Anda di halaman 1dari 21

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H.

ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

BAB I PENDAHULUAN

Miopia atau rabun jauh adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar akan

dibiaskan pada suatu titik didepan retina pada mata tanpa akomodasi. Akomodasi adalah kemampuan mata untuk mengubah daya bias lensa dengan kontraksi otot siliar yang menyebabkan penambahan tebal dan kecembungan lensa sehingga bayangan pada jarak yang berbeda beda akan terfokus di retina. 1,2,4,5
Prevalensi penderita miopia di Negara Amerika Serikat dan Eropa adalah sekitar 40-60% tetapi di Asia prevalensinya mencapai 70-90%, dan angka rata-ratanya meningkat di seluruh kelompok etnik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi miopia pada anak yang kedua orang tuanya menderita miopia adalah sebesar 33-60%. Pada anak yang salah satu orang tuanya menderita miopia, prevalensinya adalah 23-40%. Kebanyakan penelitian menemukan bahwa anak yang kedua orang tuanya tidak menderita miopia, hanya 6-15% yang menderita miopia. 1,6,7
Miopia dapat terjadi karena ukuran bola mata yang relatif panjang atau karena indeks bias media yang tinggi. Penyebab utamanya adalah genetik, namun faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi seperti kekurangan gizi dan vitamin, dan membaca saat bekerja dengan jarak terlalu dekat dan waktu lama dapat menyebabkan miopia. 8,9,10 Penderita miopia, keluhan utamanya adalah penglihatan kabur saat melihat jauh, tetapi jelas untuk melihat dekat. Kadang kepala terasa sakit atau mata terasa lelah misalnya saat berolah raga atau mengemudi. Terapi yang dapat diberikan adalah koreksi kacamata dengan menggunakan lensa sferis konkaf (negatif). Lensa sferis negatif ini dapat mengoreksi bayangan pada miopia dengan cara memindahkan bayangan mundur tepat ke retina. 1,2 Maksud dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas di bagian mata, serta agar lebih memahami dan mengerti tentang miopia dan cara mengoreksinya. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah kali ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun denim perbaikan makalah ini kedepannya nanti.

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

BAB II ISI

2.1.

Anatomi dan Fisiologi

Bagian dari mata yang penting dalam memfokuskan bayangan adalah kornea,lensa dan retina. Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Lensa didalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dari zat tembus cahaa berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi. Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya. 1,2

Cahaya adalah suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri dari paket-paket individual energi seperti partikel ang disebut foton yang berjalan menurut cara-caragelombang. Gelombang cahaya mengalami divergensi ke semua arah yang dari setiap titik sumber cahaya dan ketika mencapai mata harus dibelokkan kea rah dalam untuk difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan suatu bayangan akurat mengenai sumber cahaya. Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas berpindah dari satumedium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium dengan kepadatan yang berbeda.Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lain, misalnyaair dan kaca.

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

Ketika berkas suatu cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku). 3 Dua faktor berperan dalam derajat refraksi; densitas komparatif antara dua media(semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan). Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan,semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. 3 Dua struktur yang paling pentingdalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkg berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata karena perbedaan densitas antara lensa dan cairanyang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap koinstan karena kelengkugan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa dapatdisesuaikan degan mengubah kelengkugannya sesuai keperluan untuk melihat dekat atau jauhyang biasa dikenal dengan istilah akomodasi. Akomodasi meningkatkan kekuatan lensa untuk penglihatan dekat. 3

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

Cahaya harus melewati beberapa lapisan retina sebelum mencapai fotoreseptor. Fototransduksi oleh selretina mengubah rangsangan cahaya menjadi sinyal saraf. Fototransduksi yaitu mekanisme eksitasi, pada dasarnya sama untuk semua fotoreseptor. Ketika menyerap cahaya, molekul fotopigmen berdisosiasi menjadi komponen retinen danopsin, dan bagian retinennya mengalami perubahan bentuk yang mencetuskna aktivitasenzimatik opsin. Melalui serangkaian reaksi, perubahan biokimiawi pada fotopigmen yagdiinduksi oleh cahaya ini menimbulkan hiperpolarisasi potensial reseptor yang mempengaruhi pengeluaran zat perantara dari terminal sinaps fotoreseptor. 3

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

2.2. 2.2.1.

Miopia Definisi Miopia merupakan mata dengan daya lensa yang lebih kuat sehingga sinar yang sejajar atau

datang dari tak terhingga difokuskan didepan retina. Kelainan ini diperbaiki dengan lensa negatif sehingga bayangan benda tergeser ke belakang dan diatur dan tepat jatuh di retina. 4

2.2.2.

Etiologi Miopia terjadi karena bola mata tumbuh terlalu panjang saat bayi. Dikatakan pula, semakin dini

mata seseorang terkena sinar terang secara langsung maka semakin besar kemungkinan mengalami miopia. Ini karena organ mata sedang berkembang dengan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan. 5 Miopia disebabkan karena terlalu kuat pembiasan dalam sinar didalam mata untuk panjangnya bola mata akibat: Kornea terlau cembung Lensa mempunyai kecembungan yang kuat sehingga bayangan dibiaskan kuat Bola mata terlalu panjang. 2 Pada miopia, panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Dikenal beberapa jenis miopia seperti : a. Media refraktif, miopia yang terjadi akibat bertambahnya indeks bias media penglihatan, seperti pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia refraktif ini, myopia bias atau miopia indeks adalah miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa terlalu kuat. 5

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

b. Miopia aksial, myopia yang terjadi akibat memanjangnya sumbu bola mata, dibandingkan dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal. 1

Selain itu, ada beberapa faktor resiko yang mempengaruhi seseorang untuk cenderung mengalami miopia. Diantranya adalah faktor genetik, lingkungan, tingkat intelegensia, dan faktor sosial. 6 Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi miopia pada anak yang kedua orang tuanya menderita miopia adalah sebesar 33-60%. Pada anak yang salah satu orang tuanya menderita miopia, prevalensinya adalah 23-40%. Kebanyakan penelitian menemukan bahwa anak yang kedua orang tuanya tidak menderita miopia, hanya 6-15% yang menderita miopia. Perbedaan prevalensi ini menunjukkan bahwa riwayat orang tua memang berperan pada kejadian miopia bahkan pada anak pada beberapa tahun pertama sekolahnya. Pada beberapa studi crosssectional di Denmark, Israel, Amerika, dan Finlandia menunjukkan prevalensi miopia yang lebih tinggi pada individu dengan pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian lain menujukkan adanya hubungan antara miopia dengan inteligensi dan status sosioekonomi. 6 Faktor resiko yang lain yang telah diteliti mungkin berperan pada kejadian miopia dan perkembangannya yaitu prematuritas, berat badan lahir rendah (BBLR), tinggi badan, kepribadian, dan malnutrisi. Ada bukti yang kuat tentang hubungan prematuritas dan BBLR dengan miopia, tetapi belum ada bukti yang meyakinkan tentang hubungan miopia dengan tinggi badan, kepribadian, atau malnutrisi. 6

2.2.3. Klasifikasi Ada berbagai klasifikasi untuk miopia, yaitu klasifikasi berdasarkan gambaran klinis, derajat miopia, dan usia saat terkena miopia (Tabel 1) .7 Table 2.1. Classification Systems for Myopia Type of Classification Clinical Entity Classes of Myopia - Simple Myopia - Nocturnal Myopia - Pseudomyopia

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

- Degenerative myopia - Induced myopia Degree - Low myopia (<3.00 D) - Medium myopia (3.00 D-6.00 D) High myopia (>6.00 D) Age of Onset - Congenital myopia (present at birth and persisting through infancy) - Youth-onset myopia (<20 years of age) - Early adult-onset myopia (20-40 years of age) - Late adult-onset myopia (>40 years of age) Sumber: American Optometric Association, 2006 Pada mata dengan simple myopia, status refraksinya tergantung pada kekuatan optik dari kornea dan lensa kristalin, dan panjang aksial mata. Pada mata emetropik, panjang aksial dan kekuatan optik adalah berbanding terbalik. Mata dengan kekuatan optik yang lebih besar dari rata-rata dapat menjadi emetropik jika panjang aksialnya lebih pendek dari rata-rata, begitu juga mata dengan kekuatan optik yang lebih rendah jika panjang aksialnya lebih panjang dari ratarata. 7 Mata dengan simple myopia adalah mata normal yang memiliki panjang aksial yang terlalu panjang untuk kekuatan optiknya, atau kekuatan optiknya terlalu besar untuk panjang aksialnya. Simple myopia, yang merupakan tipe yang paling sering terjadi daripada tipe lainnya, biasanya kurang dari 6 dioptri (D). Pada banyak pasien biasanya kurang dari 4 atau 5 D. Astigmatisme dapat terjadi pada konjungsi dengan simple myopia. 7 Nocturnal myopia hanya terjadi pada penerangan yang kurang atau gelap. Hal ini dikarenakan meningkatnya respon akomodasi sehubungan dengan sedikitnya cahaya yang ada. 4 Pseudomyopia merupakan hasil dari peningkatan kekuatan refraksi okular akibat overstimulasi terhadap mekanisme akomodasi mata atau spasme siliar. Disebut pseudomyopia karena pasien hanya menderita miopia karena respon akomodasi yang tidak sesuai. 7
7

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

Miopia yang berat yang berhubungan dengan perubahan degeneratif pada segmen posterior mata disebut degenerative atau pathological myopia. Perubahan degeneratif dapat menyebabkan fungsi penglihatan yang abnormal, seperti perubahan lapangan pandang. Retinal detachment dan glaukoma adalah sekuele yang biasa terjadi. 7 Induced myopia adalah akibat terpapar oleh berbagai obat-obatan, kadar gula darah yang bervariasi, nuklear sklerosis pada lensa kristalin, atau kondisi ganjil lainnya. Miopia ini seringnya bersifat sementara dan reversible. 7 Menurut derajat beratnya myopia dibagi dalam: 1 a. Miopia ringan, dimana miopia lebih kecil daripada 1-3 dioptri b. Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3-6 dioptri c. Miopia berat, dimana myopia lebih besar dari 6 dioptri Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk: 1 a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa b. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa = miopia degeneratif

2.2.4. Patofisiologi Pada saat baru lahir, kebanyakan bayi memiliki mata hiperopia, namun saat pertumbuhan, mata menjadi kurang hiperopia dan pada usia 5-8 tahun menjadi emetropia. Proses untuk mencapai ukuran emetrop ini disebut emetropisasi. Pada anak dengan predisposisi berlanjut, namun mereka menderita miopia derajat rendah pada awal kehidupan. Saat mereka terpajan pada faktor miopigenik seperti kerja jarak dekat secara berlebihan yang menyebabkan bayangan buram dan tidak terfokus pada retina. Miopisasi berlanjut untuk mencapai titik fokus yang menyebabkan elongasi aksial dan menimbulkan miopia derajat sedang pada late adolescence. 8 Dua mekanisme patogenesis terhadap elongasi pada miopia yaitu : 1. a. Menurut tahanan sklera Mesodermal

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

Abnormalitas mesodermal sklera secara kualitas maupun kuantitas dapat mengakibatkan elongasi sumbu mata. Percobaan Columbre dapat membuktikan hal ini, dimana pembuangan sebagian mesenkim sklera dapat menyebabkan terjadi ektasia pada daerah ini karena adanya perubahan tekanan dinding ocular. 8 b. Ektodermal-Mesodermal Vogt awalnya memperluasnya konsep bahwa miopia adalah hasil ketidak harmonisan pertumbuhan jaringan mata dimana pertumbuhan retina yang berlebihan dengan bersamaan ketinggian perkembangan baik koroid maupun sklera menghasilkan peregangan pasif jaringan. Meski alasan Vogt pada umumnya tidak dapat diterima, telah diteliti ulang dalam hubungannya dengan miopia bahwa pertumbuhan koroid dan pembentukan sklera dibawah pengaruh epitel pigmen retina. 8

2. a.

Meningkatnya suatu kekuatan yang luas Tekanan intraokular basal Contoh klasik miopia sekunder terhadap peningkatan tekanan basal terlihat pada

glaukoma juvenil dimana bahwa peningkatan tekanan berperan besar pada peningkatan pemanjangan sumbu bola mata. 8 b. Susunan peningkatan tekanan Secara anatomis dan fisiologis sklera memberikan berbagai respon terhadap induksi deformasi. Secara konstan sklera mengalami perubahan pada stress. Kedipan kelopak mata yang sederhana dapat meningkatkan tekanan intraokular 10 mmHg, sama juga seperti konvergensi kuat dan pandangan ke lateral. Pada valsava manuver dapat meningkatkan tekanan intraokular 60 mmHg. 8

2.2.5. Manifestasi Klinis Pasien miopia akan melihat jelas bila dalam jarak pandang dekat dan melihat kabur jika pandangan jauh. Penderita miopia akan mengeluh sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Selain ittu, penderita miopia mempunyai kebiasaan mengernyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pasien myopia mempunyai pungtum remotum (titik terjauh yang masih dilihat jelas) yang dekat
9

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

sehingga mata selalu dalam keadaan konvergensi. Hal ini yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esoptropia. 1

2.2.6. Diagnosis Dalam menegakkan diagnosis miopia, harus dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa, pasien mengeluh penglihata kabur saat melihat jauh, cepat lelah saat membaca atau melihat benda dari jarak dekat. Pada pemeriksaan opthalmologis dilakukan pemeriksaan refraksi yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara subjektif dan cara objektif. Cara subjektif dilakukan dengan penggunaan optotipe dari snellen da trial lenses; dan cara objektif dengan oftalmoskopi direk dan pemeriksaan retinoskopi. 1,2 Pemeriksaan dengan optotipe Snellen dilakukan dengan jarak pemeriksa dan penderita sebesar 5-6 m, sesuai dengan jarak tak terhingga, dan pemeriksaan ini harus dilakukan dengn tenang, baik pemeriksa maupun penderita. Pada pemeriksaan terlebih dahulu ditentukan tajam penglihatan atau visus (VOD/VOS) yang dinyatakan dengan bentuk pecahan : Jarak antara penderita dengan huruf optotipe Snellen Jarak yang seharusnya dilihat oleh penderita yang normal visus Visus yang terbaik adalah 5/5, yaitu pada jarak pemeriksaan 5 m dapat terlihat huruf yang seharusnya terlihat pada jarak 5 m. Bila huruf terbesar dari optotipe Snellen tidak dapat terlihat, m a k a pemeriksaan dilakukan dengan cara meminta penderita menghitung jari pada dasar putih, pada bermacam-macam jarak. Hitung jari pada penglihatan normal terlihat pada jatak 60 m, jika penderita hanya dapat melihat pada jarak 2 m, maka visus sebesar 2/60. Apabila pada jarak terdekat pun hitung jari tidak dapat terlihat, maka pemeriksaan dilakukan dengan cara pemeriksa menggerakkan tangannya pada bermacam-macam arah dan meminta penderita mengatakan arah gerakan tersebut pada bermacam-macam jarak. Gerakan tangan pada penglihatan normal terlihat pada jarak 300 m, jika penderita hanya dapat melihat gerakan tangan pada jarak 1 m, maka visusnya 1/300. Namun apabila gerakan tangan tidak dapat terlihat pada jarak terdekat sekalipun, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan sinar/cahaya dari senter pemeriksa dan mengarahkan sinar tersebut pada mata penderita dari segala arah, dengan
10

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

salah satu mata penderita ditutup. Pada pemeriksaan ini penderita harus dapat melihat arah sinar dengan benar, apabila penderita dapat melihat sinar dan arahnya benar, maka fungsi retina bagian perifer masih baik dan dikatakan visusnya1/~ dengan proyeksi baik. Namun jika penderita hanya dapat melihat sinar dan tidak dapat menentukan arah dengan benar atau pada beberapa tempat tidak dapat terlihat maka berarti retina tidak berfungsi dengan baik dan dikatakan sebagai proyeksi buruk.Bila cahaya senter sama sekali tidak terlihat oleh penderita maka berarti t e r j a d i kerusakan dari retina secara keseluruhan dan dikatakan dengan visus 0 (nol) atau buta total. 1,2 Ketajaman penglihatan yang kurang baik dapat dikoreksi dengan menggunakan lensa sferis + (S+), sferis (S-), silindris +/- (C+/-). Pada kelainan refraksi miopia, ketajaman penglihatan dapat dikoreksi dengan menggunakan Sferis negatif terkecil yang akan memberikan ketajaman penglihatan terbaik tanpa akomodasi.

Pemeriksaan oftalmoskopi, pada kasus yang disertai dengan kelainan refraksi akan memperlihatkan gambaran fundus yang tidak jelas, terkecuali jika lensa koreksi pada

lubang penglihatan oftalmoskopi diputar. Sehingga dengan terlebih dahulu memperlihatkan keadaan refraksi pemeriksa, maka pada pemeriksaan oftalmoskopi besar lensa koreksi yang digunakan dapat menentukan macam dan besar kelainan refraksi pada penderita secara kasar. Pada penderita miopia, pada segmen anterior tampak bilik mata dalam dan pupil lebih lebar dan kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol. Pada miopia simplek, segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau disertai miopia kresen yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata mipoia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat tertutupnya sklera oleh koroid. 1,2 Pada penderita miopia patologik, segmen posterior memberikan gambaran kelainan pada badan kaca, papil saraf optik, makula dan fundus. Pada badan kaca,dapat ditemukan kekeruhan
11

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

berupa perdarahan atau degenerasi yang terlihat sebagai floaters atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca. Kadang ditemukan ablasi badan kaca yang hubungannya belum jelas diketahui dengan keadaan miopia. 1,2 Pada papil saraf optik, terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil lebih pucat meluas kearah temporal. Kresen miopia dapat keseluruh lingkaran papil sehingga seluruh lingkaran papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang tidak teratur. Pada makula, berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan perdarahan subretina pada daerah makula. Dan seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina, akibat penipisan retina ini bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus tigroid. 1,2 Retinoskopi atau yang dikenal juga dengan skiaskopi atau shadow test, merupakan suatu cara untuk menemukan kesalahan refraksi dengan metode netralisasi. Retinoskopi

memungkinkan pemeriksa secara objektif menentukan kesalahan refraktif spherosilindris, dan juga menentukan apakah astigmatisma regular dan irregular untuk menilai kekeruhan dan ketidakaturan. Prinsip retinoskopi adalah berdasarkan fakta bahwa pada saat cahaya dipantulkan dari cermin ke mata, maka arah bayangan tersebut akan berjalan melintasi pupil bergantung pada keadaan refraktif mata. 9

2.2.7. Penatalaksanaan Penderita miopia dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, kontak lensa atau melalui operasi. Terapi terbaik pada miopia adalah dengan penggunaan kacamata atau kontak lensa yang akan mengkompensasi panjangnya bola mata dan akan memfokuskan sinar yang masuk jatuh tepat di retina. 1,2,10 Menggunakan kacamata merupakan cara terapi yang sering digunakan untuk mengkoreksi miopia. Lensa konkaf yang terbuat dari kaca atau lensa plastic ditempatkan pada frame dan dipakai didepan mata. Pengobatan pasien dengan myopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal tanpa akomodasi. Penggunaan kontak lensa merupakan pilihan kedua terapi myopia. Kontak lensa merupakan lengkungan yang sangat tipis terbuat dari plastik yang dipakai langsung didepan kornea.
12

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

Bagi orang-orang yang tidak nyaman pada penggunaan kacamata atau kontak lensa dan memenuhi kriteria umur, derajat miopia dan kesehatan secara umum dapat melakukan operasi refraksi mata sebagai alternatif atau pilihan ketiga untuk mengkoreksi myopia yang dideritanya. Pada saat ini telah terdapat berbagai cara pembedahan pada miopia seperti keratotomi radial (radial keratotomy - RK), keratektomi fotorefraktif (Photorefraktive Keratectomy - PRK), dan laservasisted in situ interlamelar keratomilieusis (Lasik). 10 Lasik merupakan metode terbaru dalam operasi mata. Lasik direkomendasikan untuk myopia dengan derajat sedang sampai berat. Pada Lasik digunakan laser dan alat pemotong yang dinamakan mikrokeratome untuk memotong flap secara sirkuler pada kornea. Flap yang telah dibuat dibuka sehingga terlihat lapisan dalam kornea. Kornea diperbaiki dengan sianr laser untuk mengubah bentuk dan fokusnya, setelah itu flap ditutup kembali. 10 LASIK (Laser-in-situ-keratomielusis)

Keterangan : F : Flap kornea L : Sinar laser S : Jaringan kornea


13

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

PRK (Photo Refractive Keratectomy)

2.2.8. Prognosis Kacamata dan kontak lensa dapat mengkoreksi ( tetapi tidak selalu ) penglihatan pasien menjadi 5/5. operasi mata dapat memperbaiki kelainan mata padaorang yang memenuhi syarat. Faktor genetik yang mempengaruhi perkembangan dan derajat keparahan miopi tidak dapat diubah, tetapi kita dapat mempengaruhi faktor lingkungan sebagai sebab timbulnya miopi. Cara pencegahan yang dapat kita lakukan adalah dengan membaca di tempat yang terang, menghindari membaca pada jarak dekat, beristirahat sejenak ketika bekerja di depan komputer
14

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

atau mikroskop, nutrisi yang baik dan terapi penglihatan. Tidak ada angka kejadian berdasarkan penelitian yang menjelaskan bahwa kontak lensa atau latihan mata dapat menghentikan progresifitas dari miopi.Ketegangan mata dapat dicegah dengan menggunakan cahaya yang cukup pada saatmembaca dan bekerja, dan menggunakan kacamata atau lensa yang disarankan.Pemeriksaan secara teratur sangat penting untuk penderita degeneratif miopi karenamereka mempunyai faktor resiko untuk terjadinya ablasi retina, degenerasi retina ataumasalah lainnya. 6

2.2.9. Komplikasi Pada penderita miopia yang tidak dikoreksi dapat timbul komplikasi. Komplikasi tersebut antara lain: a. Ablasio retina Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0 D (-4,75) D sekitar 1/6662. Sedangkan pada (-5) D (-9,75) D resiko meningkat menjadi 1/1335. Lebih dari (-10) D resiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan faktor resiko pada miopia rendah tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.8

b.Vitreal Liquefaction dan Detachment Badan vitreus yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan 2% serat kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi. Hal ini berhubungan dengan hilangnya struktur normal kolagen. Pada tahap awal, penderita akan melihat bayangan-bayangan kecil (floaters). Pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan beresiko untuk terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. 8

c.

Miopic maculopaty Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler pada

mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapangan pandang berkurang. Dapat juga terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan kurangnya lapangan pandang. 8
15

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

d.

Glaukoma Resiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%,

dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stress akomodasi dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula. 8 e. Katarak Lensa pada miopia kehilangan transparansi. Bahwa pada orang dengan miopia onset katarak muncul lebih cepat. 8

f.

Strabismus esotropia Strabismus esotropia terjadi karena pada pasien miopia memiliki pungtum remotum yang

dekat sehingga mata selalu dalam atau kedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esotropia. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia. 11 2.2.10. Pencegahan Menurut Curtin (2002) ada cara untuk mencegah terjadinya miopia, yaitu dengan: 1. Mencegah kebiasaan buruk seperti: a. Biasakan anak duduk dengan posisi tegak sejak kecil. b. Memegang alat tulis dengan benar. c. Lakukan istirahat setiap 30 menit setelah melakukan kegiatan membaca atau menonton televisi. d. Batasi jam untuk membaca. e. Atur jarak membaca buku dengan tepat (kurang lebih 30 centimeter dari buku) dan gunakan penerangan yang cukup. f. Membaca dengan posisi tidur atau tengkurap bukanlah kebiasaan yang baik. 2. Beberapa penelitian melaporkan bahwa usaha untuk melatih jauh atau melihat jauh dan dekat secara bergantian dapat mencegah terjadinya miopia. 5

16

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

3. Jika ada kelainan pada mata, kenali dan perbaiki sejak awal. Jangan menunggu sampai ada gangguan mata. Jika tidak diperbaiki sejak awal, maka kelainan yang ada bisa menjadi permanen. Contohnya bila ada bayi prematur harus terus dipantau selama 4-6 minggu pertama di ruang inkubator supaya dapat mencegah tanda-tanda retinopati. 5 4. Untuk anak dengan tingkat miopia kanan dan kiri tinggi, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis mata anak supaya tidak terjadi juling. Dan selama mengikuti rehabilitasi tersebut, patuhilah setiap perintah dokter dalam mengikuti program tersebut. 5 5. Walaupun sekarang ini sudah jarang terjadi defisiensi vitamin A, ibu hamil tetap perlu memperhatikan nutrisi, termasuk pasokan vitamin A selama hamil. 5 6. Periksalah mata anak sedini mungkin jika dalam keluarga ada yang memakai kacamata. 7. Dengan mengenali keanehan, misalnya kemampuan melihat yang kurang, maka segeralah melakukan pemeriksaan. 5

17

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

BAB III KESIMPULAN Bagian dari mata yang penting dalam memfokuskan bayangan adalah kornea,lensa dan retina. Kornea adalah suatu jaringan yang transparan, jernih, di depan iris( bagian mata yang berwarna ). Lensa adalah struktur bikonveks, avaskular, tidak berwarna dan hampir transparan sempurna. Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan dan multi lapis pada dinding posterior bola mata. Cahaya yang melewati kornea akan diteruskan melalui pupil, kemudiandifokuskan oleh lensa ke bagian belakang mata, yaitu retina. Fotoreseptor pada retina mengumpulkan informasi yang ditangkap mata, kemudian mengirimkan sinyal informasi tersebut ke otak melalui saraf optik. Semua bagian tersebut harus bekerjasimultan untuk dapat melihat suatu objek.
Miopia merupakan mata dengan daya lensa yang lebih kuat sehingga sinar yang sejajar atau datang dari tak terhingga difokuskan didepan retina. Kelainan ini diperbaiki dengan lensa negatif sehingga bayangan benda tergeser ke belakang dan diatur dan tepat jatuh di retina. Miopia disebabkan karena terlalu kuat pembiasan dalam sinar didalam mata untuk panjangnya bola mata akibat, kornea terlau cembung,lensa mempunyai kecembungan yang kuat sehingga bayangan dibiaskan kuat dan bola mata terlalu panjang. Selain itu, ada beberapa faktor resiko yang

mempengaruhi seseorang untuk cenderung mengalami miopia. Diantranya adalah faktor genetik, lingkungan, tingkat intelegensia, dan faktor sosial. Dalam menegakkan diagnosis miopia, harus dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa, pasien mengeluh penglihata kabur saat melihat jauh, cepat lelah saat membaca atau melihat benda dari jarak dekat. Pada pemeriksaan opthalmologis dilakukan pemeriksaan refraksi yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara subjektif dan cara objektif. Cara subjektif dilakukan dengan penggunaan optotipe dari snellen da trial lenses; dan cara objektif dengan oftalmoskopi direk dan pemeriksaan retinoskopi. Penderita miopia dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, kontak lensa atau melalui operasi. Terapi terbaik pada miopia adalah dengan penggunaan kacamata atau kontak lensa yang akan mengkompensasi panjangnya bola mata dan akan memfokuskan sinar yang masuk jatuh tepat di retina.

18

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

Bagi orang-orang yang tidak nyaman pada penggunaan kacamata atau kontak lensa dan memenuhi kriteria umur, derajat miopia dan kesehatan secara umum dapat melakukan operasi refraksi mata sebagai alternatif atau pilihan ketiga untuk mengkoreksi myopia yang dideritanya. Pada saat ini telah terdapat berbagai cara pembedahan pada miopia seperti keratotomi radial (radial keratotomy - RK), keratektomi fotorefraktif (Photorefraktive Keratectomy - PRK), dan laservasisted in situ interlamelar keratomilieusis (Lasik).

19

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

DAFTAR PUSTAKA 1. Ilyas, Sidarta, 2009. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga cetakan ke-6. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 72-83. 2. Ilyas, Sidarta, 2006. Kelainan Refraksi dan Kacamata Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. Sherwood, Laralee. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2001 4. Mansjoer, A.2002. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ke-3 Jilid I. Media Aesculpaius. Jakarta, FK UI 5. Curtin B.J., 2002. The Myopia. Philadelphia: Harper & Row Publisher, 348-381 6. Saw, S., Katz, J., Schein, O.D., Chew, S.J., and Chan, T., 1996. Epidemiology of Myopia. In Epidemiologic Reviews Vol. 18 (2): 175-187. Available from: [Accessed 20 September

http://epirev.oxfordjournals.org/content/18/2/175.full.pdf. 2012]. 7. American Optometric Association (AOA). 2006.

OPTOMETRIC

CLINICAL

PRACTICE GUIDELINE: CARE OF THE PATIENT WITH MYOPIA. AOA Consensus Panel on Care of the Patient with Myopia, AOA Clinical Guidelines Coordinating Committee. Avaiable from: http://www.aoa.org/documents/CPG-15.pdf. [Accessed 20 September 2011]. 8. Sativa, Oriza, 2003. Tekanan Intraokular Pada Penderita Myopia Ringan dan Sedang. Bagian Ilmu Penyakit Mata Universitas Sumatra Utara. Available from:

http://drshafa.wordpress.com/2010/03/09/miopia/. [Accessed 20 September 2011]. 9. Siregar, Nurchaliza H., 2008. Retinoskopi. Medan: Departermen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 10. Myopia.http://www.emedicine.com/OPH/topik255.htm 11. Vaughan, Daniel G., Asbury, T., Riordan-Eva, P., 2007. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC.

20

PAPER DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : INDAH TRIANA S.P NIM : 070100359

21