Anda di halaman 1dari 34

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendidikan memegang peranan yang sangat penting bagi masa depan seseorang maupun masa depan sebuah negara. Sebuah negara dengan pendidikan yang maju dapat dipastikan akan menjadi negara yang besar dan disegani oleh bangsa-bangsa lain, karena pendidikan merupakan proses pengembangan daya nalar, keterampilan, dan moralitas kehidupan pada potensi diri yang dimiliki oleh setiap manusia. Negara yang pendidikannya maju akan mendidik warga negaranya menjadi sumber daya-sumber daya yang mampu mengembangkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada pelaksana pendidikan, yakni guru dan siswa. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. 1

2 Materi turunan atau diferensial adalah bagian dari materi matematika yang mempunyai keterkaitan dengan materi-materi lain di dalam matematika maupun dalam bidang yang lain, misalnya bidang fisika dan ekonomi, sehingga penguasaan terhadap materi turunan ini sangat diperlukan untuk pengembangan diri dalam menguasai materi-materi lain dalam matematika. Tetapi kenyataan di lapangan banyak sekali siswa yang tidak tertarik terhadap mata pelajara matematika, mereka menganggap matematika adalah mata pelajaran yang sangat susah, sehingga mengakibatkan hasil belajar yang rendah. Tidak tertariknya siswa terhadap mata pelajaran matematika diduga akibat strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang tepat. Karena selama ini, cenderung strategi pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah yang berpusat pada guru. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti dilandasi keinginan untuk mencari strategi pembelajaran yang lebih baik untuk meningkatkan penguasaan dan hasil belajar peserta didik terhadap materi turunan. Dalam hal ini strategi pembelajaran yang digunakan adalah strategi pembelajaran tutor teman sebaya. Pembelajaran tutor sebaya dipilih karena peneliti melihat bahwa di kelas XI IPA 1 ada beberapa siswa yang memiliki kemampuan akademis di atas ratarata dan mampu berkomunikasi dengan baik, yang mampu menjelaskan kepada temannya jika ada teman yang mengalami kesulitan dalam belajar, hal ini memungkinkan siswa-siswa tersebut dapat membantu guru untuk menjelaskan materi turunan fungsi kepada siswa lain, di sisi lain dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya siswa-siswa yang lemah akan lebih mampu memahami materi jika dibimbing atau dipandu oleh temannya, karena tutor akan

3 menerangkan materi dengan bahasa anak yang tentunya lebih mudah untuk dipahami oleh anak-anak seusia mereka. Berdasarkan latar pemikiran yang telah terurai maka penelitian tindakan kelas ini diformulasikan dengan judul sebagai berikut: UPAYA

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI TURUNAN FUNGSI MELALUI PEMBELAJARAN TUTOR

SEBAYA PADA SISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 1 MOGA TAHUN PELAJARAN 2011/2012.

B. Rumusan Masalah Penelitian ini akan mengkaji tentang upaya dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada pokok bahasan turunan dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya bagi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Moga Kabupaten Pemalang tahun pelajaran 2011/2012. Adapun rumusan masalah yang akan diajukan adalah: 1. Apakah metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan belajar turunan fungsi bagi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Moga Kabupaten Pemalang tahun pelajaran 2011/2012? 2. Apakah metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar turunan fungsi bagi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Moga Kabupaten Pemalang tahun pelajaran 2011/2012?

4 C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Tujuan Umum Tujuan peneliti yang diharapkan dari penelitian ini menjadi masukan bagi guru dan siswa untuk meningkatkan belajar di rumah. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika materi turunan pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Moga Tahun Pelajaran 2011/2012

D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Siswa a. Menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan melalui kerja sama antar siswa. b. Menciptakan masyarakat belajar dengan membangun kerja sama. c. Menemukan penyelesaian jawaban yang paling tepat melalui kerja sama antar siswa. 2. Guru a. Sebagai bahan masukan dalam pengelolaan kelas. b. Sebagai acuan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif. c. Sebagai pedoman dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Matematika.

5 BAB II LANDASAN TEORITIS

A. Hasil Belajar Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran. Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut: 1. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. 2. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan

6 karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. 3. Ranah Psikomotor Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi

neuromuscular (menghubungkan, mengamati).

B. Keaktifan Belajar Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Menurut Sudirman, aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berpikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahhkan Sedangkan menurut Rohani, belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik ialah siswa giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah, jika daya jiwanya bekerja sebanyakbanyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Saat siswa aktif jasmaninya dengan sendirinya ia juga aktif jiwanya, begitu juga sebaliknya. Menurut Silberman dalam Yustiyawati, 2010, melaksanakan kegiatan belajar dalam kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktikkan keterampilan, mengajukan pertanyaan, dan mendorong siswa untuk mengajar satu sama lain merupakan strategi untuk menjadikan siswa aktif dalam belajar Keaktifan siswa besar nilainya bagi pengajaran para siswa, oleh karena: a. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.

7 b. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral. c. d. e. Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis. f. Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga

mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis. g. Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat (Hamalik 2007:172 dalam Yustiyawati).

C. Kajian Teori Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat ditingkatkan efektifitasnya untuk menunjang keberhasilan suatu program pengajaran. Potensi yang ada di sekolah, yaitu semua sumber-sumber daya yang dapat mempengaruhi hasil dari proses belajar mengajar. Keberhasilan suatu program program pengajaran tidak disebabkan oleh satu macam sumber daya, tetapi disebabkan oleh perpaduan antara berbagai sumber-sumber daya saling mendukung menjadi satu sistem yang integral.(Wijaya, dalam Antonius Novan S.N., 2007) Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber belajar dapat orang lain yang bukan guru, melainkan teman dari kelas yang lebih tinggi, teman sekelas, atau keluarganya di rumah. Sumber belajar bukan guru dan berasal

8 dari orang yang lebih pandai disebut tutor. Ada dua macam tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi (Harsunarko, dalam Antonius Novan S.N., 2007) Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu belajar matematika , bahasa atau pelajaran lainnya, baik satu-satu atau dalam kelompok kecil. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperoleh atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan tutor sebaya, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

9 Menurut Suryono dan Amin (dalam Djamarah, 2006:35) menyatakan ada beberapa kelebihan dan kelemahan bimbingan tutor sebaya. Adapun kelebihan bimbingan tutor sebaya adalah sebagai berikut : 1) Adanya suasana hubungan yang lebih akrab dan dekat antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu. 2) Bagi tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar. 3) Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu. 4) Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab akan kepercayaan. Adapun kelemahan bimbingan tutor sebaya adalah sebagai berikut : 1) Siswa yang dipilih sebagai tutor sebaya dan berprestasi baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan siswa yang dibantu. 2) Siswa yang dipilih sebagai tutor sebaya belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik.

10 BAB III METODE PENELITIAN

A.

Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Moga Jalan Camping

Sight Banyumudal Moga Kabupaten Pemalang pada semester kedua tahun pelajaran 2011/2012. Persiapan penelitian dilakukan pada bulan April Juni 2012. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei dan Juni yaitu pada saat pembelajaran fungsi turunan berlangsung yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Dalam satu minggu terdapat tiga kali pertemuan untuk mata pelajaran Matematika. Alokasi waktu pada masingmasing pertemuan adalah dua kali 90 menit dan satu kali 45 menit.

B.

Subjek Penelitian Penelitian ini akan diterapkan pada siswa kelas XI IPA 1 sebanyak 37

siswa, yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 26 siswa perempuan. Sebagai alasan dipilihnya kelas XI IPA 1 karena siswa masih pasif dalam pembelajaran dan hasil belajarnya yang masih rendah bila dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya. Fokus penelitian yang akan diungkap dalam penelitian ini ada dua, yaitu keaktifan dan hasil belajar siswa. Keaktifan siswa digunakan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil belajar siswa digunakan untuk mengukur ketuntasan siswa dalam menerima materi pelajaran.

11 C. Prosedur Penelitian Skenario pelaksanaan penelitian dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada pokok bahasan turunan fungsi dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya terdiri dari dua siklus. Adapun prosedur penelitian tindakan kelas dirinci sebagai berikut: 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, guru menyiapkan perangkat pembelajaran berupa RPP, lembar kerja siswa yang dibuat oleh guru, lembar observasi, jurnal siswa, soal tes, tanda pengenal siswa, dan rangkuman materi turunan fungsi untuk siklus I. Pada tahap perencanaan ini pula, guru merancang membagi siswa menjadi 7 kelompok dengan 5 kelompok beranggotakan 5 orang siswa dan 2 kelompok beranggotakan 6 orang siswa dengan masing-masing kelompok memiliki tutor yang telah ditunjuk oleh guru. Tutor ini yang nantinya akan membantu guru dalam proses pembelajaran. Siswa yang ditunjuk menjadi tutor adalah siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi daripada siswa-siswa lainnya. Guru juga memberitahukan kepada siswa langkah-langkah dalam metode pembelajaran yang akan digunakan. 2. Pelaksanaan Pada siklus I, materi yang disampaikan adalah sifat-sifat turunan fungsi aljabar. Pada awal pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. Siswa kemudian berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing dan tutor memandu teman-temannya untuk mengerjakan lembar

12 kerja, dimana sebelumnya tutor sudah dikumpulkan dan diberi materi tentang turunan fungsi aljabar. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya kepada tutor maupun guru bila ada materi yang belum dipahaminya. Untuk menambah tingkat kepahaman siswa, pada akhir diskusi kelompok, guru membimbing siswa membahas soal-soal tersebut sekaligus sebagai koreksi jawaban siswa atas soal yang dikerjakan. Pada akhir materi, guru membimbing siswa membuat rangkuman dan tugas untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan. Pada siklus II, materi yang disampaikan adalah turunan fungsi trigonometri. Pelaksanaan pada siklus II sama dengan pada siklus I, hanya saja jika pada siklus I siswa langsung berdiskusi di kelompoknya masing-masing untuk mengerjakan lembar kerja, maka di siklus II guru terlebih dahulu memberikan materi turunan trigonometri dengan metode ceramah dan tanya jawab juga untuk mengingatkan materi trigonometri yang sudah dipelajari oleh siswa di kelas X maupun di semester I kelas XI. Guru memberi contoh-contoh turunan fungsi trigonometri, setelah materi disampaikan, guru memberi tugas kepada tiap kelompok berdiskusi mengerjakan lembar kerja dipandu oleh tutor dan memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya bila ada materi yang belum dipahaminya. Kelompok pada siklus II anggota dan tutornya berbeda dengan kelompok pada siklus I, dengan tujuan anggota kelompok mendapat tutor sebaya yang berbeda teman yang berbeda pula. Pada tiap-tiap akhir siklus, guru memberikan tes untuk dikerjakan oleh setiap siswa secara mandiri.

13 3. Observasi Dalam kegiatan belajar ini baik pada siklus I dan siklus II, keaktifan belajar siswa diobservasi oleh peneliti. Kektifan belajar siswa diobservasi melalui lembar observasi. Observer akan memberikan nilai 1 pada kolom yang dilakukan siswa dan memberi nilai 0 pada kolom yang tidak dilakukan siswa, kemudian skor masing-masing siswa dijumlah. Adapun aspek yang diamati seperti terlihat pada tabel 1. Agar observer tidak mengalami kesulitan dalam kegiatan pengamatan, maka setiap kelompok menggunakan tanda pengenal dengan warna dan bentuk yang berbeda. Pada tanda pengenal ini dicantumkan nomor absen setiap siswa. Untuk melengkapi data pada penelitian, siswa diminta untuk mengisi jurnal siswa. 4. Refleksi Sebagai refleksi, data keaktifan dan jurnal siswa serta hasil belajar siswa pada siklus I kemudian diolah, tujuannya untuk melihat kelemahan-kelemahan yang perlu perbaikan atau pembenahan untuk kemudian diperbaiki di siklus II. Sumber informasi ini diperoleh dari guru dan siswa yang terlibat dalam penelitian.

D.

Alat Pengambilan Data Adapun alat pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah lembar observasi, jurnal siswa, dan hasil belajar siswa. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

14 1. Observasi mengacu pada lembar observasi yang berisi tentang keaktifan belajar siswa berupa sikap positif dan negatif siswa dalam proses pembelajaran. 2. Jurnal yang dibuat siswa berisi laporan kesan-kesan yang dirasakan siswa saat mengikuti proses pembelajaran terhadap: kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajaran, tanggapan mengenai model pembelajaran tutor sebaya, cara tutor sebaya menjelaskan materi, cara tutor memberikan bimbingan dalam menyelesaikan soal, saran siswa terhadap model pembelajaran tutor sebaya. 3. Hasil belajar siswa berupa nilai tes. Nilai tes diperoleh dari hasil siswa mengerjakan soal tes yang diberikan oleh guru pada setiap siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi, jurnal siswa, dan evaluasi. Setiap variabel dibuat indikator pengukurannya. Indikator instrumen dalam penelitian ini terlihat pada tabel 1 dan 2. Tabel 1 Kisi-kisi Instrumen Keaktifan Belajar Siswa

Indikator No. Butir Perhatian dan respon siswa terhadap tutor 1 Partisipasi aktif dalam diskusi kelompok 2 Aktif menjawab dan bertanya terhadap tutor maupun guru 3 Menghargai pendapat teman 4 Aktif membuat catatan 5 Interpretasi dari jumlah skor masing-masing siswa adalah sebagai berikut: a) Sangat aktif (SA) b) Aktif (A) =5 =4

15 c) Cukup Aktif (CA) d) Kurang Aktif (KA) e) Tidak Aktif (TA) Tabel 2 =3 =2 =1

Kisi-kisi Instrumen Tes


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Bentuk Materi Pokok Indikator Siswa mampu menentukan turunan pertama fungsi aljabar Siswa mampu menentukan nilai suatu turunan pertama fungsi aljabar Siswa mampu menentukan nilai turunan kedua suatu turunan fungsi aljabar Siswa mampu menentukan turunan pertama fungsi trigonometri Siswa mampu menentukan nilai suatu turunan pertama fungsi trigonometri Soal No. Soal 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 8, 9 Pilihan Ganda 10

Siklus

1. Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah Menggunakan konsep dan aturan turunan dalam perhitungan turunan fungsi

Turunan Fungsi Aljabar

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Pilihan Ganda 10

2.

Turunan fungsi trigonom etri

E. 1.

Teknik Pengambilan dan Analisis Data Teknik Pengambilan Data Teknik pengambilan data berupa teknik nontes dan tes. Teknik nontes

dengan menggunakan observasi dan jurnal siswa. Observasi dilakukan terhadap keaktifan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Data yang lain diperoleh

16 melalui jurnal siswa. Teknik tes digunakan untuk mendapatkan skor hasil belajar siswa pada masing-masing siklus . Jenis data yang didapatkan dari penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa deskripsi hasil observasi dan jurnal siswa. Data kuantitatif berupa skor hasil belajar siswa dengan rentang nilai 0 sampai dengan 100. Hasil belajar siswa atau nilai tes diperoleh dari skor jawaban yang benar dikalikan 10. Setiap soal yang dijawab dengan benar mendapat skor 1 dan jika dijawab salah mendapat skor 0. 2. Teknik Analisis Data Data penelitian yang terkumpul, setelah ditabulasi kemudian dianalisis untuk mencapai tujuan-tujuan penelitian. Analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif analitik, dengan penjelasan sebagai berikut. 1. Data kualitatif yang berasal dari observasi dan jurnal siswa diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis, untuk kemudian dikaitkan dengan data kuantitatif sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan ditandai semakin aktifnya siswa dalam proses pembelajaran. 2. Data kuantitatif diolah dengan menggunakan deskriptif persentase. Siswa dianggap berhasil apabila nilai tes tidak kurang dari 70 dan tuntas secara klasikal jika ketuntasan belajar sekurang-kurangnya 85% dari jumlah seluruh siswa.

17 F. Indikator Keberhasilan Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini bila terjadi peningkatan kualitas pembelajaran yakni : 1. Peningkatan kualitas proses yaitu keaktifan belajar siswa meningkat 2. Peningkatan kualitas hasil yang menyangkut skor rata-rata hasil tes belajar siswa kelas XI IPA 1, dimana jika hasil tes belajar menunjukkan adanya peningkatan banyaknya siswa yang tuntas belajar, maka penelitian tindakan ini berhasil dengan batas ketuntasan minimum 70.

18 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal Penelitian ini bertitik tolak dari adanya kepasifan siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika di kelas dan hasil belajar siswa yang masih rendah dan kelas XI IPA 1 adalah kelas yang paling pasif dalam pembelajaran dengan hasil belajar yang paling rendah. Kelas XI IPA 1 terdiri dari 37 orang siswa, dari pengalaman mengajar rata-rata hanya 6 orang siswa yang terlihat aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan untuk hasil belajar, baru 14 orang siswa yang tuntas atau 38,84% tuntas secara klasikal seperti terlihat pada tabel 3. Tabel 3 Hasil Belajar Kondisi Awal

No. 1. 2. 3.

Tingkat Ketuntasan Belum Tuntas Tuntas Tuntas Jumlah Siswa

Rentang Nilai < 70 70 - 85 > 85 -

Jumlah Siswa 23 11 3 37 -

(%) 62,16 29,73 8,11 100 38,84 (29,73 + 8,11)

Tindak Lanjut Remidial Pengayaan Tindakan Siklus I

Ketuntasan Klasikal

Kegiatan belajar mengajar yang monoton membuat siswa menjadi pasif dan kurang merespon dalam pembelajaran. Mereka enggan atau malu untuk bertanya bila menemui kesulitan dalam memahami materi. Bila ditanya oleh guru materi yang belum dikuasai atau dipahami siswa cenderung diam. Sikap siswa

19 yang diam ini seringkali diartikan oleh guru bahwa siswa telah menguasai materi yang disampaikan. Guru baru menyadari kalau banyak siswa yang belum paham setelah guru memberikan evaluasi.

B. Deskripsi Siklus I 1. Perencanaan Untuk melakukan penelitian pada siklus I ini peneliti merencanakan tindakan yang meliputi : 1) Membuat rancangan program pengajaran dengan materi turunan fungsi aljabar. Rancangan program yang dibuat digunakan untuk pengajaran 2 x 45 menit dengan rincian (1) apersepsi 10 menit (2) membentuk kelompok yang heterogen 5 menit (3) Kegiatan inti berisi pengerjaan lembar kerja dan mengaktifkan siswa dengan metode pembelajar tutor sebaya selama 45 menit (4) pembahasan lembar kerja 30 menit (5) penutup 5 menit 2) Membuat lembar kerja siswa yang digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar dengan penyusunan tahap demi tahap yang membawa siswa untuk memahami materi turunan fungsi. 3) Membuat alat evaluasi yang digunakan untuk mendapatkan data kemampuan siswa setelah mendapatkan tindakan dengan menggunakan metode

pembelajaran tutor sebaya. 2. Pelaksanaan Tindakan. Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2012, peneliti melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah

20 direncanakan, dimulai dengan penjelasan pada siswa tentang kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam mengikuti kegiatan. Sebelum pelaksanaan tindakan siklus I, peneliti mengumpulkan tutor yang telah ditunjuk untuk menyampaikan materi dan menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh para tutor dalam pelaksanaan tindakan siklus I ini. Peneliti membagi kelas menjadi 7 (tujuh) kelompok sesuai banyaknya tutor secara acak sehingga didapatkan kelompok yang heterogen. Peneliti membagikan lembar kerja yang telah dirancang oleh peneliti untuk diselesaikan siswa di kelompoknya masing-masing dengan dipandu oleh tutor, peneliti berkeliling untuk mengamati cara kerja siswa serta membantu siswa dan yang mengalami masalah dalam menyelesaikan lembar kerja yang dibagikan.

Gambar 1 Situasi kelas dalam pembelajaran matematika model tutor sebaya

21

Gambar 2 Situasi siswa dalam mengerjakan lembar kerja yang dipandu oleh tutor

Pada saat pelaksanaan menyelesaikan lembar kerja siswa tampak siswa antusias memperhatikan penjelasan dari tutor. Sambil berkeliling peneliti mencatat hambatan hambatan yang terjadi pada saat siswa mengerjakan lembar kerja tersebut selain itu peneliti juga mencatat siswa siswa yang aktif. Pada akhir pengajaran yaitu 35 menit terakhir peneliti membahas lembar kerja untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi turunan fungsi. Pada hari Senin, tanggal 28 Mei 2012 pada siswa diberikan evaluasi tentang penguasaan materi turunan fungsi aljabar dalam waktu 2 jam pelajaran atau 90 menit. 3. Hasil Pengamatan. Setelah lembar kerja dibagikan maka tampak siswa antusias dalam mengerjakan lembar kerja tersebut dipandu oleh tutor pada masing-masing

22 kelompok. Pada pengerjaan lembar kerja yang dibagikan ini terlihat ada beberapa siswa yang bermain main ataupun asyik mengerjakan pekerjaan yang lain. Pada pelaksanaan pengerjaan lembar kerja tersebut tampak adanya siswa yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan dan memahami materi turunan fungsi bertanya kepada tutor dan tutor berusaha untuk menjelaskan dengan baik. Tabel 4 Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Siklus I Banyaknya Siswa 0 4 9 15 9 37 Prosentasi 0,00% 10,81% 24,32% 40,54% 24,32% 100,00%

Kategori Tidak Aktif (TA) Kurang Aktif (KA) Cukup Aktif (CA) Aktif (A) Sangat Aktif (SA) Jumlah

Dari tabel 4 terlihat ada 4 siswa atau 10,81% yang masih kurang aktif mengikuti pembelajaran, kekurangaktifan siswa dalam model pembelajaran tutor sebaya ini mungkin disebabkan oleh ketidakcocokan siswa tersebut dengan anggota kelompoknya atau kurang percaya diri. Dalam hal ini peran guru dalam membimbing serta mengarahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi, dan memberi semangat pada siswa untuk berperan aktif dalam diskusi sangat diperlukan, dengan demikian seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif dalam diskusi. Berdasarkan jurnal siswa, sebagian besar siswa (100%) menyatakan senang dengan model pembelajaran tutor sebaya, walaupun masih ada beberapa kesulitan yang dihadapi oleh siswa diantaranya tidak teliti ketika mengerjakan dan

23 masih kesulitan menurunkan fungsi yang berbentuk akar. Adapun hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Hasil Belajar Siklus I Tingkat Ketuntasan Belum Tuntas Tuntas Tuntas Jumlah Siswa Rentang Nilai < 70 70 - 85 > 85 Jumlah Siswa 5 10 22 34 -

No. 1. 2. 3.

(%) 13,51 27,03 59,46 100 86,49

Tindak Lanjut Remidial Tindakan Siklus II

Ketuntasan Klasikal

Tabel 5 memperlihatkan hasil belajar siswa yang tuntas yaitu sebanyak 32 orang siswa atau sekitar 86,49% tuntas secara klasikal. Dari hasil ini terlihat adanya peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal. Ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi turunan fungsi. 4. Refleksi Dilihat dari hasil belajar pada siklus I, menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal telah tercapai, karena ketuntasan klasikal diperoleh 86,49%. Sedangkan dari sisi keaktifan belajar masih ada 4 orang siswa yang masih kurang aktif, meskipun 100% anak mengaku senang dengan model pembelajaran tutor sebaya karena lebih mudah memahami materi. Dari jurnal yang dibagikan sebagian anak menyatakan bahwa kesulitannya adalah kurang teliti dalam mengerjakan soal-soal turunan fungsi dan mencari turunan fungsi yang berbentuk akar.

24 Dengan melihat titik lemah yang terjadi pada sebagian kecil siswa berkenaan kekurangtelitian siswa dalam mengerjakan soal dan soal yang berkaitan dengan fungsi dalam bentuk akar maka perlu diadakan penjelasan yang mendasar oleh guru pada anak anak yang mengalami hambatan dengan menjelaskan lebih dalam berkaitan dengan masalah tersebut. Perlunya penjelasan guru ini untuk menguatkan pemahaman siswa terhadap materi turunan fungsi aljabar yang menjadi dasar untuk menguasai materi turunan fungsi trigonometri yang akan dipelajari pada siklus II.

C. Deskripsi Siklus II 1. Perencanaan Pada perencanaan siklus II ini peneliti merencanakan tindakan sebagai berikut :
1) Membuat rancangan pembelajaran materi turunan fungsi trigonometri.

Rancangan program yang dibuat digunakan untuk pengajaran 2 x 45 menit dengan rincian (1) apersepsi 5 menit (2) membentuk kelompok yang heterogen yang anggotanya berbeda dengan siklus I 5 menit (3) Kegiatan inti yang berupa penjelasan materi turunan fungsi trigonometri secara klasikal selama 25 menit (4) pengerjaan lembar kerja dan mengaktifkan siswa dengan metode pembelajar tutor sebaya selama 35 menit (5) pembahasan lembar kerja 20 menit (6) penutup 5 menit
2) Membuat lembar kerja yang dipergunakan untuk diskusi kelompok yang

dipandu oleh tutor

25
3) Merencanakan alat evaluasi yang berupa soal tes yang digunakan untuk

mengukur kemampuan siswa. 2. Pelaksanaan Tindakan Seperti yang telah direncanakan maka peneliti melaksanaan tindakan siklus II pada hari Sabtu, tanggal 2 Juni 2012 dengan materi turunan fungsi trigonometri, pada tindakan di siklus II ini diawali penjelasan kepada siswa tentang prosedur yang akan dilaksanakan pada pembelajaran. Peneliti

menerangkan materi turunan trigonometri kepada siswa secara klasikal untuk memberi pemahaman dan untuk mengingatkan kembali rumus-rumus

trigonometri yang sudah dipelajari oleh siswa. Peneliti membagi siswa menjadi 7 (tujuh) kelompok yang anggota-anggotanya berbeda dengan siklus I, selanjutnya siswa berkumpul menurut kelompok masing masing. Setelah siswa telah berkumpul dengan kelompoknya maka peneliti membagikan lembar kerja siswa untuk didiskusikan bersama dari masing masing kelompok dipandu oleh tutor yang telah ditentukan, pada saat siswa mulai berdiskusi peneliti berkeliling untuk mencatat mengamati keaktifan siswa dan membantu siswa jika mendapatkan kesulitan dalam mengerjakan lembar kerja. Setelah waktu yang ditentukan pada lembar kerja habis maka peneliti bersamasama siswa membahas lembar kerja secara klasikal. Pada hari Senin, tanggal 4 Juni 2012 pada siswa diberikan evaluasi tentang penguasaan materi tujunan fungsi trigonometri dalam waktu 2 pelajaran atau 90 menit. 3. Hasil Pengamatan jam

26 Pada pelaksanaan siklus II ini tampak sekali bahwa siswa sangat antusias dalam mengerjakan tugas kelompok, semua siswa terlihat aktif bersama kelompoknya dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan peneliti. Tabel 6 Hasil Observasi Keaktifan Siswa pada Siklus II Kategori Tidak Aktif (TA) Kurang Aktif (KA) Cukup Aktif (CA) Aktif (A) Sangat Aktif (SA) Jumlah Banyaknya Siswa 0 0 3 21 13 37 Prosentasi 0,00% 0,00% 8,11% 56,76% 35,14% 100,00%

Dari tabel 6 terlihat semua siswa telah aktif mengikuti pembelajaran matematika. Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan setelah dikoreksi hasil seperti pada tabel 7. Tabel 7 Hasil Belajar Siklus II Jumlah Siswa 1 11 25 37 Tindak Lanjut Remidial -

No. 1. 2. 3.

Tingkat Ketuntasan Belum Tuntas Tuntas Tuntas Jumlah Siswa

Rentang Nilai < 70 70 - 85 > 85 -

(%) 2,70 29,73 40,54 100 97,30

Ketuntasan Klasikal

Tabel 7 memperlihatkan hanya 1 orang siswa yang belum mendapat nilai tuntas, sedangkan 36 orang lainnya atau 97,30% telah mendapatkan nilai tuntas. 4. Refleksi

27 Dari hasil evaluasi yang diberikan selama 2 jam pelajaran atau 90 menit tenyata 36 siswa telah mampu mendapatkan nilai di atas batas ketuntasan. Keaktifan dari siswa secara keseluruhan telah sesuai yang diharapkan oleh peneliti karena dalam mengerjakan lembar kerja secara kelompok ini 100 % telah aktif dalam pembahasan lembar kerja yang diberikan.

D. Pembahasan Hasil Penelitian Menurut Naim dan Patoni dalam Yustiawati, 2010, pembelajaran yang berpusat pada guru seringkali membuat siswa pasif dalam pembelajaran. Kepasifan ini timbul karena gaya mengajar guru yang cenderung monoton dan tanpa variasi dalam mengajar. Suatu penelitian menyebutkan bahwa siswa hanya belajar 10% dari yang dibaca, 20% dari yang didengar, 30% dari yang dilihat, 50% dari yang dilihat dan didengar, 70% dari yang dikatakan dan 90% dari yang dikatakan dan dilakukan. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang tidak melibatkan siswa secara langsung menjadikan siswa pasif dalam pembelajaran. Perlu diingat bahwa belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental siswa dan kerja siswa sendiri. Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, siswa perlu menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Siswa bisa belajar dengan sangat baik dari pengalaman konkret yang berlandaskan kegiatan. Melaksanakan kegiatan belajar dalam kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktikkan keterampilan, mengajukan pertanyaan, dan

28 mendorong siswa untuk mengajar satu sama lain merupakan strategi untuk menjadikan siswa aktif dalam belajar. Adapun strategi untuk menjadikan siswa aktif dalam belajar adalah dengan melaksanakan pembelajaran kooperatif. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap kegiatan belajar mengajar, yakni dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran, meningkatkan ketercapaian tujuan pembelajaran khusus, dan dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran berikutnya (Isjoni 2010:87, dalam Yustiawati). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan ketercapaian tujuan pembelajaran khusus, ini berarti hasil belajar siswa sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Dalam model pembelajaran tutor sebaya siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4-6 orang siswa yang heterogen yang dipandu oleh tutor yang telah ditentukan sebelumnya. Pembentukkan kelompok ini dilakukan oleh guru. Dalam model pembelajaran ini siswa bebas mengemukakan ide-ide, pertanyaan, dan alternatif dalam menjawab soal kepada tutor mereka. Dengan model pembelajaran ini siswa tidak merasa canggung untuk bertanya hal-hal atau materi yang belum dipahami, karena mereka bertanya kepada teman mereka sendiri.

29 Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa keaktifan belajar siswa semakin meningkat dibandingkan dengan kondisi awal. Hal ini dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8 Hasil Observasi Keaktifan antar Siklus Siklus I Siklus II Kategori Keaktifan Banyaknya Banyaknya Prosentase Prosentase siswa siswa 0 0,00% 0 0,00% Tidak Aktif (TA) 4 10,81% 0 0,00% Kurang Aktif (KA) 9 24,32% 3 8,11% Cukup Aktif (CA) 15 40,54% 21 56,76% Aktif (A) 9 24,32% 13 35,14% Sangat Aktif (SA) 37 100,00% 37 100,00% Jumlah

Tabel 9 No. 1. 2.

Hasil Belajar antar Siklus Tingkat Ketuntasan Rentang Nilai < 70 70 Siklus I Jumlah Siswa 5 32 37 (%) 13,51 86,49 100 86,49 Siklus II Jumlah Siswa 1 36 37 (%) 2,70 97,30 100 97,30

Belum Tuntas Tuntas Jumlah Siswa

Ketuntasan Klasikal

Tabel 10

Peningkatan Hasil Belajar antar Siklus Kondisi Awal Siklus I Tingkat Rentang Jumlah Jumlah Ketuntasan Nilai (%) (%) Siswa Siswa Tuntas 70 14 38,84 32 86,49 Ketuntasan 38,84 86,49 Klasikal

Siklus II Jumlah Siswa 36 (%) 97,30 97,30

Dari tabel 8, tabel 9 dan tabel 10 diatas tampak adanya peningkatan hasil belajar. Dari hasil tersebut mengindikasikan bahwa model pembelajaran tutor

30 sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika pada materi turunan fungsi. Peningkatan hasil penguasaan materi turunan fungsi ini karena adanya suasana hubungan yang lebih akrab dan dekat antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu dan bagi tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.

31 BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan belajar turunan fungsi bagi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Moga Kabupaten Pemalang tahun pelajaran 2011/2012. 2. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar turunan fungsi bagi siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Moga Kabupaten Pemalang tahun pelajaran 2011/2012.

B. Saran Adapun saran yang dapat peneliti sampaikan dalam pembelajaran agar siswa menjadi aktif dan hasil belajar sesuai dengan kriteria adalah: 1. Untuk Guru a. Pembelajaran menggunakan metode pembelajaran yang inovatif hendaknya ditindaklanjuti oleh guru dalam upaya mengoptimalkan keaktifan dan hasil belajar siswa. b. Setiap guru perlu mengoptimalkan kemampuan siswa dalam mengembangkan keaktifan dan hasil belajarnya dengan menggunakan metode belajar yang inovatif, kooperatif, dan konstruktif.

32 c. Penggunakan media pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran hendaknya ditingkatkan. 2. Untuk Sekolah a. Memberikan motivasi bagi guru untuk melakukan inovasi pembelajaran dengan berbagai macam metode pembelajaran. b. Hendaknya sekolah mengupayakan kebutuhan fasilitas dalam kegiatan belajar mengajar. c. Memberikan motivasi pada guru untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas. d. Memberikan kesempatan pada guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya melalui seminar, karya ilmiah, program pelatihan, dan workshop.

33 DAFTAR PUSTAKA

----.2011. Pengertian Keaktifan Belajar. http://www.buatskripsi.com/2011/01/pengertian-keaktifan-belajarsiswa.html, diunduh tanggal 13 Maret 2012 ----.2012. Belajar dengan Tutor Sebaya. http://binham.wordpress.com/2012/04/26/belejar-dengan-tutor-sebaya/. Diunduh tanggal 18 Juni 2012. Harminingsih, Dra. 2008. Penggunaan Strategi Pembelajaran Aktif Untuk Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran Materi Logaritma Bagi Siswa Kelas X Program Akselerasi SMA 1 Surakarta Tahun Pelajaran 20082009. Dari: http://harminingsih.blogspot.com/2008/11/contoh-ptkmatematika.html, diunduh tanggal 10 Desember 2008. Indra .2009. Hasil Belajar (Pengertian dan Definis). http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertiandan-definisi.html. Diunduh tanggal 13 Maret 2012. Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK Penelitian Tindakan Kelas Itu Mudah. Jakarta: PT Bumi Aksara. Noormandiri, BK. 2004. Matematika Untuk SMA Jili 2A Kelas XI Program Ilmu Alam. Jakart: Penerbit Erlangga. Novan S.N., Antonius. 2007. Model Pembelajaran Tutor Sebaya Dengan Memanfaatkan LKS Dan Alat Peraga Papan Berpaku Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Dan Aktivitas Belajar Matematika Pada Pokok Bahasan Simetri Lipat Dan Pencerminan Bagi Peserta Didik Kelas V SD Rejosari 03 Semarang. Dari: http://downloadsskripsi.blogspot.com/2012/05/model-pembelajarantutor-sebaya-dengan.html, diunduh tanggal 30 November 2011. Rahmawati, Sitti. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPA 7 Terhadap Redoks dan Elektrokimia dengan Menggunakan Sistem Tutor Sebaya. Dari : http://www.oke.or.id/2012/01/penerapan-cooperative-learningmodel-jigsaw-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar-siswa-dalampembelajaran-kimia/, diunduh tanggal 3 Juni 2010. Yustiyawati. 2010. Optimalisasi Keaktifan dan Hasil Belajar Trigonometri Melalui Metode Two Stay Two Stray Bagi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kedungwuni Kabupaten Pekalongan Tahun Pelajaran 2009/ 2010. Pekalongan: SMA Negeri 1 Kedungwuni.

34