Anda di halaman 1dari 29

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

LAPORAN PRAKTIKUM MINERAL OPTIK ACARA: MINERAL TECTOSILIKAT & SOROSILIKAT

OLEH NASRUDDIN BAHRUL D611 09 268

MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Pada praktikum acara nikol sejajar dan nikol silang telah diuraikan tentang cara mentukan siat-sifat optik suatu mineral. Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang mineral tertentu. Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi kimia yang tetap dan struktur kristal yang beraturan. Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok mineral silikat, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak Bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan (metamorf). Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium. Setiap mineral mempunyai sifat-sifat optik yang khusus yang dapat dibedakan dengan mineral yang lainnya, tanpa harus mengidentifikasi seluruh sifat-sifat optiknya. Oleh karena itu, maka dikelompokkanlah mineral-mineral tersebut yang memiliki sifat-sifat khusus tersebut. I.2. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari praktikum mineral optik acara mineral tektosilikat dan sorosilikat adalah untuk mengetahui sifat-sifat optik mineral-mineral tektosilikat dan sorosilikat. Tujuannya adalah untuk menentukan nama mineral-mineral tektosilikat

dan sorosilikat berdasarkan sifat optiknya dan sifat-sifat yang khas dari mineral tektosilikat dan sorosilikat. I.3. Alat dan Bahan Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Mikroskop Polarisasi 1 buah 2. Alat tulis menulis 3. Lap halus dan lap kasar 4. Sampel mineral I.4. Prosedur Kerja

Prosedur kerja untuk menentukan sifat-sifat optik mineral adalah sebagai berikut:  Meletakkan Mikroskop polarisasi diatas meja dengan cara memegang lengan Mikroskop Polarisasi sedemikian rupa sehingga mikroskop berada persis dihadapan Pemakai.  Menyentringkan mikroskop.  Menentukan nomor urut sampel.  Menentukan nomor peraga dengan cara melihat nomor yang ada pada sampel mineral yang diamati.  Menentukan perbesaran lensa objektif, lensa okuler dan pembesaran total dengan cara melihat perbesaran lensa objektif dan lensa okuler yang digunakan kemudian mengkalikannya.  Menentukan bilangan skala.  Menentukan kedudukan mineral (X,Y) dengan cara melihat kedudukan mineral pada skala sumbu absis dan sumbu ordinat.  Menentukan ukuran mineral dengan cara:

Menentukan panjang mineral dengan menggunakan benang silang berskala (mm) kemudian hasilnya dikalikan dengan bilangan skala.  Menentukan warna mineral dengan cara diamati langsung warna yang nampak pada mikroskop.  Menentukan pleokroisme dengan cara mengamati perubahan warna mineral pada ortoskop tanpa nikol atau nikol sejajar bila meja objek diputar 900. pleokroisme lemah jika perbedaan warna absorpsi tidak begitu menyolok dan pleokroisme kuat jika perbedaan warna yang terjadi sangat kontras.  Menentukan intensitas.  Menentukan indeks bias mineral dengan cara: Menutup sebagian jalannya masuk cahaya kedalam mineral dengan menggunakan benda yang tidak tembus cahaya. Apabila bayangan gelap nampak pada posisi yang berlawanan dengan arah posisi penutupnya, maka n min < n cb. Sebaliknya jika terlihat bayangan gelap Nampak pada posisi yang searah dengan arah penutup datangnya sinar, maka n min > n cb.  Menentukan belahan mineral dengan cara: Jika pada mineral terdapat berupa garis-garis lurus yang sejajar satu dengan yang lainnya maka belahannya satu arah.  Menentukan pecahan pada mineral dengan cara: Jika pecahan memperlihatkan gelombang yang melengkung di permukaannya maka pecahannya adalah concoidal. Jika pecahan memperlihatkan permukaan yang tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing maka pecahannya adalah hackly. Jika pecahan memperlihatkan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan bidang pecahan yang masih masih mendekati bidang datar maka pecahannya adalah even.

Jika pecahan memperlihatkan pecahan kasar dengan permukaan yang tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing maka pecahannya adalah uneven. Jika pecahan memperlihatkan pecahan yang hancur kecil-kecil yang tajam menyerupai benang atau serabut maka pecahannya adalah splintery.  Menentukan bentuk mineral dengan cara: Melihat bentuk miuneral dalam kondisi dua dimensi. Jika Kristal dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri maka bentuk mineralnya Euhedral. Jika Kristal dibatasi oleh sebagian bidang kristalnya sendiri maka bentuk mineralnya Subhedral. Jika Kristal sama sekali tidak dibatasi oleh bidang-bidang kristalnya sendiri maka bentuk mineralnya Anhedral.  Menentukan relief mineral dengan cara: Semakin besar perbedaan indeks bias, maka semakin tinggi relief mineral tersebut.  Menentukan inklusi mineral.  Menentukan W.I. Maksimum mineral  Menentukan bias rangkap mineral dengan cara: Memutar meja objek sampai diperoleh warna terang maksimum. Membandingkan warna tersebut dengan warna standar komparator dari tabel Michel-Levy. Menarik garis melalui ketebalan sayatan (0.03 mm) kemudian baca angka berapa yang tertera pada bagian tepi tabel tersebut.  Menentukan kembaran mineral dengan cara:

Memperhatikan lembar-lembar yang memperlihatkan W.I dan pemadaman yang berbeda. Jika lembar-lembar kembarannya tertentu dan bidang batasnya lurus, maka kembarannya adalah kembaran tumbuh. Jika lebar lembar-lembar kembarannya berubah dan bidang batasnya sering melengkung, maka kembarannya adalah kembaran deformasi.  Menentukan sudut gelapan dengan cara: Memutar meja objek ke kiri hingga terang maksimum dan mencatat skala noniusnya. Memutar lagi meja objek ke kanan hingga gelapan maksimum, skala noniusnya dicatat.  Menentukan jenis gelapan dengan cara: Jika sudut gelapannya 00 atau 900, maka gelapannya adalah gelapan sejajar (paralel). Jika sudut gelapannya 450, maka gelapannya adalah gelapan simetris. Jika sudut gelapannya 10440 atau 460- 890 maka gelapannya adalah gelapan miring. Jika sudut gelapannya 30 maka gelapannya bergelombang.  Menentukan TRO dengan cara: Memasukkan komparator keping gips. Jika terjadi gejala addisi, gambar kedudukan sumbu indikatrik mineral. Melihat posisi sumbu indikatrik mineral terhadap sumbu panjang kristalografi mineral. Jika Z sejajar atau kurang dari 450 terhadap sumbu panjang kristalografi, maka tanda rentang optiknya adalah length-slow.

Jika sumbu X sejajar atau 450 terhadap sum bu panjang kristalografi, maka orientasinya adalah length-fast.  Menentukan nama mineral  Melakukan pengamatan konoskopik dengan cara: Menentukan perbesaran lensa objektif, lensa okuler dan perbesaran total. Menentukan bukaan diafragma Menentukan tanda optik Menentukan isogir Menentukan gelang warna Menentukan sudut 2V Menentukan nama mineral yang diamati berdasarkan sifat optiknya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Mineral Silikat Mineral Silikat adalah mineral yang paling umum di mika bumi ini, termasuk kuarsa, feldspar, mika, amphibole, piroksen, dan olivin. Mineral kuarsa (SiO2) ditemukan di semua jenis batuan dan di semua bagian dunia. Silikat adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan salah satu dari Si O tetrahedra (SiO4)-4 tunggal atau berantai Silicates yaitu golongan mineral yang paling besar dan sangat berlimpah keberadaannya, dalam hal ini silicate adalah unsur pokok penyusun batuan beku dan batuan metamorf. Mineral-mineral silikat cenderung bersifat : keras, berwarna transparant (jernih dan tembus cahaya) hingga translucent (tembus cahaya) dan mempunyai Berat Jenis rata-rata sama. Pada umumnya dalam semua struktur silicat, silicon berada diantara 4 atom oksigen (kecuali yang terbentuk pada tekanan yang ekstrim). Kuarsa termasuk kelompok mineral silikat, yang semuanya mengandung unsur silikon dan oksigen dalam proporsi tertentu. Mineral Silikat juga memiliki berbagai sifat fisik, meskipun faktanya bahwa mineral silikat sering memiliki rumus kimia yang sangat mirip. misalnya, rumus untuk kuarsa (SiO 2) dan olivin ((Fe Mg) 2 SiO 4) hampir sama perbedaan tampak kecil, namun sangat berbeda. Yang mendasar adalah mencerminkan struktur kristal dan sangat berbeda sifat-sifat fisik. Di antara perbedaan-perbedaan lain, kuarsa meleleh pada suhu sekitar 600 C sementara olivin tetap solid untuk suhu hampir dua kali lipat; kuarsa umumnya jelas dan tidak berwarna, sedangkan olivin berwarna hijau zaitun. Keragaman dan kelimpahan mineral silikat merupakan hasil dari sifat atom silikon , fleksibilitas dan stabilitas dari silikon ketika berikatan dengan

oksigen. Silika

tetrahedral

berikatan

satu

sama

lain

dan

dengan

berbagai kation dalam berbagai cara untuk membentuk mineral silikat. Terlepas dari kenyataan bahwa ada ratusan mineral silikat, hanya sekitar 25 yang benar-benar umum. Oleh karena itu, dengan memahami bagaimana mineral silika tetrahedral, anda akan dapat menentukan nama dan mengidentifikasi 95% dari batuan yang anda temui di permukaan bumi adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan salah satu dari Si O tetrahedra (SiO4)-4 tunggal atau berantai. Dari strukturnya (sudut bangunnya) silikat dibagi menjadi 6 kelas, yaitu : a) Nesosilicate Mempunyai (SiO4)-4 tetrahedra yang benar-benar terpisah (tetra hedra silikonoksigen benar-benar terpisah), komposisi berupa SiO4. Mineral khasnya Forsterit (Mg2SiO4), mineral lainnya seperti :Olivine [(Mg,Fe)2SiO4], Zircon (ZrSiO4), Sillimanite (Al2SiO5). Sorosilicate Mempunyai 2 tetrahedra yang dihubungkan oleh 1 atom oksigen yang merupakan milik bersama (dipakai bersama-sama), komposisi berupa Si2O7. Mineral khasnya Akermonite (Ca2MgSi2O7), mineral lainnya seperti : Heminorphite [Zn4Si2O7(OH)2.H2O], Zoisite [Ca2Al3(Si3O12)OH]. b) Cyclocilicate Mempunyai tetrahedra yang saling berhubungkan membentuk struktur lingkaran tertutup dengan komposisi berupa SinO3n. Bila mempunyai lingkaran 3 tetrahedra, misalnya mineral Benitoite (BaTiSi3 O9), Bila mempunyai 6 mineral 3 tetrahedra, mineral Beryl (Be3Al2Si6O18) Mineral lainnya seperti Cordierite [Mg2Al4Si5O18], Ferroxinite [Ca2FeAl2Bsi4O15(OH)], Manganaxinite

[Ca2MnAl2BSi4O15(OH)].

c) Inosilicate Mempunyai tetrahedra yang saling berhubungkan membentuk struktur rantai tunggal/ganda dan saling terikat oleh unsur logam.Rantai Tunggal mempunyai komposisi Si : O = 1 : 3, misalnya terlihat pada mineral-mineral Piroksin Group seperti Diopside (CaMgSi2O6), Hornblende [CaFeSi2O6], Jadeite [Na(Al,Fe+3)Si2O6]. Rantai Ganda, dimana 2 rantai tunggal paralel yang posisi tetrahedranya berselangseling/terikat menyilang dengan perbandigan komposisi Si : O = 4 : 11 dicirikan oleh mineral-mineral Amphibole group [(Ca,Na)(Mg,Fe)]Silicat-OH, seperti Tremolite [Ca2Mg5Si8O22(OH)2, Actinolite [Ca2(Mg,Fe)5Si8O22(OH)2], Hornblende

[(Na,K,Ca)3(Mg,Mn)5Si8O22(OH)2]. Mineral lainnya seperti Wollastonite [CaSiO3], Rhodonite [(Mn, Fe, Mg)SiO3], Neptunite [Na2Kli(Fe,Mn)2Ti2Si8O24]. d) Phylosilicate Mempunyai lapisan yang terbentuk oleh pemakaian secara bersama-sama oleh 3 ion oksigen dari tiap-tiap tetrahedra yang berbatasan disekitarnya sehingga membentuk lapisan datar yang luas dengan perbandingan komposisi Si : O = 2 : 5. Dicirikan dengan kelompok mineral Mica [K(Mg,Fe)Al Silicat OH, seperti Muscovite Phlogophite [KAl2(AlSi3)O10(OH)2], Biotite [K(Mg,Fe)3(Al,Fe)Si3O10(OH,F)2], Lepidolite seperti Vermicullite Serpentinite

[K(Mg,Fe)3(Al,Si)3O10(F,OH)2], Mineral lainnya

[K(Li,Al)3(Si,Al)4O10(F,OH)2]

[(Mg,Fe,Al)3(Al,Si)4O10(OH)2.4H2O],Kaolinite [(Mg,Fe)3Si2O5(OH)4. e) Tectosilicate Mempunyai kerangka silicate yang

[Al2Si2O5(OH)4],

mana

setiap

atom

tetrahedra

silicon/SiO4memakai bersama-sama semua (ke-empat) pojok-pojoknya dengan atom tetrahedra silicon lainnya yang berdekatan sehingga membentuk jaringan 3 dimensi

dengan perbandingan komposisi Si : O = 1 : 2. Dicirikan dengan beberapa bentuk silica seperti Kwarsa (SiO2), Tridimite (SiO2), Kristobalite (SiO2) mempunyai susunan 3 dimensi tersebut. Mineral khas lainnya seperti Feldspar group : Orthoclase (KAlSi3O8), Sanidine (KAlSi3O8), Microcline (KAl2Si3O8), Albite (NaAlSi3O8), Oligoclase [(Na,Ca)AlSi3O8]. II.2. Silikat Sebagai Sumber Daya Alam

Meskipun kita biasanya berpikir tentang batubara atau minyak ketika membahas sumber daya alam, mineral silikat adalah sumber daya alam yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Tanpa silika, tidak akan ada kaca. Tanpa mineral tanah liat, kita tidak akan memiliki keramik atau tembikar. Kita menggunakan mineral silikat dalam pembuatan bahan bangunan, termasuk batu bata dan beton. Pelapukan mineral silikat di permukaan bumi menghasilkan tanah di mana tumbuh tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan dan pasir di pantai sebagai bahan bangunan. Sifat-sifat mineral yang penting didasarkan pada fleksibilitas dari silikat anion dalam kombinasi dengan lainnya unsur-unsur lain. II.3. Contoh Mineral

a) Kuarsa

Kuarsa merupakan mineral silikat yang hanya disusun oleh silikon dan oksigen. Mineral kuarsa juga sering disebut silika karena komposisinya SiO2. Karena struktur kuarsa mengandung dua atom oksigen untuk tiap atom silikon, maka tidak dibutuhkan lagi ion positif untuk menjadikan mineral kuarsa ini netral. Struktur kristal kuarsa membentuk jaringan tiga dimenasi yang lengkap antara ion oksigen disekitar ion silikon, sehingga membentuk suatu ikatan yang kuat antara keduanya. Akibatnya kuarsa tidak mempunyai bidang belahan, sangat keras dan resisten

terhadap proses pelapukan. Kuarsa mempunyai belahan konkoidal. Pada bentuknya yang sempurna kuarsa sangat jernih, membentuk kristal heksagonal dengan bentuknya piramidal. Warna mineral kuarsa sangat bervariasi tergantung pada proses pengotoran pada waktu pembentukannya. Variasi warna ini menyebabkan adanya bermacam mineral kuarsa. Mineral kuarsa yang umum adalah kuarsa susu (putih), kuarsa asap (abu-abu), kuarsa ros (pink), ametis (purple) dan kristal batuan (clear). Beberapa (kristal besar) macrocrystalline varietas dikenal dan populer sebagai batu hias dan batu permata. Beberapa macrocrystalline (varietas kristal dan dikenal populer sebagai batu permata dan batu hias. Amethyst adalah berbagai batu permata berwarna ungu. Citrine adalah batu permata berwarna kuning orange yang jarang terjadi di alam tetapi sering dibuat oleh pemanasan Amethyst. Milky Quartz adalah minerl kuarsa yang warnanya putih awan. Prasiolite adalah jenis batu permata berwarna hijau-daun bawang yang terbentuk oleh pemanasan Amethyst dari lokasi tertentu. Kristal Rock adalah varietas yang juga digunakan sebagai batu permata. Asosiasi Mineral sangat banyak dan beragam tapi di sini ada beberapa asosiasi yang lebih umum pada kuarsa: amazonite berbagai microcline, tourmalines terutama elbaite, wolframit, pirit, rutil, zeolit, fluorit, kalsit, emas, muskovit, topaz, Beryl, hematit dan spodumene. b) Epidote Epidot adalah mineral yang memiliki struktur yang kompleks baik tetrahedrons silikat tunggal, SiO4, dan tetrahedrons silikat ganda, Si2O7. Rumus epidot Ca2 (Al, Fe) Al2O (SiO4) (Si2O7) (OH). Dua aluminium merupakan rantai paralel AlO6 dan AlO4 (OH) 2 oktahedra yang merupakan jantung dari struktur epidot. Kelompok

silikat dan ion ekstra menghubungkan rantai bersama-sama. Karena rantai yang paralel, kristal cenderung prismatik. Karakteristik fisik mineral epidot adalah warna hijau kekuningan atau kecoklatan hijau, juga berwarna coklat sampai hitam. Transparansi kristal transparan, sistem kristal monoklinik; 2 / m. Bisa berasiasi dengan mineral kalsit, biotit, hornblende, aktinolit, garnet dan andradite .

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1. Sampel 1 Pada pengamatan pertama dengan nomor urut 01 dan nomor peraga tidak ada digunakan perbesaran objek 5x perbesaran okuler 10x, dan perbesaran total 50x yang diperoleh dari hasil kali perbesaran objektif dan perbesaran okuler. Bilangan skala = 1/perbesaran total (1/50 = 0,02 mm). III.1.1. Pengamatan nikol sejajar Pada pengamatan ortoskop nikol sejajar, sifat-sifat optik yang diamati antara lain : kedudukan mineral (X,Y) => (545; 16), ukuran mineral 2,6 mm, warna mineral orange kecoklatan, perubahan warna mineral pada saat meja objek diputar 900 (pleokroisme) tidak ada, hal ini disebabkan karena mineral tidak mengalami perubahan warna, kenampakan mineral dalam menyerap cahaya rendah (intensitas rendah), nilai indeks bias mineral lebih besar dari nilai indeks bias Canada Balsam (Nm>Ncb), belahan tidak ada, pecahan tidak ada, bentuk bidang batas mineral anhedral, kenampakan bidang batas mineral (relief) rendah, dan inklusi tidak ada.

Gambar III. 1.1. Kenampakan nikol sejajar sampel 1

III.1.2. Pengamatan nikol silang Pada pengamatan ortoskop nikol silang, sifat-sifat optik mineral yang

diperoleh antara lain warna interferensi maksimum abu-abu, bias rangkap 0,004 (orde I) dengan membandingkan warna mineral pada nikol silang dengan tabel Mikel Levy, kembaran tidak ada, sudut gelapan 2 Sudut gelapan diperoleh setelah memutar meja objek dari terang maksimum ke gelap maksimum yang dibagi 2, sehingga gelapannya gelapan bergelombang.

Gambar III.1.2. Kenampakan nikol silang sampel 1

III.1.3. TRO Tanda rentang optik (TRO) addisi (+) length fast.

Gambar III.1.3. Kenampakan TRO sampel 1

Berdasarkan sifat optik yang diamati pada ortoskop nikol sejajar, ortoskop nikol silang dan TRO, maka nama mineral ini adalah Kuarsa. III.1.4. Pengamatan konoskopik Pada pengamatan konoskopik digunakan pembesaran objek 100x pembesaran okuler 10x, dan perbesaran total 1000x. Bilangan skala 0,001, bukaan diafragma yang digunakan 0,9 karena pembesaran objektif yang digunakan 100x, sumbu optik uniaxial, tanda optik positif (+), isogir tidak terpusat, gelang warna bias ganda lemah, sudut 2V 800 dan nama dari mineral ini adalah Kuarsa. Isogir Gelang warna

Gambar III.1.4. Kenampakan Konoskop sampel 1 Kuarsa termasuk kelompok mineral silikat, yang semuanya mengandung unsur silikon dan oksigen dalam proporsi tertentu. Rumus untuk mineral kuarsa (SiO2) dan meleleh pada suhu sekitar 600 C . Kuarsa merupakan mineral silikat yang hanya disusun oleh silikon dan oksigen. Mineral kuarsa juga sering disebut silika karena komposisinya SiO2. Karena struktur kuarsa mengandung dua atom oksigen untuk tiap atom silikon, maka tidak dibutuhkan lagi ion positif untuk menjadikan mineral kuarsa ini netral. Struktur kristal kuarsa membentuk jaringan tiga dimensi yang lengkap antara ion oksigen disekitar ion silikon, sehingga membentuk suatu ikatan yang kuat antara keduanya. Akibatnya kuarsa tidak mempunyai bidang belahan, sangat keras dan resisten terhadap proses pelapukan. Kuarsa mempunyai belahan konkoidal. Pada bentuknya yang sempurna kuarsa

sangat jernih, membentuk kristal heksagonal dengan bentuknya piramidal. Warna mineral kuarsa sangat bervariasi tergantung pada proses pengotoran pada waktu pembentukannya. Variasi warna ini menyebabkan adanya bermacam mineral kuarsa. Mineral kuarsa yang umum adalah kuarsa susu (putih), kuarsa asap (abu-abu), kuarsa ros (pink), amethys (purple) dan kristal batuan (clear). Beberapa (kristal besar) macrocrystalline varietas dikenal dan populer sebagai batu hias dan batu permata. Amethyst adalah berbagai batu permata berwarna ungu. Citrine adalah batu permata berwarna kuning orange yang jarang terjadi di alam tetapi sering dibuat oleh pemanasan Amethyst. Milky Quartz adalah minerl kuarsa yang warnanya putih awan. Prasiolite adalah jenis batu permata berwarna hijau-daun bawang yang terbentuk oleh pemanasan Amethyst dari lokasi tertentu. Kristal Rock adalah varietas yang juga digunakan sebagai batu permata. Asosiasi Mineral sangat banyak dan beragam tapi di sini ada beberapa asosiasi yang lebih umum pada kuarsa misalnya amazonite berbagai microcline, tourmalines terutama elbaite, wolframit, pirit, rutil, zeolit, fluorit, kalsit, emas, muskovit, topaz, Beryl, hematit dan spodumene. III.2. Sampel 2 Pada pengamatan pertama dengan nomor urut 02 dan nomor peraga 19 digunakan perbesaran objek 5x, perbesaran okuler 10x, dan perbesaran total 50x yang diperoleh dari hasil kali perbesaran objektif dan perbesaran okuler. Bilangan skala = 1/perbesaran total (1/50 = 0,02 mm). III.2.1. Pengamatan nikol sejajar Pada pengamatan ortoskop nikol sejajar, sifat-sifat optik yang diamati antara lain : kedudukan mineral (X,Y) => (53; 13,5), ukuran mineral 10.06 mm, warna

mineral orange kecoklatan, perubahan warna mineral pada saat meja obyek diputar 900 (pleokroisme) dwikroik, kenampakan mineral dalam menyerap cahaya rendah (intensitas sedang), nilai indeks bias mineral lebih besar dari nilai indeks bias

Canada Balsam (Nm>Ncb), belahan satu arah, pecahan rata, bentuk bentuk bidang batas mineral anhedral, kenampakan bidang batas mineral (relief) sedang, dan inklusi ada.

Gambar III.2.1. Kenampakan nikol sejajar sampel 2 III.2.2. Pengamatan nikol silang Pada pengamatan ortoskop nikol silang, sifat-sifa optikt mineral yang diperoleh antara lain warna interferensi maksimum hujau, bias rangkap 0,014 (orde II) ini dapat diketahui dengan membandingkan warna mineral pada nikol silang dengan tabel Mikel Levy, kembaran tidak ada, sudut gelapan 32 Sudut gelapan diperoleh setelah memutar meja objek dari terang maksimum ke gelap maksimum kemudian dibagi 2, sehingga gelapannya gelapan miring, tanda rentang optik (TRO) addisi (+) length fast.

Gambar III.2.2. Kenampakan nikol silang sampel 2 III.2.3. Pengamatan TRO Tanda rentang optik (TRO) addisi (+) length fast.

Gambar III.2.3. Kenampakan TRO sampel 2

Berdasarkan sifat optik yang diamati pada ortoskop nikol sejajar, ortoskop nikol silang dan TRO maka nama mineral ini adalah Epidote.

III.2.4. Pengamatan Konoskop Pada pengamatan konoskopik digunakan pembesaran objek 100x pembesaran okuler 10x, dan perbesaran total 1000x, bilangan skala 0,001. Bukaan diafragma yang digunakan 0,9 karena pembesaran objektif yang digunakan 100x, sumbu optik biaxial,tanda optik negatif (-), isogir tidak terpusat, gelang warna bias ganda lemah, sudut 2V 300 dan nama dari mineral ini adalah Epidote.

Isogir

Gelang warna

Gambar III.2.4. Kenampakan Konoskop sampel 2 Epidot adalah mineral yang memiliki struktur yang kompleks baik tetrahedrons silikat tunggal SiO4, dan tetrahedrons silikat ganda Si2O7. Rumus kimia epidot adalah Ca2 (Al, Fe) Al2O (SiO4) (Si2O7) (OH). Dua aluminium merupakan rantai paralel AlO6 dan AlO4 (OH) 2 oktahedra yang merupakan jantung dari struktur epidot. Kelompok silikat dan ion ekstra menghubungkan rantai bersama-

sama. Karena rantai yang paralel, kristal cenderung prismatik. Rantai tersebut diatur dalam bidang sejajar dan belahan dada yang sempurna pada ikatan antara pesawat.. warna hijau-nya unik yang sering digambarkan sebagai "pistachio", cukup mencolok dalam spesimen baik berwarna. Karakteristik fisik mineral epidot adalah warna hijau kekuningan atau kecoklatan hijau, juga berwarna coklat sampai hitam. Transparansi kristal transparan, sistem kristal monoklinik; 2 / m. Bisa berasosiasi dengan mineral kalsit, biotit, hornblende, aktinolit, garnet biotit, dan andradite.

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK Acara Hari/Tanggal : Mineral Tektosilikat & Sorosilikat :Senin, 18 April 2011 Nama: Nasruddin Bahrul Nim: D611 09 268

1. Nikol sejajar No. Urut No. Peraga P. Objektif P. Okuler P. Total Bilangan Skala Kedudukan Mineral Ukuran Mineral Warna mineral :1 : :5x : 10 x : 50 x : 1/50 = 0,02 mm : (X,Y) => (54,5; 16) : 30 x 0,02 = 2,6 mm : Orange Kecoklatan Nikol sejajar Pleokroisme Intensitas Indeks Bias Belahan Pecahan Bentuk Relief Inklusi :: Rendah : :: Tidak ada : Unhedral : Rendah :>

2. Nikol Silang W.I Max Bias Rangkap Kembaran : Abu-abu : 0,004 (orde I) :-

Sudut Gelapan Gelapan

: 2 : Bergelombang Nikol Silang

3. TRO TRO TRO : Adisi (+), Length Fast

Nama Mineral

: Kuarsa

4.

Pengamatan Konoskopik P. Objektif P. Okuler P. Total Bilangan skala Bukaan Diafragma Sumbu Otik Tanda Optik : 100x : 10x : 1000x :0,001 : 0,9 : Uniaxial : Positif

Gambar Interferensi Isogir Gelang warna Sudut 2V Isogir : Tidak terpusat : Bias ganda lemah : 800 Gelang Warna

Nama Mineral

: Kuarsa

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK Acara Hari/Tanggal : Mineral Tektosilikat & Sorosilikat :Senin, 18 April 2011 Nama: Nasruddin Bahrul Nim: D611 09 268

1. Nikol sejajar No. Urut No. Peraga P. Objektif P. Okuler P. Total Bilangan Skala Kedudukan Mineral Ukuran Mineral Warna mineral Pleokroisme Intensitas Indeks Bias Belahan Pecahan Bentuk Relief Inklusi :2 : 19 :5x : 10 x : 50 x : 1/50 = 0,02 mm : (X,Y) => (53; 13,5) : 10,06 mm : Orange kecoklatan : Dwikroik : Sedang : >

: Satu arah : Rata : Anedral : Sedang : Ada

Nikol sejajar

2. Nikol Silang W.I Max Bias Rangkap Kembaran Sudut Gelapan Gelapan : Hijau : 0,014 (orde II) :: 32 : Miring Nikol Silang

2. TRO TRO : Addisii (+), Length Fast TRO

Nama Mineral 3. Pengamatan Konoskopik P. Objektif P. Okuler P. Total Bilangan skala

: Epidote

: 100x : 10x : 1000x :0,001

Bukaan Diafragma Sumbu Otik Tanda Optik Gambar Interferensi Isogir Gelang warna Sudut 2V Isogir

: 0,9 : Biaxial : Negatif (+)

: Tidak terpusat : Bias ganda lemah : 300 Gelang warna

Nama Mineral

: Epidote

BAB IV PENUTUP

IV.1. Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: y Mineral Tectosilikat dan Sorosilikat umunmnya terdiri dari unsur silikat (Si) dan oksigen (O2). y Mineral Tectosilikat dan Sorosilikat mempunyai rumus kimia yang hampir sama. y Mineral Kuarsa dan mineral silikat pada umumnya memiliki sifat-sifat optik yang khas yang membedakan dengan mineral yang lain seperti jernih dan tembus cahaya. IV.2. Saran Adapun saran untuk Laboratorium Mineral Optik yaitu: y y y Mikroskop yang sudah tidak layak pakai supaya diperbaiki atau diganti. Jumlah dari mikroskop polarisasi ditambah. Kenyamanan praktikan dalam melakukan praktikum diperhatikan seperti kebersihan dan suhu ruangan yang panas.

DAFTAR PUSTAKA

http://elista.akprind.ac.id/upload/files/7235_PERTEMUAN_I_MIKROSKUP_POLA RISASI.ppt http://gambar.mitrasites.com/mikroskop-polarisasi.html http://one2land.wordpress.com/2010/03/19/mikroskop-polarisasi/ http://www.scribd.com/doc/37669997/Mikroskop-Polarisasi-n-Mineral-Optik