Anda di halaman 1dari 38

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kerja Praktek (KP)


Perkembangan teknologi yang semakin maju dan persaingan dunia kerja yang semakin ketat menuntut para lulusan perguruan tinggi untuk menguasai bidangnya. Penguasaan ini diharapkan tidak hanya secara teori diatas kertas tetapi juga mampu mengaplikasikannya dilapangan. Para mahasiswa yang memperoleh pengetahuan teori dibangku kuliah ternyata masih canggung ketika dihadapkan pada dunia kerja sebenarnya. Karena itulah mahasiswa yang telah melaksanakan Kerja Praktek (KP) diharapkan memiliki titik terang antara teori dan praktikum yang telah didapat dibangku kuliah dengan aplikasi dari teori/praktikum tersebut yang bersifat praktis. Sehingga ketika mahasiswa terjun kedunia kerja sesungguhnya, sudah memiliki gambaran mengenai apa yang akan dihadapi. Sehingga peserta KP merasa lebih siap untuk terlibat secara langsung dalam pekerjaan. Selain itu, kerja praktek akan memberikan wawasan yang lebih baik mengenai pengetahuan industrial, sehingga dengan berbagai alasan dan latar belakang kerja praktek dijadikan sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program DIII Teknik Elektro STT-PLN Jakarta. Dalam kaitannya dengan perkuliahan di Jurusan Elektro STT-PLN, setiap mahasiswa diwajibkan melaksanakan kerja praktek yang bertujuan untuk melakukan kerja praktek guna mencari pengalaman di bidang teknik elektro yang telah didapat di bangku kuliah. Adapun motivasi kami memilih di PT. PLN ( Persero ) Cabang Palopo Ranting Masamba sebagai tempat kerja praktek adalah untuk mempelajari jenis gangguan dan mengetahui cara penanganan gangguan yang terjadi pada Jaringan Tegangan Rendah ( JTR ) dan Jaringan Tegangan Menengah ( JTM ). Atas dasar pengalaman kerja praktek di PT. PLN ( Persero ) Cabang Palopo Ranting Masamba, maka kami dapat menyusun laporan ini.

1.2 Waktu dan Lokasi Kerja Praktek


Pengambilan dan pemilihan tempat kerja praktek diberi kebebasan kepada mahasiswa sesuai dengan minat dan kemampuan dalam pemilihan topik. Pada saat pelaksaan kerja praktek pun mahasiswa diberi kebebasan dalam pemilihan pembimbing yang ditunjuk. Kerja Praktek ini dilaksanakan dari tanggal 15 Agustus sampai dengan 17 September 2011 di PT.PLN (Persero) Cabang Palopo Ranting Masamba.

1.3 Tujuan Kerja Praktek


1. Tujuan Kerja Praktek a. Mengenal secara garis besar tentang organisasi serta kegiatan kerja bidang operasi dan pemeliharaan Distribusi di PT.PLN (Persero) Cabang Palopo Ranting masamba. b. Mengetahui dan mempelajari gangguan-gangguan serta masalah yang terdapat di Ranting masamba pada JTR dan JTM.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

c. Mengetahui dan mempelajari perbaikan jatuh tegangan di wilayah operasi PLN Ranting Masamba. d. Sebagai salah satu mata kuliah wajib dalam menyelesaikan pendidikan Program DIII di STT-PLN Jakarta. 2. Sasaran Kerja Praktek a. Untuk menambah dan menyempurnakan ilmu pengetahuan tentang Sistem Tenaga Listrik yang telah didapat, sehingga dapat menerapkannya pada dunia kerja. b. Membandingkan teori-teori ilmu tenaga listrik yang telah didapat dengan praktek sebenarnya.

1.4 Batasan Kerja Praktek


Penulisan laporan Kerja Praktek ini dibatasi sesuai dengan penempatan unit kerja. Peserta Kerja Praktek ditempatkan pada distribusi Ranting Masamba. Kami hanya mempelajari tentang permasalahan yang terdapat di PLN Ranting Masamba yaitu gangguan pada jaringan tegangan rendah (JTR) dan jaringan tegangan menengah (JTM) dan pemeliharaan jaringan (Maintenance).

1.5 Metode Penyusunan Laporan


Dalam penyusunan Laporan Kerja Praktek ini, metode pencarian data dan informasi yang kami lakukan adalah : Pendekatan Masalah Dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung pada saat dilakukan kegiatan di lapangan. Metode Wawancara Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap denga cara wawancara kepada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam kerja pelayanan ditribusi. Sumber Data Data-data studi lapangan didapatkan dari PT.PLN ( Persero ) Cabang Palopo Ranting Masamba. Sedangkan data-data untuk studi kepustakaan diperoleh dari literature dan sumber buku lain yang berkaitan dengan topik penulisan.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

1.6 Sistematika Pembahasan


Sisematika pembahasan dimaksudkan untuk mempermudah dan mempelajari bagianbagian dari sebuah kesatuan tulisan, memahami ciri-ciri masing-masing bagian, dan hubungan antar tiap bagian sehingga dapat disusun tulisan yang merupakan garis-garis besar yang merupakan keseluruhan tulisan. Dalam laporan ini sistematika pembahasan yang digunakan adalah : BAB I. PENDAHULUAN Pada bab ini membahas mengenai latar belakang, tujuan penulisan, batasan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II. TINJAUAN UMUM PT PLN ( PERSERO ) CABANG PALOPO RANTING MASAMBA Pada bab ini membahas mengenai profil dan sejarah berdirinya PT.PLN ( Persero Cabang Palopo Ranting Masamba serta struktur organisasinya. BAB III. SISTEM DISTRIBUSI DAN TIPE GANGGUAN Pada bab ini membahas tentang teori yang merupakan latar belakang terjadinya gangguan pada jaringan tegangan rendah dan jaringan tegangan menengah serta masalah yang terdapat di wilayah operasi kerja PLN Ranting Masamba seperti perbaikan jatuh tegangan (drop voltage) dan pemeliharaan seri banyak. BAB IV. PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK DI PT. PLN (PERSERO) CABANG PALOPO RANTING MASAMBA. Pada bab ini membahas tentang macam-macam kegiatan selama kerja praktek dari tanggal 15 Agustus 17 September 2011 serta penjelasan mengenai gangguan pada jaringan tegangan rendah dan jaringan tegangan menengah serta masalah di wilayah kerja PLN Ranting masamba. BAB V. KESIMPULAN, Pada bab ini membahas mengenai kesimpulan dari pelaksanaan kerja praktek yang telah dilaksanakan.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

BAB II TINJAUAN UMUM PT. PLN ( PERSERO ) CABANG PALOPO RANTING MASAMBA 2.1 Sejarah Singkat Kantor PT. PLN (Persero) Cabang Palopo
Sebelum indonesia merdeka, listrik diperuntukkan pada pusat-pusat kerajaan di Sulawesi Selatan Khususnya dan Sulawesi pada umunya. Hampir semua daerah TK II /kabupaten dan pembangkit-pembangkit listrik yang dikelola oleh Belanda pada waktu itu.yang kita kenal pusat-pusat kerajaan seperti Kerajaan Gowa di Makassar, Kerajaan Luwu di Palopo, Kearajaan Ternate, Kerajaan Bone,Kerajaan Mandar, Kerajaan Lakipadada, dan pusat Kerajaan di Tenggara. Inilah kerajaan-kerajaan yang diberikan oleh Belanda yang merupakan pembangkit berskala kecil yang dikelola sendiri, tetapi tidak di komersialkan pada masyarakat disekitar kerajaan-kerajaan. Setelah jepang menguasai Indonesia tahun 1942 semua pembangkit yang dikelola oleh Belanda di ambil alih oleh pemerintah Jepang yang disebut NU NUIGEN ke OGEM dibawah pimpinan Jepang, namun orang-orang Indonesia diberikan kekuasaan untuk melaksanakan/mengelola pembangkit tersebut. Dengan menyerahnya pemerintah Jepang pada Indonesia pada tahun 1945, maka kesempatan baik itu dimanfaatkan oleh pemuda-pemuda dan buruh-buruh listrik dan buruh gas untuk mengambil alih perusahaan listrik yang dikuasaai oleh Jepang, dan berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan Jepang. Pada bulan september 1945 buruh atau pegawai listrik dan gas menguasai listrik dan gas, selanjutnya Delegasi Kogansi bersama-sama dengan pimpinan KNI pusat untuk menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah Indonesia dan kemudian dengan penepatan pemerintah No. 1/SD/Tahun 1964 pada tanggal 27 Oktober 1945, maka dibentuklah perusahaan listrik dan gas dibawah pekerjaan umum. Dengan adanya Agresi Belanda I dan II sebagian besar perusahaan-perusahaan listrik dikuasai oleh pemerintah Belanda atau pemiliknya semula. Pegawai yang tidak mau bekerja sama kemudian menguasai dan menggabungkan diri pada kantor jabatan listrik dan gas di daerah-daerah perjuangan. Para pemuda kemudian mengajukan misi kobarsyih tentang nasionalisasi perusahaan listrik dan gas swasta kepada parlemen RI selanjutnya dikeluarkan keputusan listrik milik bangsa asing indonesia jika waktu konsensinya. Sejalan dengan meningkatnya perjuangngan bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian jaya dari cengkraman penjajahan Belanda maka dikeluarkan Undang-Undang No. 86 Tahun 1958 tertanggal, 27 Desember 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan listrik dan gas milik Belanda. Dengan Undang-Undang tersebut maka seluruh perusahaan listrik Belanda berada di tangan bangsa Indonesia. Sejarah ketenaga listrikan di Indonesia mengalami pasang surut sejalan dengan pasang surutnya perjuangan bangsa. Tanggal 27 Oktober 1945 kemudian dikenal dengan hari listrik dan gas. Hari tersebut telah diperingati untuk pertama klainya pada tanggal 27 Oktober
Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

1946 bertempat digedung Badan Komite Nasional Pusat (BPKIP), yogyakarta. Penetapan sejarah ini resmi tanggal 27 Oktober 1945. Sebagai Hari Listrik dan Gas berdasarkan Keputusan Mentri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik No.235/KPTTS/1975 tanggal 30 September 1957 peringatan Hari Raya Listrik yang jatuh pada tanggal 3 Desember, mengingat pentingnya semangat dan nilai-nilai hari listrik maka berdasarkan keputusan Mentri Pertambangan dan Energi No.1134.K/43.Pel/1992 tanggal 31 Agustus 1992 di tetapkan pada tanggal 27 Oktober 1992 sebagai Hari Listrik Nasional. Perusahaan Listrik Negara (PLN) berubah menjadi Persero pada tahun 1994 dengan PP. No. 23 Tahun 1994, sehingga saat ini sebutan PT.PLN (Persero). Adapun visi dan misi dari PT.PLN (Persero) adalah sebagai berikut: 1. Visi Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul, dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. 2. Misi a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidan lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham. b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan. 3. Motto Sedangkan selain visi dan misi PT. PLN (Persero) juga mempunyai motto sebagai berikut : Electricity For A Better Life Artinya Listrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik.

Uraian Tugas dan Tanggung jawab Setiap perusahaan berlaku adanya pembagian tugas-tugas dan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh setiap staf yang diberi kepercayaan kepadanya, seperti halnya yang berlaku pada PT. PLN (Persero) Cabang Palopo. Adapun uraian tugas dan tanggung jawab dari struktur organisasi PT. PLN (Persero) Cabang Palopo adalah sebagai berikut : - Manajer cabang Uraian tugas dan tanggung jawab pokok dari Manajer cabang adalah : a. Merumuskan sasaran kerja dan konsep kebijakan teknis cabang berdasarkan program kerja dan target pengusahaan sesuai kebijakan PLN Wilayah. b. Menyusun usulan rencana Anggaran Operasi dan Investasi Cabang sebagai rencana tahun akan datang

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

c. Membuat, menganalisa dan mengevaluasi kinerja Cabang dalam rangka mencapai targettarget yang telah ditetapkan. d. Mengarahkan, mengendalikan dan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan pelayanan pelanggan, pembangkitan, pendistribusian tenaga listrik pemeliharaan dan pembangunan sarana pendistribusian tenaga listrik. Serta SDM / administrasi dan keuangan agar efektif dan efesien e. Mengkoordinasikan pelayanan pelanggan dan pembangunan sarana kelistrikan dengan Pemda setempat/ instansi terkait. f. Mengarahkan dan membina para rekanan cabang yang bergerak bidang kelistrikan g. Memeriksa dan menanda tangani bukti-bukti pengesahan, penerimaan dan pengeluaran uang cabang h. Mengusulkan penetapkan RKAP Cabang i. Memantau dan mengevaluasi rencana dan realisasi anggaran yang digunakan j. Mengarahkan dan mengendalikan pelaksanaan perolehan dan pembebasan tanah serta pembangunan sarana pembangkitan tenaga listrik. k. Menyusun laporan berkala sesuai dengan bidang tugasnya. l. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawab pokoknya - Manajer Rayon Uraian tugas dan tanggung jawab pokok dari Manajer rayon adalah : a. Menyusun dan merencanakan sasaran kerja Rayon. b. Mengatur, mengawasi,mengkoordinir dan membina tugas-tugas bawahan. c. Mengawasi dan mengkoordinasikan pelaksanaa pengoperasian dan pemeliharaan sarana penyediaan tenaga listrik. d. Mengkoordinasikan kegiatan pelayanan pelanggan/ Calon pelanggan. e. Memeriksa bukti-bukti pengesahan, penerimaan dan pengeluaran uang, surat-surat perintah kerja f. Memeriksa dan meneliti terhadap bukti-bukti pengiriman uang ke Bank Receipt PLN cabang hasil penerimaan penjualan rekening dan mengecek hasil pencatatan Stang meter konsumen besar. g. Memberikan arahan dan pembinaan kepada para rekanan ranting yang bergerak dalam bidang ketenagalistrikan. h. Merencanakan system pengawasan pekerjaan yang dilaksanakan oleh pihak ketiga. i. Menyusun data pendukung RAO/UAI pada Ranting sebagai bahan usulan RKAP. j. Membuat dan menyampaikan laporan kegiatan ranting. k. Mengusulkan peserta pendidikan dan pelatihan, mutasi, kenaikan berkala serta kenaikan peringkat ke Cabang. l. Menginformasikan jadwal pemedaman ke masyarakat. m. Membina hubungan dengan pelanggan Potensial (TM/TT) n. Membuat laporan berkala sesuai bidang tugasnya.
Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

o. Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lain yang sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawab pokoknya. p. Melaksanakan MUK untuk penilaian kinerja pegawai. - Asisten Manajer Distribusi Uraian tugas dan tanggung jawab pokok dari asisten manajer distribusi adalah : a. Menyusun rencana kerja Asisten Manajer Distribusi meliputi pendistribusian, pengkonstruksian dan untuk dijadikan acuan pelaksanaan pekerjaan bidang distribusi. b. Mengkoordinasikan perencanaan operasi dan pemeliharaan JTM, gardu , JTR dan APP untuk usulan RKAP. c. Mengkoordinasikan perencanaan pembangunan perluasan JTM, gardu dan JTR untuk usulan RKAP. d. Mengendalikan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dan pengoperasian JTM, gardu, JTR dan APP untuk mencapai target mutu keandalan dan susut. e. Mengendalikan pelaksanaan pembangunan perluasan JTM, gardu dan JTR untuk mencapai target mutu keandalan dan susut. f. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan SOP lokal dan SOP sistem Distribusi untuk penyempurnaan keandalan system 20 kV. g. Mengevaluasi kinerja distribusi untuk peningkatan pencapaian target. h. Memantau dan mengendalikan proses rekonsiliasi data dan realisasi anggaran (AI dan AO) bidang distribusi untuk validasi data. i. Memantau pelaporan distribusi, dan telkom untuk memenuhi ketepatan waktu dan keakuratan data - Asisten Manajer SDM dan Administrasi Uraian tugas dan tanggung jawab pokok dari Asisten manajer SDM dan Administrasi adalah : a. Melaksanakan hubungan industrial untuk meningkatkan komunikasi eksternal perusahaan. b. Menyusun RKAP bagian SDM dan Administrasi sebagai bahan persiapan RKAP tahun depan. c. Merencanakan dan mengevaluasi pelaksanaan diklat pegawai untuk pencapaian target HOP dan mengisi GAP Kompetensi Pegawai. d. Mengevaluasi dan mengusulkan pengembangan karir pegawai untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. e. Mensosialisasikan dan memonitor pelaksanaan aturan remunerasi untuk memberi pengertian mengenai hak pegawai. f. Merencanakan mutasi/promosi pegawai untuk bahan usulan ke wilayah. g. Mengevaluasi kinerja dan mengusulkan peningkatan kompetensi SDM untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

h. Menyusun usulan pengisian formasi jabatan (FJ) dan formasi tenaga kerja (FTK) untuk bahan evaluasi kebutuhan SDM. i. Membuat usulan peningkatan kompetensi SDM dan merencanakan usulan diklat/kursus untuk memenuhi KKJ. j. Mengendalikan administrasi perbekalan untuk meningkatkan tertib tatakelola perbekalan. k. Menganalisa kebutuhan dan mengoptimalkan persediaan material untuk mencapai target perputaran material (ITO). l. Melaksanakan pengendalian biaya administrasi dan kepegawaian untuk meningkatkan efektifitas & optimalisasi biaya m. Mengawasi dan mengkordinir perbekalan (Pergudangan ) n. Mengawasi dan mengkordinir Kendaraan Dinas o. Mengawasi dan mengkordinir Kehumasan p. Menyusun dan melaksanakan Bina Lingkungan dan Mitra ( PUKK ) q. Memverifikasi laporan berkala berdasarkan jadwal yang telah disepakati untuk menjalankan fungsi kontrol - Asisten Manajer Pembangkit Uraian tugas tanggung jawab pokok dari Asisten manajer pembangkit adalah : a. Menyusun rencana kerja Asisten Manajer Pembangkitan untuk pedoman kerja. b. Mengkoordinasikan dan membina bawahan. c. Mengatur rencana pemeliharaan periodik (TO, SO, MO) dan rutin mesin untuk keandalan dan ketersediaan pembangkit. d. Mengawasi pelaksanaan pemeliharaan mesin, alat bantu, peralatan listrik dan kontrol sesuai dengan rencana yang telah ditentukan untuk keandalan pembangkit. e. Mengevaluasi laporan gangguan unit pembangkit untuk dijadikan sebagai bahan pemeliharaan dan perbaikannya. f. Memeriksa dan mengevaluasi konsep permintaan kebutuhan material pemeliharaan pembangkit untuk pemeliharaan rutin dan periodik. g. Menyusun data RAO/UAI Pemeliharaan Mesin untuk bahan RKAP. h. Mengadakan koordinasi rencana dan realisasi anggaran ke seksi terkait untuk kelancaran pekerjaan. i. Mengevaluasi pengelolaan BBM dan Minyak pelumas. j. Membuat laporan sesuai dengan bidang tugasnya. k. Melaksanakan MUK untuk penilaian kinerja pegawai - Asisten Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan Uraian tugas dan tanggung jawab pokok dari Asisten manajer niaga dan pelayanan pelanggan adalah : a. Menyusun usulan RKAP bagian Komersil untuk bahan pembuatan RKAP tahunan. b. Mengawasi penerimaan pendapatan operasi & Luar Oprs dari transasksi pelayanan pelanggan (Pelayanan Pasang Baru, Perubahan daya dan pelayanan pelanggan lainnya)

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

c. d. e. f. g. h. i.

j.

yang dilaksanakan oleh Unit/Sub Unit Pelaksana, untuk keakuratan pencatatan pendapatan perusahaan. Mengendalikan proses pelaksanaan pembacaan meter, untuk meningkatkan akurasi pembacaan meter dan menekan losis non teknis. Mengendalikan pelaksanaan peremajaan / mutasi data langganan pada DIL (Data Induk Langganan), untuk memutakhirkan DIL- Data Induk Langganan. Mengendalikan proses pembuatan rekening listrik bulanan sesuai SOP, untuk menyediakan rekening listrik yang akurat dan tepat waktu. Mengendalikan pengelolaan piutang pelanggan & piutang ragu-ragu, untuk menekan umur piutang & Ratio Piutang ragu-ragu. Memantau pelaksanaan SIP3 (Sistem Informasi Pengelolaan Piutang Pelanggan), untuk meningkatkan pengamanan pendapatan perusahaan. Mengevaluasi infrastruktur pelayanan (DIL, DPM, RBM, DIS) untuk perbaikan berkelanjutan. Memeriksa dengan teliti kebenaran Laporan Penjualan Tenaga listrik, Penerimaan BP (Biaya Penyambungan), UJL (Uang Jaminan Langganan), Penerimaan Pendapatan Operasi lainnya, Piutang pelanggan dan Piutang Ragu-Ragu untuk keakuratan dan ketepatan laporan Membuat laporan berkala kepada pimpinan sebagai dokumen perusahaan dan bahan evaluasi manajemen untuk pertanggungjawaban kontrak kinerja yang sudah disepakati.

- Asisten Manajer Keuangan Uraian tugas dan tanggung jawab pokok dari Asisten manajer keuangan adalah: a. Menyusunan RKAP secara sinergistis sehingga dapat disusun anggaran yang logis dan layak untuk mendukung operasional perusahaan dalam mencapai kinerja yang ditargetkan, b. Melakukan pengendalian anggaran operasi dan investasi secara sistematis dan terukur sesuai dengan proyeksinya secara efektif dengan deviasi yang dapat terdentifikasi dengan baik, c. Melakukan pengendalian cash flow secara transparan dan prosedural agar dana yang tersedia dapat terserap secara terencana dan efektif, d. Mengontrol dan memverifkasi setiap transaksi pengeluaran dan penerimaan kas perusahaan untuk mecegah terjadinya kelalaian dan penyimpangan, e. Mengkoordinasi proses penyusunan RKAP secara sinergistis sehingga dapat disusun anggaran yang logis dan layak untuk mendukung operasional perusahaan dalam mencapai kinerja yang ditargetkan, f. Melakukan pengendalian anggaran operasi dan investasi secara sistematis dan terukur sesuai dengan proyeksinya secara efektif dengan deviasi yang dapat terdentifikasi dengan baik, g. Melakukan pengendalian cash flow secara transparan dan prosedural agar dana yang tersedia dapat terserap secara terencana dan efektif,

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

h. Mengontrol dan memverifkasi setiap transaksi pengeluaran dan penerimaan kas perusahaan untuk mecegah terjadinya kelalaian dan penyimpangan.

2.2 Struktur Organisasi PT.PLN ( Persero ) Cabang Palopo Ranting Masamba.

2.3 Sarana dan Prasarana


Selama kami melakukan praktek kerja lapangan ( PKL ) dikantor PT.PLN (Persero) Wilayah Sul-Sel Rabar Cabang palopo Kami melakukan observasi untuk mendata sarana dan prasarana yang digunakan dalam kantor.kami hanya mencatat sarana dan prasarana khusus diruangan yang kami tempati saja,yaitu pada ruangan Niaga dan Pelayanan .Adapun rincian yang kami dapatkan dari kegiatan Observasi ini adalah sebagai berikut : 1. 2 Unit Komputer merk Hp 2. 1 Unit Laptop Merk tosibha 3. 3 Unit Printer Merk Canon 4. 2 Buah Ac ,Merk National 5. 1 Buah mesin fotocopy

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

10

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

BAB III SISTEM DISTRIBUSI DAN TIPE GANGGUAN 3.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Sistem Distribusi Tenaga Listrik adalah bagian dari infrastruktur sistem penyaluran daya mulai dari rangkaian transmisi tegangan tinggi melalui Gardu Induk dan mendistribusikan ke konsumen. saluran udara (SUTM) dan saluran bawah tanah (SKTM). Pemilihan konstruksi saluran distribusi tersebut berdasarkan kondisi daerah, tingkat kepadatan penduduk dan permintaan beban. Untuk daerah perkotaan dan perindustrian sebaiknya digunakan saluran bawah tanah (SKTM), selain mempunyai keindahan lingkungan juga mempunyai kehandalan penyaluran tenaga listrik yang tinggi. Sistem saluran distribusi merupakan penyaluran tenaga listrik mulai dari gardu induk sampai ke alat pengukuran dan pembatas (APP) pada pelangan. MISI : Adalah mendistribusikan dan menyalurkan daya kekonsumen pada tempat pemakaiannya dan dalam bentuk siap digunakan. TUJUAN 1. Melingkup seluruh wilayah layanan, mencapai seluruh konsumen. 2. Memiliki kapasitas yang memadai untuk memenuhi beban puncak konsumen. 3. Menyediakan keandalan yang tinggi. 4. Menyediakan kualitas tegangan yang stabil. 5. Biaya serendah mungkin. SUB DIVISI DISTRIBUSI 1. Primary Distribusi : saluran distribusi yang menggunakan tegangan menengah 20 kV dan menyalurkan energi listrik mulai dari transformator sisi sekunder pada gardu induk sampai transformator primer gardu distribusi. 2. Sekunder Distribusi : saluran distribusi yang menggunakan tegangan rendah 220/380 Volt dan menyalurkan energi listrik dari Transformator sisi sekunder pada gardu distribusi sampai ke APP konsumen.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

11

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

SUTM

GI

SKTM

GH

Jaringan Distribusi primer

GD

TR
Sambungan Rumah

Jaringan Distribusi sekunder

TR

Rumah konsumen

Gambar 3.1 Single Line Salurn Distribusi ke Pelanggan.

3.2

Struktur Saluran Distibusi

Pada dasarnya pembangunan jaringan distribusi secara menyeluruh merupakan dari rangkaian beberapa unit konstruksi yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kwalitas dan kwantitas baik pada jaringan distribusi maupun pada distribusi tenaga listriknya. Berkaitan dengan hal tersebut dilapangan sering terdapat keluhan adanya perbedaan konstruksi antara PLN dengan pihak kontraktor. Hal yang menjadi penting apabila perbedaan tersebut merupakan perbedaan mendasar yang dapat menghambat waktu pelaksanaan sehingga mempengaruhi kuantitas dan kualitas pekerjaan Guna menunjang terealisasinya suatu bentuk pekerjaan yang baik dan sempurna semua yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi jaringan perlu terlebih dahulu mempelajari konstruksi konstruksi yang disepakati untuk membentuk suatu jaringan yang diharapkan mempunyai nilai keandalan tertentu yang ditentukan. Materi konstruksi ini diharapkan dapat berguna untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan dalam menentukan konstruksi pada suatu gambar jaringan pada suatu daerah yang akan dibangun atau diperluas baik untuk jaringan tegangan menengah (TM) maupun untuk jaringan tegangan rendah (TR) Konstruksi jaringan tenaga listrik dengan saluran udara kawat terbuka dilingkungan PT. PLN untuk sistem distribusi terdiri dari beberapa macam bentuk atau formasi hal ini banyak disebabkan oleh sejumlah faktor yang diantaranya oleh faktor alih teknologi dan kondisi 12

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

rute jaringannya sendiri. Konstruksi jaringan distribusi dengan saluran udara kawat terbuka yang dipergunakan di wilayah Jawa Tengah berbeda dengan konstruksi jaringan dengan saluran udara kawat terbuka yang dipergunakan di Jawa Timur demikian pula dengan yang konstruksi jaringan yang dipergunakan di wilayah Jawa Barat. Dengan demikian hal ini menyebabkan karakteristik komponen-komponen sistemnya menjadi berbeda Selain dengan menggunakan saluran udara kawat terbuka untuk menyalurkan tenaga listrik dari pusat-pusat tenaga dalam hal ini Pembangkit Tenaga Listrik atau dari pusat pusat beban Gardu Induk (GI) ke gardu-gardu (trafo) distribusi atau langsung ke kosumen dapat dilakukan dengan sarana saluran kabel tanah dan pemilihan sarana ini akan tergantung kepada kriteria pemilihan yang dipersyaratkan Penggunaan jaringan listrik dengan sarana kabel tanah akan mempunyai nilai estetika yang lebih baik dari pada menggunakan saluran udara kawat terbuka sehingga pemilihan sarana dengan sakuran kabel tanah cocok untuk dipergunakan di daerah-daerah perkotaan yang padat dengan bangunan. Dengan berkurangnya jaminan keselamatan umum dan lingkungan disekitar saluran udara dan berkurangnya nilai estetika yang diharapkan pihak pemerintah dan masyarakat. penggunaan saluran-saluran udara tidak mungkin lagi diterapkan atau di kembangkan dikota-kota besar Biaya investasi yang lebih tinggi untuk penggunaan saluran dengan sarana kabel tanah dibandingkan dengan menggunakan saluran udara kawat terbuka dan sulitnya dalam menelusuri letak gangguan serta mahalnya biaya untuk perbaikan merupakan beberapa kendala yang menyurutkan perusahaan dari pemilihan saluran kabel. Saluran kabel tidak terpengaruh dengan kondisi-kondisi diluar saluran sehingga tingkat keandalan sistim akan menjadi lebih tinggi, hanya kabel yang tercangkul, terseret tanah longsor sambungan atau terminasi yang gagal yang sering tercatat sebagai gangguan pada saluran kabel selain itu hampir tidak ada catatan gangguan pada sarana dengan saluran kabel Namun demikian. sampai saat ini khususnya untuk jaringan tegangan menengah (JTM) pemilihan sarana dengan saluran udara kawat terbuka masih merupakan pilihan yang banyak dipergunakan PT PLN terutama untuk mensuplai tenaga listrik keluar kota (pedesaan). Dimana hal ini dengan mudah dapat dilihat secara nyata. Rawan terhadap gangguan eksternal merupakan salah satu kekurangan dari penggunaan saluran udara kawat terbuka yang dampaknya saat ini sangat mempengaruhi kinerja perusahaan dan banyak mengurangi tingkat kepercayaan konsumen pada perusahaan. Konstruksi-konstruksi saluran udara untuk jaringan distribusi tegangan menengah yang dipergunakan PT PLN secara garis besar kalau kita perhatikan dapat kita dikelompokan dalam 4 macam formasi yaitu :
Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

13

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

a. Formasi Horizontal simetris tanpa kawat tanah b. Formasi Horizontal tidak simetris dengan satu kawat tanah di atas kawat fasanya c. Formasi Segitiga dengan kawat tanah di bawah kawat fasanya d. Formasi Vertical

3.2.1

Jaringan Tegangan Menengah (JTM)

Jaringan tegangan menengah adalah jaringan yang bertegangan 150 kV kemudian diturunkan menjadi 20 kV, atau jaringan yang levelnya berkisar antara 50 kV hingga 20 kV. Konstruksi saluran distribusi tegangan menengah 20 kV ada dua macam yaitu ; saluran udara (SUTM) dan saluran kabel tanah (SKTM). Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) Keuntungan Kerugian

1. Relatif lebih murah untuk jarak yang 1. Lebih mahal untuk jarak yang lebih panjang. dekat.

2. Mudah untuk melihat dan melokalisir 2. Mudah terkena petir dan gangguan gangguan. lain seperti pohon. 3. Tidak ramah lingkungan. 4. Biaya pemeliharaan yang intensif. 5. Keahlian yang tinggi dan alat alat khusus dibutuhkan untuk instalasi.

Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) Keuntungan


1. Relatif lebih murah untuk jarak yang pendek 2. Tidak nudah terkena petir atau gangguan lainnya. 3. Ramah lingkungan, estetika 4. Pemeliharaan yang relatif tidak intensif.

Kerugian
1. Mahal untuk jarak yang panjang. 2. Tidak Mudah untuk melokalisir gangguan.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

14

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Tipe dasar sistem distribusi primer: o Saluran Radial o Saluran Loop o Saluran Spindel o Saluran Grid(Network) 3.2.2 Jaringan Tegangan Rendah (JTR)

Dari Tegangan 20 kV tegangan diturunkan menjadi 220/380 dan disebut dengan Tegangan Rendah. Kontruksi saluran distribusi Tegangan rendah umumnya mengunakan saluran udara dan biasanya rawan terhadap gangguan dari luar misalnya pepohonan, laying-layang, dan lain-lain.

Gambar 3. Jaringan Tegangan Rendah 220 volt 3.2.3 Sambungan Listrik Tegangan Rendah (SLTR)

Sambungan tenaga listrik tegangan rendah ialah penghantar dibawah atau diatas tanah termasuk peralatannya mulai dari titik penyambungan pada JTR sampai dengan Alat Pembatas dan Pengukur.
KONSTRUKSI PEMASANGAN SLTR TIPE A
Sambungan Pada Tiang Sambungan Pada APP JTR

SLP SMP

APP

tiang

Gambar 3.2 Kontruksi Pemasangan SLTR tipe A

KONSTRUKSI PEMASANGAN SR TIPE B

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba


Tiang Atap Kabel SR

15

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Gambar 3.3 Kontruksi Pemasangan SLTR tipe B

JTR

Luar Bangunan

Dalam bangunan

APP

PHB

SLP Titik penyambungan

SMP

APP IP

SLTR

Gambar 3.4 Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah

Dimana : JTR SLP SMP SLTR IP APP PHB = Jaringan Tegangan Rendah = Sambungan Luar Pelayanan = Sambungan Masuk Pelayanan = Sambungan Listrik Tegangan Rendah = Instalasi Pelanggan = Alat Pembatas dan Pengukur = Papan Hubung Bagi

3.2.3.1 Sambungan Luar Pelayanan (SLP) 16

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Sambungan luar pelayanan ialah bagian dari SL yang dipasang dibawah atau diatas tanah dan berada diluar bangunan. 3.2.3.2 Sambungan Masuk Pelayanan (SMP) Sambungan masuk pelayanan ialah bagian dari SL yang dipasang dibawah atau diatas tanah dan berada didalam bangunan. Untuk tempat penyambungan penghantar Saluran masuk (SMP) ke instalasi pelanggan, akan digunakan Alat Pembatas dan Pengukur atau biasa disebut dengan APP. APP merupakan batas pemisah antara PLN dengan pelanggan. APP digunakan untuk menggukur pemakaian energi listrik dan pembatasan daya sesuai dengan paket pelanggan. Energi listrik disalurkan dari APP ke saluran utama konsumen menuju PHB utama dan seterusnya didistribusikan ke jaringan instalasi rumah. Terdiri dari alat ukur kwh meter dan pembatas arus 450 VA sampai dengan 4.400 VA untuk sistem satu fasa. 6,6 kVA sampai dengan 630 kVA untuk sistem tiga fasa.

Gambar 3.5 APP

Ketentuan menggenai APP

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

17

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

o Di APP terdapat meter energi ,terminal netral dan pembatas arus (MCB) yang kemampuannya harus sesuai dengan paket daya pelanggan yang ditetapkan. o Bila jenis penghantar yang disambung berbeda,misalkan penghantar SMP dari bahn alumunium maka harus digunakan terminal bimetal. o Meter energi yang dipasang pada APP harus sudah ditera oleh instansi yang berwenang. Kotak APP harys dalam keadaan tersegel selama dioperasikan. o Pada APP harus tersedia juga terminal untuk pembumian BKT karena umumnya kotak APP terbuat dari logam. o APP harus dipasang dengan baik ditempat yang mudah dilihat dan dicapai untuk kepentingan pencatatan rutin energi terpakai dan pemeriksaan.

3.3 Gangguan pada Sistem Distribusi


Gangguan adalah suatu kejadian tidak terencana yang dapat mengakibatkan terputusnya atau menurunnya kualitas atau mutu pasokan energi listrik ke pelanggan akibat kerusakan atau kelalaian pada jaringan atau peralatan. Sistem distribusi merupakan bagian yang kurang terlindungi ,sehingga rentan mengalami gangguan.Namun sistem distribusi secara kontiniu telah berusaha untuk mengurangi jumlah gangguan yang terjadi. Gangguan listrik secara terperinci dapat disebabkan : 3.3.1 Gangguan-gangguan Dalam 1. Terbatasnya kemampuan transformator pada gardu-gardu distribusi. Sejumlah transformator-transformator distribusi telah berbeban penuh, sehingga tidak ada lagi batas cadangan tenaga. Gangguan pemadam dapat terjadi jika sewaktu-waktu beban listrik naik. 2. Kabel-kabel distribusi yang sudah tua dan berbeban penuh. Kabel-kabel tua yang terpaksa masih dibebani penuh, sering mengakibatkan bocornya kabel yang bersangkutan, yang berarti dapat menimbulkan pemadaman pada wilayahwilayah yang dilayani oleh kabel yang bersangkutan.

3.3.2 Gangguan-gangguan Luar


Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

18

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

1. Gangguan-gangguan oleh manusia sendiri. a. Pembangunan (pelebaran, pembongkaran jalan) yang dapat mengganggu kabel-kabel dibawah tanah. b. Pencangkulan pada kabel dapat menyebabkan padamnya wilayah-wilayah yang dilayani oleh kabel tersebut c. Permainan laying-layang pada saluran udara dapat membuat hubung singkatnya saluran tersebut sehingga menyebabkan pemadaman pada wilayah yang dilayani oleh saluran tersebut. d. Tebangan pohon yang mengena saluran udara dapat membuat putusnya saluran tersebut. e. Penyadapan dapat menimbulkan bahaya-bahaya kenbakaran. f. Pembesaran (pengrusakan) sekering juga dapat menimbulkan bahaya kebakaran. g. Tindakan-tindakan yang menjurus pada sabotase seperti pencurian-pencurian kawat dan tindakan-tindakan sabotase lainnya, dapat menyebabkan tidakn saja padamnya sejumlah wilayah tetapi juga kerusakan-kerusakan yang diderita pada peralatanperalatan tersebut. 2. Gangguan hewan a. Gangguan tikus sering menyebabkan hubung singkat didalam gardu. b. Gangguan kelelawar juga sering menyebabkan hubung singkat pada saluran udara. 3. Gangguan alam a. Angin kencang dapat menimbulkan tumbangnya tiang-tiang saluran luar, atau beradunya kawat saluran udara sehingga terjadi hubung singkat pada saluran udara. b. Petir dapat mengganggu saluran udara baik Tegangan Tinggi maupun saluran Tegangan Rendah. Petir yang mengenai kawat saluran tersebut dapat menyebabkan terputusnya aliran listrik, sehingga berakibat pemadaman pada wilayah-wilayah yang dilayani oleh saluran tersebut. c. Gempa bumi atau tanah longsor juga dapat menyebabkan gangguan-gangguan pada penyaluran tenaga listrik, tetapi gangguan ini jarang dijumpai di Negara kita.

3.3.3 Gangguan-gangguan pada Wilayah Operasi Ranting Masamba

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

19

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Gangguan-gangguan pada wilayah operasi ranting masamba yang paling banyak terjadi seperti jatuh tegangan ujung (voltage drop), dan pemeliharaan seri banyak. A. Perbaikan Tegangan Ujung Jaringan Udara Tegangan Rendah (JUTR)

Didalam dunia kelistrikan sering timbul persoalan teknis, dimana tenaga listrik hanya dibangkitkan pada tempat-tempat tertentu, sedangkan pemakai tenaga listrik atau pelanggan tenaga listrik tersebar diberbagai tempat, maka penyampaian tenaga listrik dari tempat dibangkitkan ke tempat pelanggan memerlukan penanganan teknis dan sering mendapatkan masalah. Maka untuk menyalurkan tenaga listrik tersebut dari pembangkit ke pelanggan diperlukan adanya suatu jaringan distribusi. Jaringan distribusi terdiri dari Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) yang masing-masing memiliki klasifikasi menurut medianya, yaitu kabel tanah dan melalui saluran udara. salah satu permasalahan yang terdapat pada jaringan distribusi adalah masalah tegangan ujung pada Jaringan Udara Tegangan Rendah (JUTR) disini akan dibahas masalah tentang Tegangan Ujung Jaringan Udara Tegangan Rendah, masalah yang timbul adalah pada tegangan ujung ini nilai tegangan atau besar tegangan mengalami penurunan atau jatuh tegangan. Jatuh tegangan merupakan besarnya tegangan yang hilang pada penghantar. jatuh tegangan atau susut tegangan pada saluran tenaga listrik secara umum berbanding lurus dengan panjang saluran dan beban serta berbanding terbalik dengan luas penampang penghantar. besarnya susut tegangan dinyatakan baik dalam (%) maupun dalam besaran volt. besarnya batas atas dan batas bawah ditentukan oleh kebijaksanaan perusahaan kelistrikan. selain itu, masalah beban, faktor daya, induktansi, dan kapasitansi pada sistem JTM dan JTR juga perlu diperhatikan karena nilainya cukup berarti.

A.1 RUGI-RUGI SISTEM DISTRIBUSI A.1.1 Rugi-Rugi Transformator Rugi-rugi transformator terdiri dari rugi-rugi inti dan rugi-rugi tembaga. Rugi-rugi tembaga disebabkan oleh perubahan arus beban, sedangkan rugi-rugi inti disebabkan oleh fluksi medan magnet pada inti. Rugi-rugi inti dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu rugi histerisis dan rugi karena arus pusar. Sumber rugi yang lain adalah kerugian dielektrik pada isolasi, tetapi biasanya kerugian ini kecil dan dapat diabaikan.

A.1.2 Effisiensi Transformator

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

20

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Effisiensi transformator pada umumnya dihitung berdasarkan daya keluar / power output (Po) dibagi dengan daya masuk / power input (Pi), atau dalam bentuk persamaan adalah :

...............................................2.20

dimana : = Effisiensi Po = Daya keluar (Power Output) Pi = Daya masuk (Power Input) A.2. RUGI RUGI JARINGAN Jatuh tegangan merupakan penurunan tegangan dimulai dari penyulang sampai sepanjang saluran jaringan tegangan menengah 20 kV. Fenomena tersebut disebabkan kawat saluran yang mempunyai nilai resistan, induktan dan kapasitan sepanjang saluran, maka akan terjadi penurunan tegangan. Sedangkan rugi daya adalah selisih antara daya yang dibangkitkan atau dialirkan dari Gardu Induk dengan daya yang terjual ke pelanggan listrik. Rugi-rugi daya merupakan sifat yang tidak dapat dihindari, tetapi hanya dapat diminimalkan. Nilai dari rugi daya pada jaring merupakan nilai unjuk kerja jaring listrik dalam menyalurkan energi listrik dari pusatpusat pembangkit sampai ke pusat-pusat beban. Susut tegangan pada sistem distribusi tegangan menengah sangat dipengaruhi oleh tingkat pembebanan, penampang konduktor, rugi-rugi transformator dan rugirugi kontak sambungan pada jaringan tersebut. A.2.1 Penghantar Penghantar berfungsi untuk menyalurkan tenaga Listrik dari pusat pembangkit atau gardu induk pada satu tempat ketempat lainnya. Karena pada penyaluran tenaga listrik akan timbul rugi tegangan, besarnya kerugian tersebut tergantung dari jenis penghantar, luas penampang kawat dan panjang saluran yang digunakan. Untuk mengurangi rugi tegangan yang ditimbulkan oleh resistansi penghantar, perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis penghantar sebagai penyalur tenaga listrik. Untuk pemilihan penghantar yang akan digunakan pada saluran transmisi maupun distribusi harus memperhatikan beberapa faktor antara lain : a. Daya hantar dari penghantar. b. Besar / penampang penghantar. c. Resistansi penghantar per satuan panjang. d. Kuat tarik. e. Ekonomis. Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan penghantar adalah : a. Tembaga. b. Alluminium. c. Campuran logam di atas dengan logam lain.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

21

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Dalam pemilihan penghantar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : a. Daya yang akan disalurkan. b. Beban hubung singkat. c. Keadaan lingkungan, Keadaan ekonomi dan ketahanan. Macam penghantar telanjang yang digunakan dalam sistem jaringan tegangan menengah antara lain :
a. AAC (All Alluminium Conductor), merupakan jenis penghantar yang terbuat dari allumuni murni. b. AAAC (All Alluminium Alloy Conductor), merupakan penghantar yang terbuat dari bahan alluminium campuran, penghantar ini mempunyai kekuatan mekanis yang lebih baik dari penghantar AAC. c. ACSR (Alluminium Conductor Steel Reinforced), adalah penghantar yang mempergunakan dua jenis logam yaitu alluminium dan baja sebagai penguat.

A.2.2 Impedansi Saluran Pada dasarnya jatuh tegangan pada jaringan distribusi adalah sebagai akibat dari impedansi seluruh jaringan itu sendiri. Impedansi jaringan tersebut besarnya dipengaruhi oleh hambatan (resistansi) serta reaktannya, karena impedansi Z = R + jXL ......................................2.21 Dimana;
R = resistansi kawat penghantar (ohm) L = induktansi (Henry) VL = tegangan pada beban / load voltage (volt) Vsumber = tegangan sumber (volt) R + jXL = impedansi saluran (ohm)

A.2.3 Macam Rugi Rugi Daya Macam rugi-rugi daya dapat dibedakan menjadi :
a. Rugi-rugi teknis, adalah energi yang hilang sebagai panas di sepanjang penghantar pada jaring,transformator serta peralatan lain pada jaring yang mengandung unsur resistif dan reaktif b. Rugi-rugi non-teknis, adalah energi yang hilang karena pencurian listrik, kesalahan pembacaan alat ukur, jaringan tersentuh pohon dan karena kesalahan administrasi.

A.2.4 Jatuh Tegangan Susut tegangan atau yang biasa disebut jatuh tegangan adalah besarnya tegangan yang diakibatkan oleh arus yang mengalir pada suatu media yang mempunyai impedansi. Untuk sistem arus searah, besarnya susut tegangan sama dengan arus dikalikan resistansi hantaran tersebut,sedangkan pada saluran arus bolak-balik besarnya susut tegangan merupakan fungsi dari arus beban dan cosinus sudut impedansi dari beban.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

22

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Pada jaring distribusi primer, susut tegangan dan rugi daya sebagian besar terjadi di saluran dan transformator. Oleh karena itu dalam perencanaan system harus di pilih saluran dan transformator yang bisa menghantarkan arus beban tanpa menyebabkan susut tegangan yang berlebihan dan dengan temperatur/suhu yang aman. A.2.5 Faktor Penyebab Jatuh Tegangan Faktor penyebab susut tegangan dan rugi daya pada jaring distribusi 20 kV sangat dipengaruhi oleh jenis material, peralatan maupun kontruksi jaringan tersebut. Unjuk kerja yang diharapkan dari jaringan distribusi adalah bilamana jaringan tersebut mempunyai kontinuitas penyaluran tenaga listrik maupun tingkat keandalan yang tinggi, rugi daya dan susut tegangan yang minimal. Untuk memenuhi kriteria tersebut, harus diperhatikan beberapa faktor penyebab susut tegangan dan rugi daya pada jaringan distribusi yang antara lain adalah tegangan sistem, frekuensi, faktor daya beban , faktor beban dan keandalan. A.2.6 Standar Jatuh Tegangan Selain Level Tegangan dan Beda Tegangan, dalam pengusahaan tenaga listrik dikenal adanya Standar Susut Tegangan. Pada standar ini besarnya susut tegangan yang diijinkan, diperinci untuk beberapa peralatan sistem tenaga listrik. Dengan demikian perusahaan jasa ketenagalistrikan dapat mengambil langkah yang tepat dan apa yang harus dilaksanakan pada beberapa peralatan yang berbeda tersebut agar susut tegangan yang merupakan salah satu penyebab kehilangan kesempatan penjualan penjualan energi listrik dapat ditekan sekecil mungkin. Sesuai SPLN No. 72 ; tahun 1987 jatuh tegangan maksimum sebagai berikut :
JTM JTR Trafo Saluran pelayanan = 5% = 4% = 3% = 1%

nilai jatuh tegangan biasa berubah-ubah tergantung fluktuasi beban. untuk optimasi jaringan nilai untuk dapat diambil nilai maksimum sesuai SPLN No. 72 ; 1987. A.3. USAHA MEMPERBAIKI TEGANGAN Dalam sistem pengusahaan tenaga listrik, berbagai upaya dilakukan untuk memperkecil nilai jatuh tegangan dan rugi-rugi daya yang terjadi pada saluran distribusi. Hal tersebut dilakukan karena selain merugikan perusahaan, juga merugikan pihak pelanggan sebagai pengguna jasa listrik yang selalu menuntut jasa layanan dengan kualitas yang baik. Beberapa langkah upaya memperbaiki tegangan yang harus dilakukan untuk memperkecil jatuh tegangan dan rugi daya adalah :

A.3.1. Membangun Pembangkit Pengatur Tegangan.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

23

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Dalam sistem tenaga listrik yang dilayani langsung oleh sumber pembangkit, maka penurunan tegangan secara mudah dapat diatasi dengan mengatur eksitasi generator. Dalam praktek banyak terjadi bahwa pada suatu sistem yang mempunyai jaringan distribusi yang sangat panjang akan mengakibatkan tegangan pada ujung penerima mengalami penurunan yang cukup rendah dibawah standar. Hal ini dapat diatasi dengan jalan membangun suatu pembangkit baru pada daerah dimana tegangan sudah dibawah standar pelayanan. Namun demikian perlu dipertimbangkan dari segi daya guna dan hasil guna, mengingat bahwa investasi suatu pembangkit sangat mahal. Pertimbangan teknis antara lain kurva pendapatan operasi dan kecuraman perbedaan tegangan siang dan malam. A.3.2 Membangun Gardu Induk Baru Atau Jaringan Baru. Metode perbaikan tegangan dengan cara membangun gardu induk ataupun penyulang baru ini pada dasarnya sama dengan memindahkan beban ke sumber yang baru. Dengan penambahan jaringan baru maka kemampuan penyaluran arus akan lebih besar, sehingga susut tegangan dapat diperkecil. A.3.3. Merubah Jaringan 1 Menjadi 3. Perbandingan susut tegangan antara sistem satu fasa menjadi tiga fasa adalah dengan persamaan berikut :

VD (1) % VD (1) VD (3) % VD (3)

= 2.I(1 ) . |Z| = X 100 = I(3) . |Z| = X 100

........................... ............................. ..............................

2.22 2.23 2.24 2.25

dimana : VD I Z E

= susut tegangan persatuan panjang = arus pada saluran = impedansi saluran per satuan panjang = tegangan phasa ke neral

Dalam sistem seimbang I3

Persentase susut tegangan antara pelayanan dengan sistem satu phasa dibanding dengan pelayanan sistem tiga phasa adalah :

A.3.4. Pemindahan Beban Ke Penyulang Lain 24

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Memindahkan beban ke penyulang lain berarti mengurangi arus yang mengalir sehingga susut tegangan akan menjadi lebih kecil. Tujuan utama pemindahan beban ini tidak merupakan perbaikan tegangan namun lebih diutamakan untuk peningkatan keandalan pertimbangan pembebanan transformator gardu induk atau pertimbangan karena adanya pertumbuhan beban. A.3.5. Penyeimbangan Beban Pengaruh beban yang tidak seimbang pada masingmasing fasa sangat besar, karena untuk kondisi tersebut pada hantaran netral mengalir arus yang nilainya tidak terukur dan sangat merugikan dalam sistem pengusahaan. Pada fasa yang berbeban berat, nilai jatuh tegangan akan lebih besar dibandingkan dengan fasa yang berbeban ringan. Untuk memperkecil nilai rugi tersebut selalu di upayakan langkah langkah pengukuran beban secara real time, terutama pada saat beban puncak, untuk dasar pelaksanaan pemerataan beban. Dengan keseimbangan beban maka dapat dihasilkan :
a. Arus pada setiap phasa akan mendekati harga yang sama. b. Susut tegangan masing-masing phasa akan mendekati sama.

A.3.6. Memperbesar Tegangan Kirim Untuk nilai impedansi saluran yang tetap, maka memperbesar tegangan kirim akan memberikan dampak kepada ujung tegangan penerima menjadi lebih besar, sehingga regulasi tegangan menjadi lebih baik. A.3.7. Memperbesar Penampang Hantaran Ukuran penampang hantaran berpengaruh terhadap besar kecilnya nilai jatuh tegangan maupun rugi daya yang terjadi. Oleh karena itu dalam perencanaan saluran distribusi harus diperhitungkan besar kecilnya penampang hantaran yang akan dipasang, dan harus disesuaikan dengan pembebanan program jangka panjang. Memperbesar penampang penghantar saluran berarti mengurangi besarnya nilai impedansi saluran tersebut. Sehingga untuk beban yang sama pada masingmasing phasa, nilai susut tegangannya akan menjadi semakin kecil. Hal diatas dinyatakan dalam perhitungan sebagai berikut : Vd = I. |Z| Z = R + j(XL XC) R = A.3.8. Merubah Sadapan Transformator Distribusi Metode perbaikan tegangan dengan merubah tingkat sadapan pada transformator distribusi memerlukan perhatian tersendiri, terutama menyangkut hal-hal sebagai berikut :
a. Berapa jumlah transformator yang harus dirubah sadapannya. Hal ini menyangkut efisiensi dalam pengadaan tenaga kerja . b. Posisi sadapan transformator sepanjang penyulangapakah pada posisi yang sama atau ada beberapa transformator yang berbeda. Hal ini memerlukan sistem pemantauan tersendiri agar tidak terjadi kesalahan dalam operasi. c. Berapa lama transformator tersebut akan beroperasi pada posisi sadapan yang baru. Hal ini menyangkut effisiensi tenaga maupun biaya yang dibutuhkan karena seringnya melaksanakan perubahan sadapan trafo.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

25

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

d. Bila trasnformator tersebut dicatu dari penyulang lain, maka perlu diperhatikan besarnya tegangan primer penyulang tersebut agar nilai tegangan sekundernya tidak berlebihan.

A.3.9. Pemasangan Kapasitor Daya reaktif adalah daya yang tidak menghasilkan kerja dan selalu tyersimpan dalam sistem, yaitu dalam bentuk energi magnetis. Pada gambar segitiga daya seperti ditunjukkan dalam Gambar berikut memperlihatkan daya reaktif sangat berpengaruh terhadap faktor daya. Untuk daya reaktif yang berlebihan, maka faktor daya akan rendah sehingga mempengaruhi jatuh tegangan. Oleh sebab itu diperlukan suatu sumber daya reaktif yang dapat membangkitkan daya reaktif atau dapat pula menyerap kelebihan daya reaktif yang diluar batas.

Gambar 3.11 Segitiga Daya

A.3.9.1 Memasang Kapasitor Seri Pada Jaringan Pada dasarnya pemakaian kapasitor seri untuk memperbaiki tegangan pada jaringan tenaga listrik adalah berusaha mengurangi susut tegangan dengan cara mengkompensir komponen induktif yang terjadi pada jaringan tersebut. Sebagaimana dinyatakan dalam butir 2.5.3.5. tentang susut tegangan, maka susut tegangan akibat impedansi jaringan dapat dinyatakan sebagai : Vd = I (RL cos + XL sin ).............2.27 Dengan dipasang kapasitor seri, maka persamaannya menjadi sebagai berikut : Vd = I RL cos + I (XL - XC) sin ..........2.28 Bila (XL - XC) = 0, maka besarnya susut tegangan hanya akan dipengaruhi tahanan saluran saja, sehingga nilainya akan lebih kecil daripada tanpa dipasang kapasitor. Namun demikian perlu diperhatikan bahwapemasangan kapasitor hanya bila beban bersifat induktif, artinya arus mengikuti tegangan. A.3.9.2 Memasang Kapasitor Shunt Pada Jaringan Dampak pemasangan Shunt kapasitor pada jaringan tenaga listrik ditunjukkan dalam gambar sebagai beruikut:
Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

26

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Gambar 3.12 Kurva Kapasitor Shunt pada Beban Dari gambar ini dapat dinyatakan bahwa pemasangan shunt kapasitor akan dapat memberikan dampak sebagai berikut :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengurangi komponen arus induktif yang bersifat mengikuti tegangan. Menambah level tegangan pada sisi beban Memperbaiki regulasi tegangan. Mengurangi rugi rugi daya aktif = I2.R dikarenakan berkurangnya arus. Mengurangi rugi-rugi daya reaktif = I2.X dikarenakan berkurangnya arus. Menambah besarnya faktor daya pada sisi sumber. Mengurangi beban KVA pada sumber.

Kapasitor shunt yang dipasang pada jaringan akan memperbaiki tegangan pada titik dimana kapasitor tersebut dipasang menuju kearah sisi sumber tegangan. Kapasitor menggambarkan adanya arus yang mendahului tegangan dan arus ini mengalir melalui reaktansi seri pada jaringan yang mengakibatkan adanya kenaikkan tegangan pada titik pemasangan yang besarnya sama dengan reaktansi jaringan dikalikan arus kapasitor. Prosentase kenaikkan tegangan pada titik pemasangan : %V = dimana : ckva d X ................2.29

= kapasitas kapasitor (KVA atau KVAR) = panjang jaringan = reaktansi jaringan pada satuan panjang jaringan

Bila kapasitor merupakan kapasitor satu phasa, maka perhitungan kenaikkan tegangan adalah berdasarkan kapasitas kapasitor satu phasa. Sedangkan tegangan sama dengan tegangan antara saluran phasa netral, dan reaktansinya sama dengan dua kali reaktansi saluran.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

27

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

A.3.10 Pengaturan Tegangan Penyulang Menggunakan Alat Pengatur Tegangan ( Regulator Tegangan ) Peralatan pengatur tegangan dirancang untuk menjaga secara otomatis suatu nilai tegangan tertentu yang akan bervariasi terhadap perubahan beban. Pada saat beban bertambah, peralatan pengatur tegangan akan memperbesar tegangan keluaran pada gardu induk untuk mengkompensasi bertambahnya jatuh tegangan pada saluran distribusi. Dalam hal ini, pengaturan tegangan sangat diperlukan bagi pelanggan yang letaknya jauh dari gardu transformator atau lokasi rangkaian utama adalah diluar batas pengaturan. Penambahan pengatur tegangan yang ditempatkan dalam lingkungan Gardu Induk dan dapat juga dipasang pada penyulang diluar lingkungan Gardu Induk. B. Pemeliharaan Seri Banyak Salah satu penyebab atau kendala jatuh tegangan (Drop Voltage)pada pelanggan/konsumen adalah karena penggunaan kabel Sambungan Rumah (SR) dengan menggunakan sistem sambungan seri banyak. Sambungan Rumah menggunakan Kabel Twisted 2x10 mm 2 dengan penghantar alumunium (NFA2X) yang kapasitasnya hanya dapat melayani 5-6 sambungan seri. Jika melebihi dari standar tersebut maka sudah termasuk dalam kategori Sistem Sambungan Seri Banyak. panjang maksimum penghantar saluran udara sampai dengan kotak APP adalah 30 meter dan 60 meter untuk daerah pedesaan dengan jatuh tegangan tidaak melebihi 1%. untuk sambungan pelanggan pada listrik pedesaan jatuh tegangan maksimum 2%. Penggunaan sistem sambungan seri banyak mempunyai kelebihan maupun juga kekurangan, yaitu:
Kelebihan seri banyak: a. Harga material lebih murah dibanding penggunaan Sistem Jaringan Tegangan Rendah (JTR) Kekurangan seri banyak: a. Terjadi Drop Voltage (jatuh tegangan) b. Rawan terjadi kebakaran karena banyaknya sambungan-sambungan

Meskipun dari segi ekonomis sistem Sambungan Seri Banyak mempunyai kelebihan, namun Sambungan Seri Banyak tidak dianjurkan untuk dipergunakan, hal ini karena tidak memenuhi standar kualitas tegangan pelayanan akibat adanya Drop Voltage (jatuh tegangan). Secara umum ada tiga hal yang perlu dijaga kualitasnya, yaitu:
Frekuensi (50 Hz) Tegangan SPLN.No.1;1985 (220/380 Volt : +5%; -10%) Keandalan

Oleh karena sistem Sambungan Seri Banyak kurang dianjurkan untuk dipergunakan maka sistem tersebut harus diubah sehingga setiap kabel sambungan rumah (SR) hanya melayani 5-6 sambungan sesuai dengan standar kapasitas penggunaan kabel SR. Sistem ini dapat digunakan jika diadakan penambahan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) ataupun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) pada daerah dimana sistem Sambungan Seri Banyak tersebut dilakukan. Hal ini

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

28

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

disebabkan karena salah satu faktor digunakannya Sistem Seri Banyak adalah karena jarak pelanggan dari JTR yang cukup jauh. Adapun solusi lain mengantisipasi jatuh tegangan akibat Sambungan Seri Banyak adalah dengan menambah Trafo Sisipan pada jaringan serta pengecekan adanya kemungkinan Trafo yang mengalami Over Load.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

29

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

BAB IV PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK DI PT. PLN (PERSERO) CABANG PALOPO RANTING MASAMBA 4.1 Tabel Kegiatan Kerja Praktek dari Tanggal 15 Agutus 17September 2011
Tanggal 15 Agustus 2011 Jenis kegiatan

* Penarikan JTM Baru untuk Pemasangan Trafo Sisipan Di Daerah malangke Sepanjang 5 KM

16 Agustus 2011

* Penarikan JTM Baru untuk Pemasangan Trafo Sisipan Di Daerah Malangke Sepanjang 5 KM

18 Agustus 2011 19 Agustus 2011 22 Agustus 2011 24 Agustus 2011 25 Agustus 2011 5 September 2011

* Pemasangan Trafo Sisipan 1 Fase di Daerah Malangke Barat * Pemasangan Trafo Sisipan 1 Fase di Daerah Malangke Barat * Manajemen Trafo dan Perbaikan Jatuh Tegangan * Penggantian Trafo Distribusi 1 Fase 50 kVA * Pemasangan atau Penggantian Trafo Distribusi Step Down 20 kV/220 V * Pemangkasan Pohon untuk Mencegah Gangguan pada Jaringan Distribusi dari Alam

6 September 2011

* Pemangkasan Pohon untuk Mencegah Gangguan pada Jaringan Distribusi dari Alam.

8 September 2011

* Pemasangan Salah Satu Vacum Kapasitor 3 Fase yang terdapat di Daerah Sukamaju untuk Malangke Barat.

9 September 2011 12 September 2011 13 September 2011 14 September 2011

* Pemasangan Vacum Kapasitor 3 Fase di Daerah Malangke Barat. * Survei Lokasi Jatuh Tegangan ( Drop Voltage ) untuk Pemasangan Trafo Sisipan. * Penggantian Trafo Overload 3 Fase dan 1 Fase di Daerah Malangke Barat * Penggantian Trafo 50 kVA menjadi 100 kVA di Daerah Radda dan Penggantian Trafo 25 kVA menjadi 50 kVA

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

30

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

4.2 Penarikan Jaringan Tegangan Menengah ( JTM ) untuk Pemasangan Trafo Sisipan
Jaringan Distribusi Tegangan Menengah terbagi dua macam berdasarkan cara menyalurkan tenaga listrik yaitu Saluran Kabel Tanah Tegangan Menengah dan Saluran Udara Tegangan Menengah. Jaringan Distribusi Tegangan Menengah Saluran Udara dipakai umumnya untuk daerah dengan jangkauan luas, daerah padat beban rendah atau daerah-daerah penyangga antara kota dan desa. Saluran udara mempunyai biaya investasi murah, mudah dalam pembangunannya, mudah pada sisi pengoperasian, akan tetapi padat pemeliharaan. Tingkat kontinuitas rendah dengan konfigurasi sistem umumnya Radial (Fishbone). Sedangkan Jaringan Distribusi Tegangan Menengah Saluran Bawah Tanah dipakai umumnya untuk daerah padat beban tinggi (beban puncak lebih dari 25 MVA/km2 dengan luas minimal 10 km2) dengan jangkauan terbatas. Biaya investasi mahal, sulit dalam pembangunan, mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaan, kontinuitas tinggi. Tujuan dari penarikan jaringan tegangan menengah baru ini adalah agar dapat memperbaiki pelayanan sesuai dengan Target Mutu Pelayanan ( TMP ). Setelah perpanjangan atau pemasangan jaringan tegangan menengah baru ini dilakukan maka akan dilakukan pemasangan trafo sisipan baru, yang tujuan untuk memperbaiki jatuh tegangan ujung.

Gambar 4.2 Pemasangan Jaringan Tegangan Menengah

4.3 Pemasangan Trafo Distribusi Sisipan


Dalam pelaksanaan pemasangan trafo distribusi sisipan mencakup tentang mengoptimalkan tegangan sesuai yang di butuhkan pelanggan. Jatuh tegangan merupakan suatu permasalahan yang sangat dihindari. Untuk menjaga dan meningkatkan kontinuitas pelayanan pada masyarakat maka dilaksanakan yang namanya pemasangan trafo distribusi sisipan. Dari hasil pengukuran yang sebenarnya pada trafo, tegangan yang disalurkan pada pelanggan sangat kecil sedangkan arus yang harus dibebani sangat besar. Sebagaimana tegangan berbanding terbalik dengan arus, maka apabila tegangan rendah maka arus akan
Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

31

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

tinggi dan juga sebaliknya. Maka yang diupayakan dalam pemasangan trafo distribusi sisipan dapat mengoptimalkan tegangan dari trafo yang akan di sisipi dengan mengalihkan sebagian bebannya ke trafo sisipan. Dengan adanya pemasangan trafo distribusi selain mengoptimalkan tegangan juga mengurangi area pemadaman juga menjaga dan meningkatkan keutuhan pelayanan pada masysrakat. Contoh: pemasangan trafo distribusi 1 phasa 50 kVA disisipi 1 phasa 25 kVA - Primer tegagan 20 kV - Sekunder tegangan 231 V - Primer arus 2,5 A - Sekunder arus 216 A

Gambar 4.3 Nameplate Transformator 1 Fasa 50 kVA dan Transformator 1 Fasa 50 kVA Beban maksimal dari trafo 1 phasa 50 kVA yaitu 216 A apabila dibebani lebih dari kapasitas trafo tersebut akan overload sehinggah bebannya harus dialihkan agar trafo berkerja dengan efektif sesuai kriterianya. Tujuan dari pada pemasangan trafo distribusi sisipan yaitu: - Menjaga mutu kerja pada peralatan listrik - Memperbaiki tegangan yang drop - Mencegah terjdinya trafo overload - Mengalihkan sebagian beban dari trafo yang disisipi

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

32

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

Adapun hasil yang didapat dari pemasangan trafo distribusi sisipan yaitu: - Tegangan yang disalurkan ke pelanggan menjadi efektif. - Trafo yang tadinya overload menjadi baik - Tegangan menjadi besar /optimal pada trafo yang telah disisipi - Rugi-rugi beban menjadi semakin kecil.

4.4 Penggantian Trafo Distribusi yang Mengalami Overload


Tidak efektifnya tegangan pada trafo disebabkan karena arus lebih besar dibanding dengan daya kapasitas pada trafo sehinggah tegangan menjadi drop, sebab tegangan dan arus berbanding terbalik. Jadi untuk mengoptimalkan tegangan, trafo yang tidak lagi efektif dalam melayani beban yang besar maka dimanajen ke trafo yang kapasitasnya lebih besar sehinggah tegangan dapat normal kembali. Dalam manajemen trafo 1 phasa 25 kVA ke 1 phasa 50 kVA ini dilakukan karena beban yang ada pada pelanggan melebihi dari kapasitas pada trafo 1 phasa 25 kVA yang mengakibatkan trafo overload sehinggah kapasitas trafo dinaikan dengan mengganti trafo menjadi 1 phasa 50 kVA agar gardu tersebut dapat normal. Selain menjaga mutu kerja trafo juga dapat mengurangi rugi rugi beban pada trafo yang disebabkan trafo overload tadi.

Gambar 4.4 Penggantian Trafo 1 Fasa 25 kVA menjadi Trafo 1 Fasa 50 kVA Untuk proses penggantian trafo itu sendiri harus dalam kondisi tidak bertegangan, yaitu NH-fuse dilepas dengan menggunaka puller, apabila ada saklar utama (NFB) juga dilepas dan kemudian dilanjutkan dengan melepas FCO dengan menggunakan sakel stick, kemudian kawat yang berhubungan lansung dengan busing primer dan sekunder trafo dengan terlebih dahulu memberi tanda pada kawat (F-F dan F-N) untuk menghindari tertukarnya fasa dan netral sekunder terhadap trafo yang akan diganti, lalu diturunkn dengan menggunakan takel
Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

33

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

rantai 5 ton dan diganti dengan trafo yang akan digunakan yaitu 1 phasa 50 kVA. Setelah dinaiakn trafo tersebut dipasang kembalilah semua kawat pada busing primer trafo dan sekunder trafo yang telah dilepas sesuai urutan fasanya atau yang sudan ditandai antara (F-F dan F-N) untuk mencegah phasa terbalik. Setelah semua sudah terpasang dengan baik masukan kembali FCO lalu masukan NH-fuse pada PHB-TR, kemudian ukur tegangan dan arusnya sebelum dibebani dan sesudah dibebani dan pastikan dalam keadaan normal.

Gambar 4.5 NH-Fuse dan FCO (Fuse Cut Out)

4.5 Pemelihaaraan Jaringan Tegangan Menengah dan Jaringan Tegangan Rendah (JTM/JTR)
Pemeliharaan Jaringan merupakan suatu pekerjaan yang dimaksudkan untuk mendapatkan jaminan bahwa suatu sistem/peralatan akan berfungsi secara optimal, umur teknisnya meningkat dan aman baik bagi personil maupun bagi masyarakan umum. Adapun sering terjadinya gangguan SUTM yaitu ranting ranting pohon dan hewan yang dapat mengakibatkan terjadinya sentuhan langsung pada jaringan. Untuk mengantisipasi/mengurangi ganguan SUTM akibat sentuhan pohon. Maka dari itu kita rutin melakukan pemeliharaan terhadap jaringan SUTM tersebut dengan cara melakukan penebangan pohon. Kegiatan ini diawali dengan terlebih dahulu mensosialisasikan kepada warga tersebut dan menjelaskan bahaya dari sentuhan pohon terhadap jaringan, agar warga tersebut mengerti terhadap bahaya yang dapat terjadi akibat adanya pepohonan yang lebat disekitar jaringan. Apabila ganguan pada jaringan karena akibat hewan misalnya kelelawar maka jaringan tersebut harus dibersikan dengan baik terutama yang menempel pada isolator dan pelaksanannya harus lebih hati hati jangan sampai masih ada tegangan yang tersisa pada jaringan atau lebih dikenal tegangan induksi.

Adapun tujuan dilakukannya pemeliharaan jaringan adalah:

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

34

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

a. Menjaga agar peralatan/komponen dapat dioperasi-kan secara optimal berdasarkan spesifikasinya sehingga sesuai dengan umur ekonomisnya. b. Menjamin bahwa jaringan tetap berfungsi dengan baik untuk menyalurkan energi listrik dari pusat listrik sampai ke sisi pelanggan. c. Menjamin bahwa energi listrik yang diterima pelanggan selalu berada dalam tingkat keandalan dan mutu yang baik.

d. Mendapatkan jaminan bahwa system/peralatan distribusi aman baik bagi personil maupun bagi masyarakat umum. e. Untuk mendapatkan efektivitas yang maksimum dengan memperkecil waktu tak jalan peralatan sehingga ongkos operasi yang menyertai diperkecil. f. Menjaga kondisi peralatan atau sistem dengan baik, sehingga kwalitas produksi atau kwalitas kerja dapat dipertahankan.

g. Mempertahankan nilai atau harga diri peralatan atau system, dengan mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan. h. Untuk menjamin keselamatan bagi karyawan yang sedang bekerja dan seluruh peralatan dari kemungkinan adanya bahaya akibat kerusakan dan kegagalan suatu alat. i. Untuk mempertahankan seluruh peralatan dengan efisiensi yang maximum. Dan tujuan akhirnya yaitu untuk mendapatkan suatu kombinasi yang ekonomis antar berbagai factor biaya dengan hasil kerja yang optimal.

Gambar Grafik kemampuan dan umur peralatan a : pemeliharaan secara benar. b : tanpa dipelihara.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

35

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

4.6 Alat dan bahan yang digunakan


adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat melaksanakan pemasangan trafo distribusi sisipan, penggantian trafo serta pemeliharaan jaringan yaitu:
Alat

Takel rantai Takel tarik kamlong Tang Puller Tool kit Tang press Obeng Linggis Panel Nh-fuse Holder Kabel nyy 4 x 70 mm2 Parallel groove Joint sleve Plat tembaga Kawat tembaga Strain clamp Kawat acc Skunt

tali tambang palu gergaji besi parang/pemotong safety belt sadel pole skop pisau kater Pipa Cross arm/traves Doble arm bolt Lightning areester Fuse link Mur baut dan ring Klem bougel Cut out Isolator tumpu FCO Trafo

Material

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

36

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan


Adapun kesimpulan dari Kerja Praktek yang telah kami lakukan, khususnya mengenai pembahasan dan permasalahan tentang gangguan gangguan pada sistem distribusi tegangan rendah dan tegangan menengah adalah :

1. Permasalahan utama yang ada pada sistem distribusi adalah Jatuh Tegangan pada tegangan ujung sistem distribusi serta banyaknya penggunaan sistem Sambungan Seri Banyak. 2. Jumlah maksimal Sambungan pada kabel SR adalah enam (6) sambungan, jika melebihi dari jumlah tersebut sebaiknya perlu diadakan penarikan JTM atau JTR sehingga besar jatuh tegangan masih sesuai standar SPLN. 3. Untuk mengurangi besarnya losses serta meningkatkan Efektivitas serta Efisiensi sistem jaringan distribusi perlu diadakan Manajemen Trafo. 4. Untuk mengalihkan sebagian beban trafo yang overload perlu diadakan pemasangan trafo sisipan agar sistem dapat beroperasi secara baik dan Efektif. 5. Untuk mengurangi terjadinya gangguan, dilakukan pemeliharaan misalnya revisi dan pengecekan gardu agar dapat mengurangi terjadinya peralatan peralatn yang rusak. 6. Selain itu, untuk mengurangi atau mengatasi gangguan dari alam terhadap Jaringan Distribusi. Dapat dilakukan dengan Pemangkasan pohon yang letaknya dekat dari jaringan distribusi tersebut 7. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan dilakukan dengan SOP yang telah distandarisasi dengan format tertentu. Format ini disamping sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan juga sebagai controller dari mekanisme kerja yang dilakukan.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

37

STT PLN DIII - TEKNIK ELEKTRO

5.2

Saran
Pada pelaksanaan pekerjaan yang dapat menimbulkan bahaya atau resiko baik bagi

keselamatan para pekerja, sistem, maupun masyarakat umum perlu memperhatikan K3 dan K2 serta alat dan bahan yang digunakan masih tergolong kurang untuk diperlengkap.

Laporan Kerja Praktek di PT.PLN (PERSERO) Cabang Palopo Ranting Masamba

38