Anda di halaman 1dari 26

Laporan Hasil Diskusi Publik

“Proyeksi Ekonomi Politik Indonesia Tahun 2009 Transisi Atau


Transpormasi?”

INSIDe Bekerja sama dengan BAPPILU PPRN

Jakarta, Hotel Acacia 06 Januari 2009

Daftar Laporan Meliputi

1. BAP
2. TOR
3. Kliping Media
4. Notulen
5. Dokumentasi
6. Media Release

INSIDe

(Institute for National Strategic Interest


Inte and Development
elopment)
Berita Acara
INSIDe Strategi Forum Bekerja sama dengan BAPPILU PPRN

Proyeksi Ekonomi Indonesia Tahun 2009 :

Transisi atau Transpormatif?

Hotel Acacia, 06 Januari 2009


Peserta Hadir (absensi) : 115 Peserta

Media Hadir (absensi) : 21 Media (Cetak, online dan Radio)

Pukul 10.00 :

Para undangan dan peserta mulai berdatangan ke tempat acara dan di sambut dengan ramah oleh
petugas penerima tamu sambil mempersilahkan untuk mengisi daftar hadir yang telah di siapkan oleh panitia
diskusi dan di persilahkan mengambil Term of reference (TOR) yang disediakan panitia sebelum masuk ke
dalam ruangan diskusi

Pukul 10.18:

Para pembicara yang terdiri yang terdiri dari DR Yudi Latif (Reform Institute/Advisory Board INSIDe)
dan Dr. Samsul Hadi (Advisory Board INSIDe-Analisis ekonomi politik Internasional UI), tampak juga telah
hadir dalam tempat acara di susul dengan M Danial Nafis (direktur Eksekutife INSIDe).

Pukul 10.25 :

Ruangan diskusi mulai di isii oleh peserta yang terdiri dari rekan rekan pers dan para tokoh aktifis dari
berbagai ormas, dengan menempati tempat duduk yang paling depan hingga di susul ke tempat duduk yang
paling belakang.

Pukul 10.35 :

Master off Ceremony (MC), membuka acara diskusi sambil menyebutkan satu per satu pembicara
dalam diskusi tersebut kemudian di rangkai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya dengan
penuh khidmat dan di susul dengan mengheningkan cipta. Acara pembukaan di tutup dangan pembacaan Doa,
sebelum acara diskusi di serahkan sepenuhnya kepada Moderator untuk memandu jalannya diskusi.

Pukul 10. 40 :

Acara diskusi di serahkan kepada moderator M Danial nafis (Direktur eksekutife INSIDe)
sambilmemperkenalkan satu persatu para pembicara dengan latar belakang dan profesi masing masing dan
di persilahkan menempati tempat yang telah di sediakan, dan acara diskusi “Proyeksi Ekonomi Politik
Indonesia tahun 2009 Transisi atau Transpormatif?” kerja sama INSIDe dengan BAPPILU PPRN di buka secara
resmi oleh moderator.
Pukul 10.45 :

Bapak DR Rizal Ramli yang juga merupakan salah satu pembicara pada acara diskusi itu juga telah
hadir dan ikut bergabung dengan para nara sumber lainnya.

Pukul 10.50 :

Moderator memberikan kesempatan pertama kepada Bapak Yudi Latif (Reform Institute) untuk
memberikan opening statementnya.

Pukul 10.53 :

Bapak Hotlad Hutajullu (PPRN) hadir dalam ruangan dan ikut bergabung dengan para pamateri lainnya
hingga melengkapi daftar para pembicara pada diskusi siang hari itu.

Pukul 11.05 :

Bapak Yudi latif mengakhiri opening statementnya yang kemudian di tanggapi oleh moderator.

Pukul 11.07 :

Kesempatan berikutnya di berikan moderator kepada Mas Samsul Hadi (Analisis Ekonomi Politik
Internasional UI) untuk memberikan opening statementnya.

“ Krisis yang saat ini sedang di hadapi tidak hanya di tingkat Nasional tapi sudah Mengglobal/Dunia, Tahun
1997-1998 Asia di landa krisis termasuk Negara Indonesia,maka untuk keluar dari masalah tersebut Indonesia
membutuhkan pemimpin yang mempunyai visi yang jelas bukan sekedar produk iklan serta mempunyai
kemampuan berorganisasi yang mampu merumuskan masalah masalah yang di hadapi saat ini dan yang akan
datang ”

Pukul 11.30 :

Masa Samsul Hadi mengakhiri opening statemennya yang kemudian di tanggapi oleh moderator.

Pukul 11.32 :

Moderator memberikan kesempatan kepada Bapak Rizal Ramli (ECONIT) untuk memberikan materi
terkait dengan tema diskusi yang akan

Pukul 12.00 :

Bapak Rizal Ramli mengakhiri materi yang di sampaikannya

Pukul 12.05 :

Kesempatan terahir di berikan moderator kepada Bapak Hotmand Hutajullu (PPRN) untuk
memberikan uraian singkatnya Visi PPRN adalah Kemandirian, memperjuangkan keadilan dan kemakmuran
bagi seluruh lapisan masyarakat merupakan wujud nyata dari perjuangan partai PPRN
Pukul 12.10 :

Bapak Hotland Hutajullu mengakhiri paparan singkatnya dan moderator memberikan


kesempatankepada audiens untuk memberikan pertanyaan atas apa yang telah di sampaiakan oleh para
pemateri

Pukul 12.15 :

Sesi pertanyaan di buka,karna mengingat keerbatasan waktu yang di miliki pihak penyelenggara maka
moderator hanya memberikan kesempatan kepada 2 orang penanya

1.Bapak Agust Muldya (Ketua Alumni Fakultas Teknik UI)

2. Bapak Asikien (Litbang PPRN)

Pukul 12.30 :

Para pemateri di beri kesempatan oleh moderator untuk menjawab atas apa apa yang di pertanyakan
audience dan Bapak DR Rizal Ramli ( EKONOM) yang di beri kesempatan pertama untuk menjawab sesi
pertanyaan di susul oleh bapak Hotman Hutajullu (PPRN) kemudian oleh Mas Samsul Hadi (pengamat
Ekonomi Politik Intrenasional UI) hingga berakhir oleh Bapak Yudi Latif (Reform Institut)

Pukul 13.10 :

Moderator mengakhiri acara diskusi dengan menyampaiakan terimah kasih kepada para pemateri
maupun tamu dan undangan yang telah hadir dan ikut berpartisipasi dalam acara diskusi tersebut

Pukul 13 .15 :

Master of Ceremony (MC) menutup acara diskusi siang hari itu dengan menyanyikan lagu padamu
negeri dan mempersilahkan para peserta untuk menikmati hidangan makan siang yang telah di sediakan.

Dengan berakhirnya lagu padamu Negeri maka berakhir juga seluruh rangkaian acara yang di selenggrakan
INSIDe bekerja sam dengan BAPPILU PPRN

Jakarta, 7 Januari 2009

Panitia Pelaksana.

INSIDe (Institute for National Strategic Interst and Development)

Bekerja sama dengan

BAPPILU PPRN
Tor Diskusi Publik

INSIDe Strategic Forum

PROYEKSI EKONOMI-POLITIK INDONESIA 2009:

TRANSISI ATAU TRANSFORMASI?

Latar Belakang

Ekonomi : Gambaran ekonomi Indonesia tahun 2009 dalam analisis para


ekonom dalam dan luar negeri menunjukan suatu situasi yang serba tidak
pasti, teka-teki, mendung, suram. Mantan Menteri Perekonomian era Gus
Dur, DR. Rizal Ramli memprediksikan tahun depan seluruh indikator makro
ekonomi akan menurun. Hal ini disebabkan turunnya harga komoditi di
seluruh dunia. Faktor lainnya aliran hot money akan keluar dari Indonesia
sebagai akibat dari krisis keuangan di Amerika Serikat. Di luar itu, tam bah
Rizal, faktor lainnya adalah adanya missing link antara makro dan mikro.
Sementara Corporate Network Economist Intelligence Unit (EUI) yang
dipimpin Justin Wood menunjukan kondisi perekonomian Indonesia akan
memburuk dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang turun dari 6,3 persen
pada 2007, menjadi 6,2 persen pada 2008. "Kernudian turun drastis ke 3,7
persen pada tahun 2009. Seiring dengan semakin ketatnya likuiditas
keuangan global, ketersediaan sumber pendanaan bagi Indonesia akan
semakin sulit. Oleh karena itu, pertumbuhan pesat dalam investasi aset
tetap yang telah dinikmati Indonesia sejak awal tahun 2007 akan menurun.

Dalam laporan kajian resiko berbisnis di Indonesia yang diterbitkan EIU pada
Oktober 2008 juga memperkirakan adanya peningkatan ali ran modal keluar
dari Indonesia mulai tahun depan. Hal itu akan mengakibatkan perusahaan­
perusahaan mengalami kesulitan pendanaan, karena cadangan valuta asing
yang menipis. Indonesia akan mengalami kesulitan akibat dampak krisis
global yang mulai terasa mempengaruhi kegiatan di pasar modal. Sejumlah
besar surat utang negara yang dipegang oleh investor asing dikhawatirkan
akan menyulitkan Indonesia di masa depan. Nilai rupiah terhadap dolar
Amerika telah turun drastis dalam beberapa minggu terakhir, meski tidak
terjadi krisis neraca pembayaran namun resiko pelarian modal terutama dan
investor domestik yang sejauh ini percaya pada rupiah, masih ada, Justin
Wood menambahkan kebijakan uang ketat yang diterapkan Bank Indonesia
untuk mengatasi inflasi dan upaya menjaga suku bunga tinggi untuk
mempertahankan nilai rupiah justru akan mengurangi belanja konsumen dan
mengharnbat investasi. "Pada akhirnya akan memperlambat perekonomian
di tahun 2009, "ujarnya. M. Ikhsan Modjo dari Institute for Development of
Economics and Finance (INDEF) menegaskan tekanan yang kuat terhadap
investasi dan ekspor di 2009 akan menyebabkan terkoreksinya tingkat
pertumbuhan Indonesia secara cukup signifikan.

Analis pengamat diatas juga diakui oleh Wapres Jusuf Kalla. JK mengakui
bahwa pertumbuhan akan melambat karena harga komoditas ekspor
menurun serta lesunya pasar di luar negeri. Melemahnya industri berbasis
komoditas diyakini menurunkan kemampuan keuangan pemerintah, dan
pada gilirannya akan mempengaruhi pembangunan infrastruktur.
Hal Ini direspons pemerintah dengan menurunkan proyeksi target
pertumbuhan dari 6,4% hingga 4,5% pada 2009.
Rentannya ekonomi Indonesia menimbulkan gugatan tentang arah-orientasi­
sistem ekonomi-politik Indonesia yang dipakai Indonesia selama ini. Jalan
neoliberalisme yang menjadi mazhab ekonomi pemerintah secara
berkelanjutan, secara sinergi membawa kemerosotan, krisis besar bagi
rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Semestinya Indonesia bisa belajar dari krisis yang terjadi selama ini dan juga
belajar dari negara lain soal jalan keluar yang paling rnungkin membawa
kemakmuran, keamanan ekonomi-politik.

Maka, terkait dengan tahun 2009 sebagai tahun pemitu, apakah pemitu
pasca reformasi ini, masih berkutat pada transisi semata atau perlu segera
melakukan transformasi ekonomi-politik? Baik secara struktural maupun
kultural. Berbagai gambaran yang masih sangat terbatas ini, kiranya bisa
menjadi bahan yang perlu diangkat,ditelaah dan di diskusikan dalam diskusi
publik Proyeksi ekonomi -poltik 2009: Transisi atau Transformasi?

Fokus bahasan:
• Potret ekonomi 2009, implikasi sosial-ekonomi-politik dan jalan
keluarnya.
• Potret Politik dan irnplikasinya terhadap keberlanjutan dan
perwujudan demokrasi substansial.
• Posisi Strategis Pemilu 2009, akankah melanjutkan transisi demokrasi
semata (status quo-stagnasi-retrogratif) yang ternyata juga tidak
membawa perubahan berarti bagi perbaikan kualitas kesejahteraan
rakyat atau perlu segera melakukan transformasi (visoner-harmoni
dan progresif)?
• Perubahan sosial apa yang kemungkinan terjadi atau rekayasa
perubahan sosial apa yang perlu dilakukan agar ekonomi-politik benar
berjalan sesuai tujuanya membawa sebesar-besarnya kemakmuran­
kesejahteraan rakyat?

Penye lenggara:

INSIDe (Institut for National Strategic Interest and Development)

Bekerjasama dengan BAPPILU Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN)

Waktu dan Tempat Pelaksanaan :

Hari/Tanggal: Selasa, 06 Januari 2009

Pukul : 10.00-13.00 WIB

Tempat : Hotel Acacia- Jl. Keramat Raya Jakarta Pusat.

Tema : Prediksi Ekonomi-Politik Indonesia 2009: Transisi atau transformasi?

Narasumber:

DR. Rizal Ramli (ECONIT)

DR Yudi Latif (Reform Institute)

Drs. Hotland Hutajulu, MM. (Ketua DPP PPRN)

DR. Syamsul Hadi (FISIP UI)

Moderator: M. Danial Nafis M.Si

Politik : Setali tiga uang dengan EkonomL Politik Indonesia dtproyekslkan


mengalami instabilitas. Posisi stabilitas politik Indonesia pasca-Pemilu 2009
tidak sebaik saat ini (2008). Seperti hasH survey terakhir dari berbagai
lembaga survey nasional, prediksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) akan menggusur Partai Golkar sebagai pemenang pemilu dan pemilik
kursi terbesar di parlemen dan menguatnya sentimen terhadap SBY.
Meskipun beberapa survey dan polling nasional, memprediksi Partai
Demokrat, naik secara signifikan.

Dalam jangka pendek, Kabinet Indonesia Bersatu akan menjadi sasaran


tekanan internal menjelang pemilihan parlemen dan presiden tahun depan.
Kondisi politik akan memanas karena partai-partai politik akan rnulai
menjauhkan diri dan sertngkali mengambil jarak terhadap kebijakan
Presiden, Sebagai akibat koalisi politik sumbu pendek yang dibangun anatara
koalisi partai berrkuasa saat ini.

Hal yang juga bisa menimbukan instabilitas politik Indonesia adalah terkait
aturan Parliamentary Threshold (PT) sebesar 2,5 persen untuk suara nasional
sebagai syarat keikutsertaan partai pada pemilu berikutnya dan caleg dalam
meraih kursi. Aturan ini berpotensi menimbulkan gejolak dan konflik
regional-lokal. Sebab sangat besar kemungkinan CALEG dari partai-partai
kecil banyak yang berhasil datam beberapa DAPIL, namun karena kendala
aturan PT (Suara nasional 2,5%), sang CALEG gagal menjadi anggota DPR,
mengingat response politik dengan mekanisme suara terbanyak, akan
menguras energi dsn sumber daya finansial para CALEG

Gambaran ekonomi-politik di atas, pasti membawa dampak ekonomi-sosial­


politik. Tahun 2009 mendatang akan sangat sulit bagi pengusaha untuk
mengembangkan usahanya. Disisi eksternal Tsunami krisis keuangan global
mulai terasa. Dampak yang riil dan sekarang terasa ialah akan adanya trend
dilepasnya saham-saham di Bursa Efek Indonesia secara massif oleh para
investor asing karena mereka di desak di negaranya masing-masing untuk
menarik dan melanjutkan posisi tahun 2008, sebagai bagian dari national
security.

Karena pengaruh teknologi informasi yang demikian canggihnya, semua


berita-berita tentang krisis yang melanda negara-negara maju dapat diikuti.
Pengaruh psikologisnya ialah kehati-hatian dalam membelanjakan uangnya,
kebijakan uang ketat, mandegnya kredit dan minimnya daya produksi,
hingga kecilnya daya beli masyarakat, meskipun pemerintah akan
menggelontorkan trilyunan mega kredit sebagai stimulus penyelamatan
ekonomi, meskipun didsisi lain pemerintah belum cukup menguatkan
fundamental ekonomi.

Ancaman PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) terus menghantui para pekerja


di sektor formal di masa krisis yang makin memukul industri dalam negeri.
Penurunan target pertumbuhan ekonomi dad 6 persen ke posisi terburuk 4,5
persen akan menimbulkan tingkat pengangguran makin merl'ingkat, asumai
Maret 2009, 2,5 Juta PHK akan diberlakukan. Menurut hitungan Badan Pusat
Statistik (BPS), pen'ingkatan perturnbuhan ekonomi 1 persen bisa menambah
702.000 lapangan kerja baru. Sehingga jika pertumbuhan menurun, maka
dipastikan tidak ada penyerapan tenaga kerja, sementara jumlah
penganggur terbuka di Indonesia kini hampir mencapai angka 10 juta orang.
Laporan Liputan Media ACACIA
Diskusi Publik dengan Tema:

“Proyeksi Ekonomi-Politik Indonesia 2009: Transisi atau Transformasi?”

Tempat: ACACIA Hotel

Hari/ Tanggal: 06 Januari 2009

Media Peliput :

1. SEPUTAR INDONESIA
2. KORAN JAKARTA
3. WARTA KOTA
4. NONSTOP
5. SUARA PEMBARUAN
6. KOMPAS.COM
7. BERPOLITIK.COM
8. POSKOTA.CO.ID
9. INILAH.COM
10. INDOWARTA.COM
11. TRIJAYA FM
12. MODUS.OR.ID
File INSIDe

Sumber : Seputar Indonesia


Halaman :3
Hari/ Tanggal : Jumat / 09 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : KORAN JAKARTA


Halaman :3
Hari/ Tanggal : Rabu/ 07 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : WARTA KOTA


Halaman : 17
Hari/ Tanggal : Kamis/ 08 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : NONSTOP
Halaman : 11
Hari/ Tanggal : Kamis/ 08 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : KOMPAS.COM
URL : http://images.kompas.com/detail_news.php?id=14526
Hari/ Tanggal : Selasa / 06 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : BERPOLITIK.COM
URL : http://www.berpolitik.com/viewnewspost.pl?nid=18865&param=iAu9qDyhGejEVgYqVIPW
Hari/ Tanggal : Kamis / 08 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : POSKOTA.CO.ID
URL : http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=49888&ik=6
Hari/ Tanggal : Rabu / 07 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : INILAH.COM
URL : http://inilah.com/berita/politik/2009/01/06/73673/2009-tahun-menyerempet-bahaya/
Hari/ Tanggal : Selasa / 06 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : INDOWARTA.COM
URL : http://indowarta.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4673&Itemid=71
Hari/ Tanggal : Kamis / 08 Januari 2009
File INSIDe

Sumber : MODUS.OR.ID
URL : http://modus.or.id/polkam/transfor.html
Hari/ Tanggal : Kamis/ 08 Januari 2009
INSIDe STRATEGIC FORUM
“Proyeksi Ekonomi – Politik Indonesia 2009 : Transisi Atau Transformasi?”
Hotel Acacia Jakarta, 6 Januari 2009

Pembicara :
1. DR. Rizal Ramli (ECONIT)
2. DR. Yudi Latif (Reform Institute)
3. DR. Syamsul Hadi (FISIP UI)
4. Drs. Hotland Hutajulu, MM (Ketua DPP PPRN)
Moderator :
M. Danial Nafis, M.Si (Direktur Eksekutif INSIDe)

Sesi I (Pkl. 10.20 wib)

Dalam lingkup Politik Nasional saat ini, DR. Yudi Latif berpendapat
hendaknya pemerintah dapat lebih menjalankan Politik Responsif, yang
memiliki beberapa point, yaitu:
1. Rasionalitas, sehingga kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah
dapat nyata memberikan manfaat kepada rakyat.
2. Memenuhi azas efisiensi, yang tidak hanya mencakup di bidang
ekonomi. Biaya pemilu di Indonesia yang begitu tinggi dinilai tidak
mencerminkan azas tersebut. Sehingga diharapkan pemerintah
dapat mencari solusi atau alternative lain sehingga biaya
perpolitikan di Negara ini dapat lebih diefisiensikan.
3. Justice, bahwa dalam setiap kebijakan para elit haruslah selalu
berada dalam semangat senasib sepenanggungan dengan rakyat
kecil.
4. Freedom, bahwa dalam setiap pembuatan kebijakan haruslah
berdasarkan persetujuan publik.

DR. Syamsul Hadi (FISIP UI) memberikan ulasan mengenai Ekonomi Dalam
Negeri, Kawasan, dan Internasional. Dimulai sejak krisis ekonomi tahun
1997-1998, di mana Indonesia menjadi salah satu Negara yang menerima
imbas terparah dan terlama di banding Negara lain di kawasan Asia.
Kuatnya KKN dinilai menjadi salah satu penyebabnya. Namun, beberapa
Negara lain dapat segera bangkit dari keterpurukan itu dan kembali
membangun ekonomi nasional mereka. Dalam setahun belakangan ini,
dunia kembali mengalami krisis ekonomi global. Krisis ekonomi yang
melanda Amerika Serikat menjadi pemicunya. Besarnya biaya perang
yang dikeluarkan Amerika Serikat di Irak diyakini menjadi salah satu
penyebab utama terjadinya krisis keuangan di Negara adidaya tersebut.
Kondisi ekonomi Amerika Serikat sebagai sebuah Negara yang
memegang peranan penting dalam perekonomian dunia tentunya juga
akan mempengaruhi kondisi perekonomian di Negara lain di seluruh
dunia, yang memungkinkan dunia kini akan mengarah kepada “Dunia
Pasca Amerika” dimana Amerika tidak ladi menjadi sentral perekonomian
dunia, yang disebabkan oleh dua factor utama, yaitu:
1. kemunduran ekonomi Amerika itu sendiri
2. munculnya kekuatan Negara lain yang menjadi pesaing Amerika.
Selain hal tersebut, DR. Syamsul Hadi juga menambahkan bahwa yang
dibutuhkan Inonesia saat ini bukan hanya system politik responsive tapi
juga system politik yang transformative, dengan dua poin utama, yaitu:
1. otonom
- otonom terhadap kekuatan-kekuatan global
- otonom terhadap kelompok dominan di dalam negeri
2. memiliki kekuatan transformative.

DR. Rizal Ramli dalam Inside Strategic Forum mengatakan bahwa rakyat
Indonesia saat ini terbagi menjadi dua lapisan. Lapisan pertama, yaitu
20% rakyat Indonesia yang telah menikmati arti kemerdekaan
sesungguhnya, dan lapisan kedua yaitu 80% rakyat Indonesia yang belum
menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Tahun 2009 sebagai
tahun pemilu di Indonesia diharapkan menjadi Sejarah awal
kemerdekaan rakyat dengan cara memberikan kemerdekaan kepada
80% rakyat Indonesia yang belum sempat merasakan kemerdekaan itu.
Pemimpin Indonesia masa depan haruslah memberikan kehidupan yang
layak kepada rakyatnya. System perekonomian mandiri dengan
menggunakan seluruh potensi SDA dan SDM dalam negeri harus
dilaksanakan untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat.
Sementara itu, Drs. Hotland Hutajulu, MM selaku Ketua DPP Partai Peduli
Rakyat Nasional (PPRN) bahwa PPRN hadir atas dasar kepedulian
terhadap berbagai masalah yang dialami rakyat saat ini.

Sesi II (Pkl. 12.05)


Pertanyaan:
1. Agus Mulya (Ikatan Alumni UI)
Masih proper kah pemerintah sekarang dalam menjalankan
pemerintahan di Indonesia?
Proses pemilu yang memberikan pembelajaran kepada rakyat dan
mahasiswa?
2. Asikin Bai’in (Litbang PPRN)
Bagaimana cara membangun karakter nasionalis?
Jawab:
1. DR. Rizal Ramli
Pemerintah saat ini dinilai tidak proper dan tidak tanggap terhadap
berbagai masalah yang ada di masyarakat. Berbagai masalah
yang terjadi di Indonesia tidak hanya disebabkan faktor global,
tetapi juga faktor dari dalam negeri Indonesia sendiri.
Nasionalisme merupakan hal yang sangan penting bagi suatu
Negara, termasuk Indonesia. Tidak bisa hanya dengan
Nasionalisme Historis, Biologis, dan nasionalisme romantis tetapi saat
ini Indonesia membutuhkan suatu semangan nasionalisme baru
untuk menjawab tantangan di abad 21 ini.
2. Drs. Hotland Hutajulu
Kebijakan yang diambil pemerintah ditambah kepemimpinan saat
ini dinilai lemah dan tidak menguntungkan rakyat. PPRN
berpendapat bahwa menciptakan SDM yang berkualitas untuk
menjadi pemimpin masa depan adalah suatu hal yang amat
diperlukan Negara ini.
3. DR. Syamsul Hadi
Walaupun keadaan ekonomi Indonesia berada dalam situasi yang
tidak menguntungkan, tetapi Ia menilai bahwa rakyat memiliki
caranya sendiri (kelembaman), untuk bisa survive dari krisis ini. Salah
satu penyebab mengapa Indonesia sulit keluar dari krisis ekonomi
adalah karena pemerintah masih menggunakan metode yang
sama dengan yang dignakan [pada tahun 1997-1998.
4. DR. Yudi Latif
Yang harus dilakukan Negara ini ketika dilanda krisis global adalah
dengan bersikap Mandiri dan menentukan prioritas nasional.
Selama ini kita terlalu abai dengan segala potensi dan jati diri
bangsa dan pepimpin saat ini tidak berani menentukan fokus
kebijakannya. Politik yang ada saat ini tidak berpihak kepada
rakyat dan hanya berpihak kepada kepentingan privat (modal).
Media Realease

INSIDe Strategic Forum

“Proyeksi Ekonomi-Politik Indonesia 2009: Transisi atau Transformasi?”

Proyeksi ekonomi politik Indonesia tahun 2009, secara ekonomi-politik dan sosial,
diperkirakan lebih buruk dari tahun 2008. Sebuah tahun Vivere pericoloso (Hidup
menyerempet bahaya) Inilah kesimpulan dari beberapa narasumber yang hadir
dalam diskusi publik INSIDe Strategic Forum yang diselenggarakan oleh INSIDe
(Institute for National Strategic Interest and Development), bekerjasama dengan
BAPPILU PPRN (Partai Peduli Rakyat Nasional), pada hari selasa, 6 Januari 2009,
bertempat di hotel Acasia, pkl 10.30 – 13.00wib.

Seperti diungkapakan salah satu nara sumber, DR. Rizal Ramli bahwa kebijakan
ekonomi 2009 akan tetap liberal dan tidak pro rakyat indikasinya, adalah perluasan
PHK buruh hampir 2 juta buruh pada 2009, pertumbuhan ekonomi yang sangat lambat
diperkirakan dibawah 6%, kebijakan uang ketat pemerintah dan suku bunga yang
diterapkan Bank Indonesia yang sangat tidak populer. Dan tentunya keberlanjutan
mekanisme pasar masih menjadi paradigma kabinet ekonomi Indonesia bersatu
seperti tahun-tahun sebelumnya, maka menurut Rizal Ramli untuk keluar dari krisis
ekonomi politik Indonesia mesti menempuh jalan baru kebijakan ekonomi politik yang
lebih berpihak terhadap rakyat bukan berpihak kepada pemilik modal dan pihak
asing, saatnya menguatkan 80% kedaulatan rakyat, yang hingga hari ini masih dikuasai
oleh segelintir elite status quo.

Senada dengan DR. Rizal Ramli, dalam politik, seperti diutarakan oleh DR. Yudi
Latif (INSIDe Advisory Board) bahwa, diperkirakan kebijakan politik 2009 masih berkutat
dan menjaga kebijakan pro pasar. Ini semakin menguatkan penjajahan ekonomi
dalam negeri yang ternyata telah bermetamorfosis dari penjajahan tirani dibawah
laras senapan menjadi penjajahan dibawah kekuatan modal kapital. Dimana
mekanisme pasar mengalahkan kepentingan masyarakat miskin sehingga kebijakan
yang dikeluarkan pada tahun 2009 tetap saja tidak akan merubah Indonesia lebih baik
kalau tidak ada keseriusan untuk merubah paradigma kebijakan ekonomi politik.
Disisi lain, Yudi Latif mengungkapkan, Pemilu 2009, yang dikuiti multi partai, bisa
dijadikan indikasi gagalnya konsolidasi demokrasi partisipatoris dI Indonesia, karena
minimnya ikatan kebangsaan malah cenderung adanya pengutan sektarianisme
politik. Partai politik cenderung gagap dan tidak emensipatoris terhadap fenomena
perubahan sosial. Mekanisme suara terbanyak yang ditetapkan MK, harusnya
menjadikan partai lebih membekali para CALEG nya dengan program langsung yang
bersentuhan dengan rakyat. Tingkat konflik politik juga akan cenderung meningkat di
2009, seiiring tingkat kompetisi antar parpol yang berbasis individual dan merebaknya
Industri politik yang sarat kepentingan, ikut menkondisikan potensi konflik tersebut.

Pembicara lain, yakni, DR. Syamsul Hadi (Board Advisory INSIDe), menjelaskan
krisis global yang terjadi saat ini, sangat memberikan efek terhadap Indonesia, Syamsul
Hadi mencontohkan, Cina sebagai “emerging market” saja, pada tahun 2009, tingkat
produksinya diperkirakan turun hingga 40%. Jepang juga mengeluarkan kebijakan
stimulus perekonomian dalam negerinya. Syamsul cukup khawatir terhadap Indonesia,
yang sampai hari ini, tidak memiliki kebijakan ekonomi yang antisipatif dan terobosan
alternative. Syamsul yang juga yang merupakan pengamat ekonomi internasional dari
Universitas Indonesia lebih pesimis bahwa ditahun 2009 jika tidak ada keberpihakan
pemerintah terhadap rakyatnya dan tidak ada political will yang benar-benar
berpihak terhadap rakyat miskin maka akan semakin memperpuruk ekonomi politik
tahun 2009 dikarenakan ancaman yang timbul tidak hanya disebabkan oleh dampak
krisis global tetapi ditambah kelemahan perkembangan ekonomi politik nasional
menjelang 2009. Meskipun rakyat memiliki logika dan kelembaman dalam
menghadapi krisis.

Hal itu juga tidak bisa dipungkiri oleh kalangan partai seperti yang dikatakan
oleh Drs. Hotland Hutajulu yang merupakan pengurus DPP PPRN, bahwa kepedulian
partai terhadap rakyat mestinya menjadi hal pokok dalam setiap gerak-gerik sebuah
partai. Dia menegaskan bahwa PPRN lahir dari penderitaan rakyat dari keterpurukan
ekonomi akibat krisis keuangan global dan ketidakadilan bagi rakyat selama ini.
Hotland melihat pada 2009, situasi ekonomi politik akan suram, jika Indonesia, tidak
memiliki kepemimpinan dan kebijakan yang bersandar keprdulian terhadap rakyat.
Namun, Yudhi Latif juga menambahakan masih ada peluang untuk keluar dari
krisis ekonomi politik 2009, karena diantara ancaman dan peluang adalah kunci yang
harus dicari untuk memperbaiki kebijakan ekonomi politik yang lebih baik dari tahun
2008. Transformasi ekonomi politik, menjadi sebuah jawaban. Tahun Vivere pericoloso,
akan dapat teratsi jika, elit dan rakyat mau melakukan perubahan yang mendasar
dengan basisi partisipasi dan emansipatif.

Moderator yang sekaligus direktur eksekutif INSIDe M. Danial Nafis, M.Si, menarik
kesimpulan dari realitas yang ada, bahwa pemerintahan SBY-JK akan gagal, jika tidak
mampu mentransformasikan kepemimpinan pada 2009 dengan menjadikan rakyat
sebagai subjek aktif dengan peran signifikan untuk mewujudkan demokrasi politik.
Mengembalikan jalur kebijakan ekonomi yang hari ini masih jauh melenceng dari
filososfi bangsa Indonesia, yakni kedaulatan ekonomi rakyat, bukan dominasi ekonomi
pasar.

INSIDe :

www.inside.or.id

info@inside.or.id

telp/fax : 021 4213301

cp tatang : 085642544428