Anda di halaman 1dari 26

minerals engineering introduction PENGANTAR TEKNOLOGI MINERAL Ilmu Pertambangan?

Suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari kegiatan pencarian, penyelidikan, penambangan, pengolahan, dan penjualan mineral-mineral dan batuan yang memiliki arti ekonomis (berharga). Bahan Galian? Unsur-unsur kimia, mineral, bijih, dan segala macam batuan termasuk batu mulia yang merupakan endapan alam, yang dapat ditambang secara ekonomis. Ciri-ciri Industri Pertambangan? 1. Bahan bakunya tidak dapat diperbaharui (unrenewable, unraplaceable, wasting assets). 2. Diketemukannya terpencar ditempat-tempat yang tidak dapat dipilih. 3. Kandungan bahan galian berharga yang diperoleh sangat kecil bila dibandingkan dengan seluruh volume bahan galian yang ditambang dan diolah. 4. Beresiko tinggi. 5. Industri yang padat modal dan padat teknologi. 6. Industri strategis dan vital untuk negara, sehingga: a. Pengelolaannya sering diintervensi oleh pemerintah b. Sulit mengendalikan harga produknya. 7. Dapat menjadi pusat pertumbuhan pembangunan dan pengembangan wilayah (agent of development). 8. Merusak lingkungan hidup. Merusak Lingkungan? a. UU No. 11 Tahun 1967 Bab X pasal 30 Setiap usaha eksploitasi sumber mineral haruslah berjalan bersama dengan usaha pemeliharaan lingkungan yang terganggu. b. Setiap ijin Eksploitasi wajib ada AMDAL.

c. AMDAL terdiri dari : ANDAL (dampak positif penting dan tidak penting serta dampak negatif penting dan tidak penting), RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan), dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan). d. Sehingga dapat diusahakan pemanfaatan sumberdaya alam berjalan bersama dengan usaha pemeliharaan fungsi lingkungan hidup yang serasi, seimbang, dan berkesinambungan (UU No.4 1982) II. Istilah-istilah Pertambangan 1 Mineral Suatu istilah umum untuk semua benda padat anorganik yang terbentuk di alam, mempunyai komposisi kimia tertentu dan sifat-sifat fisik yang tetap. Keuntungan (laba) yang diinginkan perusahaan. 2. Rock (batuan) Kumpulan mineral yang membentuk kulit bumi. 3. Ore (endapan bijih/cebakan bijih) Endapan dari kumpulan mineral yang dari padanya dapat diambil (diekstrak) satu atau lebih logamnya dengan menguntungkan berdasarkan keadaan teknologi dan ekonomi pada saat itu. 4. Country Rock (batuan samping) Lapisan batuan yang mengelilingi suatu endapan mineral. 5. Gangue Mineral Mineral-mineral pengganggu yang tidak berguna tetapi yang terdapat bersama-sama mineral berharga pada suatu endapan bijih. 6. Waste (Barren Rock) Batuan yang tidak mengandung mineral berharga atau bagian dari endapan bijih yang kadarnya sangat rendah. 7. Vein (urat bijih) Suatu endapan mineralisasi yang memiliki bentuk menyerupai pipa atau urat dan umumnya miring terhadap bidang datar (lebih besar 45o). 8. Shoot (ore shoot, chimney) Bagian dari urat bijih (vein) dimana kadar mineral berharganya lebih tinggi dari sekelilingnya, mempunyai sifat-sifat khas antara lain: Salah satu dimensinya jauh lebih besar dari dua dimensi yang

lain. Letaknya biasanya searah dengan kemiringan urat bijih. 9. Pay Streak Sama dengan shoot, hanya untuk endapan alluvial. 10. Bedded Deposit (endapan berlapis) Endapan bahan galian sedimenter yang letaknya horizontal atau sedikit miring dan terletak sejajar dengan stratifikasi batuan disekelilingnya. Misalnya : endapan batubara, endapan-endapan garam. 11. Dissiminated Deposit (endapan terpencar) Endapan bijih yang tidak teratur bentuk dan penyebaran kadarnya, letaknya terpisah-pisah dan biasanya terdapat pada suatu daerah yang luas. 12. Masses Endapan bijih yang luas dan bentuknya tidak teratur , pada umumnya endapan sekunder. 13. Out Crop (singkapan) Bagian dari suatu lapisan batuan atau endapan bijih yang tersingkap dipermukaan bumi, seringkali bagian itu tertutup oleh tanah atau tumbuhtumbuhan yang tipis sehingga sukar terlihat. 14. Float Bagian atau pecahan dari endapan bijih yang tersingkap dank arena gaya-gaya pelapukan terbawa kea rah lembah. 15. Overburden (tanah/batuan penutup) Semua material atau batuan yang terdapat tepat dibawah suatu endapan bahan galian. 16. Bed Rock Semua material atau batuan yang berada tepat di bawah suatu endapan bahan galian. 17. Hanging Wall Lapisan batuan yang terletak di bagian atas suatu vein, disebut roof untuk batubara. 18. Foot Wall Lapisan batuan yang terletak di bagian bawah suatu vein, disebut floor untuk batubara. 19. Dip (kemiringan) Sudut terbesar yang dibentuk oleh suatu endapan bahan galian atau lapisan batuan dengan bidang datar.

20. Strike (jurus) - Arah mendatar dari suatu endapan atau suatu batuan yang tegak lurus dip. 21. Shaft (sumuran) Suatu lubang bukaan vertikal atau miring yang menghubungkan tambang bawah tanah dengan permukaan bumi dan berfungsi sebagai jalan pengangkutan karyawan, alat-alat kebutuhan tambang, ventilasi, penirisan, dan lain-lain. 22. Tunnel (terowongan) Suatu lubang bukaan mendatar atau hamper mendatar yang menembus ke dua belah kaki bukit. 23. Adit (terowongan buntu) Suatu lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar menghubungkan tambang bawah tanah dengan permukaan bumi dan hanya menembus sebelah kaki bukit saja. 24. Drift Suatu lubang bukaan mendatar yang dibuat dekat atau pada endapan bijih dan arahnya sejajar dengan jurus atau dimensi terpanjang dari endapan bijihnya. 25. Cross Cut Suatu lubang bukaan mendatar yang menyilang/memotong jurus endapan bijih. Suatu lubang bukaan mendatar yang menghubungkan shaft dengan endapan bijih. Suatu lubang bukaan mendatar yang menyilang/memotong jalan pengangkutan utama (main haulage way). 26. Level jarak yang teratur kearah vertikal, biasanya diberi nomor-nomor urut secara teratur menurut ketinggiannya dari permukaan laut atau menurut kedalamannya dari permukaan bumi. 27. Raise Suatu lubang bukaan vertikal atau agak miring yang dibuat dari level atas ke level yang dibawahnya. 28. Winze Suatu lubang bukaan vertikal atau agak miring yang dibuat dari level atas ke level yang dibawahnya. 29. Blind Shaft Suatu raise atau winze yang berfungsi sebagai shaft, tetapi tidak menembus sampai ke permukaan bumi. 30. Stope (lombong) Suatu tempat atau ruangan pada

tambang bawah tanah dimana endapan bahan galian sedang ditambang, tetapi bukan penggalian yang dilakukan selama development. 31. Front/ Face Permukaan batuan yang sedang ditambang. 32. Sump Suatu sumuran dangkal untuk menampung air darimana air kemudian dipompakan ke permukaan bumi. Biasanya dibuat di tempat terendah dari shaft, dekat shaft ataupun level. 33. Shaft Collar Bagian atas dari suatu shaft yang diperkuat dengan beton, kayu atau bamboo (timber). III. LINGKUP INDUSTRI PERTAMBANGAN DAN KETERTARIKAN ANTAR KEGIATANNYA Kompetensi Dasar : Mahasiswa dapat menjelaskan tahap kegiatan industri pertambangan. Bagaimana Tahapan Kegiatan dalam Industri Pertambangan ? SKIP : Surat Keputusan Ijin Peninjauan A. Tahap Eksplorasi Eksplorasi adalah segala kegiatan mulai dari mencari daerah prospek keterdapatan endapan bahan galian sampai mengetahui jumlah dan kadar (Sumberdaya dan cadangan bahan galian yang layak tambang/ekonomis). Tahap eksplorasi : 1. Survei Tinjau (reconsaissance) Tujuan : Mengidentifikasi daerah-daerah yang secara geologis mengandung endapan yang berpotensi. Mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi, tata guna lahan, dan kesampaian daerah. Kegiatannya antara lain: Studi geologi . penafsiran penginderaan jauh, metode tidak langsung lainnya, serta inspeksi lapangan pendahuluan. 2. Prospeksi (Prospecting) Tujuan : Membatasi daerah sebaran sndapan yang akan menjadi sasaran

eksplorasi selannjutnya. Kegiatannya antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimal 1: 50.000, Pengukuran penampang stratigrafi, Pembuatan paritan, Pembuatan sumuran, Pemboran uji (scout drilling), Pencontohan, dan Analisis. Metode eksplorasi tidak langsung, seperti penyelidikan geofisika, dapat dilaksanakan apabila dianggap perlu. 3. Eksplorasi Pendahuluan (preliminary Explorationi) Mengetahui gambaran awal bentuk tiga-dimensi endapan yang meliputi: Ketebalan lapisan, Bentuk, Korelasi, Sebaran, Struktur, Kuantitas dan Kualitas. Kegiatannya antara lain : Pemetaan geologi dengan skala 1: 10.000, Pemetaan topografi, Pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya, Penampangan (logging) geofisika, Pembuatan sumuran/paritan uji, dan Pencontohan yang andal. Pengkajian awal geoteknik dan geohidrologi mulai dapat dilakukan. Kualitas dinyatakan dengan : 1. mineral : Kadar dan dinyatakan dalam; % (persen) = 1,5% Cu, 55% Fe2O3 Kw Sn/1000 m3 = SnO2 Gr/ton (primer), gr/m3 (sekunder) = Au

Gr/ton = Ag Karat/m3 tanah = intan % MD (Magnetizing degree) tanah yang digali = pasir besi (Fe3O4 + Fe2O3 2. Khusus untuk batubara adalah : Total moisture Kandungan abu Fixed carbon Nilai kalor 4. Eksplorasi Rinci (Detailed exploration) Mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga-dimensi endapan secara lebih rinci. Kegiatannya antara lain : Pemetaan geologi dan topografi dengan skala minimal = 1 : 2.000, Pemboran dan pencontohan yang dilakukan dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya, Penampangan (logging) geofisika, dan Pengkajian geohidrologi dan geotektonik. Tujuan dari tahap penyelidikan Tujuan dari tahap penyelidikan adalah menentukan tingkat keyakinan geologi dan kelas sumber daya yang dihasilkan. 1. Sumber Daya (Resources) Bagian dari endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. 2. Cadangan (Reserves) Bagian dari sumber daya yang telah diketahuii dimensi,sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang. 3. Keyakinan Geologi (Geological Assurance) Tingkat kepercayaan tentang keberadaan yang ditentukan oleh tingkat kerapatan titik formasi geologi yang meliputi ketebalan, kemiringan lapisan, bentuk, korelasi lapisan, sebaran, struktur, ketebalan tanah penutup, kuantitas dan kualitasnya sesuai dengan tingkay penyelidikan. 4. Kajian Kelayakan (Feasibility Study) Kajian kelayakan

adalah suatu kajian rinci terhadap semua aspek yang bersifat teknis dan ekonomis dari suatu rencana proyek penambangan. Tingkat Keyakinan Geologi Jarak pengaruh adalah jarak dimana kemenerusan dimensi dan kualitas batubara masih dapat terjadi dengan tingkat keyakinan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi geologi daerah penyelidikan. Titik informasi dapat berupa singkapan, parit uji, sumur uji, dan titik pengeboran dangkal atau pun pengeboran dalam. Penentuan titik-titik informasi disesuaikan dengan penyebaran batubara (garis penyingkapan) dan jarak pengaruh. Kondisi Geologi Sederhana Endapan batubara umumnya tidak dipengaruhi oleh aktivitas tektonik seperti sesar, lipatan, dan intrusi. Lapisan batubara umumnya landai, menerus secara lateral sampai ribuan meter dan hampir tidak memiliki percabangan. Ketebalan lapisan batubara secara lateral dan kualitasnya tidak menunjukkan variasi yang berarti. Kondisi Geologi Moderat Endapan batubara sampai tingkat tertentu telah mengalami pengaruh deformasi tektonik. Pada beberapa tempat, intrusi batuan beku mempengaruhi struktur lapisan dan kualitas batubaranya. Dicirikan pula oleh kemiringan lapisan dan variasi ketebalan lateral yang sedang. Sebaran percabangan batubara masih dapat diikuti sampai ratusan meter. V PENAMBANGAN (EKSPLOITASI) Kompetensi Dasar : Mahasiswa dapat menjelaskan tentang penambangan (Eksploitasi). A. Pemilihan Metode Penambangan Dasar pemilihan metode penambangan yaitu :

1. Keuntungan terbesar yang akan diperoleh Pada awalnya metode penambangan didasarkan pada letak endapan terhadap permukaan (dangkal atau dalam) 2. Perolehan tambang yang tebaik dengan memperhatikan karakteristik daerah (alamiah,geologi,lingkungan,dll) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode penambangan : 1. Karakteristik spasial dari endapan Faktor terpenting yang akan mempengaruhi dalam pemilihan suatu daerah akan ditambang dengan tambang terbuka atau bawah tanah, laju produksi, pemilihan metode penambangan material dan lay-out tambang dan rebakan. a. Ukuran (Dimensi : tebal dan penyebaran) b. Bentuk (Tabular, leutiular, massiv dan irregular) c. Attitude (Inklinasi dan Dip) d. Kedalaman ( Nilai : Rata-rata dan ekstrim, nisbah pengupasan SR) 2. Kondisi geologi dan hidrogeologi) Karakteristik geologi dari mineral mempengaruhi kepada pemilihan metode penambangannya (Selektif atau tidak), mineral berpengaruh kepada cara pengolahan, dan hidrologi mempengaruhi system drainase dan pompa yeng diperlukan. a. Mineralogi dan petrografi (sulfide dan oksida) b. Komposisi kimia dan kualitas (bahan tambang primer dan produk samping by product, untuk batubara : CV, TM, Ash, S) c. Struktur geologi (lipatan, patahan, diskontinu, intrusi) d. Bidang lemah (kekar ,retakan, cleavage dalam endapan bijih/cleats dalam batubara) e. Keseragaman, alterasi, oksidasi, erosi (zona dan batas). f. Air tanah dan hidrologi. 3. Sifat-sifat geoteknik (Mekanika tanah dan batuan) Sifat mekanik material endapan dan batuan sekelilingnya pada tambang terbuka berpengaruh pada pemilihan peralatan dan

kestabilan lereng, dan pada tambang bawah pada kelas metode (supported, unsupported, dan caving) a. Sifat elastic (kekuatan, modulus elastic, nisbah poison, dll) b. Perilaku elastic dan viskoelastik (flow, creep) c. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi) d. Konsolidasi, kompaksi, dan kompetensi. e. Sifat-sifat fisik lainnya (bobot isi SG, voids, porositas, permeabilitas, kandungan lengas moisture content) 4. Konsiderasi ekonomi Factor ini mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan keuntungan. a. Cadangan (tonase, dan kadar/kualitas) b. Laju produksi (produksi per satuan waktu) c. Umur tambang d. Produktivitas (produksi per satuan pekerja dan waktu, misal/karyawan-shift) e. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok. 5. Factor teknologi a. Perolehan tambang (mine recovery) b. Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih/batubara) c. Ke fleksibilitas-an metode dengan perubahan kondisi d. Selektivitas metode untuk batubara dan waste e. Konsentrasi atau disperse dari pekerjaan f. Modal, pekerja, dan intensitas mekanisasi 6. Factor lingkungan a. Control bawah tanah b. Penurunan permukaan bawah tanah (subsidence) c. Control atmosfir (control kualitas, control panas dan kelembaban, serta untuk tambang bawah tanah : ventilasi) d. Kekuatan pekerja (pelatihan, recruitment, kondisi kesehatan, dan keselamatan pekerja, kehidupan, dan pemukikiman B. Klasifikasi Metode Penambangan Secara gais besar metode penambangan dibagi menjadi : 1. Tambang terbuka (surface mining) Segala kegiatan atau

aktivitas penambangan yang dilakukan pada/dekat permukaan bumi dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar dan dipengaruhi oleh cuaca. 2. Tambang bawah tanah (underground mining) Segala kegiatan/aktivitas penambangan yang dilakukan di bawah prmiukaan bumi dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar. 3. Tambang bawah air (underwater mining) Segala kegiatan penggaliannya dilakukan dibawah permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak dibawah permukaan air. Saat ini diperlukan klasifikasi metode penambangan yang mempunyai ciri: 1. Umum dapat diaplikasikan pada tambang terbuka dan bawah tanah, untuk semua komoditi tambang, batubara atau non batubara) 2. Meliputi metode yang sedang berjalan dan metode baru (novel) yang sedang dikembangkan tetapi belum dapat dibuktikan keseluruhannya. 3. Mengenali perbedaan kelas metode yang besar dan biaya relative. Metode * Menunjukkan metode paling penting dan paling sering digunakan I. Tambang Terbuka (Surface Mining) 1. Mekanis a. Open pit mining Cara penambangan dimana arah penggaliannya kearah bawah sehingga membentuk cekungan/pit. Tanah penutup (overburden)/waste akan selalu dibuang dari pit (disposal). Diterapkan pada tambang batubara yang dengan kemiringan (dip) endapan yang besar (curam). d. Auger mining 2.Aquaeous Metode ini berhubungan dengan air atau cairan untuk

memproleh mineral dari dalam bumi, baik dengan aksi hidrolik maupun dengan serangan cairan. a. Placer mining Cara penambangan dengan menggunakan air untuk menggali, mentransportasi, dan mengkonsentrasikan mineral-mineral berat. 1.Tambang semprot (hidraulicking) Cara penambangan dengan menggunakan semprotan air yang betekananan tinggi yang berasal dari penyemprotan yang disebut monitor atau water jet atau giant. 2.Kapal keruk (dreging) Cara penambangan dengan menggunakan kapal keruk (dredge) dan digunakan padan endapan placer yang terletak dibawah permukaan air, misalnya di lepas pantai, sungai, danau atau di suatu lembah dimana tersedia banyak air. b.Solution mining Cara penambangan dimana mineral yang diperoleh dilakukan dengan dilarutkan, dicairkan atau slurrying meskipun beberapa persiapan atau eksploitasi di bawah tanah, tetapi hamper semua operasi dilakukan di permukaan. 1. Borehole extraction Cara penambangannya adalah air diinjeksikan melalui lubang bor ke dalam formasi mineral yang kemudian dilarutkan, dicairkan, atau sluffies, menjadi mineral berharga dan dipompakan ke permukaan melalui lubang bor. 2. Leaching adalah ekstraksi kimia metal atau mineral dari ikatan suatu cadangan bijih atau material yang telah digali atau ditambang. I. Tambang bawah tanah (underground mining) 1. Unsupported (tanpa penyangga) Cara ini cocok untuk endapan yang kuat baik endapan bijih maupun batuan sampingnya. a. Room and pillar mining b.Srinkage stoping c.Sublevel stoping Cocok untuk endapan-endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut : a. Ketebalan urat bijih (vein) antara 1-20 meter.

b. Kemiringan endapan sebaiknya 300 c. Endapan bijih dan batuan samping harus jelas dan bentuknya agak teratur, tidak retak-retak, sehingga tidak mudah terjadi dilution. d. Penyebaran kadar bijih sebaiknya merata, karena cara ini sukar untuk melakukan tambang pilih (selective mining). 2. Supported (memakai penyangga) a. Cut and fill stoping Diterapkan untuk endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut : a. Ketebalan antara 1-6 meter, atau endapan mendatar tetapi cukup tebal,yaitu antara 10-15 meter. b. Mempunyai kemiringan >450 (untuk yang membetuk urat bijih). c. Batuan samping agak lunak atau kurang kompak. Endapan bijih secara menyeluruh cukup kuat, tetapi bagian tertentu ada yang kurang kuat/kompak. d. Endapan bijih bernilai tinggi, sehingga mining recoverynya harus tinggi. e. Dapat dipergunakan untuk endapan-endapan bijih yang batasnya kurang teratur atau banyak barren rock diantara bijihnya b. Stull stoping Sesuai untuk endapan bijih yang memiliki ebagai berikut : a. Ketebalan antara 1-3 meter, yaitu ketebalan yang masidapat dicapai oleh penyangga kayu (timber) sambungan. b. Endapan bijhnya agak kuat, takperlu disangga secara langsung, tetapi batuan sampingnya mudah pecah menjadi bongkah-bongkah (slabs) sehingga perlu penyangga c. Kemiringan kurang berpengaruh, akan tetapi kemiringan yang lebih besar akan lebih menguntungkan. d. Endapan bjih harus memiliki nilai yang tinggi dan memerlukan perolehan tambang (mining recovery) yang tingg agar ongkos penambangannya yang tinggi masih dapat tertutup.

c. Squre set stoping Digunakan untuk endapan bijih yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. Nilai bijih sangat tinggi, sehingga dapat menutup onglosongkos penambangan yang sangat mahal. b. Memilki kemiringan 450 untuk endapan yang berbentuk urat bijih. c. Ketebalan bijih minimum 3,5 meter. d. Bijih dan batuan samping lemah serta mudah runtuh sehingga memerlukan penyanggaan yang sistematis e. Endapan bijih tak perlu memiliki batas-batas yang baik atau jelas dilihat 3. Caving (ambrukan) a. Longwall mining Diterapkan untuk batubarayang: a. Ketebalannya sedang, yaitu antara 2-4 meter. b. Memilki banyak cleat, etapi tidak boleh terlalu mudah runtuh. Oleh sebab itu penyangga harus segera dipasang di dekat medan kerja (front) penambangan. Arah penggalian dapat advancing ataupun retreating. b. Sub level caving Cara ini cocok untuk endapan-endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut : a. Endapan bijih lemah, artinya batuan itu tidak runtuh untuk beberapa waktu dengan penyanggaan biasa, tetapi endapan ini akan segera runtuh bila penyangganya diambil. b. Kemiringan endapan tidak begitu mudah. c. Ketebalan bijih sebaiknya >3 meter. d. Memiliki nilai endapan bijih yang tinggi atau sedang dan selective mining tidak perlu dilakukan. e. Permukaan bumi tidak ada bangunan-bangunan yang penting karena akan terjadi surface subsidence. c. Block caving Cara ini sesuai untuk endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut : a. Endapan bijih mudah pecah atau runtuh dan dapat dipisahkan dari block di sebelahnya.

b. Kemiringan endapan tdak menjadi soal, bila berbentuk urat bijih sebaiknya mempunyai kemoringan 650 c. Memilki cadangan yang besar dan tidak perlu benilai tinggi. Ketebalan >3 meter, sedangkan tinggi vertikalnya minimal 35 meter. d. Endapan bijih sebaiknya agak homogen, sehingga tidak diperlukan tambang bijih. e. Endapan bijih sebaiknyatidak mudah bereaksi dengan udara, oleh sebab itu tidak cocok untuk endapan sulfide. f. Dapat menimbulkan amblesan (surface subsidence). Oleh karena itu jangan ada bangunan penting di atas tambang. Ada berbagai macam cara penambangan. ada tambang terbuka, ada tambang bawah tanah, dan ada tambang bawah air. tambang terbuka adalah tambang yang berhubungan langsung dengan udara bebas. sedangkan Tambang bawah tanah adalah, tambang dimana kegiatan penambangnya tidak langsung berkaitan dengan alam terbuka, atau udara bebas. Metode tambang bawah tanah terbagi mejadi: Open Stope Methodes Supported Stope Methodes Caving Methodes Coal Mining Methodes Berdasarkan pembagian metode penambangan di atas, dapat kita ketahui bahwa penambangan metode penambangan batubara dipisahkan dari metode-metode yang lain. Hal ini dikarenakan : Batubara berupa lapisan sedimen. Penyusunnya berupa Karbon, dan banyak mengandung Methane (gas beracun).

Selanjutnya, metode tambang bawah tanah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Open Stope Methodes Open Stope Methodes adalah sistem tambang bawah tanah dengan ciri-ciri : Sedikit memakai penyangga, atau hampir tidak tidak ada. Umumnya merupakan cara penambangan sederhana, atau tradisional. Bisa menggunakan buruh-buruh yang tidak terlatih. Cocok untuk endapan bijih dengan ciri-ciri: Endapan bijih dan batuan induk relative keras, sehingga tidak mudah runtuh. Endapan bijih memiliki kemiringan lapisan (dip) lebih dari 70o. Ukuran bijih tidak terlalu besar. Tebal endapan bijih kurang dari 5 m. Antara batuan induk dan bijih mudah dibedakan atau terlihat jelas. Sedangkan metode Open Stope Methode sendiri dibedakan menjadi: Gophering Coyoting Glory Hole Methode Shrinkage Stoping Sublevel Stoping Berdasarkan pembagian di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut: Gophering Coyoting Metode Gophering Coyoting mempunyai ciri-ciri: Arah penambangan hanya mengikuti arah endapan bijih. Cara pengerjaannya tidak sistematis. Alat dan cara penambangnya sangat sederhana.

Tanpa perencanaan rinci, karena dalam penambangnya hanya mengikuti arah endapan. Glory Hole Methode Metode Glory Hole Methode merupakan system penambangan dengan cara bebas membuat lubang bukaan, dikarenakan baik batuan induk maupun endapan bijih relative kuat. mempunyai ciri-ciri: Metode ini cocok untuk endapan yang sempit atau relative sedikit. Lebar endapan antara 1 5 m, tetapi dengan arah memanjang ke bawah berbentuk bulat atau elips. Endapan bijih dan batuan induk kuat. Shrinkage Stoping Metode Shrinkage Stoping mempunyai syarat atau ciri-ciri: Cocok untuk batuan kuat. Endapan mempunyai kemiringan lebih dari 70o. Tebal endapan tidak lebih dari 3 m. Endapan bijih memiliki nilai yang tinggi baik kadar maupun harganya. Endapan bijih harus homogen atau uniform. Penambangan tidak selektif. Bukan merupakan endapan Sulfida (Fe), karena endapan Sulfida harus dengan metode selective mining, hal ini guna menghindari pengaruhnya pada asam tambang. Sublevel Stoping Sublevel Stoping adalah penambangan bawah tanah dengan cara membuat level-level, kemudian dibagi menjadi sublevelsublevel. Sedangkan syarat-syaratnya sebagai berikut: Ketebalan cebakan antara 1 20 m. Kemiringan lereng sebaiknya lebih dari 30o.

Baik endapan bijih dan batuan induk harus kuat dan keras. Batas endapan bijih dan batuan induk harus kuat dan tidak ada retak-retak ketika dilakukan penambangan. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi dilusi atau pencampuran dua material. Dalam hal ini pencampuran endapan bijih dengan batuan induk. Penyebaran kadar bijih sebaiknya homogen. Supported Stope Methode Supported Stope Methode adalah metode penambangan bawah tanah yang menggunakan penyangga dalam proses penambangannya. Secara umum ciri-ciri Supported Stope Methode antara lain: Cocok untuk endapan bijih serta batuan induk yang lunak. Cara penambangannya secara sistematis. Penyangga dalam tambang bawah tanah dibedakan menjadi dua, antara lain: Penyangga Alamiah Penyangga alamiah adalah penyangga yang menggunakan material yang berada atau dihasilkan dari proses penambangan itu sendiri. Penyangga alamiah dibagi menjadi: Endapan bijih yang ditinggalkan atau tidak ditambang. Endapan bijih kadar rendah. Setelah dinilai tidak ekonomis, endapan bijih ini ditinggalkan sebagai penyangga. Waste Batuan samping, atau material lain yang tidak ditambang. Penyangga Buatan (Artificial Support) Artificial support adalah penyangga buatan yang dimasukan ke dalam tamang bawah tanah, agar tidak runtuh. Bahan penyangga buatan ini disebut juga Material Filling, dapat berupa tailing, pasir, tanah, semen, baja, kayu, maupun baut batuan.

Supported Stope Methode dibedakan menjadi: Shrink and Fill Stoping Merupakan metode penambangan dengan cara membuat levellevel, dimana level-level tersebut merupakan endapan bijih yang ditambang. Di dalam level-level tersebut dibuat Stopestope atau ruangan-ruangan. Setelah selesai menambang dalam satu level, maka level tersebut diisi kembali dengan material lalu dilanjutkan dengan membuat level baru. Arah tambang pada metode ini relative horizontal. Cut and Fill Stoping Merupakan metode penambangan dengan cara memotong batuan untuk membuat stope dalam level. Setelah selesai menambang dalam satu stope, maka stope tersebut diisi kembali tanpa menunggu selesai dalam satu level. Ini yang membedakan dengan Shrink and Fill Stoping. Syarat Cut and Fill Stoping antara lain: Endapan bijih tebalnya antara 1 6 m. Arah endapan relative mendatar tapi cukup tebal. Sebaiknya untuk endapan vein, kemiringannya harus lebih dari 45o. Dan untuk endapan yang bukan vein kurang dari 45o Endapan bijih keras, tapi batuan induknya lunak. Endapan bijih bernilai tinggi baik kadar maupun harganya. Square Set Stoping Pada dasarnya, system penambangan ini dengan cara membuat penyangga yang lebih sistematis, dimana penyangganya berbentuk ruang (tiga dimensi). Baik berupa kubus ataupun balok. Penyangganya sendiri dapat berupa kayu maupun besi. Ciri-ciri Square Set Stoping antara lain: Ongkos penyangganya sangat mahal. Kemiringan endapan lebih dari 45o

Ketebalan bijih minimal 3,5 m. Baik endapan bijih maupun batuan induk mudah runtuh. Endapan tidak perlu memiliki batasan yang jelas antara endapan bijih dan batuan induknya. Stull Stoping System penambangan ini meruapkan system penambangan yang memasang penyangga dari footwall ke hanging wall. Stull sendiri berarti kayu, sehingga pada system penambangan ini penyangganya menggunakan kayu. Ciri-ciri system penambangan ini antara lain: Bijih cukup kuat, sehingga tidak perlu langsung disangga, tapi batuan induk mudah pecah menjadi bongkahan-bongkahan. Kemiringan endapan bijih tidka terlalu berpengengaruh. Ketebalan endapan bijih antara 1 5 m. Bijih harus bernilai tinggi. Recovery harus tinggi. Dan looses factor harus rendah, mengingat biaya yang dibutuhkan untuk penyangga sangat mahal. * Cara pemasangan penyangga dibedakan menjadi: Raise Set Raise set merupakan cara pemasangan penyangga dari bawah ke atas. Lead Set Lead set merupakan cara pemasangan penyangga maju, searah dengan penambangan endapan bijih. Corner Corner set merupakan cara pemasangna penyangga ke arah samping atau juga menyudut. * Vein atau urat batuan adalah intrusi batuan lain ke dalam batuan induk. Intusi terjadi melalui rekahan-rekahan batuan induk, dan lebih keras daripada batuan induk.

* Endapan bijih dalam sebuah cebakan relative berbeda kadarnya pada masing-masing bagiannya. Mengenai kadarnya dapat dihitung dengan menggunakan metode IMD dan juga IDW yang diperlajari di matakuliah Geostatik. * Drift adalah lubang bukaan yang menghubungkan antar level secara vertikal. * Raise adalah lubang bukaan horizontal yang berfungsi sebagai jalan keluar-masuk pekerja dan juga mengeluarkan endapan bijih. * Level adalah lubang bukaan yang bertingkat-tingkat. C. Perbandingan Tambang Terbuka dan Bawah Tanah Keuntungan tambang terbuka antra lain : 1. Ongkos penambangan per ton atau per BCM bijih lebih murah karena tidak ada penyanggaan, ventilas dan pencahayaan (illumination) 2. Kondisi kerja lebih baik karena berhubungan langsung dengan udara luar. 3. Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat leluasa, sehingga produksinya lebih besar. 4. Pemakaian bahan peledak lebih efesien, leluasa dan hasilnya lebih baik, karena: a. Adanya bidang bebas(free face) yang lebih banyak. b. Gas-gasyang dapat ditumbulkan olehpeledakan dapat dihembus angin dengan cepat (tidak terakumulasi). 5. Perolehan tambang (mining recovery) lebih besar, karena batas endapan lebih jelas terlihat. 6. Relative lebih aman, karena bahaya yang mungkin timbul terutama akibat kelongsoran, sedangkan pada tambang bawah tanah selain kelongsoran juga disebabkan oleh adanya gas-gas beracun, kebakaran dll.

7. Pegawasan dan pengamatan mutu bijih (grade control) lebih mudah. Kerugian tambang terbuka antara lain : a. Para pekerja akan langsung dipengruhi oleh cuaca, dimana hujan yang lebat dan suhu yang tinggi akan mengakibatkan efisiensi kerja menurun. b. Kedalaman penggalian teratas, karena semakin dalam akan semakin banyak overburden yang harus dipindahkan. c. Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah penutup yang jumlahnya cukup banyak. d. Alat-alat mekanis letaknya tersebar. e. Pencemaran lingkungan hidup relative lebih besar. Musim hujan dapat menyebaban butir-bitir tanah terlepas, tanah akan terlepas (erosi dan longsor) Adanya binatang-binatang yangterganggu kelangsungan hidupnya. Akan mnghilangkan tanah yang suburakibat penggalan (pada saat penggalian disimpan terlebih dahulu)Tanah yang terbawa arus air bisa mencemari sungai (pada daerah tertentu dibuat kolam-kolam sebagai pengedapan) Akibat adanya saranatransportasi akan mengakibatkan : Polusi udara (bising) ; disisi jalan ditanami pepohonan. Getaran-getaran ; dikurangi dengan peledakan beruntun. Adanya debu dan asap (CO) Loading Shovel Kelebihan Dapat memberikan produksi lebih tinggi dibandingkan dengan back hoe (biasanya bucketnya lebih besar Dapat menangani material samping Showl mempunyai kapasitas lebih Kekurangan Kondisi oprasinya terbatas Memerlukan alat tambahan Back Hoe Kelebihan Mampu menggali material pada berbagai kondisi Maneuver lebih baik

Dapat beroprasi dengan areal kerja yang sempit Kekurangan Ukran bucket lebih kecil dibanding shovel dengan mesin yang sekelas VII. PELEDAKAN A. Bahan Peledak Suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil. B. Klasifikasi Bahan Peledak Bahan Peledak Industri Bahan Peledak Industri adalah bahan peledak yang dirancang dan dibuat khusus untuk keperluan industri, misalnya industri pertambangan, sipl, dan industri lainnya, dilua keperluan militer C. Geometri Peledakan 1. Burden (B) Jarak dari lubang bor terhadap bidang bebas (freeface) yang terdekat dan relative tegak lurus free face. Burden merupakan variable yang sangat penting dalam mendisain peledakan 2. Spasing (S) Jarak antara lobang bor sejajar dengan bidang bebas atau dalam satu baris (row) 3. Sub Drilling (J) Tambahan kedalaman dari lubang bor dibawah rencana lantai jenjang (bench), berfungsi untuk menghindari tonjolan pada lantai (toe), dan merapikan dasar lantai untuk pemboran berikutnya 4. Stemming (T) Material penutup didalam lubang bor, berfungsi unutk mengurung gas ledakan. 5. Kedalaman lubang ledak (L) tinggi jenjang (H) Kedalaman lubang bor atau lubang ledak dipengaruhi

oleh tinggi jenjang. Ketinggian jenjang disesuaikan dengan kemampuan alat bor dan diameter lubang 6. Power colom (PC) Panjang lubang isian pada lubang ledak yang akan diisi bahan peledak. D. Pola Pemboran dan Peledakan 1. Pola pemboran : a. Bujur sangkar/squre b. Persegi panjang/Rectangular c. Zig-zag/selang-seling/Staggered 2. Pola peledakan a. Box cut b. V-cut c. Corner cut D.Secondary Blasting E. Perlengkapan dan Peralatan Peledakan 1. Perlengkapan Peledakan a. Detonator Alat pemicu awal yang menimbulkan inisiasi dalam bentuk letupan (ledakan kecil) sebagai bentuk aksi yang memberikan efek kejut terhadap bahan peledak peka detonator atau primer b. Sumbu api(safety fuse) Alat berupa sumbu yang fungsinya merambatkan api dengan kecepatan tetap. Perambatan api tersebut dapat menyiakan ramuan pembakar (ignition mixture) di dalam detonator biasa, sehingga dapat meledakan isian primer dan isian dasarnya . c. Sumbu ledak (detonating cord) Berbagai nama untuk sumbu ledak yang dikenal di lapangan antara lain detonating cord, detonating fuse, atau cordtex. Sumbu ledak adalah sumbu yang pada bagian intinya terdapat bahan peledak PETN, yaitu salah satu jenis bahan peledak kuat dengan kecepatan rambat sekitar 6000 7000 m/s. d. Penyambung (connector)

Perlengkapan yang diperlukan untuk menghubungkan kawat listrik atau sumbu peledakan antar lubang ledak. Tujuannya antara lain : Sekedar menyambung leg wire antar lubang memakai kawat penyambung pada peledakan dengan detonator listrik . Menyambung sumbu nonel antar lubang dan sekaligus mengeset waktu tunda permukaan (surface atau trunkline delay) Menyambung sumbu ledak antar lubang dan sekaligus mengeset waktu tunda permukaan. Menyambung sumbu api pada lubang pada peledakan dengan detonator biasa. e. Primer dan Booster Primer adalah suatu istilah yang diberikan pada bahan peledak peka detonator, yaitu bahan peledak berbentuk cartridge berupa pasta atau keras, yang sudah dipasang detonator yang diletakan di dalam kolom lubang ledak. Terdapat tiga lubang atau titik untuk meletakan primer di dalam kolom lubang ledak, yaitu : Bagian dasar bahan peledak dalam kolom lubang ledak, disebut bottom priming Bagian tengah bahan peledak dalam kolom lubang ledak, disebut deck atau middle priming, Bagian atas bahan peledak dalam kolom lubang ledak, disebut top atau collar priming,Booster didefinisikan sebagai bahan peka detonator yang dimasukan ke dalam kolom lubang ledak berfungsi sebagai penguat energi ledak. 2. Peralatan Peledakan a. Blasting Machine, sebagai energi penghantar listrik menuju detonator listrik b. Blastometer (BOM), alat pengukur kawat listrik untuk keperluan peledakan dan tidak disarankan untuk keperluan lain. c. Pengukuran kebocoran arus, adanya kebocoran arus dapat terjadi akibat ada nya kawat yang tidak terisolasi, misalnya pada sambungan, yang kontak dengan air,

tanah basah atau batuan konduktif. Kontak tersebut dapat menghentikan arus menuju deronator, sehingga detonator tidak meledak dan dapat menyebabkan gagal ledak. d. Multimeter peledakan, disebut juga Blasting Multimeter adalah instrument penguji yang sekaligus dapat mengukur tahanan, voltage, dan arus. e. Tamper, stik pemadat stemming (kayu). f. Sirine, sebagai aba-aba peledakan. g. Shelter, sebagai tempat berlindung blaster . h. Kawat antara (lead wire), berfungsi sebagai penghubung rangkaian peledakan dengan alat pemicu ledak listrik ( Blasting Machine)..