Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan Berdasarkan penyerapan (absorpsi) energi sinar oleh molekul-molekul tereksitasi dalam daerah ultraviolet. 1.2 Tujuan Percobaan 1. Membuat kurva kalibrasi dari serangkaian larutan standar zat aktif 2. Menentukan kadar bahan baku dan sampel ketoprofen secara spektrofotometri UV-Vis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Spektrofotometri UV-Visible Teknik spektroskopi pada daerah ultra violet dan sinar tampak biasa

disebut spektroskopi UV-Vis. Dari spectrum absorpsi dapat diketahui panjang gelombang dengan absorbans maksimum dari suatu unsur atau senyawa. Konsentrasi suatu unsur atau senyawa juga dengan mudah dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorbans maksimum. Untuk berbagai bahan farmasi pengukuran spektrum dalam daerah ultraviolet dan cahaya tampak dapat dilakukan dengan ketelitian dan kepekaan yang lebih baik dari pada dalam daerah inframerah. Apabila larutan diamati dalam kuvet 1 cm, kadar lebih kurang 10 g specimen per ml, sering menghasilkan serapan sebesar 0.2 0.8 didaerah ultraviolet atau cahaya tampak. Di daerah inframerah atau inframerah dekat, diperlukan kadar masing-masing sebesar 1 mg/ml 10 mg/ml dan hingga 100 mg/ml untuk menghasilkan serapan yang memadai, untuk daerah spectrum ini biasanya dipakai sel dengan panjang 0.01 mm 3 mm. Spectrum ultraviolet dan cahaya tampak suatu zat pada umumnya tidak mempunyai derajat spesifikasi yang tinggi. Walaupun demikian, spectrum tersebut bermanfaat sebagai tambahan untuk identifikasi. Daya dari suatu berkas radiasi akan berkurang sehubungan dengan jarak yang ditempuhnya melalui medium penyerap. Daya tersebut juga akan berkurang sehubungan dengan kadar molekul atau ion yang terserap dalam medium tersebut. Kedua factor tersebut menentukan proporsi dari kejadian total energi yang timbul. Penurunan daya radiasi monokromatis yang melalui medium penyerap yang homogeny dinyatakan secara kuantitatif oleh hokum Beer. Log 10 (1/T) = A = abc, istilah tersebut didefinisikan sebagai berikut :

A = serapan ( logaritma dasar 10 dari dari kebalikan transmitans (T).

Serapan jenis (A) adalah serapan dari larutan 1 % zat terlarut dalam sel dengan ketebalan 1 cm. harga serapan jenis pada panjang gelombang tertentu dalam suatu pelarut merupakan sifat dari zat terlarut. Daya serap (a) adalah hasil bagi serapan dibagi dengan hasil perkalian kadar yang dinyatakan dalam g/L zat (c) dan panjang sel dalam cm (c). a=

Untuk sebagian besar sistem yang digunakan dalam spektrofotometri serapan, serapan jenis suatu zat merupakan konstanta yang tidak tergantung dari intensitas radiasi datang panjang sel bagian dalam dan kadar. Dengan demikian kadar dapat ditetapkan secara fotometri. Hukum Beer tidak menunjukkan adanya pengaruh suhu, panjang gelombang, atau jenis pelarut. Untuk sebagian besar analisis pengaruh variasi suhu yang normal dapat diababikan.penyimpangan dari hukum Beer dapat disebabkan oleh variabel kimia atau instrument. Kegagalan hukum Beer dapat disebabkan oleh perubahan kadar molekul terlarut sebagai akibat asosiasi molekul terlarut atau asosiasi antara molekul terlarut dan molekul pelarut, atau disosiasi atau ionisasi. Penyimpangan lain dapat disebabkan oleh pengaruh instrument seperti radiasi polikromatis, pengaruh lebar celah atau cahaya yang menyimpang. Bahkan pada suhu tertentu dalam pelarut yang tetrtentu, serapan jenis tidak benar-benar konstan. Walaupun emikian dalam hal specimen hanya mempunyai satu komponen yang menyerap, tidak perlu system serapan tersebut memenuhi hukum Beer untuk digunakan dalam analisi kuantitatif. Kadar yang tidak diketahui dapat diperoleh dengan membandingkan dengan kurva baku yang ditetapkan secara eksperimental. Meskipun dalam pengertian yang eksak, hukum Beer tidak berlaku dalam spektrofotometri serapan atom karena kurang pastinya panjang sel dan kadar. Proses penyerapan yang terjadi dalam nyala api pada kondisi aspirasi yang berulang kembali, pada prinsipnya mengukiti hukum Beer tersebut. Secara khusus serapan atau logaritma negative dari transmitan langsung berbanding lurus dengan banyaknya atom yang menyerap. Atas dasar ini kurva kalibrasi

dapat di rancang untuk evaluasi nilai serapan yang tidak diketahui dalam arti kadar zat dalam larutan. Spectrum serapan merupakan suatu penampilan dalam bentuk grafik dari serapan atau fungsi dari serapan terhadap panjang gelombang atau suatu fungsi dari panjang gelombang. Transmitan merupakan hasil bagi daya radiasi yang ditransmisikan oleh specimen dengan daya radiasi yang jatuh pada specimen tersebut.

Penggunaan Baku Pembanding Dengan beberapa perkecualian, pengujian dan penetapan kadar secara spektrofotometri memerlukan baku pembanding, hal ini untuk memastikan bahwa pengukuran dilakukan pada kondisi yang sama untuk specimen uji dan zat pembanding. Kondisi tersebut mencakup penetapan panjang gelombang, pengaturan lebar celah, penempatan sel dan koreksi sel serta atas transmitannya. Perlu dicatat bahwa sel yang menunjukkan transmitan yang identik pada panjang gelombang tertentu dapat sangan berbeda transmitannya pada panjang gelombang ynag lain. Harus ditetapkan dan dilakukan koreksi sel yang tepat apabila diperlukan. Pernyataan sediaan yang serupa dan larutan yang serupa seperti yang digunakan dalam pemgujian dan penetapan kadar secara spektrofotometri, menunjukkan bahwa bahan pembanding tersebut adalah baku pembanding FI. Harus disiapkan dan dilakukan dan pengamatannya dengan cara yang praktis sama dengan yang digunakan untuk specimen uji. Biasanya dalam membuat larutan baku pembanding yang ditentukan, larutan disiapkan dengan kadar 10 % seperti yang diinginkan dan serapan jenis dihitung berdasarkan jumlah tepat yang ditimbang, jika tidak digunakan bahan baku pembanding yang telah dikeringkan sebelumnya, seraoan jenis dihitung terhadap serapan zat anhidrat, Pernyataan tetapkan secara bersamaan dan ukur bersamaan seperti yang digunakan dalam pengujian dan penetapan kadar secara spektrofotometri, memberikan petunjuk bahwa serapan larutan zat uji dan larutan zat pembanding, yang ditetapkan terhadap blangko, harus diukur berturut-turut dengan segera. Spektrofotometri yang sesuai untuk pengukuran di daerah spectrum ultraviolet dan cahaya tampak terdiri dari suatu system optic dengan kemampuan

menghasilkan cahaya monokromatik dalam jangkauan 200 nm 800 nm. Kedua sel yang digunakan untuk larutan yang diperiksa dan larutan pembanding harus mempunyai karakteristik spectrum yang sama. Bila digunakan instrument berkas ganda dengan perekam, sel yang berisi pelarut ditempatkan pada jalur berkas pembanding. Skala panjang gelombang dikalibrasi dengan menggunakan serapan maksimum holmium perklorat LP. Spectrum garis lampu hydrogen atau deuterium atau spectrum garis lampu busur uap raksa. Toleransi yng diperkenankan 1 nm untuk jangkauan 200 nm 400 nm dan 3 nm untuk jangkauan 400 nm 600 nm. Periksa serapan dengan menggunakan larutan Kalium bikromat P pada panjang gelombang yang ditunjukkan dalam table berikut, yang memberikan harga A (1 %, 1 cm) secara tepat untuk tiap panjang gelombang serta batas-batas toleransinya. Panjang gelombang (nm) 235 257 313 350 A (1%, 1 cm) 124.5 144.0 48.6 106.6 Toleransi maksimum 122.9 126.2 142.4 145.7 47.0 50.3 104.9 108.2

Batas jumlah cahaya yang menyimpang dapat dideteksi pada suatu panjang gelombang tertentu dengan filter atau larutan yang sesuai. Instrument spektofotometri secara garis besar terdiri dari : 1. Sumber sinar Sumber sinar ini berfungsi memberikan energi yang diabsorbsi suatu cuplikan sehingga terjadi eksitasi. Pada spektrofotometri UV sebagai sumbersinar digunakan lampu deuterium, sedangkan pada

spektrofotometri Visible sebagai sumber sinarnya dugunakan lampu wolfram. 2. Selector Selector adalah alat yang digunakan untuk memilih panjang gelombang yang diinginkan. Pada spektrofotometer UV-Vis selector yang digunakan adalah monokromator berupa prisma atau kisi (gratting). Monokromator

ini

dapat

menguraikan

cahaya

polikromatis

menjadi

cahaya

monokromatis pada panjang gelombang yang diinginkan. 3. Sel atau kuvet Sel atau kuvet ini berfungsi sebagai wadah larutan yang akan dianalisis dan terbuat dari bahan transparan. 4. Detector Detector adalah alat yang dapat merubah energi cahaya menjadi energy listrik atau isyarat listrik. Pada spektrofotometer UV-Vis detector yang digunakan adalah detector Phototube (PT) atau Photo Multiplier (PMT).

5. Recorder / alat pencatat Recorder ini berfungsi untuk menerjemahkan isyarat listrik yang berasal dari detector. Recorder ini bisa berupa jarum penunjuk yang bergerak karena adanya isyarat listrik atau dapt pula berupa meter digital yang menunjukkan besarnya serapan yang ditunjukkan oleh molekul-molekul yang tereksitasi. Ada dua macam instrument spektofotometer UV-Vis, yaitu : 1) Spektrofotometer Mono beam/Single beam (cahaya tunggal) Spektrofotometer jenis moonbeam hanya memiliki sati sel atau kuvet sebagai wadah larutan, sehingga pengukuran larutan cuplikan dan larutan blanko dilakukan secara terpisah.

Simber sinar monokromator

kuvet

detector

recorder

2) Spektrofotometer Double beam (cahaya rangkap) Pada spektrofotometer jenis double beam terdapat chopper yang dapat memisahkan sinar monokromatis yang berasal dari monokronator sebagian menuju sel yang berisi larutan blanko dan sebagian lagi menuju sel yang

berisi laritan cuplikan. Spektrofotometer jenis double beam memiliki keuntungan disbanding jenis mono beam, yaitu : a. Memungkinkan untuk mencatat secara otomatis serapan (A) ataupun transmitansi (%T) suatu cuplikan sebagai fungsi panjang gelombang. b. Perubahan intensitas sinar yang dilepaskan lampu sumber sinar dapat diatasi. c. Memungkinkandilakukankoreksi terhadap kesalahn yang

disebabkan adanya fluktuasi sinar yang dipancarkan oleh sumber sinar. d. Dapat diketahui ada atau tidaknya gugus fungsi tertentu, missal gugus karbonil, aromatic, nitro, diena terkonjugasi dalam satu molekul senyawa organic, sehingga sangat baik untuk analisis kualitatif senyawa dengan gugus fungsi tersebut.

Cermin

Cermin

Sel blanko

Sumber sinar

monokromator chopper

cuplikan

chopper

detector

recorder

Analisis kualitatif dan kuantitatif 1. Analisi Kualitatif Analisis kualitatif pada spektrofotometer UV-Vis berdasarkan : a. Kurva absorpsi Melalui kurva absorpsi yang terdiri dari jumlah, letak, serapan, panjang gelombang maksimum (maks) dapat memberikan petunjuk

adanya gugus kromofor dan auksokrom (substituent) yang ada pada suatu senyawa. b. Absorsivitas molar () Nilai absorptivitas dapat digunakan untuk identifikasi suatu senyawa. Perbandingan absorptivitas molar suatu molekul pada 2 panjang gelombang yang berbeda selalu tetap walaupun

konsentrasinya berubah-ubah. 1 pada c1 2 pada c1 2. Analisi Kuantitatif Analisi kuantitatif pada spektrofotometri UV-Vis berdasarkan hokum lambert-Beer, dimana banyaknya sinar yang diabsorpsi tergantung dari konsentrasi larutan dan panjang jalan sinar (lewat kuvet). T = I I0 A = - log T A = log Keterangan : T = transmitan A = absorbans I = intensitas sinar yang diteruskan I0 = intensitas sinar yang dilewatkan semula Absorbansi (A) dapat dinyatakan dalam 2 persamaan : 1. Bila konsentrasi dinyatakan dalam satuan molar (mol/L) A= .b.c Keterangan : = absorptivitas molar (L.mol-1.cm-1) b = tebal larutan/tebal kuvet (cm) c = konsentrasi larutan (mol/L atau molar) 2. Bila konsentrasi dinyatakan dalam persen b/v (g/100 ml) I0 I . 100% = 1 pada c2 2 pada c2

A = E1% . b . c Keterangan : E1% = ekstingsi spesifik (ml.g-1.cm-1) b = tebal larutan/tebal kuvet (cm)

c = konsentrasi larutan (g/100 ml) E1% = 10 . Mr Pengukuran serapan (A) yang paling baik dilakukan pada panjang gelombang maksimum (maks), yaitu panjang gelombang dimana terjadi serapan maksimum sinar elektromagnetik oleh suatu larutan tertentu. Pengukuran serapan pada panjang gelombang maksimum memberikan kepekaan yang lebih tinggi, artinya dengan perubahan konsentrasi yang kecil dapat memperlihatkan perubahan serapan yang besar dan hokum Lambert-Beer terpenuhi. Galat dalam Spektrofotometri Serapan Dalam beberapa kejadian teramati penyimpangan semu dari hukum Beer. Penyimpangan ini hanya semu. Hukum Beer selalu berlaku bagi molekul tertentu dan setiap penyimpangan disebabkan oleh sejumlah proses lain atau beberapa proses. Proses ini dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu galat alat dan galat faktor kimia. Galat kadar relatif akan terjadi pada setiap analisis spektofotometri, dan dalam spektrofotometer serapan modern terutama disebabkan oleh kegaduhan dan ketidaktentuan dalam kalibrasi alat. Kedipan di dalam sumber, cahaya sesat dan sumber galat lain pada kebanyakan alat modern tidak bermakna dibandingkan dengan galat tersebut di atas. Jangka ideal pengukuran kadar bagi kebanyakan alat adalah pada persentase transmitans diantara 15 % dan 60 %, dengan ragam persentase optimum tergantung alat dan beberapa macam pengganggu yang menjadi kendala. Karena kurva kadar relatif terhadap persentase transmitans hampir datar untuk kebanyakan alat ( antara 20 % - 60 %) daya serap antara 0.2 0.8, maka pengukuran kadar akan menjadi cukup seksama jika persentase transmitan terletak pada jangka ini. Alat yang mempunyai kemampuan untuk

mengubah pembacaan dengan skala penuh akan meningkatkan keseksamaan pengukuran alat yang terletak di luar jangka ini. Penerapan dalam Farmasi Penentuan Kinetika Degradasi Obat Kinetika degradasi obat dapat diikuti hanya jika produk mempunyai spektrum serapan yang berbeda dari obat yang tak rusak. Degradasi cepat paling baik diikuti dengan spektrofotometer payaran cepat. Alat dengan rangkaian fotodiode sebagai detektor sangat menguntungkan karena waktu untuk memperoleh spektrumnya cepat. Penyidikan dalam Kromatografi Penyidikan pada kromatografi yaitu pada kromatografi lapis tipis terutama HPLC karena banyak obat menyerap radiasi UV-Vis. Penetapan Tetapan Keseimbangan Penetapan tetapan keseimbangan dengan spektrofotometri serapan mempunyai keuntungan dibanding dengan potensiometri yaitu dapat menetapkan tetapan pada kadar total ~10-5 M, sedangkan pada potensiometri kadarnya harus ~10-3 M, sehingga senyawa yang kurang larut atau tersedia dalam jumlah sedikit dengan mudah dapat dikaji dengan spektofotometri. Penetapan Stoikhiometri Kompleks Stoikhiometri kompleks dengan mudah dapat pula ditetapkan secara

spektofotometri. Dua metode yang paling umum digunakan adalah metode nisbah mol dan metode Job.

II.2

Ketoprofen

Ketoprofen adalah turunan asam propionat yang mempunyai beberapa kemampuan menghambat siklooksigenase dan lipooksigenase. Obat ini cepat diabsorbsi, tetapi waktu paruhnya pendek. Obat ini dimetabolisme secara lengkap di hati, meskipun 90% terikat dengan protein plasma. Obat ini tidak mengubah aktivitas warfarin atau digoksin. Sebaliknya pemberian bersama probenesid akan meningkatkan kadar ketoprofen dan memperpanjang waktu paruh plasmanya.

BAB III PROSEDUR PERCOBAAN

III.1

Alat Percobaan Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain : 1. Spektrofotometer UV-Visible 2. Labu takar 50 ml, 100 ml 3. Pipet volume 4. Pipet tetes 5. Spatel logam 6. Gelas ukur 7. Beaker glass

III.2

Bahan Percobaan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain : 1. Ketoprofen 2. Aquadest

III.3

Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Zat Standar Ketoprofen .

Ditimbang 50,0 mg zat standar Ketoprofen kemudian ditetesi etanol hingga larut, dimasukkan ke dalam labu ukur 500,0 mL.

Dilarutkan dalam air hingga 500,0 mL

Dipipet larutan sebanyak 3,0mL.

Di encerkan dengan pelarut yang sama ad 50,0mL.

Kemudian diukur serapannya pada antara 400 800 nm.

III.4

Pembuatan Kurva Kalibrasi

Ditimbang seksama Ketoprofen 50,0 mg.

sampel

Ditetesi etanol hingga larut. Diencerkan ad 500,0 mL dengan pelarut aquadest lalu dibuat serangkaian larutan dengan konsentrasi :

(100,0 ppm)

Dipipet 1 mL.

Dipipet 2 mL.

Dipipet 3 mL.

ad 50 mL

ad 50 mL ad 50 ml

1 x100 ppm 2 ppm 50

2 x100 ppm 4 ppm 50

3 x100 ppm 6 ppm 50


Dipipet5mL.

Dipipet4mL.

ad 50 mL

ad 50 mL

4 x100 ppm 8 ppm 50

5 x100 ppm 10 ppm 50

Diukur serapannya pada panjang gelombang maksimal.

III.5

Penetapan Kadar

Ditimbang seksama sampel Ketoprofen sebanyak 50 mg, ditetesi etanol, dilarutkan dalam 500 mL air (100 ppm).

Dipipet 2 mL.

ad 50 mL

2 x100 ppm 4 ppm 50

Diukur serapannya pada panjang gelombang maksimal.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil Percobaan Penentuan maks

Analisis kualitatif

Menggunakan kurva kalibrasi dari larutan standar baku pembanding ketoprofen Dengan mengukur serapan dari serangkaian larutan standar yang dibuat dengan konsentrasi yang berbeda-beda, kemudian dibuat grafik hubungan antara serapan dengan konsentrasi dengan cara memplot serapan dari sampel ketoprofen, pada kurva kalibrasi, maka konsentrasi sample ketoprofen dapat ditentukan:
Konsentrasi ketoprofen (ppm) Pada maks = 259,8 nm A=

2 4 6 8 10

0,123 1,253 1,394 0,535 0,654

Pada maks = 259,8 nm, didapatkan persamaan kurva kalibrasi : y = 0,0672x 0,0114; r =

Penetapan kadar sample Setelah didapatkan nilai absorban atau serapan dari sample ketoprofen yakni sebesar : Sampel 1 = 0,307 Sampel 2 = 0,315

maka kadar sampel dapat ditentukan dengan memasukan nilai absorban kedalam persamaan garis kurva kalibrasi : o Sampel 1 y (A) = 0,307 y 0,307 x o Sampel 2 y (A) = 0,315 y = 00672x 0,0114 00672x 0,0114 4,857 g/ml = = = 00672x 0,0114 00672x 0,0114 4,738 g/ml

0,315 = x
o Rata-rata x

o Berat zat aktif ketoprofen 47975 g = 47,975 mg

o Kadar ketoprofen dalam sampel

IV.2

Pembahasan

Pada praktikum pertama ini, kami melakukan percobaan mengenai spektrofotometri UV-Visible, dengan menggunakan sampel ketoprofen. Tujuan dari percobaan ini adalah ............... Spektro adalah ......... Ketoprofen merupakan ...................... Pertama dibuat kurva kalibrasi dari baku pembanding ketoprofen dengan beberapa konsentrasi, yaitu 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Menurut literatur, ketoprofen memiliki sifat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam etanol. Oleh karena itu untuk melarutkan ketoprofen kami menambahkan etanol beberapa tetes hingga ketoprofen terlarut, kemudian ditambahmekan air hingga 500 mL. Penambahan etanol sebenarnya tidak dianjurkan karena dapat merusak sel/kuvet pada instrumen spektrofotometer. Tetapi dalam hal ini dapat ditolerir, karena kadar etanol yang ditambahkan dalam larutan sangat kecil (5 tetes) dan dapat hilang dengan penambahan aquadest yang volumenya jauh lebih besar daripada penambahan etanol (hingga 500mL). Dari pengenceran di atas, didapatkan konsentrasi 100 ppm. Kemudian dibuat beberapa seri pengenceran, yaitu 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm, lalu diukur dengan spektrofotometer untuk mendapatkan persamaan kurva kalibrasi pada panjang gelombang maksimum 259,8 nm. Pada penggunaan instrumen ini, nilai serapan yang dihasilkan tidak boleh kurang dari -1 dan tidak boleh lebih dari 1. Kemudian didapatkan kurva kalibrasi yaitu y=0,0672x 0,0114. Selanjutnya dilakukan pengukuran kadar pada sampel ketoprofen sebanyak 50 mg dalam 500 mL dengan perlakuan yang sama seperti baku pembanding. Kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi dalam range konsentrasi pada baku pembanding yaitu 2-10 ppm. Diambil 5 mL dalam 100 mL aquadest. Pengenceran tersebut dilakukan dua kali (duplo) agar mendapatkan perbandingan hasil yang lebih akurat. Hasil pengukuran tersebut diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Kemudian serapan yang dihasilkan disubstitusikan pada persamaan kurva kalibrasi yang telah didapat. Hasil perhitungan yang didapat, yaitu pada sampel 1 adalah 4,738 g/mL dan sampel 2 adalah 4,857 g/mL, kemudian dirata-ratakan, didapatkan

hasil 4,7975g/mL, dan dikalikan dengan faktor pengenceran untuk mendapatkan bobot ketoprofen dalam sampel yaitu, 47,975 mg. Kemudian setelah didapatkan bobot ketoprofen dalam sampel, dicari kadar ketoprofen yaitu dibandingkan antara 47,975 mg dengan 50 mg dikalikan dengan 100%. Didapat kadar ketoprofen yaitu 95,95%. Setelah dibandingkan dengan pustaka yaitu Farmakope Indonesia IV, kadar ketoprofen seharusnya berkisar antara 98-105%. Maka kadar sampel ketoprofen tidak memenuhi syarat dengan selisih 2,05%. Hal ini dikarenakan adanya pengotor pada pelarut yang digunakan.

BAB V KESIMPULAN
Panjang gelombang maksimum (max) dari Ketoprofen adalah 259,8 nm. Data kurva kalibrasi : Konsentrasi ketoprofen (ppm) 2 4 6 8 10 Pada maks = 259,8 nm A= 0,123 1,253 1,394 0,535 0,654

Persamaan kurva kalibrasi : y = r= Besarnya absorban sampel pada panjang gelombang maksimum (max) adalah: Sampel 1 = 0,307 Sampel 2 = 0,315 maka kadar sampel ketoprofen sebesar 95,95 % b/v, dan tidak memenuhi syarat Farmakope Indonesia IV, yaitu berkisar 98-105% b/v. 0,0672x 0,0114

DAFTAR PUSTAKA

Munson, James W. Analisis Farmasi Metode Modern , Vol 11, Airlangga University Press, Surabaya, 1991, BAB VIII, hal 333. Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979.

Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995. Willard,M., Instrumental Methods of Analysis , 7th, Wadsworth Pub.Co., Calofornia, 1998.

Tony Owens, Fundamental of UV-visible Spectroscopy, Agilent Technology, 2000

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

KELOMPOK 6A
Nurrina Dwi Larasati Nurlaila Sukmawati Rizky Wangiyulandari Disya C Wiyanti Agung Setiawan Yahya 3311091011 3311091017 3311091031 3311091043 3311091037

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FARMASI CIMAHI 2012