Anda di halaman 1dari 46

PERENCANAAN ELEMEN MESIN II

PERENCANAAN SISTEM PENGGERAK


RODA GIGI & RANTAI PADA MOTOR
KAWASAKI NINJA
Disusun :
IRBAL FRAROZA
NRP : 112 07 0026
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
SERPONG
2009
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Perencanaan
Sesuai dengan judulnya di depan, bahwa penulis disini akan menyajikan
suatu karya yang berupa tugas perencanaan Elemen mesin II, dimana tugas ini
adalah salah satu tugas perkuliahan yang diharuskan bagi Mahasiswa Jurusan
Teknik Mesin, Institut Teknologi Indonesia, Ini merupakan salah satu syarat yang
harus diselesaikan untuk mengikuti Tugas Akhir.
Tugas ini merupakan kelanjutan dari tugas sebelumnya yaitu Perencanaan
Elemen Mesin I, demikian tugas yang disusun dengan judul SISTEM
PENGGERAK RODA GIGI DAN RANTAI UNTUK MOTOR KAWASAKI
NINJA, merupakan karya penulis dengan tujuan untuk memenuhi kewajiban tugas
perkuliahan.
Pada perencanaan tugas Elemen mesin ini penulis akan melakukan
perencanaan dengan kriteria tugas yaitu transmisi daya. Dimana penulis melakukan
perencanaan ulang pemilihan rantai rol untuk mentransmisikan daya dari transmisi
primer (transmisi roda gigi lurus dari daya motor penggerak) ke roda belakang.
Dimana penulis melakukan perhitungan terhadap objek yang dibahas dengan
memodifikasi keadaan standard, namun tanpa menghilangkan konsep dasar dari
pemilihan bahan dan asumsi - asumsi untuk mencari perhitugan dari kontrol
kemampuan yang baru. Asumsi asumsi yang dicurahkan oleh penulis untuk
mendapatkan hasil yang optimal tidak terlepas dari prinsip kerja dan literatur
sebagai pedoman perencanaan.
Dalam proses perencanaan, penulis mengandalkan material penyusun
elemen, dimana material yang dipilih harus memenuhi syarat dan kemampuan yang
baik, umur yang panjang dan harga yang ekonomis.
Sistem transmisi daya prinsipnya adalah menyalurkan daya dengan tujuan
meminimalkan daya yang hilang saat proses transmisi dilakukan, sehingga daya
2
output dapat digunakan sebesar mungkin untuk menghasilkan akselerasi atau kerja
yang optimal.
Objek Perencanaan Elemen mesin II ini yaitu pada sepeda motor Kawasaki
ninja. Untuk melakukan perencanaan ini dibutuhkan data data spesifikasi standard
dari objek yang akan dibahas.
untuk menghasilkan performance yang maksimal. Sedikit dijelaskan
mengenai Kawasaki Nnja.
1.2. Tujuan Perencanaan
Adapun dalam perencanaan tugas kali ini memiliki tujuan adalah sebagai
berikut :
Bagian transmisi penggerak roda belakang keadaan standard dari sepeda
motor Kawasaki Ninja dengan meningkatkan daya dan putaran pada
putaran 9500.
Melakukan pemilihan rantai rol sesuai medan kerjanya yang efektip dan
efisien.
Menilai ukuran utama
Mendapatkan gambar teknis
1.3. Batasan Perencanaan
Perencanaan terbatas pada elemen elemen yang membangun sistem
penggerak roda belakang untuk sepeda motor Kawasaki Ninja. Batasan batasan
perencanaan adalah meliputi pemilihan rantai rol. Pada laporan tugas perencanaan
ini disertakan juga metode standarisasi, yaitu Unifikasi atau penggunaan Sistem
Internasional (SI) secara konsekuen, sehingga angka angka dalam perhitungan
tidak perlu lagi dikonversikan.
1.4. Sistematika Laporan Perencanaan
Memasuki bagian hal cara penyajian dari laporan tugas perencanaan yang
dilakukan memiliki bentuk sebagai berikut :
3
BAB I PENDAHULUAN
Berisikan mengenai latar belakang perencanaan, tujuan perencanaan,
batasan perencanaan dan sistematika laporan perencanaan.
BAB II TEORI TEORI PENDUKUNG
Klasifikasi elemen transmisi daya, transmisi sabuk V, transmisi
sabuk gilir (timing belt), dan transmisi rantai. Teori dasar
perencanaan transmisi rantai rol sebagai penggerak roda belakang
sepeda motor.
BAB III PERENCANAAN SISTEM PENGGERAK RODA BELAKANG
SEPEDA MOTOR KAWASAKI NINJA
Pada bab ini berisi data kendaraan yang dibutuhkan dalam flow
chart perhitungan, perhitungan perencanaan poros, spline hub, rantai
rol, perencanaan Sproket dan pemilihan bantalan.
BAB IV KESIMPULAN & SARAN
Bab ini berisi kesimpulan perhitungan berupa dimensi dan analisa
gaya dan tegangan. Bagian saran memberikan masukan keamanan
dan masukan perawatan.
4
BAB II
TEORI TEORI PENDUKUNG
Jarak yang jauh antara dua buah poros sering tidak memungkinkan transmisi
langsung dengan roda gigi. Dalam hal lain jika terdapat jarak yang memisahkan
kedua poros, maka cara transmisi putaran atau daya yang lain dapat diterapkan,
dimana sebuah rantai dibelitkan sekeliling puli atau sproket (roda gigi) pada poros.
Sehingga dengan jarak yang memisahkan kedua puli atau poros, maka daya atau
putaran dapat ditransmisikan sesuai yang diinginkan.
2.1 Cara Kerja Sistem Transmisi Penggerak Roda Belakang Sepeda Motor
Roda belakang dari sepeda motor akan bergerak sesuai dengan putaran yang
ditransmisikan oleh rantai rol. Daya rencana yang akan ditransmisikan ke roda
belakang. Sebelum daya dan putaran tersebut ditransmisikan ke roda belakang,
maka melalui kopling akan ditransmisikan ke roda gigi lurus (perseneling).
Direncanakan posisi perseneling pada posisi empat (percepatan posisi empat berada
pada putaran tertinggi). Pada posisi tersebut, putaran n
1
poros transmisi akan
hampir sama dengan putaran poros sprocket kecil. Putaran n
1
sprocket kecil akan
ditransmisikan ke roda belakang (sprocket besar) melalui rantai penggerak (rantai
rol), dimana putaran akan mengalami reduksi sebesar n
2
akibat dari transmisi rantai
rol ke roda belakang, sehingga sepeda motor bergerak dengan putaran n
2
.
2.2 Transmisi Rantai
Rantai transmisi daya yang tersusun dari mata rantai dengan bentuk pengait
rol rol dan pengait gigi yang dirangkai dan terpasang pada sproket, dimana
perbandingan putarannya 6 : 1 dengan jarak hingga 4 meter.
Transmisi rantai bekerja dimana rantai mengait pada sproket dan
meneruskan daya tanpa terjadi slip sehingga menjamin perbandingan putaran yang
tetap. Rantai transmisi daya biasa digunakan jika jarak poros lebih besar dari jarak
transmisi roda gigi tetapi lebih pendek dari jarak transmisi sabuk.
Rantai sebagai transmisi daya dan putaran mempunyai keuntungan
keuntungan seperti di bawah ini :
5
1. Mampu mentransmisikan daya dan putaran yang besar.
2. Transmisi rantai lebih kuat
3. Tidak memerlukan tegangan awal
4. Keausan yang kecil pada bantalan
5. Mudah pemasangan
Di sisi lain transmisi rantai memiliki memiliki beberapa kekurangan seperti
di bawah ini :
1. Variasi kecepatan yang ditimbulkan saat beroperasi tidak dapat
dihandari akibat lintasan busur pada sproket yang mengait pada mata
rantai.
2. Suara dan getaran karena tumbukan dan dasar kaki sproket.
3. Perpanjangan rantai karena keausan pena dan bus yang diakibatkan
oleh gesekan dengan sproket.
Rantai dalam sistem transmisi mesin dapat dibagi atas dua jenis, yaitu :
1. Rantai gigi
Bagian bagiannya terdiri dari plat plat berprofil roda gigi
dan pena yang disebut sambungan kunci. Rantai gigi merupakan elemen
penerus daya yang mengait pada sproket tanpaterjadinya slip dan menjamin
putaran roda yang tetap. Rantai gigi tersusun dari plat plat berprofil seperti
roda giginya dan pena berbentuk bulan sabit yang disebut sambungan kunci.
Gambar 2.1. Rantai gigi [6].
Bila kita menginginkan transmisi dengan kecepatan tinggi yaitu
lebih dari 1000m/menit, tidak berisik, dan dapat mentransmisikan daya yang
besar, maka rantai gigi dapat digunakan. Namun karena pembuatannya yang
6
sulit karena memerlukan ketelitian dan bahan atau material logam yang
bervariasi menyebabkan harga rantai gigi mahal.
Ciri yang paling menonjol dari penggunaan rantai gigi adalah
dengan cepat bergerak setelah mengait secara meluncur dengan sproket
yang berprofil involut (evolven), mata rantai berputar sebagai satu benda
dengan sproket. Hal ini yang membedakan dengan rantai rol, dimana bus
mata rantai mengait sproket pada dasar kaki gigi. Dengan cara kerja di atas,
tumbukan pada rantai gigi jauh lebih kecil dari rantai rol.
Karena hal hal di atas, maka dapat menyebabkan bunyi akan
sangat berkurang dan tidak akan bertambah keras walaupun kecepatan
bertambah tinggi. Begitu mudahnya pemasangan rantai gigi, toleransi pada
saat pemasangan tidak memerlukan ketelitian yang tinggi seperti pada roda
gigi.
2. Rantai rol
Terdiri atas pena, bus, rol dan plat mata rantai. Selanjutnya
dalam pembahasan di atas telah dijelaskan mengenai transmisi rantai gigi,
kemudian untuk transmisi yang menggunakan rantai rol akan dibahas pada
sub bab selanjutnya.
2.3 Rantai Rol
Rantai rol merupakan elemen mesin yang berfungsi sebagai transmisi daya
atau putaran dari mesin penggerak. dengan keunggulan dan kekurangan rantai rol
pada umumnya sama dengan penggunaan rantai gigi. Rantai rol biasanya
dipergunakan dimana jarak poros lebih besar daripada transmisi roda gigi tetapi
lebih pendek dari transmisi sabuk. Rantai rol terdiri dari pena, bus, rol, dan plat
mata rantai (Gambar 2.2).
7
Gambar 2.2. Rantai rol [6].
Rantai rol yang bekerja mengait dengan dua roda gigi yang terpasang antara
dua poros dengan jarak tertentu. Rantai mengait pada sproket dan meneruskan daya
tanpa terjadi slip sehingga akan menjamin putaran yang tetap.
2.3.1 Material atau Bahan yang Digunakan
Bahan pembuatan pena, bus dan rol dipergunakan baja karbon atau
baja khrom dengan pengerasan pada kulit. Sedangkan untuk bahan sproket
biasanya dipakai besi cor kelabu (FC 25), baja karbon rol kontruksi umum
(SS 41), baja karbon kontruksi mesin (S 35 C) dan baja cor (SC 46), bisa
juga dipakai baja dengan paduan, namun harganya lebih mahal. Bahan
untuk sproket diusahakan pengerasan pada bagian gigi sproket dengan cara
pencelupan dingin, terutama untuk sproket dengan jumlah gigi kurang dari
24.
Kemudian untuk bahan poros yang digunakan pada tranmisi rantai
rol biasanya menggunakan batang baja kkarbon yang difinis dingin (SC
D), baja karbon untuk kontruksi mesin (SC), baja karbon tempa (SF),
maupun baja dengan paduan, seperti baja nikel krom (SNC), baja nikel
krom molibden (SNCM), baja krom (SCr) dan baja krom molibden (SCM).
2.3.2 Pemilihan Rantai Rol
8
Dengan kemajuan teknologi akhir-akhir ini, kekuatan rantai semakin
meningkat. Rantai dengan rangkaian tunggal adalah yang paling banyak
digunakan. Rangkaian banyak, seperti dua atau lebih rangkaian digunakan
untuk transmisi beban berat.
Tata cara pemilihan rantai rol dapat dilihat menurut diagram pada
Gambar 2.3. Daya yang akan ditransmisikan (kW), putaran poros penggerak
dan yang digerakkan (rpm) dan jarak sumbu poros kira-kira (mm), diberikan
lebih dahulu. Daya yang akan ditransmisikan perlu dikoreksi menurut mesin
yang akan digerakkan dan penggerak mulanya, dengan faktor koreksi.
Tabel 2.1 Faktor koreksi untuk daya yang akan
ditransmisikan rantai rol (
c
) [6].
Jumlah
rangkaian
Faktor
2
3
4
5
6
1,7
2,5
3,3
3,9
4,6
9

Gambar 2.3. Diagram pemilihan rantai rol [6].
Momen lentur selalu akan terjadi pada poros. Karena itu harus
diperiksa kekuatan lentur poros bila diameternya telah diberikan. Dengan
menggunakan putaran dari poros yang berputaran tinggi dan daya yang telah
dikoreksi, maka dapat dicari nomor rantai dan jumlah gigi sproket kecil
yang sesuai. Jumlah gigi ini sebaiknya merupakan bilangan ganjil dan lebih
dari 15. Sedangkan jumlah gigi minimum yang diizinkan adalah 13. Jumlah
untuk gigi sproket besar juga dibatasi, maksimum 114 gigi sproket.
Perbandingan putaran dapat diizinkan sampai 10/1. Sudut kontak antara
rantai dan sproket kecil harus lebih besar dari 120
o
. Transmisi rantai akan
lebih halus dan kurang bunyinya jika dipakai rantai dengan jarak bagi kecil
dan jumlah gigi sproket yang banyak.
Rangkaian banyak dipakai bila rangkaian tunggal tidak mempunyai
kapasitas cukup. Perlu diperhatikan bahwa kapasitas rangkaian banyak tidak
sama dengan kelipatan kapasitas satu rangkaian. Dipandang dari segi
10
pembagian beban diantara rangkaian, pembebanan pada masing-masing
rangkaian akan semakin efektip bila jumlah rangkaian semakin kecil atau
lebih efektivitas yang besar bila memakai satu rangkaian.
Pada saat melakukan pemilihan sering kali nomor rantai tergantung
pada pemeriksaan diameter naf sproket sehingga pemeriksaan diameter naf
sproket yang cukup besar, nomor rantai maupun jumlah rangkaian dapat
berubah sesuai dengan ruangan yang tersedia.
Diameter lingkaran jarak bagi d
p
dan D
p
(mm), diameter luar d
k
dan
D
k
(mm) untuk kedua sproket dapat dihitung dengan rumus berikut :
Diameter lingkaran jarak bagi sproket kecil [6],
d
p
1
0
180
sin
z
p

mm
Dan diameter lingkaran jarak bagi sproket besar D
p
[6],
D
p
2
0
180
sin
z
p

mm
Diameter luar sproket kecil [6],
d
k
=
mm p
z

'

,
_

+
1
0
180
cot 6 , 0
Dan untuk diameter luar sproket besar [6],
D
k
=
mm p
z

'

,
_

+
2
0
180
cot 6 , 0
Jika jarak bagi rantai telah diketahui dan jumlah gigi sproket diketahui,
maka diameter naf maksimum dapat dihitung [6].
d
B maks
=
76 , 0 1
180
cot
1

'

z
mm
untuk diameter naf maksimum sproket besar [6],
D
B maks
=

'

1
180
cot
2
z
0,76 mm
11
Diameter bos atau naf d
B
dan D
B
(mm), adalah penting untuk lubang poros,
maka dapat dikecilkan dengan persamaan dibawah ini [6] :
mm d d
maks B s
+ 10
3
5
1

atau
mm D d
maks B s
+ 10
3
5
1
Jarak sumbu poros kedua sproket pada dasarnya dapat dibuat
sedekat mungkin, tapi jarak yang ideal adalah 30 sampai 50 kali jarak bagi
rantai. Untuk beban yang berfluktuasi, jarak tersebut harus dikurangi sampai
lebih kecil daripada 20 kali jarak bagi rantai. Maka, panjang rantai yang
diperlukan dalam jumlah mata rantai dihitung dengan rumus [6] :
L
p
=
( ) [ ]
p
p
C
z z
C
z z
2
1 2 2 1
28 , 6 /
2
2

+ +
+
Dengan C
p
jarak sumbu poros dalam jumlah mata rantai. Demikian untuk
panjang rantai dalam millimeter [6] :
L = L
p
. p
Jika jumlah mata rantai dan jumlah gigi sproket telah diketahui, maka jarak
sumbu poros dapat dicari dengan persamaan berikut [6] :
C
p
=
( )

'

,
_

+
+

,
_

2
1 2
2
2 1 2 1
86 , 9
2
2 2 4
1
z z
z z
L
z z
L
C
p
dalam jumlah mata rantai. Dalam satuan panjang (mm) :
C = C
p
. p mm
Kecepatan rantai v (m/detik) dapat dihitung [6] :
v
spr
=
( )
( )
ik m
n z p
det /
1000 60
1 1


dimana :
p = jarak bagi rantai
z
1
= jumlah gigi sproket kecil, dalam hal reduksi putaran.
12
n
1
= putaran sproket kecil, dalam hal putaran reduksi putaran (rpm).
Beban yang bekerja pada rangkaian rantai F (kg) dapat dihitung [6] :
F
spr
=
N
v
P
spr
d
102
Harga F tidak boleh melebihi melebihi beban maksimum yang
diijinkan F
u
(kg).
2.4 Rantai Gigi (Sproket)
Sproket atau roda gigi yang digunakan pada transmisi rantai rol adalah jenis
roda gigi lurus. Roda gigi lurus merupakan roda gigi dengan alur gigi yang sejajar
poros. Roda gigi yang digunakan harus bisa menjaga kestabilan kecepatan rantai
dengan suara sehalus mungkin saat bertumbukan.
Sproket kecil perbandingan putarannya bisa mencapai 4 : 1. Baik sproket
besar maupun sproket kecil dari putaran rendah tetapi bebannya dan sproket
sproket tersebut harus bekerja dalam lingkungan yang abrasiv.
2.4.1 Dimensi roda gigi / sproket
Dimensi sproket yang direncanakan telah dihitung menurut
persamaan dalam merencanakan transmisi rantai rol di atas. Dari
perhitungan tersebut didapat dimensi sproket seperti : diameter lingkaran
jarak bagi sproket kecil d
p
dan sproket besar D
p
(mm), diameter luar sproket
kecil d
k
dan sproket besar D
k
(mm), diameter naf maksimum lingkaran
dalam sproket kecil d
B maks
dan sproket besar D
B maks
(mm).
Perencanaan yang dilakukan merupakan perencanaan ulang mengenai sistem
penggerak roda belakang sepeda motor Kawasaki Ninja selanjutnya akan dilakukan
perhitungan untuk mencari dimensi dan analisa kekuatan kontruksi sistem
penggerak roda belakang yang selanjutnya akan dibandingkan dengan kontruksi
standar.
3.1 Pengolahan Data Perencanaan
Langkah langkah pengumpulan data perencanaan digunakan diagram alir
Langkah kesatu : data diambil dari spesifikasi kendaraan standar.
13
Langkah kedua : data dari spesifikasi kendaraan standar untuk data
tambahan dilakukan pengukuran terhadap objek.
Langkah ketiga : selanjutnya data data dikumpulkan sebagai data yang
dibutuhkan dalam perencanaan dan data referensi sebagai
data pertimbangan dalam perhitungan.
Langkah keempat : data perencanaan akhir yang digunakan dalam perhitungan.
Gambar 3.1. Diagram pengolahan data perencanaan.
3.2 Diagram Alir Perencanaan
14
DATA DATA SPESIFIKASI
KENDARAAN STANDAR
DATA - DATA PERENCANAAN
YANG DIBUTUHKAN
DATA DATA DIUKUR DARI OBJEK PERENCANAAN
REFERENSI
PERENCANAAN
MODIFIKASI DATA KENDARAAN STANDAR
DATA PERENCANAAN AKHIR (SPESIFIKASI KONTRUKSI YANG AKAN DIRENCANAKAN)
MULAI
1. Data data Perencanaan :
- Daya output P (kW); (Brosur spec. kendaraan)
- Putaran standar n (kW); (Brosur spec. kendaraan)
- Daya rencana Pd (kW)
- Putaran rencana n1 (rpm)
- Efisiensi kopling k
- Perbandingan transmisi i (Red. Spec. kendaraan)
3.3 Sistem Transmisi Putaran pada Sepeda Motor
15
4. Pemilihan sementara nomor rantai
5. Penentuan nomor rantai sebenarnya
7. Perencanaan Sproket depan & belakang
SELESAI
2. Pengolahan data perencanaan
- Putaran ditransmisikan poros depan n1 (rpm)
- Putaran rencana n1 (rpm)
- Putaran diterima roda belakang n2 (rpm)
- Jumlah gigi sprocket depan z1 & belakang z2.
3. Perencanaan Poros
6. Perencanaan Spline hub
8. Perencanaan bantalan ujung kerah, bantalan bola radial naf gear & bantalan bola radial roda
21. - Nomor rantai, dimensi rantai & Jumlah mata rantai
- Dimensi poros depan & belakang
- Dimensi spline hub
- Dimensi sprocket
- Dimensi bearing
Gambar 3.4. Sket transmisi putaran.
Penjelasan Sket Transmisi Putaran :
1. Daya output P
d
= 16 hp (11,92 kW) dan putaran maksimum n
o
= 9.500 rpm
yang dikeluarkan mesin.
2. Daya dan putaran maksimum tersebut akan ditransmisikan melalui kopling
ke transmisi roda gigi lurus (perseneling). Putaran yang ditransmisikan
kopling akan mengalami penurunan sebesar asumsi 5 % dari putaran mesin.
Penurunan putaran ini yang ditransmisikan terjadi akibat kerja kopling
(Pelepasan dan penyambungan poros kopling/kopling tidak tetap;
Diasumsikan
kopling
= 95 %) saat perseneling dilakukan pergantian ke
putaran tertinggi (pemindahan percepatan posisi empat), sehingga putaran
berubah menjadi n
1
.
3. Putaran n
1
setelah melalui kopling akan ditransmisikan ke poros transmisi
roda gigi lurus untuk ditransmisikan ke sprocket kecil yang berada satu
poros dengan poros transmisi roda gigi.
4. Kemudian sprocket kecil akan mentransmisikan putaran ke roda belakang
(sprocket besar) melalui rantai penggerak (rantai rol). Dimana putaran akan
mengalami reduksi sebesar n
2
. Dengan posisi poros sejajar, maka putaran
16
yang ditransmisikan rantai akan sama. Jika perbandingan reduksi i = 2,6
diperoleh n
2
= n
3
= 3.497 rpm.
BAB III
PERENCANAAN SISTEM PENGGERAK RODA BELAKANG
SEPEDA MOTOR KAWASAKI NINJA
17
Pada bagian ini akan dibahas mengenai perhitungan kontruksi sistem
penggerak roda belakang sepeda motor kawasaki ninja. Adapun yang akan dihitung
yaitu mengenai dimensi dan analisa kekuatan pada elemen kontruksi seperti poros
depan dan belakang, sproket depan dan belakang, spline hub, rantai rol, bantalan
roda, bantalan naf dan bushing. Untuk baut dan seal hanya dilakukan pemilihan
saja, tidak dilakukan analisa kekuatannya.
4.1 Data data Perencanaan
Diketahui data-data spesifikasi sepeda motor kawasaki ninja standard yang
dibutuhkan adalah sebagai berikut :
- Daya motor maksimum standard 20,5 hp pada putaran 10500 rpm
- Daya motor maksimum yang direncanakan P = 16 hp
- Putaran poros maksimum yang direncanakan n
o
= 9500 rpm
- Perbandingan reduksi i = 2,6
- Jarak sumbu roda depan dan belakang l = 1245 mm
- Jarak sumbu poros antar sproket diukur C = 520 mm
4.2 Pengolahan Data Perencanaan
4.2.1. Daya Rencana yang akan Ditransmisikan (P
d
)
Jika daya yang akan ditransmisikan sebesar [6] :
P = 16 hp x 0,745
= 11,92 kW 12 kW
Jika kita ambil untuk daya maksimum
c
= 1,2, maka daya rencana
yang akan ditransmisikan [6] :
P
d
= 1,2 x 12 kW
= 14,4 kW
4.2.2. Putaran yang Ditransmisikan ke Roda Belakang (n
2
)
18
Jika diketahui perbandingan transmisi roda gigi dari spesifikasi
kendaraan saat putaran maksimum dan daya maksimum adalah [6] :
Tabel 4.1 Perbandingan transmisi sepeda motor kawasaki ninja
Transmisi
percepatan
Perbandingan
roda gigi (z
1
/z
2
)
Perbandingan
reduksi (i
g
)
Putaran :
g
o
i g
i
n
n
(rpm)
VI 23/22 1,045 n
g 1
= 9.570
V 23/17 1,353 n
g 2
= 7.073,2
IV 24/22 1,045 n
g 3
= 1,056,6
III 24/17 1,353 n
g 3
= 1,178,6
II 30/16 1,875 Ng = 3,772,36
I 34/12 2,833 Ng = 1,331,6
Maka perencanaan akan mengacu pada saat percepatan transmisi
pertama dengan putaran tertinggi yang akan diterima sproket kecil, n
g 1
=
9.570 rpm.
Putaran yang akan ditransmisikan oleh kopling akan berkurang
karena pengaruh gesekan saat proses penyambungan dan pelepasan yang
terjadi saat mentransmisikan putaran dari mesin. Diasumsikan putaran yang
hilang 5 % akibat kerja kopling (
kopling
= 95 %), maka :
n
1
=
kopling
. n
g 1

= 0,95 . 9570
= 9091,5 rpm
Dengan perbandingan reduksi sproket kecil dan besar i = 2,6, maka
putaran yang akan ditransmisikan ke roda belakang [6] :
6 , 2
5 , 9091
2
n
= 3497 rpm
4.2.3. Jumlah Gigi Sproket
Sproket kecil akan berputar sesuai putaran yang ditransmisikan oleh
poros transmisi. Dengan putaran yang ditransmisikan maka jumlah gigi
dapat dipilih untuk sproket kecil menurut table z
1
= 13. Maka jumlah gigi
sproket besar z
2
adalah [6] :
2 2 1 1
z n z n
19
Maka, 8 , 33
3497
13 5 , 9091
2

z
Diambil jumlah gigi z
2
= 35.
4.2.4. Momen Puntir Rencana (T)
Momen puntir yang terjadi akibat putaran yang bekerja pada poros
dapat dicari dengan persamaan [6] :
Nm
n
P
T
d 5
10 74 , 9
1. Momen puntir yang akan diterima poros depan (T
1
)
5 , 9091
4 , 14
10 74 , 9
5
1
T
= 1.542,7 kgmm
= 15.427 Nmm
2. Momen puntir yang akan diterima poros belakang (T
2
)
3497
4 , 14
10 74 , 9
5
2
T
= 4.010,7 kgmm
= 40.107 Nmm
4.3 Poros
Perencanaan poros depan (penggerak) adalah jenis poros beralur dan poros
belakang (digerakkan) merupakan jenis gandar.
4.3.1. Poros sproket kecil
Poros sproket beralur dengan pengencangan spline hub
[6]
. Diketahui
data data untuk merencanakan poros :
- Momen puntir yang diterima poros depan T
1
= 15427 Nmm
- Bahan poros sproket depan direncanakan baja yang difinis dingin
(S35C-D). Baja ditemper pada kulit luarnya agar tahan keausan dan
kelelahan puntir akibat putaran.
- Kekuatan tariknya
b
= 600 N/mm
2
. Kekerasannya 144 216 H
B
.
Maka tegangan tarik ijin S35C-D [6]

:
20

a
=
2 1 f f
b
S S

=
2 6
600

= 50 N/mm
2
S
f 1
: faktor keamanan untuk kelelahan puntir = 6.
S
f 1
: faktor keamanan untuk pembebanan dan konsentrasi
tegangan = 2.
- Tegangan lentur S35C-D,
a
= 300 N/mm
2
(270 400 N/mm
2
).
Maka tegangan lentur ijin
a
= 25 N/mm
2
.
Selanjutnya dapat dicari perhitungan parameter poros lainnya [6] .
1. Diameter poros (d
s 1
)
mm
T C K
d
a
b t
s
3 / 1
1 , 5
1
]
1

Dimana :
K
t
= 1,5 3,0. Untuk harga K
t
= 1,5.
C
b
= 1,2 2,3. Untuk harga C
b
= 1,2.
d
s 1
=

3 / 1
50
15427 2 , 1 5 , 1 1 , 5
1
]
1


= 14,224 mm 15 mm
2. Panjang alur (l
alur
)
l
alur
= (0,75 1,5).d
s

= (1,25) . 15 = 18,75 mm
3. Lebar alur ( b)
Perlu diperhatikan untuk lebar alur pada umumnya 25 35 %
dari diameter poros. Jika diambil 35 % dari diameter poros, maka
:
b = 35 % ( d
s
)
= 0,35 x 15
= 5,25 mm
21
4. Tinggi alur (h)
h = mm
d d
s
4
) (
1 1

= mm 5 , 2
4
) 15 25 (

4.3.2. Poros sproket besar


Poros belakang yang direncanakan adalah jenis gandar. Selanjutnya
data yang dibutuhkan dalam perencanaan poros belakang :
- Bahan poros baja karbon (S55C-D) dengan pengerasan kulit
melaui pendinginan air.
- Tegangan tariknya,
b
= 1000 N/mm
2
(810 - 1010 N/mm
2
). Maka
tegangan tarik ijin S55C-D [6]

:

a
=
2 1 f f
b
S S

=
2 6
1000

= 83,334 N/mm
2
Dengan harga S
f 1
= 6 & S
f 1
= 2.
- Tegangan lentur
a
= 60 kg/mm
2
(600 N/mm
2
). Maka tegangan
lentur ijinnya
a
= 50 N/mm
2
.
- Momen puntir yang diterima poros belakang T
2
= 40107 Nmm.
selanjutnya dapat dicari diameter poros d
s 2
sebagai berikut [6] :
3 / 1
2
334 , 83
40107 2 , 1 5 , 1 1 , 5
1
]
1

s
d
= 16,5 mm 17 mm
4.3.3. Pemeriksaan Kekuatan Poros
Analisa kekuatan poros yang akan direncanakan akibat dari putaran
yang bekerja [6].
1. Pemeriksaan kekuatan poros beralur sproket depan
a. Tegangan lentur yang terjadi pada poros (
p 1
)
22

p 1
=
2
3
1
/
1 , 5
mm N
d
T
s

=
3
15
15427 1 , 5
= 23,3 N/mm
2
b. Gaya tangensial pada permukaan poros (F
t prs 1
)
F
t prs 1
=
N
d
T
s
) 5 , 0 (
1
1

=
) 15 5 , 0 (
427 . 15

= 2057 N
c. Tegangan yang terjadi pada permukaan sisi alur (pa)
p
a
=
2
2
1
/
) 4 / (
mm N
d
F
s
prs t

=
) 4 / 15 (
2057
2

= 11,6 N/mm
2

a S35C-D
= 50 N/mm
2

p 1
= 23 N/mm
2
& pa = 11,6 N/mm
2
.
Aman & baik digunakan
d. Momen puntir yang diijinkan pada poros (T
ijin 1
)
T
ijin 1
=
Nmm
d
a s
16
3
1

=
16
50 15
3

= 33117 Nmm
T
ijin 1
= 33117 Nmm T
1
= 15427 Nmm
Poros baik untuk putaran yang direncanakan
e. Momen lentur yang terjadi pada poros (M
t 1
)
M
t 1
=
mm N
d
s a
.
32
3
1

=
32
15 50
3

= 16558,6 Nmm
23
f. Momen lentur yang diijinkan pada alur (M
t ijin 1
)
M
t ijin 1
= 0,75 . p
a
. i . l
alur
. h . r
m
Nmm
r
m
: diameter rata rata.
mm
d d
r
s
m
10
4
) 15 25 (
4
) (
1 1

Maka, momen lentur ijin maksimum :


=
10 5 , 2 75 , 18 6 6 , 11 75 , 0
= 24468,75 Nmm
M
t ijin 1
= 24468,75 Nmm M
t 1
= 16558,6 Nmm
Poros baik dan aman
2. Pemeriksaan kekuatan poros sproket belakang
Diketahui berat total kendaraan + oli & bahan bakar +
pengendara + penumpang + lain lain = (W + 80 + 80 + 30) kg.
Dimana, beban statis N s m kg g m W 1 0 9 0 / 1 0 1 0 9 ,
sehingga beban statis total W
s
= 299 kg = 2990 N.
Gaya gaya reaksi akibat pembebanan pada kendaraan
dapat dianalisa dengan kesetimbangan jumlah momen seperti di
bawah ini [3] :
) 1 ...( 0 5 , 0
; 0
3 2 2 1 1
+

l R l P l P l W l P M
M
B A
A
) 2 ...( 0 ) ( ) 5 , 0 ( ) (
; 0
3 2 2 1 1
+ + + +

l P l l P l W l l P l R M
M
A B
B
Dari persamaan diatas dapat dihitung gaya reaksi yang
bekerja pada poros roda kendaraan adalah [3]

:
a. Gaya reaksi pada roda belakang (R
B
)
R
B
= N
l
l P l P l W l P + + +
3 2 2 1 1
5 , 0
=
1245
] 1245 800 722 800 ) 1245 5 , 0 ( 1090 422 300 [ + + +
= 1910,6 N
b. Gaya reaksi pada roda depan (R
A
)
24
R
A
= N
l
l l P l l P l W l l P ) ( ) ( ( 5 , 0 ) (
3 2 2 1 1
+ + +
=
1245
)] 0 ( 800 ) 523 ( 800 ) 1245 5 , 0 ( 090 . 1 ) 823 ( 300 [ + + +
= 1080 N
c. Momen puntir yang diijinkan poros belakang (T
ijin 2
) [6]
T
ijin 2
=
Nmm
d
a s
16
3
1

= Nmm 80349
16
334 , 83 17
3


T
ijin 2
= 80349 N.mm T
2
= 40107 N.mm
Memenuhi syarat & aman
d. Tegangan lentur yang terjadi pada poros(
p 2
) [6]

p 2
=
2
3
2
2
/
1 , 5
mm N
d
T
s

=
2
3
/ 6 , 41
17
107 . 40 1 , 5
mm N

a S55C
= 83,334 N/mm
2
41,6 N/mm
2

Baik & memenuhi syarat
e. Momen lentur yang terjadi pada poros belakang (M
t 2
) [6]
M
t 2
=
Nmm
d
a s
32
3
2

=
32
50 17
3

= 24104,5 Nmm
f. Panjang poros minimum ( j) [6]
Diketahui jarak antar tumpuan/lengan ayun/swing arm
diukur g = 180 mm dan beban statis total W
s
= 2990 N.
M
t 2
= mm N
W g j
s
.
4
) (
25
Maka,
j =
mm g
W
M
s
t
+

,
_


2
4
=
180
2990
5 , 24104 4
+

,
_


= 218,7 mm
220 mm
Maka lebar tiap tumpuan poros/lengan ayun/swing arm kiri
dan kanan x =
2
180 220
= 20 mm.
g. Momen lentur maksimum (M
t ijin 2
) [6]
M
t ijin 2
= Nmm
j R
B
4

=
4
220 6 , 1910
= 105083 Nmm
M
t ijin 2
= 105083 Nmm M
t 2
= 24104,5 Nmm
Baik dan aman digunakan
4.4 Pemilihan Sementara Nomor Rantai
Menurut Gambar 2.5 diagram pemilihan rantai rol berdasarkan jumlah
putaran pada sproket kecil terhadap daya yang ditransmisikan dengan satu
rangkaian, dipilih untuk sementara nomor rantai # 40 :
4.4.1. Diameter Jarak Bagi dan Diameter Naf [6]
1. Diameter jarak bagi sproket
a. Diameter jarak bagi sproket depan (d
p
)
26
d
p
=
mm
z
p

,
_

1
180
sin
=
mm 53
13
180
sin
7 , 12

,
_

b. Diameter jarak bagi sproket belakang (D


p
)
D
p
=

,
_

2
180
sin
z
p

=
mm 7 , 141
35
180
sin
7 , 12

,
_

2. Diameter naf maksimum sproket


a. Diameter naf maksimum sproket kecil (d
B maks.
)
d
B maks
=
mm
z
76 , 0 1
180
cot
1

'

=
76 , 0 1
13
180
cot 7 , 12

'


= 38 mm
b. Diameter naf maksimum sproket besar (D
B maks
)
D
B maks
=
76 , 0 1
180
cot
2

'

,
_

z
p
=
76 , 0 1
35
180
cot 7 , 12

'


,
_

= 127,6 mm 128 mm.


4.4.2. Pemeriksaan Diameter Poros dan Diameter Naf [6]
27
Diameter naf harus diperiksa untuk menghindari momen lentur yang
berlebihan dan naf tidak eksentris, sehingga harus direncanakan diameter
poros yang tidak terlalu besar.
1. Diameter poros dan diameter naf depan
Untuk poros sproket kecil, d
s1
= 15 mm dengan diameter naf
maksimum sproket kecil d
B maks
= 38 mm sebaiknya diperkecil
menjadi :
maks B s
d d + 10
3
5
1
mm
,
_

+ 38 10 15
3
5
aman dan Baik 38 35
Diameter sproket kecil, d
s 1
= 15 mm.
Diameter naf sproket kecil, d
B maks
= 35 mm Diameter bantalan luar
2. Diameter naf dan diameter poros belakang/besar
Diameter naf sproket besar, D
B maks
= 128 mm terlalu besar untuk
poros bersangkutan, d
s 2
= 17 mm. Sehingga diameter naf harus
disesuaikan menjadi :
maks B s
D d + 10
3
5
1
=
mm
,
_

+ 128 10 17
3
5
=
( ) aman dan Baik mm 128 42
28
Diameter sproket besar, d
s 1
= 17 mm.
Diameter naf sproket besar, D
B maks
= 42 mm Diameter bantalan luar
4.4.3. Kecepatan Rantai (v)
Kecepatan rantai penggerak yang terjadi dengan putaran n
2
= 3.497
rpm dapat diperoleh [6] :
v = (
( )
( )
ik m
n z p
det /
1000 60
2 1


=
( )
( )
ik m det / 6 , 9
1000 60
3497 13 7 , 12


4.4.4. Daerah Kecepatan Rantai (v
izin
)
Daerah kecepatan dalam perencanaan rantai rol jangan melebihi dari
kecepatan yang diizinkan, karena dapat menyebabkan suara yang berisik,
terjadi slip dan membahayakan keselamatan.
Daerah kecepatan yang diizinkan [6],
v
izin
= ( 4 10 ) m/s.
Karena itu untuk kecepatan rantai rol yang terjadi,
4 m/s v = 9,6 m/s 10 m/s
Kecepatan memenuhi syarat sehingga rantai rol yang direncanakan
baik dan aman.
4.4.5. Ukuran Rantai Rol yang Direncanakan (L
p
)
Diketahui panjang antar sumbu poros sproket depan dan belakang
diukur C = 520 mm, maka jarak dalam jumlah satuan mata rantai C
p
[6] :
rantai mata
p
C
945 , 40
7 , 12
520

Diperoleh panjang rantai dalam jumlah mata rantai :
L
p
=
( ) [ ]
p
p
C
z z
C
z z
2
1 2 2 1
28 , 6 /
2
2

+ +
+
=
( ) [ ]
945 , 40
28 , 6 / 13 35
) 945 , 40 ( 2
2
35 13
2

+ +
+
= 106 mata rantai
Panjang rantai dalam satuan SI L (mm) : L = 106 . 12,7 = 1346,2 mm
4.4.6. Beban Tarik Rantai Rata rata (F
B rol
)
29
Merupakan beban yang akan ditarik oleh rantai rol [6].
F
B

rol
= N
v
P
d
102
=
6 , 9
4 , 14 102
5
= 153 kg
= 1530 N
Batas kekuatan tarik rantai nomor # 40 :
Batas beban tarik ijin rata rata Beban tarik rencana
F
B
= 19500 N F
B

rol
= 1530 N
4.4.7. Faktor Keamanan (S
rol
)
Faktor keamanan diperoleh dari perbandingan antara batas
kekuatan tarik rata-rata F
B
dari pemilihan nomor rantai sementara terhadap
pembebanan yang akan diterima pada rantai rol rencana F
B rol
. Dimana
Sf
rol
6 untuk satu rangkaian [6]. Dimana harga F
B
= 1.950
kg (19.500 N). Maka,
S
rol
=
rol B
B
F
F
=
1530
19500
= 12,7
4.4.8. Pembebanan Maksimum Ijin
Beban maksimum yang diizinkan menurut nomor rantai # 40, F
U
=
300 kg (3000 N). Sehingga pembebanan maksimum yang akan diterima
oleh rantai rol F
U maks
tidak boleh melebihi beban maksimum yang
diizinkan. Diketahui F
U rol
= W
s
= 2990 N. Maka [6],
F
U

maks
= 2990 N F
U
= 3000 N
Baik dan aman digunakan
30
4.5 Penentuan Nomor Rantai Sebenarnya
Material rantai dipilih baja nikel krom (SNC 21), perlakuan panas dengan
pendinginan minyak, kekerasannya 235 341 H
B
.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka rantai rol dipilih
nomor # 40 sebagai rantai yang akan dipakai. Maka persyaratan menurut rantai rol
nomor # 40 adalah sebagai berikut :
4.5.1. Nomor rantai # 40
Gambar 4.4 Dimensi nomor rantai rol # 40 [6].
4.5.2. Kecepatan rantai [6]
v
izin
= ( 4 10 ) v m/s.
10 m/s v = 9,6 m/s > 4 m/s
Aman dan baik digunakan
4.5.3. Batas kekuatan tarik rantai rol rata rata [6]
Batas beban tarik ijin rata rata rantai Beban tarik rencana
F
B
= 19500 N F
B

rol
= 1530 N
4.5.4. Faktor keamanan rantai rol [6]
S
rol
> 6
12,7 > 6
Tidak berisik, aman dan baik digunakan.
31
4.5.5. Pembebanan maksimum [6]
F
u
> F
u rol
3000 N > 2990 N
Aman dan baik digunakan
Gambar 4.5 Rantai rol rencana [6].
4.6 Perencanaan Sproket
Sproket yang direncanakan adalah sproket depan/kecil sebagai penggerak
dan sproket belakang/besar yang digerakan.
4.6.1 Perhitungan Dimensi Sproket
Pada bagian ini akan di rencanakan dimensi sproket atau roda gigi
yang akan dihubungkan oleh rantai rol, yaitu sproket kecil (depan) dan
sproket besar (belakang). Pada perencanaan sproket ini akan menghitung
dimensi menurut data dan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada
halaman sebelumnya.
Diketahui data data hasil perhitungan sebagai berikut :
Putaran input yang diterima sproket kecil n
1
= 9091,5 rpm
Putaran yang akan diterima sproket besar n
2
= 3497 rpm
Jumlah gigi sproket kecil (depan) z
1
= 13
32
Jumlah gigi sproket besar (belakang) z
2
= 35
Diameter sproket kecil d
s 1
= 15 mm
Diameter sproket besar d
s 2
= 17 mm
Diameter jarak bagi sproket kecil d
p
= 53 mm.
Diameter jarak bagi sproket besar D
p
= 141,7 mm
Diameter naf maksimum sproket kecil d
B maks
= 35 mm
Diameter naf maksimum sproket besar D
B maks
= 40 mm
Bahan kedua sproket adalah baja untuk kontruksi mesin (S30C)
Kekuatan lentur S30C
a
= 290 N/mm
2
(290 340 N/mm
2
) dan
kekerasan = 179 255 H
B
(JIS G 4501).
Selanjutnya dimensi lain yang belum ditentukan adalah [6] :
1. Modul (m)
Modul gigi kedua sproket sama.
z
bagi jarak
m
=
13
53
= 4
2. Diameter lingkaran kepala (d
g
)
a. Sproket kecil (d
g 1
)
d
k 1
= mm m z + ) 2 (
1
=
4 ) 2 13 ( +
= 60 mm
b. Sproket besar (d
g 2
)
d
k 2
=
4 ) 2 35 ( +
= 148 mm
3. Diameter lingkaran dasar (d
f
)
a. Sproket kecil (d
f 1
)
33
d
f 1
= mm m z cos
1

=
0
20 cos 4 13
= 21,5 mm
b. Sproket besar (d
f 2
)
d
f 1
=
0
20 cos 4 35
= 57,5 mm
4. Tinggi kepala gigi (h
k
)
h
k
=
mm m k

= 1,0 . 4
= 4 mm
dengan k faktor tinggi kepala yang besarnya = 0,8 1,2.
5. Tinggi kaki (h
f
)
h
f
=
mm c m k
k
+
dimana, c
k
adalah kelonggaran puncak = 0,25 x m = 1.
h
f
=
1 4 2 , 1 +
= 4,8 mm
6. Jarak bagi lingkar ( t )
t = . m mm
= 3,14 . 4
= 12,56 mm
7. Tebal gigi jarak bagi (h
t
)
h
t
= mm
m
2

=
2
4

= 6,28 mm
8. Lebar gigi jarak bagi (h)
h = 0,55 . t
= 0,55 . 12,56
= 6,9
34
7 mm
9. Tebal gigi dalam (b)
Biasanya b 10 mm dengan = 20
0
.
Gambar 4.7 Dimensi sproket depan yang direncanakan.
35
Gambar 4.8 Dimensi sproket belakang yang direncanakan.
4.6.2 Analisa Gaya dan Tegangan Sproket
Pada analisa gaya roda gigi lurus ada tiga gaya yang terjadi saat
kontak dengan rantai rol, yaitu gaya tangensial (F
t
), gaya radial (F
r
) dan
gaya normal (F
n
).
Pada saat putaran diterima oleh poros sproket kecil n
1
= 9091,5 rpm,
maka rantai rol akan mendistribusikan putaran yang menghubungkan
36
sproket kecil dan sproket besar, dimana mekanisme kerja dari rantai rol ini
akan mereduksi putaran menjadi n
2
= 3497 rpm.
Gambar 4.9. Gaya gaya yang bekerja pada roda gigi [6].
1. Analisa gaya sproket kecil/depan [6]
a. Kecepatan keliling lingkaran jarak bagi (v
spr 1
)
v
spr 1
= ik m
n d
p
det /
1000 60
1


= ik m det / 2 , 25
1000 60
5 , 9091 53


dengan :
d
p
: diameter jarak bagi (mm).
n

= n
2
: putaran sproket 3497 rpm.
b. Gaya tangensial (F
t spr 1
)
F
t spr 1
=
N
v
P
spr
d
1
102
=
2 , 25
4 , 14 102
= 583 N
P
d
adalah daya yang akan ditransmisikan.
c. Gaya normal (F
n spr 1
)
37
F
n spr 1
= N
F
spr t
cos
1
=
0
20 cos
583
= 1430 N
dengan : sudut tekanan kerja = 20
0
[6].
d. Gaya radial (F
r spr 1
)
F
r spr 1
= F
t spr 1
. tan
= 583 . tan 20
0
= 1304 N
e. Tegangan lentur yang terjadi pada sproket (
spr
)

spr 1
=
2
2
/
6 /
mm N
h b
H F
t

=
6 / 7 10
6 , 9 583
2

= 68,5 N/mm
2
Dengan,
H : tinggi gigi = 9,6 mm; b : lebar gigi = 10 mm;
m : modul = 4; h : tebal gigi jarak bagi = 7 mm.

a S30C
= 290 N/mm
2

spr 1
= 68,5 N/mm
2

Aman dan baik digunakan
Dengan cara yang sama, maka analisa tegangan untuk sproket
besar seperti tabel dibawah ini :
Tabel 4.2 Tabel analisa gaya sproket kecil (variabel 1) dan besar (variabel 2).
38
B A B IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran dari perencanaan kontruksi sistem
penggerak roda belakang sepeda motor Kawasaki ninja. berikut ini data data yang
digunakan dalam perencanaan :
Daya maksimum rencana yang akan ditransmisikan, P
d
= 16 hp (12 kW)
Putaran poros maksimum direncanakan n
o
= 9500 rpm
Perbandingan reduksi i = 2,6
Jarak sumbu roda depan dan belakang l = 1245 mm
Jarak sumbu poros antar sproket diukur C = 520 mm

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan ini berisi dimensi dan analisa kekuatan dari kontruksi yang
direncanakan yang meliputi poros depan dan belakang, spline hub, sproket depan
dan belakang, bantalan dan rantai penggerak.
5.1.1. Poros
Poros yang direncanakan adalah poros beralur untuk di sproket
depan dan poros jenis gandar untuk di sproket belakang.
1). Poros sproket depan (poros penggerak)
Tabel 5.1. Dimensi poros beralur sproket depan.
poros
d
s1
(mm)
poros tingkat
pertama
d
1
(mm)
Alur poros
Panjang alur
l
a
(mm)
Tinggi alur
h (mm)
Lebar alur b
(mm)
15 25 18,75 2,5 5,25
a. Bahan poros sproket kecil direncanakan batang baja yang
difinis dingin (S35C-D)
b. Kekuatan tarik S35C-D
b
= 600 N/mm
2
. Kekerasannya 144
216 H
B
c. Tegangan lentur S35C-D
a
= 300 N/mm
2
(270 400 N/mm
2
)
d. Tegangan lentur poros sproket kecil
39
Tegangan lentur ijin Tegangan lentur terjadi Tegangan permukaan alur

a S35C-D
= 25 N/mm
2

poros

1
= 23,3 N/mm
2
pa = 11,6 N/mm
2
e. Momen puntir yang akan diterima poros sproket kecil
Momen puntir ijin Momen puntir yang terjadi
T
t ijin
= 33117 Nmm T
1
= 15427 Nmm
f. Momen lentur poros sproket kecil
Momen lentur ijin Momen lentur yang terjadi
M
t ijin 1
= 24468,75 N.mm M
t 1
= 16558,6 N.mm
2). Poros sproket besar/belakang
Tabel 5.2. Dimensi poros belakang.
poros
d
s2
(mm)
Panjang poros
minimum j (mm)
Lebar tiap lengan
ayun g (mm)
17 220 20
a. Bahan poros baja karbon (S55C-D) yang difinis dingin
b. Kekuatan tarik S55C-D
b
= 1000 N/mm
2
(810 - 1010
N/mm
2
)
c. Tegangan lentur S55C-D
a
= 600 N/mm
2
. Maka tegangan
lentur ijinnya
a
= 50 N/mm
2
d. Tegangan lentur pada poros
Tegangan lentur ijin Tegangan lentur yang terjadi.

b S55C
= 83,334 N/mm
2

p 2
= 41,6 N/mm
2
e. Momen puntir poros belakang
Momen puntir ijin Momen puntir yang terjadi
T
ijin 2
= 80349 Nmm T
2
= 40107 Nmm
f. Momen lentur sproket besar
Momen lentur ijin Momen lentur yang terjadi
M
t ijin 2
= 105083 N.mm M
t 2
= 24104,5 Nmm
40
5.1.2. Spline hub
Spline hub atau key berfungsi sebagai pengunci sproket pada poros
depan.
Tabel 5.3. Dimensi spline hub.
1). Bahan spilne hub baja karbon kontruksi mesin (S45C)
2). Tegangan tarik S45C-D
b
= 60 kg/mm
2
= 600 N/mm
2
dan
kekerasannya 179 255 H
B

3). Tegangan geser spline hub
Tegangan geser izin Tegangan geser pada permukaan

b S
= 50 N/mm
2

k 1
= 11,5 N/mm
2

5.1.3. Sproket
Sproket yang direncanakan adalah sproket depan (penggerak) dan
belakang (pengikut). Dari perhitungan diperoleh kesimpulan sebagai berikut
:
1). Putaran input yang diterima sproket kecil n
spr 1
= 9091,5 rpm
2). Putaran yang diterima sproket besar n
spr 2
= 3497 rpm
3). Jumlah gigi sproket kecil/depan z
1
= 13
4). Jumlah gigi sproket besar/belakang z
2
= 35
5). Bahan kedua sproket adalah baja untuk kontruksi mesin (S30C)
Kekuatan lentur S30C
a
= 290 N/mm
2
dan kekerasan = 179
255 H
B
6). Analisa gaya dan tegangan yang terjadi pada kedua sproket
mengalami sedikit perbedaan, hal ini disebabkan transmisi pada
rantai sering terjadi variasi kecepatan. Perbedaan dapat dilihat
pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4 Analisa gaya sproket kecil (variabel 1) dan besar (variabel 2).
41
dalam
d
s 1
(mm)
luar
d
1
(mm)
Tinggi alur
h (mm)
Lebar alur
b (mm)
Panjang
alur l (mm)
Jumlah
alur n (mm)
15 35 2,5 5,25 18,75 6
Tabel 5.5 Dimensi Sproket besar.
jarak
bagi d
p
(mm)

lingkaran
dasar d
f
(mm)
Tinggi
kepala
gigi h
k 1
(mm)
Tinggi
kaki h
f
(mm)
Jarak
bagi
lingkar
t (mm)
Tebal gigi
dasar kaki
h (mm)
Lebar
gigi
dalam
b (mm)
141,7 57,5 4,8 4,8 12,56 7 10
5.1.4. Rantai rol
Material rantai dipilih baja nikel krom (SNC 21), perlakuan panas
dengan pendinginan minyak, kekerasannya 235 341 H
B
.
Nomor rantai rol adalah # 40 dengan rangkaian tunggal.
Dimensinya dapat dilihat pada Tabel 5.7.
1). Daerah Kecepatan rantai
Kecepatan rantai ijin ( 4 10 ) m/detik kecepatan rantai terjadi
v
izin
= 10 v = 9,6 m/detik
2). Beban rencana rantai (F
U
)
Beban ijin maksimuum rantai No. # 40 Beban maksimum diterima
F
U
= 3000 N F
U

rol
= 2.990 N
3). Batas kekuatan tarik rantai nomor # 40 (F
B
)
Batas beban tarik ijin rata rata rantai Beban tarik rencana
F
B
= 19500 N F
B

rol
= 1530 N
4). Faktor keamanan rantai rol (S
rol
)
Semakin besar S
rol
6 semakin baik digunakan.
Faktor keamanan rantai rencana 6
S
rol
= 12,7 6
42
5). Pelumasan yang digunakan adalah pelumasan dengan cara tetes
minyak dengan SAE 20 atau SAE 30 yang dianjurkan.
6).
Tabel 5.6 Dimensi sistem reduksi penggerak roda belakang yang direncanakan.
Gambar 5.1 Dimensi nomor rantai # 40 [6].
5.1.5. Bantalan
Bantalan yang direncanakan adalah bantalan poros (bushing),
bantalan untuk naf gear dan bantalan untuk roda.
1). Bantalan radial ujung kerah (bushing)
a. Material yang digunakan baja karbon kontruksi S30C.
b. Panjang bantalan l = 80 mm
c. Panjang bagian luar kerah 20
3

l
mm
d. Diameter kerah ujung B = 32,5 mm
e. Lebar kerah b = 5 mm
f. Daya yang diserap oleh bantalan ujung H = 0,0525 kW
2). Bantalan naf gear roda belakang
a. Jenis bearing adalah bantalan peluru radial dengan alur
tunggal dan sekat ganda nomor 6004 ZZ.
43
naf sprocket
kecil
d
B maks
(mm)
naf sprocket
besar
d
B maks
mm)
Panjang rantai
L (mata rantai)
Panjang
rantai
L
P
(mm)
Jarak sumbu
poros terukur
C
p
(mm)
35 40 106 1346,2 520
b. Material yang digunakan jenis perunggu atau baja paduan
tembaga.
c. Beban dinamis spesifik bantalan bola radial 6004 ZZ, C = 735
kg = 7350 N
d. P
r
= beban radial = 1264 N
e. Umur pemakaian bearing ln = 9383 jam
Tabel 5.7 Dimensi bantalan bola radial naf gear 6004 ZZ [6].
dalam
d (mm)
luar
D (mm)
Lebar/tebal
B (mm)
Jarak antara sisi-
sisi bola r (mm)
20 42 12 1
3). Bantalan roda belakang
a. Jenis bearing adalah bantalan peluru radial dengan alur
tunggal dan sekat ganda nomor 6003 ZZ
b. Material yang digunkan jenis perunggu atau baja paduan
tembaga
c. C = beban dinamis spesifik 6003 ZZ = 470 kg = 4700 N
d. P
r
= beban radial = 1264 N. Karena jumlah bantalan 2
(dua) pada satu poros maka N 632
2
1264
.
e. Umur Pemakaian bantalan bola radial naf gear ln = 19627
jam
Tabel 5.8 Dimensi bantalan bola radial roda belakang sepeda motor [6].
dalam
d (mm)
luar
D (mm)
Lebar/tebal
B (mm)
Jarak antara sisi-
sisi bola r (mm)
17 35 10 0,5
5.2. Saran
a. Rantai rol dan bearing yang digunakan harus sering mendapat
pelumasan berkala.
b. Pengecekan ukuran penyetelan rantai. Rantai rol jangan terlalu jatuh
menggantung (kendor) karena saat beroperasi akan terasa berat dan saat
44
start perlu waktu untuk menarik beban. Demikian juga untuk penyetelan
rantai rol terlalu kencang (tegang) dapat mengakibatkan sering terjadi
spin dan kemungkinan terpelanting karena gerakan motor bisa liar, serta
dapat menyebabkan umur transmisi skunder pendek karena gesekan
yang terlalu besar antar komponen akibat ketegangan penyetelan.
c. biasakan menggunakan suku cadang asli dan hindari pemakaian suku
cadang palsu.
d. Kenyamanan dan keselamatan nyawa lebih berharga daripada selisih
harga suku cadang asli dan palsu (relatif harga tidak terlalu jauh).
e. Hindari kondisi yang dapat menyebabkan kemungkinan berkurangnya
umur komponen (beban berlebihan, kerusakan jalan, kondisi basah, dll.)
f. Hindari berbagai variasi gerakan saat berkendara yang dapat
menimbulkan tumbukan secara tiba - tiba dan membahayakan nyawa.
D A F T A R P U S T A K A
1. Khurmi R.S Gupta, J.K. Machine Design, Third Edition. Eurasia Publishing
Home Ltd, Ram Nagar, New Delhi, 1982.
45
2. Nieman G, Priambodo Bambang. Elemen Mesin, Jilid I, Edisi Kedua. Erlangga,
Jakarta, 1992.
3. Sularso, Suga Kiyokatsu. Pemilihan dan Perencanaan Elemen Mesin, Cetakan
Ketujuh. Pradnya Paramitha, Jakarta, 1991.

46