Anda di halaman 1dari 34

NASKAH AKADEMIK

KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SMP

PUSAT KURIKULUM 
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 
2007 
KATA PENGANTAR
Pemberlakuan UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan
Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun
2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menengah menuntut cara pandang
yang berbeda tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dulu, pengembangan kurikulum
dilakukan oleh pusat dalam hal ini Pusat Kurikulum sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh satuan
pendidikan. Kini, kurikulum disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kondisi
demikian memungkinkan adanya perbedaan muatan dan pelaksanaan kurikulum antara satu sekolah dengan
sekolah lainnya.
Pengembangan kurikulum yang dilakukan langsung oleh satuan pendidikan memberikan harapan tidak ada
lagi permasalahan berkenaan dengan pelaksanaannya. Hal ini karena penyusunan kurikulum satuan
pendidikan seharusnya telah mempertimbangkan segala potensi dan keterbatasan yang ada.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar nasional pendidikan:
standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan
dan penilaian pendidikan. Dua dari dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yakni standar isi
(SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam
mengembangkan kurikulum.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang
kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang
harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Sebagai acuan, standar isi masih perlu ditelaah. Penelaahan dimaksudkan untuk memperoleh informasi
tentang ada-tidaknya rumusan pada standar isi yang menimbulkan permasalahan bila digunakan untuk
mengembangkan kurikulum. Sebagai naskah, kurikulum yang telah dikembangkan oleh satuan pendidikan
juga perlu ditelaah. Penelaahan terhadap naskah kurikulum dimaksudkan untuk memperoleh gambaran
tentang kemungkinan keterlaksanaannya. Penelaahan standar isi dan kurikulum dilakukan melalui berbagai
tahapan kegiatan pengkajian keduanya.
Hasil pengkajian antara lain berupa naskah akademik :
1. Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD
2. Kajian Kebijakan Kurikulum SD
3. Kajian Kebijakan Kurikulum SMP
4. Kajian Kebijakan Kurikulum SMA
5. Kajian Kebijakan Kurikulum SMK
6. Kajian Kebijakan Kurikulum Kesetaraan Dikdas
7. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Pendidikan Agama
8. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Kewarganegaraan
9. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa
10. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Matematika
11. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA
12. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPS
13. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Keterampilan
14. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Kesenian
15. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran TIK
16. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani

Salah satu hasil kajian tersebut di atas adalah Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum SMP. Hasil kajian
ini memberikan gambaran tentang muatan naskah standar isi dan kurikulum sebagai bahan usulan bagi
perumusan kebijakan pendidikan lebih lanjut.
Pusat Kurikulum menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada banyak pakar yang berasal
dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Depdiknas, kepala sekolah, pengawas, guru, dan
praktisi pendidikan, serta Depag. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari mereka, naskah akademik ini
dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Kepala Pusat Kurikulum


Badan Penelitian dan Pengembangan
Depdiknas,

Diah Harianti

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 i


ABSTRAK

Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan, salah satunya adalah standar isi. Rumusan-rumusan standar isi seharusnya
bersifat konseptual, fundamental, esensial, bermakna, akurat, konsisten dan praktis guna
mencapai Tujuan Pendidikan Nasional. Sejauh ini standar isi yang telah
diimplementasikan oleh beberapa satuan pendidikan antara lain SMP, belum diketahui
bagaimana keterlaksanaannya di lapangan. Kegiatan pengakajian standar isi dilakukan
sebagai upaya untuk mengetahui berbagai permasalahan berkenaan dengan
implementasinya pada satuan pendidikan.
Pengkajian standar isi bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang keunggulan dan
kelemahan standar isi SMP ditinjau dari pelaksanaannya maupun isi dan kesimpulan
tentang naskah standar isi dan implementasinya yang hasilnya dapat memberikan saran
bagi pembuat kebijakan tentang pendidikan.
Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan kajian teoritis tentang kurikulum, kajian naskah
standar isi dan kajian empiris implementasi standar isi. Pengkajian standar isi mencakup:
kerangka dasar, struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan,
dan kalender pendidikan. Seluruh aktivitas pengkajian dilakukan melalui penugasan
individual yang dilanjutkan dengan diskusi dengan melibatkan guru, kepala sekolah,
pengawas, dan dosen dari UNJ serta UPI.
Temuan yang didapatkan pada pengkajian standar isi yakni: komponen pada SI belum
mencerminkan secara utuh sebagai komponen yang membangun kerangka dasar
kurikulum, terminologi penamaan kelompok mata pelajaran menimbulkan kerancuan
pemaknaan, urgensi pengelompokkan mata pelajaran kurang kokoh, rumusan prinsip
pelaksanaan kurikulum masih terlalu umum, penetapan alokasi setiap mata pelajaran
belum didukung oleh pemetaan substansi yang membangun ’body of knowledge’ setiap
mata pelajaran, informasi tentang muatan lokal; pengembangan diri; substansi IPA terpadu
dan IPS terpadu serta jam praktikum yang tertera pda struktur kurikulum belum jelas,
beban belajar belum mengakomodasi kebutuhan jam praktikum beberapa mata pelajaran,
program sks belum dilengkapi dengan suplemennya, alokasi waktu maksimum pada
kalender pendidikan 55 minggu melebihi jumlah minggu pertahun, komposisi minggu
efektif belajaar pada semester ganjil dan genap belum diatur.
Rekomendasi dari hasil pengkajian adalah dokumen standar isi perlu direvisi meliputi:
penambahan komponen fundamental pada kerangka dasar, pelurusan konsep kelompok
mata pelajaran, memperjelas rumusan prinsip pengembangan dan prinsip pelaksanaan
kurikulum, menyusun peta materi/topik/konsep mata pelajaran untuk menetapkan alokasi
waktunya, informasi lebih operasional tentang muatan lokal; pengembangan diri; substansi
IPA terpadu dan IPS terpadu, menetapkan jam praktikum secara lebih operasional,
pendistribusian minggu efektif untuk semester ganji dan semester genap.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 ii


DAFTAR ISI

Hal
Pengantar 1
Abstrak 3
Daftar Isi 4
Bab I Pendahuluan 5
A. Latar Belakang 6
B. Tujuan 6
C. Ruang Lingkup 6
Bab II Landasan 7
A. Landasan Yuridis 7
B. Landasan Teoritis 9
Bab III Temuan Kajian dan Pembahasan 21
A. Kajian Dokumen 21
B. Kajian Lapangan 25
C. Pembahasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan 26
Bab IV Kesimpulan dan Rekomendasi 32
A. Kesimpulan 32
B. Rekomendasi Jangka Pendek 33
C. Rekomendasi Jangka Panjang 34

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 iii


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Standar isi merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari delapan standar
yang termasuk dalam lingkup standar nasional pendidikan. Standar isi tersebut
memuat lingkup materi dan tingkat kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian,
kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta
didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Suatu standar yang berfungsi sebagai
acuan dan main goals di dalam membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
pendidikan, maka rumusan-rumusan standar isi hendaknya bersifat konseptual,
fundamental, esensial, bermakna, akurat, konsisten dan praktis guna mencapai Tujuan
Pendidikan Nasional.
Sifat konseptual standar isi menghendaki adanya landasan dasar filosofis,
psikologis, akademis, sosiologis, dan manajemen, sehingga rumusan-rumusan yang
tertuang dalam dokumen acuan mengakar pada dasar keilmuan, memberikan batang
tubuh yang kokoh dengan tidak terlalu terombang ambing oleh dinamika perubahan,
tetapi membuka peluang secara fleksibel terhadap perkembangan baru.
Sifat fundamental standar isi menghendaki pemuatan hal-hal mendasar tentang
kemampuan yang hendaknya dimiliki sumber daya manusia baik untuk kepentingan
menghadapi problematika masa kini maupun adaptable untuk kepentingan masa
mendatang (berifat futuristik).
Sifat esensial standar isi menghendaki pemuatan prinsip-prinsip pokok dari setiap
bidang keilmuan dengan terminologi dan ruang lingkup yang telah disepakati pakar
nasional, regional maupun internasional yang memberi dukungan berarti terhadap
potensi sumber daya manusia yang akan diujudkan dan membuka peluang terhadap
dinamika perubahan (kemutakhiran isi).
Sifat kebermaknaan standar isi untuk pendidikan menghendaki adanya perubahan
kepada paradigma science/education for life bukan life for science/education atau
science/education for science/education. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan yang
dimuati isi keilmuan hakikatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
kehidupan. Kebermaknaan standar isi menyangkut dimensi-dimensi pengalaman,
aturan logis, elaborasi seleksi yang disesuaikan dengan tradisi budayanya maupun
dunia disiplin persekolahannya, tuntutan dunia kerja dan dimensi ekspresi yang
komunikatif berdasarkan pertimbangan pedagogi.
Sifat akurasi standar isi menghendaki bahwa terminologi yang digunakan di dalam
setiap dokumen penyelenggaraan pendidikan harus sesuai dengan yang diakui oleh
kesepakatan keilmuan. Dalam hal ini, jika dianut pandangan kurikulum spiral, maka
tingkat kedalaman standar isi hendaknya jelas pada setiap jenjang sekolah.
Sifat konsistensi standar isi menghendaki adanya keajegan dan kesinambungan.
Keajegan dimaksud adalah semua terminologi rumusan standar isi yang digunakan
dalam berbagai dokumen peraturan hendaknya sama dan tidak menimbulkan
kerancuan. Kesinambungan dimaksud adalah terminologi standar isi yang tertuang
pada peraturan yang posisinya lebih tinggi dapat memayungi peraturan dengan posisi

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 1


lebih rendah. Penjabaran rumusan standar isi pada peraturan lebih rendah bersifat lebih
operasional tetapi tetap mempertahankan akurasi terminologi.
Sifat kepraktisan standar isi menghendaki bahwa rumusannya tidak menimbulkan
kerancuan pemaknaan pada tingkat praktisi yang akan menjabarkan dokumen lebih
lanjut dan pengimplementasiannya di lapangan.
Kita telah ketahui bersama, bahwa sampai saat ini dokumen standar isi telah
dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan telah
diimplementasikan di beberapa satuan pendidikan termasuk jenjang Pendidikan Dasar
dalam hal ini SMP. Sejauh ini belum diketahui bagaimana keterlaksanaan standar isi
tersebut di lapangan atau adakah permasalahan di lapangan sehubungan dengan
pelaksanaan standar isi. Selain itu, sesuai dengan tugas dan fungsinya yakni
memberikan usulan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan mengembangkan
model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP, Pusat Kurikulum memandang
perlu mengkaji Standar Isi.
Untuk mengefektifkan dan mempertajam pengkajian standar isi tersebut khususnya
untuk dokumen standar isi tingkat satuan pendidikan dasar (SMP), maka kegiatan
yang dilakukan adalah berupa diskusi diantara para ahli dan praktisi praktisi di
lapangan. Data hasil kajian dokumen standar isi dan kajian empiris diharapkan
membuahkan suatu rekomendasi untuk jangka pendek berupa usulan terhadap
penyempurnaan standar isi maupun jangka panjang berupa usulan tentang bentuk
standar isi yang bisa memenuhi kaidah standar isi seharusnya. Hasil-hasil yang telah
diperoleh akan dipresentasikan kepada pihak-pihak terkait.

B. Tujuan

Kajian standar isi kurikulum pendidikan dasar (SMP) bertujuan :


1. Memperoleh gambaran tentang keunggulan dan kelemahan Standar isi SMP
ditinjau dari pelaksanaannya maupun isi/muatannya.
2. Memperoleh berbagai kesimpulan tentang standar isi pada implementasi maupun
sebagai naskah dokumen .
3. Memberikan saran jangka pendek berupa penyempurnaan standar isi.
4. Memberikan saran jangka panjang berupa usulan bentuk standar isi atau kurikulum
untuk tahun-tahun mendatang.

C. Ruang Lingkup

Secara umum standar isi mencakup kerangka dasar, struktur kurikulum, beban
belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kalender pendidikan. Kegiatan
pengkajian ini dibatasi pada kerangka dasar, struktur kurikulum, beban belajar, dan
kalender pendidikan. Sedangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan tidak dikaji pada
kegiatan saat ini.
Jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Jenjang pendidikan dasar antara lain bisa berbentuk SMP/ Mts. pengkajian standar isi
ini dibatasi pada SMP/Mts.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 2


BAB II

LANDASAN

A. Landasan Yuridis

Secara yuridis, penetapan Sandar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar
(SMP) didasarkan atas beberapa peraturan, yaitu :
1. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.

Bab IX : Standar nasional Pendidikan


Pasal 35 ; ayat (1) : Standar Isi merupakan bagian integral dari Standar Nasional
Pendidikan, ayat (2) : Standar Isi dijadikan acuan pengembangan kurikulum, dan
ayat (4) : Standar isi lebih lanjut diatur oleh Peraturan Pemerintah.
Bab X : Kurikulum
Pasal 36 ; ayat (1) : Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Isi, ayat (2):
Kurikulum SMP dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai satuan
pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, dan ayat (3): Kurikulum SMP harus
memperhatikan peningkatan iman dan takwa; peningkatan akhlak mulia;
peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; keragaman potensi
daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni; agama; dinamika perkembangan global; persatuan nasional dan
nilai-nilai kebangsaan.
Pasal 37; ayat (1): Kurikulum Pendidikan Dasar wajib memuat: pendidikan
agama; pendidikan kewarganegaraan; bahasa; mate-matika; ilmu pengetahuan
alam; ilmu pengetahuan sosial; seni dan budaya; pendidikan jasmani dan olah raga;
keterampilan/ kejuruan; muatan lokal.
Pasal 38; ayat (1): Kerangka dasar dan struktur kurikulum Pendi-dikan dasar
ditetapkan pemerintah, dan ayat (2) : Kurikulum pendidikan dasar dikembangkan
oleh satuan pendidikan, komite sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas
pendidikan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan.
Bab III : Standar Isi
Pasal 5; ayat (1): standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi
untuk mencapai kompetensi lulusan, dan ayat (2): standar isi memuat kerangka
dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan,
dan kalender pendidikan.
Pasal 6 Kerangka dasar dan struktur kurikulum.
Ayat (1): Kurikulum SMP terdiri atas: kelompok mata pelajaran aga-ma dan
akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; kelompok mata
pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani, oleh raga, dan kesehatan,

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 3


ayat (4) : setiap kelompok mata pelajaran dilaksanakan secara holistik, ayat (5) :
semua kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam menentukan kelulusan
peserta didik dari satuan pendidikan dasar
Pasal 7; ayat (1): kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada
SMP/MTs dilaksanakan melalui kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian,
lmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga dan kesehatan, ayat
(2): kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian SMP/MTs
dilaksanakan melalui muatan atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarnegaraan,
bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani, ayat (3): kelompok mata
pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs dilaksanakan melalui
muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan sosial, keterampilan dan/atau teknologi informasi, serta muatan lokal
yang relevan, ayat (4): kelompok mata pelajaran estetika pada SMP/MTs
dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya,
keterampilan, dan muatan lokal yang relevan; ayat (5): kelompok mata pelajaran
jasmani, olah raga, dan kesehatan ada SMP/MTs dilaksanakan melalui muatan
dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olah raga, pendidikan kesehatan, ilmu
pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan

Pasal 8; ayat (1): Kedalaman muatan kurikulum SMP/MTs dituang-kan dalam


kompetensi pada setiap tingkat dan atau semester sesuai Standar Nasional
Pendidikan dan ayat (2): Kompetensi terdiri atas standar kompetensi dan
kompetensi dasar.
Pasal 10; Beban Belajar
Ayat (1): Beban belajar SMP/MTs menggunakan jam pembelajaran setiap minggu
setiap semester dengan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri
tidak terstruktur sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing, ayat (3):
Ketentuan beban belajar, jam pembelajaran, waktu efektif tatap muka, dan
persentase beban belajar setiap kelompok mata pelajaran ditetapkan dengan
Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.
Pasal 11; ayat (1): Beban belajar untuk SMP/MTs dinyatakan dalam satuan kredit
semester (SKS), ayat (4) : Beban belajar minimal dan maksimal bagi SMP/MTs
yang menerapkan sistem SKS ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan
usul dari BSNP.
Pasal 12; ayat (2) : Beban belajar efektif per tahun ditentukan dengan Peraturan
Menteri berdasarkan usulan BSNP.
Pasal 13; ayat (1): Kurikulum untuk SMP/MTs dapat memasukkan pendidikan
kecakapan hidup ayat (2): Pendidikan kecakapan hidup mencakup kemampuan
pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional, ayat
(3): Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian dari pendidikan
kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok mata
pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan kelompok mata pelajaran
ilmu pengetahauan dan teknologi, pendidikan kelompok mata pelajaran estetika,
pendidikan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan,
ayat (4): Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan
pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan non formal yang sudah
memperoleh akreditasi.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 4


Pasal 14; ayat (1): Kurikulum SMP/MTs dapat memasukkan pendidikan berbasis
keunggulan lokal, ayat (2): Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat merupakan
bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia,
pendidikan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian,
pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahauan dan teknologi, pendidikan
kelompok mata pelajaran estetika, pendidikan kelompok mata pelajaran pendidikan
jasmani, olah raga dan kesehatan, dan ayat (3): Pendidikan berbasis keunggulan
lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau
dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
Pasal 17; ayat (1): Kurikulum tingkat satuan pendidikan SMP/MTs dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial
budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
Pasal 18; ayat (1): Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu
efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur, ayat (2): hari libur dapat
berbentuk jeda tengah semester selama-lamanya satu minggu dan jeda antar
semester, ayat (3): Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Menteri.
2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22 tahun
2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar.
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 23 tahun
2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar.
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 24 tahun
2006 pelaksanaan Permen No. 22 tentang standar isi untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah
Sedangkan kegiatan pengkajian standar isi ini mengacu pada Peraturan Mendiknas no.
24 tahun 2006 Pasal 7, yang memuat tugas Badan Penelitian dan Pengembangan
Departemen Pendidikan antara lain:
a. mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP
b. memberikan usulan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri.

B. Landasan Teoritis

1. Rasionalisasi Perubahan Kurikulum


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat serta
globalisasi dewasa ini berdampak positif dan negatif terhadap kehidupan
masyarakat, baik secara kehidupan individu maupun sosial kemasyarakatan.
Dampak positif dari perkembangan iptek dan globalisasi tersebut adalah
terbukanya peluang pasar kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan negara.
Adapun dampak negatifnya adalah terjadinya perubahan nilai dan norma
kehidupan yang seringkali kontradiksi dengan norma dan nilai kehidupan yang
telah ada di masyarakat. Dalam konteks inilah pendidikan berperan sangat penting
untuk memelihara dan melindungi norma dan nilai kehidupan positif yang telah
ada di masyarakat suatu negara dari pengaruh negatif perkembangan iptek dan
globalisasi. Proses pendidikan yang benar dan bermutu memberikan bekal dan
kekuatan untuk memelihara ”jatidiri” dari pengaruh negatif globaliasasi, bukan
hanya untuk kepentingan individu peserta didik, tetapi juga untuk kepentingan
masyarakat dan negara.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 5


Oleh karena proses pendidikan itu terjadi di masyarakat, dengan
menggunakan berbagai sumber daya masyarakat dan untuk masyarakat, maka
pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi
terhadap kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, ekonomi,
politik, dan kenegaraan secara simultan dengan barometer nilai-nilai Agama
maupun aturan perundang yang berlaku di masyarakat maupun negara Indonesia.
Pengembangan pendidikan untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara yang
lebih baik perlu dirancang secara terpadu sejalan dengan aspek-aspek tersebut di
atas, sehingga pendidikan merupakan wahana pengembangan sumber daya
manusia yang mampu menjadi ”subyek” pengembangan iptek dan globalisasi.
Selain itu, pengembangan pendidikan secara mikro harus selalu memperhitungkan
individualitas atau karakteristik perbedaan antar individu peserta didik pada setiap
jenjang dan jenis pendidikan. Dengan demikian, kerangka acuan pemikiran dalam
penataan dan pengembangan kurikulum pendidikan dasar harus mampu
mengakomodasikan berbagai pandangan tentang esensi dan fungsi pendidikan
dasar secara selektif, sehingga terdapat keterpaduan dalam konsep kurikulum yang
ditawarkan. Dengan keterpaduan konsep pengembangan kurikulum tersebut
diharapkan masa depan pendidikan nasional Indonesia akan lebih efektif dan lebih
bermutu dalam penataannya, baik dari pengelolaanya, sumber daya manusia,
fasilitas, maupun kualitas lulusannya.
2. Esensi Karakteristik Pendidikan Dasar
Peningkatan kualitas penyelenggaraan sistem pendidikan dasar di masa
depan memerlukan berbagai input pandangan, antara lain: gagasan tentang
pendidikan dasar masa depan. Sehubungan dengan pendidikan masa depan
tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO telah membentuk sebuah
Komisi Internasional tentang Pendidikan untuk Abad XXI (The International
Commision on Education for the Twenty-First Century), yang diketuai oleh
Jacques Delors. Komisi melaporkan hasil karyanya dengan judul Learning: The
Treasure Within (1996). Komisi memusatkan pembahasannya pada satu
pertanyaan pokok dan menyeluruh, yaitu: jenis pendidikan apakah yang diperlukan
untuk masyarakat masa depan?. Rekomendasi dan gagasan Komisi tersebut tentang
pendidikan masa depan, khususnya pendidikan dasar merupakan salah satu input
yang dapat dijadikan pertimbangan dalam peningkatan kualitas pendidikan dasar di
indonesia.
Komisi Pendidikan untuk Abad ke 21 melihat bahwa pendidikan dasar masa
depan merupakan sebuah “paspor” untuk hidup. Pendidikan dasar untuk anak
dibataskan sebagai pendidikan awal (formal atau nonformal) yang pada prinsipnya
berlangsung dari dari usia sekitar 3 (tiga) tahun sampai dengan sekurang-
kurangnya berusia 12 sampai 15 tahun. Pendidikan dasar sebagai sebuah “paspor”
yang sangat diperlukan individu untuk hidup yang mampu memilih apa yang
mereka lakukan, mengambil bagian dalam bangunan masa depan secara kolektif,
dan terus menerus belajar (Delors, 1996:118). Dengan demikian, pendidikan dasar
memberikan sebuah surat jalan yang sangat penting bagi setiap orang, tanpa
kecuali untuk memasuki kehidupan dalam masyarakat setempat, dan masyarakat
dunia, termasuk di dalamnya lembaga satuan pendidikan. Pendidikan dasar sangat
berkaitan dengan kesamaan untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang layak
dan bermutu. Oleh karena itu, pendidikan dasar sangat erat dengan hak azasi
manusia. Hal ini sejalan dengan Deklarasi Beijing tentang Perempuan yang antara
lain menyatakan sebagai berikut:

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 6


Pendidikan adalah hak azasi manusia dan sebuah alat yang pokok untuk mencapai
tujuan memperoleh kesamaan, perkembangan, dan perdamaian. Pendidikan yang
tidak diskriminatif memberikan keuntungan baik bagi anak-anak perempuan
maupun anak laki-laki, dan dengan demikian pada akhirnya membantu untuk
mencapai hubungan yang mempunyai kesamaan yang lebih besar antara perempuan
dengan laki-laki. Kesamaan dalam kemudahan mendapatkan dan mencapai mutu
pendidikan adalah perlu apabila lebih banyak perempuan harus menjadi agen
perubahan. Perempuan yang melek huruf merupakan sebuah kunci penting untuk
meningkatkan kesehatan, gizi, dan pendidikan dalam keluarga dan untuk
memberdayakan perempuan untuk berpatisipasi dalam pengambilan keputusan
dalam masyarakat. Investasi dalam pendidikan formal dan noformal serta latihan
bagi para gadis dan perempuan, dengan hasil sosial dan ekonomi yang sangat tinggi,
telah terbukti menjadi salah satu cara pencapaian perkembangan dan pertumbuhan
ekonomi yang dapat diandalkan.

Pada tahap awal, pendidikan dasar berusaha mengecilkan berbagai perbedaan


yang alami dari berbagai kelompok masyarakat, seperti: perempuan, penduduk
pedesaan, orang miskin di kota, minoritas etnik yang bersifat marginal, anak yang
tidak bersekolah dan anak yang bekerja. Pendidikan dasar dalam waktu yang sama
bersifat universal dan spesifik. Pendidikan dasar harus memberikan hal umum
yang mempersatukan semua manusia, sedangkan dalam waktu yang sama harus
berkenaan dengan tantangan khusus dari setiap kelompok peserta didik yang
sangat berbeda.
Agar pendidikan dasar dapat terhindar dari pemisahan “kualitas pendidikan”
yang dewasa ini membagi dunia menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: a) kelompok
negara industri dengan tingkat pendidikan yang tinggi serta pengetahuan dan
keterampilan yang tersedia, dan b) kelompok negara sedang berkembang dengan
tingkat pendidikan yang sangat rendah, maka pendidikan dasar perlu untuk
memperbaiki defisit pengetahuan di negara berkembang atau terbelakang. Dengan
mendefinisikan keterampilan kognitif dan efektif yang perlu dikembangkan, serta
sosok pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik melalui pendidikan dasar,
maka mungkin para ahli pendidikan dapat memberikan jaminan bahwa semua anak
usia pendidikan dasar, baik yang ada di negara industri maupun di negara
berkembang dapat mencapai tingkat kemampuan minimal dalam bidang-bidang
keterampilan kognitif. Dalam hubungan ini, Komisi Pendidikan untuk Abad 21
mengutip Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (Education for All,
Pasal 1 Ayat (1)), sebagai berikut:
Setiap orang – anak, remaja, orang dewasa – akan dapat memperoleh keuntungan dari
kesempatan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar yang
pokok. Keuntungan ini terdiri atas alat belajar yang pokok (seperti: melek huruf,
ekspresi lisan, berhitung, dan pemecahan masalah) dan isi belajar yang pokok (seperti:
pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan sikap) yang diperlukan oleh manusia untuk
dapat bertahan hidup, mengembangkan kemampuan mereka secara penuh, hidup dan
bekerja dengan bermartabat, berpatisipasi secara penuh dalam pembangunan,
meningkatkan mutu kehidupan mereka, membuat keputusan yang terinformasi, dan
terus menerus belajar.
Upaya perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan dasar di Indonesia
telah dilaksanakan secara formal sejak tahun 1984 untuk tingkat SD, dilanjutkan
pada tahun 1994 untuk pendidikan dasar 9 tahun tingkat SMP. Hasil yang telah
dicapai cukup memuaskan sebagaimana ditunjukkan dengan meningkatnya APK

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 7


dan APM. Namun akibat krisis ekonomi dan terjadinya konflik sosial di berbagai
daerah yang mengganggu program-program pendidikan dasar, maka angka
partisipasi menjadi terganggu. Untuk menyelamatkan generasi mendatang dari
ancaman kebodohan dan kemunduran, peningkatan partisipasi pendidikan dasar
merupakan agenda yang tidak dapat diabaikan dalam pembangunan nasional.
Untuk mendukung keberhasilan penyelengaraan pendidikan dasar yang
bermutu di masa depan, maka strategi yang dapat dilakukan adalah, antara lain:
pemantapan prioritas pendidikan dasar 9 tahun, pemberian beasiswa dengan
sasaran yang strategis, pemberian insentif kepada guru yang bertugas di wilayah
terpencil, pemantapan peran SD kecil dan SMP terbuka, penggalakkan Kejar Paket
A dan B, pemantapan sistem pendidikan terpadu untuk anak berkelainan dan
peningkatan keterlibatan masyarakat untuk menunjang “pendidikan untuk semua”
(education for all).
Supaya lebih bermakna, maka pemerataan dan perluasaan kesempatan
pendidikan dasar tidak hanya bernuansa kuantitatif melainkan juga kualitatif.
Strategi perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan dasar yang bermutu,
termasuk pengembangan pendidikan alternatif, dapat dijadikan sebagai wahana
untuk aktualisasi asas pendidikan sepanjang hayat. Misalnya, pesantren sebagai
lembaga pendidikan Islam perlu diposisikan kembali, sehingga tidak kehilangan
karakternya sebagai wahana pendidikan yang populis yang berperan besar dalam
memperkaya pendidikan nasional.
Pendidikan dasar adalah jenjang terbawah dari sistem pendidikan nasional.
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan
serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk
hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi
persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan dasar adalah
pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun diselenggarakan selama enam
tahun di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dan tiga tahun di Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/Mts) atau satuan pendidikan yang
sederajat.
3. Kurikulum Pendidikan Dasar Masa Depan
Konsep dasar tentang kurikulum dan esensi pendidikan dasar yang dimiliki para
pengembang kurikulum pendidikan dasar pada tingkat satuan pendidikan ataupun
tingkat nasional akan berpengaruh terhadap formula kurikulum yang dirancang untuk
satuan pendidikan dasar. Program belajar atau kurikulum yang dirancang untuk peserta
didik pendidikan dasar di masa depan harus mempertimbangkan esensi dan fungsi
pokok pendidikan dasar dalam pengembangan kualitas sumber daya manusa yang
diperlukan untuk kehidupan mereka di masyarakat, dan sekaligus mempertimbangkan
karakteristik perbedaan kelompok peserta didik di masing-masing jenis dan jenjang
satuan pendidikan. Konsep dasar yang komprehensif dan luas tentang fungsi
pendidikan dasar tidak hanya dipergunakan untuk semua masyarakat, tetapi hendaknya
tertuju pada suatu kajian tentang praktek dan kebijakan pendidikan pada tingkat awal
dari semua negara yang memberikan suatu landasan yang mantap bagi praktek belajar
peserta didik di masa depan dan keterampilan hidup (life skills) yang esensial untuk
menghidupi sebuah kehidupan yang konstruktif dalam masyarakat.
Dalam menghadapi harapan dan tantangan masa depan yang lebih baik, pendidikan
dipandang sebagai esensi kehidupan, baik bagi perkembangan pribadi maupun
perkembangan masyarakat. Misi pendidikan, termasuk pendidikan dasar, adalah

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 8


memungkinkan setiap orang, tanpa kecuali, mengembangkan sepenuhnya semua bakat
individu, dan mewujudkan potensi kreatifnya, termasuk tanggung jawab terhadap
hidup sendiri, dan pencapaian tujuan pribadi. Misi ini akan dapat tercapai dengan
melalui strategi yang disebut belajar sepanjang hidup (learning throughout life), yang
dipandang sebagai detak jantung dari masyarakat.
Konsep ini berbeda dengan sistem pendidikan tradisional yang membedakan antara
pendidikan dasar dengan pendidikan lanjutan. Konsep ini memenuhi tantangan yang
ditimbulkan oleh sebuah dunia yang berubah dengan cepat. Konsep ini bukanlah
konsep baru, karena sebelumnya telah ada konsep pendidikan sepanjang hidup, yang
menekankan perlunya bagi orang untuk kembali ke pendidikan bukan persekolahan,
agar berhubungan dengan situasi baru yang timbul dalam kehidupan pribadi mereka
dan dunia kerja mereka. Kebutuhan tersebut masih tetap dirasakan, dan bahkan
menjadi lebih kuat. Hanya dengan memenuhi kebutuhan itulah, setiap individu belajar
bagaimana belajar, to learn how to learn.
Dengan mengikuti gagasan konsep belajar sepanjang hidup, memberikan tekanan
yang lebih besar pada salah satu dari empat pilar yang diusulkan dan digambarkan
sebagai dasar pendidikan, yaitu: belajar hidup bersama (learning to live together).
Dalam pola ini pendidikan dilakukan dengan mengembangkan suatu pemahaman
tentang orang lain dan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai spiritual mereka, dan bertopang
pada landasan tersebut, menciptakan suatu semangat baru yang dibimbing oleh
kesadaran tentang resiko atau tantangan masa depan, akan mendorong orang
melaksanakan proyek bersama atau mengelola konflik yang pasti terjadi, dengan suatu
cara yang bijaksana dan damai. Untuk itu, maka langkah pendidikannya adalah pilar
yang pertama adalah belajar mengetahui (learning to know). Adanya perubahan yang
cepat yang dibawa oleh kemajuan ilmiah dan norma-norma baru tentang kegiatan
ekonomi dan sosial, tekanan pada belajar untuk hidup bersama dipadukan dengan
suatu pendidikan umum yang cukup luas dengan melalui belajar memperoleh
pengetahuan sebagai alat untuk memahami hidup.
Belajar bekerja (learning to do) adalah pilar pendidkkan yang selanjutnya harus
dipelajari oleh peserta didik pendidikan dasar. Disamping belajar bekerja melakukan
sesuatu pekerjaan, secara lebih umum perlu pula menguasai kemampuan yang
memungkinkan orang mampu menghadapi berbagai situasi yang sering tidak dapat
diduga sebelumnya, dan bekerja dalam berbagai tim. Akhirnya, pilar pendidikan yang
keempat yang harus dipelajari peserta didik pendidikan dasar adalah belajar menjadi
dirinya sendiri (learning to be). Hal ini berarti bahwa program kurikulum pendidikan
dasar harus memfasilitasi peserta didik untuk belajar untuk lebih bebas dan
mempunyai pandangan sendiri yang disertai dengan rasa tanggung jawab pribadi yang
lebih kuat untuk mencapai tujuan hidup pribadinya atau tujuan bersama sebagai
anggota masysrakat.
Kecenderungan untuk menyediakan program pendidikan atau kurikulum yang
diorientasikan untuk orang dan kelompok tertentu, terutama pada institusi pendidikan
yang diklaim oleh masyarakat sebagai sekolah “favorit”, perlu dihindari secara dini.
Apabila dibiarkan, maka kondisi ini dapat berdampak pada perlakuan yang
diskriminatif terhadap anak bangsa. Di samping itu masih banyak anak usia sekolah
yang belum terjangkau oleh satuan pendidikan dasar yang tersedia. Atau kalaupun
sekolah tersedia dalam jarak yang terjangkau, kendala-kendala psikologis dan budaya
masih menghalangi mereka untuk memasuki sekolah. Oleh karena itu, perlu
diakomodasi ide-ide “pendidikan untuk semua” yang antara lain membuat kesempatan
bagi semua siswa untuk mengakses pendidikan di manapun dan kapanpun. Disamping

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 9


itu, perlu diciptakan program belajar yang dapat mengakomodasi kebutuhan anak dari
berbagai strata dan latar belakang sosial dan budaya.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu untuk seluruh lapisan peserta
didik pendidikan dasar, maka program kurikulum harus dirancang sebagai keseluruhan
dari penawaran lembaga pendidikan (sekolah) termasuk kegiatan di luar kelas/sekolah
dengan rangkaian mata pelajaran dan kegiatan yang terpadu. Setiap satuan pendidikan
memperoleh identitas atas dasar cara mereka menjalankan program-program
kurikulum yang dikembangkannya. Faktor-faktor yang menentukan isi tiap program
harus muncul jauh di luar batas-batas sekolah/satuan pendidikan. Faktor-faktor itu
timbul melalui kekuatan-kekuatan sosial, kultural, ekonomi, dan konsep politik.
Program kurikulum pendidikan suatu sekolah/satuan pendidikan harus mewakili
keseluruhan sistem pengaruh yang membangun lingkungan belajar bagi peserta didik.
Program itu sendiri terdiri atas unsur-unsur tertentu yang mencakup maksud dan
tujuan, kurikulum, metode pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar peserta didik.
Segi kurikulum dari program pendidikan dasar harus meliputi hal-hal esensial yang
dibutuhkan peserta didik, seperti: bidang-bidang studi apa yang akan disajikan; untuk
maksud-maksud khusus apa bidang studi tersebut disajikan; bagaimana bidang studi
tersebut hendak disusun dan dihubung-hubungkan; dan bagaimana bidang studi
tersebut diajarkan kepada peserta didik. Dengan kata lain, kurikulum pendidikan dasar
harus dikembangkan secara terpadu dan berlandaskan kepada pengembangkan
kemampuan pemecahan masalah kehidupan yang dikuasai peserta didik
Secara konseptual, sekurang-kurangnya kurikulum pendidikan dasar masa depan
perlu mangakomodasikan secara sistematis dimensi-dimensi pengembangan peserta
didik sebagai berikut:
1. Pengembangan individu - aspek-aspek hidup pribadi (dimensi pribadi):
a. Religi: kesadaran beragama
b. Fisik: kesehatan jasmani dan pertumbuhan
c. Emosi: kesehatan mental dan stabilitas emosi
d. Etika: integritas moral
e. Estétika: pengejaran kultural dan rekreasi
2. Pengembangan cara berpikir dan teknik memeriksa – kecerdasan yang terlatih
(dimensi kecerdasan):
a. Penguasaan pengetahuan: konsep-konsep dan informasi
b. Komunikasi pengetahuan: keterampilan untuk memperoleh dan menyampaikan
informasi
c. Penciptaan pengetahuan: cara pemeriksaaan, diskriminasi, dan imaginasi.
d. Hasrat akan pengetahuan: kesukaan akan belajar.
3. Penyebaran warisan budaya – nilai-nilai civic dan moral bangsa (dimensi sosial):
a. Hubungan antar manusia: kerjasama, toleransi
b. Hubungan individu-negara: hak dan kewajiban civic, kesetiaan dan patriotisme,
solidaritas nasional
c. Hubungan individu-dunia: hubungan antar bangsa-bangsa, pemahaman dunia.
d. Hubungan individu-lingkungan hidupnya: ekologi.
4. Pemenuhan kebutuhan sosial yang vital dan menyumbang kepada kesejahteraan
ekonomi, social, dan politik – lapangan teknik (dimensi produktif):
a. Pilihan pekerjaan: informasi dan bimbingan
b. Persiapan untuk bekerja: latihan dan penempatan
c. Rumah dan keluarga: mengatur rumah tangga, ketrampilan mengerjakan
sesuatu sendiri, perkawinan
d. Konsumen: membeli, menjual, investasi.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 10


Untuk mendukung keterlaksanaan program pendidikan dasar (kurikulum) tersebut
di atas, perlu dikembangkan suatu masyarakat belajar (learning society) pada setiap
satuan pendidikan dasar. Hal tersebut dimungkinkan, karena setiap aspek kehidupan,
baik pada tingkat individual maupun sosial, menawarkan kesempatan untuk belajar
dan bekerja. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum pendidikan dasar masa depan
perlu mendorong dan memfasilitasi penggalian potensi pendidikan dari media
teknologi informasi modern, dunia kerja atau kultural, dan pengisian waktu luang.
Selain itu, perlu dikembangkan pula kebiasaan peserta didik untuk memanfaatkan
setiap kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, baik yang terkait dengan
apa yang meraka pelajari di satuan pendidikannya, maupun yang terkait dengan
kehidupan mereka sehari-hari.
Dengan formula program pendidikan (kurikulum) seperti yang diungkapkan
tersebut di atas, maka diharapkan akan tercipta satuan pendididikan dasar yang
menumbuhkan keinginan peserta didiknya untuk belajar maupun kesenangan dalam
belajar, kemampuan untuk belajar bagaimana belajar, dan keingin-tahuan intelektual.
Dengan cara itu, terbayanglah akan hadirnya suatu masyarakat masa depan dimana
setiap individunya akan menjadi guru dan juga pelajar sekaligus.
4. Kurikulum dan Standar Isi
Kurikulum dinyatakan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu
(UURI SPN No. 20 tahun 2003). Mendukung pandangan ini, kurikulum juga dimaknai
sebagai rencana yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mencapai tujuan
umum dan khusus pendidikan (Saylor dan Alexander : 1974 dalam Mazer, Bev et al.,
1994); kurikulum sebagai proses untuk merekonstruksi pengetahuan dan pengalaman
secara sistematik, sehingga siswa mampu meningkatkan pengendalian terhadap
pengetahuan dan pengalamannya (Tanner dan Tanner :1980 dalam Bev et al., 1994);
kurikulum merupakan interaksi yang sengaja dirancang untuk memfasilitasi siswa agar
memiliki pengalaman yang bermakna (Miller dan Seller : 1985).
Kurikulum Pendidikan Dasar (SMP) hendaknya dirancang dengan mengedepankan
pengembangan etika, intelektual, estetika, kepribadiam, fisik, sosial, dan karier peserta
didik dengan cara menyibukan peserta didik terhadap tantangan-tantangan yang
mendukung pencapaian kemampuan-kemampuan tersebut. Di sekolah harus
mengembangkan program pembelajaran yang melibatkan adanya keseimbangan
bidang studi yang dipelajari serta mendukung terhadap kebutuhan dan minat peserta
didik. Kurikulum yang dikembangkan hendaknya melibatkan pengetahuan dan
keterampilan esensial dari setiap bidang studi dan dideskripsikan secara jelas dalam
arti mencerminkan lingkup yang dipelajari, terurut, adanya kontinuitas, adanya
pengintegrasian, memperoleh dukungan bahan-bahan yang diperlukan, dan adanya
penilaian kinerja sesuai dengan tuntutan yang akan dicapai setelah menyelesaikan
satuan pendidikan yang ditempuh. Kurikulum juga hendaknya mengembangkan
standar isi yang melibatkan keseimbangan komponen-komponen seperti penguasaan
faktual, pengembangan keterampilan, kreativitas, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis dan evaluasi yang mendukung tuntutan satuan pendidikan.
Mengacu pada definisi di atas khususnya yang dianut oleh UURI SPN No. 20
tahun 2003, sebuah kurikulum dibangun oleh beberapa komponen yaitu : isi, proses,
kompetensi (tujuan), pendidik dan tenaga kependidikan (personil), sarana dan
prasarana (fasilitas), pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian (PP No. 19 tentang
Standar Pendidikan Nasional; Wiles, John & Bondi Joseph, 1989). Standar dari setiap

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 11


komponen kurikulum, merupakan acuan atau dasar pijakan dalam menentukan kualitas
penyelenggaraan pendidikan.
Sehubungan dengan standar isi, maka substansi yang diperhatikan dalam
komponen ini mengandung muatan pengetahuan (fakta, konsep, generalisasi, prinsip
dll); proses atau keterampilan yang berkaitan dengan dasar pengetahuan dan nilai yang
terkandung dalam subyek yang dipelajari (Hyman : 1973). Demikian standar isi dari
suatu tingkat satuan pendidikan yang ditampilan dalam bentuk mata pelajaran dan non
mata pelajaran harus dipilih dan dipilah sesuai dengan kriteria yaitu : (1) Sahih (Valid):
Materi yang akan dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran
dan kesahihannya, ini juga berkaitan dengan keaktualan materi, sehingga materi yang
diberikan dalam pembelajaran tidak ketinggalan jaman dan memberikan kontribusi
untuk pemahaman ke depan. (2) Tingkat Kepentingan (Significance): Dalam memilih
materi perlu dipertimbangkan pertanyaan berikut: Sejauh mana materi tersebut penting
dipelajari? Penting untuk siapa? Di mana dan mengapa penting?. Dengan demikian,
materi yang dipilih untuk diajarkan tentunya memang yang benar-benar diperlukan
oleh siswa. (3) Kebermanfaatan (utility): Manfaat harus dilihat dari semua sisi, baik
secara akademis maupun non akademis. Bermanfaat secara akademis artinya guru
harus yakin bahwa materi yang diajarkan dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan
dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan
berikutnya. Bermanfaat secara non akademis maksudnya adalah bahwa materi yang
diajarkan dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skills) dan sikap yang
dibutuhkan dalam kehidupan seharihari (4) Layak dipelajari (learnability): Materinya
memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu
mudah, atau tidak terlalu sulit), maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan
bahan ajar dan kondisi setempat). (5) Menarik minat (interest): Materi yang dipilih
hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih
lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus mampu
menumbuhkembangkan rasa ingin tahu, sehingga memunculkan dorongan untuk
mengembangkan sendiri kemampuan mereka.
Penataan isi kurikulum pada dasarnya dilandaskan atas lingkup dan urutan isi
kurikulum. Lingkup kurikulum menyatakan keluasan dan kedalaman isi kurikulum
pada rentang waktu tertentu. Lingkup kurikulum dipengaruhi oleh faktor waktu, inti
konten, pengintegrasian konten, dan total jumlah konten yang dibutuhkan. Urutan
konten kurikulum menyatakan susunan konten yang disajikan terhadap siswa. Urutan
konten dipengaruhi oleh prinsip dari sederhana menuju yang kompleks, prasyarat, dari
yang menyeluruh ke bagian-bagian, kronologis, tingkat keabstrakan dan urutan spiral.
Teori belajar dan teori perkembangan mental memberi pengaruh terhadap lingkup
dan urutan isi kurikulum. Teori-teori tersebut diantaranya adalah teori Gagne, Piaget,
Erikson, Havinghurst dan Kohlberg. Teori perkembangan intelektual paling
berpengaruh adalah teori Piaget yang menyatakan perkembangan intelektual
dikategorikan ke dalam empat tingkatan yaitu tahap sensori motorik, tahap pra
operasional, tahap operasi konkrit, dan tahap operasi formal.
Keluasan dan kedalaman isi kurikulum akan berdampak terhadap beban belajar.
Beban belajar dengan Satuan Kredit Semester (SKS) menyatakan satuan yang
digunakan untuk menyatakan besarnya beban studi peserta didik, besaran pengakuan
terhadap keberhasilan usaha kumulatif bagi suatu program tertentu, serta usaha untuk
menyelenggarakan pendidikan bagi satuan pendidikan tertentu khususnya bagi tenaga
pengajar.
Ciri-ciri dasar Sistem Kredit Semester ialah : (1) adanya variasi dan keluwesan
program yang memungkinkan peserta didik menyusun program studinya sesuai dengan

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 12


kemampuan dan minatnya; (2) adanya variasi dan keluwesan program yang
memungkinkan peserta didik menyusun kombinasi antar berbagai program; (3) sistem
kredit semester memungkinkan peserta didik untuk menabung kredit yang
diperolehnya untuk sampai kepada penyelesaiaan program pada satuan pendidikan; (4)
peserta didik yang merencanakan kegiatan ekstra kurikuler yang dapat mengurangi
kesempatan mengikuti progran intra kurikuler diperbolehkan mengambil program
tersebut dengan jumlah kredit kurang dari yang seharusnya.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 13


BAB III

TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kajian Dokumen
Hasil kajian pada standar isi satuan pendidikan SMP dilakukan mengikuti urutan
penyajian pada standar isi (Permen No 22 tahun 2006).
1. Kerangka Dasar Kurikulum
a. Kelompok Mata Pelajaran
1) Terminologi “kelompok mata pelajaran” yang tertuang dalam Permen No. 22
tahun 2006 konsisten dengan yang tertuang dalam PP No. 19 tahun 2005
Pasal 6 ayat (1) tetapi bukan penjabarannya (sama persis). Pengelompokkan
mata pelajaran yang tertuang dalam Permen No. 22 dan PP No. 19 Pasal 6
ayat (1) tersebut merupakan penjabaran dari UURI SPN No. 20 tahun 2003
Pasal 38 ayat (1) tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
Pendidikan Dasar. Namun demikian munculnya terminologi “kelompok mata
pelajaran” menimbulkan kerancuan dengan isi UURI SPN No. 20 tahun 2003
Pasal 37 ayat (1) yang sudah mengarah ke penamaan mata pelajaran yang
menyatakan bahwa Kurikulum Pendidikan Dasar wajib memuat : pendidikan
agama; pendidikan kewarganegaraan; bahasa; matematika; ilmu pengetahuan
alam; ilmu pengetahuan sosial; seni dan budaya; pendidikan jasmani dan olah
raga; keterampilan/kejuruan; muatan lokal.
2). Terminologi “kelompok mata pelajaran” mengandung arti kumpulan dari dua
atau lebih mata pelajaran, sedangkan penamaan mata pelajaran lebih
dicerminkan oleh “body of knowledge” yang akan disajikan kepada peserta
didik bukan dicerminkan oleh kandungan nilai sebagai implikasi dari mata
pelajaran tersebut.
Terminologi ”kelompok mata pelajaran” yang tepat dari jumlah mata
pelajaran yang dikandungnya adalah :
- Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, karena di
dalamnya terdiri atas mata pelajaran IPA (gabungan dari mata pelajaran
Biologi, Fisika, Kimia, bumi dan antariksa); mata pelajaran IPS (gabungan
dari mata pelaajran sejarah, geografi, ekonomi); dan mata pelajaran
teknologi informasi dan komunikasi.
Terminologi ”kelompok mata pelajaran” yang tepat dari jumlah dan implikasi
nilai mata pelajaran yang dikandungnya adalah :
- Kelompok mata pelajaran estetika, karena di dalamnya terdiri atas mata
pelajaran seni budaya dan bahasa dan kedua mata pelajaran tersebut
dominan untuk membentuk estetika peserta didik.
Terminologi ”kelompok mata pelajaran” yang tidak tepat adalah :
- Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia, menimbulkan
kejanggalan karena pada struktur kurikulum hanya diwakili satu (bukan
kelompok) mata pelajaran yaitu Pendidikan Agama. Istilah akhlak mulia

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 14


bukan mencerminkan nama mata pelajaran melainkan implikasi atau main
goals dari mata pelajaran Pendidikan Agama.
- Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dipandang
memiliki kerancuan karena diwakili oleh satu mata pelajaran yaitu
Pendidikan kewarganegaraan, dan istilah kepribadian adalah sebagai
implikasi atau main goals dari mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan.
3) Penamaan ”kelompok mata pelajaran” perlu adanya konsistensi apakah
didasarkan atas nama pelajaran yang menggambarkan body of knowledge
yang dipelajari ataukah penamaan atas dasar peran dan fungsi mata
pelajaran yang menunjang terhadap standar kompetensi lulusan dari satuan
pendidikan dasar (SMP)
4) Cakupan Kelompok Mata Pelajaran
Cakupan kelompok mata pelajaran (Agama dan ahlak mulia,
kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika,
dan jasmani, olah raga dan kesehatan) yang tertuang dalam dokumen Standar
isi menurut Permen No. 22 tahun 2006 walaupun tidak dinyatakan secara
eksplisit menekankan pada pengungkapan tujuan atau sasaran yang akan
dicapai oleh masing-masing kelompok mata pelajaran. Cakupan yang
diuraikan dalam dokumen ini ada yang mengangkat hakikat dari mata
pelajaran (kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; ilmu
pengetahuan dan teknologi; estetika;), sementara cakupan untuk kelompok
mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian serta kelompok mata
pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan lebih mengungkap substansi mata
pelajaran.
Cakupan kelompok mata pelajaran yang tertuang dalam dokumen Standar Isi
dengan Permen No. 22 tidak mengungkap muatan dan kegiatan pelaksanaan
yang melibatkan keterpaduan berbagai mata pelajaran sebagaimana tertuang
dalam PP No. 19 tahun 2005 Pasal 7 ayat (1), (2), (4), (7) dan (8). Muatan
dan kegiatan pencapaian tujuan kelompok mata pelajaran yang tertuang
dalam PP No. 19 sama persis dituangkan dalam Permen No. 23 tahun 2005
berkenaan dengan Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-
KMP).
Keganjilan yang muncul dalam dokumen standar isi dengan Permen No. 22
tidak mengungkapkan cakupan substansi setiap mata pelajaran, sementara
dalam Permen No. 23 tertuang Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran.
Di samping itu, kelompok mata pelajaran yang tertuang baik tujuan dan
cakupannya dalam Standar Isi dengan Permen No. 22 nampak tidak
mempersyaratkan lulus karena standar kompetensi yang dicapai dinyatakan
sebagai STANDAR KOMPETENSI KELOMPOK MATA PELAJARAN
berbeda dengan STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MATA
PELAJARAN.
Atas dasar kajian butir a. 1) sampai 4), apabila terminologi ”kelompok mata
pelajaran” masih akan dipertahankan, maka nama-nama kelompok mata
pelajaran yang didasarkan atas body of knowledge yang dikandungnya
diusulkan sebagai berikut :

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 15


LAMA BARU (USULAN)

cakupan
cakupan cakupan cakupan
nama klp mata nama klp
bahasan bahasan mata pel.
pel.
gabungan Pend.
butir 1 dan Agama &
Agama dan akhlak tidak Pend.
tepat 2 dokumen Pend.
mulia jelas Akhlak
lama Kewarga-
negaraan
Kewarganegaraan tidak - - -
tepat
dan kepribadian jelas
Pend. sesuai IPA, IPS,
Ilmu pengetahuan tidak
tepat keilmuan yang lama TIK,
dan teknologi jelas
Matematika
tidak Pend. sesuai Seni Budaya
Estetika tepat
jelas Estetika yang lama dan Bahasa
Pend. sesuai Pend.
Kesehatan yang lama jasmani,
Jasmani, olah raga tidak
tepat olah raga
dan kesehatan jelas
dan
kesehatan

b. Prinsip Pengembangan Kurikulum

1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta


didik dan lingkungannya
Prinsip ini sangat penting, karena hakikat fungsi pendidikan adalah
memberdayakan dan mengembangkan multi potensi peserta didik. Sebagai
dokumen Standar Isi dalam Permen No. 22 dipandang sudah relevan, namun
perlu dipertajam rumusannya agar memberi arah yang jelas bahwa prinsip ini
bagi kepentingan sekolah hendaknya dijadikan acuan dalam menyusun KTSP
khususnya dalam mengembangkan kompetensi dasar, indikator pencapaian
kompetensi dasar, dan metode pembelajaran yang akan dituangkan dalam
silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran.
2) Beragam dan terpadu atau menyeluruh (holistik)
Prinsip ini sangat penting, namun rumusan dalam dokumen perlu dipertajam
agar pihak sekolah mudah menerjemahkannya. Prinsip keragaman
karakteristik atau potensi peserta didik hendaknya diarahkan bahwa
penyusunan KTSP di samping memiliki muatan wajib juga harus
mengakomodasi bakat/hobi peserta didik melalui muatan pengembangan diri.
Keragaman kecerdasan hendaknya diakomodasi melalui variasi program dan
dibarengi dengan muatan pendidikan nilai dan moral yang berlaku di
masyarakat dan budaya bangsa Indonesia. Dengan kata lain keragaman
kecerdasan hendaknya mencakup bukan hanya kecerdasan intelektual (IQ =
Intelegency Quotion), tetapi juga diakomodasikan kecerdasan emosi (EQ =
Emotional Quotion), dan kecerdasan spiritual (SQ = Spiritual Quotion) guna
pembentukan dan pembinaan pribadi peserta didik seutuhnya. Program
akselerasi diperuntukan bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan tinggi,
dan pengadaan remediasi bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan
rendah, tetapi substansi isi pelajaran tidak didegradasi. Keragaman jenjang

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 16


pendidikan diarahkan bahwa tingkat kompetensi lulusan satuan pendidikan
atau kompetensi lulusan mata pelajaran yang dituntut pada satuan pendidikan
dasar (SMP) harus lebih tinggi dan lebih luas daripada pada pendidikan dasar
(SD). Demikian pula tingkat kompetensi yang harus dicapai pada tingkat
SMP memberikan landasan bagi tingkat kompetensi satuan pendidikan
menengah (SMA/MI). Rumusan prinsip pengembangan kurikulum (KTSP)
yang berkaitan dengan keragaman kondisi daerah perlu diarahkan adanya
muatan lokal yang dipilih dengan tepat sesuai dengan sumberdaya yang
feasible dilaksanakan di daerah yang bersangkutan.
Penerapan prinsip keterpaduan rumusannya perlu diarahkan bahwa KTSP
yang dikembangkan perlu memperhatikan keterkaitan diantara substansi yang
terdapat dalam muatan wajib, muatan lokal maupun pengembangan diri,
sehingga satu dengan yang lainnya saling memperkuat dan saling
melengkapi. Keterpaduan juga perlu diartikan sebagai kesinambungan
substansi mata pelajaran sejenis diantara tingkatan kelas dalam lingkup
satuan pendidikan (SMP). Kesinambungan substansi tersebut perlu
memperhatikan asas spiral.
3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Prinsip pengembangan kurikulum ini dipandang sangat penting juga. Namun
dalam dokumen Standar Isi ini perlu ditekankan bahwa KTSP harus
menampilkan kemutakhiran mata ajaran dan kemutakhiran isi, sehingga
peserta didik dapat menguasai iptek dan seni di zamannya; inilah pentingnya
setiap isi hendaknya bermuatan nilai intelektual, yaitu mengembangkan
berpikir kritis terhadap isi yang dipelajari. Ilmu berkembang karena setiap
ilmuwan mengkritisi setiap ilmu yang ada, menemukan kelemahan yang ada,
lalu mencari solusi bagi pengembangan itu selanjutnya. Bahkan menggali
makna apalagi setelah mempelajari isi mata pelajaran tersebut, mungkinkah
dapat memetik mata pelajaran nilai sosio-politik, nilai pendidikan, dan nilai
religinya untuk bekal hidup peserta didik sebagai warga masyarakat dan
warga negara yang baik. Prinsip yang dituangkan dalam dokumen Standar Isi
menimbulkan interpretasi terlalu mendorong untuk mengikuti perkembangan
high technology, padahal local technology atau teknologi tepat guna juga
akan memberi manfaat untuk dipelajari di sekolah. Selain itu perlu disadari
bahwa sains bayinya teknologi, karena merupakan terapan praktis bagi
kehidupan manusia. Berbagai temuan teknologi canggih berkat belajar dari
pengembangan kandungan pendidikan dari sains, seperti pendidikan teknik
arsitektur, sistem jalan raya, seni rupa batik/motif dan sebagainya.
4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Rumusan prinsip relevansi ini sudah reatif tepat karena ketidak berhasilan
pendidikan selama ini terlalu mempertahankan paradigma education through
science bukan science through education atau education for life yang
memerankan pendidikan sebagai perkakas untuk memberdayakan potensi
peserta didik yang mampu memecahkan permasalahan kehidupan yang
dihadapinya. Pengembangan kompetensi pribadi, kompetensi berpikir, dan
kompetensi sosial perlu ditegaskan bahwa kompetensi tersebut tidak
ditampilkan berupa mata pelajaran melainkan implikasi dari mata pelajaran,
sehingga pelatihan dalam mata pelajaran perlu dimuati aspek aplikasi dengan
diberi waktu yang memadai. Kompetensi akademik yang diberikan pada

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 17


satuan pendidikan dasar (SMP) diberi proporsi lebih tinggi, sedangkan
kompetensi vokasional dapat ditampilkan pada muatan lokal dan atau
pengembangan diri dengan keterampilan tidak mencapai tingkat mahir
sebagaimana dituntut oleh satuan pendidikan SMK.
Penggunaan kata keniscayaan dapat berkonotasi bias, terutama oleh pembaca
yang awam dengan bahasa Indonesia.
5) Menyeluruh dan berkesinambungan
Sebagai prinsip pengembangan kurikulum, rumusan prinsip ini sudah relatif
tepat namun perlu dipertegas bahwa keseluruhan dimensi kompetensi
dimaksudkan adalah kompetensi kognitif, kompetensi afektif dan kompetensi
psikomotor. Melalui pengertian ini, maka prinsip menyeluruh yang
diterapkan dalam pengembangan KTSP digunakan sebagai dasar untuk
menurunkan kompetensi-kompetensi dasar yang dimunculkan dari setiap
mata pelajaran. Oleh karena kepemilikan kompetensi afektif lebih sukar dan
memerlukan waktu relatif lebih lama daripada kepemilikan kompetensi
psikomotor dan kompetensi kognitif, maka periode, frekuensi, dan jenis
penilaiannya memerlukan perangkat penilaian yang berbeda. Prinsip
menyeluruh dalam bidang kajian keilmuan hendaknya diberi arah bahwa
substansi keilmuan mata pelajaran yang disebar pada tingkatan kelas
merupakan suatu keutuhan konsep yang saling berkesinambungan. Untuk
menghindari tumpangtindih terlebih kekosongan substansi keilmuan, maka
prinsip ini mengarahkan perlunya pemetaan konsep keilmuan yang memberi
dukungan terhadap pencapaian kompetensi mata pelajaran maupun
kompetensi lulusan satuan pendidikan. Penyebaran substansi keilmuan pada
tingkatan kelas didasarkan atas bobot kesukaran dan tingkat perkembangan
intelektual peserta didik, sehingga isi keilmuan dari mata pelajaran dapat
dijangkau dan dikuasasi peserta didik.
6) Belajar sepanjang hayat
Prinsip ini sangat penting dalam upaya membentuk pembudayaan belajar dan
mengamalkannya. Belajar sebagai suatu habit sangat menguntungkan bagi
pembentukan manusia unggul, dan amaliah yang didasari pemahaman ilmu
akan membuahkan hasil yang lebih ungul pula. Habit belajar juga akan
membentuk sikap adaptable dan fleksibel terhadap dinamika perubahan.
Sebagai prinsip dalam pengembangan kurikulum, kata pembudayaan yang
dituangkan dalam dokumen standar isi perlu dijabarkan dengan memberi arah
bahwa pembudayaan belajar perlu dirancang melalui pemetaan tugas
belajar dari setiap mata pelajaran yang menuntut berbagai sumber belajar
yang memungkinkan siswa belajar berkesinambungan di sekolah, di rumah,
dan di lingkungan masyarakat.
7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kata seimbang mengundang pemaknaan bahwa kepentingan nasional dan
daerah berbobot fifty-fifty padahal yang dimaksud adalah proporsional atau
penyerasian. Demikian kepentingan global (internasional) perlu dijadikan
prinsip dalam pengembangan kurikulum juga, karena fokus kepentingan ini
berkaitan dengan karakteristik dari mata pelajaran. Mata pelajaran bahasa
inggris, matematika, IPA, teknologi informasi dan komunikasi serta
pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan sangat menuntut standar isi yang

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 18


bersifat global, sehingga penguasaan peserta didik terhadap mata pelajaran
ini sejajar dengan negara-negara lain termaju di dunia. Demikian mata
pelajaran agama, kewarganegaraan, bahasa indonesia, IPS, dan seni budaya
menuntut standar isi bersifat nasional, dan muatan lokal menuntut standar isi
tingkat daerah.
c. Prinsip Pelaksanan Kurikulum
Rumusan prinsip pelaksanaan ini secara konseptual sudah sangat memadai,
namun memerlukan penjabaran supaya panduan tersebut lebih jelas dan konkrit
pada tahap implementasinya. Prinsip pelaksanaan kurikulum yang didasarkan
atas potensi, perkembangan dan potensi peserta didik pada butir (a) perlu
ditekankan bahwa pembelajaran dilaksanakan secara klasikal bukan modular.
Demikian pelayanan percepatan belajar pada butir (c) perlu dijelaskan bentuknya
karena pembelajaran sistem klasikal kurang memberi ruang gerak terhadap siswa
yang memiliki potensi lebih. Peran guru yang menganut prinsip tut wuri
handayani, ing madia mangun karsa, dan ing ngarsa sung tulada pada butir (d)
perlu dipadankan perannya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih,
pengelola, dan pengembang. Prinsip pelaksanaan kurikulum dengan
mendayagunakan kondisi alam, sosial, dan budaya yang tertera pada butir (f)
perlu ditunjukkan bahwa pembelajaran dapat juga dilakukan melalui studi
lapangan.
2. Struktur Kurikulum Pendidikan Umum (Struktur Kurikulum SMP/MTs
Dalam dokumen tertuang bahwa struktur kurikulum (substansi pembelajaran)
disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata
pelajaran. Supaya tidak timbul kerancuan dengan yang tertuang dalam Permen No.
23 tentang standar kompetensi lulusan, maka struktur kurikulum disusun
berdasarkan standar kompetensi lulusan satuan pendidikan (SMP/MTs) dan
standar kompetensi lulusan mata pelajaran. Pada bagian uraian tentang struktur
kurikulum, kelompok mata pelajaran tidak dimunculkan lagi. Memang dalam
praktisnya pengelompokkan tersebut berperan untuk mereduksi jumlah nama mata
pelajaran dalam struktur kurikulum, sehingga nampak tidak adanya tuntutan bagi
sekolah dan guru untuk mencapai kompetensi dari kelompok mata pelajaran.
Seandainya penggagas awal penyusunan standar isi dan standar kompetensi
menganggap penting adanya ketercapaian kompetensi kelompok mata pelajaran,
maka pandangan ini merupakan sesuatu yang dipaksakan, karena pihak sekolah
tidak memiliki gambaran tentang mata pelajaran yang dapat mewakili kelompok
mata pelajaran, yang terjadi tentu lebih fokus pada pencapaian standar kompetensi
lulusan masing-masing mata pelajaran.
Pernyataan bahwa materi muatan lokal tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata
pelajaran yang ada dapat menimbulkan kekeliruan. Karena mata pelajaran yang
ada tidak jelas pengelompokannya, dan apakah pengelompokkan mata pelajaran
demikian urgen. Informasi penting yang perlu ditambahkan pada bagian ini adalah
bahwa muatan lokal adalah mata pelajaran yang telah memiliki body of knowledge
yang telah mapan tetapi mencirikan karakter daerah.
Perlu adanya perbaikan pernyataan berkaitan dengan pengembangan diri.
Sementara di bagian awal disebutkan bahwa ”pengembangan diri bukan
merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru” sementara pada kalimat

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 19


kelanjutannya disebutkan bahwa ”kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan
atau dibimbing oleh konselor, guru atau tenaga kependidikan”.
Untuk memberikan kejelasan bagi sekolah, maka jenis muatan lokal dan
pengembangan diri perlu diberi contoh agar mereka terinspirasi dalam
mengidentifikasi jenis muatan lokal dan pengembangan diri yang dapat
dilaksanakan.
Penyebutan IPA terpadu dan IPS terpadu belum memberikan gambaran tentang
jenis keterpaduan, karena Fogarty (1991) mengemukakan ada 10 model jenis
keterpaduan tiga diantaranya yang memungkinan diterapkan pendidikan dasar
(SMP) adalah menggunakan (1) model hubungan/model terkait (connected model),
(2) model jaring laba-laba/model terjala (webbed model), (3) model terpadu
(integrated model).
Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran yang dialokasikan sebagaimana
tertera dalam struktur kurikulum perlu diberi penjelasan apakah alokasi waktu
tersebut ”hanya untuk tatap muka” ataukah ”tatap muka dengan praktikum”.
Penetapan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang sifatnya ”given’ perlu
diberi gambaran rasionalisasinya berdasarkan ’topik-topik kunci” yang minimal
harus disajikan, sehingga ”real time” yang dibutuhkan setiap mata pelajaran
menjadi jelas.
Penambahan maksimum 4 jam pembelajaran per minggu dari keseluruhan perlu
diberi arah agar tidak menimbulkan konflik interes dari masing-masing mata
pelajaran.
Jumlah alokasi waktu yang tertera pada tabel-3 yaitu 32 jam/minggu mestinya
dituliskan 34 – 38 jam/minggu. 34 jam karena secara nyata pengembangan diri
diberi alokasi ekuivalen dengan 2 jam pelajaran, sedangkan 38 jam menyatakan
jumlah nyata setelah ada penambahan 4 jam/minggu.
Mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum lebih memberi warna untuk
kepentingan pendidikan umum (SMP), sedangkan mata pelajaran yang menjadi
kekhasan bagi satuan pendidikan MTs tidak nampak. Demikian jumlah mata
pelajaran yang menjadi kekhasan MTs relatif banyak, sehingga tidak terakomodasi
oleh alokasi waktu yang disediakan apabila muatan lokal dan pengembangan diri
dijadikan alternatif untuk mengakomodasi mata pelajaran tersebut (hanya
disediakan 4 jam/minggu).
3. Beban Belajar
Oleh karena penyelenggaraan program pendidikan untuk satuan pendidikan
SMP/MTs diberikan alternatif dengan sistem paket dan sistem kredit semester,
maka pengaturan kedua sistem tersebut mesti dikemukakan, sehingga tidak
menimbulkan kebingungan bagi sekolah yang memungkinkan dapat melaksanakan
khususnya dengan sistem kredit semester.
Karena kenyataannya beberapa mata pelajaran membutuhkan kegiatan praktikum,
maka program pembelajaran tidak hanya meliputi sistem tatap muka, penugasan
terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur tetapi perlu ditambahkan pula
kegiatan praktikum (terstruktur).

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 20


Pada butir (b) Jumlah jam pembelajaran tatap muka dan praktikum per minggu
untuk SMP/MTs adalah 34-38 jam pembelajaran bukan 34 jam pembelajaran.
Perubahan ini berlaku juga pada tabel-25.
Keterangan mengenai kegiatan praktikum perlu ditambahkan dalam dokumen.
Penyelesaian program pendidikan dengan menggunakan sistem kredit semester dan
program percepatan untuk SMP/MTs perlu dikemukakan.
Panduan tentang sistem kredit semester (tidak masalah apakah dokumennya dibuat
tersendiri atau disatukan dengan sistem paket) yang penting informasi tentang
sistem kredit semester ini dapat diketahui dan dikenali pihak sekolah secara
simultan dengan sistem paket, sehingga sekolah dapat mempertimbangkan
programnya dengan matang.
Dokumen standar isi yang mengangkat tentang alternatif ditawarkannya sistem
kredit semester di tingkat SMP hendaknya memberikan informai cukup dengan
segala konsekuensinya untuk dijadikan dasar pada penetapan standar penilaian
pendidikan, standar pengelolaan dan standar pendidikan lainnya.
4. Kalender Pendidikan
Dengan memperhatikan alokasi waktu pada Kalender Pendidikan yang tertera pada
Tabel-26, menyatakan :
Jumlah minggu efektif belajar (maksimum) : 38 mg
Jumlah minggu untuk libur dan kegiatan : 17 mg
khusus (maksimum)
Total mg dalam per tahun dalam tabel : 55 mg
Jumlah minggu per tahun : 52 mg
Dengan perhitungan kasar alokasi waktu pertahun yang tertera dalam tabel perlu
diperbaiki. Demikian proporsi jumlah minggu yang diambil oleh kegiatan libur dan
kegiatan khusus (> 50%) dari minggu efektif perlu dipertimbangkan kembali.
Sehubungan libur keagamaan seperti libur puasa jatuh pada salah satu semester,
maka jumlah minggu efektif belajar per tahun tidak bisa dibagi rata (jumlah
minggu efektif belajar pada salah satu semester lebih banyak dari satu semester
lainnya).
B. Kajian Lapangan
1. Kerangka Dasar Kurikulum
Kebutuhan kehidupan yang relevan bagi pendidikan SMP perlu ditemukenali
secara baik. Konsep kebutuhan kehidupan SMP yang akan dikemas dalam
kurikulum SMP harus dipagari agar tidak menjadi latah dari satu sekolah ke
sekolah lain, dari satu propinsi ke propinsi lain. Konsep kebutuhan relevan ini juga
harus dibedakan dengan mulok.
Pada prinsipnya secara umum mudah dipahami dan lebih jelas karena hampir sama
dengan prinsip pengembangan kurikulum.
2. Struktur Kurikulum
Dalam struktur kurikulum SMP/MTs pengertian mulok yang digunakan perlu
dibakukan apakah tidak termasuk mata pelajaran dan bukan kurikuler. Batasan
yang tegas antara keduanya akan mengarahkan pelaksanaan pembelajaran yang
baik.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 21


Pemerintah daerah dan satuan Pendidikan sulit untuk menentukan mana yang akan
menjadi mulok, dan bagaimana menyusun kurikulum mulok. Oleh sebab itu,
penggalian potensi mulok dapat diserahkan ke Pemerintah Daerah.
IPA terpadu dan IPS terpadu sulit dilaksanakan karena masalah SDM. Kualifikasi
dan kuantitas SDM yang mengajar IPA dan IPS terpadu harus ditegaskan pada
bagian ini.
Mata pelajaran yang menjadi kekhasan MTs sulit diakomodasi dalam struktur
kurikulum yang hanya mengalokasikan waktu mulok dan pengembangan diri
hanya dengan 4 jam/per minggu. Pada dokumen kurikulum tidak ada pengaturan
terhadap mata pelajaran yang menjadi kekhasan MTs tersebut.
c. Beban Belajar
Dalam hal beban belajar tawaran sistem sks ini tidak mendapat respon baik dari
satuan pendidikan karena keberhasilan penyelengaraan sistem sks belum didukung
oleh berbagai kebijakan teknis. Oleh sebab itu, perlu formula petunjuk khusus
yang tersedia bagi sekolah untuk melaksanakan sistem sks.
Sistem sks yang memberikan layanan lebih baik bagi peserta didik tidak lagi
dianggap terdapat kesulitan dalam pelaksanaaan termasuk pengadaan SDM dan
infrastruktur.
Beban belajar SMP idealnya memiliki perbedaan dengan SD kelas IV-VI.
Perbedaan itu tentunya berdasarkan pertumbuhan psikologi dan sosial siswa.
Tugas terstruktur baik untuk pencapaian standar kompetensi namun dalam
pelaksanaannya perlu koordinasi dengan guru mapel lain sehingga tidak
membebani siswa.
Jumlah maksimum 50% dari jam pelajaran waktu untuk tugas terstruktur dan
mandiri sudah rasional namun dalam pelaksanaannya sering kali tidak
diperhitungkan sehingga bisa saja lebih dari 50% itu. Kelebihan dari proporsi
tersebut perlu dipantau dengan mekanisme internal guru maupun sekolah.
4. Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan yang sudah ditentukan seringkali harus menyesuaikan dengan
hari libur nasional dan jadwal ujian nasional. Namun demikian, secara prinsip
jumlah minggu efektif tetap dapat dipenuhi.
C. Pembahasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan
Sebagaimana dikemukakan pada bagian latar belakang laporan ini, pengkajian Standar
Isi yang tertuang dalam Permen No. 22 tahun 2006 ini difokuskan pada aspek
konseptual, fundamental, esensial, kebermaknaan, akurasi, konsistensi dan dan
kepraktisan. Oleh karena itu pembahasan berikut diarahkan pada aspek-aspek berikut.
1. Kerangka Dasar Kurikulum
Atas dasar kajian dokumen dan lapangan nampak bahwa kerangka dasar kurikulum
yang mengemukakan uraian ”kelompok mata pelajaran, prinsip pengembangan
kurikulum, dan prinsip pengembangan kurikulum” secara konseptual belum
sepenuhnya mencerminkan posisinya sebagai kerangka dasar. Pada bagian ini
sebaiknya dituliskan hal-hal fundamental dengan urutan sebagai berikut : model
dan anatomi kurikulum yang dianut, landasan filosofi penggunaan model
kurikulum, prinsip dasar pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, standar

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 22


kompetensi lulusan satuan pendidikan (cukup merujuk pada standar kompetensi
dalam Permen No. 23), dan mata pelajaran yang relevan dimunculkan sebagai
pendukung ketercapaian standar kompetensi lulusan.
Secara koseptual jenis kelompok mata pelajaran hendaknya mengacu pada
penamaan yang telah disepakati kalangan ilmuan di bidangnya dan perlu adanya
konsistensi apakah merujuk pada body of knowledge ataukah merujuk pada fungsi
dari mata pelajaran yang bersangkutan. Apabila melihat kebermaknaanya
pemunculan kelompok mata pelajaran hanyalah berperan untuk memilah dan
membatasi jumlah mata pelajaran yang dimuat dalam struktur kurikulum, maka hal
tersebut tidaklah terlalu penting, karena beban belajar akan lebih ditentukan oleh
keluasan dan kedalaman isi yang diberikan.
Keganjilan yang dirasakan adalah penuangan cakupan kelompok mata pelajaran
dalam standar isi hanya mengungkap tujuannya, sedangkan pada standar
kompetensi mengungkap tujuan dan muatan serta kegiatan pelaksanaan
(menyiratkan mata pelajaran) dan pada PP 19 menuangkan hanya muatan dan
kegiatan pelaksanaan (menyiratkan mata pelajaran). Barangkali penempatan yang
rasional adalah bahwa tujuan dari kelompok mata pelajaran hanya ditempatkan
pada standar kompetensi karena berperan sebagai acuan bagi penyusunan standar
isi, sedangkan pada standar isi lebih mengungkapkan jenis mata pelajaran yang
mendukungnya.
Penuangan jenis mata pelajaran dalam cakupan kelompok mata pelajaran pada
standar isi-pun hendaknya dilihat dari sisi gurukah atau dari sisi peserta didik.
Apabila dari sisi guru, maka tidak serta merta nama mata pelajaran dicantumkan di
sana, mata pelajaran yang dicantumkan mestinya ternaungi oleh payung nama
kelompok mata pelajaran tentunya dari aspek body of knowledge-nya. Sementara
nama-nama mata pelajaran tiap kelompok mata pelajaran yang tertuang dalam
standar kompetensi (Permen No. 23 dan PP. No. 19) lebih mengedepankan refleksi
yang harus ditampilkan peserta didik setelah mengakumulasi dan menginternalisasi
berbagai mata pelajaran. Diperkuat dengan tidak dituangkannya syarat kelulusan
dari kelompok mata pelajaran (hanya dinyatakan sebagai STANDAR
KOMPETENSI KELOMPOK MATA PELAJARAN bukan STANDAR
KOMPETENSI LULUSAN KELOMPOK MATA PELAJARAN, maka
kedudukan kelompok mata pelajaran kurang memberikan makna. Demikian juga
dari sisi kepraktisannya, guru-guru di lapangan cenderung akan memfokuskan
perhatian pada pencapaian STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MATA
PELAJARAN.
Apabila penggagas awal standar isi memandang penting terhadap pengelompokkan
mata pelajaran, maka perlu adanya pembenahan terhadap penamaan kelompok
mata pelajaran dan memberi panduan teknik pelaksanaannya agar tidak komplikasi
dengan pelaksanaan masing-masing mata pelajaran. Ketidak tepatan penamaan
kelompok mata pelajaran tersebut adalah pada kelompok mata pelajaran agama
dan ahlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian,
karena ahlak mulia dan kepribadian kurang mencerminkah nama mata pelajaran
tetapi isi dari mata pelajaran yang bersangkutan.
Secara konseptual semua butir prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang
tertuang dalam kerangka dasar kurikulum dipandang fundamental, esensial, dan
bermakna dan sangat penting bagi pengembang-pengembang kurikulum di tingkat
sekolah. Dengan kata lain prinsip-prinsip tersebut dapat dinyatakan sebagai

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 23


prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, efektivitas. Hal yang perlu
dipertajam dalam dokumen standar isi ini adalah tingkat kepraktisannya dalam arti
lebih memberi arah bagi sekolah dalam memfungsikan masing-masing prinsip
tersebut. Misalnya :
(i) prinsip berpusat pada potensi dan perkembangan peserta didik diterjemahkan
dalam mengembangkan tingkatan kompetensi dasar, indikator, dan pemilihan
metode pembelajaran;
(ii) prinsip beragam dan terpadu digunakan untuk mengidentifikasi program
pengembangan diri, muatan lokal, pengayaan, remediasi, dan akselerasi;
prinsip keterpaduan difungsikan dalam menata keterkaitan substansi dalam
muatan wajib, muatan lokal maupun pengembangan diri, kesinambungan
substansi mata pelajaran sejenis diantara tingkatan kelas dalam lingkup
satuan pendidikan (SMP) melalui pendekatan spiral.
(iii) prinsip tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni difungsikan untuk menggali kemutakhiran mata ajaran dan kemutakhiran
isi.dengan memperhatikan teknologi tepat guna.
(iv) prinsip relevan dengan kebutuhan kehidupan difungsikan untuk
menerjemahkan paradigma education through science atau education for life
yang memerankan pendidikan sebagai perkakas untuk memberdayakan
potensi peserta didik yang mampu memecahkan permasalahan kehidupan
yang dihadapinya. Kompetensi pribadi, kompetensi berpikir, dan kompetensi
sosial perlu diwujudkan sebagai implikasi dari mata pelajaran melalui
keterlatihan yang intensif. Kompetensi akademik ditampilkan melalui mata
pelajaran di dalamnya mengintegrasikan kompetensi pribadi, kompetensi
berpikir, dan kompetensi sosial. Kompetensi vokasional ditampilkan pada
muatan lokal dan atau pengembangan diri dengan tingkat kemahiran di
bawah tuntutan kompetensi SMK dan SMA.
(v) prinsip menyeluruh dan berkesinambungan difungsikan dalam dalam
menggali kompetensi kognitif, kompetensi afektif dan kompetensi
psikomotor sebagai dasar untuk menurunkan kompetensi-kompetensi dasar
yang dimunculkan dari setiap mata pelajaran. Prinsip menyeluruh dalam
bidang kajian keilmuan hendaknya difungsikan melaui pemetaan konsep
sehingga tidak terjadi tumpang tindih.
(vi) prinsip belajar sepanjang hayat difungsikan pada pembudayaan belajar dan
mengamalkannya melalui pemetaan tugas-tugas belajar yang digali dari
berbagai sumber belajar.
(vii) prinsip seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
diganti dengan prinsip penyesuaian antara kepentingan global, nasional dan
lokal melalui standarisasi isi minimal dari mata pelajaran yang sifatnya
memerlukan kesetaraan tingkat internasional, nasional, dan lokal.
Secara konseptual prinsip-prinsip pelaksanaan kurikulum yang dituangkan dalam
dokumen standar isi sudah tepat, namun untuk meningkatkan nilai kepraktisan di
lapangan masih memerlukan panduan yang lebih jelas diantaranya :
(i) prinsip pelaksanaan kurikulum yang didasarkan atas potensi, perkembangan dan
potensi peserta didik lebih difungsikan untuk menerjemahkan bahwa
pembelajaran klasikal dilakukan melalui sistem paket, sedangkan sistem kredit

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 24


semester melalui sistem modular yang bergantung pada kecepatan individu
peserta didik. Bentuk percepatan belajar dalam sistem paket dan sistem kredit
semester perlu diberikan panduan yang konkrit. Demikian peran guru yang
menganut prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, dan ing ngarsa
sung tulada perlu diterjemahkan dari fungsi guru sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, pelatih, pengelola, dan pengembang. Prinsip pelaksanaan
kurikulum dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial, dan budaya juga
perlu diberi panduan misalnya bagaimana cara mengelola studi lapangan
sebagai bagian integral dari mata pelajaran.
2. Struktur Kurikulum
Keajegan penggunakan istilah perlu dipelihara, istilah standar kompetensi lulusan
dan standar kompetensi mata pelajaran yang tertuang dalam dokumen standar isi
khususnya pada bagian struktur kurikulum hendaknya diganti dengan standar
kompetensi lulusan satuan pendidikan (SMP/MTs) dan standar kompetensi lulusan
mata pelajaran.
Nama mata pelajaran yang tertuang pada bagian ini seolah-olah tidak lagi merujuk
pada pengelompokkan mata pelajaran. Menurut hemat kami karena
pengelompokkan mata pelajaran tidak begitu krusial dalam pencapaian
kompetensinya dibandingkan dengan pencapaian kompetensi mata pelajaran, maka
sebaiknya pengelompokkan tersebut dihilangkan karena pada prakteknya sekolah
atau guru akan menghadapi kesulitan besar mengingat adanya kegamangan dalam
menentukan substansi yang merepresentasikan kelompok mata pelajaran.
Alangkah baiknya pada bagian ini ditambahkan butir yang memberi panduan
bahwa substansi setiap mata pelajaran harus mengacu pada pencapaian standar
kompetensi lulusan mata pelajaran sekaligus mengidentifikasi perannya dalam
pencapaian kompetensi lulusan satuan pendidikan.
Secara konseptual bahwa muatan lokal dan pengembangan diri dapat dikategorikan
sebagai mata pelajaran karena keduanya dapat dipelajari dan dilatihkan. Namun
untuk menghindari kekeliruan dalam menentukan jenis muatan lokal dan
pengembangan diri, maka definisi muatan lokal tidak dapat dikelompokkan ke
dalam mata pelajaran yang ada sebaiknya diganti dengan mata pelajaran di luar
mata pelajaran yang sudah ada dan memiliki dasar keilmuan yang sudah mapan
dan diakui oleh kalangan ilmuwan serta mencirikan kekayaan keilmuan daerah.
Demikian definisi pengembangan diri secara konseptual sudah tepat namun
pernyataan bahwa pengembangan diri bukan mata pelajaran yang harus diasuh
oleh guru sementara di bagian lain dinyatakan bahwa kegiatan pengembangan diri
difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru atau tenaga kependidikan,
sehingga pengertiannya menjadi rancu. Alangkah baiknya apabila pernyataannya
diubah bahwa pengembangan diri bukan mata pelajaran yang harus diasuh oleh
guru mata pelajaran melainkan oleh guru bimbingan konseling (konselor), tenaga
kependidikan lain, atau lembaga kemasya-rakatan yang telah diakui
kredibilitasnya. Peran guru mata pelajaran khususnya wali kelas hendaknya
berperan sebagai fasilitator atau koor-dinator agar terjadi hubungan simbiosis
mutualistis antara pihak sekolah dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan terkait.
Pada bagian ini pula jenis muatan lokal dan pengembagan diri diberikan beberapa
contohnya untuk memberikan inspirasi yang jelas bagi pihak sekolah.
Isitilah IPA terpadu dan IPS terpadu perlu diberikan gambaran yang lebih jelas,
barangkali pandangan Fogarty (1991) sebagaimana tertera pada carta berikut dapat

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 25


dijadikan suatu alternatif dalam memilih jenis keterpaduan sekalipun pada
umumnya pada tingkat SMP memungkinkan menerapkan jenis (1) model
hubungan/model terkait (connected model), (2) model jaring laba-laba/model
terjala (webbed model), (3) model terpadu (integrated model).
Jumlah jam pembelajaran yang tertera dalam struktur kurikulum perlu diberi
penjelasan sebagai alokasi waktu ”hanya untuk tatap muka” seperti tertera pada
butir (b) beban belajar, tetapi jumlah jam belajar per minggunya harus disamakan
(pada struktur dinyatakan 32 jam/minggu), sedangkan pada beban belajar
sinyatakan 34 jam/minggu. Demikian pada struktur kurikulum dan beban belajar
perlu secara eksplisit dinyatakan jumlah jam ”praktikum” karena mata pelajaran
tertentu membutuhkan alokasi waktu tersebut.
Untuk memberikan dasar rasionalisasi penetapan alokasi waktu untuk setiap mata
pelajaran, maka pada bagian struktur kurikulum ini perlu dituliskan
topik/materi/konsep esensial minimal yang harus diajarkan, sehingga jumlah waktu
ril dapat dikalkulasi dengan tepat.
Penambahan maksimum 4 jam pembelajaran per minggu dari keseluruhan perlu
diberikan panduan bahwa penambahan jam tersebut didistribusikan pada
matapelajaran-matapelajaran yang menurut pemetaan substansinya relatif luas dan
memerlukan keterlatihan.
Demikian struktur kurikulum SMP pada tabel-3 yang sudah ada perlu
mengakomodasi juumlah jam praktikum, dan memperbaiki waktu total 32
jam/minggu menjadi 34 – 38 jam/minggu (jam praktikum belum terhitung). 34
jam karena secara nyata pengembangan diri diberi alokasi ekuivalen dengan 2 jam
pelajaran, sedangkan 38 jam menyatakan jumlah nyata setelah ada penambahan 4
jam/minggu.
Dengan mempertimbangkan adanya kesetaraan beban belajar antara SMP dan
MTs, salah satu alternatif untuk mengakomodasi mata pelajaran yang menjadi
kekhasan MTs adalah dengan mengisi muatan lokal dan pengembangan diri
sekalipun jumlah jam belajar tidak memadai (hanya 4 jam). Upaya yang perlu
dilakukan pihak sekolah (MTs) adalah dengan mengidentifikasi konsep-konsep
atau prinsip-prinsip esensial yang mencirikan karakteristik dari mata pelajaran
kekhasan MTs tersebut. Upaya yang harus dilakukan ini hendaknya dicantumkan
secara eksplisit dalam dokumen standar isi, sehingga pihak sekolah / guru
mendapat kejelasan.
3. Beban Belajar
Dengan ditawarkannya alternatif penyelenggaraan program sistem paket dan
sistem kredit semester, maka secara imbang informasi kedua program tersebut
harus dinyatakan secara eksplisit dalam dokumen standar isi baik keunggulan dan
kelemahannya. Walaupun menurut data lapangan tawaran sistem sks ini tidak
mendapat respon baik karena keberhasilan penyelengaraan sistem sks belum
didukung oleh berbagai kebijakan teknis. Oleh sebab itu, perlu formula petunjuk
khusus yang tersedia bagi sekolah untuk melaksanakan sistem sks dan terbit dalam
waktu segera.
Salah satu kelemahan dari produk pendidikan (SMP) selama ini adalah lulusannya
kurang memiliki keterampilan praktis, pemupukan sikap dan moral karena
minimnya kegiatan praktikum maupun penanaman kandungan nilai-nilainya.
Dalam penanaman dan pengembangan nilai-nilik intrinsik sains ini tidak perlu

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 26


tambahan waktu tetapi perlu penyederhanaan isi materi pelajaran yang bersifat
esensial agar dapat diintegrasikan dengannya. Kriteria materi esensial adalah
sedikitnya memenuhi enam dari sebelas hal berikut : (1) Menunjang tercapainya
tujuan/kompetensi; (2) Hal yang bersifat mendasar; (3) Mengandung aplikasi
tinggi, (4) Merupakan prasyarat bagi materi selanjutnya; (5) Memberi motivasi
bagi peserta didik; (6) Terkait dengan mata pelajaran lain; (7) Mengandung unsur
pengembangan induk; (8) Terkait lingkungan; (9) Mudah dilaksanakan dalam
proses pembelajaran; (10) Dibutuhkan oleh masyarakat luas, dan (11) Sesuai
tuntutan pembangunan.
Oleh karena itu dalam dokumen standar isi perlu dibubuhkan bahwa program
pembelajaran meliputi sistem tatap muka, praktikum, penugasan terstruktur, dan
kegiatan mandiri tidak terstruktur. Dengan dilibatkannya jam praktikum, maka
tabel-25 perlu diperbaiki.
Tugas terstruktur baik untuk pencapaian standar kompetensi namun dalam
pelaksanaannya perlu koordinasi dengan guru mapel lain sehingga beban belajar
siswa tidak overloaded.
Jumlah maksimum 50% dari jam pelajaran waktu untuk tugas terstruktur dan
mandiri sudah rasional namun dalam pelaksanaannya sering kali tidak
diperhitungkan sehingga bisa saja lebih dari 50% itu. Kelebihan dari proporsi
tersebut perlu dipantau dengan mekanisme internal guru maupun sekolah.
4. Kalender Pendidikan
Alokasi waktu pada kalender pendidikan yang dikemukakan dalam dokumen
standar isi ini terlalu berlebih yakni 55 minggu (dari perhitungan maksimum)
sedangkan jumlah minggu per tahun adalah 52. oleh karena itu perlu perbaikan
terutama mereduksi alokasi waktu libur yang semula lebih dari 50% dari minggu
efektif. Dalam kalender pendidikan ini juga perlu dikemukakan secara eksplisit
bahwa minggu efektif diantara dua semester tidak sama mengingat libur
keagamaan yang relatif panjang berada dalam salah satu semester.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 27


BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
• Temuan yang diperoleh pada pengkajian ini didasarkan atas diskusi ahli dan
praktisi yang informasinya sangat terbatas.
• Standar isi dalam kurikulum sekarang baru dapat menjawab tantangan pendidikan
masa kini.
• Komponen ”kelompok mata pelajaran, prinsip pengembangan kurikulum, dan
prinsip pelaksanaan krikulum” yang dirumuskan dalam dokumen Standar Isi belum
mencerminkan secara utuh sebagai komponen yang membangun kerangka dasar
kurikulum, terutama dalam penanaman nilai-nilai dan moral yang dikandungnya
serta pendidikan kecakapan hidup.
• Terminologi yang digunakan untuk penamaan kelompok mata pelajaran
menimbulkan kerancuan pemaknaan, demikian cakupan yang dikemukakan lebih
mencerminkan tujuan atau sasaran yang akan dicapai bukan komponen-komponen
yang membangun sebuah kelompok mata pelajaran. Komponen-komponen
kelompok mata pelajaran lebih tercermin dalam dokumen Standar kompetensi
kelompok mata pelajaran daripada dalam dokumen Standar isi.
• Urgensitas pengelompokkan mata pelajaran nampak kurang kokoh sebagaimana
tidak adanya kontinuitas rumusannya pada bagian struktur kurikulum, dan tidak
adanya syarat lulus dalam standar kompetensi kelompok mata pelajaran.
Pemaksaan adanya pengelompokkan mata pelajaran cenderung timbulnya
kegamangan dalam pencapaiannya karena akan terjadi komplikasi dengan
pencapaian kompetensi mata pelajaran yang telah kokoh ”body of knowledge” –
nya.
• Komponen-komponen yang dituangkan dalam pinsip pengembangan kurikulum
umumnya sudah relevan dan memberikan dasar yang fundamental, esensial, dan
bermakna sebagai acuan bagi pengembang kurikulum di tingkat sekolah, namun
rumusannya masih terlalu umum.
• Substansi prinsip pelaksanaan kurikulum nampak sudah relevan namun
rumusannya masih sangat umum karena tidak memberi panduan nyata tentang
bentuk pelaksanaan yang harus dijalankan.
• Jenis mata pelajaran yang membangun struktur kurikulum SMP/MTs telah
mengakomodasi tuntutan standar kompetensi lulusan tingkat satuan pendidikan
SMP, namun rasionalisasi penetapan alokasi waktu setiap mata pelajaran belum
didukung oleh pemetaan substansi (topik/materi/konsep) yang membangun ”body
of knowledge” dari setiap mata pelajaran serta pendistribusian substansi pada
tingkatan kelas.
• Struktur kurikulum yang tercantum dalam dokumen standar isi tidak
mencantumkan secara eksplisit mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi
kekhasan MTs, tetapi hanya mengalokasikan waktu 4 jam untuk muatan lokal dan
pengembangan diri.
• Informasi tentang muatan lokal, pengembangan diri, substansi IPA terpadu dan IPS
terpadu serta jam praktikum yang tertera pada bagian struktur kurikulum nampak
belum jelas, sehingga cenderung akan mengundang permasalahan bagi pengelola
di tingkat daerah dan sekolah.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 28


• Beban belajar telah sesuai dengan tingkat perkembangan dan kapasitas peserta
didik SMP/MTs, tetapi masih terdapat inkonsistensi dengan yang tertulis pada
struktur kurikulum dan belum mengakomodasi kebutuhan jam praktikum beberapa
mata pelajaran.
• Program sistem kredit semester yang ditawarkan pada satuan pendidikan
SMP/MTs belum dikemukakan pada dokumen standar isi dan belum ada
suplemennya.
• Dalam kalender pendidikan, alokasi waktu maksimum untuk kegiatan efektif
belajar, libur, dan kegiatan khusus sekolah (55 minggu) melebihi jumlah minggu
per tahun (52 minggu). Alokasi minggu efektif belajar berkisar antara (65-73 %)
dari jumlah minggu ril per tahun. Komposisi minggu efektif belajar pada semester
ganjil dan semester genap belum diatur dalam dokumen Standar isi.
• Temuan dan kesimpulan tentang Kajian Standar Isi SMP pada aspek pelaksanaan
diperoleh melalui diskusi dengan guru dan kepala sekolah yang masih belum
menggambarkan pelaksanaan sebagaimaan adanya. Selain itu, sampel peserta yang
dilibatkan masih belum representatif sebagai sumber data tentang permasalahan
pelaksanaan standar isi di lapangan.
• Selama proses pengkajian tentang dokumen pelaksanaan standar isi, dilibatkan
beberapa ahli yang masih sangat terbatas baik jenis, cakupan pekerjaan, asal
perguruan tinggi maupun jumlahnya.
• Kurikulum (standar isi) yang telah dihasilkan dan diimplentasikan di berbagai
sekolah dianggap dapat menjawab kebutuhan peserta didik hanya untuk masa
sekarang dan beberpa tahun mendatang. Kita tidak pernah mengetahui apa yang
akan terjadi pada kurun waktu 10 tahun mendatang. Kita hanya bisa melakukan
berbagai antisipasi tentang berbagai kejadian serta berbagai harapan tentang
kehidupan pada masa 10 tahun mendatang yang tentunya memberi sumbangan
kepada pendidikan secara umum dan kurikulum secara khusus.
• Berbagai cara atau strategi yang dapat ditempuh dalam rangka menyiapkan
kurikulum di masa mendatang guna menghasilkan kurikulum yang berkualitas,
antara lain: (1) evaluasi kurikulum secara menyeluruh dan mendalam, (2)
pengkajian intensif dan berperiodik tentang fenomena-fenomena
ipoleksosbudhankamnas (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan,
keamanan nasional) yang terjadi secara lokal, nasional, regional, dan global, (3)
seminar tentang antisipasi perkembangan berbagai aspek kehidupan, (4) menggali
informasi melalui berbagai kepustakaan-diskusi maupun seminar untuk
mengetahui berbagai kecenderungan yang mungkin terjadi dimasa-masa
mendatang dalam cakupan lokal maupun global, dan (5) pengkajian tentang
perkembangan yang sedang dan akan terjadi di dunia yang berdampak pada tatanan
kehidupan kita.

B. Rekomendasi jangka pendek


Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil kajian dokumen, dan pengalaman
lapangan tentang standar isi untuk satuan pendidikan SMP/MTs, maka beberapa saran
yang diajukan untuk jangka pendek diantaranya adalah :
1. Merevisi dokumen Standar Isi yang meliputi :
• Penambahan komponen-komponen fundamental pada kerangka dasar
kurikulum, sehingga di dalamnya mencakup aspek model dan filosofi
kurikulum yang dianut, anatomi kurikulum, prinsip pengembangan kurikulum,

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 29


prinsip pelaksanaan kurikulum, standar kompetensi lulusan satuan pendidikan
SMP/MTs (cukup dirujuk pada Permen No. 23), dan mata pelajaran yang
mendukung standar kompetensi lulusan satuan pendidikan SMP/MTs, terutama
standar isi yang berkaitan dengan rumusan materi esensial, kecakapan hidup,
jenis muatan pendidikan nilai dan moral yang mengarah kepada tercapainya
tujuan pendidikan nasional.
• Pelurusan konsep kelompok mata pelajaran, cakupan, dan pencapaiannya
secara terpadu dengan penanaman pendidikan nilai dan moral serta membuat
keputusan perlu tidaknya komponen ini dimasukkan dalam standar isi.
• Mengkonkritkan (memperjelas) rumusan prinsip pengembangan dan prinsip
pelaksanaan kurikulum sehingga memberikan panduan operasional bagi
sekolah hendaknya selalu dipayungi oleh UUSPN No. 20 tahun 2003 untuk
tercapainya tujuan pendidikan nasional.
• Penyusunan peta materi/topik/konsep mata pelajaran untuk memperoleh
substansi minimal sebagai dasar penetapan alokasi waktu yang dibebankan
pada setiap mata pelajaran.
• Penyajian informasi lebih operasional tentang muatan lokal, pengembangan
diri, substansi IPA terpadu dan IPS terpadu, terutama muatan pendidikan
kecakapan hidup, nilai-nilai dan moral yang dikembangkannya.
• Penetapan jam praktikum secara lebih tegas dan memadai.
• Kalkulasi jam efektif belajar per tahun
• Pendistribusian minggu efektif dalam semester ganjil dan genap.
• Pengidentifikasian konsep-konsep atau prinsip-prinsip esensial mata pelajaran
yang menjadikan kekhasan MTs untuk mengisi muatan lokal dan
pengembangan diri, agar beban belajar SMP setara dengan MTs.
2. Perlu dilakukan pengumpulan informasi secara representatif dari berbagai wilayah-
geografis, lingkungan sosial, ciri khas daerah, dan tingkat kualifikasi sekolah
melalui studi lapangan (SMP dan MTs).
3. Perlu dilakukan pengkajian secara lebih mendalam lagi terhadap dokumen standar
isi, dengan melibatkan ahli yang lebih beragam jenis keahliannya dan dari berbagai
jenis perguruan tinggi.

C. Rekomendasi Jangka Menengah


1. Perlu dikembangkan sistem evaluasi kurikulum (standar isi) pada berbagai aspek
secara sistematik.
2. Perlu dikembangkan panduan berbagai material kurikulum yang secara
operasional dapat menunjang implementasi standar isi.
D. Rekomendasi Jangka Panjang
1. Perlu dikembangkan sistem pendidikan yang menjadi unggulan dan berkarakter
Indonesia yang sejajar dengan kualitas pendidikan negara-negara maju.
2. Perlu diadakan kurikulum yang dapat menjawab tantangan pendidikan masa depan
yang mengakomodasi bervariasinya kondisi potensi, daya akses setiap jenjang dan
satuan pendidikan, dan fleksibel pada jamannya.

42-Kajian Kebijakan Kurikulum SMP – Tahun 2007 30