Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Insidensi Tuberculosis (TBC) dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia. Mengingat penyakit ini adalah penyakit yang sangat menular maka berbagai upaya pun telah dilakukan untuk memberantas dan memotong siklus penularannya, salah satunya adalah dengan penerapan DOTS (Widyaningsih, 2008). Untuk meningkatkan keberhasilan strategi tersebut, tentunya sistem kesehatan pun harus ditingkatkan terutama adalah sistem kesehatan primer (Hinkle, 2010). WHO menekankan bahwa kunci untuk meningkatkan status kesehatan dan mencapai Millenium Development Goals (MDGs) 2015 adalah dengan memperkuat sistem kesehatan primer, salah satunya dengan pelayanan Kedokteran Keluarga yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang holistik. Dengan adanya prinsip utama pelayanan dokter keluarga tersebut, perlulah diketahui berbagai latar belakang pasien yang menjadi tanggungannya, serta dapat selalu menjaga kesinambungan pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh pasien tersebut. Untuk dapat melakukan pelayanan kedokteran yang seperti ini, banyak upaya yang dapat dilakukan. Salah satu diantaranya yang dipandang mempunyai peran yang amat penting adalah melakukan kunjungan rumah (home visit) serta melakukan perawatan pasien di rumah (home care) terhadap pasien yang membutuhkan (Murti,2010). Mengingat pengetahuan mengenai latar belakang pasien merupakan kunci pokok terwujudnya pelayanan kedokteran menyeluruh dan juga penentu keberhasilan pelayanan dokter keluarga, maka perlu pemahaman sejak dini bagi para dokter dan calon dokter untuk dapat memahami serta terampil melakukan kunjungan dan perawatan pasien di rumah tersebut, salah satunya adalah melalui kegiatan Field Lab ini. B. Tujuan

1.

Umum : Setelah mengikuti kegiatan laboratorium lapangan, diharapkan

mahasiswa dapat memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diporoleh di fakultas pada masyarakat, dan dapat bekerjasama dengan instansi kesehatan maupun instansi pemerintahan yang terkait. 2. Khusus : Setelah mengikuti kegiatan laboratorium lapangan, diharapkan mahasiswa dapat memiliki kemampuan: a. Menjelaskan dasar-dasar kunjungan rumah (home visit) dalam kedokteran keluarga. b. Melakukan tahapan-tahapan dan prosedur kegiatan kunjungan rumah (home visit) dalam pelayanan kedokteran keluarga.

BAB II KEGIATAN YANG DILAKUKAN Kegiatan Field Lab dengan topik Ketrampilan Kedokteran Keluarga: Kunjungan Pasien di Rumah (Home Visit) dilaksanakan selama tiga kali pertemuan yaitu tanggal 11, 18 Oktober, dan 1 November 2011. Adapun perincian kegiatankegitan tersebut sebagai berikut: A. Hari Pertama: Persiapan Pada hari pertama, mahasiswa mendapatkan pengarahan dari Kepala Puskesmas dan instruktur lapangan. Kemudian mahasiswa dibagi menjadi 3 kelompok, dengan tiap kelompok terdiri dari 3-4 orang mahasiswa. Setiap kelompok mendapatkan tugas untuk melakukan kunjungan (home visit) kepada pasien rawat jalan Puskesmas Matesih. Dilanjutkan dengan menyusun jadwal kunjungan yang kemudian dikonsultasikan kepada puskesmas dan pihak keluarga. B. Hari Kedua: Home Visit Setelah persiapan dan pengarahan di Puskesmas selesai, kami didampingi petugas dari Puskesmas melakukan kunjungan rumah pada pasien penderita TB. Kemudian kami melakukan wawancara dengan panduan formulir home visit yang sudah dipersiapkan pihak fakultas, sehingga diharapkan kami memperoleh semua informasi yang penting dan tidak ada satupun informasi yang terlewatkan, selain formulir dari pihak fakultas, kami juga dibantu oleh petugas pendamping dari Puskesmas dalam menggali informasi yang mengarah pada diagnosis pasien. Selain wawancara, kami juga menggambar denah rumah pasien tersebut. C. Hari Ketiga: Evaluasi Tiap kelompok mahasiswa melakukan presentasi hasil kunjungan rumah (home visit) sesuai dengan kasus masing-masing keluarga yang dikunjungi sambil dilakukan tanya jawab, dilanjutkan dengan evaluasi keseluruhan oleh instruktur puskesmas. BAB III

PEMBAHASAN Pada pelaksanaan field lab, kelompok kami melakukan kunjungan rumah (home visit) ke pasien penderita TBC yang telah ditentukan oleh Instruktur Puskesmas. Pasien yang kami kunjungi bernama Bapak Manto Suwarno. Setelah tiba di rumah keluarga pasien, mahasiswa melakukan tanya jawab kepada pasien sesuai dengan form-form data kunjungan rumah yang telah ditentukan serta melakukan pengamatan seputar lingkungan tempat tinggal pasien. Pelaksanaan kunjungan rumah (home visit) di keluarga pasien berjalan cukup lancar. Pasien cukup kooperatif saat dilakukan tanya jawab sehingga data yang diperoleh lengkap. Hasil kunjungan rumah (home visit) Bapak Manto Suwarno didapatkan data-data sebagai berikut: Bapak Manto Suwarno umur 71 tahun, alamat RT 01 RW 02, Desa Banaran, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Bapak Manto Suwarno sudah tidak bekerja. Pasien ini merupakan pasien rawat jalan Puskesmas Matesih Kabupaten Karanganyar yang menderita penyakit TBC. Pemeriksaan sputum S-P-S pasien ini menunjukkan BTA (+). Pada saat dilakukan home visit pasien telah menjalani pengobatan TBC selama 5 minggu. Pengawas minum obat pasien ini adalah istrinya. Berdasarkan anamnesis, keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit serupa. Pasien memiliki riwayat merokok, tetapi sudah berhenti lima belas tahun yang lalu. Saat ini pasien sudah tidak merasakan keluhan batuk, tetapi ada beberapa keluhan lain, yaitu kencingnya berwarna merah setelah mengonsumsi obat TBC. Kemudian kita memberitahukan bahwa kencing yang berwarna merah tersebut merupakan efek samping dari salah satu obat TBC. Riwayat penyakit dahulu yang pernah diderita pasien adalah gastritis dan ISK. Hasil pemeriksaan fisik: keadaan umum kompos mentis, tensi 150/90 mmHg. Selain itu pasien juga mengeluhkan adanya gatal-gatal di kaki. Kemudian kami menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke Puskesmas terhadap hasil pemeriksaan tekanan darah yang cukup tinggi dan keluhan gatalgatalnya.

Gambaran lingkungan rumah kurang memenuhi standar rumah sehat, seperti pencahayaan yang kurang, sanitasi lingkungan kurang baik dan tidak adanya jamban. Pasien dan keluarga memiliki akses informasi dan kesadaran yang cukup baik terhadap kesehatan. Akan tetapi pemenuhan gizinya kurang baik, terutama dalam konsumsi protein dan susu. Pasien dan keluarga memperoleh dana kesehatan dari JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat). Akan tetapi pasien lebih sering untuk berkunjung ke praktek bidan swasta dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya. Pasien tinggal satu rumah dengan anak, istri dan saudara. Total penghuni dalam satu rumah 5 orang. Identifikasi fungsi keluarga terdiri dari fungsi holistik, fisiologis dan patologis. Fungsi holistik keluarga pasien secara umum baik, kecuali fungsi biologis, dimana pasien memiliki beberapa gangguan kesehatan. Fungsi fisiologis baik, mencakup hubungan antar anggota keluarga. Terdapat fungsi patologis pada poin religius dan edukasi, yaitu kurangnya kesadaran pasien dalam menjalankan kewajiban beribadah dan adanya beberapa anggota keluarga yang kurang mendapatkan pendidikan yang memadai. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, ditinjau dari faktor perilaku, pasien kurang menerapkan perilaku hidup sehat. Untuk faktor non perilaku juga kurang mendukung dilihat dari keadaan rumah dan lingkungannya. Berdasarkan data-data yang sudah diperoleh, lingkungan rumah yang kurang memenuhi standar rumah sehat cukup berpotensi menjadi penyebab sakit pasien, selain itu kemungkinan juga dapat disebabkan oleh sistem imunitas pasien yang kurang baik. Pasien diberi terapi yang terdiri dari terapi medikamentosa dan nonmedikamntosa. Terapi medikamentosa berupa pemberian OAT yang terdiri dari Isoniazid (INH), Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambuthol. Pasien harus diawasi dalam setiap meminum obat agar tidak terjadi kasus putus obat. Sedangkan terapi nonmedikamentosa pasien dianjurkan agar makan makanan bergizi 4 sehat 5 sempurna, istirahat yang cukup, olahraga teratur, menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya, menerapkan perilaku hidup sehat, pencahayaan rumah ditambah

agar sinar matahari dapat masuk rumah dengan cara pemberian genting kaca disetiap ruangan. Untuk deteksi dini keluarga pasien, jika didapatkan gejala-gejala yang mengarah ke diagnosis TBC, seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, demam, dan lain-lain, agar segera diperiksakan ke sarana kesehatan.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Program Kunjungan Pasien di Rumah ( Home Visit) serta Perawatan pasien

di Rumah (Home Care) adalah program pelayanan kedokteran keluarga yang termasuk dalam sistem pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care) berbasis pada keluarga atau Family Oriented Medical Education (FOME) dan merupakan kunci untuk meningkatkan status kesehatan dan mencapai Millenium Development Goals (MDGs) 2015.
2. Program Kunjungan Pasien di Rumah ( Home Visit) serta Perawatan pasien

di Rumah (Home Care) di Indonesia masih perlu ditingkatkan lagi pelaksanaannya.


3. Berdasarkan data-data yang sudah diperoleh, lingkungan rumah yang

kurang memenuhi standar rumah sehat cukup berpotensi menjadi penyebab TBC pada pasien, selain itu kemungkinan juga dapat disebabkan oleh sistem imunitas pasien yang kurang baik. B. Saran 1. Penderita TBC diedukasi untuk tidak batuk dan meludah sembarang tempat untuk mencegah penularan.
2. Untuk pasien agar selalu dilakukan pemantauan agar kasus putus berobat

tidak terjadi sehingga pengobatan pasien bisa tuntas. 3. Jika ada anggota keluarga yang sakit segera diperiksakan ke dokter atau puskesmas untuk mengantisipasi tertularnya penyakit.
4. Memperbaiki

kondisi lingkungan dan perilaku hidup sehat untuk

mendukung perbaikan kualitas kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA Murti M., Hanim D., Lestari A., Poncorini E. 2010. Ketrampilan Kedokteran Keluarga Kunjungan Pasien di Rumah (MTBS). Surakarta : Sebelas Maret University Press.

Widyaningsih V. 2008. Ketrampilan Pengendalian Penyakit Menular Tubercolusis. Surakarta : Sebelas Maret University Press. Hinkle, Janice L. 2010. Outcome Three Years After Motor Stroke. Rehabilitation Nursing, 35 : 23-9.