Anda di halaman 1dari 28

ANEURISMA AORTAE

I.

PENDAHULUAN Kata aneurisma berasal dari bahasa Yunani aneurysma berarti pelebaran.

Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi membesar secara abnormal atau mengembang (over-inflated) seperti balon yang menonjol keluar. Pelebaran yang terjadi adalah lokal dan lebih dari 50% diameter pembuluh darah. Aneurisma sering terjadi pada arteri di basis otak (circus willis) dan di aorta. Beberapa lokasi yang dapat terjadi aneurisma antara lain : aorta (abdominal aneurysm dan thoracic aneurysm), otak (cerebral aneurysm), tungkai bawah (popliteal artery aneurysm), usus (mesenteric aneurysm), dan splenic artery aneurysm. Aneurisma adalah keadaan yang berbahaya karena dapat rupture dan menyebabkan kematian kapan saja. (7,8,10,11) Aneurisma aorta adalah aneurisma yang melibatkan aorta. Aorta adalah pembuluh darah besar utama yang berasal dari jantung yang mensuplai darah ke abdomen, pelvis, dan tungkai bawah. Aorta dapat mengalami aneurisma, dan biasanya tarjadi pada abdomen di bawah ginjal (abdominal aneurysm), tetapi dapat juga terjadi di rongga thorak (thoracic aneurysm). Hal tersebut dapat terjadi jika dinding aorta menjadi lemah karena deposit lemak (plak) pada atheroskelrosis. Aneurisma juga dapat terjadi sebagai penyakit yang diturunkan seperti Marfan Syndrome.(7,8,11)

II.

INSIDEN

Aneurisma aorta bisa terjadi pada siapa saja, tetapi sering pada laki-laki usia 40-70 tahun. Kejadian terbanyak pada usia 70 tahun. Di Amerika, insiden penyakit ini sekitar 2-4% dari populasi penduduk.( 2,7,10,11)

III.

EPIDEMIOLOGI

Aneurisma aorta banyak ditemukan pada penduduk Afrika, Asia, dan Amerika. Angka kejadian bervariasi antara laki-laki dan perempuan, dan lebih banyak pada laki-laki dan perokok.(10)

IV.

ETIOLOGI

Aneurisma dapat terjadi sebagai kelainan kongenital atau akuisita. Penyebab pasti penyakit

ini belum diketahui, defek pada beberapa komponen dari dinding arteri dapat bertanggung jawab terhadap faktor resiko untuk terjadinya aneurisma aorta meliputi tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, diabetes, perokok, alkoholism, insomnia dan obesitas. Penyebab yang paling banyak dari aneurisma aorta adalah pengerasan dari arteri disebut arteriosclerosis. Sekitar 80% dari aneurisma aorta adalah dari arteriosclerosis.

Arteriosclerosis dapat melemahkan dinding aorta dan tekanan darah yang dipompakan melewati aorta menyebabkan ekspansi pada area yang lemah. Kehamilan sering dihubungkan dengan Faktor pembentukan resiko dan aneurisma rupture aorta dari anaeurisma lain arteri : splenica.(8) (8,10,11,12)

antara

1. Genetik, adanya tendensi familial dalam terjadinya aneurisma. Cenderung menderita aneurisma pada usia muda dan punya tendensi yang besar untuk menderita rupture aneurisma daripada individu tanpa riwayat keluarga.

Terdapat juga keadaan genetic dari jaringan ikat yang jarang terjadi seperti Ehlers-Danlos syndrome 2. 3. 4. 5. Post-traumatik, aneurisma Kadar dan Tekanan kolesterol Diabetes dapat terjadi setelah trauma fisik Marfan darah serum yang syndrome. tinggi. tinggi. mellitus. pada aorta.

6. Arteritis, seperti pada Takayasu disease, giant cell arteritis, and relapsing polychondritis. 7. Infeksi myotic (fungal) yang dapat berasosiasi dengan immunodeficiency, penggunaan obat IV, dan operasi katup jantung.

V.

ANATOMI

Dikutip

dari

kepustakaan

Aorta adalah pembuluh darah besar (main trunk) dari segenap pembuluh darah yang berfungsi membawa darah teroksigenasi ke berbagai jaringan tubuh untuk kebutuhan nutrisinya. Aorta berada sebagai bagian atas dari ventrikel dengan diameter sekitar 3 cm, dan setelah naik (ascending) untuk jarak yang pendek, ia melengkung (arch) kebelakang dan ke sisi kiri, tepat pada pangkal paru kiri, kemudian turun (descending) dalam thorax pada sisi

kiri kolumna vertebralis, masuk rongga abdomen lewat hiatus diafragmatikus, dan berakhir, dimana diameternya mulai berkurang (1,75 cm), setingkat dengan vertebra lumbalis ke IV, ia bercabang menjadi arteri iliaca comunis dekstra dan sinistra. Dari uraian diatas maka aorta dapat dipisahkan menjadi beberapa bagian: aorta ascenden, arcus aorta, dan aorta descenden yang dibagi lagi menjadi aorta thoracica dan aorta abdominalis.(8)

Aorta Ascendens panjangnya sekitar 5 cm, menyusun bagian atas dari basis ventrikel kiri, setinggi batas bawah kartilago kosta ke III. Dibelakang kiri pertengahan sternum ia melintas keatas secara oblik, kedepan, dan kekanan, searah aksis jantung, setinggi batas atas dari kartilago kosta ke II. Pada pangkal asalnya, berlawanan dengan segmen valvula aortikus, terdapat tiga dilatasi kecil disebut sinus aortikus. Segmen dilatasi ini disebut bulbus aortikus, dan pada potongan transversal menunjukkan bentuk oval. Aorta ascendens terdapat dalam pericardium.(8) Arcus Aorta dimulai setinggi batas atas artikulasi sternokostalis ke II pada sisi kanannya, dan berjalan keatas, kebelakang, dan ke kiri di depan trachea, kemudian mengarah ke belakang pada sisi kiri trachea dan akhirnya turun lewat sisi kiri tubuh pada setinggi vertebra thoracic ke IV, pada batas bawahnya dan kemudian berlanjut menjadi aorta descenden. Sehingga terbentuk dua kurvatura: satu dimana ia melengkung keatas, yang kedua dimana ia melengkung kedepan dan kekiri. Batas atasnya kira-kira 2,5 cm dibawah batas superior manubrium sterni.(8)

Aorta desenden dibagi menjadi dua bagian, thoracica dan abdominalis, saat melewati dua rongga besar tubuh.

Aorta thoracalis terdapat dalam cavum mediastinum posterior. Dimulai pada batas bawah dari vertebra thoracic ke IV dimana ia merupakan lanjutan dari arcus aorta, dan berakhir di depan batas bawah dari vertebra thoracic ke XII pada hiatus aorticus diafragma. Dalam perjalanannya ia terdapat di sisi kiri kolumna vertebralis; ia mendekati garis tengah saat turun, dan saat terminasinya berada tepat di depan kolumna vertebralis.(8)

Aorta abdominalis dimulai pada hiatus aortikus diafragma, didepan batas bawah dari korpus vertebrae thoracic terakhir, dan, turun didepan kolumna vertebralis, berakhir pada korpus vertebra lumbalis ke IV, sedikit kekiri dari garis tengah tubuh, kemudian terbagi menjadi dua arteri iliaca comunis. Aorta semakin berkurang ukurannya dengan semakin banyak ia mempercabangkan pembuluh darah.(8)

VI.

PATOGENESIS

Dikutip

dari

kepustakaan

11

Aorta manusia adalah sirkuit yang relatif rendah tahanan untuk peredaran darah. Ekstremitas bawah memiliki tahanan arteri yang terbesar, dan trauma yang berulang sebagai cerminan gelombang arterial pada distal aorta, dapat mencederai dinding aorta dan menyebabkan degenerasi aneurisma. Hipertensi sistemik juga dapat mencederai, dan mempercepat ekspansi aneurisma.(8) Secara hemodinamik, keadaan dilatasi aneurisma dan peningkatan stress dinding sesuai dengan hukum Laplace. Spesifiknya, hukum Laplace menyatakan bahwa tekanan dinding proporsional terhadap tekanan dikali radius dari arterial (T = P x R). Peningkatan diameter, diikuti dengan peningkatan tekanan dinding, sebagai respon terhadap peningkatan diameter.(8)

Patogenesis dari pembentukan aneurisma aorta belum dimengerti secara baik. Aneurisma aorta dikarakteristikkan dengan destruksi elastin dan kolagen pada tunica media dan adventitia, hilangnya sel otot polos tunica media dengan penipisan dinding pembuluh, dan infiltrat limfosit dan makrofag transmural. Atherosclerosis adalah gambaran utama yang mendasari aneurisma. National Heart, Lung, and Blood Institute Request for Applications (HL-99-007) mengajukan judul "Pathogenesis of Abdominal Aortic Aneurysms" dan diidentifikasi 4 mekanisme yang relevan dengan pembentukan aneurisma aorta abdominalis : (7,8,10) 1) Degradasi proteolitik dari dinding jaringan ikat aorta

Pembentukan aneurisma melibatkan proses komplek dari destruksi tunica media aorta dan jaringan 2) penyokongnya Inflamasi lewat degradasi dan elastin respon dan kolagen. imun

Gambaran histologi yang menonjol dari aneurisma aorta abdominalis adalah infiltrasi transmural 3) Stress oleh makrofag biokimia dan pada limfosit. dinding

Saat aneurisma terbentuk, maka peningkatan stress dinding adalah penting dalam percepatan dilatasi dan peningkatan risiko ruptur. -blockers berperan untuk mengurangi stress dinding dan telah diperkirakan berperan protektif untuk dilatasi aneurisma dan ruptur pada model

binatang. 4) Molekular genetik

Familial cluster dan subtype HLA menunjukkan baik peran genetik dan imunologis dalam patognesis aneurisma. Yang terbaru, tidak ada polimorfisme gen tunggal atau defek yang dapat diidentifikasi sebagai denominator yang paling sering untuk aneurisma aorta abdominalis.

VII. 1. GAMBARAN

DIAGNOSIS KLINIS

Aneurisma terbentuk secara perlahan selama beberapa tahun dan sering tanpa gejala. Jika aneurisma berkembang secara cepat, maka terjadi robekan (ruptur aneurisma), atau kebocoran darah sepanjang dinding pembuluh darah (aortic dissection), gejala dapat muncul tiba-tiba. Aneurisma 1. aorta Aneurisma abdominalis asimptomatik

Aneurisma ini biasanya ditemukan saat pemeriksaan fisik rutin dengan dideteksinya pulsasi aorta yang prominen. Lebih sering aneurisma asimptomatik ditemukan sebagai penemuan insidental saat pemeriksaan USG abdomen atau CT scan. Denyut perifer biasanya normal, tetapi penyakit arteri oklusif pada renal atau ekstremitas bawah sering ditemukan pada 25% kasus. Aneurisma arteri popliteal terdapat pada 15% kasus pasien dengan aneurisma aorta abdominalis.(7,810,11,12) 2. Aneurisma simptomatik

Nyeri midabdominal atau punggung bawah atau keduanya dan adanya pulsasi aorta prominen dapat mengindikasikan pertumbuhan aneurisma yang cepat, ruptur, atau aneurisma aorta inflamatorik. Aneurisma inflamatorik terhitung kurang dari 5% dari aneurisma aorta dan dikarakteristikkan dengan inflamasi ekstensif periaortic dan retroperitoneal dengan sebab yang belum diketahui. Biasanya terdapat demam ringan, peningkatan laju endap darah, dan riwayat infeksi saluran pernapasan atas yang baru saja. pasien sering sebagai perokok aktif. Infeksi aneurisma aorta (baik dikarenakan oleh emboli septik atau kolonisasi bakteri aorta normal dari aneurisma yang ada) sangat jarang terjadi tetapi harus diperkirakan pada pasien dengan aneurisma sakular atau aneurisma yang bersamaan dengan fever of unknown

origin.(8)

Aneurisma

aorta

thoracica

Manifestasi klinisnya tergantung dari besarnya ukuran, posisi aneurisma, dan kecepatan tumbuhnya. Sebagian besar adalah asimptomatik dan ditemukan dalam prosedur diagnostik untuk keadaan lain. Beberapa pasien mengeluh nyeri substernal, punggung, atau leher. Yang lainnya menderita dispneu, stridor, atau batuk akibat penekanan pada trakhea, disphagia akibat penekanan pada esophagus, hoarseness akibat penekanan pada nervus laryngeus recurrent sinistra, atau edema leher dan lengan akibat penekanan pada vena cava superior. Regurgitasi aorta karena distorsi anulus valvula aortikus dapat terjadi dengan aneurisma aorta ascenden.(8,11,12)

2. 1.

GAMBARAN Ultrasonography

RADIOLOGI (USG)

Dikutip

dari

kepustakaan

USG adalah pemeriksaan skrining pilihan dan bernilai juga untuk mengikuti perkembangan aneurisma pada pasien dengan aneurisma yang kecil (<5 cm). Biasanya aneurisma membesar 10% diameter pertahunnya, sehingga USG abdomen direkomendasikan untuk aneurisma yang lebih besar 3,5 cm. Tetapi USG hanya bisa memeriksa aneurisma di distal dari arteri renalis, oleh karena daerah suprarenal dan thorakal tertutup oleh jaringan paru.

2.

CT-Scan

Dikutip

dari

kepustakaan

10

Dikutip

dari

kepustakaan

Pemeriksaan CT-Scan terutama spiral CT-Scan merupakan pemeriksaan penting dalam diagnosis aneurisma aorta, dan dapat menjadi pengganti pemeriksaan aortography bila

terdapat kontraindikasi penggunaan zat kontras. CT-Scan tidak hanya tepat dalam menentukan ukuran aneurisma tetapi juga menentukan hubungan terhadap arteri renalis.

3.

Angiography

aorta

(aortography)

Dikutip

dari

kepustakaan

Aortography diindikasikan sebelum repair aneurisma arterial occlusive disease pada visceral dan ekstremitas bawah atau saat repair endograft akan dilakukan. Pemeriksaan aortography sampai saat ini masih menjadi gold standard pemeriksaan dalam diagnosis aneurisma aorta.

VIII. 1.

DIAGNOSIS Tortuosity (Aging)

BANDING of the

(3,4,5,13) aorta

Dikutip

dari

kepustakaan

2.

Mediastinal

teratoma

Dikutip

dari

kepustakaan

13

3.

Achalasia

Dikutip

dari

kepustakaan

IX. Aneurisma aorta

PENGOBATAN abdominalis

Terapi aneurisma secara tradisional adalah intervensi bedah atau observasi (watchful waiting) dengan kombinasi pengawasan tekanan darah.

Jika aneurisma berukuran kecil dan tidak ada gejala (misalnya aneurisma yang ditemukan saat pemeriksan kesehatan rutin), maka direkomendasikan pemeriksaan kesehatan periodik saja, meliputi pemeriksaan ultrasonik tiap tahunnya, untuk memantau apakah aneurisma menjadi besar.

Aneurisma yang menyebabkan gejala membutuhkan tindakan bedah untuk mencegah komplikasi. Operasi direkomendasikan untuk pasien dengan aneurisma yang lebih dari 5 cm diameternya dan aneurisma yang meningkat ukurannya secara cepat.( 8,10,11)

Ada dua pendekatan tindakan bedah. Secara tradisional adalah membuka abdomen. Pembuluh darah yang abnormal digantikan oleh graft yang dibuat dari material sintetis, seperti Dacron. Pendekatan lain disebut endovascular repair. Tube tipis disebut catheters dimasukkan lewat arteri ke inguinal. Tube ini memungkingkan graft diletakkan tanpa membuat potongan besar di abdomen dan penyembuhan dapat lebih cepat.(6,9) Aneurisma aorta thoracica

Indikasi untuk pembedahan meliputi adanya gejala, ekspansi cepat, atau ukuran yang lebih besar dari 5 cm. Risiko operasi dari kondisi komorbid harus dipertimbangkan jika merekomendasikan repair aneurisma yang asimptomatik. Morbiditas dan mortalitas tinggi dibandingkan dengan aneurisma aorta abdominal. Insisi aneurisma thoracoabdominal berasosiasi dengan risiko tinggi komplikasi pulmonal dan manajemen nyeri postoperatif yang lebih ekstensif.(8,12)

Repair endovascular dari aneurisma aorta thoracica mengurangi risiko kardiopulmonal, tetapi lokasi aneurisma yang sulit dapat menggantikan repair endovascular dengan metode terkini. Penelitian terbaru mengembangkan branched stent graft untuk perbaikan dari aneurisma arkus dan thorakoabdominal.(7,10)

X. A. Mortalitas setelah open Kelangsungan elective atau endovascular

PROGNOSA Hidup repair adalah

1-5%. Pada umumnya pasien dengan aneurisma aorta yang lebih besar dari 5 cm mempunyai kemungkinan tiga kali lebih besar untuk meninggal sebagai konsekuensi dari ruptur dibandingkan dari reseksi bedah. Survival rate 5 tahun setelah tindakan bedah adalah 6080%. 5-10% pasien akan mengalami pembentukan aneurisma lainnya berdekatan dengan graft.(8) B. Kelangsungan Organ

Biasanya baik jika perbaikan dilakukan oleh ahli bedah yang berpengalaman sebelum ruptur.

Kurang

dari

50%

dari

pasien

bertahan

dari

ruptur

aneurisma

abdominal.(8)

DAFTAR

PUSTAKA

1. Andrew JM, Richard Lofgren, Loren HK. Aortic Aneurysm : Fundamentals of Chest Radiology, second edition. Saunders : Elsevier, p.207-14.

2. Darrin Clouse, John WH, Hartzell VS, Peter CS, Charles MR, Duanne MI, et al. Acute Aortic Dissection : Population-Based Incidence Compared with Degenerative Aortic Aneurysm Rupture. Mayo Clinic Proc. 2004;79:p.176-80.

3. Jud WG, Helen T. Aortic Aneurysm : Pocket Radiologist Chest Top 100 Diagnosis. Richard HW, ed. W.B. Saunders company. p.281-85

4. Kang, dr. Case Study a Patient with Dysphagia. www.jykang.co.uk/case-study-01.php 5. Kevin MB, Catherine AK, Susanne S, Elvira VL, John DC, William S, et al. Volumetric Analysis of Abdominal Aortic Aneurysm.

www.dpi.radiology.uiowa.edu/.../paperaaa/aaa.html 6. MS Shin, MS Forshag. Pulmonary Atelectasis and Dysphagia in a 69-Year-Old Cachetic Man. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Saratzis N, Melas N. Aortic Aneurysm. Aorta. Darah. http://chestjournal.org http://en.wikipedia.org/wiki www.medlinux.mht www.shsccentre.com

Anonimous. Anonimous. Anonimous. Anonimous. Penyakit

Aneurisma pada Aortic Aorta Pembuluh

Abdominal Aneurisma

Aneurysm. Perut Aorta .

http://en.wikipedia.org/wiki www.medicastore.com Thorako-Abdominal.

Anonimous.Aneurisma

www.BedahToraksKardiovaskulerIndonesia.com 13. Anonimous. Mediastinal Teratoma. www.LearningRadiology.com

Page 1 OO RIGINAL RIGINAL AA RTICLES RTICLES

ACTA ANAESTHESIOL SIN 38:3-7, 2000 ACTA ANAESTHESIOL SIN 38:3-7, 2000 Anesthesia for Patients with Aortic Aneurysm for Anestesi untuk Pasien dengan Aortic Aneurysm untuk Non-Aneurysmal Surgery A Retrospective Study Non-aneurismal Bedah - Sebuah Studi Retrospektif Chih-Hsien Wang, Chih-Hsien Wang, Kwok-Wai Cheng, Kwok-Wai Cheng, Bruno Jawan, Bruno Jawan, Ju-Hao Lee Ju-Hao Lee Department of Anesthesiology, Chang Gung Memorial Hospital, Kaohsiung, Taiwan, ROC Departemen Anestesiologi, Chang Gung Memorial Hospital, Kaohsiung, Taiwan, ROC Background Latar belakang : Most anesthesiologists at one time or other saw the anesthetic management of patients with aortic : Kebanyakan ahli anestesi pada satu waktu atau lain melihat pengelolaan anestesi pasien dengan aorta aneurysm who underwent surgical procedures other than correction of aneurysm with or without prior knowledge aneurisma yang menjalani prosedur pembedahan selain koreksi dari aneurisma dengan atau tanpa pengetahuan sebelumnya of the existence of the aneurysm. adanya aneurisma. The risk of intraoperate rupture of aneurysm depends on its size, type, severity, Risiko pecahnya aneurisma intraoperate tergantung pada ukuran, jenis, tingkat keparahan, and presentation of symptoms; stress and unstable hemodynamics have been usually held responsible for the ag- dan penyajian gejala; stres dan hemodinamik stabil telah biasanya bertanggung jawab atas ag thegravation and even rupture of aneurysm. gravation dan bahkan pecahnya aneurisma. There are numerous other factors that affect the hemodynamic force Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kekuatan hemodinamik during anesthesia and surgery, the inercase of which would be very dangerous to the surgical patients with aortic selama anestesi dan operasi, inercase dari yang akan sangat berbahaya bagi pasien bedah dengan aorta aneurysm whether they receive anesthesia for a radical correction of the disease per se or for a surgical procedure aneurisma apakah mereka menerima anestesi untuk koreksi radikal dari penyakit per se atau prosedur operasi unrelated to its correction. tidak berhubungan dengan koreksi. Therefore the anesthetic management of a patient with aortic aneurysm is a great chal- Oleh karena itu manajemen anestesi seorang pasien dengan aneurisma aorta merupakan suatu tantangan besarlenge which the anesthesiologist must accept. lenge yang anesthesiologist harus menerima. Here, we present eleven cases of aortic aneurysm, who underwent Di sini, kami menyajikan sebelas kasus aneurisma aorta, yang menjalani non-corrective surgery during 1992-1998. non-korektif operasi selama 1992-1998. Methods Metode : There were eight cases of thoracoaortic dissecting aneurysm and three cases of abdominoaortic an- : Ada delapan kasus aneurisma membedah thoracoaortic dan tiga kasus abdominoaortic sebuaheurysm. eurysm. All underwent laparotomy under general anesthesia without the aneurysm being corrected. Semua menjalani laparotomi dengan anestesi umum tanpa aneurisma yang sedang diperbaiki. We reviewed Kami ditinjau the anesthetic management of these patients retrospectively. pengelolaan anestesi dari pasien secara retrospektif.

Results Hasil : Our review showed that no aneurysm rupture was noted in these eleven cases. : Review kami menunjukkan bahwa tidak ada pecahnya aneurisma tercatat dalam kasus-kasus sebelas. Seven of the eleven pa- Tujuh dari sebelas patients are still alive at the time of this report. tients masih hidup pada saat laporan ini. Conclusions Kesimpulan : We are of the opinion that under close monitoring and with prompt treatment, the allowance of : Kami berpendapat bahwa dilakukan monitoring yang ketat dan dengan pengobatan yang tepat, tunjangan a slow climb of arterial pulse pressure is acceptable and would not increase the risk of aneurysm rupture. pendakian lambat tekanan nadi arteri yang dapat diterima dan tidak akan meningkatkan risiko pecahnya aneurisma. Key words Kata kunci : Aortic aneurysm, thoracic and abdominal. : Aneurisma aorta, dada dan perut. Laparotomy. Laparotomi. Aortic rupture. Aorta pecah. Anesthesia, general. Anestesi, umum. ortic aneurysm is a potentially lethal disease. aneurisma ortic adalah penyakit yang berpotensi mematikan. The The likelihood of aneurysm rupture depends very kemungkinan pecahnya aneurisma sangat tergantung much on its size, type, and the presentation of banyak jenis, yang ukuran, dan presentasi clinical symptoms. gejala klinis. Stress and unstable hemodynamics Stres dan hemodinamik tidak stabil have usually been held responsible for the expansion and biasanya telah bertanggung jawab untuk ekspansi dan rupture of aneurysm. aneurisma pecah. 1-3 1-3 Anesthesia for aneurysmal sur- Anestesi untuk sur aneurismalgery is a challenge to an anesthesiologist. gery merupakan tantangan untuk anestesi. Probably the Mungkin anesthesia for non-aneurysmal surgery in patient with anestesi untuk-aneurismal non pembedahan pada pasien dengan aortic aneurysm is far more challenging. aneurisma aorta jauh lebih menantang. Only a few case Hanya beberapa kasus reports which exit in the literature touch this problem. laporan yang keluar dalam literatur sentuhan masalah ini. General anesthesia for cesarean section in a patient with Anestesi umum untuk bedah caesar pada pasien dengan Marfan's syndrome associated with dissecting aortic an- Sindrom Marfan yang terkait dengan bedah aorta yangeurysm has been described by Hayashi. eurysm telah dijelaskan oleh Hayashi. 44 Minu reported Minu dilaporkan three cases of colorectal carcinoma associated with intra- tiga kasus karsinoma kolorektal berkaitan dengan intraabdominal aneurysm. aneurisma perut. 55 All of these patients had a suc- Semua pasien memiliki SUCcessful operation without rupture of the aneurysm. cessful dioperasikan tanpa pecah aneurisma. We Kami

would like to present anesthetic management of eleven ingin hadir manajemen anestesi dari sebelas patients with aortic aneurysm, who underwent a surgery pasien dengan aneurisma aorta, yang menjalani pembedahan other than correction of aneurysm at our institution over selain koreksi aneurisma di institusi kita atas the years from 1992 to 1998. tahun-tahun 1992-1998. Materials and Methods Bahan dan Metode Eleven patients with aneurysm that was proven by Sebelas pasien dengan aneurisma yang dibuktikan dengan computer tomograph underwent non-aneurysmal surgery tomograph komputer-aneurismal menjalani operasi non were reviewed retrospectively. ditinjau secara retrospektif. There were eight cases Ada delapan kasus 33 Received: July 20, 1999. Diterima: 20 Juli 1999. Revised version received: December 5, 1999. Revisi versi yang diterima: 5 Desember 1999. Accepted for publication: December 13, 1999. Diterima untuk publikasi: 13 Desember 1999. Address correspondence and reprint requests: Dr. Chih-Hsien Wang, Alamat korespondensi dan mencetak ulang permintaan: Dr Wang Chih-Hsien, Department of Anesthesiology, Chang Gung Memorial Hospital, Kao- Departemen Anestesiologi, Chang Gung Memorial Hospital, Kaohsiung Medical Center, 123, Ta-Pei Road, Niao Sung Hsiang, Kao- hsiung Medical Center, 123, Ta-Pei Road, Niao Hsiang Sung, Kaohsiung Hsien, Taiwan, ROC hsiung Hsien, Taiwan, ROC AA Page 2 Page 2 44 ANESTHESIA MANAGEMENT FOR NON-ANEURYSMAL SURGERY Anestesi MANAJEMEN UNTUK-aneurismal NON BEDAH of thoracoaortic dissecting aneurysm and three cases of aneurisma membedah thoracoaortic dan tiga kasus abdominal aortic aneurysm. aneurisma aorta perut. All underwent laparotomy Semua menjalani laparotomi under general anesthesia alone or combined with epidural dengan anestesi umum sendiri atau dikombinasikan dengan epidural anesthesia without correction of the aneurysm before- anestesi tanpa koreksi aneurisma sebelumhand. tangan. Of the 11 patients, 10 were male and 1 was female. Dari 11 pasien, 10 orang laki-laki dan 1 adalah perempuan. The age ranged from 59 Usia berkisar antara 59 83 yr. 83 tahun. Ten patients had co-exis- Sepuluh pasien co-existing diseases, which included hypertension, coronary ar- ting penyakit, termasuk hipertensi, ar-koroner tery disease, diabetes mellitus and chronic pulmonary ob- tery penyakit, diabetes mellitus dan kronis paru-ob structive disease. konstruktif penyakit.

The drugs used for induction and maintenance of Obat yang digunakan untuk induksi dan pemeliharaan anesthesia by staff anesthesiologists included fentanyl, anestesi oleh staf ahli anestesi termasuk fentanyl, thiopental, propofol, midazolam, isoflurane, vecuronium, thiopental, propofol, midazolam, isoflurane, vecuronium, atracurium, lidocaine, morphine and bupivacaine. atracurium, lidocaine, morfin dan bupivakain. Ac- According to patient's blood pressure, heart rate and medical cording untuk tekanan darah's pasien, detak jantung dan medis problem, ancillary agents such as beta-blocker, calcium- masalah, tambahan agen seperti beta-blocker, kalsium channel blocker, vasodilator were given to manage hemo- channel blocker, vasodilator diberikan untuk mengelola Hemodynamic upsets. dinamis gangguan. Hemodynamic changes in ward, during induction, Hemodinamik perubahan di lingkungan, selama induksi, before incision, intraoperative or postoperative period sebelum insisi, atau periode pascaoperasi intraoperatif were collected. dikumpulkan. In addition to routine monitoring items Selain item pemantauan rutin such as pulse oximetry, end tidal capnometry, esophageal seperti oksimetri pulsa, pasang surut capnometry akhir, kerongkongan temperature, and ECG, all patients were monitored on in- suhu, dan EKG, semua pasien dipantau di dalamvasive blood pressure and central venous pressure. vasive tekanan darah dan tekanan vena sentral. Postoperative pain management and long term sur- Nyeri pasca operasi manajemen dan sur jangka panjangvival were also analyzed. vival juga dianalisis. Results Hasil Demographic data, and perioperative characteris- Demografi data, dan characteris perioperatiftics are summarized in Table 1. tics diringkas dalam Tabel 1. Table 2 shows the hemo- Tabel 2 menunjukkan Hemo thedynamics of the patients at different designated periods. dinamika dari pasien pada periode yang ditunjuk berbeda. The range of blood pressure increase was kept within Kisaran meningkatkan tekanan darah itu disimpan dalam 27% of the preoperative value. 27% dari nilai pra operasi. The rate of blood pressure Tingkat tekanan darah change was kept as low as possible under close monitor- perubahan itu dijaga serendah mungkin di bawah dekat monitoring and prompt medical treatment. ing dan perawatan medis yang segera. All of these patients Semua pasien tolerated surgery and anesthesia well without aneurysm ditoleransi operasi dan anestesi baik tanpa aneurisma rupture during perioperative periods. pecah selama periode perioperatif. Long-term followTindak lanjut jangka panjang-

up showed that seven of the eleven patients were still Facebook menunjukkan bahwa tujuh dari sebelas pasien masih alive at the time of report. hidup pada saat laporan. One patient died two weeks Satu pasien meninggal dua minggu and another one patient died half year following surgery dan pasien lain meninggal satu setengah tahun setelah operasi from heart failure. dari gagal jantung. Another two died two and three years Dua meninggal dua dan tiga tahun after the operation respectively. setelah operasi masing-masing. Discussion Diskusi Standard classification of thoracic aortic dissection Standar klasifikasi diseksi aorta toraks consists of two groups. terdiri dari dua kelompok. Dissections involving the as- Pembedahan melibatkan ascending aorta are designated as type A, whereas those not aorta cending ditujukan sebagai tipe A, sedangkan yang tidak involving the ascending aorta are designated as type B. melibatkan ascending aorta ditujukan sebagai tipe B. 1,2 1,2 Type A requires surgical correction, while for type B Tipe A memerlukan koreksi bedah, sedangkan untuk tipe B Table 1. Tabel 1. Demographic Data and Perioperative Characteristics Demografi Data dan Karakteristik perioperatif Patient Pasien 11 22 33 44 55 66 77 88 99 10 10 11 11 Type of Jenis aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta

dissecting bedah aneurysm gondok nadi Abdominal Perut aortic aorta aneurysm gondok nadi Abdominal Perut aortic aorta aneurysm gondok nadi Abdominal Perut aortic aorta aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Type B Tipe B aortic aorta dissecting bedah aneurysm gondok nadi Sex Seks MM FF MM MM MM MM MM MM MM MM MM Age (y/o) Umur (y / o) 61 61 73 73 63 63 53 53 65 65 78 78 68 68 51 51 69 69 83 83

59 59 Co-existing Co-ada disease penyakit H/T H / T CAD CAD H/T H / T DM DM CAD CAD H/T H / T CAD CAD H/T H / T H/T H / T CAD CAD COPD PPOK H/T H / T CVA CVA H/T H / T H/T H / T COPD PPOK H/T H / T COPD PPOK H/T H / T CAD CAD DM DM Type of Jenis surgery operasi hepatec- hepatectomy tomy Cholecy- Cholecystectomy stectomy HAR HAR Appen- Appendectomy dectomy LAR LAR subtotal subtotal gastrec- gastrectomy tomy Cholecy- Cholecystectomy stectomy Appen- Appendectomy dectomy HAR HAR T-loop T-loop colo- colostomy stomy Cholecy- Cholecystectomy stectomy Type of Jenis anesthesia anestesi

GA GA GA and GA dan EA EA *GA * GA GA GA GA GA GA GA GA GA GA GA *GA * GA GA GA GA and GA dan EA EA Peri-op Peri-op anesthesia anestesi Labetolol NTG Labetolol NTG NTG NTG Nifedipine Nifedipin Propanolol Propanolol NTG NTG SNP SNP Nifedipine NTG Nifedipin NTG NTG NTG Post-op Post-op analgesia analgesia **IV/IM ** IV / IM narcotics narkose epidural epidural narcotics narkose **IV/IM ** IV / IM narcotics narkose **IV/IM ** IV / IM narcotics narkose **IV/IM ** IV / IM narcotics narkose **IV/IM ** IV / IM narcotics narkose **IM ** IM narcotics narkose **IV/IM ** IV / IM narcotics narkose **IM ** IM narcotics narkose epidural epidural narcotics narkose M = male; F = female; H/T = hypertension; DM = diabetes mellitus; CAD = coronaryartery disease; CVA = cerebrovascular accident; COPD = chronic M = laki-laki; F = perempuan; H

/ T hipertensi =; diabetes mellitus = DM; CAD penyakit coronaryartery =; = kecelakaan serebrovaskular CVA; COPD = kronis obstructive pulmonary disease; HAR = high anterior resection; LAR = low anterior resection; GA = general anesthesia; *GA = general anesthesia with Penyakit paru obstruktif; HAR anterior reseksi tinggi =; LAR reseksi anterior rendah =; GA = anestesi umum; * GA = anestesi umum dengan moderate dose narcotics (5-10 ug/kg fentanyl); NTG = nitroglycerin; SNP = nitroprusside; IV = intravenous; IM = intramuscular; ** = q4h/prn. sedang dosis narkotika (5-10 ug / fentanil kg); NTG = nitrogliserin; SNP nitroprusside =; IV = infus; IM = intramuskular; ** = q4h/prn. Page 3 Page 3 55 CHIH-HSIEN WANG et al . Chih-Hsien WANG et al. medical therapy is initially the treatment of choice. terapi medis awalnya pilihan perawatan. Op- Operation is indicated when there are signs of impending timbangkan ditunjukkan ketika ada tanda-tanda akan datang rupture, persistent pain and existence of chronic enlarge- pecah terus-menerus nyeri, dan adanya kronis memperbesarment. pemerintah. 1,2 1,2 For abdominal aortic aneurysm, the size is the main Untuk aneurisma aorta abdominal, ukuran adalah utama criterion for surgical repair. kriteria untuk perbaikan bedah. If the diameter of an aneu- Jika diameter suatu aneurysm is great than 6 cm, it should be repaired promptly rysm besar dari 6 cm, harus segera diperbaiki even if the patient is asymptomatic. bahkan jika pasien asimtomatik. 1,2,6 1,2,6 In our series, eight patients had thoracic dissecting Dalam seri kami, delapan pasien bedah toraks aneurysm and three patients had abdominal aortic aneu- aneurisma dan tiga pasien aneu aorta perutrysm, with the size ranging from 4.5 to 6.0 cm in diame- rysm, dengan ukuran berkisar antara 4,5-6,0 cm diameter. ter. Because there were no absolute indications for an- Karena tidak ada indikasi absolut untukeurysm repair, all of eleven patients underwent laparo- perbaikan eurysm, semua pasien menjalani sebelas laparotomy for other surgical conditions without consideration tomy untuk kondisi bedah lain tanpa pertimbangan of correction of the existing aneurysm. koreksi dari aneurisma yang ada. There are two characteristics that distinguish aneu- Ada dua karakteristik yang membedakan aneurysmal patients from other surgical patients. rysmal pasien dari pasien bedah lainnya. The first is Yang pertama adalah that they have severe coexisting disease such as hyperten- bahwa mereka telah hidup bersama penyakit berat seperti hypertension, heart disease, diabetes mellitus, chronic obstructive sion, penyakit jantung, diabetes mellitus, obstruktif kronik

pulmonary disease and renal disease. penyakit paru dan penyakit ginjal. The cardiovascular The kardiovaskular system is the most frequently and significantly involved, sistem adalah yang paling sering dan terlibat secara signifikan, and cardiologist consultation for preoperative evaluation dan konsultasi ahli jantung untuk evaluasi pra operasi and medical work-up is therefore essential. dan kesehatan kerja-up yang sangat penting. 1,3 1,3 Second, Kedua, the risk of sudden rupture of aneurysm is a threat that is risiko pecahnya aneurisma mendadak merupakan ancaman yang ever present. pernah hadir. Feldman et al . Feldman et al. reported a case of rupture of melaporkan kasus pecahnya a known abdominal aneurysm following cardiac stress aneurisma perut yang dikenal sebagai berikut stres jantung testing. pengujian. 77 Melville et al . Melville et al. also brought forward that juga membawa ke depan bahwa changes of hemodynamics during pregnancy would be perubahan hemodinamik selama kehamilan akan sufficient enough to render patients to risk aneurysm rup- cukup memadai untuk membuat pasien untuk risiko aneurisma-rup ture in child bearing; a half of the aortic ruptures occurs mendatang dalam kaitannya anak; setengah dari aorta terjadi pecah during the third trimester, and so surgical repair during selama trimester ketiga, dan bedah perbaikan sehingga selama the first or second trimester has been suggested. atau kedua trimester pertama telah disarankan. 88 Whether a patient presents with acute aortic dissec- Apakah pasien menyajikan dengan akut aorta dissection or chronic aneurysm, the goal of management is to tion atau aneurisma kronis, tujuan pengelolaan adalah untuk inhibit the progression of the aortic dissection to rupture. menghambat perkembangan dari diseksi aorta pecah. Martin stated that limitation of increase of blood pressure Martin menyatakan bahwa pembatasan kenaikan tekanan darah and reduction of ejection force of the left ventricle (LV) dan pengurangan gaya ejeksi dari ventrikel kiri (LV) to decrease blood going into the aorta are extremely im- untuk mengurangi darah yang masuk ke aorta sangat important. portant. It was suggested to keep the systolic blood pres- Disarankan untuk menjaga tekanan darah sistoliksure within 100 yakin dalam 100 110 mmHg and the heart rate within 110 mmHg dan denyut jantung dalam 60 60 80 bpm to prevent rate-related increase in left ven- 80 bpm untuk mencegah-terkait kenaikan tarif di kiri Ven

tricular contractility. tricular kontraktilitas. 99 Prokop suggested that decreasing Prokop menyarankan bahwa penurunan the rate of rise of the blood pressure is the goal of man- laju kenaikan tekanan darah adalah tujuan manusiaagement, and it is more important than the absolute level pengelolaan, dan lebih penting daripada tingkat absolut of blood pressure. tekanan darah. 10-12 10-12 In our series, we used volatile anesthetic to rapidly Dalam seri kami, kami menggunakan anestesi volatile dengan cepat adjust the blood pressure in the fifth and tenth patient. menyesuaikan tekanan darah pada pasien kelima dan kesepuluh. Other additional drugs such as beta-blocker, calcium- Tambahan lain obat-obatan seperti beta-blocker, kalsium channel blocker, vasodilator and fentanyl (5 channel blocker, vasodilator dan fentanyl (5 10 g/kg) 10 g / kg) of moderate dose were also used. dosis moderat juga digunakan. Beta-blocker was given Beta-blocker diberikan Table 2. Tabel 2. Hemodynamic Changes Perubahan hemodinamik Patient Pasien 11 22 33 44 55 66 77 88 99 10 10 11 11 Ward Bangsal SBP SBP DBP DBP HR SDM 142-100 142-100 98-62 98-62 102-62 102-62 180-110 180-110 118-79 118-79 78-50 78-50 196-110 196-110 120-70 120-70 78-56 78-56 180-130 180-130 120-78 120-78 60-49 60-49 150-120 150-120

100-75 100-75 72-66 72-66 164-104 164-104 96-70 96-70 100-72 100-72 174-129 174-129 107-70 107-70 75-65 75-65 164-120 164-120 90-70 90-70 106-82 106-82 170-130 170-130 108-80 108-80 80-60 80-60 140-110 140-110 90-70 90-70 96-68 96-68 198-124 198-124 124-86 124-86 116-86 116-86 Induction Induksi SBP SBP DBP DBP HR SDM 160-145 160-145 99-86 99-86 99-54 99-54 160-130 160-130 89-78 89-78 70-62 70-62 195-159 195-159 108-87 108-87 81-55 81-55 164-144 164-144 99-80 99-80 66-49 66-49 164-128 164-128 106-78 106-78 85-54 85-54 178-134 178-134 100-80 100-80 104-80 104-80 145-121 145-121 107-81 107-81 88-78 88-78 184-150 184-150 114-80 114-80 80-76 80-76 205-160 205-160 128-80 128-80

75-60 75-60 163-140 163-140 90-78 90-78 110-105 110-105 196-138 196-138 124-80 124-80 118-96 118-96 Before incision Sebelum insisi SBP SBP DBP DBP HR SDM 142-113 142-113 92-58 92-58 74-49 74-49 135-105 135-105 90-76 90-76 69-51 69-51 170-122 170-122 105-75 105-75 78-54 78-54 160-130 160-130 98-75 98-75 58-43 58-43 150-120 150-120 100-70 100-70 76-68 76-68 168-142 168-142 108-80 108-80 96-80 96-80 146-115 146-115 92-65 92-65 80-70 80-70 130-115 130-115 80-60 80-60 78-72 78-72 140-120 140-120 80-65 80-65 70-58 70-58 130-115 130-115 92-70 92-70 115-110 115-110 168-110 168-110 98-70 98-70 100-78 100-78 Postoperative Pasca operasi SBP SBP DBP DBP HR SDM 146-110 146-110 90-72 90-72

80-64 80-64 160-129 160-129 110-79 110-79 78-58 78-58 185-149 185-149 90-72 90-72 68-54 68-54 180-150 180-150 105-75 105-75 65-58 65-58 152-120 152-120 84-60 84-60 89-72 89-72 170-140 170-140 102-88 102-88 110-82 110-82 143-120 143-120 89-62 89-62 90-78 90-78 190-154 190-154 110-76 110-76 110-90 110-90 145-130 145-130 70-64 70-64 65-55 65-55 170-120 170-120 100-70 100-70 122-76 122-76 170-126 170-126 110-64 110-64 108-82 108-82 Intraoperative Intraoperatif SBP SBP DBP DBP HR SDM 150-90 150-90 100-58 100-58 79-56 79-56 146-102 146-102 106-70 106-70 72-55 72-55 140-110 140-110 90-70 90-70 77-63 77-63 130-122 130-122 71-60 71-60 60-40 60-40 145-120 145-120 96-64 96-64 90-75 90-75

160-130 160-130 105-68 105-68 100-84 100-84 160-115 160-115 98-65 98-65 88-60 88-60 158-115 158-115 100-60 100-60 78-72 78-72 170-110 170-110 121-60 121-60 90-60 90-60 146-110 146-110 98-70 98-70 121-111 121-111 156-118 156-118 96-60 96-60 100-76 100-76 Values are range. Nilai-nilai jangkauan. SBP = systolic blood pressure (mmHg); DBP = diastolic blood pressure (mmHg); HR = heart rate (bpm). SBP = tekanan darah sistolik (mmHg); DBP = tekanan darah diastolik (mmHg); HR = denyut jantung (bpm). (0-2 h) (0-2 h) Page 4 Page 4 66 ANESTHESIA MANAGEMENT FOR NON-ANEURYSMAL SURGERY Anestesi MANAJEMEN UNTUK-aneurismal NON BEDAH to the first patient who had hypertension (H/T) and cor- kepada pasien pertama yang menderita hipertensi (H / T) dan coronary artery disease (CAD). arteri onary penyakit (CAD). Combined epidural anesGabungan epidural anesthesia and nitroglycerin (NTG) were used in the second thesia dan nitrogliserin (NTG) digunakan pada kedua and the eleventh patients who had diabetes mellitus dan kesebelas pasien yang memiliki diabetes mellitus (DM), H/T and CAD. (DM), H / T dan CAD. In the third patient who had H/T Pada pasien ketiga yang telah H / T and CAD with previous percutaneous transluminal cor- dan CAD dengan sebelumnya perkutan transluminal coronary angioplasty therapy, moderate dose of fentanyl (8 onary angioplasty terapi, dosis moderat fentanyl (8 g/kg) and NTG were given during operation. g / kg) dan NTG yang diberikan selama operasi. Calcium- Kalsiumchannel blocker and beta-blocker were titrated to effect in channel blocker dan beta-blocker yang dititrasi untuk efek dalam the fourth patient with a history of H/T. keempat pasien dengan riwayat H / T. The seventh pa- The pa ketujuhtient was on nitroprusside (SNP) because the past medi- tient berada di nitroprusside (SNP) karena medi terakhir-

cal history revealed H/T with cerebrovascular accident. sejarah kal mengungkapkan H / T dengan kecelakaan serebrovaskular. No single anesthetic agent or technique is ideal for all pa- Tidak ada agen anestesi tunggal atau teknik sangat ideal untuk semua patients; in selection, one must take the physiologic condi- tients, dalam pemilihan, kita harus mengambil kondisi fisiologistion of the patient, the operative condition required, and tion pasien, kondisi operasi yang diperlukan, dan the effectsof co-existing disease or diseases of the patient penyakit co-ada effectsof atau penyakit pasien into consideration. menjadi pertimbangan. 1,3,13 1,3,13 Invasive hemodynamic monitoring such as direct Invasif hemodinamik monitoring seperti langsung arterial pressure and central venous pressure should be tekanan arteri dan tekanan vena sentral harus considered. dipertimbangkan. These allow a more rapid assessment of Ini memungkinkan penilaian lebih cepat hemodynamic changes and conveniently facilitate drug perubahan hemodinamik dan nyaman memfasilitasi obat titration. titrasi. 1,3 1,3 Other noxious factors such as hypoxia, hy- Berbahaya lainnya faktor seperti hipoksia, hypercarbia, and hypothermia which could increase stress percarbia, dan hipotermia yang dapat meningkatkan stres response should be eradicated. respon harus diberantas. 14,15 14,15 Besides, ECG moni- Selain itu, pemantauan EKGtor, pulse oximeter, temperature device and capnometer tor, pulsa oksimeter, perangkat suhu dan capnometer should be utilized. harus dimanfaatkan. Despite our efforts to continuously monitor the Meskipun upaya kami untuk terus memantau blood pressure and to offer prompt and aggressive man- tekanan darah dan untuk menawarkan dan agresif manusia promptagement, we could hardly keep the systolic blood pres- pengelolaan, kita tidak bisa menjaga tekanan darah sistoliksure and heart rate admirably as Martin did. dan detak jantung yakin mengagumkan sebagai Martin lakukan. Fortunately, Untungnya, there was no rupture of aneurysm as an incident. tidak ada pecahnya aneurisma sebagai sebuah insiden. This Ini might be due to our precaution against abrupt and ex- mungkin disebabkan karena pencegahan kita terhadap mendadak dan mantan treme hemodynamic fluctuations under close monitoring treme hemodinamik fluktuasi dilakukan monitoring yang ketat and early, rapid treatment. dan awal, pengobatan cepat. Our acts still fulfilled the sugtindakan kami tetap dipenuhi saran yanggestion of Prokop. Gestion dari Prokop. Postoperative hypertension may potentiate or even- hipertensi pascaoperasi dapat mempotensiasi atau bahkan-

tuate in aneurysm rupture on the postoperative days. tuate dalam pecahnya aneurisma pada hari-hari pasca operasi. Udelsman showed that from an endocrine perspective, Udelsman menunjukkan bahwa dari perspektif endokrin, the most stressful aspect of the surgical procedure was aspek yang stres sebagian besar prosedur pembedahan not the surgery itself but the reversal of neuromuscular bukan operasi itu sendiri tetapi pembalikan neuromuskular blockade at the end of anesthesia for extubation and rec- blokade pada akhir anestesi untuk ekstubasi dan recovery. overy. At this very juncture, the plasma ACTH and epi- Pada titik waktu yang sangat, yang ACTH plasma dan epinephrine are reported to be the highest. nephrine dilaporkan tertinggi. 16 16 Also, Swanson Juga, Swanson et al . et al. have demonstrated that major operation could in- telah menunjukkan bahwa operasi besar bisa dicrease the activity of collagenolysis in human aneurysm lipatan aktivitas collagenolysis di aneurisma manusia wall, which causes the wall to weaken. dinding, yang menyebabkan dinding melemah. 17 17 So, special at- Jadi, khusus ditention should be paid to smooth extubation and subse- berikut tegangan harus dibayar untuk kelancaran ekstubasi dan Tindakanquent postoperative pain relief. Quent bantuan nyeri pasca operasi. In our series, maximal Dalam seri kami, maksimal increase of systolic blood pressure was 21.4% of baseline peningkatan tekanan darah sistolik adalah 21,4% dari baseline value which happened in the postoperative period. nilai yang terjadi pada periode pasca operasi. Be- Beside avoidance of noxious factors such as hypercarbia, sisi menghindari faktor-faktor berbahaya seperti hiperkarbia, hypoxia, or bladder distention, sufficient relief of post- hipoksia, atau kandung kemih distensi, bantuan yang memadai pascaoperative pain is mandatory. nyeri operasi adalah wajib. As the patient awakens, Sebagai pasien terbangun, pain triggers an outpouring of sympathominetic amines nyeri memicu pencurahan amina sympathominetic and eventuates in hypertension and tachycardia. dan eventuates pada hipertensi dan takikardia. Pain Sakit control in our intensive care unit is still carried out in tra- kontrol di unit perawatan intensif kami masih dilakukan di traditional prn method; it is not justified in some patients, prn metode tradisional, itu tidak dibenarkan dalam beberapa pasien, and active titration analgesia is needed. dan analgesia titrasi aktif diperlukan. In summary, we tried to keep hold of hemodynamic Singkatnya, kami berusaha untuk tetap memegang hemodinamik control in these patients, and all of our patients tolerated kontrol pada pasien, dan semua pasien ditoleransi

the surgery and anesthesia well without aneurysm rup- operasi dan anestesi baik tanpa rup aneurismature. mendatang. It seems that, by avoiding rapid and extreme rise of Tampaknya, dengan menghindari dan ekstrim meningkat pesat arterial pulse pressure under continuous monitoring and nadi arteri tekanan di bawah pengawasan terus menerus dan by early and rapid medical treatment, the risk of aneu- oleh perawatan medis yang cepat dan awal, risiko aneurysm rupture could be decreased. pecah rysm dapat diturunkan. References Referensi 1. 1. Dennis DM: Anesthesia for aortic vascular surgery. Dennis DM: Anestesi untuk operasi vaskular aorta. In: Kirby Dalam: Kirby RR, Gravenstein N, eds. RR, Gravenstein N, eds. Clinical Anesthesia Practice. Clinical Practice Anestesi. Saun- Saunders, p1210-1233, 1994. ders, p1210-1233, 1994. 2. 2. Freischlag JA: Abdominal aortic aneurysms. Freischlag JA: aneurisma aorta perut. In: Veith FJ, Dalam: Veith FJ, Hobsob RW, Williams RA, Willson SE, eds. RW Hobsob, Williams RA, SE Willson, eds. Vascular Surgery. Vascular Surgery. McGraw-Hill, p539-610, 1994. McGraw-Hill, p539-610, 1994. 3. 3. Clark NJ, Stanley TH: Anesthesia for vascular surgery. Clark NJ, Stanley TH: Anestesi untuk pembedahan vaskular. In: Dalam: Miller RD, ed. Miller RD, ed. Anesthesia. Anestesi. Churchill Livingstone, p1693- Churchill Livingstone, p16931736, 1990. 1736, 1990. 4. 4. Hayashi M, Terai T, Nishikawa K, Yukioka H, Fujimori M: Hayashi M, Terai T, Nishikawa K, H Yukioka, Fujimori M: General anesthesia for cesarean section in patient with Mar- Anestesi umum untuk bedah caesar pada pasien dengan Marfan's syndrome associated with dissecting aortic aneurysm. Sindrom kipas yang terkait dengan membedah aneurisma aorta. Jap J Anesthesiol 40:622-626, 1991. Jap Anesthesiol J 40:622-626, 1991. 5. 5. Minu AR, Takemura K, Iwai T, Tsubaki M, Sato S, Endo M: Minu AR, K Takemura, Iwai T, M Tsubaki, Sato S, M Endo: Role of wrapping in concomitant intra-abdominal aneurysm Peran pembungkus dalam aneurisma intra-abdominal bersamaan and colorectal carcinoma. dan karsinoma kolorektal. Dis Colon Rectum 75:991-995, Dis Colon Rektum 75:991-995, 1992. 1992. 6. 6. Sabiston DC: Aortic abdominal aneurysm. Sabiston DC: aneurisma aorta perut. In: Sabiston DC Dalam: DC Sabiston ed. ed. Disorders of the Arterial System (Textbook of Surgery). Gangguan Sistem Arteri (Buku teks Bedah). Saunders, p1830-1838, 1986. Saunders, p1830-1838, 1986. 7. 7. Feldman AY, Davies AH, Wilkins DC: Rupture of a known Feldman AY, Davies AH, Wilkins DC: Pecahnya yang dikenal abdominal aneurysm following cardiac stress testing. perut aneurisma berikut stress testing jantung. J Car- J Mobil diovas Surg 35:541, 1994. diovas Surg 35:541, 1994.

8. 8. Melville GM, Gott VL, Brawley RK, Schauble JF, Labs JD: Melville GM, VL Gott, RK Brawley, JF Schuble, Labs JD: Aortic disease associated with pregnancy. penyakit aorta berhubungan dengan kehamilan. J Vas Surg 8:470- Vas J Surg 8:470 475, 1988. 475, 1988. 9. 9. Martin TJ: Anesthesia for adult cardiovascular surgery. Martin TJ: Anestesi untuk operasi jantung dewasa. In: Dalam: Kirby RR, Gravenstein N eds. Kirby RR, Gravenstein N eds. Clinical Anesthesia Practice. Clinical Practice Anestesi. Saunders, p1157-1199, 1994. Saunders, p1157-1199, 1994. 10. 10. Pape LA: Dissection of the aorta. Pape LA: Pemotongan dari aorta. In: Rippe JM, Irwin RS, Dalam: Rippe JM, RS Irwin, Alpert JS, Fink MP, eds. Alpert JS, Fink MP, eds. Intensive Care Medicine. Pengobatan Perawatan Intensif. Little Sedikit Brown, p316-326, 1991. Brown, p316-326, 1991. 11. 11. Prokpo EK, Palmer RF, Wheat MW: Hydrodynamic forces in Prokpo EK, Palmer RF, Gandum MW: Pasukan hidrodinamik di dissecting aneurysm: In vitro studies in a Tygon model and in bedah aneurisma: Dalam studi in vitro dalam model Tygon dan dalam a dog aortas. sebuah aortas anjing. Circ Res 27:121-127, 1970. Circ Res 27:121-127, 1970. 12. 12. Carney WI Jr, Rheinlander HF, Cleveland RJ: Control of ac- WI Carney Jr, HF Rheinlander, Cleveland RJ: Pengendalian acute aortic dissection. ute diseksi aorta. Surgery 78:114-120, 1975. Bedah 78:114-120, 1975. 13. 13. Rosner HL, Rubin LA: Abdominal aortic aneurysm resection Rosner HL, Rubin LA: reseksi aneurisma aorta perut and postoperative pain management. dan manajemen nyeri pasca operasi. In: Yao FSF, Artusion Dalam: Yao FSF, Artusion TF, eds. TF, eds. Anesthesiology (Problem-Oriented Patient Manage- Anestesiologi (Masalah-Oriented Patient Management ment). ment). Lippincott, p228-244, 1993. Lippincott, p228-244, 1993. 14. 14. Kaplan JA: The poorly controlled hypertensive patient. Kaplan JA: The pasien hipertensi terkontrol buruk. J J Cardiothor Anesth 4 (Suppl. 1):19-21, 1990. Cardiothor 4 anestesi (Suppl. 1) :19-21, 1990.