Anda di halaman 1dari 7

POTENSI OMBAK DI WILAYAH INDONESIA SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK Oleh: Anggun Prima Gilang Rupaka (21080111400051)

I.

Pendahuluan Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke sepanjang kurang lebih

5000 km berbentuk negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas kira-kira 7,7 juta km2. Dengan jumlah pulau sekitar 15.000 (menurut hitungan pemerintah sebanyak 17.500 pulau) dan garis pantai sepanjang 95.181 km (data tahun 2009) merupakan negara dengan garis pantai terpanjang keempat setelah Amerika, Kanada dan Rusia. Secara ekonomis pantai dapat memberikan pendapatan kepada negara dan penduduk karena pantai sangat berpotensi sebagai daerah penghasil ikan, pariwisata, kegiatan industri, pemukiman, pelabuhan, pertambangan, konservasi lahan dan lain-lain. Potensi ekonomi pesisir akan maksimal jika wilayah pesisir atau pantai sebagai katalis ekonomi dijaga dan digunakan secara maksimal juga. Sudah banyak energi-energi terbaru dan terbarukan muncul. Bahkan sudah ada pula energi yang dihasilkan dari kotoran makhluk hidup. Hal ini mendorong untuk mencari inovasi- inovasi terbaru dan yang terpenting adalah sangat bersahabat dengan lingkungan. Karena isu terhangat saat ini adalah mengenai global warming misalnya. Dengan adanya isu tersebut, maka dunia semakin gencar untuk mencari inovasi solusi dan ide- ide mengenai teknologi yang ramah lingkungan.Potensi energi alternatif juga tersimpan di laut, terutama di daerah pesisir. Energi samudera terdiri dari 3 potensi energi yaitu energi panas laut, gelombang dan pasang surut. Yang pertama yaitu energi panas laut atau yang sering disebut dengan ocean thermal energy conversion. Energi ini berkonsep dari perbedaan suhu antara suhu di permukaan laut dan suhu di bawah laut menjadi energi listrik. Konversi energi panas laut ini belum banyak digunakan. Di indonesia pun masih dalam tahap penelitian. Yaitu terdapat di bali utara dengan kapasitas 100 kw. Energi panas laut menggunakan sistem Siklus Rankine. Yang terdiri dari rankine terbuka dan siklus ran kine tertutup. Siklus rankine adalah siklus termodinamika yang mngubah panas menjadi kerja. Panas disuplai secara eksternal pada aliran tertutup yang biasanya menggunakan air sebagai fluida yang bergerak. Secara umum di Indonesia suhu di permukaan laut adalah 25-30 derajat celcius dan di bawah laut sekitar 5-7 derajat laut. Yang kedua yaitu energi gelombang laut. Deretan ombak serupa dengan tinggi 2 meter dan 3 meter dayanya sebesar 39 kw per meter panjang ombak. Untuk ombak dengan ketinggian 100 meter dan perioda 12 detik menghasilkan daya 600 kw per meter. Di Indonesia sendiri rata-rata ombak yang dihasilkan yaitu lebih dari 3 meter. Hal ini menandakan potensinya untuk menghasilkan energi gelombang sangat besar. Terutama

di wilayah pesisir selatan pulau jawa dan pulau sumatera. Ada empat teknologi energi gelombang yaitu sistem rakit Cockerell, tabung tegak Kayser, pelampung Salter, dan tabung Masuda. Yang ketiga yaitu energi pasang surut. Di indonesia selisih tinggi antara pasang dan surut bisa mencapai 3 meter. Hal ini juga sangat mendukung indonesia untuk mengembangkan konversi akan energi samudera ini. Pada pemanfaatan energi ini diperlukan daerah yang cukup luas untuk menampung air laut (reservoir area). Namun, sisi positifnya adalah tidak menimbulkan polutan bahan-bahan beracun baik ke air maupun udara. Berdasarkan estimasi kasar jumlah energi pasang surut di samudera seluruh dunia adalah 3.106 MW. Khusus untuk Indonesia beberapa daerah yang mempunyai potensi energi pasang surut adalah Bagan Siapi-api, yang pasang surutnya mencapai 7 meter. Sistem pemanfaatan energi pasang surut pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu kolam tunggal dan kolam ganda. Pada sistem pertama energi pasang surut dimanfaatkan hanya pada perioda air surut (ebb period) atau pada perioda air naik (flood time). Sedangkan sistem yang kedua adalah kolam ganda kedua perioda baik sewaktu air pasang maupun air surut energinya dimanfaatkan.

II.

Potensi Ombak Sebagai Sumber Energi Listrik Energi ombak adalah energi alternatif yang dibangkitkan melalui efek osilasi

tekanan udara (pumping effect) di dalam bangunan chamber (geometri kolom) akibat fluktuasi pergerakan gelombang yang masuk ke dalam chamber. Berkaitan dengan hal tersebut pada 22 Juni 2007 bertempat di Parang Racuk Yogyakarta telah diresmikan Technopark Parang Racuk melalui Uji Operasional PLTO (Pembangkit Listrik Tenaga Ombak) pada Kondisi Air Pasang oleh BPPT. Hasil survei hidrooseanografi di wilayah perairan Parang Racuk menunjukkan bahwa sistem akan dapat membangkitkan daya listrik optimal jika ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalam 4m-11m. Pada kondisi ini akan dapat dicapai putaran turbin antara 3000-700rpm. Posisi prototip II OWC (Oscilating Wave Column) masih belum mencapai lokasi minimal yang diisyaratkan, karena kesulitan pelaksanaan operasional alat mekanis. Posisi ideal akan dicapai melalui pembangunan prototip III yang berupa sistem OWC apung. Kegiatan ini dimulai pada tahun 2005 dan telah menghasilkan Sistem Pengendali Berbasis DC dengan kapasitas 3500 KW. Pada saat ini sistem tersebut telah dipasang di Baron Energy Park - BPPT dan Parang Racuk yang siap diujicoba (OT&E) bersama UPT LAGG yang mengembangkan wind turbine serta BPDP yang mengembangkan OWC System.

Gambar 1. PLTO di Parang Racuk Yogyakarta (Sumber: Wisata Gunungkidul)

Gambar 2. PLTO Parang Racuk (Sumber: eocommunity.com)

Yogyakarta merupakan daerah di Indonesia yang memiliki potensi gelombang laut terbesar dibanding daerah lainnya. Pantai Selatan di daerah Yogyakarta memiliki potensi gelombang 19 kw/panjang gelombang). Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut di daerah Yogyakarta dikembangkan oleh BPPT khususnya BPDP (Balai Pengkajian DinamikaPantai). Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut ini menggunakan metode OWC (Ocillating Water Column).

Gambar 3. Skema Oscillating Water Column

Prinsip kerja dari Oscillating Water Column ini adalah tekanan udara yang dihasilkan dari pergerakan naik-turunnya permukaan air di dalam chamber dapat menggerakkan turbin yang dipasang di bagian ujung bangunan. OWC di Yogyakarta ini memiliki efisiensi sebesar 11%. Unsur yang paling penting dari instalasi PLTO adalah pada pemodifikasian saluran air masuk, kemudian dinaikkan di penampungan. Bangunan ini terdiri dari dua unit, yaitu kolektor dan konvertor. Kolektor berfungsi menangkap ombak, menahan energinya semaksimal mungkin dan mengarahkan gelombang itu ke konverter. Oleh converter yang ujungnya meruncing, air diteruskan menuju ke penampungan. Saluran ini dinamai tapchan, kependekkan dari tappered channel atau saluran penjebak. Setelahair terkumpul, tahap berikutnya tidak jauh berbeda dengan mekanisme kerja yang ada pada pembangkit listrik umumnya. Banyak manfaat yang bisa dipetik dari teknologi PLTO. Selain hemat biasanya investasi dan biaya operasional, pembangkit listrik tersebut juga ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan limbah padat, cair, maupun gas. Bahkan, kolam penampungannya dapat digunakan untuk budidaya ikanair laut. Selain memanfaatkan ombak, energi listrik ternyata juga bisa diperoleh dari arus laut. Arus laut mempunyai kelebihan dibanding gelombang, karena bisa dihitungdan diperkirakan. Untuk wilayah Indonesia, energi arus laut memiliki prospek yang cukup baik karena Indonesia memiliki banyak pulau dan selat. Ketika melewati selat yang sempit, arus laut mengalami percepatan sebagai akibat dari interaksi bumi-bulan-matahari. Energi inilah yang digunakan untuk menggerakkan roda gigi generator sehingga dapat menghasilkan setrum (arus/energi/tenaga listrik). Energi arus laut bersifat ramah lingkungan, juga mempunyai intensitas energi kineticyang besar. Karena kerapatan air laut 830 kali lipat dibandingkan dengan udara sehingga daun turbin arus laut akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan daun turbin angin. Turbin arus laut juga tidak memerlukan rancangan struktur dengan kekuatan berlebihan seperti halnya turbin angin yang dirancang dengan memperhitungkan adanya angin topan.

Insinyur ENERGY Devon Alvin Smith, dari Ecotricity sebuah perusahaan energi alternatif berbasis di Inggris, telah menciptakan SeaRaser yang dapat menyediakan energi terbarukan dengan biaya rendah. SeaRaser memanfaatkan ombak laut untuk menciptakan listrik sesuai permintaan. SeaRaser terdiri dari dua pelampung yang naik turun digerakkan oleh ombak laut.Pelampung ini memompa air laut secara bergiliran melalui pipa menuju ke turbin di darat. Sistem ini sederhana, bersih, murah. Ecotricity percaya itu bisa menjadi cara paling murah di dunia untuk menghasilkan listrik (bahkan dibandingkan dengan bahan bakar fosil). Kebanyakan teknologi pembangkit listrik berbasis air laut terhambat oleh satu faktor yang sangat sederhana yaitu listrik dan air tidak dapat bersatu dan air laut yang korosif, akibatnya butuh biaya yang sangat mahal untuk perawatan generator. SeaRaser menghilangkan masalah ini dengan menempatkan sebagian besar peralatan listrik di darat, di mana mereka terlindungi dan mudah dirawat. SeaRaser juga bisa memasok energi sesuai permintaan dengan memompa air laut ke dalam reservoir di pantai, di mana turbin tenaga air dapat menghasilkan energi ekstra untuk jaringan listrik.

Gambar 4. Skema SeaRaser. Indonesia diperkirakan diperkirakan bisa mengonversi per meter panjang pantai menjadi daya listrik sebesar 20-35 kW (panjang pantai Indonesia sekitar 80.000 km, yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, dan sekitar 9.000 pulau-pulau kecil yang tidak terjangkau arus listrik nasional, dan penduduknya hidup dari hasil laut). Dengan perkiraan potensi

semacam itu, seluruh pantai di Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 2~3 Terra Watt Ekuivalensi listrik, bahkan tidak lebih dari 1% panjang pantai Indonesia (~800 km) dapat memasok minimal ~16 GW. Angka ini masih mampu mencukupi total kebutuhan listrik Indonesia pada tahun 2011, kurang lebih 7,8 GW.

III.

Potensi-Potensi Samudra sebagai Sumber Energi Variasi prinsip teknologi ini dikembangkan di Jepang dengan nama Mighty Whale

Technology. Di Skotlandia, Inggris Raya, telah dibangun pembangkit tenaga gelombang laut yang menggunakan teknologi ini. Pembangkit yang selesai dibangun pada 2000 ini dilengkapai listrik sampai 500 kW. Selain itu, di Denmark dikembangkan pula teknologi pembangkit tenaga gelombang laut yang disebut wave dragon, prinsip kerjanya mirip dengan tapered channel. Perbedaannya pada wave dragon, saluran air dan turbin generator diletakkan di tengah bak penampung sehingga memungkinkan pembangkit dipasang tidak di pantai.

Gambar 5. Mighty Whale Technology (Sumber: Jamstec) Pembangkit-pembangkit tersebut kemudian dihubungkan dengan jaringan

transmisi bawah laut ke konsumen. Hal ini menyebabkan biaya instansi dan perawatan pembangkit ini mahal. Meskipun demikian pembangkit ini tidak menyebabkan polusi dan

tidak memerlukan biaya bahan bakar karena sumber penggeraknya energi alam yang bersifat terbarukan.

IV.

Kendala Penerapan Teknologi Energi Laut di Indonesia Teknlogi pembangkit listrik pasang surut (PLPS) ini mungkin sudah dikuasai penuh

oleh bangsa Indonesia, karena prinsipnya tidak berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti di waduk Jatiluhur dan waduk-waduk lainnya. Air laut ketika pasang ditampung dalam suatu wilayah yang di bendung dan pada waktu pasang surut air laut dialirkan kembali ke laut. Pemutaran turbin dilakukan dengan memanfaatkan aliran air ketika masuk ke dalam dam dan ketika keluar dari dam menuju laut. Kendala utama penerapan teknologi PLPS ini ada dua (selain faktor biaya tentunya), pertama Pemerintah belum pernah memanfaatkan energi pasang surut ini untuk menghasilkan listrik. Sehingga tenaga ahli kita yang telah menguasai teknolgi pembangkit listrik tenaga air belum pernah merancang dan menerapkan atau membangun secara langsung dari awal. Kedua, untuk pembangunan ini akan merendam wilayah yang luas, apalagi bila harus merendam beberapa desa disekitar muara atau kolam. Disisni akan muncul masalah sosial, bukan masalah teknologi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para insinyur Indonesia untuk penerapan tekknologi ini adalah efisiensi propeler ketika air masuk dan air keluar. Kalau di PLTA arah air penggerak turbin hanya satu arah, sedangkan pada pembangkit listrik pasang surut ini dari dua arah. Hal kedua yang menjadi perhatian, adalah material yang dipergunakan. Untuk air laut diperlukan material khusus disesuaikan dengan kadar garam dan kecepatan airnya Kapasitas listrik yang dihasilkan oleh PLPS ini sebaiknya untuk kapasitas besar (> 50 MW), agar bisa ekonomis seperti PLTA. Sayangnya sumber energi PLPS ini banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai dari Ambon hingga ke Papua. Di wilayah ini kebutuhan lsitrik masih kecil dan membutuhkan power cable bawah laut yang sangat panjang untuk bisa membawa listrik ke pulau Sulawesi yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.