Anda di halaman 1dari 23

FLOTASI

Dalam pengolahan bahan galian, flotasi didefinisikan sebagai metoda fisika kimia untuk memisahkan mineral berharga dari yang tidak berharga dengan cara mengapungkan salah satu mineral ke permukaan pulp. Proses pemisahan mineral berharga dari yang tidak berharga dengan cara pengapungan ini didasarkan pada sifat permukaan mineral apakah suka terhadap udara (takut air) atau suka terhadap air (takut udara). Mineral yang diapungkan adalah mineral yang tidak dibasahi (suka udara) disebut mineral hydrophobic, sedangkan mineral yang tidak diapungkan adalah mineral yang dibasahi (suka air) disebut mineral hidrophilic. 1. PROSES PENGAPUNGAN

Kondisi utama agar proses flotasi berlangsung dengan baik yaitu adanya partikel-partikel tertentu (yang akan diapungkan) menempel pada gelembung udara kemudian bersama-sama naik ke permukaan. dipenuhi antara lain : Ukuran partikel harus cukup kecil. Ukuran partikel untuk proses flotasi biasanya lebih kecil dari 65 mesh tetapi lebih besar dari 10 m, kecuali untuk batubara ukuran terkecilnya bisa sampai 20 mesh. Gelembung harus cukup besar Sifat-sifat fisik yang menentukan apakah partikel menempel pada gelembung atau tidak. Partikel yang akan diapungkan harus bersifat hidrophobic, sedangkan hidrophilic. Keterapungan (floatability) dari suatu partikel ditentukan oleh partikel yang tidak diapungkan harus bersifat Syarat agar hal ini

kecenderungannya untuk menempel pada permukaan gelembung udara, dan


flotasi - 1

ini terutama tergantung pada sifat-sifat permukaan partikel. Massa jenis dan sifat-sifat fisika lainnya memegang peranan yang sangat kecil. 1.1 Kontak Tiga Fasa dan Sudut Kontak Kontak antara permukaan padatan dan gelembung udara di dalam air ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1.

Kontak tiga fasa padat-air-udara

Dalam keadaan setimbang, berlaku hubungan sebagai berikut :

cos = dengan,

pu pa ua

pu = tegangan antarmuka padat-udara pa = tegangan antarmuka padatan-air ua = tegangan antarmuka udara-air = sudut kontak Tegangan permukaan () adalah kerja yang dilakukan untuk menaikkan antarmuka antara dua fasa, dimensinya adalah energi per satuan luas. Sudut kontak () adalah sudut yang terbentuk antara permukaan padat dan
flotasi - 2

antarmuka air-udara dan diukur melalui fasa air.

Sudut kontak nol (00) Sudut kontak 1800

berarti permukaan padatan diselimuti air (hidrofilik). terbesar yang diketahui adalah 1000. kontak sering digunakan untuk atau

berarti udara menutupi padatan, namun pada kenyataannya sudut kontak Pada sistem flotasi sudut kontak sebagai ukuran kehidrofobian sebesar 600 sudah cukup untuk berlangsungnya flotasi dengan baik. Sudut permukaan. 1.2. Perlekatan Partikel pada Gelembung Udara Perlekatan partikel pada gelembung udara dalam media air tergantung pada laju penipisan air antara gelembung dan permukaan partikel. partikel pada gelembung udara diperlihatkan pada Gambar 2. Perlekatan

Gambar 2. tahap, yaitu :

Perlekatan partikel pada gelembung udara

Proses perlekatan partikel pada gelembung udara dapat dibagi dalam tiga 1). Partikel - gelembung udara saling mendekati, menghasilkan suatu lapis tipis diantaranya. hukum hidrodinamika.
flotasi - 3

Di daerah ini partikel bergerak menurut

2). Penipisan lapis tipis air. Daerah ini disebut lapis diffusion bonding. 3). Hilangnya lapis tipis air. Gerakan partikel dikendalikan oleh gaya interaksi lapis rangkap dan gaya interaksi molekul. meluas. Perlekatan diawali dengan terbentuknya kontak tiga fasa yang dengan cepat

2.

REAGEN KIMIA

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa syarat utama berlangsungnya flotasi dengan baik adalah adanya partikel yang bersifat hidrofobik (suka udara) dan partikel lainnya bersifat hidrofilik (suka air). Mineral-mineral yang bersifat suka udara (tidak dibasahi) terdapat di alam dalam jumlah yang sangat terbatas, misalnya S (sulfur) dan batubara. Hampir semua mineral di alam ini dapat dibasahi sehingga untuk memperoleh mineral yang tidak dapat dibasahi maka perlu ditambahkan reagen kimia. Reagen kimia digunakan dalam proses flotasi untuk menciptakan suatu kondisi agar proses flotasi berlangsung dengan baik. Setiap reagen kimia yang ditambahkan mempunyai fungsi yang spesifik. kolektor, frother (pembuih), dan modifier. Ada tiga kelompok utama reagen kimia yang biasa digunakan dalam proses flotasi yaitu

2.1. Kolektor Kolektor merupakan reagen kimia yang dapat mengubah permukaan mineral yang semula hidrofilik (dapat dibasahi) menjadi hidrofobik (tidak dapat dibasahi). Beberapa contoh kolektor yang sering dipakai dalam proses flotasi dapat dilihat pada Gambar 3.

flotasi - 4

Banyaknya pemakaian (dosis) kolektor yang dipakai tergantung pada faktorfaktor berikut : 1). Total luas permukaan partikel yang akan diselimuti (merupakan fungsi dari kadar dan ukuran partikel). Semakin besar kadar maka pemakaian akan semakin banyak dan semakin halus ukuran partikel maka pemakaian juga semakin banyak. 2). Ion-ion yang ada dalam pulp yang berinteraksi dengan kolektor. Ion-ion ini mengganggu sehingga perlu dihilangkan terlebih dulu sebelum penambahan kolektor. Ion-ion ini disebut ion-ion pengganggu. 3). Tingkat oksidasi permukaan mineral. Jika seluruh permukaan mineral teroksidasi maka kolektor tidak lagi bekerja dengan baik (tidak berfungsi). Jadi bijih sulfida yang masih segar harus disimpan dengan baik agar tidak teroksidasi. Contoh untuk kolektor xanthate, pemakaiannya antara 10 - 100 gram per ton bijih kering. Pemakaian kolektor juga ada kaitannya dengan besarnya sudut kontak. Semakin kecil sudut kontak maka semakin banyak kolektor yang harus ditambahkan. Interaksi antar muka mineral - kolektor secara skematik ditunjukkan oleh Gambar 4. Kolektor yang baik adalah kolektor yang selektif terhadap mineral tertentu, walaupun pada kenyataannya kolektor biasanya selektif terhadap kelompok mineral. Kolektor biasanya dikenal dengan nama dagangnya, oleh karena itu untuk mengetahui strukturnya perlu melihat katalog dari pabrik yang bersangkutan.

flotasi - 5

Gambar 3.

Kolektor yang umum digunakan dalam proses flotasi

flotasi - 6

2.2. Frother (Pembuih) Frother merupakan reagen kimia yang digunakan dalam proses flotasi yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga mudah membentuk gelembung yang relatif stabil. Beberapa contoh frother yang banyak digunakan dalam proses flotasi dapat dilihat pada Gambar 5.

flotasi - 7

Gambar 5.

Frother yang umum digunakan dalam proses flotasi

Selama masa pengapungan, gelembung yang terbentuk harus stabil / tidak pecah dan setelah keluar dari sel flotasi gelembung tersebut pecah sehingga partikel-partikel yang menempel pada gelembung tersebut bisa ditampung. Jika setelah keluar dari sel flotasi gelembung masih tetap stabil atau gelembung belum pecah maka akan menyulitkan dalam penanganan material yang diapungkan maupun penanganan untuk proses berikutnya seperti drying (pengeringan), filtering, dan lain-lain. Disamping dapat menstabilkan gelembung, frother yang baik harus dapat larut dalam air (mempunyai daya larut yang tinggi). 2.3. Modifier Modifier atau regulator merupakan reagen kimia lain (selain kolektor dan frother) yang ditambahkan dalam proses flotasi yang berfungsi mengatur lingkungan yang sesuai dengan lingkungan flotasi sehingga selektifitas kolektor menjadi bertambah baik dan dengan demikian dapat memperbaiki recovery (perolehan) proses flotasi. Modifier terdiri dari macam-macam reagen, yaitu : pH regulator, depresant, activator, dan dispersant.

2.3.1.

pH Regulator

pH regulator merupakan reagen kimia yang berfungsi untuk mengatur pH lingkungan flotasi. pH regulator perlu ditambahkan dalam proses flotasi karena mineral mengapung dengan baik pada pH tertentu, reagen lebih stabil pada pH tertentu, dan kolektor juga bekerja dengan baik pada pH tertentu. pH dimana mineral-mineral dapat mengapung dengan baik disebut
flotasi - 8

pH kritis. pH kritis dari suatu mineral tergantung pada macam kolektor yang dipakai dan konsentrasi (jumlah pemakaian) dari kolektor. Ada dua jenis pH regulator, yaitu : 1). pH regulator asam, yaitu pH regulator dalam lingkungan asam. Contoh : H2SO4 2). pH regulator basa, yaitu pH regulator dalam lingkungan basa. Contoh : lime (CaO), soda abu (Na2CO3), NaOH.

2.3.2.

Depresant

Depresant merupakan reagen kimia yang berfungsi untuk mencegah interaksi kolektor terhadap mineral tertentu sehingga mineral tersebut tetap bersifat hidrofilik agar tidak terapungkan. adalah : ZnSO4 untuk mendepress sphalerit (ZnS) pada pH cukup tinggi (sekitar pH = 9 - 11) NaCN untuk mendepress sphalerit, pirit, Au, Ag. Beberapa contoh depresant

2.3.3.

Activator

Activator merupakan reagen yang berfungsi membantu kolektor agar interaksi kolektor dengan mineral tersebut bekerja dengan baik. activator adalah : CuSO4 Contoh

ion-ion Cu++

diadsorpsi (diserap) oleh permukaan

mineral yang sebelumnya bekerja kurang baik dengan kolektor. Dengan diserapnya ion-ion Cu++ pada permukaan mineral akhirnya mineral tersebut menjadi hidrofobik (suka udara). Na2S.9H2O ion-ion S2- diadsorp oleh permukaan mineral sulfida yang berubah menjadi oksida sehingga permukaan mineral menjadi sulfida lagi.

flotasi - 9

2.3.4.

Dispersant

Dispersant merupakan reagen kimia yang berfungsi untuk melepas penempelan partikel-partikel halus (slimes coating) pada permukaan mineral yang akan diapungkan. Contoh : sodium silikat (mNa2O.nSiO2)

penambahan sodium silikat tidak boleh berlebihan karena mempunyai efek terhadap gelembung udara (gelembung udara cepat pecah).

3.

OPERASI FLOTASI

3.1. Conditioning dan Aerasi Operasi atau proses flotasi sebenarnya terdiri dari dua tahap, yaitu : 1). Conditioning Conditioning merupakan tahapan dari flotasi dimana permukaan mineral yang berada dalam pulp diolah dengan reagen kimia sedemikian rupa sehingga apabila diberi udara maka mineral tertentu akan mengapung dan mineral lainnya akan tenggelam agar proses flotasi berlangsung dengan baik. Proses conditioning dilakukan dalam alat yang disebut conditioner. Mekanisme yang diperlukan pada conditioning yaitu : Pengadukan - reagen terdispersi (tersebar) ke seluruh pulp. - kontak berulang-ulang antara molekul-molekul reagen dengan partikel-partikel mineral. - harus cukup waktu kontak agar interaksi reagen dengan partikel berlangsung baik. Waktu yang diperlukan di sini disebut waktu conditioning. Tidak ada udara yang masuk

flotasi - 10

2).

Proses aerasi Proses aerasi merupakan tahapan proses flotasi dengan memasukkan aliran udara ke dalam pulp yang telah mengalami conditioning, sehingga timbul gelembung-gelembung udara dalam pulp. Pada proses aerasi ini partikel-partikel mineral yang bersifat hidrofobik (suka udara) akan menempel pada gelembung udara kemudian naik ke atas dan keluar bersama-sama. Apungan ini selanjutnya ditampung, Partikel-partikel gelembung udara pecah dan tinggal padatannya.

mineral yang bersifat hidrofilik (suka air) akan tetap tenggelam dan menjadi produkta berupa endapan. Dengan demikian dapat dipisahkan antara apungan (froth) dan endapan (sink). Mekanisme operasi flotasi dan zona-zona yang terjadi dalam proses flotasi dapat digambarkan seperti pada Gambar 6.

Keterangan : 1. Aliran udara masuk 2. Zona-zona :


flotasi - 11

3. 4.

a. Zona apungan b. Zona benturan partikel - gelembung udara c. Zona pengadukan Impeller Arah aliran gelembung udara

Gambar 6.

Mekanisme flotasi dan zona-zona dalam proses flotasi (Contoh pada mesin flotasi denver sub-A)

3.2. Jenis-jenis Proses Flotasi Jenis-jenis proses flotasi antara lain : 1). Flotasi ruah (bulk flotation) Flotasi ruah merupakan proses flotasi yang mengapungkan sekelompok mineral. Produkta berupa konsentrat dan tailing. Sebagai contoh adalah bijih kompleks Pb-Cu-Zn. Jika pada bijih kompleks ini dilakukan flotasi ruah maka akan didapatkan konsentrat dan tailing. Konsentrat tetap mengandung Pb-Cu-Zn tetapi dengan kadar yang lebih tinggi. 2). Differential flotation Pada differential flotation, dilakukan proses flotasi secara bertahap Flotasi tahap pertama akan terhadap konsentrat dari flotasi ruah.

dihasilkan apungan berupa misalnya konsentrat Pb dan endapan yang masih banyak mengandung Cu dan Zn. Pada tahap kedua, endapan diolah (dilakukan proses flotasi) untuk menghasilkan apungan berupa konsentrat Cu dan endapan yang masih banyak mengandung Zn. Pada tahap ketiga dilakukan proses flotasi pada endapan yang masih banyak mengandung Zn, dihasilkan apungan berupa konsentrat Zn dan endapan yang merupakan tailing akhir. 3). Selective flotation Pada selective flotation, dilakukan proses flotasi seperti pada proses differential flotation tetapi tanpa dilakukan proses flotasi ruah terlebih dahulu. Berbeda dengan differential flotation, pada selective flotation pada setiap tahapnya dilakukan dalam jumlah yang besar sehingga peralatan yang dipakai juga lebih banyak.
flotasi - 12

Beberapa proses flotasi yang lain, secara skematik dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7.

Gambar skematik beberapa proses flotasi (a). Froth flotation (b). Ultraflotation (c). Oil atau emultion flotation
flotasi - 13

(d). Agglomerate atau floc flotation (e). Liquid-liquid atau ekstraksi 2-liquid 3.3. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Proses Flotasi Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses flotasi adalah sebagai berikut : 1). Ukuran partikel Ukuran partikel sangat berpengaruh dalam proses flotasi. Jika ukuran partikel terlalu besar maka partikel sulit untuk tertempel dan terbawa ke atas oleh gelembung udara, sedangkan kalau partikel terlalu halus maka sifat permukaan memberikan efek atau pengaruh yang hampir sama antara partikel yang akan diapungkan dan partikel yang tidak diapungkan. Dengan demikian jika ukuran partikel mineral terlalu besar atau terlalu kecil maka recovery (perolehan) akan lebih kecil. Ukuran partikel untuk proses flotasi biasanya lebih kecil dari 65 mesh tetapi lebih besar dari 10 m, kecuali untuk batubara ukuran terkecilnya bisa sampai 20 mesh. 2). Persen padatan Persen padatan pulp yang optimum untuk flotasi mineral umumnya adalah 25%. Untuk flotasi batubara persen padatan sebesar 25% ini terlalu tinggi. Umumnya persen padatan untuk flotasi batubara berkisar antara 3-20%, dengan rata-rata sekitar 7%. Bilamana ukuran partikel lebih kasar maka persen padatan juga tinggi, dan sebaliknya jika ukuran partikel lebih halus maka persen padatan juga harus lebih rendah. 3). Derajat oksidasi Derajat oksidasi mineral akan mempengaruhi sifat keterapungan mineral tersebut. Sifat keterapungan akan menurun dengan adanya pengaruh oksidasi pada permukaan mineral. berada di udara terbuka. 4). pH pulp dan karakteristik air Secara umum nilai pH pulp dan jumlah garam terlarut dalam air yang digunakan pada proses flotasi merupakan faktor yang penting. Sifat permukaan mineral bisa berbeda pada harga pH yang berbeda sehingga sangat mempengaruhi perolehan dari proses flotasi. Adanya
flotasi - 14

Tingkat oksidasi akan

semakin besar dengan semakin meningkatnya dan lamanya mineral

lempung atau slimes dalam air dapat mencegah pengapungan mineral. Hal ini dapat dikendalikan dengan penggunaan reagen kimia yang cocok 5). sehingga slime tersebut dapat digumpalkan kemudian dikeluarkan, atau dengan penggunaan air bersih dalam sirkit flotasi. Reagen flotasi Reagen flotasi baik jenis maupun jumlah (dosisnya) seperti telah dijelaskan sebelumnya akan sangat mempengaruhi keberhasilan proses flotasi. Jenis maupun jumlah reagen flotasi baik itu kolektor, frother, maupun modifier harus betul-betul sesuai penggunaannya untuk mendapatkan hasil yang optimal. 6). Kecepatan putaran pengaduk dan laju pengaliran udara Kecepatan putaran pengaduk dan laju pengaliran udara pada proses flotasi akan optimal pada harga-harga tertentu.

4.

MESIN (SEL) FLOTASI

4.1. Persyaratan Sel Flotasi Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu sel flotasi, antara lain adalah sebagai berikut : 1). 2). Semua partikel harus tetap berada dalam bentuk suspensi. karena itu sel flotasi harus ada pengaduknya. Semua partikel mempunyai kesempatan yang sama untuk diapungkan atau dengan perkataan lain mempunyai kesempatan yang sama untuk bertemu dengan gelembung udara. 3). 4). 5). 6). 7). 8). Gelembung yang terbentuk harus tersebar ke seluruh pulp. Harus dapat menciptakan antukan / benturan antara partikel dan gelembung udara. Harus ada daerah yang relatif tenang di bagian atas agar pulp tidak Tercipta ketebalan buih (froth) tertentu di atas pulp. Ada cara atau tempat terbaik untuk memasukkan umpan. Ada tempat untuk mengeluarkan konsentrat atau tailing.
flotasi - 15

Oleh

terjebak dan keluar bersama gelembung.

9).

Ada tempat untuk memasukkan udara.

4.2. Mesin Flotasi Mekanikal Mesin-mesin flotasi mekanikal yang populer antara lain adalah sel flotasi Agitair, Denver, Outokumpu, Wemco-Fagergren, dan lain-lain seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8 sampai Gambar 13.

Gambar 8.

Sel flotasi agitair

flotasi - 16

Gambar 9.

Sel flotasi denver

Gambar 10. Sel Flotasi outokumpu flotation cell agitator

flotasi - 17

Gambar 11. Sel flotasi wemco-fagergren

flotasi - 18

Gambar 12. Sel flotasi dissolved air flotation machine

flotasi - 19

Gambar 13. Sel flotasi skala laboratorium

4.2. Mesin Flotasi Non-Mekanikal (Pneumatik) Mesin flotasi non-mekanikal (pneumatik) yang populer digunakan adalah sel flotasi kolom yang secara skematik digambarkan seperti terlihat dalam Gambar 14. Contoh-contoh lainnya dapat dilihat pada Gambar 15 sampai Gambar 17.

flotasi - 20

Gambar 14. Gambar skematik sel flotasi kolom

Gambar 15. Gambar skematik : (a). (b)

Sel flotasi kolom Mesin flotasi davcra

flotasi - 21

Gambar 16. Gambar skematik sel flotasi mikro (a). Hallimound tube (b). Microflotation cell Tabel 1. Mesin flotasi mekanikal dan pneumatik

flotasi - 22

flotasi - 23