Anda di halaman 1dari 10

PENGECILAN UKURAN

A. LATAR BELAKANG Bahan baku yang tersedia pada umumnya belum dalam bentuk yang sesuai dengan yang dibutuhkan, termasuk dalam hal ukuran. Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel yanglebih kecil. Dalam pengecilan ukuran ada usaha penggunaan alat mekanis tanpa merubah stuktur kimia dari bahan, dan keseragaman ukuran dan bentuk dari satuan bijian yang diinginkan pada akhir proses, tetapi jarang tercapai. Berdasarkan bentuk bahan yang diproses, operasi pengecilan ukuran dapat dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu padatan dan cairan. Untuk bahan padatan operasi disebut grinding (proses penghancuran) dan cutting (proses pemotongan). Sedangkan untuk bahan dalam bentuk cairan, operasi disebut emulsificationatau atomization. Efek dari grinding yaitu terjadi kehancuran pada bahan, sedangkan efek dari cutting yaitu bahan akan pecah/belah. Grinding dan cutting memperkecil ukuran bahan padat menggunakan tenaga mekanis dengan membagi bahan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. Pengecilan ukuran bahan pangan yang dapat dilakukan dengan proses basah dan kering, serta menggunakan peralatan seperti crushing rolls, penggiling palu, penggiling cakram, disk mill, penggiling gulingan dan pemotong. Salah satu alat yang digunakan untuk pengecilan ukuran adalah diskmill, Disk mill merupakan pengiiling yang memanfaatkan gaya sobek (shear force) yang banyak dipakai untuk menghasilkan gilingan halus. Tipe-tipe yang sering dipakai meliputi penggiling cakram tunggal (single disk mill) dan penggiling cakram ganda (double disk mill) (Wiratakusumah, 1992). Prinsip dari penggunaan disk mill adalah bahan akan digiling dengan menggunakan dua buah cakram penggiling. Bahan yang akan digiling berada diantara dua cakram penggiling yang berdiri vertikal. Satu buah cakram bersifat statis (diam). Dan cakram yang satu lagi akan bergerak untuk menggiling bahan. B. TUJUAN Tujuan dari praktikum pengecilan ukuran adalah : 1. Mempelajari proses pengilingan produk pertanian (biji-bijian) 2. Menentukan nila FM, sebaran ukuran dan diameter produk hasil penggilingan 3. Membandingkan standar mutu hasil penggilingan C. ALAT DAN BAHAN Alat : Moisture tester Pengecil ukuran (disk mill) Vibrator screen (Ro-Tap) Timbangan Baki Penampung

1. 2. 3. 4. 5.

Bahan : 1. Kacang kedelai 2. Jagung pipil

D. PROSEDUR 1. Persiapkan alat dan bahan. 2. Menimbang jagung dan kedelai masing-masing sebanyak 500 gram (bahan disesuaikan dengan kelompok), serta membersihkan dan memisahkan bahan dari benda asing, serta mengukur kadar air bahan sebelum digiling.

3. 4. 5. 6.

Ukur kadar air pada bahan yang belum ditimbang. Giling bahan dengan Disk Mill, hasil gilingan kemudian diaduk rata. Ukur kadar air bahan yang sudah digiling. Bahan diambil 250 gram dari masing-masing bahan yang telah digiling dan diayak dengan ayakan Tyler selama 5 menit. 7. Timbang bahan yang tertinggal pada setiap ayakan (catat hasil pengamatan pada tabel yang telah disediakan)

E. HASIL 1. Jagung Nama Bahan : Jagung pipil Alat ukur : Vibrator screen (Ro-Tap) Tabel 1. Data hasil penyaringan 1 (pengamatan) No. Ayakan Bukaan / Lubang 3/8 4 8 14 25 45 100 Panic Jumlah Tabel 2. Data parameter pengamatan pengilingan Parameter Pengamatan Kadar air (%) Berat bahan (gram) Rendemen Perhitungan : Modulus kehalusan (FM) FM = 385.2/100= 3.85

Berat tertinggal (g

9.5 mm 4.75 mm 2.36 mm 1.4 m 710 m 355 m 150 m 0

0.00 5.50 81.50 92.00 31.50 19.00 18.24 1.24 248.98

Sebelum Penggilingan 18.2 497

Kadar air sebelum digiling 18.2% Kadar air sesudah digiling 15.4% Sebaran Produk : Untuk produk berdimensi ( > 3/8 in )

= 0 (tidak ada)

Untuk produk berukuran saringan ( 0.125 0.0029 ) = 5.5 + 81.5 + 92 + 31.5 + 19 x 100 % 248.98 = 92.18% Untuk produk berukuran mikroskopis ( < 0.0029) = 18.24 + 1.24 x 100% 248.98 = 7.82 % Diameter rata rata produk hasil penggilingan D = 0.0041(2)^FM= 0.0041 (2)3.85 = 0.059 mm Berat jagung sebelum digiling = 497 gram Berat jagung setelah digiling = 489 gram Rendemen = 489/497 100% = 98.39%

2. Kedelai Nama Bahan : Kedelai Alat ukur : Vibrator screen (Ro-Tap) Tabel 3. Data hasil penyaringan 2 (pengamatan) Bukaan / Berat tertinggal (gram) Lubang 9.5 mm 4.75 mm 2.36 mm 1.4 m 710 m 355 m 150 m 0 0 0.5 149.50 47.50 15.00 18.99 16.79 0.86 249.5

Persentase (%) 0 0.20 60.01 19.07 6.02 7.62 6.74 0.35 100

Tabel 4. Data parameter pengamatan pengilingan Parameter Sebelum Sesudah Pengamatan Penggilingan penggilingan Kadar air (%) 11.3 9.9 Berat bahan 497.5 493 (gram) Rendemen penggilingan 99.095 (%)

keterangan

Modulus kehalusan (FM) FM = 417.54/100= 4.1754 Kadar air sebelum digiling 11.3% Kadar air sesudah digiling 9.9% Sebaran Produk : Untuk produk berdimensi ( > 3/8 in ) = 0 (tidak ada) Untuk produk berukuran saringan ( 0.125 0.0029 ) = 0.5 + 149.5 + 47.5 + 15 + 18.99 x 100 % 249.5 = 92.78% Untuk produk berukuran mikroskopis ( < 0.0029) = 16.79 + 0.86 x 100% 249.5 = 7.074 %
Diameter rata rata produk hasil penggilingan D = 0.0041(2)^FM= 0.0041 (2)4.1754 = 0.07 mm Berat kedelai sebelum digiling = 497.5 gram Berat kedelai setelah digiling = 493 gram Rendemen = 493/497.5 100% = 99.095%

F. PEMBAHASAN Pada praktikum ini yang dilakukan adalah proses pengecilan produk atau bahan pertanian. Bahan pertanian yang digunakan adalah jagung dan kedelai. Proses pengecilan dilakukan dengan menggunakan disk mill. Setelah bahan pertanian tersebut hancur dan memiliki ukuran yang lebih halus, maka dilakukan proses pemisahan dengan menggunakan mesh yang diayak oleh alat vibrator screen (Ro-Tap). Setelah dilakukan proses pemisahan maka bahan pertanian tersebut akan terkumpul sesuai dengan ukurannya. Proses pengayakan sangat berguna dalam proses penanganan bahan pangan. Dimana dengan dilakukan pengayakan, maka bahan pangan yang di ayak akan disterilkan dari bahanbahan yang merugikan (seperti batu, dan kerikil). Dengan kata lain, dengan adanya proses pengayakan maka kita akan mendapatkan pati dari suatu bahan pangan atau hasil bersih dari suatu bahan pangan (sterilized food). Percobaan tersebut dilakukan untuk mengetahui modulus kehalusan dan juga kadar air setelah dan sebelum penggilingan. Dari hasil pengamatan diperoleh data-data mengenai fineness modulus (FM), diameter rata-rata, dan rendemen hasil giling untuk jagung dan kedelai. Rendemen giling untuk jagung 99.39%, sedangkan untuk rendemen giling untuk kedelai adalah 99.09%, hasil yang didapat cukup besar ini dikarenakan pada saat penggilingan dihasilkan cukup halus dan sisa bentuk kasar itu sangat sedikit. Kadar air yang dihasilkan setelah penggilingan akan lebih kecil bila dibandingkan sebelum penggilingan yang dikarenakan adanya perubahan fisik dari bahan tersebut dan kehilangan kadar air pada saat dilakukanya penggilingan. Kadar air jagung setelah penggilingan didapat sebsar 15.4%, sedangkan untuk kedelai didapat sebesar 9.9%. Modulus kehalusan (FM) dari penggilingan jagung lebih kecil dibanding modulus kehalusan penggilingan kedelai, karena FM jagung yang didapat lebih kecil dibandingkan

nilai FM kedelai, maka diameter yang didapt akan semakin kecil pula. Nilai FM penggilingan Jagung memiliki nilai FM sebesar 3.85 sehingga dapat diketahui bahwa diameter hasil penggilingan jagung adalah 0.059 mm, sedangkan kedelai mempunyai nilai FM sebesar 4.17 dengan nilai diameter hasil penggilingan adalah 0.07 mm.

G. KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan untuk penggecilan produk pertanian, praktikan dapat mengetahui teknik penggilingan dan mengetahui cara menetukan modulus kehalusan dari produk yang dilakukan penggilingan. Berdasarkan nilai perhitungan FM, dapat diketahui bahwa semakin tinggi nilai FM yang dihasilkan maka semakin besar pula diameter hasil penggilingan, begitu pun sebaliknya. Selain itu juga dapat disimpulkan bahwa semakin kecil ukuran partikelnya maka kadar air yang terkandung didalamnya juga akan semakin sedikit.

DAFTAR PUSTAKA http://www.scribd.com/doc/14581636/praktikum-teknik-pertanian (minggu,12 april 2011, 21:34) Read more at http://fajrxiil.blogspot.com/2012/04/pengecilanukuran.html#0dT0Kb5Iwx6VtOWC.99

Pirolisis
A. Dasar Teori Pirolisis adalah dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau reagen lainnya, di mana material mentah akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas. Pirolisis adalah kasus khusus termolisis. Pirolisis ekstrim, yang hanya meninggalkan karbon sebagai residu, disebut karbonisasi. Pirolisis terbagi mejadi dua tahap, yaitu pirolisis primer dan pirolisis sekunder. Pirolisis primer adalah proses pirolisis yang terjadi pada bahan baku (umpan), sedangkan

pirolisis sekunder adalah pirolisis yang terjadi pada partikel dan agas atau uapa hasil pirolisis primer. Pirolisis primer terjadi pada suhu di bawah 600 OC dan produk penguraian yang utama adalah karbon (arang). Sedangkan pirolisis sekunder terjadi pada suhu lebih dari 600 OC, berlangsung cepat, dan produk penguraian yang dihasilkan adalah gas karbon monoksida (CO), hidrogen (H2), senyawa-senyawa hidrokarbon berbentuk gas, serta tar. Pirolisis sekunder ini merupakan dasar proses yang digunakan pada sistem gasifikasi (gas producer) dimana biomassa diuraikan untuk memperoleh gas bahan bakar karbon monoksida (CO). Berdasarkan tingkat kecepatan reaksinya, pirolisis primer dibedakan menjadi pirolisis primer lambat dan pirolisis primer cepat. Pirolisis primer lambat terjadi pada kisaran suhu 150 300 OC, merupakan proses yang digunakan sebagai teknologi pembuatan arang. Pada proses ini reaksi utama yang terjadi adalah dehidrasi. Sedangkan hasil reaksi keseluruhan proses adalah karbon, uap air, karbon monoksida, dan karbon dioksida. Semakin lambat proses, semakin banyak dan semakin baik mutu karbon yang dihasilkan. Oleh karenanya untuk memproduksi arang dalam jumlah besar dan baik mutunya diperlukan waktu berharihari bahkan berminggu-minggu. Pada pirolisis primer cepat (diatas 300 OC), reaksi keseluruhan menghasilkan uap air, arang, gas, dan 50% - 70% uap minyak pirolisis (PPO = primary pyrolisis oil) yang menyusun ratusan senyawa monomer, oligomer, monomer penyusun selulosa dan lignin. Sumber energi panas untuk proses pirolisis dapat diberikan dari luar sistem atau berasal dari sistem itu sendiri, yaitu dengan cara membakar sebagian bahan baku atau membakar sebagian produk pirolisis (tar atau gas yang dihasilkan). Alat pirolisis yang menggunakan panas berasal dari pembakaran sebagian bahan baku disebut kiln. Sedangkan alat pirolisis yang menggunakan panas yang berasal dari luar sistem disebut retort. Mutu arang ditentukan antara lain oleh kadar abu, kadar karbon, kadar volatile matter tingkat kekerasan dan kilap arang. Pada percobaan ini hanya diminta untuk menentukan mutu berdasarkan penampakan fisik arang yaitu tingkat kekerasan, kilap dan kadar air. Rendemen arang dihitung sebagai perbandingan antara berat arang yang dihasilkan dengan berat awal bahan baku. Keberadaan dan Penggunaan 1. Api Pirolisis biasanya pertama reaksi kimia yang terjadi dalam membakar banyak bahan bakar organik padat, seperti kayu, kain, dan kertas, dan juga dari beberapa jenis plastik. Dalam sebuah kayu api, api yang terlihat tidak akibat pembakaran kayu itu sendiri, melainkan gas yang dirilis oleh pirolisis; sedangkan api-kurang pembakaran bara adalah pembakaran residu padat (arang) yang ditinggalkan itu Dengan demikian, pirolisis bahan umum seperti kayu, plastik, dan pakaian adalah sangat penting bagi keselamatan kebakaran dan penanggulangan kebakaran. 2. Memasak Pirolisis makanan terjadi ketika dihadapkan pada suhu yang cukup tinggi dalam lingkungan kering, seperti dipanggang, memanggang, memanggang, memanggang, dll. Ini adalah proses kimia yang bertanggung jawab atas pembentukan kerak cokelat keemasan dalam makanan disiapkan oleh metode-metode. Memasak normal, makanan utama komponen yang menderita pirolisis adalah karbohidrat (termasuk gula, pati, dan serat) dan protein. Pirolisis lemak memerlukan suhu yang lebih tinggi, dan karena itu menghasilkan produk-produk beracun dan mudah terbakar (seperti acrolein), umumnya dihindari dalam memasak normal. Itu mungkin terjadi, Namun, ketika lemak memanggang daging di atas bara panas.

Pirolisis karbohidrat dan protein memerlukan suhu yang jauh lebih tinggi dari 100 C (212 F), sehingga tidak terjadi pirolisis selama air bebas hadir, misalnya di mendidih makanan bahkan dalam pressure cooker. Ketika dipanaskan dalam kehadiran air, karbohidrat dan protein secara bertahap menderita hidrolisis daripada pirolisis. Memang, bagi sebagian besar makanan, pirolisis biasanya terbatas pada lapisan luar makanan, dan hanya dimulai setelah lapisan yang telah kering. Pirolisis juga memainkan peran penting dalam produksi gandum teh, kopi, dan kacang panggang seperti kacang tanah dan almond. Saat ini sebagian besar terdiri dari bahan-bahan kering, proses pirolisis tidak terbatas pada lapisan paling luar tetapi meluas di seluruh bahan. Dalam semua kasus ini, pirolisis menciptakan atau melepaskan banyak zat yang berkontribusi pada rasa, warna, dan sifat biologis dari produk akhir. Mungkin juga menghancurkan beberapa zat yang beracun, tidak menyenangkan dalam rasa, atau yang dapat menyebabkan busuk. 3. Arang Pirolisis telah digunakan sejak zaman untuk mengubah kayu menjadi arang dalam skala industri. Selain kayu, proses juga dapat menggunakan serbuk gergaji dan produkproduk limbah kayu lainnya. Arang diperoleh dengan memanaskan kayu sampai lengkap pirolisis (karbonisasi), hanya meninggalkan karbon dan anorganik abu. Di banyak bagian dunia, arang masih diproduksi semi-industri, dengan membakar tumpukan kayu yang telah sebagian besar tertutup lumpur atau batu bata. Panas yang dihasilkan oleh pembakaran bagian dari kayu dan produk sampingan pyrolyzes volatile sisa tumpukan. Terbatasnya pasokan oksigen mencegah dari pembakaran arang juga. Alternatif yang lebih modern adalah dengan memanaskan kayu dalam kapal logam kedap udara, yang jauh lebih sedikit polusi dan memungkinkan produk volatile akan terkondensasi. Asli struktur vaskular dari kayu dan pori-pori yang diciptakan oleh gas melarikan diri bergabung untuk menghasilkan sebuah cahaya dan materi berpori. Dengan dimulai dengan padat seperti kayu-materi, seperti nutshells atau persik batu, satu memperoleh suatu bentuk arang dengan pori-pori yang sangat bagus (dan dengan demikian pori-pori yang lebih besar luas permukaan), yang disebut karbon aktif, yang digunakan sebagai adsorben untuk berbagai berbagai zat kimia. 4. Biochar Biochar memperbaiki tekstur tanah dan ekologi, meningkatkan kemampuannya untuk mempertahankan pupuk dan melepaskannya perlahan-lahan. Secara alami mengandung banyak gizi mikro yang diperlukan oleh tanaman, seperti selenium. Hal ini juga lebih aman daripada yang lain alami pupuk seperti pupuk kandang atau kotoran karena telah didesinfeksi pada suhu tinggi, dan karena itu melepaskan unsur nutrisi pada tingkat lambat, itu akan sangat mengurangi risiko kontaminasi water table. Biochar juga sedang dipertimbangkan untuk penyerapan karbon, dengan tujuan mitigasi pemanasan global. 5. Coke Pirolisis digunakan pada skala besar untuk mengubah batubara menjadi kokas untuk metalurgi, terutama pembuatan baja. Coke juga dapat dihasilkan dari padat sisa dari penyulingan minyak bumi. Mereka biasanya berisi bahan awal hidrogen, nitrogen atau oksigen atom dikombinasikan dengan molekul karbon ke menengah berat molekul tinggi. Pembuatan arang atau coking terdiri dalam proses pemanasan bahan dalam pembuluh tertutup suhu yang sangat tinggi (hingga 2.000 C (3630 F)), sehingga molekul-molekul terurai menjadi zat yang mudah menguap lebih ringan, yang meninggalkan kapal , dan keropos tapi sulit residu hal itu sebagian besar karbon dan anorganik abu. Jumlah volatiles bervariasi dengan sumber materi, tetapi biasanya 25-30% dari itu berdasarkan berat.

6. Serat Karbon Serat karbon adalah filamen karbon yang dapat digunakan untuk membuat benang yang sangat kuat dan tekstil. Serat karbon item sering diproduksi oleh memintal dan menenun item yang diinginkan dari serat yang sesuai polimer, dan kemudian pyrolyzing material pada suhu tinggi (dari 1500 C ke 3000 C). Serat karbon pertama terbuat dari rayon, tapi polyacrylonitrile telah menjadi bahan awal yang paling umum. Untuk pertama serat karbon dapat dibuat lampu listrik, Joseph Wilson Swan dan Thomas Edison menggunakan filamen karbon yang dibuat oleh pirolisis kapas benang dan serpihan kayu. 7. Biofuel Pirolisis adalah dasar dari beberapa metode yang sedang dikembangkan untuk memproduksi bahan bakar dari biomassa, yang mungkin termasuk tanaman tumbuh baik untuk tujuan atau biologis produk limbah dari industri lain. Meskipun sintetis bahan bakar diesel belum dapat diproduksi langsung oleh pirolisis bahan organik, ada cara untuk menghasilkan cairan yang serupa ( bio-oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar, setelah penghapusan berharga bio-bahan kimia yang dapat digunakan sebagai makanan tambahan atau obat-obatan. Efisiensi yang lebih tinggi dapat dicapai dengan apa yang disebut pirolisis flash halus yang terpisah di mana bahan baku adalah dengan cepat dipanaskan hingga antara 350 dan 500 C selama kurang dari 2 detik. Minyak bahan bakar yang menyerupai minyak mentah juga dapat diproduksi oleh hydrous pirolisis dari berbagai jenis bahan baku, termasuk limbah dari babi dan kalkun pertanian, oleh suatu proses yang disebut depolymerization termal (yang mungkin mencakup namun reaksi lain selain pirolisis). B. Tujuan 1. Melakukan proses pengarangan 2. Menilai hasil dari proses yang terjadi dan kualitas produk yang dihasilkan 3. Menghitung rendemen dari produk yang dihasilkan C. Alat dan Bahan - Alat 1. Kiln metal 2. Termokopel, rekorder dan reference junction 3. Timbangan pegas 4. Kassa penyaring dan penjepit 5. Korek api D. Hasil dan Pembahasan - Hasil a. Bahan baku Jenis biomassa : tempurung kelapa Massa awal : 15 kg b. Proses Suhu pada kiln ditunjukkan pada tabel berikut : data perubahan suhu selama proses : Waktu No. (menit) Cm 1 0 1.7

- Bahan 1. 15 kg tempurung kelapa kering

mV

Celcius 9.45 255.6371829

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

5 9 15 20 30 40 50 57 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 283

1.5 1.35 2 1.6 1.3 1 1.15 1.35 1.65 1.6 1.6 1.6 1.9 1.8 1.75 1.7 1.6 1.55 1.4 1.35 1.6 1.75 1.7 1.8 1.9 1.95 2 2.05 2 1.9 1.85 1.8

8.45 7.7 10.95 8.95 7.45 5.95 6.7 7.7 9.2 8.95 8.95 8.95 10.45 9.95 9.7 9.45 8.95 8.7 7.95 7.7 8.95 9.7 9.45 9.95 10.45 10.7 10.95 11.2 10.95 10.45 10.2 9.95

231.1489862 212.7828387 292.3694779 243.3930845 206.6607895 169.9284945 188.294642 212.7828387 249.5151337 243.3930845 243.3930845 243.3930845 280.1253796 267.8812812 261.7592321 255.6371829 243.3930845 237.2710354 218.9048878 212.7828387 243.3930845 261.7592321 255.6371829 267.8812812 280.1253796 286.2474287 292.3694779 298.4915271 292.3694779 280.1253796 274.0033304 267.8812812

c.

Asap : putih dan hitam secara bergantian, namun asap putih lebih dominan Tar : tar menetes dari tutup bagia atas dalam bentuk menyerupai aspal Waktu : 10.50 16.05 (4 jam 15 menit) Arang Berat : 3.1 kg Kadar air : tidak terukur Rendemen : 3.1/15 *100% = 20.67% Mutu : Tingkat kekerasan : cukup keras Kilap : kurang mengkilap dan cenderung buram Kematangan : masih banyak bahan yang tidak terbakar sehingga hanya sebagian yang sudah benar-benar membentuk arang

Nilai kalor : 18,2 MJ/kg (Literatur)

E. Pembahasan Pada praktikum kali ini yang dilakukan adalah membuat arang dari tempurung kelapa dengan menggunakan pirolisis lambat. Dimana pirolisis ini dilakukan pada suhu dibawah 300C dan dilakukan pada input udara yang rendah. Alat yang digunakan untuk melakukan proses pengarangan tungku kiln, dimana untuk mengatur suhu pada kisaran 200 C300C dalam tunggu dilakukan dengan mengatur jumlah udara yang masuk kedalam tungku, apabila asupan udaranya besar maka bahan baku akan semakin mudah untuk terbakar, sehingga suhunya akan meningkat. Setelah dilakukan pembakaran selama beberapa saat, pada cerobong asap akan muncul tetesan tar dari hasil pembakaran, tar ini berwarna hitam kental. Lama proses pirolisis ini keseluruhan adalah 4 jam 15 menit, arang yang dihasilkan dalam kurun waktu tersebut adalah 3,1 kg dari massa awal umpan 15 kg. Dengan demikian maka rendemen dari proses pirolisis ini adalah 20.67%. Namun perlu dipehatikan disini bahwa sortasi akhir dilakukan secara kasar, sehingga tempurung yang baru terarangkan sebagian juga ikut ditimbang, sehingga rendemen murni mungkin berada dibawah 20%. Kualitas arang yang dihsilkan dari hasil pirolisis berdasarkan visualnya adalah kurang bagus, dimana arang yang dihasilkan berbentuk buram dan kurang matang. Ini disebabkan orang proses pembakaran yang kurang bagus. Namun literatur menyebutkan bahwa nilai kalor dari arang batok kelapa adalah 18,2 MJ/kg. Nilai kalor arang sekam ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan arang sekam 13,3 MJ/kg, dan bagass tebu 17,6 MJ/kg (materi kuliah).
F. Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam proses pirolisis dan kualitas arang yang dihasilkan ditentukan oleh proses pembakaran.

Read more at http://fajrxiil.blogspot.com/2012/04/pirolisis.html#Cu5WXq8kcW2jVKl7.99