Anda di halaman 1dari 13

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 852/MENKES/SK/IX/2008 TENTANG STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka memperkuat upaya pembudayaan hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat, serta mengimplementasikan komitmen Pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang berkesinambungan dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015, perlu disusun Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3273); 2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469); 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437)

sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 49 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3447); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2007, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 11. Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2004 - 2009; 12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/SK/VII/ 1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan; 13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VIII/ 2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan; 14. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 288/Menkes/SK/III/ 2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum; 15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/Menkes/SK/IX/ 1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air;

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

16 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/ 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum; 17. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor 1138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat; 18. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1295/Menkes/Per/XII/2007; 19. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1468/Menkes/SK/XII/ 2006 tentang Rencana Pembangunan Kesehatan Tahun 2005 - 2009; MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT. Kedua Ketiga : Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. : Strategi sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat.

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor Tanggal : 852/Menkes/SK/IX/2008 : 9 September 2008

STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka. Berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam mencuci tangan adalah (i) setelah buang air besar 12%, (ii) setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%, (iii) sebelum makan 14%, (iv) sebelum memberi makan bayi 7%, dan (v) sebelum menyiapkan makanan 6 %. Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare di Indonesia. Hal ini terlihat dari angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur dan 16 provinsi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2,52. Kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan melalui hasil studi WHO tahun 2007, yaitu kejadian diare menurun 32% dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku intervensi tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94%. Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang higiene dan sanitasi dengan menetapkan Open Defecation Free dan

Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 9 September 2008 MENTERI KESEHATAN,

Dr. dr. SITI FADILAH SUPARI, Sp. JP(K)

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2009 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004 2009. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses. Menyadari hal tersebut di atas, pemerintah telah melaksanakan beberapa kegiatan, antara lain melakukan uji coba implementasi Community Led Total Sanitation (CLTS) di 6 Kabupaten pada tahun 2005, dilanjutkan dengan pencanangan gerakan sanitasi total oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2006 di Sumatera Barat serta pencanangan kampanye cuci tangan secara nasional oleh Menko Kesra bersama Mendiknas dan Meneg Pemberdayaan Perempuan tahun 2007. Sebagai tindak lanjut, dilakukan replikasi CLTS di berbagai lokasi oleh berbagai lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah, yang menghasilkan perubahan perilaku buang air besar di sembarang tempat, sehingga pada tahun 2006 sebanyak 160 desa telah ODF dan tahun 2007 mencapai 500 desa. (Depkes, 2007). Perlunya strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat berangkat dari pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan sektoral dan subsidi perangkat keras selama ini tidak memberi daya ungkit terjadinya perubahan perilaku hygienis dan peningkatan akses sanitasi, sehingga diperlukan strategi yang baru dengan melibatkan lintas sektor sesuai dengan tugas dan pokok dan fungsi masing-masing dengan leading sektor Departemen Kesehatan karena sanitasi total berbasis masyarakat ini menekankan kepada 5 (lima) perubahan perilaku hygienis. B. Maksud Dan Tujuan Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ini merupakan acuan dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta evaluasi yang terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat. C. Pengertian 1. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut sebagai STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. 2. Komunitas merupakan kelompok masyarakat yang berinteraksi secara sosial berdasarkan kesamaan kebutuhan dan nilai-nilai untuk meraih tujuan.

3. Open Defecation Free yang selanjutnya disebut sebagai ODF adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. 4. Cuci Tangan Pakai Sabun adalah perilaku cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir. 5. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga yang selanjutnya disebut sebagai PAMRT adalah suatu proses pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan air yang digunakan untuk produksi makanan dan keperluan oral lainnya seperti berkumur, sikat gigi, persiapan makanan/minuman bayi. 6. Sanitasi total adalah kondisi ketika suatu komunitas: Tidak buang air besar (BAB) sembarangan. Mencuci tangan pakai sabun. Mengelola air minum dan makanan yang aman. Mengelola sampah dengan benar. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman. 7. Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit. 8. Sanitasi dasar adalah sarana sanitasi rumah tanggayang meliputi sarana Buang air besar, sarana pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga. II. ISU DAN TANTANGAN Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi dan kebutuhan higienis lainnya. Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto (studi World Bank, 2007). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, penanganan masalah sanitasi merupakan kewenangan daerah, tetapi sampai saat ini belum memperlihatkan perkembangan yang memadai. Oleh sebab itu, pemerintah daerah perlu memperlihatkan dukungannya melalui kebijakan dan penganggarannya.

III. STRATEGI NASIONAL A. Penciptaan Lingkungan Yang Kondusif

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

1. Prinsip Meningkatkan dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan perilaku higienis dan saniter. 2. Pokok Kegiatan Melakukan advokasi dan sosialisasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya secara berjenjang Mengembangkan kapasitas lembaga pelaksana di daerah. Meningkatkan kemitraan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, Organisasi Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Swasta. B. Peningkatan Kebutuhan 1. Prinsip Menciptakan perilaku komunitas yang higienis dan saniter untuk mendukung terciptanya sanitasi total. 2. Pokok kegiatan Meningkatkan peran seluruh pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pelaksanaan sosialisasi pengembangan kebutuhan. Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang konsekuensi dari kebiasaan buruk sanitasi (buang air besar) dan dilanjutkan dengan pemicuan perubahan perilaku komunitas. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih teknologi, material dan biaya sarana sanitasi yang sehat. Mengembangkan kepemimpinan di masyarakat (natural leader) untuk menfasilitasi pemicuan perubahan perilaku masyarakat. Mengembangkan sistem penghargaan kepada masyarakat untuk meningkatkan dan menjaga keberlanjutan sanitasi total. C. Peningkatan Penyediaan 1. Prinsip Meningkatkan ketersediaan sarana sanitasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 2. Pokok kegiatan Meningkatkan kapasitas produksi swasta lokal dalam penyediaan sarana sanitasi. Mengembangkan kemitraan dengan kelompok masyarakat, koperasi, lembaga keuangan dan pengusaha lokal dalam penyediaan sarana sanitasi. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga penelitian perguruan tinggi untuk pengembangan rancangan sarana sanitasi tepat guna.

D. Pengelolaan Pengetahuan (Knowledge Management) 1. Prinsip Melestarikan pengetahuan dan pembelajaran dalam sanitasi total. 2. Pokok kegiatan Mengembangkan dan mengelola pusat data dan informasi. Meningkatkan kemitraan antar program-program pemerintah, non pemerintah dan swasta dalam peningkatan pengetahuan dan pemberlajaran sanitasi di Indonesia. Mengupayakan masuknya pendekatan sanitasi total dalam kurikulum pendidikan. E. Pembiayaan 1. Prinsip Meniadakan subsidi untuk penyediaan fasilitas sanitasi dasar. 2. Pokok kegiatan Menggali potensi masyarakat untuk membangun sarana sanitasi sendiri Mengembangkan solidaritas sosial (gotong royong). Menyediakan subsidi diperbolehkan untuk fasilitas sanitasi komunal. F. Pemantauan Dan Evaluasi 1. Prinsip Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi 2. Pokok kegiatan Memantau kegiatan dalam lingkup komunitas oleh masyarakat Pemerintah Daerah mengembangkan sistem pemantauan dan pengelolaan data. Mengoptimumkan pemanfaatan hasil pemantauan d a r i k e g i a ta n - k e g i a ta n l a i n y a n g s e j e n i s Pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem pemantauan berjenjang. IV. PENGEMBANGAN RENCANA KERJA DAN INDIKATOR A. Rencana Kerja Setiap pelaku pembangunan STBM mengembangkan rencana aksi serta pembiayaannya untuk pencapaian sanitasi total y a n g d i s a m pa i k a n k e pa d a p e m e r i n ta h d a e r a h .

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

B. Indikator Output : Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF). Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air,sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar. Setiap rumah tanga mengelola sampahnya dengan benar. Outcome : Menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. V. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB PEMANGKU KEPENTINGAN

TINGKAT

INSTITUSI

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB


2. Mengembangkan pengusaha lokal untuk produksi dan suplai bahan serta memonitor kualitas bahan tersebut 3. Mengevaluasi dan memonitor kerja lingkungan tempat tinggal 4. Memelihara database status kesehatan yang efektif dan tetap ter-update secara berkala

Kabupaten

Pemerintah Kabupaten

1. Mempersiapkan rencana kabupaten untuk mempromosikan strategi yang baru 2. Mengembangkan dan mengimplemen-tasikan kampanye informasi tingkat kabupaten mengenai pendekatan yang baru 3. Mengkoordinasikan pendanaan untuk implementasi strategi STBM 4. Mengembangkan rantai suplai sanitasi di tingkat kabupaten 5. Memberikan dukungan capacity building yang diperlukan kepada semua institusi di kabupaten. 1. B e r k o o r d i n a s i d e n g a n b e r b a g a i instansi/lembaga terkait tingkat Provinsi dan mengembangkan program terpadu untuk semua kegiatan STBM 2. Mengkoordinasikan semua sumber pembiayaan terkait dengan STBM 3. Memonitor perkembangan strategi nasional STBM dan memberikan bimbingan yang diperlukan kepada tim Kabupaten 4. Mengintegerasikan kegiatan higiene dan sanitasi yang telah ada dalam strategi STBM 5. M e n g o r g a n i s i r pertukaran pengetahuan/pengalaman antar kabupaten 1. B e r k o o r d i n a s i d e n g a n b e r b a g a i instansi/lembaga terkait tingkat Pusat dan mengembangkan program terpadu untuk semua kegiatan STBM 2. Mengkoordinasikan semua sumber pembiayaan terkait dengan STBM 3. Memonitor perkembangan strategi nasional STBM dan memberikan bimbingan yang diperlukan kepada tim Provinsi 4. Mengintegerasikan kegiatan higiene dan sanitasi yang telah ada dalam strategi STBM 5. M e n g o r g a n i s i r pertukaran pengetahuan/pengalaman antar kabupaten dan/atau provinsi serta antar negara

Provinsi

TINGKAT
RT/Dusun/ Kampung

INSTITUSI
Tim Kerja STBM tingkat RT/Dusun/ Kampung

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB


1. Mempersiapkan masyarakat untuk berpartisipasi (gotong royong) 2. Memonitor pekerjaan di tingkat masyarakat 3. Menyelesaikan permasalahan/konflik masyarakat 4. Mendukung/memotivasi masyarakat lainnya, setelah mencapai keberhasilan sanitai total (ODF) di lingkungan tempat tinggalnya 5. Membangun kapasitas kelompok pada lokasi kegiatan STBM 6. Membangun kesadaran dan meningkatkan kebutuhan 7. Memperkenalkan opsi-opsi teknologi 8. Mempunyai strategi pelaksanaan dan exit strategi yang jelas 1. Membentuk tim fasilitator desa yang anggotanya berasal dari kader-kader desa, Para Guru, dsb untuk memfasilitasi gerakan masyarakat. Tim ini mengembangkan rencana desa, mengawasi pekerjaan mereka dan menghubungkan dengan perangkat desa 2. Memonitor kerja kader pemicu STBM dan memberikan bimbingan yang diperlukan 3. Mengambil alih pengoperasian dan pemeliharaan (O & M) yang sedang berjalan dan tanggungjawab ke atas 4. Memastikan keberadilan di semua lapisan masyarakat, khususnya kelompok yang peka 1. Berkoordinasi dengan berbagai lapisan Badan Pemerintah dan memberi dukungan bagi kader pemicu STBM

Pemerintah Provinsi

Pusat

Pemerintah Pusat

Desa

Tim Kerja STBM Desa

Kecamatan

Pemerintah Kecamatan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

VI. PENUTUP Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat mengandung strategi nasional yang menginduk dan menjadi kelengkapan bagian daripada Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPLBM). Pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, dan penilaian upaya peningkatan akses sanitasi, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Penetapan strategi dalam pedoman ini dilakukan sedemikian rupa sehingga hasil pencapaiannya dapat lebih terarah dan terukur. Strategi tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai bahan dalam menentukan kebijakan yang sesuai spesifik lokal serta memicu penciptaan lingkungan yang kondusif, peningkatan kebutuhan, peningkatan penyediaan, dan pengelolaan pengetahuan dalam akses sanitasi serta perilaku masyarakat yang higienis, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perilaku higienis masyarakat dan meningkatkan akses terhadap sarana sanitasi khususnya serta meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

MENTERI KESEHATAN,

Dr. dr. SITI FADILAH SUPARI, Sp. JP(K)

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA 2009

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

CHAPTER I INTRODUCTION A. BACKGROUND Indonesia still faces great challenges in relation to water, hygiene and sanitation. Study of the Indonesian Sanitation Sector Development Program (ISSDP) in 2006 showed that 47% of the populations still defecate at rivers, fields, pools, gardens and other open places. Based on a study of Basic Human Services (BHS) in Indonesia in 2006, the percentage of people washing their hands (i) after defecating was 12%; (ii) after cleaning feces of babies and children under-five 9%, (iii) before taking meals 14%; (iv) before feeding babies 7%; and (v) before preparing meals 6%. Another BHS study on household water treatment shows that 99.20% of Indonesian people boil water to get drinking water but apparently 47.50% of the water still contains Escherichia coli. Such a condition contributes to the high incidence of diarrhea in Indonesia. The 2006 national diarrhea incidence was reported to be 423 per one thousand people at all ages and 16 provinces had Extraordinary Incidences (KLB) of diarrhea with a Case Fatality Rate (CFR) of 2.52. Such a condition can be controlled through an integrated intervention adopting total sanitation approach. This was proved by a WHO study in 2007 which indicated that diarrhea incidence could be reduced by 32% through improving peoples access to basic sanitation, 45% through washing hands with soap, and 39% through safely treating water in households. In addition, by integrating the three behavioral interventions, the diarrhea incidence can be reduced by 94%. In 2009, the government has given attention to hygiene and sanitation by establishing Open Defecation Free (ODF) program and improvement of healthy and hygienic behavior into its National Medium-Term Development Plan (RPJMN) 2004-2009. This is in line with the governments commitment to achieving the Millennium Development Goals (MDGs) targets in 2015, i.e. increasing access to drinking water and basic sanitation on a sustainable basis by as much as half of the population who are without such access. Being aware of this, the government has taken some initiatives such as Community-Led Total Sanitation (CLTS) that was implemented in 6 Districts in 2005, followed by total sanitation campaign that was launched by the Minister of Health in 2006 in West Sumatra and National hand-washing with soap campaign that was launched by the Coordinating Minister of Peoples Welfare together with the National Education Minister and the State Minister of Women Empowerment in 2007.

As a follow-up, CLTS has been replicated in various locations by many government and non-government institutions, leading to a behavioral change so that 160 villages were declared to be ODF in 2006 and 500 villages were declared to be ODF in 2007 (MoH, 2007). Old implementation of sector-based approach and hardware subsidy were not successful to increase peoples access to sanitation and change their hygienic behavior. In this regard, it is necessary to establish a NATIONAL STRATEGY FOR COMMUNITY-BASED TOTAL SANITATION (CBTS/STBM) led by the Ministry of Health which involves cross-sectors with their own task, subject, and function by focusing on 5 (five) pillars for peoples hygiene and sanitation behavior changes. B. AIM AND OBJECTIVES This National Strategy for Community-Based Total Sanitation is used for reference in planning, implementing, monitoring and evaluating the community-based total sanitation Program. C. DEFINITION 1. Community-Based Total Sanitation, which is later called CBTS, is an approach to change peoples hygiene and sanitation behavior through community empowerment by employing a triggering method. 2. Community is a group of people interacting socially on the basis of the same needs and values to achieve a goal. 3. Open Defecation Free, which is later called ODF, is a condition when every individual in a community does not defecate in open space. 4. Washing Hands with Soap is the behavior of washing hands using soap and clean flowing water. 5. Household Water Treatment, which is later called PAMRT, is a process of treatment, storage and use of drinking water and water used in food production and other oral purposes such as mouth rinse, teeth brushing, and baby food/drink preparation. 6. Stakeholders are individuals or a group of individuals, a community, institutions, organizations, and/or companies that have an interest/stake or have certain issues/problems that are common to all and they can either influence the development, change policies and/or can be affected by the consequences of that issue. 7. Total sanitation is achieved when a community has met the following criteria: Does not defecate in open space (open-defecation free) Washes hands with soap

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

Manage drinking water and food safely Manage garbage properly Manage domestic liquid waste safely.

3.1.2

8. Improved latrine is an effective sanitation facility to break a disease transmission link. 9. Basic sanitation refers to household sanitation facilities including latrines, garbage and domestic liquid waste management facilities. CHAPTER II ISSUES AND CHALLENGES The challenges of sanitation development in Indonesia are sociocultural issues and practices of open defecation particularly in water bodies which are also used for washing, bathing and other hygienic purposes. Poor sanitation is one of the causes for 19% or 100,000 deaths of children under 3 years old per annum associated with diarrhea and an economic loss representing 2.3% of the Gross Domestic Product (World Bank study, 2007). Under Law Number 32 Year 2004, it is the authority of local governments to address sanitation issues but no significant progress has been made so far. Therefore, local governments should provide support through their policies and budgets. CHAPTER III NATIONAL STRATEGY 3.1 STRATEGY COMPONENTS 3.1.1 Create a conducive environment a. Principle Increase support from the government and other stakeholders in improving hygiene and sanitation behavior that is based on community participation and empowerment. b. Main Activities Provide advocacy and dissemination of information to the government and other stakeholders in a gradual manner (by phases). Build the capacity of implementing agencies in local areas. Increase partnership among Central Government, Local Governments, Community Organizations, Non-Governmental Organizations and the Private Sector.

Increase demand a. Principle Create hygienic and sanitary community behavior to achieve total sanitation that is based on community participation and empowerment. b. Main activities Increase the participation of all stakeholders in planning and implementing the socialization of needs development. Raise the community awareness on the consequences of poor sanitation behavior (defecating in the open) followed by triggering the community for behavior change. Build the community capacity to choose specific technology, materials and costs of improved sanitation facilities. Develop natural leader in the community to facilitate community behavior change triggering. Develop a reward system for the community to improve and maintain the sustainability of total sanitation. Improve supply a. Principle Increase the availability of appropriate sanitation facilities that meet the communitys needs. b. Main Activities Increase local private production capacity to provide sanitation facilities with appropriate technology, affordable and of good quality (meet the requirement of healthy latrine). Develop partnership with community groups, cooperatives, financial institutions and local entrepreneurs in providing sanitation facilities. Improve cooperation with universities research institutions to develop an effective design of sanitation facilities. Knowledge management a. Principle Maintain knowledge and disseminate learning in total sanitation b. Main activities Develop and manage data and information centers. Improve partnerships between government, nongovernment and private sector programs in developing knowledge and learning of sanitation in Indonesia.

3.1.3

3.1.4

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

3.1.5

Integrate the total sanitation approach into educational curricula.

Outcomes: Reduction of diarrhea incidence and other environment-borne diseases in relation to sanitation and behavior. CHAPTER V ROLE AND RESPONSIBILITY OF STAKEHOLDERS Level
RT/Hamlet/ Kampong

Financing a. Principle Do not provide subsidies for basic sanitation facilities b. Main activities Explore and encourage the communitys potential to build their own sanitation facilities. Develop social solidarity (community self-help) Subsidies may only be provided for communal sanitation facilities. Monitoring and evaluation a. Principle Involve the community in monitoring and evaluation b. Main activities Monitor activities that are conducted within and by the community Local Governments together with the local communities develop monitoring and data management system Optimize the use of monitoring results from other similar activities The Central Government and Local Governments develop a gradual monitoring system.

Institutions
CBTS Working Teams at RT/Hamlet/ Kampong Levels

Functions and Responsibilities


1. Prepare the community to participate (community self-help) 2. Monitor work at community level 3. Resolve problems/conflicts in the community 4. Support/motivate other communities after achieving total sanitation (ODF) in their neighborhood 5. Build the capacity of groups in the CBTS locations 6. Raise awareness and increase demand 7. Introduce technology options 8. Have clear implementation and exit strategy 1. Form a village facilitation team which members consist of village cadres, teachers etc to facilitate community movements. This team will develop village plans, monitor their work and have a connection with village authorities. 2. Monitor the work of CBTS triggering cadres and provide necessary guidance 3. Take over current operation and maintenance (O&M) and be responsible to its superior 4. Ensure equity in all community layers, particularly sensitive groups. 1. Coordinate with various layers of Government Agencies and provide support for CBTS triggering cadres 2. Develop local entrepreneurs to produce and supply materials and also monitor the quality 3. Evaluate and monitor work in its residential area 4. Maintain effective and regularly updated health status database 1. Prepare a district plan to promote a new strategy 2. Develop and implement district information campaigns about a new approach 3. Coordinate funding for CBTS strategy implementation 4. Develop a sanitation supply chain at district level 5. Provide necessary capacity building for all institutions in the district

3.1.6

Village

Village CBTS Working Team

CHAPTER IV DEVELOPMENT OF WORK PLAN AND INDICATORS 4.1 WORK PLAN Every CBTS development actor will develop an action plan and its budget that is submitted to the local government in order to achieve total sanitation. 4.2 INDICATORS Outputs: Every individual in a community has access to basic sanitation facilities to achieve an open defecation free (ODF) community. Every household has implemented safe household drinking water treatment and food management. All houses and public facilities in a community (such as schools, offices, restaurants, community health centers (puskesmas), markets and terminals) have provided hand washing facilities (water, soap, hand washing facilities) so that every person are able to wash their hands properly. Every household manages their liquid waste properly. Every household manages their garbage properly.
Sub-district (Kecamatan) Sub-district (Kecamatan) Government

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

Level
District Provincial

Institutions

Functions and Responsibilities

District Government 1. Coordinate with various related Provincial Government agencies/institutions at Provincial Level and develop integrated program for all CBTS activities 2. Coordinate all CBTS-related financing sources 3. Monitor the progress of the CBTS National Strategy and provide necessary guidance to the District Team 4. Integrate existing hygienic and sanitation activities into the CBTS Strategy 5. Organize exchange of knowledge/ experiences between districts National Government 1. Coordinate with various related agencies/institutions at National Level and develop integrated program for all CBTS activities 2. Coordinate all CBTS-related financing sources 3. Monitor the progress of the CBTS National Strategy and provide necessary guidance to the Provincial Team 4. Integrate existing hygienic and sanitation activities into the CBTS Strategy 5. Organize exchange of knowledge/ experiences between districts and/or provinces and between countries.

CHAPTER VI CLOSING With Gods blessing and mercy, this National Strategy for CommunityBased Total Sanitation (CBTS/STBM) can be completed. This strategy is based on and complements the National Policies on Water Supply and Community-Driven Environmental Sanitation (AMPL-BM). This strategy is expected to be used for reference in planning, implementation, guidance and assessment of the efforts in improving access to sanitation by both the central and local governments. This strategy is prepared in such a way that the outputs will be more appropriate and measurable and it can be used as the basis for making locality-specific policies. We really appreciate the contributions from those involved in the preparation of this strategy. Of course, this strategy will serve its purpose if all stakeholders work hard to implement it. This strategy is expected to trigger the creation of a conducive environment, increase in demand, increase in supply, knowledge management on access to sanitation and communitys hygienic behavior. This National Strategy for Community-Based Total Sanitation will hopefully improve the communitys hygienic behavior and increase access to sanitation facilities in particular and community degree of health and welfare in general.

National

Established in Jakarta th On September 9 , 2008 MINISTER OF HEALTH

DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

CONTENTS
CONTENTS ................................................................................. I. INTRODUCTION.................................................................. A. BACKGROUND............................................................... B. AIM AND OBJECTIVES .................................................. C. DEFINITIONS.................................................................. II. III. ISSUES AND CHALLENGES.............................................. NATIONAL STRATEGY....................................................... A. Create a conducive environment .................................... B. Increase demand ............................................................ C. Improve supply ................................................................ D. Knowledge Management ................................................ E. Financing......................................................................... F. Monitoring and Evaluation............................................... IV. DEVELOPMENT OF WORK PLAN AND INDICATORS...... A. WORK PLAN................................................................... B. INDICATORS .................................................................. OUTPUTS ....................................................................... OUTCOMES.................................................................... V. VI. i 1 1 3 3 4 5 5 5 6 6 7 7 7 7 8 8 8

NATIONAL STRATEGY FOR COMMUNITY-BASED TOTAL SANITATION (CBTS)

ROLE AND RESPONSIBILITY OF STAKEHOLDERS....... 10 CLOSING ............................................................................ 11

MINISTER OF HEALTH DECREE NUMBER 852/2008 JAKARTA, SEPTEMBER 9th, 2008

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

CONTENTS
CONTENTS ................................................................................. I. INTRODUCTION.................................................................. A. BACKGROUND............................................................... B. AIM AND OBJECTIVES .................................................. C. DEFINITIONS.................................................................. II. III. ISSUES AND CHALLENGES.............................................. NATIONAL STRATEGY....................................................... A. Create a conducive environment .................................... B. Increase demand ............................................................ C. Improve supply ................................................................ D. Knowledge Management ................................................ E. Financing......................................................................... F. Monitoring and Evaluation............................................... IV. DEVELOPMENT OF WORK PLAN AND INDICATORS...... A. WORK PLAN................................................................... B. INDICATORS .................................................................. OUTPUTS ....................................................................... OUTCOMES.................................................................... V. VI. ROLE AND RESPONSIBILITY OF STAKEHOLDERS....... CLOSING ............................................................................ i 1 1 2 2 3 3 3 4 4 4 5 5 5 5 5 5 6 6 8

NATIONAL STRATEGY FOR COMMUNITY-BASED TOTAL SANITATION (CBTS)

MINISTER OF HEALTH DECREE NUMBER 852/2008 JAKARTA, SEPTEMBER 9th, 2008

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MINISTER OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 852/MENKES/SK/IX/2008

MINISTER OF HEALTH DECREE NUMBER 852/2008

TENTANG

NATIONAL STRATEGY FOR

STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

COMMUNITY BASED TOTAL SANITATION