Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No.

ISSN 1858-4330

PENGARUH JENIS KELAMIN DAN LAMA MAKAN TERHADAP BOBOT DAN PERSENTASE KARKAS KAMBING KACANG
INFLUENCE OF SEX AND DURATION IN FEEDING TO CARCASS WEIGHT AND PERCENTAGE OF LOCAL GOAT
Padang1) dan Irmawaty2)
1) Staf Pengajar pada Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu 2) Staf Pengajar pada Jurusan Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kelamin dengan lama makan yang berbeda terhadap bobot dan persentase karkas kambing kacang. Ternak yang digunakan dalam penelitian sebanyak 15 ekor jantan dan 15 ekor betina yang berumur sekitar 10 sampai 12 bulan, dengan kisaran bobot badan awal 10,10 16,10 kg yang diperoleh dari peternak rakyat di Kota Palu dan sekitarnya. Ternak ditempatkan dalam kandang individu berukuran 75 x 75 x 75 cm. Masing-masing petak dilengkapi tempat makan dan minum. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terpisah dimana jenis kelamin (K) sebagai petak utama yaitu: kJ = kelamin jantan, dan kB = kelamin betina, sedangkan lama makan (M) sebagai anak petak, terdiri 5 taraf, yaitu: m1 = pemberian pakan selama 10 jam; m2 = pemberian pakan selama 8,5 jam; m3 = pemberian pakan selama 7 jam; m4 = pemberian pakan selama 5,5 jam; m5 = pemberian pakan selama 4 jam. Semua perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kelamin dan lama makan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot karkas dan persentase karkas. Pengaruh mandiri jenis kelamin berpengaruh sangat nyata terhadap bobot karkas dan persentase karkas, sedangkan pengaruh mandiri lama makan berpengaruh sangat nyata terhadap bobot karkas dan persentase karkas. Kata kunci : jenis kelamin, lama makan, bobot karkas dan persentase karkas. ABSTRACT The aims of this research was to identify carcass weight and percentation of local goat which sex and feeding. Animal used in this research was 15 local male and 15 female goats of 10 until 12 months old with the average of their weight around 10.10 16.10 kg which get from the people farm in Palu City and sorrounding area. That animal put in the individual stall which size 75 x 75 x 75 cm. Each compartement of individual cage complete with place of eat and drink. The research according to randomized split plot design. The animals categorized on the basis of their body weigh. The main plot consist of two sex of goats, namely kj = male goats and kb = female goats. Mean while the subplot consist of five levels duration in feeding, i.e.: m1 = duration in feeding at 10 hours; m2 = duration in feeding at 8.30 hours; m3 = duration in feeding at 7 hours; m4 = duration in feeding at 5,5 hours; m5 = duration in feeding at 4 hours. The result of reserach indicated that interaction between the kind of goats sex and duration in feeding have not significant to carcass weight and percentage. The kind of goats sex have very significant (P<0,05) to carcass weight and dressing percentage, while the effect of duration in feeding have very significant to the carcass weight and carcass percentage. Keywords : sex, duration in feeding, carcass weight and carcass percentage. 13

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

PENDAHULUAN Produktivitas kambing dapat diukur melalui pertambahan bobot badan maupun bobot dan persentase karkas yang dihasilkan. Sementara produktivitas tersebut tidak terlepas pada dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik merupakan potensi yang dimiliki oleh ternak, sedangkan faktor lingkungan adalah faktor yang sangat mempengaruhi produktivitas ternak. Faktor lingkungan yang dimaksud, antara lain adalah pakan, manajerial dan iklim (suhu dan kelembaban). Jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap performa produksi ternak. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh terhadap tenunan tubuh yang sekaligus mempengaruhi pertumbuhan maupun persentase karkas ternak. Menurut Turner dan Bagnara (1976) bahwa perbedaan pertambahan bobot badan dan persentase karkas berdasarkan jenis kelamin dipengaruhi oleh hormon. Hormon tersebut adalah somatotropin (STH, GH) yang memiliki aktivitas utama dalam pertumbuhan tulang, pertumbuhan otot, merangsang sintesa protein dan berpengaruh terhadap metabolisme lipida; triodothyopina (thyroxin) meningkatkan laju metabolik dalam tubuh; glikogen meningkatkan glukosa darah, stimulasi katabolisme protein dan lemak; androgen untuk meningkatkan perilaku kelamin jantan; estrogen berpengaruh terhadap perilaku jenis kelamin betina; glukokortikoid dapat menstimulasi sintesa karbohidrat, pemecahan protein laktogen, menstimulasi aktivitas hormon pertumbuhan dari hipofisa dan prolatin. Rauf (1988) menyatakan bahwa, peranan yang penting dari hormon pertumbuhan terletak pada stimulasi peningkatan ukuran tubuh, memacu peningkatan dan percepatan pertumbuhan. Selanjutnya, dinyatakan bahwa hormon pertumbuhan juga berpengaruh antagonistik terhadap 14

insulin di dalam otot dan tenunan adiposa. Short (1980) menyatakan bahwa hormon kelamin memberikan pengaruh yang menonjol terhadap pertambahan bobot badan ternak yang sekaligus memberikan perbedaan bobot dan persentase karkas. Hasil penelitian diperoleh bahwa, jenis kelamin jantan memiliki performa produksi (pertambahan bobot badan, konsumsi bahan kering dan efisiensi penggunaan pakan) dan status faal (suhu tubuh, respirasi dan pulsus) yang lebih tinggi dibanding ternak betina (Padang, 2005a, 2006a) Selain faktor genetik, salah satu faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi produksi ternak terutama kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi dan oleh produk akhir dari proses fermentasi rumen dan mikroorganisme rumen itu sendiri. Jumlah makanan dan mutu makanan yang baik tidak dapat merubah tubuh ternak secara genetis bertubuh kecil, tetapi pemberian makanan dalam jumlah yang rendah tidak akan mampu memberikan pertambahan bobot badan dan pertumbuhan karkas secara optimal sesuai dengan potensi genetik yang ada pada masing-masing ternak seperti kecepatan tumbuh, persentase karkas yang tinggi, hanya mungkin dapat terealisasi apabila ternak tersebut dapat memperoleh makanan yang cukup (Rismaniah, dkk., 1989). Jumlah makanan yang dikonsumsi bukan hanya tergantung pada banyaknya makanan yang diberikan, akan tetapi waktu yang digunakan oleh seekor ternak untuk mengkonsumsi juga perlu mendapat perhatian, karena walapun makanan yang diberikan dalam jumlah banyak akan tetapi waktu untuk mengkonsumsi terbatas secara otomatis ternak hanya memperoleh makanan dalam jumlah terbatas. Olehnya itu, pemberian kesempatan kepada ternak untuk makan perlu mendapat perhatian. Kenyataan di lapangan menunjukkan

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

bahwa performa produksi kambing lokal Palu secara keseluruhan belum menampakkan performa yang optimal. Hal ini disebabkan karena waktu penggembalaan yang tidak tepat dengan kondisi ternak, dimana waktu penggembalaan berbeda-beda tergantung pada kesempatan dan keadaan lingkungan, sehingga menyebabkan adanya gangguan fisiologis dan metabolis pada ternak. Ternak yang digembalakan pada pagi hari akan mengakibatkan kemalasan mengkonsumsi pakan yang disebabkan oleh masih adanya rasa kenyang, di lain pihak, ternak yang digembalakan pada sore hari ternak akan mengkonsumsi dengan lahap namun waktu penggembalaan yang terbatas akibat dari ternak harus dikembalikan ke dalam kandang karena sudah petang. Waktu yang lebih lama bagi ternak untuk mengkonsumsi pakan sangat erat hubungannya dengan jumlah makanan yang dihabiskan serta kesempatan bagi ternak untuk mencerna zat-zat makanan lebih sempurna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang lebih lama mengakibatkan kecernaan bahan kering, protein kasar serta serat kasar yang lebih tinggi dan pada akhirnya memberikan pertambahan bobot badan yang tinggi, status faali dan income over feed cost yang lebih tinggi dibanding dengan pemberian pakan dalam waktu

waktu yang singkat (Padang, 2005b, 2005c, 2005d, 2006b). BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah selama 10 minggu, yang dimulai dari tanggal 19 Mei 2005 sampai dengan tanggal 11 Agustus 2005. Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu tahap pendahuluan dan tahap pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan 15 ekor kambing kacang jantan dan 15 ekor kambing kacang betina yang berumur sekitar 10 sampai dengan 12 bulan dengan kisaran bobot badan 10,10 16,10 kg. Ternak tersebut ditempatkan dalam kandang individu dengan ukuran 75 x 75 x 75 cm sebanyak 30 petak. Masingmasing petak kandang individu dilengkapi tempat makan dan tempat minum. Ransum yang diberikan dalam penelitian ini terdiri dari konsentrat dan rumput lapangan. Rumput lapangan yang digunakan diperoleh dari padang penggembalaan atau pematang sawah, sedangkan konsentrat yang digunakan terdiri dari campuran beberapa bahan yang terdiri dari kacang kedele, dedak padi, jagung giling, dan bungkil kelapa. Kandungan gizi dan komposisi bahan penyusun konsentrat disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan gizi dan komposisi bahan penyusun konsentrat yang digunakan
Bahan Pakan Kacang Kedele Dedak padi Jagung giling Bungkil kelapa Total Protein (%)*** TDN (%)***
Keterangan :

Bahan Protein Serat Lemak TDN** Komposisi Kering* Kasar* Kasar* Kasar* --------------------------------%--------------------------------------86,00 31,58 6,02 15,43 68,45 5,00 86,00 10,55 9,10 11,98 61,79 59,50 86,00 9,78 1,54 1,51 81,73 26,00 86,00 17,28 8,78 13,10 69,41 9,50 100,00 12,04 68,03

* Laboratorium Ilmu-ilmu Pertanian Universitas Tadulako (1996) ** Hartadi dkk. (1993) *** Dihitung berdasarkan kandungan gizi dengan komposisi bahan konsentrat.

15

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan petak terpisah, dimana jenis kelamin (K) sebagai petak utama, terdiri dari dua level yaitu: kJ = Kelamin Jantan, dan kB = Kelamin Betina, sedangkan lama makan (M) sebagai anak petak terdiri atas lima level, yaitu: m1 = Pemberian pakan selama 10.00 jam; m2 = Pemberian pakan selama 8.30 jam; m3 = Pemberian pakan selama 7.00 jam; m4 = Pemberian pakan selama 5.30 jam; m5 = Pemberian pakan selama 4.00 jam. Semua perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Sebelum ternak dipotong terlebih dahulu dipuasakan selama 12 jam untuk makanan, namun air minum tersedia secara adlibitum. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi isi saluran pencernaan dan untuk menghindari pencemaran pada karkas oleh isi saluran pencernaan serta untuk mendapatkan bobot potong. Pemotongan dilakukan dengan memotong vena jugularis, oesophagus dan trachea antara tulang atlas dan tulang leher. Kepala dipisahkan dari tubuh pada sendi occipito atlantis, kaki depan pada sendi carpo metacarpal, dan kaki belakang pada sendi tarso metatarsal. Tubuh ternak digantung pada sendi belakang dekat

tendo achiles, kulit dilepas, kemudian dibuat sayatan lurus ditengah-tengah perut, dan isi rongga dada serta rongga perut dikeluarkan, kecuali ginjal kemudian karkas ditimbang (Herman, 1981). Beberapa variabel dependen (terikat) yang diamati pada penelitian ini adalah: 1. Bobot karkas; adalah bobot hidup dikurangi dengan bobot; kepala, keempat kaki bagian bawah (mulai dari carpus dan tarsus), kulit, darah dan organ dalam (hati, saluran pencernaan, jantung, saluran repoduksi, paru-paru dan limpa kecuali ginjal). 2. Persentase karkas; dihitung berdasarkan bobot karkas dibagi dengan bobot hidup dikalikan 100% dan dinyatakan dengan persen. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan Terhadap Bobot Karkas Hasil pengamatan bobot karkas kambing kacang selama penelitian tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan bobot karkas kambing kacang selama penelitian (kg) Lama Makan M1 (10.00 Jam) M2 (8.30 Jam) M3 (7.00 Jam) M4 (5.30 Jam) M5 (4.00 Jam) Rataan Jenis Kelamin Jantan Betina 9,50 10,07 9,30 9,43 9,07 9,30 9,00 9,00 8,33 8,87 9,04a 9,33b Rataan 9,78a 9,37ab 9,18b 9,00bc 8,60c

Keterangan : - Huruf yang berbeda kearah baris menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0.01). - Huruf yang berbeda kearah kolom menunjukkan berbeda nyata (P<0.05) dan berbeda sangat nyata (P<0.01).

Tabel 2 menunjukkan bahwa rataan bobot karkas kambing kacang betina lebih tinggi dibanding kambing kacang jantan, demikian pula, waktu makan ternak 16

selama 10.00 jam memberikan bobot karkas yang lebih tinggi kemudian menurun seiring dengan semakin singkatnya waktu makan ternak. Hasil

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kelamin dengan lama makan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0.05) terhadap bobot karkas kambing kacang, sedangkan perlakuan secara mandiri baik jenis kelamin maupun lama makan yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap bobot karkas kambing Kacang. Hasil uji Beda Nyata Jujur (BNJ) jenis kelamin menunjukkan bahwa kambing kacang betina mempunyai bobot karkas sangat nyata lebih tinggi dibanding kambing kacang jantan. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh hormon terhadap produktivitas ternak terutama hormon-hormon kelamin, seperti testosteron pada ternak jantan dan hormon progesteron pada ternak betina. Menurut Turner dan Bagnara (1976) bahwa perbedaan pertambahan bobot badan dan bobot karkas berdasarkan jenis kelamin dipengaruhi oleh hormon. Hormon tersebut adalah somatotropin (STH, GH) yang memiliki aktivitas utama dalam pertumbuhan tulang, pertumbuhan otot, merangsang sintesa protein dan berpengaruh terhadap metabolisme lipida; triodothyopina (thyroxin) meningkatkan laju metabolik dalam tubuh; epinerafin meningkatkan mobilitas glikogen, meningkatkan konsumsi oksigen serta denyutan jantung dan meningkatkan aliran darah dalam otot; glikogen meningkatkan glukosa darah, stimulasi katablisme protein dan lemak; androgen untuk meningkatkan perilaku kelamin jantan; estrogen berpengaruh terhadap perilaku jenis kelamin betina; glukokortikoid dapat menstimulasi sintesa karbohidrat, pemecahan protein laktogen, menstimulasi aktivitas hormon pertumbuhan dari hipofisa dan prolatin. Dickson (1970) dalam Abd. Rauf (1988) menyatakan bahwa peranan yang penting dari hormon pertumbuhan terletak pada stimulasi peningkatan ukuran tubuh, memacu

peningkatan dan percepatan pertumbuhan. Terjadinya perbedaan bobot karkas pada kambing kacang yang makan selama 10.00 jam dengan waktu makan yang lebih singkat disebabkan oleh adanya perbedaan penggunaan zat-zat makanan, dimana ternak yang diberi pakan pada waktu yang lebih lama akan memperoleh sejumlah zat-zat makanan yang lebih banyak dibanding dengan ternak yang diberi pakan dengan waktu makan yang lebih singkat. Hasil tersebut memberikan indikasi, bahwa kambing yang diberi makan selama 10.00 jam (m1) mempunyai produktivitas lebih tinggi dari pada kambing yang makan selama 7.00 jam (m3), 5.30 jam (m4) dan 4.00 jam (m5). Oleh karena ternak yang makan selama 10.00 jam lebih efektif memanfaatkan makanan karena sebelum difermentasikan dalam rumen terlebih dahulu di kunyah kembali (regurgitasi) sehingga struktur makanan yang dikonsumsi lebih halus. Menurut Cartens, dkk (1991) dalam Santoso (1996), bahwa pemberian nutrisi yang baik akan lebih tampak pengaruhnya pada jaringan karkas daripada jaringan non karkas. Hasil penelitian Padang (2007) menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kelamin dengan lama makan yang berbeda menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap bobot dan persentase komponen non karkas dapat dimakan, namun jenis kelamin secara mandiri memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot komponen non karkas yang dapat dimakan dan tidak berpengaruh nyata terhadap persentase komponen non karkas yang dapat dimakan, sedangkan pengaruh lama makan memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot dan persentase komponen non karkas kambing kacang yang dapat dimakan.

17

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Pengaruh Perlakuan Terhadap Persentase Karkas Hasil pengamatan persentase karkas

kambing kacang betina yang diberi pakan pada waktu berbeda tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan persentase karkas kambing kacang selama penelitian (%) Lama Makan M1 (10.00 Jam) M2 (8.30 Jam) M3 (7.00 Jam) M4 (5.30 Jam) M5 (4.00 Jam) Rataan Jenis Kelamin Jantan Betina 51,64 55,59 50,68 54,63 49,46 52,61 48,64 51,92 47,41 50,96 49,57a 53,14b Rataan 53,61a 52,66b 51,03c 50,28c 49,18d

Keterangan : - Huruf yang berbeda kearah baris menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0.01). - Huruf yang berbeda kearah kolom menunjukkan berbeda nyata (P<0.05) dan berbeda sangat nyata (P<0.01).

Tabel 3 menunjukkan bahwa rataan persentase karkas kambing kacang betina lebih tinggi dibanding kambing kacang jantan, demikian pula, kesempatan ternak yang makan selama 10.00 jam memiliki persentase karkas yang tinggi kemudian menurun seiring dengan semakin singkatnya waktu makan ternak. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kelamin dengan lama makan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0.05) terhadap persentase karkas kambing kacang, sedangkan perlakuan secara mandiri baik jenis kelamin maupun lama makan yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) terhadap persentase karkas kambing kacang. Hasil uji BNJ jenis kelamin bahwa kambing Kacang betina mempunyai persentase karkas sangat nyata lebih tinggi dibanding kambing kacang jantan. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh hormon terhadap produktivitas ternak terutama hormon-hormon kelamin yang mempunyai pengaruh terhadap pertum-buhan dan bobot karkas yang dihasilkan. Persentase karkas yang lebih tinggi pada ternak betina dibanding ternak jantan disebabkan oleh adanya perbedaan 18

hormon. Hormon yang paling menonjol pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan ternak adalah hormon estrogen dan testosteron. Hormon estrogen dapat menghambat pertumbuhan tulang, sehingga ternak betina memilki kerangka tubuh yang lebih kecil dibanding kerangka ternak jantan, akan tetapi hormon estrogen dapat memacu pertumbuhan lemak tubuh, karena itu ternak betina akan menimbun lemak dalam tubuhnya lebih tinggi dibanding ternak jantan. Sebaliknya hormon testosteron dapat memacu pertumbuhan tulang dan menekan pertumbuhan lemak tubuh. Olehnya, persentase karkas ternak betina lebih tinggi dibanding persentase karkas ternak jantan (Turner dan Bagnara, 1976; Edey, dkk., 1981). Hasil uji BNJ pengaruh mandiri lama makan terhadap persentase karkas menunjukkan bahwa waktu makan ternak selama 10.00 jam (M1) nyata lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya. Terjadinya perbedaan tersebut di atas disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan. Hal ini dapat diterima karena peningkatan bobot karkas sebagai manifestasi dari pertumbuhan yang mengakibatkan peningkatan persentase karkas. Williamson dan Payne (1993)

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

menyatakan bahwa persentase karkas yang tinggi dihasilkan oleh bobot badan yang tinggi pula. Persentase karkas yang tinggi hanya dapat direalisasikan apabila ternak dapat memperoleh makanan yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitas. Peningkatan persentase karkas berbanding lurus dengan lama makan, hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga bobot badan akhir yang diperoleh akan berbeda pula. Persentase karkas merupakan satuan penilaian untuk mengetahui besarnya bobot karkas dari bobot hidup yang diperoleh setelah ternak dipotong. Bogart et al. (1963) dalam Keyartono, (1990) menyatakan bahwa ternak yang tumbuh lebih cepat akan mengkonversi makanan ke dalam pertambahan bobot badan yang lebih efisien sehingga dapat meningkatkan bobot karkasnya dan selanjutnya mempengaruhi persentase karkas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa interaksi antara jenis kelamin dengan lama makan yang berbeda menunjukkan pengaruh tidak nyata, namun secara mandiri bahwa jenis kelamin betina memberikan bobot karkas dan persentase karkas yang lebih tinggi dibanding jenis kelamin jantan, sedangkan pemberian pakan selama 10.00 jam lebih tinggi bobot karkas dan persentase karkas yang diperoleh dibanding perlakuan lain dan menurun seiring dengan semakin singkatnya waktu makan pada kambing kacang. DAFTAR PUSTAKA Abd. Rauf, Dj., 1988. Pengaruh Umur Dan Jenis Kelamin Terhadap Persentase Bobot Karkas Domba Ekor Gemuk Serta Hasil Ikutannnya Di Lembah Palu. Thesis.

Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Padjadjaran, Bandung. Edey, T.N., A.C. Bray, R.S. Copland and T. O,Shea, 1981. A Course Manual in the Tropical Sheep and Goat Production. Noteasa For Training Course at Univ. Brawijaya, January, 19 February, 14. AAUCS. Malang. Hartadi, H.; S. Reksohadiprodjo dan A.D. Tillman. 1993. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Herman, 1981. Kualitas karkas domba lokal hasil penggemukan. Prosiding Seminar Penelitian Peternakan. Balai Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Keyartono, 1990. Pengaruh Tingkat Pemberian Ampas Sagu (Metroxylon sp.) Terhadap Efisiensi Penggunaan Ransum Kambing Kacang. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Padang, 2005a. Pengaruh jenis kelamin terhadap performas produksi kambing kacang. Jurnal Forsimapas 6(3): 2428 2432. , 2005b. Pengaruh lama makan terhadap kecernaan bahan kering, protein kasar dan serat kasar pakan kambing kacang jantan. Jurnal Ilmu Ternak 5(2): 88 93. , 2005c. Performa produksi kambing kacang jantan yang diberi pakan pada waktu berbeda. Jurnal Fokmas 2(4): 383 390. , 2005d. Income over feed cost kambing kacang betina yang diberi pakan pada waktu berbeda. Prosiding Seminar Nasional Domba Priangan dan Saresehan HPDKI Nasional. Kerjasama 19

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Antara Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia dengan Fakultas Peternakan UNPAD, Universitas Padjadjaran Bandung, p. 69-79. , 2006a. Pengaruh jenis kelamin terhadap status faali kambing kacang. Jurnal Forsimapas 6(4): 2433 2437. , 2006b, Status faali kambing kacang jantan yang diberi pakan pada waktu berbeda. eukariotik, Jurnal Sains Biologi 4(1): 29 36. , 2007, Pengaruh jenis kelamin dan lama makan terhadap bobot dan persentase non karkas kambing kacang yang dapat dimakan. Jurnal Fokmas 4(1): 85 93. Rismaniah, I., Amsar, Soebadi dan Priyono, 1989. Studi Karkas Murni Kambing Lokal. Prosiding Penelitian Ruminansia Kecil. Ciawi, Bogor.

Santosa, U., 1996. Efek Fermentasi Jerami Padi Oleh Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) Terhadap Penggemukan Sapi Jantan Peranakan Ongole, Disertasi. Universitas Padjadjaran, Bandung. Short, R.V., 1980. The Hormonal Control of Growth at Puberty. In T.L.J Lawrence (ed.) Growth in Animal. Butterworth. London. P: 25 45.

Turner, C.D. and J.T. Bagnara, 1976. General Endocrinology. Sixth Editon. W.B. Sauders Company. Philadelphia. P. 28 : 561 597. Williamson G., and W.J.A. Payne, 1993. An Introduction to Animal Husbandry in the Tropics. Third Edition. Longman Group Ltd, London.

20