industri semen dan gula, bahan bangunan, penetral keasaman tanah, pembuatan pupuk organik, pengolahan air bersih serta untuk menetralisir air yang mengandung CO2. Pada saat ini, masyarakat sekitar hanya menjual batu kapur ini dengan keadaan apa adanya, artinya penjualannya masih dalam bentuk apa adanya dari bahan tambang (Run of Mine), sehingga harganya pun murah. Di daerah lain, (misal Padalarang Jawa Barat) proses penguraian batu kapur menjadi kapur sudah banyak dilakukan baik dalam skala industri besar maupun dalam industri kecil. Sehingga nilai ekonomisnya pun bertambah. Perusahaan pertambangan kapur di Bayah belum bisa mengolah batu kapur yang mempunyai nilai ekonomis. Salah satu penyebab perusahan pertambangan yang ada di Bayah tidak mengolah batu kapur adalah harga jual kapur bakar/tohor tidak sebanding dengan biaya produksi. Pada biaya tersebut, biaya yang dikeluarkan untuk energi merupakan biaya yang paling tinggi (umumnya pihak produsen tidak mengetahui kapan kondisi optimal proses, sehingga terjadilah pemborosan energi). Padahal sebetulnya, hal tersebut dapat di tekan dengan cara mencari nilai konstanta laju reaksi. Konstanta laju reaksi adalah besaran yang sangat penting untuk melakukan proses dekomposisi batu kapur dengan cara kalsinasi. Nilai ini didapat dengan menghitung data-data dari parameter prosesnya (misal: ukuran, bentuk batu kapur, penghitungan energi, dll). Dengan menggunakan nilai konstanta laju reaksi, maka waktu dan temperatur kalsinasi dapat diketahui sehingga batu kapur dapat terurai sempurna. Dan untuk itu kita secara otomatis dapat dengan tepat menentukan proses optimal sehingga pemborosan energi energi dapat diminimalisir. Penelitian telah kami lakukan yang bertujuan mengetahui berapa besar nilai konstanta laju reaksi dan energi yang minimum yang dibutuhkan untuk

menjalankan proses kalsinasi batu kapur dari kecamatan Bayah, sehingga kebutuhan energi dan biaya produksi kalsinasi dapat diperkirakan. Pemanfaatan batu kapur Bayah untuk Industri peleburan logam Pada bidang industri metalurgi (peleburan logam), batu kapur (CaCO3) merupakan bahan tambang yang dipakai sebagai fluks (bahan pengikat pengotor logam/ terak). Pengumpanan kedalam tanur peleburan dilakukan bersama-sama dengan komponen bahan baku dan bahan bakar, Kemudian batu kapur ini akan terurai menjadi kapur bakar (CaO) pada temperatur kurang lebih 9500 C. Kapur bakar (CaO) inilah yang berfungsi sebagai bahan pengatur kebasaan terak, sehingga pada setiap proses peleburan selalu dibutuhkan batu kapur. Dalam prakteknya, apabila ke dalam tanur saat pengumpanan yang dimasukan kapur gamping (CaCO3), bukan kapur bakarnya (CaO), maka tanur tersebut bekerja ganda, yaitu terlebih dahulu menguraikan batu kapur menjadi kapur bakar. Hal ini tentunya merugikan, karena berkaitan dengan energi yang diperlukan cukup tinggi untuk proses penguraian tersebut (konsumsi energi yang tinggi pada saat proses penghilangan CO2), padahal tujuan utama proses adalah melakukan proses peleburan logam dengan energi yang seminimal mungkin. Untuk itu ,di dalam industri metalurgi, dilakukan proses secara terpisah yaitu proses kalsinasi dengan tanur kalsinasi tersendiri untuk menghasilkan CaO. Keuntungannya adalah proses dapat menggunakan bahan bakar yang murah untuk pembakarannya dan tentunya membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Teknologi penguraian batu kapur merupakan teknologi yang sederhana dan mudah dikuasai. Tanur kalsinasi ini juga dapat dibuat dengan sederhana dan murah. Analisa Ekonomi Batu Kapur Bayah Berdasarkan hal diatas, melihat pentingnya kapur bakar untuk industri peleburan logam, dan cadangan yang banyak tetapi hanya di jual apa adanya dengan harga murah, maka mestilah dilakukan pengerjaan tambahan terhadap batu kapur Bayah berupa penguraian secara termal. Dengan itu maka nilai jualnya pun akan meningkat. Dengan cara yang paling sederhana pun sebetulnya dapat dilakukan, yaitu dengan membakar batu kapur ini agar terurai menjadi kapur bakar melalui tungku sederhana yang dapat di kembangkan secara mudah dan murah. Apabila batu kapur tersebut dijual dalam bentuk kapur bakar, maka akan di peroleh nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai jual batu kapur. Jumlah kapur yang dibutuhkan sebagai fluks dalam peleburan baja PT. Krakatau Steel Cilegon sebesar 150 ton per hari. Selama ini kebutuhan kapur tersebut di suplai oleh Pabrik kapur Krakatau Steel Cilegon, dengan harga 800,- per kg dan itupun masih belum mencukupi. Berdasarkan data pemasaran Krakatau Steel disebutkan bahwa harga kapur mentah yang sudah di packing (CaCO3) sekitar Rp.300 per kg dan harga kapur bakar (CaO) sebesar Rp.800 tiap kgnya. Dari sini terlihat bahwa sangat signifikan perbedaan harga antara kapur mentah dan kapur bakar. Peluang investasi yang akan signifikan terhadap kegiatan perekonomian adalah berdirinya pabrik pengolahan batu gamping, yang mengolah bahan tambang berupa batu kapur ini. Epilog Andai ditelaah lebih jauh, seperti paparan diatas tentu sangatlah layak bagi stakeholder untuk mengembangkan perusahaan kapur bakar di daerah Bayah. Potensinya cukup, prosesnya sudah diketahui, dan penjualan pun sudah ada kejelasannya. Satu hal penting lainnya adalah usaha untuk mensejahterakan masyarakat kecil disana. Sebab, apabila pabrik pengolahan batu kapur di buat di kecamatan Bayah, serta tenaga kerja diambil dari masyarakat sekitar, maka secara otomatis akan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kecamatan Bayah. Tinggal sekarang, seberapa peduli kita akan itu, bukan sekedar mengangguk-nganguk tanda mengiyakan, tapi sudah seharusnya terjun pada kubangan nya. Apakah kita hanya akan menunggu, sampai suatu saat pihak asing mengakusisinya???? Lagi-lagi keterlambatan akan kita dapatkan, seperti kebanyakan sifat orang indonesia !!!!