Anda di halaman 1dari 23

Laporan PBL MODUL JATUH SISTEM TUMBUH KEMBANG & GERIATRI

oleh : KELOMPOK 1B Firghana Attamimi Chaerullah Andi Fatmawati Mahir Yusli Ardayati Nur Aisyah Mustairal Andi Tenri Syahirah Said Hardi Ashari M.H Titin Arniyanti Irsan Kurniawan Andi Nurjannah Kaddiraja Nur Sabriany Lihawa 1102070116 1102080128 1102090121 1102090077 1102090027 1102090001 1102090139 1102090051 1102090086 1102090066 1102090110 1102100156

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2012

PENDAHULUAN

Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari harapan hidup penduduknya. Demikian juga di indonesia sebagai suatu negara berkembang, dengan perkembangan yang cukup baik, makin tinggi harapan hidupnya diproyeksikan dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2000 yang akan datang. Pada tahun 2000 jumlah orang lanjut usia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2020 sebesar 11,34 % (BPS, 1992). Dari data USA-Bureau of the Census, bahkan Indonesia diperkirakan akan mengalami pertambahan warga lansia tersebar seluruh dunia,antara tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414%. (Kinsella & Taeuber, 1993). Hal ini semua merupakan gambaran pada seluruh negara-negara di dunia, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemajuan dalam kondisi sosio-ekonominya masing-masing. Namun, ilmu pengetahuan dan teknologi masih ditantang dengan menerangkan sebab-sebab orang menjadi tua (menua=aging). Banyak teori-teori menua diajukan yang belum memuaskan semua pihak. Proses menua ini merupakan suatu misteri kehidupan yang masih belum dapat diungkap, mungkin merupakan suatu masalah yang paling sulit untuk dipecahkan.

Skenario 2 Lakilaki umur 68 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan menurut keluarganya tiba-tiba terpeleset dan jatuh terduduk didepan kamar mandi tadi pagi. Setelah itu kedua tungkai tak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih dirasakan oleh penderita. Sejak seminggu penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas serta nafsu makan sangat berkurang tetapi tidak demam. Penderita selama ini mengidap dan minum obat penyakit kencing manis dan tekanan darah tinggi, kedua mata dianjurkan untuk operasi tetapi penderita selalu menolak. Kata sulit : Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat 1996). Kata kunci : kejadian sehingga penderita mendadak terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa hilang kesadaran.(Reuben,

1. Laki-laki 68 tahun. 2. Jatuh terduduk. 3. kedua tungkai tidak bisa bergerak,tetapi masih terasa jika dicubit. 4. Batuk-batuk, agak sesak nafas, nafsu makan berkurang. 5. Riwayat penyakit DM, Hipertensi. 6. Dianjurkan operasi mata tapi penderita selalu menolak.
Pertanyaan : 1. Bagaimana proses penuaan? 2. Etiologi jatuh pada lansia? 3. Apa saja faktor resiko dari jatuh? 4. Apakah ada hubungan riwayat penyakit terdahulu dengan gejala yang dialami oleh pasien sekarang? 5. Apakah ada hubungan obat dikonsumsi dengan jatuh? 6. Apakah ada hubungan penyakit mata dengan jatuh?

7. Apa yang menyebabkan pasien tidak bisa menggerakan tungkainya dan

masih merasa jika diraba dan dicubit? 8. Bagaimana pendekatan diagnostik pada pasien tersebut? 9. Apa komplikasi yang bisa terjadi akibat jatuh? 10. Bagaimana penanganan awal dan pencegahannya? 11. Bagaimana dari sudut pandang pespektif islam terhadap lansia? Pembahasan :

1.

Analisis kasus dan daftar masalah pada skenario

Daftar masalah

2.

Proses Menua jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan

Definisi Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan mempertahankan struktur dan fungsi normalnyasehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994) Adapun teori-teori yang membahas mengenai proses menua sebagai berikut: a) Teori Genetic Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesiesspesies tertentu. Tiap spesies mempunyai didalam nuclei (inti sel) nya suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita itu berhenti akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastrofal. b) Teori motasi somatic Faktor-faktor penyebab terjadinya proses menua adalah factor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatic. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur, sebaliknya menghindari terkenanya radiasi atau tercemar zat kimia yang bersifat karsinogenik atau toksik, dapat memperpanjang umur. Menurut

teori ini, terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatic, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. c) Rusaknya system imun tubuh. Jika mutasi somatic menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel , maka hal ini dapat menyebabkan system imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya.perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun.(Goldstein,1989) d) Teori menua akibat metabolisme Pentingnya metabolism sebagai factor penghambat umur panjang. Semakin sebaliknya. e) Kerusakan akibat radikal bebas Radikal bebas (RB) dapat terbentuk di alam bebas, dan di dalam tubuh jika fagosit pecah, dan sebagai produk sampingan didalam rantai pernapasan didalam mitokondria ( Oen, 1993). Radikal bebas dihasilkan saat terbentuk ATP sehingga radikal bebas ini akan menghancurkan selsel semakin lama semakin banyak maka sel-sel mati. tinggi metabolism seseorang dan maka akan menambah umur dan pertumbuhan dan menurunkan memperpendek

3.

Etiologi jatuh adalah : a. Kecelakaan merupakan penyebab jatuh yang utama (30-50% kasus jatuh lansia)

Murni kecelakaan misalnya terpeleset,tersandung. Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan

akibat proses menua misalnya karena mata kurang awas, bendabenda yang ada dirumah tertabrak, lalu jatuh. b. Nyeri kepala dan atau vertigo. c. Hipotensi orthostatic: Hypovolemia/ curah jantung Disfungsi otonom Penurunan kembalinya darah vena ke jantung Terlalu lama berbaring

Pengaruh obt-obat hipotensi Hipotensi sesudah makan Diuretik/antihipertensi Antidepresan trisiklik Sedativa Antipsikotik Obat-obat hypoglikemik alkohol

d. Obat-obatan

e. Proses penyakit yang spesifik Penyakit-penyakit akut seperti : Kardiovaskuler : - aritmia Neurologi f. Stenosis aorta Sinkope sinus carotis : - TIA Stroke Serangan kejang Parkinson Kompresi saraf spinal karena spondilosis Penyakit cerebelum

Idiopatik (tak jelas sebabnya) Drop attack (serangan roboh) Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba Terbakar matahari

g. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba

4. Faktor risiko jatuh dibagi dua golongan besar, yaitu : a. Faktor-faktor intrinsik (faktor dari dalam) b. Faktor-faktor ekstrinsik (faktor dari luar) Faktor instrinsik Faktor ekstrinsik

Kondisi fisik dan neuropsikiatri Penurunan visus dan pendengaran Perubahan neuro muskuler, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses menua FALLS (JATUH)

Obat-obatan yang diminum Alat-alat bantu berjalan Lingkungan yang tidak mendukung (berbahaya)

5. Hubungan batuk, sesak napas dan anoreksia dengan jatuh


Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadinya penurunan anatomik dan fungsional atas organnya masih besar. Penurunan anatomik dan fungsional dari organ tersebut akan menyebabkan lebih mudah timbulnya penyakit pada organ tersebut. Salah satunya pada system gastrointestinal. Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik degenerative, antara lain perubahan atrofik pada rahang, sehingga gigi lebih mudah tanggal. Perubahan atrofik juga terjadi pada mukosa, kelenjar dan otot-otot pencernaan. Berbagai perubahan morfologik akan menyebabkan perubahan fungsional sampai perubahan patologik, diantaranya gangguan mengunyah dan menelan, serta perubahan nafsu makan. Gizi yang kurang dan timus yang mengalami resorbsi akan menyebabkan mudah terkena infeksi. Infeksi saluran napas menyebabkan batuk dan sesak. Batuk dan sesak disebabkan karena perubahan anatomi dan penurunan fungsi fisiologis dari system respirasi. Perubahan anatomi diantaranya peningkatan diameter trachea dan saluran napas utama, membesarnya duktus alveolaris, berkurangnya elastisitas penyangga parenchyma paru, penurunan massa jaringan massa paru, berkurangnya kekuatan otot-otot pernapasan, dan kekakuan dinding thoraks. Sedangkan penurunan fungsi fisiologis yaitu kekuatan otot pernapasan menurun, ventilasi dan perfusi paru menurun, menurun (CV, FVC, FEV1), meningkat (FRC, RV). Keadaan tersebut dapat menyebabkan penurunan system imun sehingga mudah terkena infeksi dan menyebabkan batuk. Sesak yang terjadi menyebabkan hipoksia sehingga aliran oksigen ke otak menurun dan menyebabkan jatuh.

6. Riwayat penyakit terdahulu dengan jatuh yang dialami pasien

7. Hubungan obat yang dikonsumsi dengan jatuh

8. Hubungan penyakit mata dengan jatuh

9. Etiologi pasien tidak bisa menggerakkan tungkainya dan masih


merasa jika diraba dan dicubit Pada kasus ini pasien dinyatakan jatuh terpeleset. Mekanisme trauma Seseorang yang jatuh terpeleset kemungkinan bisa ke depan atau ke belakang. Jika jatuh ke depan maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas sebagai akibat menahan tubuh dengan tangan. Sedangkan jika jatuh ke belakang maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas atau cidera tulang belakang (vertebra). Pada kasus ini tidak dikeluhkan adanya trauma capitis atau cidera ekstremitas atas, cidera yang terjadi hanya berupa tungkai yang tidak dapat digerakkan tapi masih berasa. Ini berarti bahwa kemungkinan yang mengalami gangguan adalah persarafan motorik tungkai tersebut sementara saraf sensoriknya masih berfungsi dengan baik. Secara anatomis tungkai (ekstremitas bawah) dipersarafi oleh serabut saraf dari vertebra segmen lumbal dan sacral. Jadi kemungkinan besar ketika terjatuh, pasien tersebut mengalami trauma vertebra segmen lumbalsakral yang mengakibatkan tertekannya ramus-ramus saraf di cornu anterior atau bagian dari kornu anterior dari segmen lunbosakral tersebut yang tertekan yang berfungsi sebagai saraf motorik pada kedua tungkai yang mengakibatkan tungkai tidak dapat digerakkan.

10. Pendekatan diagnostik Pada pasien geriatri/ usia lanjut, kita harus melakukan pemeriksaan/ assesmen secara holistik/ paripurna, berkesinambungan dan tepat. Dengan maksud agar dapat meninjau keseluruhan dari gangguan fisisnya, psikososial dan juga gangguan fungsional sehingga nantinya dapat mengidentifikasikan masalah tersebut termasuk mengidentifikasikan faktor resiko yang berperan serta kemudian merencanakan penatalaksanaan menyeluruh dengan penekanan pada kemampuan fungsional pasien atau setidaknya memberikan perhatian yang sama dengan diagnosis dan pengobatan penyakit sebab kompleksitas masalah pada usia lanjut dapat meningkatkan resiko iatrogenik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi : a. Anamnesa riwayat penyakit (jatuhnya) Anamnesa dibuat baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi :

1. Seputar jatuhnya : mencari penyebab jatuhnya misalnya apa karena terpeleset, tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok atau sebaliknya, sedang buang air kecil atau

besar, sedang batuk atau bersin, sedang menolwh tiba-tiba ataupun aktivitas lainnya.

2. Gejala yang menyertai : seperti nyeri dada, berdebar-debar, nyeri


kepala tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas.

3. Kondisi komorbid yang relevan : pernah menderita hipertensi, diabetes mellitus, stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, deficit rematik dll

4. Review obat-obatan yang diminum : anti hipertensi ( alfa inhibitor


non spesifik dll ), diuretic, autonomic bloker, anti depresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik, ACE inhibitor dll 5. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh apakah licin/bertingkattingkat dan tidak datar, pencahayaannya dll b. Pemeriksaan Fisis 1. Mengukur tanda vitalnya : Tekanan darah (tensi), nadi, pernafasan(respirasinya) dan suhu badannya (panas/hipotermi) 2. Kepala dan leher : apakah terdapat penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising. 3. Pemeriksaan jantung : kelainan katup, aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus carotis dll 4. Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll 5. Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi, problem kaki (podiatrik), deformitas dll c. Assesmen Fungsionalnya Seyogyanya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebiasaan pasien dan aspek fungsionalnya dalam lingkungannya, ini sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan. Pada assesmen fungsional dilakukan observasi atau pencarian terhadap : 1. Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika bangkit dari duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau duduk dibawah dll.

2. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat Bantu ( kursi roda, tripod, tongkat dll) atau dibantu berjalan oleh keluarganya.

3. Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian,


kontinens. Terutama kehidupannya dalam keluarga dan lingkungan sekitar (untuk mendeteksi juga apakah terdapat depresi dan lain-lain). d. Pemeriksaan tambahan 1. Radiologi : melihat ada tidaknya fraktur, perlu juga foto thoraks untuk melihat ada tidaknya pneumonia 2. Laboratorium : pemeriksaan darah rutin, GDS, Elektrolit, Urin, albumin, SGOT dan SGPT, fraksi lipid, Fungsi tiroid e. Pemeriksaan fungsi 1. Penapisan depresi : skor GDS 15 (Geriatric Depression Scale 15)

2. Pemeriksaan kemampuan mental dan kognitif : skor AMT


(Abbreviated Mental Test) dan MMSE (Mini Mental State Examination) 3. Penilaian status fungsional : Indeks ADLs Barthel (Activity Daily Living) 11. Komplikasi yang dapat terjadi karena jatuh adalah (Kane, 1994; Vander-Cammen, 1991)

a. Perlukaan (injury)
Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena.

Patah tulang (fraktur) : Pelvis Femur (collum femur) Humerus Lengan bawah Tungkai bawah Kista

Hematom subdural Komplikasi akibat tidak dapat bergerak (imobilisasi)

b. Perawatan rumah sakit

Resiko penyakit-penyakit iatrogenik Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri,

c. Disability

dan pembatasan gerak d. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan e. Mati

12. Penanganan yang dapat dilakukan


Tujuan penatalaksanaan ini untuk mencegah terjadinya jatuh berulang dan menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi AKS terbaik, dan mengembalikan kepercayaan diri penderita. The Panel on fall telah merekomendasikan penanganan jatuh pada masyarakat, sesduah melakukan asistment secara menyeluruh, mengidentifikasikan anormalitas dari komponen kontrol postural dan performen fisik secara menyeluruh dari keseimbangan dan cara berjalan, juga masalah kesehatan, status fungsional, dan cara mendapatkan bantuan (Nnodim JO, Alexander NB, 2005). Penyebab yang potensial berpengaruh dicatat dan direncanakan strategi penanganan baik intervensi secara farmakologi/pembedahan & rehabilitasi seperti yang tercantum pada appendik F (Hile ES, Studenski SA, 2007; Assesment & treatment). Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau eliminasi faktor resiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan ini harus terspadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter (geriatrik, neurologik, bedah ortopedi, rehabilitasi medik, psikiatrik, dll), sosialworker, arsitek, dan keluarga penderita. Penatalaksanaan bersifat individualis, artinya berbeda untuk setiap kasus karena perbedaan faktor-faktor yang bersama-sama mengakibatkan jatuh. Bila penyebab merupakan penyait akut penanganannya menjadi lebih mudah, sederhana, dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh serta efektif. Tetapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat, rehabilitasi, perbaikan

lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lansia itu. Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya pembatasan bepergian/aktifitas fisik, penggunaan alat bantu gerak. Pengelolaan gangguan penglihatan (Nnodim JO, Alexander Peresepan lensa kaca mata harus dapat mengoreksi dengan tepat gangguan ketajaman penglihatan. Kacamata dengan lensa tunggal lebih dipilih dibandingkan dengan lensa multifokal karena menimbulkan gangguan persepsi kedalaman dan kontras bagian tepi yang meningkatkan resiko jatuh. Katarak yang dilakukan ekstraksi akan menurunkan resiko jatuh meskipun katarak tunggal. Untuk gangguan adaptasi gelap terapi dengan mengganti terapi glaukoma yang tidak menyebabkan miosis. Intervensi gangguan penglihatan ini umumnya tidak efektif sebagai intervensi tunggal. Penglihatan dapat berperan menurunkan resiko jatuh sebagai bagian program penurunan resiko secara multifaktorial. Pengelolaan gangguan keseimbangan Latihan merupakan komponen yang paling berhasil dari program penurunan resiko jatuh dan merupakan intervensi tunggal yang efektif berdasarkan meta analisis. Pada lansia yang memiliki resiko tinggi untuk jatuh, kebutuhan dan lama latihan keseimbangan sangat individual. Penelitian terkini menyarankan latihan kelompok juga efektif. Latihan keseimbangan pada pasien lansia dapat dilihat pada appendik F. Intervensi obat-obatan Terapi obat-obatan pada pasien harus dikaji lebih lanjut. Obatobatan yang diberikan harus benar-benar diperlukan, obat-obatan yang terlalu banyak akan meningkatkan resiko jatuh. Apabila memungkinkan terapi nonfarmakologi harus dilakukan pertama kali. Benzodiasepin baik yang kerja panjang maupun yang kerja pendek meningkatkan resiko jatuh demikian juga trisiklik antidepresan dan golongan selective serotonin reuptake inhibitor khususnya pada dosis tinggi. Obat-obat psikotropika harus dimulai dengan dosis rendah dan kemudian dinaikkan perlahan (Nnodim JO, Alexander NB, 2005). Pemberian obat-obat penghiang sakit kronik secara terjadwal lebih NB, 2005)

efektif dibandingkan pemberian bila diperlukan. Terapi ekstrapiramidal dengan levodopadan obat yang lain dapat memperbaiki imobilitasi tetapi sering tidak dapat memperbaiki instabilitas postural (Hile ES, Studenski SA, 2007). Postural hipertensi dapat dikontrol dengan penyesuaian dosis obat, kaus kaki kompresi, perubahan perilaku misalnya menghindari perubahan posisi yang mendadak, latihan ROM (Range of Motion) aktif pada ekstremitas bawah untuk meningkatkan venous return sebelum posisi berdiri. Intervensi lingkungan Intervensi tunggal pada penelitian terkontrol mengatakan bahwa modifikasi lingkungan akan meningkatkan keamanan, namun tidak menurunkan resiko jatuh. Bagaimana pun intervensi lingkungan merupakan bagian dari program multifaktorial, keamanan lingkungan difikirkan berpengaruh menurunkan resiko yang paling mudah dilakukan (Nnodim JO, Alexander NB, 2005). Pemakaian alas kaki Berjalan dengan menggunakan kaus kaki sebaiknya dicegah. Sepatu harus sesuai dengan ukuran kaki, kuat, dan mempunyai bentuk yang baik dengan sol yang tidak licin, dan hak yang rendah. Alas kaki dengan tali sepatu sering menyebabkan slip. Sepatu olahraga kurang menyebabkan jatuh pada orang tua (Nnodim JO, Alexander NB, 2005). Intervensi pendidikan/pengetahuan yang berhubungan jatuh Data-data intervensi ini sedikit tersedia. Satu penelitian acak terkontrol yang dilakukan oleh Reinsch dan kawan-kawan yang mengikutkan 230 lansia yang hidup di masyarakat membandingkan tentang peningkatan pengetahuan tentang jatuh yang dilakukan seminggu sekali dengan peningkatan pengetahuan kesehatan yang tidak ada hubungan dengan jatuh. Kedua intervensi ini setelah diikuti selama 1 juta tahun mendapatkan bahwa pengetahuan tentang jatuh saja tidak memberikan pengaruh terhadap angka kejadian jatuh (Fink HA, Wyman JF, Hanlon JT, 2003). 13. Pencegahan

Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan. Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan ini, antara lain : (Tinetti, 1992; Van-der-Cammen, 1991; Reuben, 1996), Identifikasi faktor resiko Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk

mencariadanya faktor intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan asessment keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/menyebabkan jatuh. Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga sudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding. Banyak obat-obatan yang berperan terhadap jatuh. Mekanisme tersering termasuk sedasi, hipotensi ortostatic, efek ekstrapiramidal, miopati dan gangguan adaptasi visual pada penerangan yang redup. Obat-obatan yang menyebabkan sedasi diantaranya golongan benzodiasepin (Diazepam, chlordiazepoxide, flurozepam, desmethydiazepam, oxazepam, lorazepam, nitrazepam, triazolam, alprazolam), antihistamin bersifat sedatif, narkotik analgesik, trisiklik antidepresan (Amitryptiline, Imipramine), SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) misalnya fluoxetine, setraline, antipsikotik, antikonvulsan dan etanol (Trevor AJ, Way WL, 2002). Obat-obat yang menyebabkan hipotensi orthostatic efek seperti antihipertensi, misalnya antiangina, obat antiparkinson, trisiklik antidepresan dan anti psikotik. Obat-obat yang menyebabkan ekstrapiramidal metokloperamide, anyipsikotik, SSRI. Obat-obatan yang menyebabkan miopati misalnya

kortikosteroid, colchisine,

statin dosis

tinggi

terutama apabila

dikombinasi dengan fibrat, interferon. Obat yang menyebabkan miosis seperti pilocarpine untuk pengobatan glaukoma. Dosis, waktu pemberian, dan ketaatan minum obat juga mempengaruhi terjadinya jatuh. Pasien dengan obat yang banyak/polifarmasi rentan pula mempengaruhi keseimbangan (Hile ES, Studenski SA, 2007). Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripoid, kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia. Penilaian cara berjalan (GAIT) dan keseimbangan - Penilaian pola berjalan secara klinis Salah satu bentuk aplikasi fungsional dari gerak tubuh adalah pola jalan. Keseimbangan, kekuatan dan flesibilitas diperlukan untuk mempertahankan postur yang baik. Ketiga elemen itu merupakan dasar untuk mewujudkan pola jalan yang baik pada setiap individu. Pola jalan yang normal dibagi 2 fase yaitu:

Fase pijakan (stance phase) Fase ini adalah fase dimana kaki bersentuhan dengan pijakan. Fase ini 60 persen dari durasi berjalan yang dibagi menjadi 3 yaitu:

Heel stroke yaitu saat tumit salah satu kaki menyentuh


pijakan.

Mid stance yaitu saat kaki menyentuh pijakan. Push off yaitu saat kaki meninggalkan pijakan. Fase dimana kaki tidak menyentuh pijakan (swing phase)
Fase ini 40 persen dari durasi berjalan yang dibagi menjadi 3 yaitu:

Acceleration yaitu saar kaki ada di depan tubuh. Swing through yaitu saat kaki berayun ke depan. Deselerasi yaitu saat kaki kembali bersentuhan dengan
pijakan.

Dalam pola jalan lansia ada beberaa perubahan yang mungkin terjadi, diantaranya sebagai berikut: Sedikit ada rigiditas pada anggota gerak terutama anggota gerak atas dari anggota gerak bawah. Rigiditas akan hilang apabila tubuh bergerak. Gerakan otomatis menurun, amplitudo dan kecepatan berkurang seperti hilangnya ayunan tangan saat berjalan. Hilangnya kemampuan untuk memanfaatkan gravitasi sehingga kerja otot meningkat. Hilangnya ketepatan dan kecepatan otot, khususnya otot penggerak sendi panggul. Langkah lebih pendek agar merasa lenih aman. Penurunan perbandingan antara fase mengayun terhadap fase menumpu. Penurunan rotasi badan terjadi karena efek sekunder kekakuan sendi. Penurunan ayunan tungkai saat fase mengayun Penurunan sudut antara tumit dan lantai Penurunan irama jalan Penurunan rotasi gelang bahu dan panggul Penurunan kecepatan ayunan lengan dan tungkai - Penilaian keseimbangan Pemeriksaan keseimbangan seharusnya dilakukan saat berdiri secara statis dan dinamik, termasuk pemeriksaan kemampuan untuk bertahan terhadap ancaman baik internal maupun eksternal. Pemeriksaan statis termasuk lebar cara berdiri sendiri dan cara berdiri sempit dengan kedua kaki yang nyaman tanpa dukungan ekstremitas atas, diikuti oleh berdiri dengan mata tertutup untuk menghilangkan pengaruh visual untuk penderita gangguan keseimbangan. Penghilang input visual saat berdiri dengan kaki menyempit (Tes Romberg) membutuhkan informasi somatosensorik dan vestibuler, sehingga meningkatnya goyangan menandakan adanya masalah sensori perifer vestibuler. Bagi

lansia yang dapat melakukan tes Romberg dengan baik, tes statis yang lebih sulit seperti semitandem, tandem dan satu kaki yang terangkat dapat dilakukan. Kemampuan untuk mempertahankan postur berdiri sebagai respon dari gangguan internal dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk melakukan tes pencapaian fungsionaltes dinamik respon tubuh untuk gangguan eksternal dapat dilakukan jika penderita lansia telah mampu untuk melakukan tes keseimbangan statis lebar tanpa menggunakan alat bantu atau bantuan ekstremitas atas. Tes refleks yang benar (The test of righting reflexes), pemeriksa berdiri dibelakang pasien yang diminta untuk menarik atau mendorong, dan bereaksi untuk mempertahankan tetap berdiri. Pemeriksa kemudian secara cepat mendorong pelvis pasien pada bagian belakang sambil menjaga pasien secara dekat. Kekuatan dorongan dengan amplitudo yang cukup untuk mengubah pusat massa keluar dari dasar landasan pasien. Respon yang kas, satu kaki akan berpindah ke belakang secara cepat tanpa bantuan ekstremitas atas atau bantuan pemeriksa. Respon yang abnormal disebut reaksi balok kayu/timber reaction yang mana tidak ada usaha untuk menggerakkan kaki dan diperkirakan adanya defisit sistem nervous sentral, sering bersama dengan komponen ekstrapiramidal.

Mengatur/ mengatasi faktor situasional Faktor situasional yang bersifat serangan akut/eksaserbasi akut

penyakit yang diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lingkungan lansia dapat secara dicegah periodik. dengan Faktor situasional bahaya mengusahakan perbaikan

lingkungan seperti tersebut di atas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasi pemeriksaan kondisi fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau berisiko tinggi untuk

terjadinya jatuh.

Buku ajar geriatri R.Boedhi-Darmojo 14. Perspektif Islam tentang lansia adalah

Buku ajar geriatri R.Boedhi-Darmojo Daftar Pustaka

1. H Slamet Suyono, SpPD,KE. Prof. Dr. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2. Boedhi, Darmojo, R. 2009. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ) edisi ke-4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 3. Adelman,M,Alan.Daly,P,Mel.20 Common Problems In Geriatrics.2001.Mc GRAW-HILL INTERNATIONAL EDITION.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan anugerah-Nya, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan laporan diskusi Modul 3, Skenario Jatuh, pada blok Sistem Tumbuh Kembang dan Geriatri ini, yang disusun dan diajukan untuk memenuhi persayaratan pada diskusi panel Sistem Tumbuh Kembang dan Geriatri, Fakultas Kedokteran UMI. Kami menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik positif yang bersifat membangun dan saransaran dari pihak yang terkait, agar dapat kami gunakan sebagai pembelajaran kami menjadi lebih baik ke depannya. Akhirnya, harapan kami semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Makassar, 15 Januari 2012

Kelompok 1B