Anda di halaman 1dari 19

BAB II DASAR TEORI

2.1

Pencucian Batubara(4)

Pencucian batubara ialah suatu usaha untuk mengolah atau mencuci batubara kotor (dirty coal) yang berasal dari tambang menjadi batubara bersih agar dapat memenuhi persyaratan konsumen. Dimana batubara tersebut dipisahkan dari bahan yang tidak dapat menyala atau terbakar seperti lempung yang tercampur pada waktu penambangan Perlu tidaknya pencucian dan metode pencucian yang digunakan tergantung pada sifat batubara itu sendiri dan maksud dari pemanfaatannya. Ada batubara yang cukup hanya dipecahkan dan diayak, tetapi ada juga batubara yang perlu pengolahan secara komplek untuk menghilangkan pengotornya. Batubara merupakan salah satu sumber energi yang terbentuk dari bahan dasar tumbuhtumbuhan yang mengalami proses pembatubaraan (coalifikasi) dalam kurun waktu yang lama. Selama proses pembentukan ini banyak mineral-mineral pengotor yang masuk dalam lapisan batubara. Mineral pengotor ini bisa berasal dari tumbuhan pembentuk batubara itu sendiri (inherent mineral matter), pengotor jenis ini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya batubara, dan extraneous mineral matter yaitu mineral pengotor yang masuk dalam lapisan batubara melalui cleavage, cracks maupun material asing yang tercampur dengan batubara saat proses pembongkaran dan pengambilan batubara. Mineral-mineral pengotor diatas dapat menurunkan kualitas batubara karena mineral mineral pengotor tersebut merupakan bagian yang tidak habis terbakar dan membentuk abu saat batubara terbakar, semakin besar kadar abu suatu batubara maka semakin kecil kalor yang dihasilkan pada suatu pembakaran batubara. Oleh karena itu perlu ada proses pengolahan batubara guna menghilangkan atau setidaknya mengurangi kadar mineral pengotor ini. Salah satu proses pengolahan yang dapat dilakukan adalah pencucian

batubara, proses ini biasanya juga diikuti dengan proses pengecilan ukuran serta penyeragaman ukuran maupun kualitas.
2.2 Washing Plant (4)

Pencucian batubara dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan densitas relatif untuk memisahkan batubara bersih dari shale yang berkadar abu tinggi, dan kadang kadang juga memisahkan middling. Adanya hubungan kuat antara densitas relatif dalam kalor, dan sifat sifat lainnya dapat ditentukan. Densitas batubara bersih bervariasi tergantung pada keadaan batubaranya. Shale, yang warnanya sangat abu abu dan mengandung sedikit atau sama sekali tidak mengandung karbon, mempunyai densitas sekitar 2,4 g/cm3. densitas middling biasanya antara 1,6 g/cm3 sampai 1,8 g/cm3.

Telah dipahami bahwa semua benda yang mempunyai densitas lebih kecil dari air (kurang dari 1) akan terapung, sedangkan yang memiliki densitas lebih besar dari 1 akan tenggelam di dalam air, tetapi apabila densitasnya sama dengan air maka benda tersebut akan melayang. Prinsip dasar ini dipakai pada operasi pencucian batubara dimana batubara diusahakan terapung di dalam suatu fluida dimana pengotornya diusahakan tenggelam. Artinya densitas fluida yang dipakai harus terletak diantara densitas batubara dan densitas pengotornya. Yang dimaksud washing plant adalah unit pencucian batubara, dimana dirty coal yang diambil dari tambang akan di masukkan ke washing plant untuk menghilangkan mineral pengotor (mineral matter) dan pyritic sulfur dari batubara tanpa mengubah sifat kimianya atau mengubah mineral matter nya agar didapat clean coal. Dirty coal dari tambang sebelumnya diangkut ke stockpile terlebih dahulu. Kegiatan Pencucian bisa dijalankan apabila telah tersedia dirty coal di stockpile dan alat loading maupun haulingnya untuk mengangkut dirty coal dari stock pile ke hopper washing.

2.3 Macam macam metode yang umum digunakan untuk pencucian batubara, yaitu :

2.3.1. Pencucian Batubara dengan Metode Ayakan

Pencucian ini dilakukan pada waktu klasifikasi ukuran dengan ayakan goyang atau ayakan getar. Air yang disemprotkan ke batubara diatas ayakan mencuci kotoran yang menempel diatas permukaan butiran batubara. Pencucian macam ini hanya terjadi pada batubara yang kasar (+0,5 mm). Kerugian pencucian jenis ini ialah cepat habisnya ayakan itu sendiri akibat gaya abrasi butiran batubara

2.3.2. Pencucian Batubara dengan Metode Gravitasi

Jigging

Pencucian dengan jig dapat mengolah batubara dengan berbagai ukuran butir. Unit operasinya terdiri dari tangki penuh dengan air dimana batubara mengalir melewati ayakan yang diatasnya diletakkan batu koral dengan berat jenis dan ukuran tertentu. Pada tanki dipasang suatu pompa bolak-balik yang menghasilkan gerakan air naik-turun lewat bolongan ayakan tadi. Aliran ini menyebabkan lapisan batu koral (media atau bed) tertutup dan terbuka. Karena adanya perbedaan berat jenis, pada waktu batubara dan kotorannya mengendap terjadi dua lapisan endapan dimana lapisan kotoran ada dibawahnya, pada waktu bed terbuka butiran kotoran menerobos lapisan bed dan ayakan yang kemudian ditampung didasar tangki. Sedangkan butiran batubara tidak sempat

menerobos karena disamping berat jenisnya yang lebih kecil lapisan bednya juga terlanjur tertutup.

2.3.2.2. Pencucian dengan Media Berat (Heavy Medium Separation)

Prinsip kerja pemisahan dengan media berat (HMS) hampir sama dengan jigging hanya saja pada cara ini air diganti dengan media berat (air dan material) yang berat jenisnya 1. Maksud dari penambahan berat jenis ini ialah untuk memperbesar daya pemisahan. Media berat dibuat dengan cara mencampurkan material halus dengan air sehingga terjadi suspensi.

2.3.2.3. Pemisahan dengan Talang Atau Parit ( Launder )

Batubara kotor dengan air mengalir sepanjang talang/parit yang dibuat sedikit miring. Kotoran yang lebih berat daripada batubara akan mengendap lebih dahulu didasar talang, sedangkan batubara akan hanyut terbawa air pencuciannya. Kemudian kotoran itu dikeluarkan melalui lubang khusus didasar talangan tersebut. Batubaranya terus mengalir sampai ujung talangan dan keluar melalui bibir talang (wier)

2.3.2.4. Pemisahan dengan Meja Goyang

Alat ini digunakan untuk membersihkan batubara yang lebih halus. Alatnya berupa meja empat persegi panjang yang dipasang dengan kemiringan tertentu. Diatas meja dipasang riffle yaitu suatu pelat kayu dengan lebar dan panjang tertentu. Meja ini digerakkan secara eksentrik sehingga didapatkan gerakan bolak-balik yang menghasilkan efek pemisahan.

2.3.2.5. Pemisahan Secara Spiral

Seperti halnya meja goyang pemisahan dengan aliran spiral dilakukan dalam selapis air atau flowing film. Cara kerjanya ialah batubara bersama kotorannya hanyut pada talangan yang berbentuk spiral sehingga menimbulkan gaya sentrifugal. Hal ini menyebabkan material yang ringan dan kasar akan terlempar ke arah luar dan yang berat terlempar ke arah dalam. Kotoran yang lebih berat hanyut dibagian dalam dan kemudian terperangkap pada lubang pembuangannya. Sedangkan batubara terus dihanyutkan sampai di bagian bawah spiral dan keluar di keluaran konsentrat.

2.3.3. Pencucian Batubara dengan Metode Flotasi

Jenis pencucian ini biasanya digunakan untuk merecovery batubara dengan ukuran halus (-0,5 mm). Metode ini didasarkan atas sifat permukaan butiran batubara yang pada umumnya tidak suka air atau hidrophobik sedangkan mineral pengotor suka air atau hidrophilik. Memanfaatkan sifat itulah maka diberikan semacam zat kimia yang disebut kolektor yang berfungsi menyelimuti permukaan batubara dengan gelembung udara sehingga batubara yang pada dasarnya telah hidrophobik menjadi lebih tidak suka lagi terhadap air dan lebih cenderung menyukai udara .

2.3.4. Pencucian batubara dengan metode Aglomerasi

Aglomerasi adalah proses baru yang prinsipnya tidak begitu berbeda dengan flotasi, hanya saja peranan gelembung udara digantikan dengan butir-butir minyak dalam air. Butir-butir minyak ini menangkap butiran batubara dengan bantuan agitasi yang intensif atau dengan memproduksi butiran minyak yang banyak .

2.4

Proses Sampling, Preparasi Dan Analisis (12)

2.4.1

Sampling

Sampling adalah pengambilan sebagian kecil material dari suatu material yang besar, sedemikian rupa sehingga mewakili (representatif) kualitas keseluruhan material yang besar tersebut,
2.4.1.1.

Metode Sampling

Berdasarkan kondisi dan tempat pengambilan, cara sampling dan dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu : a. In Situ Sampling adalah sistim pengambilan sample yang dilakukan pada suatu material yang belum diganggu (kondisi masih asli). In situ sampling terdiri dari 3 (tiga)macam yaitu :
Channel Sampling, dimana pengambilan sample biasanya dilakukan

pada

singkapan batubara (out crop ) dan face dari lapisan batubara yang sudah terbuka di lokasi tambang ( coal exposed )
Core sampling adalah pengambilan sample dari lubang bor Cutting sampling , sistem ini diterapkan pada pengambilan sample dari lobang

bor. Prinsip dari pemboran ini adalah melakukan pemboran yang tidak melakukan coring. Sample yang diambil adalah hancuran material oleh mata bor yang disebut dengan cutting.

b.

Bulk / Rom Of Mine Sampling Berdasarkan cara pengambilan sample pada material curah (bulk material atau Run Of mine dapat dibedakan atas manual sampling dan mechanical sampling.

Manual sampling adalah cara pengambilan sample dengan menggunakan alat yang dipegang langsung dengan tangan.berdasarkan alat yang digunakan

manual sampling terdiri dari : sampling from stopped belt, sampling from falling stream, sampling from moving belt, sampling from stockpile, sampling from Grab and bucket, sampling from railway wagon and truck, dan , sampling from flat bottom vessel.
Mechanical sampling, sistim ini dikembangkan untuk mengatasi kesulitan

pengambilan sample yang tidak mungkin dilakukan secara manual yang dikarenakan besarnya produksi.

2.4.1.2. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencapai keakuratan dalam

pengambilan . Pengambilan sample yang baik dan benar sangat mempengaruhi produksi, baik dalam hal arah kemajuan tambang maupun dalam proses selanjutnya .
a. Mass of increment (g) ditentukan dengan rumus :

g = 0,06 x Top Size

.....(2.1)

b. Number Of Increment ditentukan dengan rumus :

....(2.2) Keterangan : K : Konstanta (tergantung jenis sample batubara ) M : Consignment

c. Mass of sample adalah sejumlah sample yang diambil dan dapat mewakili

keseluruhan material (consignment). Jumlah ini disebut juga gross sample. Untuk menghitung jumlah gross sample digunakan rumus :

Gross sample = Size of Incement x Number of increment ......(2.3)

d. Time Interval of taking sample

.........(2.4)

2.4.2

Preparasi

Sample preparation (preparasi sampel) bertujuan untuk menyediakan suatu sample yang jumlahnya sedikit yang mewakili sample asal. Sehingga menghasilkan contoh secara sistematis untuk keperluan analisa. Sample preparation ini terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. Mixing / pencampuran

2. Air drying
3. Crushing / penghancuran 4. Division / pembagian 5. Milling / pembubukan 6. Penyimpanan sample

2.4.3

Analisis Kualitas Batubara

Ada beberapa parameter kualitas yang terkandung dalam batubara dan sangat mempengaruhi pemanfaatannya, antara lain :

2.4.3.1.

Total Moisture / kandungan air ( TM )

Total Moisture ( TM ) adalah semua moisture yang terdapat dalam batubara, yang tidak terikat secara kimia dalam substansi batubara atau kandungan mineralnya (Muchjidin,2006 ), Total moisture terdiri dari:
a. Air dried losses ( ADL): adalah kandungan air jika dipanaskan pada tempratur 100 C

diatas ambient temperatur akan menguap


b. Residual Moisture ( RM ) : adalah kandungan moisture pada batubara setelah

mencapai keseimbangan dengan suhu laboratorium. Nilai Total Moisture ini didapatkan dari rumus dibawah ini :

....... (2.5) Dimana nilai ADL didapatkan dari rumus dibawah ini :

..............................(2.6)

Keterangan : M1 M2 M3 : Berat tray kosong : Berat Tray dan sample : Berat konstan Tray + sample setelah di oven selama 6 jam.

Sedangkan RM diperoleh dengan rumus

% RM ar
(2.7)

....

Keterangan ; M1 = Massa cawan + penutup M2 = Massa cawan + penutup + sample M3 = Massa cawan + penutup + sample setelah pengeringan

2.4.3.2. Total Sulfur / kandungan belerang (TS) Total Sulfur adalah kandungan belerang yang terdapat pada batubara. Sulfur didalam batubara terdiri dari dua jenis sulfur), yaitu : a. Sulfur organik adalah sulfur pembentukan batubara tersebut
b.

dalam batubara yang terbentuk seiring dengan

dan berasal dari tumbuh-tumbuhan pembentuk batubara

sulfur anorganik adalah sulfur yang berasal dari lingkungan dimana batubara tersebut terbentuk, atau dari mineral yang berada disekeliling batubara atau bahkan yang

berasal dari dalam seam batubara yang berbentuk spliting, parting, band dan lainlain. Sulfur anorganik terbagi menjadi dua jenis yaitu piritic sulfur dan sulfat sulfur.

2.4.3.3. Calorific Value / Kandungan kalori ( CV )

Calorific Value yaitu besarnya panas yang dihasilkan pada saat proses pembakaran batubara yang dibakar dengan oxygen, nitrogen dan oksida nitrogen, carbondioksida, sulfurdioksida, uap air dan abu padat .

2.4.3.4.

Proximate Analysis (3)

Proximate Analysis terbagi menjadi 4 (empat) bagian Yaitu : a. Moisture Moisture di dalam batubara dapat dibagi menjadai dua bagian yaitu Inherent moisture dan extraneous moisture. 1. Inherent moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara dan

tidak dapat menguap atau hilang dengan pengeringan udara atau air drying pada ambien temperature walaupun batubara tersebut telah dimilling ke ukuran 200 mikron. Inherent moisture ini hampir menyatu dengan struktur molekul batubara karena berada pada kapiler yang sangat kecil dalam partikel batubara.Dan moisture ini baru bisa dhilangkan dari batubara pada pemanasan lebih dari 100 derajat Celsius. 2. Extraneous moisture adalah moisture yang berasal dari luar dan

menempel atau teradsorpsi di permukaan batubara atau masuk dan tergabung dalam retakan-retakan atau lubang-lubang kecil batubara. Sumber extraneous moisture ini misalnya ; air dari genangan, air hujan, dan lain-lain. Moisture ini dapat dihilangkan

atau diuapkan dengan cara air drying atau pemanasan di oven pada ambien temperature. b. Ash Content Sebenarnya batubara tidak mengandung ash melainkan mengandung mineral matter. Ash adalah istilah parameter dimana setelah batubara dibakar dengan sempurna, material yang tersisa dan tidak terbakar adalah ash atau abu sebagai sisa pembakaran. Jadi ash atau abu merupakan istilah umum sebagai sisa pembakaran, . c. Volatile matter volatile matter yang terkandung dalam batubara ini biasanya gas hidrokarbon terutama gas methane. di laboratorium sendiri penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah batubara pada temperature 900 derajat Celsius dengan tanpa udara. Volatile matter keluar seperti jelaga karena tidak ada oksigen yang membakarnya, d. Fixed Carbon Fixed carbon merupakan sisa dari hasil pemanasan batubara setelah seluruh zat terbangnya habis keluar. Fixed Carbon dapat terbakar dalam bentuk padat dan biasanya teroksidasi sempurna menjadi gas CO2. Nilai Fixed Carbon diperoleh dari pengurangan nilai - nilai sebelumnya seperti nilai Inherent moisture, Ash Content, dan Volatile matter.

2.4.3.5. Ultimate Analysis Analisis ultimat didefinisikan sebagai analisis batubara yang dinyatakan dalam kandungan unsure karbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen. Jadi, penjumlahan karbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen sama dengan 100%. Tiap unsur ditentukan dalam sampel analitik dan hasil penentuan dinyatakan dalam basis kering, bebas mineral matter (dmmf),.

2.4.3.6.

Hardgrove Grindability Index (HGI)

Hardgrove Grindability Index (HGI) merupakan petunjuk mengenai mudah sukarnya batubara untuk digerus,( Sukandarumidi,1994). harga Hardgrove Grindability Index (HGI) diperoleh dengan menggunakan rumus :

HGI = 13,6 + 6,93 W

.....(2.8)

W adalah berat dalam gram dari batubara lembut berukuran 200 Mesh. Semakin tinggi nilai HGI maka semakin lunak batubara yang berarti semakin mudah batubara tersebut untuk dihancurkan.

2.5 Pengujian dua sampel berpasangan (Paired Sample T Test )(5)

Uji ini digunakan untuk menguji parameter populasi yang berbentuk perbandingan melalui ukuran sampel yang juga berbentuk perbandingan dan berkorelasi. Yang bertujuan untuk membandingkan apakah kedua data (variabel) tersebut sama atau berbeda.. Hal ini juga dapat berarti menguji kemampuan generalisasi (signifikansi hasil penelitian) yang berupa perbandingan keadaan variabel dari dua rata-rata sampel. apabila terdapat perbedaan yang signifikan berarti pengaruh yang terjadi dapat berlaku untuk populasi atau dapat digeneralisasikan. adapun langkah langkah pengujian adalah sebagai berikut:

1. Menentukan tingkat signifikansi

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikansi a = 5% (uji dilakukan 2 sisi karena untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang signifikan, jika 1 sisi digunakan untuk mengetahui hubungan lebih kecil atau lebih besar). Signifikansi 5% atau 0,05 adalah ukuran standar yang sering digunakan.

2. Menentukan t hitung

.....(2.9)

Keterangan : = Rata-Rata sampel 1 = Rata rata sampel 2 = Simpangan baku sampel 1 = Simpangan baku sampel 2 = Varians Sampel 1 = Varians Sampel 2 r n = Korelasi antara dua sampel = Jumlah data

Dimana, Untuk menghitung simpangan baku dan varians sampel menggunakan persamaan berikut ini :

..(2.10)

...(2.11)

3. Menentukan hipotesis

Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai variabel independen (X) dan rata-rata nilai variabel dependen (Y). Ha : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai variabel independen (X) dan rata-rata nilai variabel dependen (Y).

4. Menentukan t tabel

Tabel distribusi T dicari pada a = 5% : 2 = 2,5 % (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan(df) menggunakan persamaan :

df = n 1

.....(2.12)

untuk nilai t tabel dapat dilihat pada lampiran 9.

5. Kriteria pengujian

Kaidah Pengujian Signifikasi adalah : Ho diterima Jika t tabel t hitung t tabel, Ho ditolak Jika - t hitung < - t tabel, atau t hitung > t tabel

Tujuan digunakannya Paired Sample T Test pada penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara nilai kualitas batubara umpan (X) dengan nilai kualitas Batubara hasil (Y). Jika hasil ada perbedaan kemudian dilihat rata-rata mana yang lebih tinggi dengan melihat nilai t hitung. Apabila t hitung positif berarti rata-rata kualitas batubara sebelum dicuci lebih tinggi daripada sesudah dicuci, dan sebaliknya t hitung negatif berarti rata-rata kualitas batubara sebelum dicuci lebih rendah daripada sesudah dicuci,

2.6

Analisis Regresi Linier sederhana(6)(8)

Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linier antara satu variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). analisis ini untuk mengetahui arah

hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau negative dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variable independen mengalami kenaikan atau penurunan persamaan garis linier yaitu :
y = a + bx ...........(2.13)

Keterangan : y a b = subjek dalam variabel dependen yang diprediksikan = harga y bila x = 0 (harga konstan) = angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yand didasarkan pada variabel independen. Bila b (+) maka naik dan bila (-) maka terjadi penurunan. x = subjek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu Dimana :

.......(2.14)

.(2.15)

Tujuan digunakannya analisis regresi linier sederhana pada penelitian ini adalah untuk mengetahui arah Hubungan antara nilai kualitas batubara umpan (X) dengan nilai kualitas Batubara hasil (Y), dan untuk memprediksi nilai dari kualitas Batubara hasil (Y) apabila kualitas Batubara hasil (Y) mengalami kenaikan atau penurunan.

2.7 Analisis Korelasi sederhana(8)

Analisis korelasi sederhana digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi. Koefisien korelasi (r) sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antar dua variabel. Dimana nilai r dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut ini :

...(2.16)

Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan tersebut besar dan kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan yang tertera pada tabel 2.1 .
Tabel 2.1 pedoman untuk memberikan interprestasi terhadap koefisien korelasi

Interval Koefisien 0,00 0,199 0,20 0,399 0,40 0,599 0,60 0,799 0,80 1,000

Tingkat hubungan Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat

Tujuan digunakannya analisis korelasi sederhana pada penelitian ini adalah untuk mengetahui keeratan hubungan antara antara nilai kualitas batubara umpan (X) dengan nilai kualitas Batubara hasil (Y).

2.8

Material Balance

Material Balance adalah suatu neraca kesetimbangan pada pengolahan bahan galian, dimana jumlah partikel umpan ( feed ) yang masuk dalam alat pengolahan jumlahnya akan sama dengan jumlah material yang keluar ( Product dan Tailing) ( Diktat Kuliah pengolahan bahan galian, 2006). Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

FEED = PRODUCT + TAILING

..(2.17)

Keterangan FEED PRODUCT TAILING

: : Batubara Umpan ( TON ) : Batubara Tercuci ( TON ) : Batubara Kotor ( TON )