Anda di halaman 1dari 8

TROMBOSIT

I. Struktur Trombosit Trombosit merupakan sel berbentuk disk-shape dengan diameter 3-4 m, yang secara normal terdapat dalam whole blood dengan konsentrasi 200.000-400.000/m. Gambaran struktur trombosit berupa membran sel tipikal, sistem mikrotubular sirkumferensial, sistem tubular padat, bermacam bentuk granul dan di bagian luar berupa sistem kanalikular terbuka. a. Membran bilipid dan membran protein. Membran bilipid yang di sekitar trombosit terdiri dari beberapa glikoprotein yang berfungsi sebagai sebagai reseptor permukaan. Membran bilipid juga merupakan tempat berlangsungnya berbagai aktivitas kompleks koagulasi trombosit.
1. Glikoprotein Ib (GP Ib) adalah protein transmembran instrinsik dengan berat

molekular sekitar 140 kilodaltons. Glikoprotein ini merupakan tempat pengikatan faktor willebrand (vWF). Ikatan vWF berguna untuk adhesi trombosit, merupakan fungsi trombosit yang utama.
2. Glikoprotein IIb-IIIa (GP IIb-IIIa) merupakan kompleks membran protein yang

yang

calsium-dependent yang berfungsi sebagai reseptor fibrinogen. Ikatan fibrinogen berperan untuk terjadinya agregasi trombosit. b. Mikrotubular dan Mikrofilamen 1. Mikrotubular berada di bawah membran trombosit yang membentuk pita melingkar. Mikrotubular terdiri dari tubulin dan berperan dalam penunjang sitoskeletal trombosit dan kontraksi sel yang distimulasi. 2. Mikrofilamen terdiri dari aktin dan berperan dalam pembentukan trombosit pseudopod. c. Sistem Tubular padat Disebut sistem tubular padat karena bersifat amorphous, dan berupa material padat elektron. Sistem secara selektif mengikat kation divalen dan merupakan reservoar

kalsium trombosit (perubahan kalsium berpengaruh terhadap fungsi trombosit). Sistem tubular padat juga merupakan tempat siklooksigenase trombosit dan sintesis prostaglandin.
d. Granul menyimpan berbagai substansi yang dikeluarkan selama agregasi trombosit atau

sebagai substansi untuk terjadinya agregasi.


1. Granul padat adalah partikel padat elektron yang mengandung adenosine diphosphat

(ADP) dan kalsium dengan konsentrasi tinggi, demikian juga dengan serotonin dan nukleotida lain. Substansi tersebut dilepaskan pada saat stimulasi trombosit yang meningkatkan agregasi trombosit.
2. - granul menyimpan berbagai protein yang dihasilkan dari stimulasi trombosit.

Mencakup faktor 4 trombosit, -thromboglobulin, faktor platelet-derived growth, fibrinogen, faktor V, vWF dan berbagai glikoprotein yang penting untuk adhesi, khususnya thrombospondin dan fibronektin.
e. Kanalikuli. Sistem kanalikuli terbuka merupakan jaringan kompleks dari membran

permukaan yang terlihat seperti vakuola dalam trombosit dan menambah luas permukaan trombosit. Granul trombosit dikeluarkan melalui sistem kanalikuli ini.

II. Gerakan Trombosit Seperti elemen sel yang lain, keseimbangan antara produksi dan destruksi menentukan apakah jumlah trombosit yang cukup bisa dipertahankan pada darah tepi untuk hemostasis normal. A. Produksi trombosit 1. Proliferasi dan maturasi Trombosit dihasilkan dari sitoplasma megakariosit.

a. Sel stem dan precursor. Megakariosit berkembang dalam sumsum tulang dari

megakaryocyte colony forming units (CFU-Meg) yang diperoleh dari sel stem pluripotensial. b. Maturasi megakariosit. Sel matur menjadi lebih besar dengan jumlah lobulus nucleus yang bertambah. 1. Megakariosit adalah sel hematopoitik terbesar dalam sumsum tulang. Megakariosit matur dengan diameter berukuran 20-50 mdan mudah dikenali dengan mikroskop cahaya dengan gambaran multilobular, nucleus polypoid dan irregular, serta sitoplasma bergranul.
2. Maturasi

megakariosit ditandai tidak hanya dengan perubahan

morfologik, tapi juga dengan peningkatan dalam isi DNA yang terjadi karena pembelahan sel tidak disertai dengan mitosis setelah titik tertentu dalam garis sel ini.
3. Megakariosit hanya berupa sel haematopoitik polipoid abnormal.

Meskipun sebagian besar megakariosit immatur berupa diploid, tapi banyak juga yang mempunyai kromosom 4N atau 8N. c. Pembentukan dan pelepasan Trombosit 1. Pada megakariosit matur, sitoplasma memberi gambaran morfologik berupa granul, yang merupakan karakteristik trombosit. Protein yang menyertai trombosit seperti vWF juga bisa diidentifikasi. Pada proses maturasi, trombosit.
2. Trombosit dilepaskan dari sel matur ke dalam sinus sumsum dan

bentuk

membran

demarkasi

menunjukkan

gambaran

kemudian dilepaskan ke darah tepi.

2.

Regulasi Humoral pada Produksi Trombosit

Satu atau lebih faktor plasma berguna untuk mengontrol jumlah trombosit darah tepi dan melalui cara yang sama dengan kontrol humoral terhadap sel darah lain. Beberapa peneliti meyakini bahwa hal tersebut merupakan pengontrol humoral tunggal pada produksi trombosit. a. Thrombopoietin atau mungkin faktor lain bisa menstimulasi CFU-Meg. b. Maturasi megakariosit distimulasi oleh thrombopoietin. c. Produksi trombosit distimulasi juga oleh thrombopoietin.

B. Distribusi Trombosit 1. Darah Tepi dan Limpa


a. Secara normal, sekitar dua pertiga dari trombosit berada di darah tepi

denga sisa yang hampir seluruhnya berupa trombosit splenic. b. Pada pasien asplenic, darah tepi mengandung sekitar 90% trombosit. Sebaliknya, meningkatnya splenic dapat terlihat pada pasien dengan splenomegali atau hipersplenismus. 2. Sumsum tulang juga merupakan tempat berkumpulnya trombosit.

C. Masa hidup Trombosit 1. Pertimbangan umum


a. Kurva survival trombosit dengan bentuk linear pada orang normal,

dimana kurva merupakan hasil linear yang merefleksikan umur dan destruksi random trombosit. b. Aplikasi klinis. Penentuan masa hidup trombosit berguna untuk mengevaluasi mekanisme trombositopeni pada berbagai penyakit. Walau

bagaimanapun, keputusan klinis paling banyak berdasarkan bukti masa hidup yang pendek atau normal, karena tehnik untuk menentukan masa hidup trombosit tidak terlalu luas digunakan. 2. Tehnik untuk menentukan masa hidup trombosit a. Monitoring transfusi trombosit 1. Tehnik. Jumlah trombosit secara sederhana dimonitor setelah transfusi trombosit pada pasien trombositopeni. Hal ini dapat memberikan informasi tentang penyebab kelainan.
a. Jika terdapat kegagalan sumsum tulang (misalnya pada

aplasia atau leukemia akut), transfusi trombosit dapat meningkatkan jumlah trombosit selama dalam (3-4) hari. b. Jika destruksi trombosit sebagai penyebab, transfusi trombosit mempunyai survival trombosit yang pendek yang ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan dalam hasil pengukuran atau meningkat sedikit. 2. Keuntungan. Transfusi trombosit adalah tehnik sederhana yang masih digunakan dan penting untuk tata laksana pasien dengan trombositopeni yang berat. Selain itu, ini tidak memberikan risiko tambahan. 3. Kerugian. a. Tehnik ini terbatas penggunaannya, hanya akurat pada pasien trombositopeni berat.
b. Hasil

dari metode ini dipengaruhi oleh sensitisasi

sebelumnya terhadap produk darah, mulai dari saat pasien mendapat trombosit dari orang lain. Mekanisme dasar trombositopeni mungkin disebabkan produksi trombosit yang menurun, tetapi transfusi berulang bisa menstimulasi

produksi antibodi anti trombosit, menyebabkan destruksi pada transfusi trombosit. b. Radiolabeling 1. Tehnik. Kemampuan hidup trombosit ditentukan dengan

pengukuran radioaktivitas dari sampel darah setelh infus trombosit in vitro dengan radioisotop.
a. Chromium

51 (51CR) digunakan untuk mempelajari

gerakan trombosit
b. Indium 111 (111In) menjadi isotop pilihan pada banyak

laboratorium karena memberikan labeling yang lebih besar serta lebih efisien dibandingkan
51

Cr.

Hal

ini

memungkinkan untuk dilakukan studi autolog pada pasien trombositopenia dengan dosis radiasi yang lebih rendah. 2. Keuntungan. Radiolabeling lebih sensitif daripada pengukuran jmlah trombosit. Radiolabeling juga memiliki standardisasi yang bagus, dan studi autolog bisa dilakukan pada banyak pasien. 3. Kerugian. a. Radiolabeling memberikan efek radiasi terhadap pasien b. Radiolabeling trombosit tidak digunakan secara luas, dan membutuhkan laboratorium khusu.
c. Pada pasien dengan trombositopeni berat (khususnya ketika
51

Cr digunakan), perlu digunakan trombosit sebagai subjek

untuk meningkatkan destruksi sebagai hasil sensitisasi sebelumnya.


c. Farmakologi Labeling

1. Tehnik. Pembentukan trombosit baru ditentukan dengan mengukur

aktivitas siklooksigenase trombosit setelah pemberian aspirin single dose. a. Aspirin mencegah metabolisme asam arakhidonat melalui jalur siklooksigenase yang irreversibel. b. Produksi trombosit sama dengan destruksi trombosit dan aktivitas siklooksigenase juga merefleksikan masa hidup trombosit. 2. Keuntungan. Farmokologik labeling selalu autolog, memerlukan fasilitas laboratorium yang minimal dan pasien tidak terpapar dengan radiasi. 3. Kerugian. a. Tenik ini digunakan hanya sebagai alat penelitian pada sebagian kecil laboratorium dan tidak digunakan luas.
b. Tehinik berupa menghambat sementara fungsi trombosit

pada pasien trombositopeni. Tetapi terdapat beberapa kesukaran untuk melakukan tehnik ini pada pasien trombositopeni berat disebabkan tidak sesuainya anatara produksi trombosit dengan kemapuan hidupnya.
c. Aspirin juga menghambat siklooksigenase megakariosit

yang mengacaukan interpretasi kurva survival trombosit dan bisa menjelaskan ketidaksesuaian hasil dari berbagai penilaian.