Anda di halaman 1dari 10

Penentuan Sebab Kematian Virtual Autopsi

Syarifah Muzna Bewi*, Taufik Suryadi** * Mahasiswa Program Profesi Dokter FK Unsyiah ** Staf Pengajar Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unsyiah

ABSTRAK
Autopsi berati pemeriksaan postmortem sesosok mayat, yang meliputi organ-organ dan struktur dalam setelah dilakukan diseksi, untuk menentukan sebab kematian atau sifat-sifat perubahan patologis. Disebut juga necropsy. Istilah virtopsy berasal dari kata virtual dan autopsy. Walaupun autopsi berarti melihat dengan mata sendiri. Karena bertujuan untuk menghilangkan subjektivitas yang dimaksud dalam kata autos, kami menggabungkan istilah virtual dan autopsy, maka kata autos dihapus untuk menciptakan istilah virtopsy. pada otopsi virtual tidak memerlukan diseksi (pemotongan) jaringan tubuh, melainkan menggunakan alatalat diagnostik canggih untuk melihat kelainan yang terjadi dalam organ-organ dalam. Pemeriksaan virtual otopsi dilakukan dengan menggunakan bantuan radiologi berupa computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), magnetic resonance spectroscopy (MRS). CT merupakan pilihan untuk dokumentasi 2D dan 3D dan untuk analisa sistem faktur, kumpulan gas patologis, dan gambaran jaringan secara kasar. Sedangan gambaran MRI jelas memberikan gambaran dalam cedera jaringan lunak, trauma organ neurolgi dan non-neurologi, dan kondisi nontrauma. Dari pencitraan MRI dapat ditingkatkannya analisis postmortem, sehingga memunculkan kemungkinan diagnosis terhadap organ viseral seperti jantung dan penyakit koroner tanpa merusaknya. Oleh karena otopsi virtual saat ini belum dapat diterima sebagai pengganti otopsi konvensional. Otopsi konvensional masih merupakan gold standart untuk menentukan penyebab kematian seseorang. Otopsi virtual saat ini hanya sebagai komplementer terhadap otopsi konvensional. Berkembangnya teknik virtual otopsi, hal ini akan menjadi tantangan ke depan baik dalam bidang ilmu forensik dan ilmu radiologi, sehingga jauh kedepannya pencitraan dalam bidang ilmu forensik akan menjadi ilmu pengetahuan yang menarik nantinya. Kata kunci : virtual autopsi, necropsy, postmortem,

PENDAHULUAN Dalam masyarakat selalu saja terdapat perselisihan, penganiayaan, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, peracunan dan lain-lain perkara yang menganggu ketentraman dan kepentingan pribadi, untuk menyelesaikan perkara demikian diperlukan suatu sistem atau cara yang memberikan ganjaran dan hukuman

yang setimpal kepada yang bersalah sehingga perbuatan yang serupa tidak terulang lagi dan sebaliknya yang tidak bersalah terbebas dari tuntutan dan hukuman, dari dahulu orang telah memikirkan bagaimana mendapatkan cara menegakan keadilan ini. Diperlukan suatu cara pembuktian yang dapat dilakukan dan diterima masyarakat. Telah dicoba berbagai
1

cara yang sesuai dengan perkembangan pemikiran pada zamannya.1 Perkembangan zaman dan kemajuan berpikir, membuat cara mencari kebenaran dan keadilan melalui cara lain yang lebih tepat. Para penegak hukum mendapat metode lain. Selain bukti dari kesaksian atau keterangan saksi yang tetap dipercaya sampai saat ini, dipergunakan keterangan terdakwa di bawah sumpah atau pengakuan. Penggunaan keterangan terdakwa di bawah sumpah berdasarkan kepercayaan atau agama yang dianut sampai sekarang masih dipakai. Mendapatkan pengakuan tertuduh yaitu dengan meminta atau memaksa tertuduh untuk mengakui perbuatannya dapat menimbulkan ekses. Sering dilakukan penyiksaan untuk mendapatkan keterangan yang menungtungkan salah satu pihak.1 Pada masa sekarang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi orang mendapat pembuktian secara ilmiah yang disebut saksi diam (silent witness). Di sini diperlukan peran ahli untuk memeriksa barang bukti (corpus delicti) secara ilmiah, sehingga barang bukti tersebut dapat bercerita tentang apa yang telah terjadi. Barang bukti dapat berupa orang hidup, mayat, darah, semen, rambut, sidik jari, peluru, larva lalat, nyamuk, surat, tulisan tangan, suara, dan lain-lain. Kumpulan pengetahuan yang memeriksa barang bukti untuk kepentingan peradilan dikenal dangan nama forensic sciences. Dalam bidang kesehatan antara lain kedokteran forensik (forensic medicine), odontologi forensik, psikiatri forensik, patologi forensi dan antropologi forensic.1 Tujuan utama dari kedokteran forensik adalah mendokumentasikan, menganalisa, dan menjelaskan temuan medis yang ditemukan pada orang hidup dan mati dengan penjelasan yang dapat dipahami untuk keperluan persidangan. Pada manusia yang mati, tujuan utama

adalah menentukan penyebab dan cara kematian, mempelajari beratnya cedera, dan mengembangkan rekonstruksi forensik berdasarkan temuan yang ada. Baik pada forensik genetik (yang menggunakan DNA) dan forensik toxicology-merupakan cabang ilmu forensik yang menggunakan metode teknologi tinggi dalam sehari-harinyadokumentasi pada temuan patologi forensik dalam sehari-hari, dokumentasi temuan patologi forensik masih didominasi berdasarkan protokol dan teknik autopsy yang sama selama berbad-abad. Alat yang paling sering digukan adalah scalpel, dekripsi verbal, dan teknik fotografi konvensional dengan dua dimensi. Dengan demikian temuan forensik didokmentasikan secara tidak sengaja bersifat subjektif (observer-dependent), dan temuan yang belum didokumentasikan akan hilang selamanya jika tubuh korban di masukan kedalam krematorium. Selama bertahuntahun, aplikasi metode pencitraan untuk dokumentasi objektif nondestruktif terhadap temuan forensik telah jauh tertinggal di belakang perkembangan teknologi pencitraan sendiri. Hanya ada sedikit buku yang tersedia yang berhubungan dengan forensik radiologi, yang mana kebanyakan lebih memfokuskan pada radiografi konvensional dan tidak membahas bidang pencitraan yang lebih baru seperti pencitraan computed tomography (CT) dan magnetic resonance (MR) secara mendalam. Diagnostik melalui pencitraan masih kurang dimanfaatkan, terutama disebabkan kurangnya kesadaran akan potensi dan kurangnya dalam pendidikan dan pengalamanan.2 Oleh karena kurangnya pemanfaatan bidang radiologi dalam bidang diagnostik forensik, maka penulis merasa perlu sedikit membahas sedikit tentang aplikasi radiologi dalam bidang ilmu forensik.

Definisi Autopsi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata autos dan opsis. Autos berarti sendiri atau dengan diri sendiri, sedangkan opsis berarti melihat.3 Autopsi berati pemeriksaan postmortem sesosok mayat, yang meliputi organ-organ dan struktur dalam setelah dilakukan diseksi, untuk menentukan sebab kematian atau sifat-sifat perubahan patologis. Disebut juga necropsy.3 Istilah virtopsy berasal dari kata virtual dan autopsy. Penemu istilah ini mengambil kata virtus dari Bahasa Latin, yang berarti berguna, efisien, dan baik. Walaupun autopsi berarti melihat dengan mata sendiri. Karena bertujuan untuk menghilangkan subjektivitas yang dimaksud dalam kata autos, kami menggabungkna istilah virtual dan autopsy, maka kata autos dihapus untuk 2 menciptakan istilah virtopsy. Sejarah Radiologi Forensik Aplikasi CT pertama pada forensik adalah penjelasan pola luka tembak pada kepala oleh Wullenweber dkk pada 1977. Karena terbatasnya kualitas gambar dan resolusi dan output yang tidak memuaskan pada dulunya, hanya beberapa penelitian yang dihubungkan dengan temuan patologis. Kemudian diperkenalkan spiral CT oleh Kalender dkk pada 1989, yang membuka jalan menuju penghasilan dan pengolahan data 3 dimensi (3D), tidak meningkatkan daya tarik ilmuan forensik dalam modalitas baru ini.2 Penggunaan pencitraan MR seluruh tubuh dalam kasus nonforensik untuk pendeteksian penyakit kranial, thorak, dan abomen telah dilakukan oleh beberapa kelompok penelitian yang berbeda. Penelitian terbatas pada organ tertentu telah dilakukan oleh beberapa kelompok forensik, tujuan utamanya adalah memperoleh gambaran jalur luka tembak

pada otak. Tidak satupun kelompok ini yang melakukan pemeriksaan seluruh tubuh menggunakan kombinasi pencitraan CT dan MR.2 Dapat diasumsikan bahwa pada kovensional autopsi, kini sering ditolak oleh anggota keluarga atau tidak ditoleransi oleh agama dalam kehidupan multikultural, mungkin dapat digantikan oleh pencitraan minimal invasif, pengambilan sampel jaringan, dan angografi untuk menentukan cedera vaskuler. Data digital yang didapatkan harus dikonsultasikan kembali ketika muncul pertanyaan baru atau dikirim ke ahli lain untuk second opinion.2 Konsep dari dokumentasi objektif dan noninvasif terhadap permukaan tubuh untuk kepentingan forensik muncul pada awal tahun 1990-an dengan perkembangan fotografi forensik. Sebagaimana biasanya dalam ilmu forensik, ide ini lahir dari dan dipacu oleh kebutuhan yang sangat- dalam hal ini karena tingginya angka bunuh diri di Switzerland. Pada kasus yang membutuhkan perbandingan senjata pembunuh dengan impresi pada tengkorak korban untuk menidentifikasi kemungkinan senjata. Pada tahun 2000, disarankan bahwa dokumentasi permukaan tubuh dikombinasikan dengan dokumentasi 2 internal tubuh. Konsep Dasar Virtopsy dasarnya mengandung; a. Dokumentasi isi tubuh dan analisis mengunakan pencitraan pencitraan CT, MR, dan mikroradiologi, dan b. Dokumentasi permukaan tubuh secara 3D menggunakan fotometi forensik dan scanning optikal 3D. Kumpulan data yang dihasilkan mengandung dokumentasi 3D berwarna dan beresolusi tinggi dari interior tubuh. Dengan memanipulasi kumpulan dengan alat-alat volume render di tempat kerja, sekali melaksanakan virtual otopsi kapan
3

saja dimana saja. Tidak ada temuan forensik yang terganggu, sebagaimana mereka akan rusak akibat autopsi tradisional.2 Tujuan dari proyek virtopsy adalah untuk memvalidasi temuan baru ini melalui temuan perbandingan sistematik dari pemeriksaan permukaan tubuh dan radiologi terhadap hal-hal yang didapatkan pada autopsi tradisonal.2 Metode baru ini seharusnya mampu membantu menentukan apakah kematian sebagai akibat dari kematian alamiah, kecelakaan, bunuh diri, atau pembunuhan. Penentuan ini diperlukan sebagai dasar investigasi forensik terhadap keadaan dan tubuh korban. Lebih jauh, luka yang terjadi harus dinilai makna kekuatannya dan, berdasarkan temuan, rekonstruksi forensik berkembang. Penelitian virtopsy, pada pencitraan temuan seluruh tubuh berhubungan dengan temuan yang didapatkan pada autopsi tradisional, yang pertama kali dijelaskan pada 2003.2 Teknik Otopsi Virtual Berbeda halnya dengan otopsi konvensional, pada otopsi virtual tidak memerlukan diseksi (pemotongan) jaringan tubuh, melainkan menggunakan alat-alat diagnostik canggih untuk melihat kelainan yang terjadi dalam organ-organ dalam. Teknik pemindaian canggih sebenarnya sudah mulai digunakan dalam proses melakukan otopsi sejak tahun 1977. Hal ini terus berkembang sampai sekarang, pada tahun 1990 sudah mulai menggunakan radiografi 3 dimensi dalam pemeriksaan postmortem.4 Pada otopsi virtual tidak diperlukan pembukaan rongga-rongga badan dan maupun pemotongan jaringan tubuh. Dengan menggunakan teknik pemindaian yang memungkinkan melihat secara utuh keadaan tubuh dalam 3 dimensi, semua informasi yang penting

seperti posis dan ukuran luka maupun kedaan patologis lainnya dapat diketahui dan didokumentasikan tanpa harus melakukan tindakan invasif. Teknik ini diyakini menjadi alasan menghindari alasan-alasan penolakan otopsi 4 konvensional. Dalam otopsi virtual menggunakan beberapa peralatan pemindaian canggih yang saling melengkapi yaitu: a. Pemindaian permukaan 3-D yang di desain untuk pemetaan tubuh bagian luar. Pengunaan alat ini dapat memberikan informasi dan menyimpan gambaran area permukaan secara detail b. Multi-slice computed tomography (MSCT) dan c. Magnetic resonance imaging (MRI), (Dirnhofer dkk., 2006)2. yang akan dapat memvisualisasikan tubuh bagian dalam, sehingga dapat diperiksa secara detail setiap potongan tubuh. Selain itu dengan menggunakan MRI spectroscopy, perkiraan saat kematian dapat diperkirakan melalui pengukuran kadar metabolit dalam otak, dan untuk sampel pemeriksaan histopatologi forensik juga dapat diambil melalui CT guided needle biopsy. Visualisasi sistem sirkulasi digunakan postmortem angiography.4 Kekerasan Pada Kepala dan Leher Temuan khas pada radiologis klinis sama pada pencitraan postmoretm. Peningkatan tekanan intrakranial akibat trauma atau iskemik bermanifestasi pada autposi sebagai herniasi tentorium pada lobus temporal atau herniasi cerebelum ke foramen magnum, dengan penekanan pada dasar cerebelum sesuai dengan foramen magnum.2

Gambar 2.1. Peningkatan tekanan intrakranial menyebabkan kematian. (kiri) Gambaran MR yang menunjukan herniasi bagian basal cerebelum ke dalam foramen magnum. (kanan) Foto autopsi menunjukan cerebelum, dengan pembengkakan pada tonjolan dan tanda tekanan yang disebabkan oleh foramen magnum.2

temuan lain disertai dengan jika ditemukan peningkatan tekanan intrakranial. Pencitraan postmortem memberikan visualiasi merinci. Keadaan tersebut sangat membantu khususnya ketika tahap pembusukan menyebabkan tidak dapat dilaksanakannya investigasi autopsi terhadap otak yang tersisa dan memungkinan menyingkirkan penyebab lain selain otak.2

Pada penelitian yang dilakukan oleh Avhayev et al membuktikan bahwa denganmenggunakan MSCT MRI, terjadi herniasi tonsil pada 3 pasien yang meniggal karena kekerasan pada kepala, dan hasil yang mereka temukan kemudian dikonfirmasi dengan otopsi konvensional. Baik hasil pemeriksaan MSCT, MRI maupun otopsi konvensional didapatkan hasil sama. dalam penelitian ini mereka merekomendasikan penggunaan kombinasi antara keduanya.5 Sementara penelitan yang dilakukan di Switzerland, sebab kematian dapat ditegakkan 3 dari 5 kasus yang mereka teliti dengan menggunakan MSCT dan MRI sebelum dilakukan otopsi konvensional. Hal lain dari penelitian ini juga menunjukan bahwa kemampuan dari MRI untuk mendeteksi adanya perdarahan intramedular dari 3 kasus yang sesuai dengan hasil pemeriksaan histopatologi.6 Sudden Death in Infant and Children Penelitian di Jepang, Menunjukan bahwa pemeriksaan postmortem computer tomography (PMCT) dengan menggunakan MSCT dan MRI berperan penting dalam mendiagnosis kasus-kasus kematian mendadak pada bayi dan anak-anak . penyebab pasti dari kematian mendadak yang terjadi pada anak-anak sebaiknnya dilakukan pemeriksaan PMCT dan pemeriksaan lainnya seperti riwayat penyakit, laboratorium dan kultur bakteri.4 Jantung Penyebab kematian paling banyak adalah insufisiensi jantung. Penyakit jantung kronik atau iskemik akut dapat mencetus (a) pengurangan jumlah serat kontraksi secara akut atau (b) aritmia. Sebagai tambahan, jantung sering menjadi target perlukaan pada bunuh diri atau pada pembunuhan. Perlukaan pada jantung memberikan manifestasi khas pada
5

Gambar 2.2. Pendarahan intraaxial akibat trauma. (kiri) Gambar potongan axial pada pencitraan memberikan gambaran hipointense pada lobus temporal kiri yang mencapai ruang subarachnoid. (kanan) Foto autposi tehadap potongan melewati lobus temporal pada otak yang telah difiksir dengan formalin menunjukan perdarahan yang diakibatkan trauma, dominasi di korteks dan subkorteks.4

pencitraan perikardial berupa tamponade jantung dam hematothorak. Lebih jauh, kegagalan ventrikel kanan akibat emboli udara pada cedera kranial (akibat luka tembak, luka pada kepala, luka tusuk pada leher) merupakan penyebab paling umum kematian yang berhubungan dengan jantung. Pada pencitraan kontras hingga teknik autopsi tradisional, gambaran CT postmortem memungkinkan untuk pencitraan 3D terhadap struktur emboli, dengan memberikan gambaran emboli udara.2

hasil histopatologi sesuai dengan fase infark yang terjadi.4 Paru-paru Pemeriksaan postmortem dapat digunakan untuk menentukan penyebab kematian. Sebagai contoh, pneumothorak dapat dengan mudah ditemukan melalui pencitraan postmortem. Udem paru, yang mana sering terlihat pada kematian akibat jantung atau racun, dapat diperiksa melalui pencitraan seperti peningkatan peningkatan gambaran ground-glass pada CT atau peningkatan kepadatan pada gambaran MR. Perlukaan paru pada potongan axial dapat ditandai dengan adanya gambaran endapan darah.2 Khas pada kasus tengelam, paru bermanifestasi dengan emphysema aquosum dan overlaping retrosternal pada lobus atas.2 Hanging Untuk menyingkirkan kasus pembunuhan yang dikuti dengan gantung diri seolah-olah bunuh diri, ahli forensik mencari tanda-tanda vital. Pendarahan ada tempat perlekatan otot sternokleidomastoideus atau struktur jaringan lunak membuktikan bahwa sirkulasi masih terjadi ketika terjadi kejadian penjeratan, dan asumsi kuat bahwa masih ada upaya bernafas melawan oklusi jalan nafas menyebabkan terjadinya ruptur alveorlar yang tampak sebagai pneumomediastinum ada emfisema jaringan lunak sepanjang leher.2

Gambar 2.3. Trauma jantung (luka tusuk pada jantung). (kiri) Penitraan jantung menggunakan MRI 2T melalui apex jantung menunjukan cedera mikard. Diikuti dengan tamponade yang bermanifestasi sebagai endapan komponen seluler. (kanan) Fotografi terhadapspesime menunjukan laserasi transmural dari ventrikel kiri di bagian apical.2

Penelitian otopsi virtual juga dilakukan untuk medeteksi ada tidaknya infak miokard. Penelitian dilakukan di Switzerland dengan MRI yang hasilnya kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan histologi. Dari hasil penelitian itu didapatkan bahwa baik MRI maupun pemeriksaan histologi tidak mampu mendiagnosis peracute infarct myocard. Sementara itu untuk keadaan subacute, acute dan chronic dapat dideteksi dengan baik oleh MRI dan hasilnya sesuai dengan

Gambar 2.4. Udem paru. (kiri) Pencitraan MR dengan 2T melalui potongan coronal menunjukan penigkatan kepadatan paru akibat peningkatan)

Gambar 2.4. Udem paru. (kiri) Pencitraan MR dengan 2T melalui potongan coronal menunjukan penigkatan kepadatan paru akibat peningkatan jumlah bagian air dalam paru. (kanan) Foto autpsi menunjukan hilangnya jaringan air setelah suction. Catatan akumulasi edema pada paru sebagai temuan patoligs forensic.2

Gambar 2.6. Tanda vital pada kasus gantung diri. (kiri) Pencitraan MR 2T pada potongan sagital menunjukan area hiperintense pada sekitar strenoklavikula pada daerah insersi otot sternokleidomastodeius. (kanan) foto autopsi yang menunjukan daerah pendarahan pada daerah sekitar insersi otot sternokleiomastodeus, temuan yang yang menandakan masih berlangsungnya sirkulasi pada saat penjeratan.2

Gambar 2.5. Emphysema aquosum. (kiri atas) CT scan thorak menunjukan emphysema aquosum yang diakibatkan tengelam, dengan bagian anterior mengkerut. Catatan fenomena sendimentasi postmoretm dengan peningkatan dari ventral ke dorsal. (kanan atas) Pencitraan 3D menunjukan hubungan dengan temuan temuan autopsi tradisional. (kiri bawah) Pada foto autopsi, bagian ventral paru ber-overlaping dengan bagian retrosternal. (tengah bawah anterior maximun intensity projection (MIP) dari potongan coronal menunjukan data hiperintense pada lambung dan duodenum, temuan yang menunjukan aktif menelan cairan tenggelam. (kanan bawah) Foto autopsi menunjukan pengisian lambung dan duodenum. Organ kemudian dibuka untuk mendapatkan sampel cairan.2

Tenggelam Temuan otopsi pada tenggelam adalah ditemukan adanya lumpur/pasir atau cairan tempat di mana korban tenggal dalam saluran nafas atau paru, paru-paru yang menggembung dan kongesti, cairan dalam sinus paranasal, lambung dan dilatasi paru-paru kanan dan pembuluh darah vena. Tanda-tanda tersebut merupakan variabel-variabel yang diteliti dengan menggunakan MRI dan dikonfirmasi dengan temuan otopsi. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa adanya sendimentasi pada trakea dan percabangan bronkus utama (93%), cairan di dalam sel mastoid (100%), cairan dalam sinus paranasal (25%) dan 89% paru-paru dengan gambaran ground-glass. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian di Switzerland, meskipun pada penelitian tersebut menggunakan MSCT. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa dengan menggunakan MRI maupun MSCT hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan hasil temuan otopsi dan histopatologi.4

Trauma Trauma tumpul merupakan jenis trauma yang paling sering menyebabkan kematian. Tulang yang paling sering terkena berturut-turut adalah tulang iga, kepala, wajah, tibia, dan pelvis. Sementara itu organ dalam yang paling sering mengalami laserasi akibat kekerasan tumul adalah hati, paru, jantung, lan lien. Dari penelitian didapatkan bahwa PMCT memiliki kelemahan dalam mendeteksi adanya gas dalam rongga tubuh.4 Macam Pencitraan pada Virtual Autopsi Computed Tomography-CT Hasil CT bergantung pada irisan tipis dan volume yang akan ditemukan, benda ini telah ditemukan labih sebagai alat lebih baik untuk dokumnetasi 2D dan 3D dan untuk analisa sistem fraktur, kumpulan gas patologis (emboli udara, emfisema subkutan, trauma hiperbarik, atau efek pembusukan), dan memberikan gambaran jaringan secara kasar.7,8 Sebagai contoh pada kasus luka tembak penentuan luka masuk dan luka keluar ditemukan berdasarkan pola fraktur dengan penonjolan keluar atau kedalam. CT dan MRI merupakan alat yang sempurna untuk memvisualisasikan jalur peluru dan pendarahannya. Gambaran benda logam karena peluru dapat muncul pada pencitrran CT.7 Magnetic Resonance-MR Dalam demonstrasi pada cedera jaringan lunak, taruma organ neurologi dan non-neurologi, dan hal-hal patologi nontaruma, MRI dibandingkan CT jelas lebih dalam hal sensitivitas, spesifitas, dan akurasi.7,8 Jika hasil klinis dari MRI dapat digunakan sebagai analisis postmortem, ada kemungkinan untuk melakukan analisa nondestuktif terhadap jaringan patologis, seperti penyakit jantung, paru, dan hati.7 Magnetic Resonance Spectroscopy-MRS Akhirnya MRS dikombinasikan dengan MRI, memilki potensial besar mendokumentasikan konstrasi metabolik dalam jarinagan. Karena pembusukan terus menerus merubah konsentrasi bahan kimia selama postmortem, MRS dapat sangat menentukan waktu kematian.7 Perbandingan Otopsi Virtual dan Otopsi Konvensional Otopsi virtual berawal dari penolakan yang kuat dari masyarakat akan otopsi konvensional dan juga permkembangan yang amat pesat dalam medical imaging. Dunia kedokteran khususnya ilmu kedokteran forensik senantiasa mengikuti perkembangan dalam konteks keilmuannya.4 Tidak dapat dipungkiri bahwa otopsi virtual telah membawa angin segar terutama dalam menyelesaikan kasus-kasus tertentu. Pada satu sisi otopsi Virtual lebih baik jika dibanding otopsi konvensional dalam menegakan diagnosis untuk kepentingan medikolegal. Penelitian demi penelitian terus berlangsung sampai saat ini untuk mencoba mengatasi kekurangankekurangan dalam otopsi virtual.4 Untuk Indonesia, penerimaan otopsi virtual sebagai pengganti otopsi konvensional tidaklah serta merta dapat diterima. Dengan adat ketimuran, masyarakat yang religious seperti otopsi virtual merupakan angin segar untuk mengatasi permasalahan penolakan otopsi konvensional. Namun harus diingat bahwa hal yang harus kita bahas menyangkut penerimaan otopsi virtual di Indonesia. Hal-hal yang harus kita pertimbangkan antara lain: a. Cost and benefit dari otopsi virtual juga harus mendapat pertimbangan. Otopsi virtual efektif dalam studi mengenai luka terutama akibat tembakan senjata
8

api, karena dapat dipelajari apa yang terjadi tanpa merusak stuktur mayat. Mayat tidak ditahan lama dan relatif lebih dapat diterima oleh keluarga karena tidak dibutuhkan pisau bedah serta tidak harus memotong tubuh.4 b. Belum cukupnya data yang membuktikan bahwa otopsi virtual lebih unggul dari otopsi konvensional, tidak mungkin dapat melihat dengan jelas kelainan patologi yang ada dengan otopsi virtual, tidak dapat membedakan antara luka antemortem dengan luka postmortem, sulit membedakan warna organ, jaringan kecil mungkin saja terlewatkan.4 c. Masalah biaya, bila kita memperhatikan teknik otopsi virtual, maka akan dibutuhkan biaya yang amat besar dan alat-alat untuk melakukan otopsi virtual tidak tersedia pada setiap rumah sakit di Indonesia.4 d. Otopsi virtual juga memiliki bias dalam mendiagnosis.4 e. Otopsi virtual tidak dapat mendeteksi kematian akibat keracunan dan hal-hal yang berhubungan dengan penyalahgunaan obat, hal hal yang paling baik adalah otopsi virual cukup mengambil posisi sebagai tes penyaring saja.4 f. Jepang sebuah negara maju dan sudah lama menekuni otopsi virtual ini tetap hati-hati dengan PMCT, ada 3 peraturan yang mereka laksanakan hingga saat ini yaitu: 1) PMCT sebagai skrining untuk penyebab kematian, 2) Skirining kandidat untuk dilakukan otopsi, dan 3) Kemplementer untuk otopsi 4 konvensional. Dan yang tak kalah pentingnnya dalah aspek medikolegal otopsi virtual sebagai alat bukti yang sah dalam sistem peradilan di Indonesia, untuk ini

memerlukan kajian yang lebih lanjut. Terlebih lagi mengingat bahwa interst based otopsi virtual adalah untuk mendiagnosis penyakit. Hal ini berbeda dengan konsep otopsi forensik yang lebih mengedepankan untuk proses penegakan hukum dan peradilan.4 KESIMPULAN Bukti saat ini, teknik pencitraan saat ini merupakan alat yang sempurna dalam forensik kedokteran. Sama halnya dengan inspeksi dan fotografi tapi diperjelas oleh alat lain, teknik ini mampu mencetak temuan pada saat pemeriksaan tanpa menyebabkan kerusakan. Pendokumentasian menghasilkan dokumen sebagai bukti, baik korbannya telah meninggal dan mengalami pembusukan atau selamat dan mengalami kehilangan bukti akibat penyembuhan. Pada orang yang meninggal dokumentasi nondestuktif bertujuan untuk membawa infromasi tanpa menyebabkan pemeriksaan forensik yang sifatnya merusak, atau dapat digunakan pada keadaan dimana autopsi tidak ditoleransi oleh agama atau ditolak oleh angota keluarga. Pemeriksaan virtual otopsi dilakukan dengan menggunakan bantuan radiologi berupa computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), magnetic resonance spectroscopy (MRS). CT merupakan pilihan untuk dokumentasi 2D dan 3D dan untuk analisa sistem faktur, kumpulan gas patologis, dan gambaran jaringan secara kasar. Sedangan gambaran MRI jelas memberikan gambaran dalam cedera jaringan lunak, trauma organ neurolgi dan non-neurologi, dan kondisi nontrauma. Dari pencitraan MRI dapat ditingkatkannya analisis postmortem, sehingga memunculkan kemungkinan diagnosis terhadap organ viseral seperti

jantung dan penyakit koroner tanpa merusaknya. Oleh karena otopsi virtual saat ini belum dapat diterima sebagai pengganti otopsi konvensional. Otopsi konvensional masih merupakan gold standart untuk menentukan penyebab kematian seseorang. Otopsi virtual saat ini hanya sebagai komplementer terhadap otopsi konvensional. Dengan berkembangnya teknik virtual otopsi, hal ini akan menjadi tantangan ke depan baik dalam bidang ilmu forensik dan ilmu radiologi, sehingga jauh kedepannya pencitraan dalam bidang ilmu forensik akan menjadi ilmu pengetahuan yang menarik nantinya.

6.

7.

DAFTAR PUSTAKA 1. Amir, Amri. 2010. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Kedua. Medan: Percetakan Ramadhan. 2. Dirnhofer, Richard; Jackowski, Christian; Vock, Peter; Potter, Kimberlee; Thaili, Michael J. 2006. VIRTOPSY: Minimally Invasive, Imagingguided Virtual Autopsy. RadioGraphics 2006; 26:1305 1333. 3. Koesoemawati, Herni dkk (editor). 2005. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC 4. Afandi, Dedi. 2009. Otopsi Virtual. Maj Kedokt Indon, Volume:59, Nomor:7, Juli 2009. 5. Aghayev, Emin; Yen, Kathrin; Sonnenschein, Martin; Ozdoba, Christof; Thaili, Michael J; Jackowski, Christian; Dirnhofer, Richard. 2004. Virtopsy Postmortem Multi-slice Computed Tomography (MSCT) and Magnetic Resonance Imaging

8.

(MRI) Demonstrating Descending Tonsillar Herniation: Comparation to Clinical Studies. Neuroradiology. 2004;46:559-64. Yen, Kathrin; Sonnenschein, Martin; Thaili, Michael J; Ozdoba, Christof; Weis, Joachim; Zwygart, Karin; Aghayev, Emin; Jackowski, Christian; Dirnhofer, Richard. 2005. Postmortem Multislice Computed Tomography and Magnetic Resonance Imaging of odontoid fractures, atlantoaxial distractions and ascending medullary edema. Int J Legal Med 2005;119:129-36. Thali, Michael J; Jackowski, Christian; Oesterhelweg, Lars; Ross, Steffen G; Dirnhofer, Richard. 2007. VIRTOPSY The Swiss virtual autopsy approach. Legal Medicine 9 (2007) 100104. Perrson, Anders. 2008. Virtual Autopsy in Forensic Medicine. Somatom Sessions May 2008 6068.

10