Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengaturan tentang pangan tertuang dalam Undang-undang No.7 Tahun 1996, yang menyatakan juga bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Bank Dunia (2006) menyatakan bahwa perbaikan gizi merupakan suatu investasi yang sangat menguntungkan. Setidaknya ada tiga alasan suatu negara perlu melakukan intervensi di bidang gizi. Pertama, perbaikan gizi memiliki economic returns yang tinggi; kedua, intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi; dan ketiga, perbaikan gizi membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja, pengurangan hari sakit, dan pengurangan biaya pengobatan. Pemenuhan hak atas pangan dicerminkan pada definisi ketahanan pangan yaitu : kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Definisi ketahanan pangan ini secara luas, diartikan bahwa : (1) terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, yang diartikan dengan ketersediaan pangan dalam arti luas, mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya, yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia, (2) terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, diartikan bebas dari cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia, serta aman dari kaidah agama, (3) terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, yang diartikan bahwa pangan harus tersedia setiap saat dan merata di seluruh tanah air, (4) terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, yang diartikan pangan mudah diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau. Upaya-upaya untuk menjamin kecukupan pangan dan gizi serta kesempatan pendidikan tersebut akan mendukung komitmen pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), terutama pada sasaran-sasaran: (1) menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; (2) mencapai pendidikan dasar untuk semua; (3) menurunkan angka kematian anak; dan (4) meningkatkan kesehatan ibu pada tahun 2015. Komitmen global lain sebagai landasan
ii

pembangunan pangan dan gizi adalah: The global Strategy for Health for All 1981, The World Summit for Children 1990, The Forty-eight World Health Assembly 1995, World Food Summit 1996 dan Health for All in the Twenty-first Century 1998. Sejalan dengan sistem otonomi, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/ kota dan atau pemerintah desa sesuai kewenangannya, menjadi pelaksana fungsi-fungsi inisiator, fasilitator dan regulator atas penyelenggaraan ketahanan pangan di wilayahnya masingmasing. Selanjutnya, penyelenggaraan ketahanan pangan di daerah mengacu pada arah kebijakan, strategi, dan sasaran ketahanan pangan nasional serta pedoman, norma, standart dan kriteria yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Pembangunan ketahanan pangan secara menyeluruh di setiap sektornya akan dapat terlaksana dengan efektif manakala memiliki arah yang jelas dan terukur kinerjanya. Program program dalam rangka pembangunan ketahanan pangan harus terpadu (integrated), terukur keberhasilannya (measureable) dan berkesinambungan (sustainability). Dengan demikian setiap pelaksanaan program-program pembangunan dalam rangka ketahanan pangan dapat diarahkan dengan benar, dapat dipantau perkembangannya dan selanjutnya dapat dievaluasi keberhasilannya. Berdasarkan kenyataan ini penyusunan Kebijakan operasional ketahanan pangan (KOKP) perlu dilakukan dan dijadikan dokumen operasional yang secara terpadu menyatukan pembangunan ketahanan pangan dalam rangka mewujudkan SDM berkualitas sebagai modal sosial pembangunan bangsa dan negara. Dokumen KOKP disusun sebagai acuan pelaksanaan program ketahanan pangan bagi semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, yang memiliki tanggung jawab melakukan upaya perbaikan ketahanan pangan rumah tangga. 1.2 Tujuan 1. Mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. 2. Mengetahui aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi yang ada di masyarakat. 3. Mengetahui penyebab munculnya permasalahan gizi di Indonesia. 4. Mengetahui dampak terjadinya permasalahan gizi di Indonesia. 5. Menawarkan solusi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia.

ii

1.3 Rumusan Masalah 1. Bagaimana kebijakan pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat? 2. Bagaimana aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi yang ada di masyarakat? 3. Apa penyebab munculnya permasalah gizi di Indonesia? 4. Apa dampak terjadinya permasalahan gizi di Indonesia? 5. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia?

ii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Ketahanan Pangan Pangan adalah kebutuhan dasar manusia paling utama, karena itu pemenuhan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia (individu). Pemenuhan pangan juga sangat penting sebagai komponen dasar untuk membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas. Pangan merupakan rangkaian dari tiga komponen utama yaitu 1) ketersediaan dan stabilitas pangan (food availability and stability), 2) kemudahan memperoleh pangan (food accessibility), dan 3) pemanfaatan pangan (food utilization). Ketahanan pangan merupakan sistem terintegrasi, terdiri atas subsistem ketersediaan pangan, distribusi pangan, dan konsumsi pangan. Terwujudnya ketahanan pangan individu merupakan sinergi dari interaksi ketiga subsistem tersebut dari berbagai level (Baliwati, 2007). Ketahanan pangan merupakan salah satu isu utama upaya peningkatan status gizi masyarakat yang paling erat kaitannya dengan pembangunan pertanian. Situasi produksi pangan dalam negeri serta ekspor dan impor pangan akan menentukan ketersediaan pangan yang selanjutnya akan mempengaruhi kondisi ketahanan pangan tingkat wilayah. Sementara ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga, akan ditentukan pula oleh daya beli masyarakat terhadap pangan (Syarief, 2004). Berdasarkan UU No.7/1996 tentang pangan, dinyatakan bahwa ketahanan pangan adalah terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan mencakup ketersediaan pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, peran pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusia dan kerjasama internasional. Ketahanan pangan terwujud apabila secara umum telah terpenuhi dua aspek sekaligus. Pertama adalah tersedianya pangan yang cukup dan merata untuk seluruh penduduk. Kedua, setiap penduduk mempunyai akses fisik dan ekonomi terhadap pangan untuk memenuhi kecukupan gizi guna menjalani kehidupan yang sehat dan produktif dari hari ke hari (DKP, 2006). Kondisi ketahanan pangan suatu negara yang diukur dengan berbagai indikator, akhirnya akan bermuara pada status kesehatan dan aktifitas produktif individu rakyatnya. Dengan demikian, tidak ada suatu negara yang dapatdikatakan mempunyai status ketahanan pangan yang sempurna jika masih ada bagian masyarakatnya yang tidak mampu memenuhi
ii

kebutuahn pangan dan gizi minimal yang diperlukan untuk sehat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi. Secara relatif, tingkat ketahanan pangan suatu negara bisa ditentukan dari status gizi masyarakatnya, sehingga bisa digunakan untuk mengukur kinerja pemerintah dalam menjamin akses rakyatnya terhadap pangan. Walaupun suatu negara mamapu menjamin ketersediaan dan akses setiap warga negaranya terhadap pangan yang bermutu, aman, dan bergizi, namun bisa saja negara masih memiliki potensi kerawanan pangan, terutama dalam kaitannya dengan ketergantungan impor (Hariyadi, 2009). Ketahanan pangan mencakup tiga aspek penting yang dapat digunakan sebagai indikator ketahanan pangan, yaitu: 1) ketersediaan, yang artinya bahwa pangan tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik jumlah maupun mutunya, serta aman; 2) distribusi, dimana pasokan pangan dapat menjangkau seluruh wilayah sehingga harga stabil dan terjangkau oleh rumah tangga; 3) konsumsi, yaitu setiap rumah tangga dapat mengakses pangan yang cukup dan mampu mengelola konsumsi sesuai kaidah gizi dan kesehatan, serta preferensinya (DKP 2006). Terwujudnya ketahanan pangan merupakan sinergi dan interaksi dari ketiga subsistem ketahanan pangan di atas. Secara umum, terdapat empat aspek ketahanan pangan, yaitu: 1) aspek ketersediaan pangan (food availability), makanan yang cukup jumlah dan mutunya, serta aman digunakan; 2) aspek stabilitas ketersediaan/pasokan (stability of supplies), stabilitas pasokan pangan setiap waktu dan lokasi; 3) aspek konsumsi (food utilization), kemampuan tubuh manusia untuk mencerna dan melakukan metabolisme terhadap makanan yang dikonsumsi dan kecukupan asupan (intake); dan 4) aspek keterjangkauan (access to supplies), ketersediaan makanan dan kesesuaian dengan preferensi, kebiasaan, budaya, dan kepercayaan. Keempat aspek tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya (Hariyadi, 2009).

2.2 Ketersediaan Pangan Ketersediaan pangan merupakan kondisi penyediaan yang cukup makanan dan minuman yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan serta turunannya, bagi penduduk suatu wilayah dalam suatu kurun waktu tertentu. Ketersediaan pangan merupakan suatu sistem yang berjenjang, mulai dari nasional, provinsi (regional), lokal (kabupaten/kota), dan rumah tangga/individu. Ketersediaan pangan dapat diukur pada tingkat makro (nasional), meso (provinsi, kabupaten/kota) maupun tingkat mikro (rumah tangga) (Baliwati & Roosita 2004). Ketersediaan pangan di suatu wilayah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh penduduk. Ketersediaan pangan harus dipertahankan sama atau lebih besar daripada kebutuhan penduduk. Jika
ii

keadaan ini tercapai maka ketahanan pangan (food security) akan berada pada tingkat yang aman. Ketersediaan pangan (food availibility) di suatu daerah atau wilayah ditentukan oleh berbagai faktor seperti keragaan produksi pangan, tingkat kerusakan dan kehilangan pangan karena penanganan yang kurang tepat, dan tingkat ekspor/impor pangan (Mahfi 2009). Ketersediaan pangan didefinisikan sebagai rata-rata konsumsi energi, protein, dan zat gizi lainnya per kapita per hari, yang diperoleh dari konsumsi bahan makanan keluarga tiap harinya, baik dalam rumah maupun diluar rumah tanpa memperhitungkan makanan yang terbuang, sisa ataupun yang diberikan kepada binatang peliharaan, yang diperoleh dengan wawancara menggunakan metode pendaftaran makanan dengan kuesioner terstruktur yang memuat daftar makanan utama (Priswanti, 2004). Subsistem ketersediaan pangan mencakup aspek produksi, cadangan serta keseimbangan antara ekspor dan impor pangan. Ketersediaan pangan harus dikelola sedemikian rupa, sehingga walaupun produksi pangan bersifat musiman, terbatas, dan tersebar antar wilayah, volume pangan yang tersedia bagi masyarakat harus cukup jumlah dan jenisnya, serta stabil penyediaannya dari waktu ke waktu (Suryana 2001). Komponen ketersediaan pangan meliputi kemampuan produksi, cadangan, maupun impor pangan setelah dikoreksi dengan ekspor dan berbagai penggunaan seperti untuk bibit, pakan, industri makanan/non pangan, dan tercecer (Baliwati & Roosita 2004). Pola konsumsi pangan penduduk suatu daerah yang meliputi jumlah dan jenis pangan biasanya berkembang dari pangan yang tersedia setempat atau yang telah ditanam di daerah tersebut untuk jangka waktu yang panjang (Suhardjo 1989). Ketersediaan pangan suatu wilayah dapat dipenuhi dari tiga sumber yaitu: produksi dalam negeri, impor pangan, dan pengelolaan cadang pangan. Impor pangan merupakan alternatif terakhir untuk mengisi kesenjangan antar produksi dan kebutuhan pangan dalam negeri (Baliwati, 2007). Bila kebutuhan akan pangan dipenuhi dari produksi sendiri, maka penghasilan dalam bentuk uang tidak begitu menentukan. Kapasitas penyediaan bahan pangan dapat dipertinggi dengan meningkatkan produksi pangan sendiri. Namun sebaiknya, jika kebutuhan pangan banyak tergantung pada apa yang dibelinya, maka penghasilan (daya beli) harus sanggup membeli bahan makanan yang mencukupi baik kuantitas maupun kualitas (Suhardjo 1989). Dalam penelitian Suhardjo (1989), ketersediaan Indonesia meningkat secara makro pada tahun 1993-1996 (2899 kkal menjadi 3208 kkal), namun setelah terjadi bencana kekeringan yang disusul krisis moneter, maka ketersediaan tersebut mengalami penurunan drastis. Tercatat beberapa daerah di Indonesia mengalami kekurangan pangan. Daerah-daerah yang

ii

rawan mengalami kekurangan pangan adalah daerah-daerah yang secara geografis terisolir atau daerah dengan potensi alam yang rendah.

2.3 Kecukupan Pangan Kecukupan pangan manusia dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, kecukupan pangan umumnya dilihat dari kandungan energi pangan, sedangkan secara kualitatif dapat diperkirakan dari besarnya sumbangan protein terhadap nilai energi yang disebut sebagai Rasio Protein-Enegi (R-PE). Jadi dengan demikian, jika kecukupan akan energi dan protein terpenuhi, maka kecukupan zat-zat gizi lainnya pada umumnya sudah terpenuhi atau sekurang-kurangnya tidak terlalu sukar untuk memenuhinya. (Khumaidi, 1989). Penilaian situasi pangan dan gizi secara nasional maupun regional adalah suatu langkah awal dari proses perencanaan pangan dan gizi, dimana nantinya dapat dirumuskan langkah untuk menetapkan sasaran dan tujuan dari program, dan selanjutnya disusun strategi pelaksanaan program. Kemudian ditetapkan langkah-langkah pelaksanaan dari program pangan dan gizi baik secara nasional maupun regional (Manggabarani, 1995). Menurut Wardoyo 1984 dalam Manggabarani 1995, peningkatan jumlah penduduk menuntut penyediaan pangan yang cukup bagi penduduk untuk dikonsumsi, meskipun tidak selalu ada hubungan antara peningkatan produksi pangan dengan konsumsi pangan, namun menurut Soekirman 1977 dalam Manggabarani 1995, dikemukakan bahwa tidak dapat disangkal peningkatan produksi tersebut akan meningkatkan pula penyediaan energi dan protein penduduk per kapita. Aspek kecukupan pangan menjadi basis kriteria untuk menentukan status ketahanan pangan. Hal ini karena pangan adalah kebutuhan pokok bagi manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Pada mulanya kecukupan pangan hanya dinilai menurut fisik kuantitas sesuai kebutuhan untuk beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari secara sehat. Namun demikian, seiring dengan perkembangan analisis, kriteria kecukupan kemudian juga mencakup kualitas pangan sesuai kebutuhan tubuh manusia (Saliem et al, 2005). Angka Kecukupan Energi (AKE) adalah banyaknya asupan (intake) energi dari makananan bagi seseorang yang seimbang dengan pengeluarannya (expenditure) sesuai dengan susunan dan ukuran tubuh, tingkat kegiatan jasmani dalam keadaan sehat dan mampu melakukan tugas-tugas kehidupan secara ekonomi dalam jangka waktu yang lama. Angka Kecukupan Protein (AKP) adalah asupan protein makanan paling sedikit seimbang dengan

ii

hilangnnya nitrogen yang dikeluarkan oleh tubuh dalam keseimbangan energi pada tingkat kegiatan jasmani yang dilakukan (Khumaidi, 1989).

2.4 Kebijakan Kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang dibuat secara terencana dan konsisten dalam mencapai suatu tujuan. Kebijakan muncul karena terjadi silang pendapat diantara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh atau bahkan pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan itu sendiri (Wahab, 2004). Kebijakan adalah suatu peraturan yang telah dirumuskan dan disetujui untuk dilaksanakan guna mempengaruhi suatu keadaan, misalnya mempengaruhi pertumbuhan, baik besaran maupun arahnya pada masyarakat umum. Kebijakan berguna sebagai alat pemerintah untuk campur tangan dalam mempengaruhi perubahan secara sektoral dalam masyarakat termasuk didalamnya kebijakan pada sektor pertanian (Pratiwi, 2008). Bentuk-bentuk kebijakan publik yakni: 1) kebijakan publik yang bersifat makro (umum, mendasar) yaitu peraturan perundang-undangan, antara lain UUD 1945, Undangundang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-udang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Daerah; 2) kebijakan publik yang bersifat meso (menengah, penjelas pelaksanaan) yaitu berbentuk Peraturan Menteri, Surat Edaran Menteri, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, serta Peraturan Walikota serta dapat pula berbetuk Surat Keputusan Bersama (SKB) antar Menteri, Gubernur, Bupati, dan Walikota; 3) kebijakan publik yang bersifat mikro adalah kebijakan yang mengatur pelaksanaan atau implementasi dari kebijakan diatasnya. Bentuknya adalah peraturan yang dikeluarkan oleh aparat publik di bawah Menteri, Gubernur, Bupati, dan Walikota (Dwidjowijoto, 2006). Kebijakan ekspor didasarkan pada Program Perencanaan Nasional (Propenas) dan Rencana Jangka Panjang dan Menengah (RJPM) yang pelaksanaannya dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri. Kebijakan ekspor disusun dalam rangka reformasi ekonomi nasional, untuk meningkatkan daya saing, menjamin kepastiaan dan kesinambungan bahan baku industri di dalam negeri, mendukung tetap terpeliharanya kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam serta pelaksanaan perjanjian internasional (Depkominfo, 2006). Tujuan dari kebijakan impor ialah menekan jumlah dan mengurangi tingkat ketergantungan impor Indonesia. Impor dapat menjadi solusi yang tepat untuk menjaga ketahanan pangan jika dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan jumlah yang tepat.
ii

Sehingga impor tidak berakibat menekan harga domestik. Contohnya, selama ini yang terjadi justru harga beras impor beras yang mendikte harga beras dalam negeri (Pratiwi, 2008). Kebijakan impor merupakan bagian dari kebijakan perdagangan yang memagari kepentingan nasional dari berbagai pengaruh masuknya barang-barang impor negara lain. Dalam rangka memberikan kepastian usaha kepada investasi PMA/PMDN dan industri di dalam negeri, pemerintah ulang), telah melakukan langkah kebijakan deregulasi No.

(mengatur/menyusun

diantaranya

Keputusan

menteri

Keuangan

378/KMK.01/1996 (Depkominfo, 2006). Kebijakan pangan adalah suatu pernyataan tentang kerangka pikir dan arahan yang digunakan untuk menyusun program pangan guna mencapai situasi pangan dan gizi yang lebih baik (Hardinsyah&Ariani M, 2000 dalam Adicita 2008). Kebijakan ketahanan pangan adalah kebijakan yang bersifat menyelaraskan kegiatan-kegiatan yang menunjang ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan, agar setiap individu dapat mengakses pangan dan mengelola konsumsinya untuk memenuhi kecukupan gizi. Dalam hal subsistem ketersediaan pangan, kebijakan yang perlu dilakukan adalah menyelaraskan antara produksi, ekspor, impor, dan konsumsi sehingga terjadi keseimbangan sesuai dengan kebutuhannya pada wilayah yang bersangkutan, dan antar wilayah dari waktu ke waktu pada tingkat harga yang proporsional (Sukari, 2009). Ketahanan pangan selalu dikaitkan dengan stabilitas harga pangan khususnya beras, atau bahan pangan pokok utama suatu Negara. Dalam kaitan ini, ketahanan pangan sinonim dengan stabilitas harga, oleh karenanya pandangan tersebut menggunakan pendekatan stabilitas pangan untuk ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang berkelanjutan perlu dibangun dengan memperhatikan tiga aspek yaitu: 1) prinsip utama program ketahanan pangan harus didasarkan bahwa pangan merupakan hak asasi dan kebutuhan mendasar bagi manusia; 2) ketahanan pangan harus diperlakukan sebagai suatu sistem hierarki, mulai dari tingkat global sampai ketahanan pangan tingkat rumah tangga/individu; serta 3) perlunya peranan strategis dari pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab, pressure group dan adanya kebebasan pers (Simatupang 1999 dalam Sofiati 2009). Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (DKP) sebagai lembaga koordinatif telah merumuskan tujuh fokus masalah strategis menyangkut ketahanan pangan nasional. Pertama, ketersediaan pangan pokok yang harus dapat mengejar laju konsumsi akibat masih tingginya laju pertambahan penduduk. Kedua, lambatnya penganekaragaman pangan menuju gizi seimbang. Ketiga, masalah keamanan pangan. Keempat, kerawanan pangan dan gizi buruk yang sangat berkaitan erat dengan kemiskinan. Kelima, masalah alih fungsi lahan pertanian
ii

dan konservasi lahan dan air. Keenam, pengembangan infrastruktur pedesaan. Ketujuh, belum berkembangnya kelembagaan ketahanan pangan baik struktural maupun kelembagaan ketahanan pangan masyarakat (DKP, 2006). Untuk mengatasi masalah ketahanan pangan sangat diperlukan kebijakan dan langkah operasional terpadu lintas sektoral dan bahkan dengan menyertakan seluruh komponen masyarakat guna mengatasi rawan pangan, gizi buruk, dan kemiskinan. Instansi terkait harus mengarahkan kebijakannya menuju sistem ketahanan pangan yang handal. Sistem ketahanan pangan dan gizi yang handal merupakan salah satu model global dalam melaksanakan Millenium Development Goals (MDGs) (Nainggolan, 2008).

ii

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Kinerja dari masing-masing subsistem tersebut tercermin dalam hal stabilitas pasokan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, serta pemanfaatan pangan (food utilization) termasuk pengaturan menu dan distribusi pangan dalam keluarga. Kinerja dari ketiga subsistem ketahanan pangan akan terlihat pada status gizi masyarakat, yang dapat dideteksi antara lain dari status gizi anak balita (usia di bawah lima tahun). Apabila salah satu atau lebih, dari ke tiga subsistem tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi masalah kerawanan pangan yang akan berdampak peningkatan kasus gizi kurang dan/atau gizi buruk. Dalam kondisi demikian, negara atau daerah dapat dikatakan belum mampu mewujudkan ketahanan pangan. 3.1.1 Sub Sistem Ketersediaan Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Terdapat acuan kuantitatif untuk ketersediaan, yaitu Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi Widya Karya Pangan dan Gizi VIII tahun 2004, dalam satuan rata-rata perkapita perhari untuk energi sebesar 2.200 Kilo kalori dan protein 57 gram. Angka tersebut merupakan standar kebutuhan energi bagi setiap individu agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Di samping itu juga terdapat acuan untuk menilai tingkat keragaman ketersediaan pangan, yaitu Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100 sebagai PPH yang ideal. Kinerja keragaman ketersediaan pangan pada suatu waktu dapat dinilai dengan metoda PPH (suaramerdeka.com). Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber yaitu: (1) produksi dalam negeri, (2) impor pangan dan (3) pengelolaan cadangan pangan. Dengan jumlah penduduk cukup besar dan kemampuan ekonomi relatif lemah, maka kemauan untuk menjadi bangsa yang mandiri di bidang pangan harus terus diupayakan. Karena itu, bangsa Indonesia mempunyai komitmen tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangannya dari produksi dalam negeri. Impor pangan merupakan pilihan akhir, apabila terjadi kelangkaan produksi pangan dalam negeri. Hal ini sangat penting untuk menghindari ketergantungan pangan terhadap negara lain, yang dapat
ii

berdampak pada kerentanan oleh campur tangan asing baik secara ekonomi maupun politik. Hal yang perlu disadari adalah, bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi sendiri, khususnya bahan pangan pokok, juga menyangkut harkat martabat dan kelanjutan eksistensi bangsa. Impor pangan sebagai alternatif terakhir untuk mengisi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan pangan dalam negeri, diatur sedemikian rupa agar tidak merugikan kepentingan para produsen pangan di dalam negeri, yang mayoritas petani skala kecil, juga kepentingan konsumen khususnya kelompok miskin. Kedua kelompok produsen dan konsumen tersebut rentan terhadap gejolak perubahan harga yang tinggi. Cadangan pangan merupakan salah satu sumber pasokan untuk mengisi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan dalam negeri atau daerah. Stabilitas pasokan pangan dapat dijaga dengan pengelolaan cadangan yang tepat. Cadangan pangan terdiri atas cadangan pangan pemerintah dan cadangan pangan masyarakat. Cadangan pangan masyarakat meliputi rumah tangga, pedagang dan industri pengolahan. Cadangan pangan pemerintah (pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota) hanya mencakup pangan tertentu yang bersifat pokok. Untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan produksi pangan domestik diperlukan kebijakan yang kondusif, meliputi insentif untuk berproduksi secara efisien dengan pendapatan yang memadai, serta kebijakan perlindungan dari persaingan usaha yang merugikan petani. Seperti dibahas di muka, kebijakan perdagangan perlu diterapkan dengan tepat untuk melindungi kepentingan produsen maupun konsumen. 3.1.2 Subsistem Distribusi Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien, sebagai prasyarat untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu, dengan harga yang terjangkau. Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar musim menuntut kecermatan dalam mengelola sistem distribusi, sehingga pangan tersedia sepanjang waktu di seluruh wilayah. Kinerja subsistem distribusi dipengaruhi oleh kondisi prasarana dan sarana, kelembagaan dan peraturan perundangan. Sebagai negara kepulauan, selain memerlukan prasarana dan sarana distribusi darat dan antar pulau yang memadai untuk mendistribusikan pangan, juga input produksi pangan ke seluruh pelosok wilayah yang membutuhkan. Untuk itu
ii

penyediaan prasarana dan sarana distribusi pangan merupakan bagian dari fungsi fasilitasi pemerintah, yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan aspek efektivitas distribusi pangan sekaligus aspek efisiensi secara ekonomi. Biaya distribusi yang paling efisien harus menjadi acuan utama, agar tidak membebani produsen maupun konsumen secara berlebihan. Lembaga pemasaran berperan menjaga kestabilan distribusi dan harga pangan. Lembaga ini menggerakkan aliran produk pangan dari sentra-sentra produksi ke sentra-sentra konsumsi, sehingga tercapai keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Apabila lembaga pemasaran bekerja dengan baik, maka tidak akan terjadi fluktuasi harga terlalu besar pada musim panen maupun paceklik, pada saat banjir maupun sungai (sebagai jalur distribusi) mengering, ketika ombak normal maupun ombak ganas, saat normal maupun saat bencana. Peraturan-peraturan pemerintah daerah, seperti biaya retribusi dan pungutan lainnya dapat mengakibatkan biaya tinggi yang mengurangi efisiensi kinerja subsistem distribusi. Di samping itu, keamanan di sepanjang jalur distribusi, di lokasi pemasaran maupun pada proses transaksi sangat mempengaruhi besarnya biaya distribusi. Untuk itu, iklim perdagangan yang adil, khususnya dalam penentuan harga dan cara pembayaran perlu diwujudkan, sehingga tidak terjadi eksploitasi oleh salah satu pihak terhadap pihak lain (pihak yang kuat terhadap yang lemah). Dalam hal ini, penjagaan keamanan, pengaturan perdagangan yang kondusif dan penegakan hukum menjadi kunci keberhasilan kinerja subsistem distribusi. Stabilitas pasokan dan harga merupakan indikator penting yang menunjukkan kinerja subsistem distribusi. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani produsen, pengolah, pedagang hingga konsumen, sehingga berpotensi menimbulkan keresahan sosial. Oleh sebab itu hampir semua negara melakukan intervensi kebijakan untuk menjaga stabilitas harga pangan pokok yang mempengaruhi kehidupan sebagian besar masyarakat. Dalam kaitan ini Pemerintah telah menerapkan kebijakan stabilitasi harga pangan, melalui pembelian maupun penyaluran bahan pangan (beras) oleh Perum Bulog. Sistem perdagangan pangan global yang semakin terbuka dapat menjadi kendala dalam upaya stabilitasi harga pangan. Kebijakan-kebijakan subsidi domestik, subsidi ekspor dan kredit ekspor yang diterapkan oleh negara-negara eksportir telah menyebabkan harga pangan global terdistorsi dan tidak merefleksikan biaya produksi yang sebenarnya. Untuk melindungi produsen dalam negeri dari persaingan yang
ii

tidak adil, diperlukan kebijakan proteksi secara selektif dengan perhitungan yang cermat. 3.1.3 Subsistem Konsumsi Subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan, Di samping juga efisiensi untuk mencegah pemborosan. Subsistem konsumsi juga mengarahkan agar pemanfaatan pangan dalam tubuh (food utility) dapat optimal, dengan peningkatan kesadaran atas pentingnya pola konsumsi beragam dengan gizi seimbang mencakup energi, protein, vitamin dan mineral, pemeliharaan sanitasi dan higiene serta pencegahan penyakit infeksi dalam lingkungan rumah tangga. Hal ini dilakukan melalui pendidikan dan penyadaran masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemauan menerapkan kaidah kaidah tersebut dalam pengelolaan konsumsi. Kinerja subsistem konsumsi tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. Pola konsumsi dalam rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kondisi ekonomi, sosial dan budaya setempat. Untuk itu, penanaman kesadaran pola konsumsi yang sehat perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan formal dan non-formal. Dengan kesadaran gizi yang baik, masyarakat dapat menentukan pilihan pangan sesuai kemampuannya dengan tetap memperhatikan kuantitas, kualitas, keragaman dan keseimbangan gizi. Dengan kesadaran gizi yang baik, masyarakat dapat meninggalkan kebiasaan serta budaya konsumsi yang kurang sesuai dengan kaidah gizi dan kesehatan. Kesadaran yang baik ini lebih menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi masing-masing anggota keluarga sesuai dengan tingkatan usia dan aktivitasnya. Acuan kuantitatif untuk konsumsi pangan adalah Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) ke-VIII tahun 2004, dalam satuan rata-rata per kapita perhari, untuk energi 2.000 Kilo kalori dan protein 52 gram. Acuan untuk menilai tingkat keragaman konsusi pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100 sebagai pola yang ideal. Kinerja keragaman konsumsi pangan pada suatu waktu untuk komunitas tertentu dapat dinilai dengan metoda PPH (suaramerdeka.com). Dalam kondisi kegagalan berfungsinya salah satu subsistem di atas, maka pemerintah perlu melakukan tindakan intervensi. Berbagai macam intervensi yang dapat dilakukan adalah: (a) pada subsistem ketersediaan berupa bantuan/subsidi
ii

saprodi, kebijakan harga pangan, kebijakan impor/ekspor, kebijakan cadangan pangan pemerintah; (b) pada subsistem distribusi berupa penyaluran pangan bersubsidi, penyaluran pangan untuk keadaan darurat dan operasi pasar untuk pengendalian harga pangan; dan (c) pada subsistem konsumsi dapat dilakukan pemberian makanan tambahan untuk kelompok rawan pangan/gizi buruk, pemberian bantuan tunai untuk meningkatkan kemampuan mengakses pangan.

3.2 Kebijakan Pemerintah Terkait Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masayarakat Permasalaha pemenuhan kebutuhan gizi sudah muncul sejak puluhan tahun yang lalu. Oleh karena itu, sudah ada beberapa upaya dari pemerintah yang diharapkan dapat mengurangi atau bahkan menyelesaikan permasalahan gizi. Upaya pemerintah tersebut diantaranya dituangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi. Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan kepada warganegaranya agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin. Amanat tersebut antara lain tersurat pada Pasal 28 A, Ayat 1 UUD 1945 Amandemen ke dua yang menyebutkan Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal 34 menjamin hak warganegara atas perlindungan dari diskriminasi. Undang-Undang (UU) No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia pasal 9 ayat 1 menyebutkan Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. Walaupun secara eksplisit hak atas pangan tidak disebutkan, kedua ayat tersebut secara implisit memuat perintah kepada penyelenggara negara untuk menjamin kecukupan pangan dalam rangka memenuhi hak azasi pangan setiap warganya dan menyatakan pentingnya pangan sebagai salah satu komponen utama dalam mencapai kehidupan sejahtera lahir dan batin. Undang-Undang yang secara eksplisit menyatakan kewajiban mewujudkan ketahanan pangan adalah UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. UU tersebut menjelaskan konsep ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan. UU tersebut telah dijabarkan dalam beberapa Peraturan Pemerintah (PP) antara lain: (i) PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan yang mengatur tentang Ketahanan Pangan yang mencakup ketersediaan
ii

pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, peran pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat, pengembangan sumberdaya manusia dan kerjasama internasional; (ii) PP Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan yang mengatur pembinaan dan pengawasan di bidang label dan iklan pangan untuk menciptakan perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; dan (iii) PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan, yang mengatur tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, pemasukan dan pengeluaran pangan ke wilayah Indonesia, pengawasan dan pembinaan, serta peranserta masyarakat mengenai hal-hal di bidang mutu dan gizi pangan.

3.3 Fakta Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat Dengan banyaknya kebijakan terkait pemenuhan kebutuhan gizi yang dibuat, memang sangat ironis jika di negara sebesar dan sesubur Indonesia masih terjadi kekurangan gizi pada rakyatnya. Jika permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi masih banyak terjadi, maka perlu dipertanyakan kembali perihal kebijaksanaan pemenuhan kebutuhan gizi beserta

aplikasi/pelaksanaannya. Nampaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi ketahanan pangan Indonesi sedang terpuruk. Ketahanan pangan nasional tercapai manakala kebutuhan pangan setiap rumah tangga mampu dipenuhi, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau sesuai yang diamanatkan pada UU No. 7/1996. Beranjak dari definisi tersebut, nampaknya masih sangat berbeda jauh dengan kondisi riil di Indonesia saat ini. Hal tersebut tercermin dari banyaknya kasus gizi buruk yang dialami oleh rakyat terutama balita. Masalah gizi buruk akhir-akhir ini mulai mencuat kembali, apalagi setelah ditemukannya beberapa korban meninggal akibat gizi buruk. Di akhir Pebruari, 2008 media massa dihebohkan dengan meninggalnya Dg Basse (35 th) penduduk kota Makassar bersama bayi berusia tujuh bulan yang dikandungnya. Kematian mereka dinyatakan akibat gizi buruk (dehidrasi akut) (kompas.com). Selain kasus tersebut, penyakit busung lapar juga banyak ditemukan di beberapa daerah atau kota seperti Lombok, NTB, NTT, Majene Sulawesi Barat, Serang Banten, Papua dan bahkan di Ibu Kota Negara Jakarta juga tidak ketinggalan. Mungkin saja masih banyak kasus busung lapar yang terjadi di penjuru negeri ini yang belum tercium pemberitaan. Artinya, masalah gizi telah terjadi secara bersamaan dan dalam skala luas di segenap penjuru nusantara, seperti terjadi di tahun 80-an (kompas.com).
ii

Sebenarnya fenomena masalah gizi yang terjadi di masyarakat dapat diumpamakan sebagai fenomena gunung es. Jika kasus busung lapar sudah ditemukan di masyarakat dalam jumlah hanya sekitar 10 orang, maka sesungguhnya telah tersimpan kurang energi protein (KEP) kategori ringansedang dalam jumlah yang banyak. Busung lapar adalah istilah yang diberikan oleh masyarakat dan sebenarnya tergolong masalah gizi KEP kategori berat. KEP merupakan masalah gizi yang paling mudah dan cepat terjadi di masyarakat bilamana mereka itu sedang mengalami ketidakseimbangan konsumsi zat-zat gizi sehari. Golongan masyarakat yang peling rawan menderita KEP adalah bayi dan anak usia bawah lima tahun (balita). Karena pada usia ini anak sudah mulai memasuki masa penyapihan, sementnara tidak diikuti pemberian makanan tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Menilik catatan-catatan berita tentang busung lapar di NTT di tahun 2005 menggambarkan betapa parahnya kasus ini. ampung Pos (14/06/05) memberitakan bahwa dalam kurun waktu lima bulan ada 20 orang yang meninggal akibat kelaparan di NTT. Yang mengenaskan, tujuh di antaranya sudah meninggal dunia pada saat mendapat perwatan di RSU dan 10 pasien busung lapar lainnya meninggal dunia di di panti-panti perawatan milik Care International. Di TTS sendiri hasil survai mencatat ada sekitar 26 balita menderita busung lapar, sementara 2.257 anak lainnya mengalami gizi buruk saat itu. Sementara itu pelacakan terhadap 2.000 anak balita di Kabupaten Timor Tengah Utara, 400 di antaranya mengalami status gizi buruk. Juga di Alor, dari 400 anak balita yang disurvai, 20 persen mengalami gizi kronis yang mengarah pada marasmus (Kompas, 27/5/2005). Menurut catatan Dinas Kesehatan NTT, di propinsi itu anak yang mengalami gangguan gizi buruk akut dan kronis hingga busung lapar mencapai 66.685 orang (Kompas, 07/06/05). Gizi buruk dan kasus busung lapar di Nusa Tenggara Timur telah menambah potret buram generasi penerus bangsa. Betapa mengenaskan nasib anak-anak kita. Kasus busung lapar tidak hanya melanda NTT. Paling sedikit 23,63 juta penduduk Indonesia terancam kelaparan saat itu. Busung lapar juga melanda daerah lainnya seperti di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat yang tergolong daerah lumbung beras di Indonesia. Yang juga patut disimak, kasus gizi buruk pada balita juga ditemukan di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan angka 8455 balita menderita gizi buruk (Kompas, 10/06/05). Mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00. Seharusnya gizi buruk, busung lapar atau kelaparan di NTT, bukan sesuatu muncul secara tiba-tiba dan kemudian disebut sebagai suatu "Kejadian Luar Biasa". Terlepas dari definisi ilmu epidemiologi, jika melihat beberapa indikator indeks pembangunan manusia
ii

(IPM) di NTT, maka kasus-kasus ini harusnya sudah bisa diprediksikan. Secara nasional, tingkat kesejahteraan NTT hanya menempatiposisi 24 dari 30 propinsi. Data juga menunjukkan bahwa presentasi penduduk miskin di NTT mencapai 28.62 % (2003) itu pun kalau data itu benar - bisa jadi lebih dari angka yang dipaparkan. Menurut Data dan Informasi Kemiskinan, tahun 2003, BPS Jakarta, Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) NTT dengan jumlah penduduk miskin 28,62 persen (1.166 juta jiwa). Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka adalah 3,94 persen, sedangkan pengangguran terselubung 58,38 persen. (Kompas, 05/06/2005).

3.4 Penyebab Terjadinya Permasalahan Pemenuhan Gizi 3.4.1 Kebijakan Pemerintah Terkait Pengadaan Bahan Pangan Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah terkait pengadaan bahan pangan tentu mempunyai andil yang cukup besar terhadap keberadaan bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat berikut harganya. Pemerintah berwewenang mengambil kebijakan untuk impor atau ekspor bahan pangan. Selama ini pemerintah masih banyak mengimpor bahan pangan untuk memenuhi kekurangan bahan pangan dari dalam negeri. Namun impor bahan pangan yang tidak dikendalikan, dapat memperparah keterpurukan ekonomi Indonesia, karena hal tersebut dapat membunuh sektor pertanian yang seharusnya menjadi andalan bangsa ini. Kebijakan pemerintah yang berperan dalam pengadaan bahan pangan tidak hanya mengenai impor, namun juga kebijakan-kebijakan sebagai wujud perhatian kepada para petani. Kebijakankebijakan tersebut meliputi kebijakan sebelum tanam, masa pemeliharaan dan pascapanen. Kebijakan yang diharapkan petani untuk dapat menunjang

perekonomiannya antara lain harga pupuk yang tidak mahal (terjangkau), harga gabah/beras yang tinggi. Dengan demikian sedikit demi sedikit perekonomian petani sebagai pengelola langsung sektor agraris yang sangat vital akan terangkat. 3.4.2 Kurangnya Sosialisasi Program Peningkatan Kesejahteraan Tidak dapat dipungkiri pada dasarnya ada beberapa usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Namun jika ditilik lebih jauh nampaknya pelaksanaannya masih membutuhkan berbagai perbaikan, diantaranya mengenai sosialisasi. Sebagus apapun program yang ditawarkan, jika sosialisasinya gagal maka percuma saja. Untuk program-program peningkatan kesejahteraan, misalnya bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan kepada masyarakat berkategori miskin hendaknya merata dengan sosialisasi yang baik.
ii

3.5 Dampak Permasalah Pemenuhan Kebutuhan Gizi 3.5.1 Lost Generation Dampak tidak langsung adanya permasalahan pemenuhan gizi atau dalam hal ini gizi buruk, adalah Lost Generation atau generasi yang hilang. Suatu masyarakat yang berkembang dalam keadaan kurang gizi akan melahirkan generasi yang tidak berkualitas. Anak yang lahir dalam kondisi kurang gizi akan menjadi anak yang lemah, rentan penyakit dan yang paling parah adalah IQ yang rendah. Dapat dibayangkan jika di suatu negara terjadi endemik kasus gizi buruk maka anak-anak yang dilahirkan yang notabene adalah generasi penerus bangsa akan menjadi generasi yang lemah, rentan penyakit dan tingkat intelegensi yang rendah. Jika generasi yang diharapkan untuk meneruskan perkembangan bangsa adalah generasi yang tidak berkualitas, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di negara tersebut telah kehilangan generasi atau lebih dikenal dengan Lost Generation. 3.5.2 Kematian Dampak yang paling fatal dari adanya permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi adalah kematian. Dewasa ini telah begitu banyak kematian warga yang didiagnosa akibat kurang gizi akut. Kematian terjadi karena tubuh tidak lagi mampu mentolelir kekurangan zat-zat gizi yang diperlukan, artinya kekurangan gizi tersebut sudah benar-benar parah.

3.6 Upaya Mengurangi Permasalah Pemenuhan Kebutuhan Gizi 3.6.1 Penerapan sistem agrobisnis Ketahanan nasional tercapai manakala rakyat mampu memenuhi kebutuhan pangan setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau (UU No 7/1996). Beranjak dari definisi ini dan dengan mempertimbangkan segenap potensi serta permasalahan yang ada, sedikitnya sepuluh agenda harus kita laksanakan uuntuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

a. Peningkatan Produksi Bahan Pangan Secara Efisien dan Berkelanjutan Kecuali gandum, semua jenis bahan pangan dapat kita produksi di tanah Indonesia. Oleh sebab itu, bahan pangan yang bisa diproduksi sendiri tidak usah diimpor lagi. Konversi lahan pertanian produktif harus diakhiri untuk kawasan
ii

industri, permukiman, dan lainnya. Petani harus diberdayakan agar mampu menguasai dan menerapkan teknologi budi daya pertanian. Pemerintah wajib membantu para petani, peternak, dan pembudi daya ikan agar mampu berusaha sesuai daya kapasitas yang dimilikinya. b. Pengembangan Program Diversifikasi Pangan Sejak 1987 ketergantugan kita pada beras dan terigu sangat besar, 62% dari total asupan makanan harian. Padahal yang baik menurut ilmu gizi adalah jumlah maksimum bahan pangan dari serelia adalah 50%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bangsa indonesia merupakan konsumen beras tertinggi di dunia yaitu 139 kg/kapita/tahun, jauh melampaui bangsa Jepang (60 kg), Malaysia (80 kg), Thailand (90 kg), dan rata-rata dunia (60 kg). Tingginya konsumsi beras mengakibatkan 31 juta ton beras yang kita hasilkan setiap tahun tidak mencukupi kebutuhan nasional. Hal inilah yang dijadikan dalih oleh para komprador untuk terus mengimpor beras. Oleh sebab itu, mulai sekarang kita harus secara serius dan kontinyu mengurangi konsumsi beras sampai tingkat ideal, yakni 87 kg beras/kapita/tahun. Secara simultan kita lakukan diversifikasi pangan seperti ubi kayu, ubi jalar, sagu, kentang, ganyong, garut, dan jagung. Agar pangan nonberas tersebut mudah didapat dan praktis, maka harus kita proses menjadi tepung. Dalam sektor pengonsumsian daging sapi, karena dirasa memang kurang dan memerlukan waktu yang lama untuk memproduksinya, kita dapat mengurangi impor sapi dengan meningkatkan konsumsi ikan yang stoknya masih sangat besar terutama dari perikanan budi daya yaitu lebih dari 50 juta ton/tahun dan baru dimanfaatkan sekitar 7 juta ton/tahun. c. Pengembangan Industri Pascapanen Pengembangan industri pasca panen yang mencakup penanganan dan pengolahan hasil pertanian serta pengemasannya. Industri ini dapat mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian. Penerapan teknologi pascapanen juga membuat produk pertanian dapat disimpan dalam waktu lama serta mudah ditransportasikan ke seluruh pelosok tanah air dan mancanegara.

d. Pengembangan Prasarana dan Sarana Transportasi serta Komunikasi Hal ini dimaksudkan untuk mendistribusikan produk pertanian dari sentra produksi ke daerah konsumen (pasar) di seluruh pelosok nusantara maupun ke pelabuhan-pelabuhan ekspor secara efisien. Selain dapat mendongkrak produktivitas,
ii

efisiensi, dan daya saing produk pertanian, sistem transportasi dan komunikasi yang bagus juga menjamin seluruh warga negara dapat mengakses bahan pangan di mana pun mereka berada. e. Pengembangan Industri Peralatan dan Mesin Pertanian Beserta Industri Penunjangnya. Dengan memproduksi peralatan dan mesin pertanian (seperti traktor, kincir air tambak, alat penangkapan ikan, mesin pabrik penggilingan padi, pengolahan cokelat, pengolah CPO menjadi belasan produk hilir, dan mesin cold storage) di dalam negeri. Tentu produksi pangan dan hasil pertanian lainnya akan lebih besar, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan. f. Pengembangan Sistem Informasi Pertanian secara Terpadu Pengembangan sistem informasi pertanian secara terpadu sebagai basis untuk proses perencanaan, pengambilan keputusan, pemantauan, dan pengendalian keseluruhan mata rantai dan proses pembangunan pertanian. g. Penguatan Program Penelitian dan Pengembangan (Research &

Development) Penguatan program penelitian dan pengembangan (research & development) untuk menghasilkan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Peran pemerintah dan para peneliti sangat diperlukan. h. Pengembangan Kerja Sama Internasional di Berbagai Bidang Pengembangan kerja sama internasional di bidang IPTEK, pembangunan, perdagangan, dan lainnya yang saling menguntungkan serta mengutamakan kepentingan nasional. i. Pengembangan SDM Pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan secara terpadu dan berkesinambungan. j. Penyediaan permodalan yang cukup Penyediaan permodalan yang mencukupi dan atraktif untuk investasi dan bisnis di sektor pertanian baik melalui perbankan maupun lembaga nonperbankan. Dengan mengimplementasikan agenda pembangunan di atas melalui pendekatan sistem agrobisnis terpadu, diyakini bukan hanya ketahanan pangan yang bakal terwujud, tetapi juga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis bioteknologi dan agroindustri yang mampu menyediakan lapangan kerja dalam jumlah besar dan
ii

menyejahterakan rakyat di seluruh wilayah Nusantara. Lebih dari itu, sebagai negara dengan kekayaan biodiversity tertinggi di dunia, asalkan kita konsisten menciptakan iklim usaha, kepastian hukum, dan kebijakan politik-ekonomi (seperti fiskal-moneter, perdagangan, dan otonomi daerah) yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya sektor pertanian (SDA hayati) secara luas, niscaya kita juga dapat berswasembada bioenergi dan sekaligus menjadi eksportir produk-produk industri SDA hayati dan bioteknologi terbesar di dunia. 3.6.2 Penggalakan Program Kesehatan Dari berbagai permasalahan yang ada, rupanya penyuluhan merupakan upaya yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Peyuluhan sangat penting dilakukan sebagai upaya sosialisasi program-program yang telah direncanakan oleh pemerintah. Programprogram untuk meningkatkan gizi perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka mengerti dan paham akan pentingnya gizi dalam makanan yang mereka makan sehari-hari. Program-program pemerintah yang sudah pernah dilakukan antara lain posyandu dan PKK, PMT bayi dan anak balita, Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, Usaha Perbaikan Gizi Institusi, Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi. Program-program tersebut cukup strategis dalam mengatasi masalah gizi di Indonesia. Oleh karena itu sangat disayangkan jika program yang telah disusun dengan sedemikan rupa namun penggalakannya kurang sehingga tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. Dewasa ini program yang masih dikenal masyarakat adalah posyandu, yang sudah jarang terlihat aktivitasnya padahal telah terbukti posyandu dapat memonitor dan menjadi dasar evaluasi perbaikan gizi masyarakat. Oleh karena itu peningkatan peran posyandu harus terus dimaksimalkan mengingat fungsinya yang sangat vital. Sebagai alat monitor dan sarana evaluasi, posyandu memiliki mekanisme pencapaian sasaran melalui sistem SKDN. S berarti semua anak balita yang ada di wilayah kerja Posyandu, K berarti semua anak balita yang terdaftar di salah satu kelompok posyandu. D berarti semua balita yang datang dan ditimbang berat badannya, dan N berarti semua anak balita yang ditimbang dan naik berat badannya. Oleh karena itu penyuluhan pentingnya asupan gizi yang cukup melalui posyandu merupakan salah satu cara yang tepat dilakukan saat ini.

ii

3.6.3 Transmigrasi Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari daerah berpenduduk pada menuju daerah berpenduduk jarang/kurang. Transmigrasi diharapkan dapat mengurangi permasalahan gizi yang sangat terkait dengan kemiskinan. Dalam hal ini, transmigrasi bukan diartikan sebagai pemerataan kemiskinan. Rakyat/masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah yang merupakan masyarakat rawan kurang gizi dipindahkan ke daerah baru (yang jumlah penduduknya rendah) untuk membangun perekonomian baru yang lebih baik. Diharapkan dengan keadaan ekonomi yang lebih baik, jumlah penderita kurang gizi atau gizi buruk dapat dikurangi.

3.6.4 Kebijaksanaan yang Mendukung Sektor Agraris Salah satu faktor yang dapat diupayakan untuk dapat mengurangi permasalahan kebutuhan gizi di Indonesia adalah pembuatan kebijakan-kebijakan yang mendukung sektor agraris sebagai sektor yang dapat diadalkan bagi negara agraris seperti indonesia. Hendaknya pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung kemajuan sektor agraris sehingga dapat memotivasi para petani untuk meningkatkan usahanya. Dengan demikian sektor agraris dapat dikembangkan dan selain itu dengan kebijakan yang mendukung sektor agraris dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. Dengan meningkatnya kesejahteraan petani yang merupakan matapencaharian sebagian besar masyarakat terutama di desa, diharapkan permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi dapat di dikurangi atau bahkan diatasi.

3.7 Klasifikasi Masalah Gizi Masalah Gizi karena Pengadaan dan Distribusi Pangan : Indikator Ukuran yang dipakai
Meliputi

: Pemenuhan beras dalam negeri : Persediaan beras dalam negeri


: Masalah alih fungsi lahan pertanian dan konservasi lahan

Kerawanan Pangan Dan Gizi Buruk :

dan air, Pengembangan infrastruktur pedesaan. Ketujuh, belum berkembangnya kelembagaan ketahanan pangan baik struktural maupun kelembagaan ketahanan pangan masyarakat.

Sektor yang tepat menangani : Perum Bulog

ii

Strategi penanggulangan

: Peningkatan produksi bahan pangan secara efisien dan

berkelanjutan, pengembangan program diversifikasi pangan, Pengembangan industri pascapanen, Penegembangan prasarana dan sarana transportasi serta komunikasi, Pengembangan industri peralatan dan mesin pertanian beserta industri penunjangnya, Pengembangan sistem informasi pertanian secara terpadu, Penguatan program penelitian dan pengembangan, Pengembangan kerja sama internasional di berbagai bidang, Pengembangan SDM, Penyediaan permodalan yang cukup.

ii

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan 1. Banyak kebijakan yang telah dibuat pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, diantaranya yang paling banyak diperbincangkan adalah Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk memberikan jaminan kepada warganegaranya agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin, UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan yang menjelaskan konsep ketahanan pangan, komponen, serta para pihak yang harus berperan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Secara umum UU tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah bersama masyarakat wajib mewujudkan ketahanan pangan. 2. Aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi masih belum sesuai harapan, masih banyak warna negara yang kekurangan bahan pangan yang belum tersentuh aparat pemerintah. 3. Penyebab munculnya permasalahan gizi di Indonesia antara lain: kemiskinan bencana alam korupsi budaya Mc Donaldisasi stereotip masyarakat yang kurang mengenai pentingnya gizi kurangnya sosialisasi program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat kebijakan pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi faktor-faktor teknis lain seperti keterlambatan distribusi bahan pangan.

4. Dampak terjadinya permasalahan pemenuhan kebutuhan gizi di Indonesia yang paling buruk adalah kematian, namun selain itu gizi buruk juga menyebabkan kehilangan generasi penerus bangsa yang bisa diharapkan untuk melanjutkan tombak perjuangan bangasa atau lebih dikenal dengan istilah Lost Generation. 5. Solusi mengatasi masalah gizi di Indonesia antara lain: penerapan sistem agrobisnis penggalakan program kesehatan pelatihan kejujuran
ii

transmigrasi pelestarian budaya kerja keras kebijaksanaan pemerintah yang mendukung sektor agrobisnis.

ii

DAFTAR PUSTAKA
http://alkhanza7.multiply.com/journal/item/2?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem (diakses tanggal 18 Juni 2012) pse.litbang.deptan.go.id/ind/.../Pidato_Mentan_JATIM_09-12-06.pdf (diakses tanggal 15 Juni 2012) repository.ipb.ac.id/.../BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf?...3 (diakses tanggal 15 Juni 2012) www. suaramerdeka.com (diakses tanggal 15 Juni 2012)

ii

MAKALAH SOSIOLOGI ANTROPOLOGI PENGADAAN DAN DISTRIBUSI PANGAN


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Antropologi yang dibimbing oleh Ibu Inne Soesanti, S.Sos, S.Si, M.Kes

Oleh Kelompok 5 1. 2. 3. 4. Atiskatiwi Puput Sulviasari Retty Anisa D Sisilya Yonda Ayu P27835111005 P27835111022 P27835111026 P27835111032

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA D III JURUSAN GIZI 2011-2012


ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada dosen Sosiologi Antropologi, Ibu Inne Soesanti, S.Sos, S.Si, M.Kes atas kesempatan, bimbingan, dan pengarahan yang diberikan sehingga kami dapat membuat laporan praktikum ini dengan baik.

Makalah ini kami buat selain untuk memenuhi tugas individu Sosiologi Antropologi tetapi juga untuk memberi sedikit wawasan kepada pembaca mengenai PENGADAAN DAN DISTRIBUSI PANGAN, dan juga kami dalam mata kuliah ini .

Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun, kami harapkan demi pencapaian target yang lebih baik kedepannya. Selanjutnya, kami sangat berharap bahwa makalah ini benar-benar bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Surabaya, 20 Juni 2012

PENYUSUN

ii

DAFTAR ISI Kata Pengantar ........................................................................................................... i Daftar Isi .................................................................................................................... ii Bab I PENDAHULUAN............................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1 1.2 Tujuan .......................................................................................................... 2 1.3 Rumusan Masalah ......................................................................................... 3 Bab II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 4 2.1 Ketahanan Pangan......................................................................................... 4 2.2 Ketersediaan Pangan ..................................................................................... 5 2.3 Kecukupan Pangan ....................................................................................... 7 2.4 Kebijakan ...................................................................................................... 8 Bab III PEMBAHASAN............................................................................................ 11 3.1 Sistem Ketahanan Pangan ............................................................................. 11 3.2 Kebijakan Pemerintah Terkait Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat ........................................................................ 15 3.3 Fakta Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Kebutuhan Gizi Masyarakat ........................................................................ 16 3.4 Penyebab Terjadinya Permasalahan Pemenuhan Gizi .................................. 18 3.5 Dampak Permasalahan Pemenuhan Kebutuhan Gizi.................................... 19 3.6 Upaya Mengurangi Permasalahan Pemenuhan Kebutuhan Gizi .................. 19 3.7 Klasifikasi Masalah Gizi............................................................................... 23 Bab IV PENUTUP ..................................................................................................... 25 4.1 Kesimpulan ................................................................................................... 25 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 27

ii

ii

ii