Anda di halaman 1dari 11

Syok Anafilaktik adalah yang terjadi secara akut yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap makanan, serangan

serangga atau obat. Syok ini terjadi dalam masa 60 menit setelah pemberian antigen dan menyebabkan terjadi kegagalan sirkulasi dan respirasi.

Syok anafilaktik dibagi atas dua tipe : Reaksi hipersensitif Secara serologis terdapatnya antigen, antibodi IgE dan terdapatnya mediator ini menyebabkan permeabilitas kapiler bertambah, dilatasi pembuluh sistemik, vasokonstriksi pulmoner, bronkospasme, aritmia, dan negatif inotropik. Reaksi anafilaktoid Sama dengan reaksi hipersensitif akan tetapi tidak terdapat anti gen IgE. Syok anafilaktik seperti disebabkanoleh kontras media dan aspirin.

Etiologi syok anafilaktik Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko anafilaksis adalah sifat alergen, jalur pemberian obat, riwayat atopi, dan kesinambungan paparan alergen. Golongan alergen yang sering menimbulkan reaksi anafilaksis adalah makanan, obat-obatan, sengatan serangga, dan lateks. Udang, kepiting, kerang, ikan kacang-kacangan, biji-bijian, buah beri, putih telur, dan susu adalah makanan yang biasanya menyebabkan suatu reaksi anafilaksis. Obat-obatan yang bisa menyebabkan anafikasis seperti antibiotik khususnya penisilin, obat anestesi intravena, relaksan otot, aspirin, NSAID, opioid, vitamin B1, asam folat, dan lain-lain. Media kontras intravena, transfusi darah, latihan fisik, dan cuaca dingin juga bisa menyebabkan anafilaksis Manifestasi syok anafilaktik : - Sesak nafas - Wheezing - Confusion

- Suara serak - Nadi teraba cepat dan kecil - Ujung ujung ekstermitas sianosi, terutama di bibir dan ujung jari - Sakit kepala
-

Terlihat merah, bengkak dan gatal pada seluruh tubuh

- Gelisah - Palpitasi - Nausea, vomiting - Diare - Nyeri abdomen - Hidung tersumbat - Batuk Patofisiologi Syok Anafilaktik Stimulasi Immunologi Aktifasi non Immunologi

Aktifasi mediator biokimia

Meningkatnya permeabilitas membran kapiler Vasodilatasi Perifer Penyempitan otot polos

Penurunan volume sirkulasi Penurunan balik vena

Bronkostriksi

Edema pada laring

Penurunan volume sekuncup Penurunan Cardiac Output

Penurunan sekuncup

Penurunan suplai O2 ke sel Tidak efektif perfusi jaringan Terganggunya metabolisme sel Penatalaksanaan Penatalaksanaan dimulai dengan tindakan umum untuk memulihkan perfusi jaringan dan oksigen sel. Tindakan ini tidak bergantung pada penyebab syok. Diagnosis harus dapat ditegakkan agar dapat diberikan pengobatan kausal. Tatalaksana Umum Perfusi dan oksigenisasi Untuk perfusi jaringan agar kebutuhan metabolit dan zat asam jaringan dapat terpenuhi diperlukan tekanan darah sekurang-kurangnya 70-80 mmHg. Tekanan darah ini dapat dicapai dengan memperhatikan prinsip resusitasi ABC. Jalan nafas harus bebas, bila perlu dilakukan intubasi. Pernafasan harus bebas, bila perlu dilakukan intubasi. Pernafasan harus terjamin, bila pelu dilakukan ventilasi buatan dan pemberian oksigen 100 %. Pada pasien syok yang menggunakan ventilasi mekanis, kebutuhan oksigennya dapat dipenuhi sebesar 20-25 %. Sementara itu defisit volume peredaran darah pada syok hipovolemk senjatiatau relatif (septik & anafilaktik) dapat diatasi dengan pemberian cairan intravena dan mempertahankan fungsi jantung. Tindakan umum terdiri dari pemberian dari oksigen 100 % untuk oksigenisasi jaringan dan sel. Cairan intravena seperti plasma atau pengganti plasma atau pengganti plasma berguna untuk meningkatkan tekanan osmotik intravaskuler. Selain itu, harus dipertimbangkan juga pemberian obat inotropik untuk merangsang kontraksi miokard dan vasokonstriktor untuk mengatasi vasodilayasi perifer, kecuali jika ada syok kardiogenik. Tatalaksana khusus Syok anafilaktik memerlukakan tindakan cepat dan segera karena penderita berada dalam keadaan gawat. Segera berikan 1 ml larutan adrenalin 1 : 1000 secara subkutan untuk

menimbulkan vasokontriksi. Hidrokortison 200 500 mg secara intravena untuk menstabilkan sel mast, serta sediaan antihstamin. Infus cairan diberikan untuk mengatasi keadaan hipovolemik. Bila terjadi komplikasi dari anfilaktik syok setelah pemberian obat atau bahan kimia lain, baik secara oral maupun parenteral maka tindakan yang harus dilakukan adalah : 1. Baringkan penderita pada alas yang keras. Kaki diangkat lebih tinggi dari kepala untuk meningkatkan aliran darah balik vena dalam upaya memperbaiki curah jantung serta menaikan tekanan darah. 2. Penilaian ABC dari tahapan resusitasi jantung paru, yaitu : Airway Penilaian jalan nafas, jalan nafas tetap dijaga tetap bebas tidak ada sumbatan sama sekali. Untuk penderita yang tidak sadar posisi kepala dan leher diatur agar Lidah tidak jauh kebelakang menutupi jalan napas .ini dilakukan dengan cara mengekstensikan kepala, menarik mandibula kedepan, dan mermbuka mulut pasien. Breathing Segera berikan napas buatan bila tidak dijumpai tanda-tanda bernapas. Ini dilakukan baik mulut kemulut ataupun mulut kehidung. Pada syok anafilaktik yang disertai dengan edema laring dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan napas total ataup parsial. Penderita yang mengalami subatan jalan napas parsial selain ditolong dengan obat-obatan, juga harus diberi bantuan napas dan oksigen . penderita dengan sumbatan jalan napas total harus segera ditolong dengan aktif melalui intubasi endotrakea, krikotirotomi, atau trakeostomi. Circulation Bila tidak teraba nadi pada arteri besar (carotis atau femoralis) segera lakukan pijat jantung luar. Berikan adrenalin 0,3-0,5 mg larutan 1:1000 untuk pasien dewasa atai 0,01 ml/kg untuk anak-anak secara IM . pemberian ini dapat diulang setiap 15 menit sampai keadaan membaik . beberapa ahli menganjurkan pemberian infuse continus adrenalin 1:1000 sebanyak 0,5 ml diencerkan dalam

10 ml NaCl 0,9 % diberikan selama 10 menit.bila terjadi spasme bronkus dimana pemberian adrenalin kurang memberikan respon dapat ditambahkan aminofilin 5-6 mg/kg BB secara IV dosis awal yang diteruskan 0,4-0,9 mg/kg BB /menit dalam cairan infuse.
3. pemberian kortikosteroid seperti hidrokortison 100 mg atau deksametason 5-10mg

secara IV sebagai terapi penunjang untuk mengatasi efek lanjut dari anafilaktik shock. 4. Bila tekanan darah tetap rendah, diperlukan pemasangan jalur IV untuk mengoreksi keadaan hivopelemik akibat kehilangan cairan keruang ektravaskuler sebagai tujuan utman dalam mengatasi keadaan shoc anafilaktik. Pemberian cairan akan meningkatkan tekanan daran dan curah jantung serta mengatasi asidosis laktat. Pemilihan jenis cairan antara kristaloid dan koloid tetap merupakan suatu perdebatan yang didasarkan kepada keuntungan dan kerugian mengingat terjadinya peningkatan permeabilitas atau kebocoran kapiler. Pada dasarnya bila diberikan larutan kristaloid maka diperlukan jumlah 3-4 kali dari perkiraan kekurangan volume plasma . biasanya pada shoc anafilaktik yang berat diperkirakan terdapat kehilangan cairan 20-40% dari volume plasma . sedangkan jika diberikan larutan koloid dapat diberikan dengan jumlah yang sama dengan perkiraan volume plasma . tetapi perlu dipikirkan juga bahwa larutan koloid plasma protein atau dextran juga bisa melepaskan histamine. 5. Dalam keadaan gawat , sangat tidak bijak sana bila penderita anafilaktik shok dikirim kerumah sakit karena dapat meningal dalam perjalan . bila terpaksa dilakukan maka penanganan penderita ditempat kejadian harus semaksimal mungkin sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan transportasi penderita harus mendapat pengawalan dari petugas medis seperti dokter dan perawat . posisi waktu dibawa harus tetap dalam keadaan telentang dengan kaki lebih tinggi dari kepala. 6. Bila shok telah teratasi , penderita jangan cepat cepat dipulangkan , harus diobservasi terlebih dahulu selama kurang lebuh 4 jam . sedangkan penderita yang telah mendapat terapi adrenalin lebih dari 2-3 kali suntikkan harus dirawat dirumah sakit selama semalam untuk diobservasi.

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi dari keadaan anafilaktik shock adalah : 1. Asidosis metabolic Berkurangnya volume darah yang yang beredar akan menyebabkan penurunan CO. penurunan CO akan menyebabkan perfusi kesel menurun sehingga sel mengalami hipoksia. Pada kondisi hipoksia , glikolisis yang seharusnya bersifat aerobic akan berubah menjadi anaerobic sehingga metabolisme piruvat akan dirubah menjadi asam laktat. Penumpukan asam laktat inilah yang menyebabkan kadar Ph tubuh menurun. 2. Komplikasi tingkat sel Kondisi hipoksia akibat rendahnya perfusi kesel akan menyebabkan peningkatan metabolisme anaerobic pada sel, akibatnya sel akan mengalami asidosis dan mengurangi efisiensi energy sel sehingga sel akan mengalami kematian. 4. Komplikasi tingkat organ

Pada tingkat organ , shock dapat meyebabkan : Oligurik renal failure, high output renal failure Kegagalan fungsi ginjal Failure of intestinal barier (sepsis, bleeding). Edema paru, kebocoran kapiler paru.

Pencegahan Tindakan pencegahan anafilaktik shock harus diperhatikan sebelum melakukan penyuntikan. Bila tidak ada kepastian mengenai kemungkinan akan terjadi shock anafilaktik, sebaiknya dilakukan tes kulit dan harus disiapakan sediaan adrenalin, hidrokortison, dan antihistamin.

Pencegahan shock anafilaktik merupakan langkah terpenting dalam setiap pemberian obat , tetapi ternyata tidak lah mudah untuk dilaksanakan . ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: 1) Pemberian obat harus benar- benar dengan indikasi yang kuat dan tepat 2) Individu yang mempunyai riwayat penyakit asma dan orang yang mempunyai riwayat alergi terhadap banyak obat, mempunyai resiko lebih tinggi terhadap kemungkinan terjadinya shok anafilaktik. 3) Penting bagi kita untuk menyadari bahwa tes kulit negative pada umumnya penderita dapat mentolerasi pemberian obat tersebut, tetapi tidak berate pasti penderita tidak akan mengalami reaksi anafilatik. Orang dengan tes kulit negative dan mempunyai riwayat alergi positif mempunyai kemungkinan reaksi sebesar 1-3 % dibandingkan dengan kemungkinan terjadinya 60 % bila Tes kulit positif. 4) Yang paling penting adalah harus selalu tersedia obat penawar untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya reaksi anafilaktik atau anafilaktoid serta adanya alat bantu resusitasi untuk menangani keadaan kegawat darurat. Mempertahankan Suhu Tubuh Suhu tubuh dipertahankan dengan memakaikan selimut pada penderita untuk mencegah kedinginan dan mencegah kehilangan panas. Jangan sekali-kali memanaskan tubuh penderita karena akan sangat berbahaya. Pemberian Cairan 1. Jangan memberikan minum kepada penderita yang tidak sadar, mual-mual, muntah, atau kejang karena bahaya terjadinya aspirasi cairan ke dalam paru. 2. Jangan memberi minum kepada penderita yang akan dioperasi atau dibius dan yang mendapat trauma pada perut serta kepala (otak). 3. Penderita hanya boleh minum bila penderita sadar betul dan tidak ada indikasi kontra. Pemberian minum harus dihentikan bila penderita menjadi mual atau muntah. 4. Cairan intravena seperti larutan isotonik kristaloid merupakan pilihan pertama dalam melakukan resusitasi cairan untuk mengembalikan volume intravaskuler, volume

interstitial, dan intra sel. Cairan plasma atau pengganti plasma berguna untuk meningkatkan tekanan onkotik intravaskuler. 5. Pada syok hipovolemik, jumlah cairan yang diberikan harus seimbang dengan jumlah cairan yang hilang. Sedapat mungkin diberikan jenis cairan yang sama dengan cairan yang hilang, darah pada perdarahan, plasma pada luka bakar. Kehilangan air harus diganti dengan larutan hipotonik. Kehilangan cairan berupa air dan elektrolit harus diganti dengan larutan isotonik. Penggantian volume intra vaskuler dengan cairan kristaloid memerlukan volume 34 kali volume perdarahan yang hilang, sedang bila menggunakan larutan koloid memerlukan jumlah yang sama dengan jumlah perdarahan yang hilang. Telah diketahui bahwa transfusi eritrosit konsentrat yang dikombinasi dengan larutan ringer laktat sama efektifnya dengan darah lengkap. 6. Pemantauan tekanan vena sentral penting untuk mencegah pemberian cairan yang berlebihan. 7. Pada penanggulangan syok kardiogenik harus dicegah pemberian cairan berlebihan yang akan membebani jantung. Harus diperhatikan oksigenasi darah dan tindakan untuk menghilangkan nyeri. 8. Pemberian cairan pada syok septik harus dalam pemantauan ketat, mengingat pada syok septik biasanya terdapat gangguan organ majemuk (Multiple Organ Disfunction). Diperlukan pemantauan alat canggih berupa pemasangan CVP, Swan Ganz kateter, dan pemeriksaan analisa gas darah.

Asuhan Keperawatan Syok Anafilaksik 1. Pengkajian : Data subyektif : - Pasien mengeluh kesulitan dalam bernafas. - Pasien mengeluh gatal-gatal. - Pasien mengeluh pusing.

- Pasien mengeluh kesulitan menelan - Pasien mengeluh muntah Data objektif: - Bronkospasme dan edema saluran nafas atau laring - Pembengkakan periorbital - Pruritus - Pasien tampak menggaruk daerah yang gatal - Pasien terlihat kejang - kejang

2.

Diagnosa Keperawatan

1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan spasme otot bronkeolus . 2. Gangguan perfusi jaringan, berhubungan dengan penurunan curah jantung dan vasodilatasi arteri. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. 4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan produksi histamine dan bradikinin oleh sel mast. 5. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan kapasitas vaskuler.

Algoritma Syok Anafilaktik