Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ILLUMINASI

PERANCANGAN ILLUMINASI RUANG KELAS

KELOMPOK I: Nurmayanti Zain Rahmatullah M. Sudirman Maliang Ismandiandy Anugrah Dwi A Risnayati Mustafa A.Radhia B. Ronda [D41107052] [D41104041] [D41106007] [D41106089] [D411070XX] [D41107054] [D41107061]

Aflaha Purnamasari [D41107085] A.Asmi Pratiwi Fikha Christine [D41107087] [D41107108]

Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin 2009

BAB I PENDAHULUAN

Pencahayaan (illuminasi) adalah suatu aspek penting bagi keselamatan kerja. Pencahayaan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat obyek-obyek yang dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upayaupaya tidak perlu. Lebih dari itu, penerangan yang memadahi memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Sejak dimulainya peradaban hingga sekarang, manusia meciptakan cahaya hanya dari api,walaupun lebih banyak sumber panas daripada cahaya. Di abad ke 21 ini kita masihmenggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya melalui lampu pijar.Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih danberaneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 -45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10% untukpemakaian energi total oleh plant industri. Hampir kebanyakan pengguna energi komersial danindustri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan. Seringkali, penghematan energiyang cukup berarti dapat didapatkan dengan investasi yang minim dan masuk akal. Mengganti lampu uap merkuri atau sumber lampu pijar dengan logam halida atau sodium bertekanan tinggiakan menghasilkan pengurangan biaya energi dan meningkatkan jarak penglihatan. Memasangdan menggunakan kontrol foto, pengaturan waktu penerangan, dan sistim manajemen energi jugadapat memperoleh penghematan yang luar biasa. Walau begitu, dalam beberapa kasus mungkin perlu mempertimbangkan modifikasi rancangan penerangan untuk mendapatkan penghematanenergi yang dikehendaki. Penting untuk dimengerti bahwa lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien. Pencahayaan Merata Mengurangi Perubahan Cahaya Mengapa? a. Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu yang menimbulkan kelelahan b. Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan fariasi penerangan kecil c. Penting untuk mencegah kelap kelip, karena melelahkan mata d. Bayangan pada permukaan benda kerja menyebabkan hasil kerja buruk, produktifitas rendah. gangguan dan kelelahan mata, dan kecelakaan. Bagaiman caranya? a. Hilangkan kap karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja

b. Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang c. Gunakan cahaya alamiah d. Kurangi zone bayangan dengan pemaasangan lampu, pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja e. Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar.

BAB II PERANCANGAN PENCAHAYAAN RUANG KELAS

Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut: 1. Pijar padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu 1000K. Intensitas meningkat dan penampakan menjadi semakin putih jika suhu naik. 2. Muatan Listrik: Jika arus listrik dilewatkan melalui gas maka atom dan molekulmemancarkan radiasi dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada. 3. Electro luminescence: Cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui padatantertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor. 4. Photoluminescence: Radiasi pada salah satu panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu padatan, dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang. Bila radiasi yangdipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat maka radiasi tersebut disebut fluorescence atau phosphorescence. Cahaya nampak, seperti yang dapat dilihat pada spektrum elektromagnetik, diberikan dalam Gambar 1, menyatakan gelombang yang sempit diantara cahaya ultraviolet (UV) dan energy inframerah (panas). Gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan cahaya yang nampak.

Intensitas Radiasi

Cahaya hanya merupakan satu bagian berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang keangkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dapat dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya. Cahaya adalah energi Radian yang dapat merangsang retina mata, sehingga menghasilkan penglihatan. Sedangkan energi Radian adalah energi yang dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetis. Cahaya hanya merupakan satu bagian berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dapat dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya. Dalam suatu ruangan biasanya dipasang lampu-lampu secara sistematis untuk menghasilkan harga illuminasi tertentu sesuai yang dibutuhkan. Penerangan yang dihasilkan ini dinamakan penerangan umum. Ada kalanya dalam ruangan tersebut ada tempat-tempat tertentu misalnya meja gambar, atau mesin kerja membutuhkan tingkat illuminasi lebih besar dari penerangan umum yang ada sehingga ditempat tersebut dipasang tambahan lampu, khusus menerangi lokasi tertentu dimaksud. Penerangan tambahan ini dinamakan penerangan suplemen. Perbandingan terang antara daerah penerangan suplemen dan daerah penerangan umum tidak boleh lebih dari (3:1). Sebuah unit penerangan yang komplit termasuk satu atau lebih lampu dan perlengkapan kontrol cahayanya dinamakan luminair. Effisiensi penerangan sebuah luminair dinyatakan sebagai perbandingan antara output cahaya (lumen) dari satu unit komplit luminair tersebut dengan output cahaya ( lumen ) lampu sendiri. Luminair dapat dikelompokan atas lima kelas utama distribusi cahaya dengan prosentase output cahaya darinya diperlihatkan sebagai berikut : Kurva distribusi cahaya Kelas distribusi cahaya (sistim penerangan) Prosentase distribusi Cahaya Langsung 90 % s.d 100 % ke bawah (ke bidang kerja) Semi langsung 60 % s.d 90 % ke bawah (ke bidang kerja) Umum 40 % s.d 60 % ke atas atau ke bawah Semi tidak langsung 60 % s.d 90 % ke atas (ke langit langit) Tidak langsung 90 % s.d 100 % ke atas (kelangit-langit).

Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Sistem pencahayaan di ruangan, termasuk di ruang kelas dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu: 1. Sistem Pencahayaan Langsung (direct lighting) Sistim penerangan langsung memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Efisiensi pemanfaatan cahaya pada bidang kerja, tinggi.

b. Dapat menyebabkan efek bayangan. c. Arah pancaran cahaya harus dikontrol secara akurat. d. Menyebabkan kesilauan dari cahaya langsung ataupun dari cahaya pantulan. e. Kecerahan (terang) yang distribusikan tidak merata. Sistem penerangan langsung umumnya digunakan di industri dan juga digunakan sebagai penerangan outdoor. Antara 90 % sampai dengan 100 % cahaya diarahkan langsung ke bidang kerja dengan bantuan deep reflector. Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi. Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya. Untuk efek yang optimal, disarankan langi-langit, dinding serta benda yang ada didalam ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan. 2. Pencahayaan Semi Langsung (semi direct lighting) Pada sistim penerangan semi langsung, sekitar 60 % sampai dengan 90 % cahaya diarahkan langsung ke bidang kerja dengan bantuan semi direct reflector. Sisa cahaya lainnya digunakan untuk menerangi langit-langit dan dinding. Jenis sistim penerangan ini cocok digunakan sebagai penerangan ruangan dengan langit-langit yang tinggi, dimana ruangan tersebut membutuhkan tingkat illuminasi yang tinggi. Pengaruh kesilauan pada sistim penerangan ini dapat dihilangkan dengan memasang diffusing globe yang berfungsi memperbaiki kecerahan kearah mata, dan sekaligus memperbaiki efisiensi sistim penerangan kebidang kerja. Pada sistim penerangan umum, bola lampu penerangannya menggunakan diffusing glass sehingga pancaran cahaya yang dihasilkan terdistribus i merata kesegala arah. Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi. Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki effiesiean pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putih effisien pemantulan antara 5-90%. 3. Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting) Pada sistem ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada benda yang perlu disinari, sedangka sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dindng. Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui. 4. Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (semi indirect lighting) Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas dipantulkan secara diffuse ke bidang kerja dan sisa cahaya lainnya diarahkan langsung ke bidang kerja. Untuk hasil yang optimal disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik.

Effek bayangan pada sistim penerangan ini dapat diperhalus dan tidak menimbulkan pengaruh kesilauan pada mata. umumnya sistim penerangan semi tidak langsung digunakan sebagai penerangan dekorasi indoor. 5. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting) Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja. Umumnya sistim penerangan ini digunakan sebagai penerangan dekoratif pada gedung-gedung pertunjukan, theatre, hotel dan lain sebagainya. Sistim penerangan ini juga dapat digunakan pada workshop yang memiliki mesin-mesin besar atau tempat lainnya dimana pengaruh kesilauan dipandang sangat membahayakan pekerja.Banyak faktor risiko di lingkungan kerja yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja salah satunya adalah pencahayaan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1405 tahun 2002, pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Pencahayaan minimal yang dibutuhkan menurut jenis kegiatanya seperti berikut: Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penataan illuminasi ruang kelas adalah sebagai berikut: Pemantulan cahaya Pembiasan cahaya Transmisi cahaya Cahaya siang hari

KUAT PENERANGAN Sebagian dari cahaya yang mengenai suatu permukaan akan diserap oleh permukaan itu. Bagian yang diserap menimbulkan panas pada permukaan tersebut. Permukaan yang gelap dan buram menyerap banyak cahaya. Bagian flux cahaya yang diserap oleh suatu permukaan ditentukan oleh faktor absorpsi permukaan. flux cahaya yang diserap a = flux cahaya yang mengenai permukaan. Dengan adanya penyerapan yang dilakaukan permukaan maka kita harus bisa mensiasati penerangan-penerangan yang seperti apa pada masing-masing ruangan. 1. Kantor Ruang gambar 2000 lux 1000 lux Ruang kantor (untuk pekerjaan kantor biasa, melayani mesin-mesin kantor) 1000 lux 500 lux Ruangan yang tidak digunakan terus-menerus untuk pekerjaan (rnanganarsip, tangga, gang, ruangan tunggu) 250 lux 150 lux 2. Ruangan sekolah Ruangan kelas 500 lux 250 lux

Ruangan gambar 1000 lux 500 lux Ruangan untuk pelajaran jahit-menjahit 1000 lux 500 lux 3. Industri Pekerjaan sangat halus (pembuatan jam tangan, instrumen kecil dan halus, mengukir) 5000 lux 2500 lux Pekerjaan halus (pekerjaan pemasangan halus, kempa halus, poles) 2000 lux 1000 lux Pekerjaan biasa (pekerjaan bor, bubut kasar, pemasangan biasa) 1000 lux 500 lux Pekerjaan kasar (menempa dan menggiling) 500 lux 250 lux

JENIS PENCAHAYAAN Bagian ini menjelaskan berbagai jenis dan komponen sistim pencahayaan. 1. Lampu Pijar (GLS) Lampu pijar bertindak sebagai badan abu-abu yang secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir seluruhnya terjadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah menekan terjadinya penguapan. Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9/1. Kripton atau Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga, dan jika penampilan merupakan hal yang penting. Gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat pijar, sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting. Lampu yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat timah. Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi. Jika

patahnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya.

Ciri-ciri: a.Efficacy 12 lumens/Watt b. Indeks Perubahan Warna 1A c. Suhu Warna - Hangat (2.500K 2.700K) d. Umur Lampu 1-2.000 jam 2. Lampu TungstenHalogen Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu. Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap. Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada

daerah pendinginan dari kawat pijar bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam. 3. Lampu TungstenHalogen Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu. Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap. Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.

Lampu tungsten Ciri-ciri: a. Efficacy 18 lumens/Watt b. Indeks Perubahan Warna 1A c. Suhu Warna Hangat (3.000K-3.200K) d. Umur Lampu 2-4.000 jam 4. Lampu Neon Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien daripada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan menyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun kebanyakan akan berupa UV pada 253,7nm dan 185nm. Bagian dalam dinding kaca memiliki pelapis tipis fospor, hal ini dipilih untuk menyerap radiasi UV dan meneruskannya ke daerah nampak. Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%. Tabung neon merupakan lampu katode panas, sebab katode dipanaskan sebagai bagian dari proses awal.

Katodenya berupa kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat. Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan elektron tambahan untuk membantu pelepasan. Lapisan ini tidak boleh diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang. Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil, biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini memungkinkan tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan karena memiliki fitting yang kompak.

Lampu Neon (Flourisence) Ciri-ciri: a. Efficacy 18 lumens/Watt b. Indeks Perubahan Warna 1A c. Suhu Warna Hangat (3.000K-3.200K) d. Umur Lampu 24.000 jam.

PERANCANGAN ILLUMINASI Setiap pekerjaan memerlukan tingkat pencahayaan pada permukaannya. Pencahayaan yang baik menjadi penting untuk menampilkan tugas yang bersifat visual. Pencahayaan yang lebih baik akan membuat orang bekerja lebih produktif. Membaca buku dapat dilakukan dengan 100 to 200 lux. Hal ini merupakan pertanyaan awal perancang sebelum memilih tingkat pencahayaan yang benar. CIE (Commission International de lEclairage) dan IES (Illuminating Engineers Society) telah menerbitkan tingkat pencahayaan yang direkomendasikan untuk berbagai pekerjaan. Nilai-nilai yang direkomendasikan tersebut telah dipakai sebagai standar nasional dan internasional bagi perancangan pencahayaan (Tabel diberikan di bawah). Pertanyaan kedua adalah mengenai kualitas cahaya. Dalam kebanyakan konteks, kualitas dibaca sebagai perubahan warna. Tergantung pada jenis tugasnya, berbagai sumber cahaya dapat dipilih berdasarkan indeks perubahan warna.Proses rancangan pencahayaan tahap demi tahap digambarkan dibawah dengan bantuan contoh. Gambaran berikut menunjukan parameter ruang yang khusu

Tata letak lampu Tahap 1: Tentukan penerangan yang diperlukan pada bidang kerja, jenis lampu dan luminer. Pengkajian awal harus dibuat terhadap jenis pencahayaan yang dibutuhkan, seringkali keputusan dibuat sebagai fungsi dari estetika dan ekonomi. Untuk pekerjaan kantor yang normal, dibutuhkan pencahayaan 200 lux. Untuk ruang kantor yang berAC, dipilih lampu neon 36 W dengan tabung kembar. Luminernya berlapis porselen yang cocok

untuk lampu yang diletakkan diatas. Penting untuk memperoleh tabel factor penggunaan untuk luminer ini dari pembuatnya untuk perhitungan lebih lanjut. Tahap 2: Perhitungan indeks ruangan.

Tahap 3: Perhitungan faktor Penggunaan. Faktor penggunaan didefinisikan sebagai persen dari lumen lampu kosong yang mengeluarkan cahaya dan mencapai bidang kerja. Faktor ini bertanggungjawab langsung terhadap cahaya dari luminer dan cahaya yang dipantulkan permukaan ruangan. Fihak pabrik akan memasok setiap luminer dengan tabel CU nya sendiri yang berasal dari laporan pengujian fotometrik. Dengan menggunakann tabel yang tersedia dari pabrik, ditentukan faktor penggunaan untuk pemasangan berbagai cahaya jika pantulan dari dinding dan langit-langit diketahui, indeks ruangan telah ditentukan dan jenis luminer diketahui. Untuk peralatan tabung kembar, faktor pengunaannya adalah 0,66, sesuai untuk indeks ruangan 2,5. Tahap 4: Perhitungan jumlah fitting. Perhitungan jumlah fitting yang diperlukan dengan penerapan rumus sebagai berikut:

Dimana: N = Jumlah fitting E = Tingkat lux yang diperlukan pada bidang kerja A = Luas ruangan (L x W) F = Flux total (Lumens) dari seluruh lampu dalam satu fitting UF = Faktor penggunaan dari tabel untuk peralatan yang digunakan LLF = Faktor kehilangan cahaya. Kehilangan ini disebabkan oleh penurunan keluaran lampu yang sudah lama dan penumpukan kotoran pada peralatan dan dinding bangunan. LLF = Lumen lampu MF x Luminer MF x Permukaan ruangan MF Tahap 5: Ruang luminer untuk mencapai keseragaman yang dikehendaki.

Setiap luminer akan memiliki ruang yang direkomendasikan terhadap perbandingan tinggi. Pada metodologi perancangan sebelumnya, perbandingan keseragaman, yakni perbandingan terang minimum terhadap terang rata-rata dijaga pada 0,8 dan ruang yang cocok untuk perbandingan tinggi ditentukan untuk mencapai keseragaman. Dalam perancangan modern memadukan efisiensi energi dengan tugas pencahayaan, konsep yang muncul adalah memberi keseragaman 1,5. Jika perbandingan aktual lebih dari nilai yang direkomendasikan, keseragaman pencahayaan akan menjadi lebih kecil. Contoh untuk peralatan yang pantas, mengacu ke gambar berikut. Luminer yang lebih dekat ke dinding besarnya harus setengah atau lebih kecil dari jarak spasi. 1/3 hingga 1/10 tergantung pada tugasnya. Nilai luminer diatas yang direkomedasikan adalah 1,5. Jika perbandingan aktual lebih dari nilai yang direkomendasikan, keseragaman pencahayaan akan menjadi lebih kecil. Contoh untuk peralatan yang pantas, mengacu ke gambar di bawah ini. Luminer yang lebih dekat ke dinding besarnya harus setengah atau lebih kecil dari jarak spasi.

Pemasangan Lampu Dengan Fitting (Rumah Lampu) a. Jarak spasi antara luminer = 10/3 = 3,33 meters b. Tinggi mounting = 2,0 m c. Perbandingan jarak spasi terhadap tinggi = 3,33/2,0 = 1,66 d. Nilai ini mendekati batas yang ditentukan, jadi diterima. Akan lebih baik bila memilih luminer dengan SHR yang lebih besar. Hal ini akan mengurangi jumlah peralatan dan beban pencahayaan yang terhubung. (sumber: http://www.scribd.com/doc/22976486/bab-III)

HASIL PERANCANGAN RUANG KELAS

Opsi 1. Ruang Kelas dengan ukuran panjang 8 lebar 4. Elemen bangunan yang ada yaitu Skylight dengan ukuran 1 x 0,75m dengan perletakan lampu arah memanjang dan dinding dilapisi wall

Opsi 2. Ruang Kelas dengan ukuran panjang 8 lebar 4. Elemen bangunan yang ada yaitu Skylight dengan ukuran 1 x 0,75m dengan pemasangan lampu melebar dan dinding dilapisi wall

3 DIMENSI BERDASARKAN DENAH Opsi I: Lampu dipasang memanjang

Opsi II: Lampu dipasang melebar

3 Dimensi berdasarkan illuminasi: Opsi I: Lampu dipasang memanjang

Opsi II: Lampu dipasang melebar