Anda di halaman 1dari 3

ANISOMETROPIA

Anisometropia berasal dari bahasa Yunani yang mengandung 4 komponen kata yaitu "an = tidak"," iso = sama," metr = ukuran," opia "mata." Jika diartikan secara singkat anisometropia adalah Ukuran mata tidak sama.

Sedangkan secara luas Anisometropia adalah suatu keadaan dimana mata mempunyai kelainan refraksi yang tidak sama pada mata kanan dan mata mata kiri. Dapat saja satu mata myopia sedang mata yang lainnya hypermetropia. Perbedaan kelainan ini paling sedikit 1.0 Dioptri. Jika terdapat anisometropia 2.5 - 3.0 Dioptri maka akan dirasakan terjadi perbedaan besar bayangan 5%, yang mengakibatkan akan terganggunya fusi. Pada keadaan ini dapat terjadi supresi penglihatan pada satu mata.

Fusi merupakan proses mental yang menggabungkankan bayangan yang dibuat oleh 2 mata untuk membentuk lapangan dimensi penglihatan binokuler. Pada kelainan refraksi atau satu mata lemah maka penglihatan binokuler menjadi lemah.

Akibat dari keadaan ini otak akan mencari yang mudah sehingga memakai kacamata yang tidak memberikan kesukaran untuk melihat. Sebab

anisometropia adalah kelainan konginetal atau akibat trauma bedah yang menimbulkan jaringan parut sehingga timbul astigmatisme.

Anisometropia akan mengakibatkan perbedaan tajam penglihatan aniseikonia dan aniseiforia.

-1-

Anisometropia pada hypermetropia lebih buruk dibanding pada myopia. Pada anak ia kan melihat terutama dengan mata yang jelas dan membiarkan penglihatan yang kabur atau lemah tidak melihat biasanya yang lebih hypermetropia sehingga mata tersebut menjadi ambliopia.

Pada anisometropia :

Kurang dari 1.5 D masih terdapat fusi dan penglihatan stereoskopik. Antara 1.5 - 3.0 D, jika terjadi kelelahan maka mata yang tidak dominan akan mengalami supresi.

Dengan anisometropia sumbu, dapat dikoreksi dengan kacamata. Apalagi dengan mengingat hukum Knapp.

Keluhan pada anisometropia


pasien dengan anisometropia akan memberikan keluhan : sakit kepala astenopia ( keadaan lelah, panas pada mata, berair, mata sakit, rasa tertekan)

silau atau fotofobia sukar membaca gelisah vertigo pusing lesu gangguan melihat ruang (dimensi)

Pengobatan terutama ditujukan pada pencegahan timbulnya ambliopia, aniseikonia dengan memakai lensa kontak dan jika terjadi phoria dipakailah

-2-

lensa prisma. Pengobatan anisometropia pada anak-anak dilakukan dengan pemberian lensa koreksi pada kacamata ukuran penuh, kemudian dilakukan latihan ortopik dan jika perlu dilakukan bebat mata.

Resep kacamata tetap mempertahankan perbedaan refraksi yang diukur. Sebagai contoh seseorang dengan kelainan refraksi untuk mata kanan adalah S+2.00 dan mata kiri S-2.00 dan merasa dapat melihat tanpa kacamata yang mungkin sekali ia senang memakai mata kanan. Maka bisa diberikan resep untuk mata kanan plano dan untuk mata kiri 4.00 D

Perubahan anisometropia dengan berjalannya waktu adalah 1/3 tetap, 1/3 berkurang, dan 1/3 hilang terutama jika keadaan didapatkan pada usia muda. Biasanya lebih memburuk pada matanya yang hypermetropia dibanding yang myopia. Mata yang hypermetropia ini akan menjadi ambliopia disertai essotropia atau juling kedalam.

Ametropia sumbu biasanya dapat dikoreksi dengan kacamata yang disesuaikan dengan hukum Knapp. Dimana jika lensa diletakkan didepan tidik fokal mata tidak akan merubah ukuran bayangan pada retina, dengan keadaan kacamata tidak mengakibatkan aniseikonia.

Untuk lebih detil dan memahami tentang kelainan refraksi sebaiknya memiliki buku Rehabilitasi Kelainan Refraksi (RKR)

-3-