Anda di halaman 1dari 38

3.

Histologi Sistem Pencernaan Unggas Posted by INK Bes Rongga Mulut Ayam tidak memiliki pallatum mole, karenanya rongga mulut dan faring praktis jadi satu disebut orofaring. Selaput lendirnya terdiri dari selaput lendir kutan dengan epitel yang mengalami pertandukan didaerah punggung lidah, langit-langit sampai laring. Pada tunika propria terdapat kelenjar mukous dan folikel getah bening yang tersebar merata. Ayam tidak memiliki gigi, bibir dan pipi, sebagai gantinya adalah paruh. Suatu modifikasi dari kulit seperti halnya dengan kuku dan tanduk pada kuda dan sapi. Paruh ayam terdiri dari 4 lapis yakni : tulang , kutis dan epidermis yang bertnaduk. Pada pangkal paruh dan selaput lendir orofaring terdapat ujung saraf dalam bentuk korpuskulus Grandy dan korpuskulus Herbat. Lidah berbentuk memanjang dan runcing dengan punggung yang bertanduk. Putik pengecap tidak terdapat pada lidah ayam, tapi sel-sel pengecap banyak terdapat tersebar pada lidah, palatum durum dna paruh. Tetapi peranannya masih diragukan diduga hanya sebagai penangkap singgungan. Tapi burung merpati mempunyai putik pengecap pada lidahnya. Kelenjar air liur banyak ragamnya, ada beberapa kelenjar yang dianggap membentuk kelompok kelenjar airliur yaitu : - Glandula Maxillares, pada langit-langit - Glandula Palatinae pada sekitar permuaraan rongga hidung

- Glandula Submandibulares anterior dan posterior. - Glandula linguales pada lidah - Glandula Spheno-pterygoidens, pada atas laring - Glandula Croco-aryteniodea, disekitar laring Kelenjar tersebut semuanya berbentuk mirip satu dengan lainnya. Ujung kelenjar bersifat mukous dan mempunyai epitel silindris, sitoplasmanya pucat dan berbusa sekretanya adalah lendir dialirkan melalui alat penyalur kedalam rongga mulut. 2. Lambung Pada ayam dikenal adanya : Lambung kelenjar (proventriculus) dan lambung otot (Gizzard / ventriculus). a. Lambung kelenjar : Secara mikroskopis, sinus kelenjar membentuk lipatan-lipatan selaput lendir konsentris dengan epitel silindris. Dibagian dalam sinus kelenjar membentuk sinus colligentes yang merupakan penampung sekreta dari kelenjar yang tersusun secara radier. Ujung kelenjarnya berbentuk buluh (tubulus) bercabang dengan epitel kubis. Diantara ujung kelenjar terdapat jaringan ikat yang

banyak mengandung pembuluh darah dan limfosit, muskularis mukosa berbatasan dengan tunika muskularis. b. Lambung otot Secara makroskopis berbentuk sebagai lensa biconveks.

Dindingnya tebal dan terdiri atas otot polos dengan laterap aponeorosis. Pada mukosa terdapat kelenjar tubulus bercabang dengan epitel kubis. Sekreta kelenjar ini setelah sampai di lumen lambung mengeras membentuk keratinoid plate. Tebalnya kira-kira 1 mm dengan permukaan yang kasar. Dalam lumen lambung otot sering dijumpai benda kasar misalnya kerikil atau pecahan kaca yang membantu menghancurkan makanan berbentuk butiran. 3. Usus Halus Secara anatomis duodenum membentuk huruf U dengan pankreas pada lekuk dalamnya. Secara mikroskopis hampir sepanjang usus ayam selaput lendirnya membentuk villi, dan pada duodenum paling tinggi kira-kira 1-1,5 mm. Semakin kebelakang menjadi semakin rendah dan tebal. Susunan vili mirip pada mammalia dengan epitel silindris dan sel mangkok diantaranya. Hanya saja pada tunika propria tersebar jaringan limfoid yang hampir merata dengan sel eosinofil. Kelenjar lieberkhun relatif pendek.

Muskularis mukosa terdiri dari otot polos yang tersusun memanjang dan dibawahnya terdapat sub mukosa tanpa adanya kelenjar Brunner. Tunika muskularis interna tersusun melingkar dan lebih tebal dari tunika muskularis eksterna. 4. Usus Kasar (Colorectum) Ditandai dengan tempat bermuaranya caecum. Colorectum ini pendek saja dan segera bermuara pada cloaca, yang berakhir pada anus, Caecum pada ayam panjangnya 15-25 cm, pada burung merpati 5-6 cm. Tempat permuaraan caecum ini menyempit karena dilengkapi dengan sphincter. Pada mukosa tersebar banyak limfosit membentuk folikel dan membentuk penonjolan selaput lendir. Cloaca terbagi dalam 3 daerah yakni : Koprodeum, Urodeum dan Proktodeum. 5. Hati Hati ayam dibandingkan dengan besar tubuhnya relatif besar. Warnanya coklat tua dan terdiri dari 2 lobus. Struktur umum mirip dengan hati mammalia dengan lobulasi kurang jelas. Kapsula tipis, jaringan interlobularis tipis dan agak jelas pada segitiga kiernan. Limfosit dan leukosit banyak terdapat pada stroma hepatitis. Susunan sel hati yang radier dalam lobulus kurang jelas, sebaliknya sinusoid lebih jelas.

Ayam memiliki kantung empedu dengan selaput lendir membentuk lipatan. Epitel permukaan selaput lendir silindris sebaris dan pada tunika propria tidak terdapat kelenjar Tunia muskularis agak tipis tetapi serosa relatif tebal. 6. Pankreas Kelenjar pankreas ayam cukup jelas. Lobulasi cukup jelas tapi jaringan ikat interlobuler tipis. Sel asinus ujung kelenjar berbentuk piramid dengan butir sekreta mengumpul didaerah kutub bebas. Inti di basal dan tampak sel sentroasiner. Pulau langerhans relatif lebih banyak dari pada mammalia, bahkan dapat dibedakan 2 bentuk yaitu pulau betha yang mengandung sel alpha tapi sedikit sel betha. Secara mikroskopik pulau alpha lebih besar dan pada jaringan interlobuler pankreas banyak terdapat jaringan limfoid. HATI Menurut Dellman (1971) hati (hepar) dianggap kelenjar yang paling besar dalam tubuh hewan dan memiliki fungsi banyak. Pada tahap kehidupan awal (intra uterin) hati berfungsi sebagai pembentuk bendabenda darah. Baru kemudian bangun hati disesuaikan dengan fungsinya sebagai kelenjar eksokrin dan mengatur metabolisme tubuh. Bahkan pendapat mutakhir mengatakan hati sebagai kelenjar endokrin, karena

mampum engadakan sintesa berbagai bahan yang selanjutnya dilepas kedalam aliran darh seperti halnya hormon. Letak hati yang strategis diantara usus dan aliran darah umum, menyebabkan hati menerima darah portal, yang mengangkut zat makanan dari usus halus, kecuali lemak yang diangkat melalui pembuluh khil. Jadi lemak akan melalui duktus thorasikus masuk aliran darah venosus dekat jantung (Delmann, 41 ; Ham, 74). Bahan makanan yang telah diserap setelah sampai dihati diolah dan keluar sebagai bahan baru dalam aliran darah umum. Sebagian bahan tersebut disimpan dlaam sel-sel tertentu dan selebihnya dipergunakan untuk metabolisme tubuh. Bersama makanan dapat pula terserap zat toksis yang setelah sampai dihati akan ditawar melalui oksidasi, hasil yang tidak berbahaya dibuang melalui empedu. Fungsi Hati Sebagai kelenjar eksokrin hati menghasilkan empedu, pada empedu terkandung pigmen, musim, asam empedu, garam empedu, lipoida, lesitin, kholesterol. Pada empedu sering terdapat sel epitel yang berasal dari saluran empedu (Bloom and Fawcett. 78). Mengatur kadar bahan-bahan tertentu misalnya : glukagon, kalsium dan sebagainya. Kadar glukosa diatur dengan cara melepas cadangan glikogen atau merubahnya melalui lemak atau protein.

Selain itu hati berfungsi : Sintesa komponen protein plasma darah, merubah karoten menjadi vitamin A dan menyimpannya, membentuk erythrocyt maturing faktor, membersihkan darah dari benda asing oleh sel kuffer pada sinusoid. Bangun Histologi Hati menurut Hurst and Brown. 1976 adalah sebagai berikut : Kapsula : Hati dibalut kapsula yang terdiri dari dua unsur, yakni Kapsula yang terdiri dari dua unsur, yakni Kapsula serosa terdiri dari serosa dan Kapsula fibrosa (Glisson capsule) yang terdiri dari jaringan ikat fibrous. Kapsula dibrosa ini tipis, tetapi menebal didaerah hilus (porta hepatis) yang menunjang pembuluh darah, saraf dan aliran empedu. Lobulus : Tiap lobulus dibatasi oleh jaringan ikat interlobularis, yang tebal pada babi sedangkan pada hewan lain misalnya : anjing, kucing, kambing, sapi, kuda, ayam tipis bahkan tidak jelas. Bentuk lobulus adalah heksagonal dan pada daerah antara 3 lobulus jaringan ikat interlobularis menebal membentuk segitiga kiernan (portal triad) didalamnya terdapat : arteria interlobularis, vena interlobularis dan duktus interlobularis. Parenkhim :

Parenkhim hati terdiri dari sel-sel hati yang membentuk laminae tersusun radier terhadap vena sentralis sebagai pusat lobulus. Diantara laminae terdapat sinusoid, suatu kapiler dengan lumen meluas dna dindingnya terdiri dari endotelial dan sel kuffer (sel RES) (Husrt and Brown, 1970). Sel hati berbentuk polihedral, diameter 20-25 mikron pada hewan dewasa, sedang pada hewan muda 2-7 mikron. Inti bulat terletak ditengah, dan tiap sel sering mempunyai lebih dari satu inti. Dengan perawrnaan HE pada sitoplasma sering tampak lubang-lubang yang sebenarnya suatu artefak, karena glikogen dan lemak yang larut pada proses pengerjaan sediaan. Untuk menunjukkan glikogen dan lemak pada sel hati diperlukan teknik pewarnaan khusus misalnya : Metode Best untuk glikogen, dan metode Sudan II atau asam osmeum untuk lemak. Secara mikroskop elektron terlihat pada inti dekat masa khromatin tampak butir-butir berukuran 300 A, dikelilingi daerah agak cerah disebut butir perikhromatin (perichromatin granules). Ternyata butir tersebut mengandung asam nuklein. Pada sitoplasma terdapat daerah Rough dan smmoth endoplasmik retikulum. Rough ER merupakan tempat sintesa protein daerah smmoth terdapat partikel-partikel glikogen Apparatus golgi terdapat berbatasan dengan kanalikuli empedu. Mithokondria tersebar lisosoma terdapat disekitar kanalikuli empedu.

Peranan lisosoma adalah untuk pencernaan intraseluler, khususnya untuk organoida dan bahan lain yang telah rusak. Kanalikuli empedu : Berbentuk saluran halus terdapat 2 atau 3 sel hati yang berbatasan. Karena sel hati membentuk laminae dan saling beranastosoma maka kanalikuli empedupun saling beranastomose. Secara mikroskopik elektron kanalikuli empedu berbentuk ruang meluas berdiameter 0,5 mikron, dindingnya terdiri dari membran plasma sel hati, yang memiliki mikrovilli menjulur kedalam lumen (Junqucira dkk, 1977 ; Mariano, 1981). Jalinan kanalikuli empedu akhirnya bermuara kedalam duktus intra lobularis dengan epitel pipih selapis. Selanjutnya empedu dialirkan kedalam duktus intelobularis pada segitiga kerinan. Saluran empedu : Pada saluran empedu yang agak besar epithelnya silindris sebaris dengan sel mangkok (Kuda dan kambing). Bahkan dibawah membran basal sering terdapat otot polos (ruminansia). Saluran empedu ekstrahepatis memiliki selaput lendir berkelenjar dengan epitel silindris sebaris dan sel mangkok. Pada tunika propria terdapat kelenjar serous (sapi) dan mukous pada hewan lain. Sering tampak pula adanya folikel getah bening. Tunika muskularis jelas didaerah permuaraan duodenum

membentuk diverticulum duodeni. Diverticulum duodeni adalah daerah permuaraan saluran empedu (ductus coledochus) dan saluran getah pankreas (ductus pancreaticus). Kantung empedu (Vesica fellea) Bekerja menampung empedu. Dengan banyaknya pembuluh darah dalam dindingnya diduga terjadi pengurangan air atau penambahan sesuatu seperti halnya pada ginjal. Selaput lendir membentuk lipatanlipatan, epitel permukaan berbentuk silindris sebaris dengan sel mangkok. Pada kutub bebasnya terdapat mikrovilli disebut Antennulae microvilares. Pada beberapa jenis hewan terdapat kelenjar serous dan mukous (Leeson and Leeson, 1976). Tunika muskularis terdapat 2 lapis, lapis dalam sering memberikan penjuluran kedalam mukosa, lapis luar lebih tebal dari lapis dalam. Kuda tidak memiliki kantong empedu. Empedu tetap dihasilkan tetapi langsung disekresikan kedalam duodenum lewat diverticulum duodeni. Pembuluh daran dan sinussoid (vaskularisasi) Sneel (1984) mengatakan hati seperti juga paru-paru mendapat 2 sumber vaskularisasi, satu bersifat nutritif dan dua bersifat fungsional. - Fungsi Nutritif :

Pemberian darah untuk kebutuhan jaringan hati melalui arteria hepatica, satu cabang dari aorta. Arteria hepatica memasuki hilus hati bercabang menjadi arteria interlobularis selanjutnya masuk lobulus menjadi sinussoid. - Fungsi Fungsional : Membawa darah yang mengandung zat-zat makanan yang diserap dari usus halus melalui vena porta. Vena porta memasuki hillus hati bercabang-cabang menjadi vena interlobularis, kemudian menjadi vena interlobularis (segi tiga kiernan) dan akhirnya memasuki lobulus menjadi sinussoid. Sampai pada sinusoid kedua sumber pembuluh darah bersatu darahnya bercampur. Zat-zat makanan diolah parenkhim hati pada benda asing dibersihkan oleh sel kuffer. Selanjutnya darah masuk kedalam vena sentralis, kemudian bergabung menjadi vena sub lobularis pada jaringan ikat interlobularis diluar segitiga kiernan. Vena terakhir bergabung menjadi vena hepatika dari hati dan bermuara kedalam vena cava caudalis . PANKREAS Pankreas adalah kelenjar kedua setelah hati yang berperan penting dalam pencernaan makanan, bahkan lebih penting lagi karena ikut mengatur

metabolisme hidrat arang. Pankreas adalah kelenjar ganda, yakni sebagai : - Kelenjar esokrin : Kelenjar pankreas sendiri mampu menghasilkan getah pankreas yang mengandung berbagai macam enzim, dan dialirkan kedalam Duodenum. - Kelenjar endokrin : Terdiri dari pulau Langerhans yang tersebar secara merata. Hormon yang dihasilkan berperan dalam metabolisme hidrat arang. Kelenjar pankreas terletak menempel pada Duodenum, kapsula kurang jelas karena mengandung jaringan ikat longgar dna lobulus yang cukup jelas. Bangun Histologi : Pankreas merupakan kelenjar tubuloasineus. Lobulasi cukup jelas dengan jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah dan saraf, dan saluran getah pankreas. Struktur ujung kelenjarnya mirip dengan kelenjar parotis. Adapun ciri-ciri kelenjar pankreas ini adalah sebagai berikut :

a. Epitel ujung kelenjar berbentuk piramid yang dapat dibedakan adanya dua daerah. Sitoplasma daerah basal mengambil warna gelap dengan biru metilin (basa) klarena mengandung banyak ribonukleoprotein, sedangkan sitoplasma daerah apeks berwarna agak cerah karena banyak mengandung butir skreta (zymogen). b. Pada lumen ujung kelenjar terdapat sel sentroasiner yang merupakan bagian dari duktus interkalatus yang menjorok ke dalam. c. Pankreas memiliki duktus interkalatus panjang yang langsung bermuara ke dalam duktus interlobularis diluar lobulus. Duktus striatus tidak terdapat pada pankreas. d. Pada ujung kelenjar pankreas dilengkapi oleh sel-sel myoepitel (Basket cells) e. Pankreas memiliki pulau langerhans. Dengan mikroskop elektron sel asinus ujung kelenjar menunjukkan, pada kutub basal terdapat rough ER dalam bentuk cysternae tersusun paralel. Ribosoma bebas banyak tersebar dalam sitoplasma. Struktur mitokhondria panjang dengan krista mitokhondria cukup jelas. Apparatus golgi terdapat supra nuklear. Lisosoma banyak terdapat disekitar golgi komplek.

Pada kutub bebas sel asinus mikrovilli, meskipun sedikit pendek. Sitoplasmanya banyak mengandung butir zymogen pada saat butir zymogen dieksresikan. Selaput hancur bersama membran plasma, sehingga sekreta berasfek homogen mengisi lumen asinus. Dan membran plasma akan terbentuk kembali. Pulau Langerhans Pankreas mammalia memiliki pulau Langerhans yang tersebar pada tiap lobulus, terutama pada ekor pankreas. Diameternya sekitar 100-400 mikron. Bangun Histologi Pulau Langerhans merupakan kumpulan sel dengan banyak pembuluh darah rambut, dipisah dari pankreas oleh jaringan ikat tipis. Susunan selnya tidak teratur dan mengambil warna lebih pucat dari sel-sel asinus. Dengan pewarnaan HE butir-butir sekreta tidak jelas, tapi dengan pewarnaan Mallory-azan dapat dibedakan : a. Sel alpha (Sel A) Bentuk selnya besar, inti lonjong dan dalam sitoplasma tersebar butir bersifat asidofil (merah) yang tidak larut dalam alkohol. b. Sel betha (sel B)

Sel serta butir sekretanya lebih kecil dari sel A tapi pada anjing jumlahnya lebih banyak, sekitar 75 % dari seluruh sel. Butir sekreta mudah larut dalam alkohol. Pada anjing, kelelawar dan manusia bentuk sel betha memberikan gambaran kristal dengan matrik cerah mengelilinginya. c. Sel Delta (sel C) Sel ini tidak banyak jumlahnya, memiliki butir sekreta berwarna biru. Pada anjing diperkirakan hanya 5 % saja. Butir sekretanya sedikit lebih besar dari sel A. d. Sel G Sel ini jarang sekali dijumpai, hanya tampak pada cavia, dan tidak memiliki butir sekreta sama sekali. Susunan sel-sel pada pulau Langerhans terdapat mengitari pembuluh darah kapiler. Butir sekretanya banyak terdapat pada sitoplasma ebrbatasan dengan kapiler. Dua hormon yang penting adalah : - Insulin : Hormon ini dihasilkan oleh sel betha, dan bekerja merangsang perubahan glukosa menjadi glikogen. Apabila tubuh kekurangan insulin, kadar glukosa darah naik (Diabetes Melitus) dan simpanan glikogen dalam otot berkurang. Diabetes yang tidak ditangani dapat

mempercepat kematian hewan. Pemberian Alloxan pada hewan percobaan dapat mernagsang kemunduran sel betha. - Glikogen : Hormon ini dihasilkan oleh sel alpha yang bekerja yang berlawanan dengan insulin. Bahan ini disebut Hyperglicemic-glycogenolytic factor, sebab dengan pemberian glukagon dapat mengurangi cadangan glikogen hati dan kadar glukosa darah naik. Pemberian kobal klorida berakibat mundurnya sel A sehingga produksi glukagon menurun. at 8:51 PM 0 comments: 4. Histologi Sistem Urinaria Posted by INK Bes SISTEM URINARIA Sistem perkencingan atau sistem urinaria meliputi : Ginjal, Vesika urinaria dan beberapa salurannya. 4.1 Ginjal / Ren Pada umumnya jumlah ginjal sepasang (dua buah) yang terdapat di dalam rongga perut, mempunyai bentuk menyerupai kacang buncis dengan hilus renalis yakni tempat masuknya pembuluh darah dan keluarnya ureter, mempunyai permukaan yang rata, kecuali pada sapi ginjalnya berlobus. Selubung ginjal (Ren) disebut kapsula ginjal,

tersusun dari campuran jaringan ikat yakni serabut kolagen dan beberapa serabut elastis. Struktur histologi ginjal pada berbagai jenis hewan piara tidak sama, sehingga bentuk ginjal dibedakan menjadi: Unilober atau unipiramidal : pada kelinci dan kucing mempunyai struktur histologi sama, yakni tidak dijumpai adanya percabangan pada kalik renalis, papila renalis turun ke dalam pelvis renalis, dan duktus papilaris bermuara pada kalik. Pada kuda, domba, kambing, dan anjing terjadi peleburan dari beberapa lobus, sehingga terbentuk papila renalis tunggal yang tersusun longitudinal. Multilober atau multipiramidal : bentuk ini dijumpai pada babi, sapi, dan kerbau. Lobus (piramid) dan papila renalis lebih dari satu jelas terlihat. Fungsi ginjal : 1. Membuang sisa hasil metabolisme dengan cara menyaring dari darah berupa air seni (urin) 2. Mengatur kadar air, elektrolit tertentu serta berbagai bahan lain dari darah 3. Membuang bahan yang berlebihan atau tidak lagi dibutuhkan tubuh

4. Sebagai kelenjar endokrin (sel juksta-glomeruli dan makula densa) yang mengatur hemodinamika serta tekanan darah dengan menghasilhan zat renin. 5. Fungsi ginjal erat hubungannya dengan paru-paru dan kulit dalam mempertahankan volume dan komposisi darah terhadap beberapa zat tertentu. Pada darah zat tersebut mempunyai nilai ambang yang konstan, dan bila melebihi nilai ambang, maka zat tersebut dibuang melalui ginjal, paru-paru, maupun kulit. Sinus renalis Disusun atas : 1. Pelvis renal, dibentuk oleh kalik mayor dan kalik minor. Pelvis ini merupakan bagian atas ureter yang melebar. 2. Arteri, vena dan nervus. 3. Lemak dengan jumlah sedikit dan tidak dijumpai jaringan konektif. Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua daerah, yaitu : Kortek (luar ) dan Medulla (dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi piramid yang juga disebut piramid medula hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortek diantara piramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal. Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak merah yang kecil (petikhie) yang

sebenarnya merupakan kumpulan vaskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan renal korpuskle atau badan malphigi. Kortek ginjal terdiri atas nefron pada bagian glomerulus, tubulus konvulatus proksimalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medula dijumpai sebagian besar nefron pada bagian loop of Henles dan tubulus kolektivus. Setiap ginjal mempunyai satu sampai empat juta filtrasi yang fungsional dengan panjang antara 30-40 mm yang disebut nefron. Renal Korpuskula Renal korpuskula terdiri atas berkas kapiler glomeruli dan glomerulus yang dikelilingi oleh kapsula berupa epithel yang berdinding ganda disebut : Kapsula Bowman. Dinding sebelah dalam disebut lapisan viseral sedangkan yang disebelah luar disebut lapisan pariental, yakni menerima cairan yang akan difiltrasi melalui dinding kapiler. Korpuskula renalis mempunyai katup vaskular dimana darah masuk ke arteriole aferent dan keluar melalui arteriole aferent. Tubulus Konvulatus Prokimalis

Struktur ini merupakan segmen berkelok-kelok, yang bagian awal dari tubulus ini panjangnya dapat mencapai 14 mm dengan diameter 57-60 . Tubulus konvulatus proksimalis biasanya ditemukan pada potongan melintang kortek yang dibatasi oleh epithel selapis kubis atau silindris rendah, dengan banyak dijumpai mikrovilli yang panjangnya bisa mencapai 1,2 dengan jarak satu dengan yang lainnya 0.03 . Karakteristik dari tubulus ini ditemukan apa yang disebut Brush Border, dengan lumen yang lebar dan sitoplasma epithel yang jernih. Loop of Henles Loop of Henles banyak dijumpai di daerah medula dengan diameter bisa mencapai 15 . Loop of henles berbentuk seperti huruf U yang mempunyai segmen tebal dan diikuti oleh segmen tipis. Pada bagian desenden mempunyai lumen yang kecil dengan diameter 12 panjang 1-2 mm, sedangkan bagian asenden mempunyai lumen yang agak besar dengan panjang 9 mm dengan diameter 30 . Epithel dari Loop of Henles merupakan peralihan dari epithel silindris rendah / kubus sampai squomus, biasanya pergantian ini terdapat di daerah sub kortikal pada medula, tapi bisa juga terjadi di daerah atas dari Loop of Henles. Tubulus Konvulatus Distalis

Perbedaan struktur histologi dengan Tubulus Konvulatus proksimalis antara lain : Sel epithelnya besar, mempunyai brush border, lebih asidofil, potongan melintang pada tempat yang sama mempunyai epithel lebih sedikit, Tubulus Konvulatus distalis : Sel epithel lebih kecil dan rendah, tidak mempunyai brush border, kurang asidofil, lebih banyak epithel pada potongan melintang Sepanjang perjalanan pada kortek, tubulus ini mengadakan hubungan dengan katup vaskuler badan ginjal dari nefronnya sendiri yakni dekat dengan anteriole aferent dan eferent. Pada tempat hubungan ini, tubulus distalis mengadakan modifikasi bersama dengan arteriola aferens. Segmen yang mengadakan modifikasi bersama dengan arteriola aferens. Segmen yang mengadakan modifikasi ini pada mikroskop cahaya tampak lebih gelap ini disebabkan dekatnya dengan inti disebut : Makula dense. Fungsi Makula dense belum begitu jelas, tapi beberapa ahli mengatakan, fungsinya adalah sebagai penghantar data osmolaritas cairan dalam tubulus distal ke glomerulus. Pada makula dense yang dekat dengan arteriola aferent mengandung sel juksta glomerulus yaitu sel yang mempunyai bentuk epitheloid dan bukan sel otot polos dan ini mungkin merupakan modifikasi dari otot polos. Sel ini yang nantinya menghasilkan enzim renin. Hormon ini mengubah

hipertensinogen menjadi hipertensin (angiotensin). Angiotensin mempengaruhi tunika media dari arteriola untuk berkontraksi, yang mengakibatkan tekanan darah menjadi naik. Tubulus kolektivus Tubulus kolektivus merupakan lanjutan dari nefron bagian tubulus konvulatus distalis dan mengisi sebagian besar daerah medula. Tubulus kolektivus bagian depan mempunyai lumen yang kecil berdiameter sekitar 40 dengan panjang 20-22 mm. Lumennya dilapisi epithel kubis selapis, sedangkan tubulus kolektivus bagian belakangnya sudah berubah menjadi bentuk silindris dengan diameter 200 , panjangnya mencapai 30-38 mm. Sirkulasi Darah Ginjal menerima darah dari arteria renalis yang masuk melalui hilus dan bercabang membentuk arteria interlobularis yang terletak antara piramid malpighi. Selanjutnya arteri ini bercabang lagi menjadi arteri arkuata dan bercabang lagi menjadi arteria interlobularis. Arteria Interlobularis bercabang lagi menjadi arteria aferent yang masuk ke glomerulus, selain itu ada juga arteri interlobularis melanjutkan diri menuju kapsula ginjal yang disebut arteri stelata.

Setelah darah mengalami filtrasi, maka akan keluar melalui arteriola eferent gromeruli. Cabang arteriol eferent akan memberikan makanan untuk tubulus dan daerah distal untuk kortek ginjal. Cabang arteriola eferent bersatu membentuk arteriola rekta, dari venula ini bersatu lagi menjadi vena interlobularis dan selanjutnya menjadi vena interlobularis yang akhirnya keluar ginjal melalui vena renalis. Pada manusia dengan berat badan 70 kg pada kedua buah ginjalnya dialiri darah sebanyak 1200 cc setiap menit Histofisiologi Ginjal Ginjal mempunyai fungsi yang sangat komplek, yakni sebagai filtrasi, absorpsi aktif maupun pasif, resorpsi dan sekresi. Total darah ke dua ginjal dapat mencapai 1200 cc/menit atau sebesar 1700 liter darah / hari. Semua ini akan difiltrasi oleh glomeruli dimana setiap menit dihasilkan 125 cc filtrat glomeruli atau 170 liter filtrat glomeruli setiap 24 jam pada ke dua ginjal. Dari jumlah ini beberapa bagian di resorpsi lagi keluar dari tubulus. Pada tubulus konvulatus proksimalis dan distalis terjadi proses resorpsi dan ekskresi, dimana beberapa bahan seperti : glukosa dan sekitar 50 % natrium klorida dan sejumlah air di resorpsi oleh sel tubulus melalui absorbsi aktif yang memerlukan energi, sedangkan air berdifusi secara pasif. Selanjutnya filtrat glomeruli yang tidak

mengalami resorpsi diteruskan ke distal sampai tubulus kolektivus. Pada daerah ini terjadi pemekatan urin atau pengenceran terakhir tergantung dari keadaan cukup tidaknya anti-diuretik hormon (ADH). Hormon ini berpengaruh terhadap permeabilitas tubulus kolektivus terhadap air. Pelvis Renalis Pada hilus renalis terdapat pelvis renalis yang menampung urin dari papila renalis. Pada ginjal yang multi-piramid urin pertama ditampung oleh kaliks renalis kemudian dari sini baru ke pelvis renalis. Bangun histologinya adalah sebagai berikut : Mukosa memiliki epithel peralihan dengan sel payung, mulai dari kaliks renalis, tebal epithel hanya 2 sampai 3 sel. Dengan mikroskop cahaya tidak tampak adanya membran basal tetapi dengan EM tampak membrana basalis yang sangat tipis. Propria mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dan pada kuda terdapat kelenjar yang agak mukus. Bentuk kelenjar adalah tubulo-alveolar. Tunika muskularis terdiri atas otot polos, jelas pada kuda, babi dan sapi. Lapis dalam tersusun longitudinal dan lapis luar sirkuler. Pada hewan lain otot relatif sedikit, pada kalises renalis otot relatif sedikit, tetapi pada daerah

permulaan ureter membentuk semacam sphinter. Tunika adventitia terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak sel lemak, pembuluh darah, pembuluh limfe serta saraf. 2. URETER Ureter adalah saluran tunggal yang menyalurkan urine dari pelvis renalis menuju vesika urinaria (kantong air seni). Mukosa membentuk lipatan memanjang dengan epithel peralihan, lapisan sel lebih tebal dari pelvis renalis. Tunika propria terdiri atas jaringan ikat dimana pada kuda terdapat kelenjar tubulo-alveolar yang bersifat mukous, dengan lumen agak luas. Tunika muskularis tampak lebih tebal dari pelvis renalis, terdiri dari lapis dalam yang longitudinal dan lapis luar sirkuler, sebagian lapis luar ada yang longitudinal khususnya bagian yang paling luar. Dekat permukaan pada vesika urinaria hanya lapis longitudinal yang nampak jelas. Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, ganglia sering terdapat didekatnya. Selama urine melalui ureter komposisi pokok tidak berubah, hanya ditambah lendir saja. Dinding ureter terdiri atas beberapa lapis, yakni: 1. Tunika mukosa : lapisan dari dalam ke luar sebagai berikut :

Epithelium transisional : pada kaliks dua sampai empat lapis, pada ureter empat sampai lima lapis, pada vesica urinaria 6-8 lapis. Tunika submukosa tidak jelas Lamina propria beberapa lapisan Luar jaringan ikat padat tanpa papila, mengandung serabut elastis dan sedikit noduli limfatiki kecil, dalam jaringan ikat longgar Kedua-dua lapisan ini menyebabkan tunika mukosa ureter dan vesika urinaria dalam keadaan kosong membentuk lipatan membujur. 2. Tunika muskularis : otot polos sangat longgar dan saling dipisahkan oleh jaringan ikat longgar dan anyaman serabut elastis. Otot membentuk tiga lapisan : stratum longitudinale internum, stratum sirkulare dan stratum longitudinale eksternum 3. Tunika adventisia : jaringan ikat longgar 3.VESIKA URINARIA Kantong air seni merupakan kantong penampung urine dari kedua belah ginjal Urine ditampung kemudian dibuang secara periodik. Struktur histologi :

1. Mukosa, memiliki epithel peralihan (transisional) yang terdiri atas lima sampai sepuluh lapis sel pada yang kendor, apabila teregang (penuh urine) lapisan nya menjadi tiga atau empat lapis sel. 2. Propria mukosa terdiri atas jaringan ikat, pembuluh darah, saraf dan jarang terlihat limfonodulus atau kelenjar. Pada sapi tampak otot polos tersusun longitudinal, mirip muskularis mukosa. 3. Sub mukosa terdapat dibawahnya, terdiri atas jaringan ikat yang lebih longgar. 4. Tunika muskularis cukup tebal, tersusun oleh lapisan otot longitudinal dan sirkuler (luar), lapis paling luar sering tersusun secara memanjang, lapisan otot tidak tampak adanya pemisah yang jelas, sehingga sering tampak saling menjalin. Berkas otot polos di daerah trigonum vesike membentuk bangunan melingkar, mengelilingi muara ostium urethrae intertinum. Lingkaran otot itu disebut m.sphinter internus. 5. Lapisan paling luar atau tunika serosa, berupa jaringat ikat longgar (jaringan areoler), sedikit pembuluh darah dan saraf 4. URETRA

Berupa saluran yang menyalurkan urine dari kantong seni keluar tubuh. Pada hewan jantan akan mengikuti penis, sedangkan pada hewan betina mengikuti vestibulum. Sistem Urinaria pada Unggas Beberapa perbedaan dengan mamalia tampak jelas antara lain : 1. Bentuk ginjal yang agak komplek, terdiri atas tiga sampai empat lobus 2. Tidak memiliki vesika urinaria dan urethra jadi urine dari ureter langsung masuk kloaka (urodeum) 3. Urine yang dihasilkan agak kental, sedangkan pada mamalia bersifat lebih cair. 4. Pada ayam terdapat sepasang ginjal multilober yang erat hubungannya dengan kilumna vertebralis dan ilia, terletak pada bagian kaudal dari paru-paru. Warnanya kecoklatan dan konsistensinya lunak sehingga mudah rusak pada proses pengeluaran dari tempatnya. Ginjal Bagian paling luar adalah kapsula, serabut halus keluar dari kapsula menyisip parenkhim ginjal bersama pembuluh darah. Renal tubulus dianggap identik dengan nefron pada mamalia. Terdiri atas :

a. Korpuskuli renalis dengan glomeruli relatif lebih kecil dari mamalia. b. Tubuli kontorti proksimalis, memepunyai epithel kubis dengan brush border, inti ditengah dan sitoplasma berbutir halus, diduga butiran urat. c. Jerat henle memiliki epithel sama, namun tidak memiliki brush border, tetapi pada sitoplasma terdapat vakuola. d. Tubuli konturti distalis memiliki lumen lebih luas, epithelnya lebih pucat dan berbentuk kubis. e. Alat penyalur mulai dari duktuli koligentes dengan epithel kubis, terus ke duktus Bellini dan akhirnya masuk ureter. Ureter Selaput lendir ureter membentuk lipatan memanjang (longitudinal) dengan epithel banyak baris. Pada tunika propria sebagaimana pada bangsa burung banyak ditemukan limfosit. Tunika muskularis terdiri atas otot polos, lapis terluar adalah adventitia. Ureter sebelum memasuki ginjal bercabang menuju lobus. Ureter sebenarnya pendek dan lurus, bermuara kedalam uredeum medial dari duktus deferens pada hewan jantan, dan medial dari oviduktus pada hewan betina.

at 8:53 PM 0 comments: Post a Comment

Jangan Lupakan Tubuh Ayam Infovet Jangan Lupakan Tubuh Ayam

(( Membahas produksi telur ayam jangan lupakan anatomi dan faali ayam, sebagai dasar bagi kita agar kuat memahami bagaimana ternak ini berproduksi dan terjaga pro

Kerangka unggas ringan tetapi kuat, sesuai dengan keperluannya untuk duksinya. )) terbang dan berjalan. Adapun tengkorak unggas kecil dengan hubungan antartulang yang kuat, berhubungan dengan atlas yaitu tulang pertama columna vertebrae (susunan luas tulang

belakang). Menurut sumber di Universitas Terbuka, tulang-tulang pinggang dan punggung unggas saling berhubungan dengan erat, merupakan tempat melekatnya otot-otot yang digunakan untuk terbang, dan untuk menahan tekanan. Ujung pasterior tulang pubis dan ujung posterior sternum digunakan untuk memperkirakan daya bertelur pada kegiatan culling ayam. Selanjutnya menurut sumber yang sama, tulang-tulang unggas yang bersifat pneumatik berhubungan dengan sistem pernapasan. Tulang-tulang pneumatik terdapat pada humeras, tulang-tulang kepala klavicula as sternum, vertebrae lumbales dan os sacrum.

Unggas mempunyai tulang-tulang meduler yang digunakan untuk menimbun kasium. Tulang-tulang meduler terdapat pada tibia, femur, pubis, tulang-tulang rusuk ulna, tulang-tulang telapak kulit dan scapula, kata sumber di UT.

Sistem pencernaan unggas sendiri, sederhana jika dibandingkan dengan ruminansi dalam arti hanya sedikit tempat tersedia bagi kehidupan mikrorganisme ynag dapat membantu pencernaan

makanan. Karena unggas tidak bergigi akan pengunyahan makanan tidak terjadi di mulut. Di tembolok, makanan dilunakkan dan mulai dicerna. Di perut pengunyah, makanan dipecah dan digiling. Makanan terutama dicerna dan diabsorp (diserap) oleh usus halus. Berbeda dengan vertabrata lainnya, unggas memiliki kloaka yaitu ruang pertemuan dari tiga saluran, pencernaan, urinaria dan reproduksi. Sistem reproduksi unggas jantan berupa testes ductus (vas) deferens, dan ogan kopulasi yang bentuknya rudimenter. Unggas tidak mempunyai penis. Sperma diproduksi di dalam testis, disalurkan ke luar tubuh melalui ductus deferens yang bermuara pada papilla. Perkawinan unggas jantan dengan unggas betina pada hakikatnya ialah mempersatukan dua kloaka untuk memungkinkan pemancaran sistem yang mengandung sperma. Sistem reproduksi unggas betina terdiri atas ovarium dan oviduk. Ovarium yang mengandung sekitar 1.000-3.000 folikel dan di dalam folikel terdapat kuning telur (yolk). Ukuran folikel berkisar

dari yang mikrokopik hingga yang sebesar yolk, tergantung pada tingkat kemasakan yolk di dalamnya. Setelah sebuah yolk diovulasikan, kemudian diterima oleh infudibulum dan melewati bagian-bagian lain dari oviduk, menjadi telur yang sempurna yang dikeluarkan melalui anus.

Menurut sumber Infovet yang lain, kuning telur (yolk) dari ayam yang diimunisasi (divaksin) sudah sangat terkenal sebagai salah satu sumber antibodi. Produksi immunoglobulin yolk (IgY) dengan memanfaatkan kuning telur ayam sebagai pabrik biologis mempunyai beberapa keunggulan. Ayam memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap pemaparan antigen asing, sehingga sistem imun ayam sangat responsif dan persisten untuk produksi IgY

Faali Sistem pencernaan unggas berfungsi mencerna

Ayam dan

mengabsorpsi zat-zat makanan serta mengeluarkan sisanya yang tidak dapat dicerna melalui anus, ungkap Sumber di Universitas Terbuka Menurut sumber UT ini, unggas tidak bergigi dan sebagai-

gantinya maka makanan yang besar atau yang keras digiling di dalam perut pengunyah. Di situ makanan dipecah menjadi partikel-partikel kecil.

Pankreas menghasilkan HCl dan pepsin, sedangkan hati menghasilkan empedu. Zat-zat yang dihasilkan oleh kedua organ pencernaan tambahan ini memberikan lingkungan yang baik bagi terjadinya reaksi-reaksi pencernaan yang bersifat enzimatis. Penyerapan zat-zat makanan sebagian besar terjadi di dalam usus halus (duodenum) karena permukaan dinding usus ini diperluas oleh adanya lipatan-lipatan dan villi, zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna, tidak banyak bermanfaat bagi unggas karena mikroorganisme (bakteri) yang seharusnya membantu pemecahan bahan-bahan makanan tidak mempunyai tempat khusus, dalam sistem pencernaan unggas. Hal ini sangat berbeda dengan ruminansia. Air sebagai zat makanan yang berada di dalam bahan makanan tersisa, diserap kembali oleh dinding usus besar dan dimanfaatkan kembali oleh tubuh unggas. Seperti halnya unggas betina, sistem produksi unggas jantan (termasuk ayam) dipengaruhi oleh intesitas cahaya dan kerja hormon-hormon reproduksi. Sistem reproduksi unggas betina melibatkan kegiatan interaksi kerja berbagai macam hormon reproduksi yang dipengaruhi oleh banyaknya cahaya yang diterima oleh kelenjar pituitari. Cahaya yang sangat kurang dapat menghentikan kegiatan.

Dengan demikian kita lebih kenal Sang Ayam Produsen Telur untuk kesehatan kita. (UT/ YR)

ekanisme Pencernaan Ayam Diposkan oleh Slam di 10.31 . Sabtu, 23 Mei 2009 Label: Ayam, Ekskreta, Pencernaan Mulut Pakan masuk mulut dalam keadaan utuh atau sudah dikoyak oleh paruh, kemudian dengan tekanan lidah akan masuk ke rongga pharink dank e oesofagus. Dalam mulut menghasilkan saliva yang mengandung amylase dan maltase, pencernaan belum optimal karena di mulut pakan hanya lewat. Oesofagus Di dalam oesofagus pakan akan menuyju ke tembolok dengan bantuan mucosa yang dihasilkan oleh oesofagus.

Tembolok (Crop) Tembolok adalah modifikasi dari oesofagus yang berfungsi menyimpan pakan sementara. Di tembolok pakan sekaligus direndam sehingga menjadi lebih lunak. Proventrikulus Atau juga disebut dengan perut kelenjar yang mensekresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna Protein dan lemak. Pencernaan belum maksimal karena di proventrikulus pakan hanya tinggal sebentar. Empedal (gizzard) Berfungsi sebagai pelumat pakan dan mencampur dengan air sehingga menjadi pasta (Chymne). Kekuatan empedal dipengaruhi dari kebiasaan makan ayam, ayam yang hidup bebas berkeliaran memilki empedal yang lebih kuat dari pada empedal ayam yang dikurung dengan pakan yang lebih lunak. Pada empedal disekresikan coilin untuk melindungi permukaan empedal terhadap kerusakan yang disebabkan oleh pakan atau benda lain yang tertelan. Di empedal ini pakan dicerna secara mekanik. Usus halus atau small intestine Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu: 1. Duodenum Bagian ini adalah bagian paling atas dari usu halus. Di sini terjadi pencernaan yang paling aktif dengan hidrolisis dari nutrient kasar yang berupa pati lemak dan protein. Penyerapan hasil pencernaan sebagian besar terjadi di duodenum ini. Di duodenum disekresikan enzim dari pankreasdan dari getah empedu.

2. Jejenum Adalah kelanjutan duodenum yang berfungsi seperti duodenum yaitu penyerapan makanan yang belum selesai saat di duodenum. 3. Ileum kelanjutan dari jejunum dengan fungsi yang sama yaitu penyerapan makanan dan pencernaan secara enzimatis. Coecum Terdiri atas 2 ceca atau saluran buntu. Nutrient yang tidak tercerna akan mengalami dekomposisi oleh microba coecum. Tetapi penyerapan sangat sedikit. Di coecum pakan mengalami pencernaan secara mikrobiologi. Usus besar Atau disebut juga intestinum crasum. Disini terjadi perombakan partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi feses. Di bagian ini juga bermuara saluran urine dari ginjal. Sehingga urine dan feses yang keluar akan menjadi satu dan disebut ekskreta. Feses dan urine juga akan mengalami penyerapan air sekitar 72-75%. Disini juga terdapat muara saluran reproduksi. Kloaka Adalah tempat keluarnya ekskreta juga telur pada ayam betina. Pakan dalam saluran pencernaan ayam kurang lebih 4 jam. 2 komentar:

http://slamet-riyadi03.blogspot.com/2009/05/mekanisme-pencernaanayam.html
Kulit ayam yg tidak mempunyai kelenjar keringat dipisahkan menjadi 2 bagian penting yaitu Epidermis dan Dermis. Epidermis merupakan bagian luar dari kulit yg terdiri dari Stratum Germinativum dan berikutnya Stratum Corneum. Stratum corneum merupakan bagian kulit paling luar yang terdiri dari sel yg pipih, mengeras dan disertai beberapa sel yg mati. Bulu ayam menutup seluruh tubuh sebetulnya berfungsi untuk menjaga suhu badan dari udara dingin, terutama bulu halus yg menyelimuti seluruh tubuh, sedangkan bulu sayap dan bulu ekor sebagai alat terbang dan kemudi. Pada ayam laga, bulu halus diubah fungsinya sebagai alat pendingin, bukan sebagai penjaga suhu tubuh agar keseimbangan suhu tubuh ayam laga dapat terjaga dan tidak terbuang keluar. Sebagai yang telah diinformasikan di atas, tujuan pemberian kemin adalah utk mempertebal kulit, pemberian kemin dapat dilakukan dengan mencampurkannya dengan kapur sirih sehingga dapat memberikan hasil yang lebih maksimal. Selain itu pemberian kombinasi ramuan ini juga ditujukan untuk melarutkan lemak yg ada pada bulu halus yg menutupi tubuh ayam, sehingga air akan mudah menyerap ketika bulu dibasahi dan juga mudah menguap ketika suhu tubuh meningkat seiring dgn meningkatnya aktivitas tubuh ketika ayam laga diadu. Ayam akan melakukan pernapasan sangat cepat ketika merasa kepanasan, hal ini adalah satu-satunya cara bagi ayam untuk membuang panas tubuh, karena ayam tidak mempunyai kelenjar keringat.