Anda di halaman 1dari 10

MEDIUM WALANDA MARAMIS

Presenter

: Dhatu Wicaksono

Anggota Medium :
Syania Fajriandini Erwina Salsabila Gigih Agung Bagaskara Willarda Lucky Dwi Ananda Yusnia Kurniasih Syifa Nisrina Virgina Maulita Putri Ezka Amalia Aldo Marchiano Kaligis

Jalannya Diskusi :

Dhatu : Selamat pagi temen-temen semua.

Dhatu : Sesuai dengan tema besar hari ini, kita akan membahas mengenai esensi pemikiran Tuchydides melalui bukunya "The Peloponnesian War", oiya sebelumnya silahkan membuka file yang saya upload via scribd di bagian topik.

Hal menarik yang muncul ialah saat konsep Realism yang diutarakan Thucydides telah muncul sejak abad 4 SM. Bagaimanakah pendapat teman-teman terhadap fenomena realisme yang masih sangat "tradisional" ini?

Syania Fajriandini : aku mau menanggapi yah. dari presentasi yang mas dhatu upload, aku masih rada kurang ngerti sama konsep sifat dasar manusia

yg desire of glory,mungkin bisa dijelaskan mksdnya apa? ato mgkin ada temen-temen yang lain juga ada yang mau menjelaskan?

Aldo Marchiano Kaligis : Yang saya pahami setelah membaca The Peloponnesian War adalah inti dari ajarin ini beranjak dari asumsi bahwa tabiat/perilaku manusia dapat digunakan sebagai basis untuk menganalisa fenomena-fenomena yang terjadi dalam konstelasi politik internasional yang sifatnya reduplikatif. Dalam pdf yang diberikan, tertulis bahwa,... the events of the past, given what human nature is, 'will, at some time or other and in much the same ways, be repeated in the future' (1.22). Umar: kawan2, tolong namanya dimaskkan ya, biar bisa dimulai (Umar)

Ezka Amalia: Menurut saya, fenomena realisme tradisional yang disampaikan oleh Thucydides dalam bukunya yaitu The Peloponnesian War sangat penuh dengan hal-hal yang berbau anti moral. Perang yang terjadi antara Sparta dengan Athena berkutat dengan kontestasi kekuatan, kepentingan baik individu maupun komunal serta keinginan untuk menang. Ketiga hal ini sangat jelas menunjukkan pemikiran realisme Thucydides yang tidak jauh berbeda dengan apa yang kita pahami saat ini tentang realisme. Tidak ada alasan moral dalam suatu aksi atau keputusan yang dibuat oleh negara sebagai aktor paling utama dalam hubungan internasional.

Dalam bukunya, Thucydides juga secara implisit menyatakan bahwa unit utama dalam hubungan internasional adalah negara, mengingat objek pengamatannya adalah polis-polis yang ada di Yunani saat itu. Dari tulisannya, kita juga dapat melihat bahwa Thucydides menggambarkan hubungan internasional sama seperti hubungan yang terjadi antara polis-polis di Yunani. Adanya kontestasi kekuatan, upaya untuk menyeimbangkan kekuatan, meraih kemenangan, mencapai kepentingan merupakan ciri khas hubungan antara polis-polis di Yunani yang dapat kita lihat mewarnai pula hubungan internasional saat ini.

Satu hal yang juga menarik dalam fenomena tradisional ini yang belum disebutkan selain kontestasi kekuatan dan ciri-ciri khas hubungan internasional menurut realisme yang disampaikan oleh Thucydides adalah adanya fenomena bandwagoning. Bandwagoning dapat kita artika sebagai upaya dari negaranegara yang lemah yang tidak mampu memperkuat kekuatan militernya untuk beraliansi atau memihak salah satu pihak dalam kontestasi kekuatan besar yang ada. Hal ini juga terjadi dalam masa Thucydides dan secara implisit disebutkan dalam bukunya. Banyak polis-polis yang lemah di Yunani kemudian beraliansi dengan salah satu dari major powers yang ada saat itu, Sparta atau Athena.

Untuk syania, menurut saya desire of glory dapat diartikan sebagai keinginan manusia untuk selalu mendapatkan kemenangan melalui kekuatannya. Kemenangan disini dapat diartikan misalnya ketika kepentingan mereka tercapai melalui kekuatan mereka. Ketika ketakutan yang muncul karena ketidakpastian mengakibatkan terjadinya perang seperti yang terjadi antara Athena dan Sparta, keinginan untuk menang tidak dapat dielakkan. Karena dengan menang, mereka (manusia) akan mendapatkan keinginannya seperti materi, atau seperti yang dikatakan oleh Dhatu rasa hormat dan segan dari orang lain. Melalui rasa hormat atau segan muncul ketakutan dari orang lain yang pada fase berikutnya akan memunculkan kepatuhan dari orang lain dan dominasi terhadap orang lain.

Dhatu : membantu menjawab tentang "the desire of glory", saya sependapat sama Ezka, poin ini dapat diartikan sebagai keinginan manusia untuk menang dan mendapatkan "respect" dari aktor lainnya. Sehingga, akan muncul sebuah "ketakutan/fear" dari lawan-lawannya. Dan the desire of glory ini bisa dipahami sebagai wujud keberhasilan "dominasi" mereka terhadap suatu kaum.

Ezka: setuju dengan Dhatu. setuju juga dengan Aldo. ;))

Yusnia Kurniasih : Menurut saya, realisme yang masih sangat tradisional sebagaimana digambarkan Tuchydides ini wajar sekali untuk berkembang di masa perang masih dikaitkan dengan pride dan kelangsungan hidup suatu negara/bangsa. Realisme yang bisa ditangkap dari fenomena perang antara Athena dan Sparta terkesan sangat agresif dan benar-benar mengesampingkan moralitas seakan-akan moralitas tidak akan bisa mengantarkan mereka pada tujuan yang ingin mereka capai (glory misalnya) atau ketakutan mereka untuk dicurangi pihak lain atau kalah (karena konsep politik masih berbasis zero sum game). Hal ini sangat menarik karena mungkin tidak lagi bisa kita temukan di masa sekarang dimana setidaknya tujuan negara untuk berpolitik atau berhubungan dengan negara lain tidak melulu untuk mendapatkan kekuasaan atau menang perang. Terkait dengan "desire of glory" saya rasa penjelasan dari kak dhatu dan kak ezka sudah cukup menggambarkan maknanya :)

WIllarda Lucky: Saya setuju mengenai konsep desire of glory yang telah diungkapkan oleh temanteman. hanya saja, saya merasa bahwa kemunculan teori realisme ini sebenarnya dapat dimengerti alasannya. saya kurang setuju bahwa realisme ini 'wajar sekali muncul di masa perang'. realisme lebih muncul karena sistem politik internasional yang anarkis, di mana tidak ada otoritas lebih tinggi di atas negara, sehingga negara menurut realisme ditinggalkan dengan pilihan untuk membela diri mereka

sendiri atau dikalahkan/didominasi oleh bangsa lain. Di sinilah mengapa desire of glory dan konsep power politics yang diajukan oleh realisme ini penting bagi kelangsungan hidup (survival) suatu negara di dalam sistem politik internasional, tidak hanya dalam masa perang, karena bahkan relavansinya masih dapat dilihat hingga sekarang.

Aldo Marchiano Kaligis : Namun menurut saya, ajaran Thucydides ini tidak pula bijaksana apabila dikategorikan sebagai 'realisme tradisional'. Pasalnya, dalam the Peloponnesian War, perspektif yang diajukan Thucydides juga dapat dianalisa dari sudut pandang neorealisme. Kaum neorealis berargumen bahwa struktur internasional ditentukan oleh prinsip-prinsip internasional yang ada di dalamnya, yaitu prinsip anarki, dan oleh distribusi kemampuan antar aktor yang dapat diukur dari berapa banyak kekuatan dominan yang ada dalam konstelasi politik internasional. Pada era perang Peloponnesia, negara-bangsa Sparta merupakan hagemon. Sementara itu negara-bangsa Athena berusaha meruntuhkan dominasi tersebut. Dalam kasus ini, terdapatsecurity dilemma antara Sparta dengan Athena. Kedua kekuatan ini berkompetisi demi meraih kekuasaan (struggle for power). Jadi, pandangan Thucydides akan perang juga dapat dikategorikan sebagai produk pemikiran yang cukup kontemporer karena telah secara implisit membahas perilaku negara dari level analisa struktural.

Willarda Lucky: Saya setuju dengan pendapat Aldo, bahwa sebenarnya konsep realisme yang diajukan oleh Thucydides ini tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai realisme tradisional. Konsep realisme tradisional menyatakan bahwa interaksi dan hubungan antara negara-negara di dalam sistem internasional bersifat amoral, yang berarti hubungan antara negara di dalam sisten internasional berada di luar wilayah moralitas. Thucydides, terutama dalam kasus Melian Dialogue, menurut saya, tidak sepenuhnya menyatakan bahwa hubungan antara negara ini bersifat amoral, karena Thucydides ini di satu sisi tidak mendukung pendapat Athena akan amoralitas hubungan antara negara, tapi di sisi lain juga tidak mendukung idealisme naif dari Melian. Thucydides hanya menyatakan bahwa tiap negara harus selalu waspada akan 'kenaifan idealisme' ataupun 'desire of glory' mereka masing-masing dan juga negara lain. Menurut saya, ini lebih dekat ke pandangan neorealisme, di mana norma-norma masih dapat diterima, asalkan dapat memberikan keuntungan bagi negara yang bersangkutan.

Ezka Amalia: Menanggapi pernyataan Yusnia, menurut saya jika kita melihat dari kacamata realisme, negara-negara saat ini masih memperebutkan kekuasaan. Buktinya masih ada kontestasi kekuatan di politik internasional saat ini, misalnya saja terkait peningkatan kemampuan militer. Dengan meningkatkan kemampuan militer mereka, negara-negara berusaha untuk memperebutkan kekuasaan sebagai yang terkuat di dunia. Tidak bisa kita pungkiri bahwa nilai moral seringkali dikesampingkan dalam sebuah

pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan tersebut. Memang saat ini nilai moral mulai diperhitungkan dalam hubungan internasional, tapi tidak jarang kita temukan ketika nilai moral dikesampingkan untuk mencapai keuntungan. :))

Virgina Maulita: Setuju dengan kak Ezka. Walaupun saat ini kondisinya sangat liberalis dengan banyaknya kerjasama antar negara dan semakin banyaknya peran aktor non negara, tapi masih banyak juga negara-negara yang terang-terangan meningkatkan kekuatan militernya untuk mengancam negara lain. Kerjasama sendiri dibangun oleh negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya dan itu yang menjadi rational choice untuk negara-negara saat ini. Saat ini pun negara masih mengejar power untuk meningkatnya pengaruhnya di level internasional. Namun, power ini tidak hanya bersifat hard power namun juga bersifat soft power. Moral sendiri justru disalahgunakan oleh beberapa negara untuk melakukan intervensi untuk mengakomodasi kepentingan nasionalnya.

GIgih Agung: pemikiran Abang Thucy ini sebenarnya berkaitan dengan realisme klasik mengapa? karena

Syania : terima kasih sudah menanggapi pertanyaan saya tadi, jadi dapat dikatakan bahwa the desire of glory ini adalah sifat dimana manusia menginginkan kemenangan atas negara lain, dan the desire of glory tersebut dipicu dengan adanya fear/ketakutan. menurut saya,kaum realisme percaya bahwa sifat dasar manusia adalah titik awal dari realisme di dalah hubungan internasional. realis beranggapan bahwa manusia pada dasarnya mementingkan dirinya sendiri/ egois dan mengesampingkan prinsip moral, Thucydides sebagai seorang realis,dilihat dari tulisannya percaya bahwa hubungan internasional selalu dalam kondisi yang anarkis. untuk mencapai keamanan, negara berusaha meningkatkan kekuatan mereka agar tercipta power balancing dan perang dilakukan untuk pencegahan lawan mereka menjadi lebih kuat. saya setuju dengan pendapatnya kak ezka, dimana negara-negara masih memperebutkan kekuasaan dengan meningkatkan kekuatan militer. hal tersebut pun masih terjadi dalam kondisi hubungang internasional saat ini.

Yusnia Kurniasih: Mungkin istilah wajar sekali untuk berkembang di masa perang saya kurang tepat tapi yang saya coba ingin sampaikan adalah bahwa kondisi psikologis masyarakat pada zaman tersebut dimana mereka tertekan dengan kondisi mereka dan dignity dianggap hanya bisa diperoleh saat menang

perang atau mendapatkan kekuasaan, lebih mendorong manusia untuk menjadi benar-benar rasional (dan terkadang agresif dalam penerapan kebijakannya) sehingga wajar saja pemikiran tentang realisme berkembang karena realisme dapat menjelaskan salah satu sisi bagaimana pilihan rasional di masa ini dapat mengubah posisi dan kondisi seseorang/suatu negara. semoga bisa mengklarifikasi :) Mengenai pemikiran Tuchydides yang ternyata masih relevan hingga saat ini bahkan relevan dengan neoralisme saya baru menyadari bahwa memang bisa jadi demikian. Pemikiran Tuchydides memang dapat diakui sangat hebat karena pada zaman yang terbilang kuno penggambarannya mengenai fenomena internasional sudah terstruktur dan detail sampai-sampai masih bisa digunakan di zaman yang sudah jauh berkembang dari masanya. Untuk kak ezka, saya juga setuju bahwa hingga kini pun negara masih mencari kekuasaan namun cara yang digunakan tidak seperti di zaman athena dan sparta karena sudah ada remnya seperti nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun peningkatan militer tetap lanjut, tapi tidak lantas bisa bom sana sini juga. Begitu maksud saya :D

Umar: apakah skeptisime moral itu masih relevan diterapkan, misalnya, dalam foreign policy di negara kita? *just ask atau di negara2 lain? ingat, international politics adalah persilangan dari foreign policy dari negara2, kalau dalam paradigma lama HI

Ezka: Mungkin mas umar bisa melanjutkan pernyataan/pertanyaannya?

GIgih Agung: pemikiran Abang Thucy ini sebenarnya berkaitan dengan realisme klasik mengapa? karena dalam tulisannya bahwa karakter dasar manusia itu adalah buruk. Artinya manusia itu gemar berperang, berkonflik dan menjatuhkan saingannya dengan cara yang buruk jika terdapat kesempatan. Thucydides dalam asumsinya juga menjelaskan bahwa aspek moralitas tidak dianggap ketika itu. Wajar, karena pada zaman dahuli itu sebuah bangsa (kerajaan) yang besar, untuk membuktikan kebesaran dan kekuatannya harus menaklukkan dunia. Yaitu dengan cara berperang dan menumpahkan darah. Hal ini sangat cocok dengan paham kaum realisme.

Paham realisme yang kedua yaitu ketakutan, FEAR. Mengapa mereka melakukan pertumpahan darah seperti ini? Selain untuk menaklukkan bangsa lain agar dianggap kuat, sebenarnya mereka memiliki ketakutan yang besar jika mereka nanti takluk. Oleh karena itu sebelum mereka ditaklukkan, mereka harus terlebih dulu menyerang menakklukkan. Mirip dengan paham dalam ilmu biologi reptil. Ada yang disebut reptilian fear.Paham ini menyebutkan bahwa hewan reptil (kadal, ular, komodo, dll) memiliki ketakutan pada lawan yang berbahaya. Oleh karena itu sebelum lawan mereka sempat menyerang, reptil tersebut akan menyerang terlebih dahulu. Gak percaya? Coba saja. Hehe. Karena ketakutan inilah,

bangsa-bangsa tersebut setengah mati melawan sampai mati.

Yang terakhir bahwa menurut Thucydides bahwa dalam dunia manusia tetap berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang berkuasa. Hal ini tak lepas dari sifat dasar manusia yang buruk.

Syifa Nisrina : Saya setuju dengan pendapat teman-teman bahwa moralitas seringkali dikesampingkan oleh negara-negara. Mengenai konsep balance of power sendiri hingga kini tidak ada penjelasan yang konkrit mengenai ukuran apa yang dipakai untuk menentukan masalah keseimbangan kekuatan tersebut, sehingga sangat ditentukan oleh pertimbangan subjektif negara. Negara yang sudah merasa aman dengan kekuatannya atau bahkan telah merasa lebih unggul dari negara lain bisa mengklaim bahwa kondisinya tidak boleh diubah. Oleh karena itulah situasi balance of of power ini bisa menciptakan security dilemma yang tak berujung.

Aldo Marchiano Kaligis : Demi menanggapi pertanyaan mas Umar (yang sejatinya belum selesai diketik) menurut saya, kebijakan politik suatu negara tidak bisa lagi dilepaskan dari unsur-unsur moralistik. Moral sendiri, menurut saya, dapat diartikan sebagai suatu set kondisi psikologis untuk menseparasikan antara perilaku yang salah dengan yang benar. Kebijakan-kebijakan aktor-aktor internasional dikodifikasikan ke dalam 'negara' oleh Thucydides dan aktor realis lainnya pasca Perang Dunia II sangat memiliki relasi yang koheren dengan prinsip-prinsip moralitas. Hal ini dimanifestasikan dengan munculnya pembahasan akan isu-isu hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi. Tren di level sistem internasional inipun memberikan implikasi bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Di era kontemporer, Indonesia yang dipersonifikasikan ke dalam institusi trias politica jelas meletakkan moralitas sebagai konsiderasi dalam merumuskan kebijakan atau haluan dari negara ini. Hal ini dapat dinilai dari beberapa indikator. Pertama, reformasi pada tahun 1998 yang menuntut sistem demorasi. Masyarakat sebagai pressure group dan soft-liners di institusi-institusi kepemerintahan telah memiliki kemauan untuk menerapkan prinsip demokrasi yang menjadikan hak serta kebebasan masyarakat sebagai fondasi sistem politik negara. Masyarakat tidak mau lagi menerima kekerasan yang bersifat struktural dari pemerintahan opresif diktatorial. Kedua, isu-isu HAM mulai dituntut untuk ditegakkan, dipenuhi, serta dilindungi oleh pemerintah. Salah satu tokoh paling terkenal dalam isu HAM ini tentu saja adalah Munir. Ketiga, Indonesia menjadi salah satu negara paling demokratis di ASEAN dan mencoba memperluas sphere of influence di kawasan melalui pendekatan-pendekatan demokratis. Hal ini dibuktikan dengan diinisiasinya 'Bali Democracy Forum' sebagai wadah diskusi negara-negara di kawasan pada topik-topik demokrasi

Ezka Amalia: Saya setuju dengan Aldo. Memang moralitas tidak bisa dikesampingkan pada saat ini. Misalnya saja dengan usaha Uni Eropa menjadi normative power di dunia yang berusaha menanamkan moral dalam hubungan internasional. Namun, menurut saya kita tidak dapat menyangkal pula skeptisme moral ini masih eksis di hubungan internasional saat ini. Apalagi ketika kita melihat penggunaan hard power sebagai alat untuk mencapai kepentingan, seringkali skeptisme moral ini muncul terutama ketika pelaksanaan keputusan. Memang sudah ada batasan-batasan moral misalnya dalam peperangan yang disebutkan dalam konvensi jenewa, dari mulai cara penyelenggaraan perang, perlakuan terhadap sipil dalam situasi perang. Namun, tidak dapat dipungkiri seringkali batasan-batasan moral tersebut dilanggar. Misalnya dalam kasus perang di Libya kemarin antara Qadhafi dengan NATO, kita masih melihat warga sipil yang menjadi korban. Mereka tidak dipisahkan dari zona perang. Kita juga masih melihat hancurnya fasilitas publik, padahal menurut hukum perang, fasilitas publik dilarang untuk dijadikan sasaran. Atau misalnya masalah kerjasama Uni Eropa dengan Cina dimana Uni Eropa menginginkan Cina menyelesaikan permasalahan HAM yang terjadi di negara tersebut. Namun, pada kenyataannya, Uni Eropa melalui dorongan negara-negara yang memiliki kepentingan perdagangan dengan Cina, pada akhirnya mengesampingkan permasalahan HAM tersebut dan terlihat mengorbankan normative power mereka.

Untuk Dhatu, mungkin bisa mulai mengkompilasi jawaban teman-teman dalam MS Word, siapa tahu nanti eror lagi. :)

Dhatu : Owkey... ini lagi kukopi ke Ms.Word, nanti saya upload n posting ke medium kita

Yusnia Kurniasih: Ketika membicarakan moralitas dengan konsep yang dijelaskan oleh Aldo diatas, sebenarnya moralitas sendiri itu adalah hasil kesepakatan beberapa pihak mengenai apa yang benar dan apa yang salah sehingga konsep ini dapat dipahami dengan berbeda-beda tergantung dari sudut pandang mana dan konsep ini sendiri bukanlah konsep yang netral, karena benar di sudut pandang seseorang dapat saja salah dalam sudut pandang orang lain begitu pula sebaliknya. Bahkan ketika kita harus menggunakan common sense untuk memahami moralitas, konsep ini masih sulit dilihat di dalam perilaku negara-negara. Negara yang sangat menjunjung tinggi moralitas seperti negara-negara Uni Eropa pun terkadang masih mengesampingkan moralitas karena kepentingan ekonomi atau politik mereka dalam berhubungan dengan negara lain yang membuktikan mereka masih rasional. Sebagai contoh lain, AS yang selalu mengintervensi negara-negara non demokratis untuk segera melangsungkan demokratisasi karena alasan perlindungan HAM atau kebebasan (nilai yang ia anggap benar) dan lain sebagainya tapi toh cara yang ia gunakan untuk demokratisasi menurut saya terlalu agresif dan keras (intervensi militer) sehingga bukannya mewujudkan demokrasi yang peace di negara terkait namun malah memperkeruh suasana dan menjatuhkan lebih banyak korban.

Gigih Agung: Membicarakan masalah moral dalam dunia politik itu sebenarnya menurut saya tidak ada gunanya. Kenapa? Karena dalam masalah politik moral tidak berlaku. Oke kita sekarang liberal, merdeka, bebas menentukan pendapat, blablabla.. tapi kita tetap saja terpasung dan tidak benar-benar merdeka. Hanya segelintir pihak (negara) yang menguasai dunia. Yha contoh saja PBB. PBB kedoknya menjaga perdamaian. Tapi nyatanya negara-negara besar seperti AS masih diperbolehkan memiliki senjata NUBIKA (Nuclear Biological and Chemical weapon) yang jelas2 merupakan senjata pemusnah massal. Hanya karena AS merupakan negara penyumbang dana terbesar ke AS saja maka PBB mengizinkan AS dan anteknya untuk berbuat seenaknya. AS mengintervensi urusan negara dengan alasan HAM (padahal AS juga mbunuhin orang) juga PBB diam saja. Israel segala berbuat seenaknya juga boleh2 saja, tapi coba Iran, baru bicara dia punya nuklir, langsung dunia ribut (sampai2 harga minyak terus naik, nyusahin banyak orang). Contoh di bidang ekonomi, misalnya WTO memaksa (pengakuan WTO gak maksa negara untuk gabung, tapi nyatanya jika negara itu tak bergabung, maka WTO membuat negara tersebut susah secara ekonomi. Mau tak mau gabung) negara bergabung dengannya. Setelah bergabung negara dituntut mengikuti aturan. Apes bagi negara kecil seperti indonesia dimana ekonominya dijajah oleh pasar bebas (liberalisme). Kebudayaan indonesia juga dibuat punah. Sadar atau tidak negara kita dijajah secara halus. Generasi muda kita dibuat melupakan budaya kita sendiri dengan adanya budaya dan produk dari luar yang masuk secara membabi buta.

Intinya bahwa dulu (zaman sebelum masehi) sama saja dengan sekarang. Bedanya dulu terangterangan, klo gak suka, nyerang langsung tanpa babibu. Kalau sekarang jika gak suka, oke kita gak nyerang, tapi kita menyerang secara diam2, entah diserang ekonominya, disalahkan karena disinyalir mempunyai senjata nubika dll. Zaman sekarang untuk berperang tidak perlu tembak-tembakan secara terbuka, tapi yha melalui cara-cara halus. Jadi saya sangat setuju dengan pandangan kaum realisme baha manusia tak bermoral dan jahat (termasuk saya). Buktinya yha silahkan kita melihat dunia ini. Penutup saya ingin berbicara bahwa Worlds a stage. Dunia ini panggung sandiwara. Dunia ini hanya dikendalikan oleh sejumlah kecil pihak dan negara yang besar. Peperangan tetap berlangsung sampai ssekarang baik terbuka maupun silent war jadi menurut saya paham bang Thucy masih sangat relevan hingga kini.

Syania : saya setuju dengan pendapatnya kak ezka dan yusi, bahwa skeptisme moral masih tetap eksis di dunia internasional saat ini. sperti yg telah dijelaskan oleh kak ezka dan yusi negara-negara besar/super power seperti AS masih menggunakan tindakan-tindakan yang anarkis untuk dapat

mendapatkan kuasa terhadap suatu negara meskipun di awal negara super power tersebut menggunakan perang dengan alasana demokratisasi,tetapi meskipun begitu hal tersebut tetap sama dengan konsep skeptisme moral.

Virgina Maulita: Menurut saya, skeptisme moral masih relevan dalam foreign policy saat ini. Saat ini sendiri moral memang lebih diperhatikan oleh negara dalam praktek politik luar negerinya. Contohnya Uni Eropa dengan normative power of Europe yang menjadi . Kekuatan normatif ini menjadi instrument bagi Uni Eropa untuk menyebarkan nilai dan konsep demokrasi dan HAM yang mereka anggap penting untuk menjaga perdamaian internasional. Penyebaran nilai-nilai ini sekaligus menjadi upaya Uni Eropa untuk memperluas pengaruhnya di level internasional. Setuju dengan kak Ezka dan Yusi. Moral saat ini menjadi alasan untuk menjustifikasi intervensi yang dilakukan oleh suatu negara. Intervensi yang dilakukan pun sebenarnya mengandung kepentingan nasional yang kuat dan tidak jarang justru melanggar konsep HAM dan demokrasi yang dianggap AS atau Uni Eropa penting. Perbedaan sudut pandang dalam memahami moral pun menjadi ganjalan bagi negara untuk memahami apa itu moral. Sehingga banyak negara yang menyalahgunakan konsep moral sendiri.

Aldo Marchiano Kaligis : Sebenarnya moralitas sendiri itu adalah hasil kesepakatan beberapa pihak mengenai apa yang benar dan apa yang salah ? Sangat setuju dengan komentar Yusnia 'Yusidides' Kurniasih. Moralitas adalah produk dari suatu konstruksi sosial/common approval akan suatu bentuk tindakan. All hail Thucydides, all hail Yhucydides

Yusnia Kurniasih: Terima kasih atas diskusi yang menyenangkan dan "mencerahkan" teman-teman :) ini sudah nggak ada tugas lagi kan buat yang anggota diskusi? udah jam 9:32

Ezka: RT Yusnia Kurniasih deh..

Anda mungkin juga menyukai