Anda di halaman 1dari 4

Yasinta Juliyani Altaria 15409009 PL 4101 TEORI PERENCANAAN Sekolah Arsitektur Perencanaan Wilayah dan Kota

Introduction: The Structure and Debates of Planning Theory


Teori perencanaan adalah subjek yang sulit dipahami dalam penelitian. Teori ini melibatkan berbagai disiplin ilmu dan tidak memiliki peraturan yang diterima secara luas. Ada dua tujuan dalam bahan bacaan ini. Pertama untuk menentukan batas-batas daerah penelitian dan karya-karya yang merupakan fokus utama dari penelitian. Sedangkan yang kedua adalah untuk menghadapi isu-isu utama yang dihadapi perencana sebagai ahli teori dan praktisi. Di dalam bahan bacaan ini, penulis telah menggabungkan antara teori klasik dan teori terbaru yang dianggap dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendesak dan sering muncul di dalam teori perencanaan. Teori perencanaan bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk didefinisikan. Ada beberapa alasan pokok yang melatarbelakangi kesulitan ini. Pertama, banyak pertanyaan mendasar mengenai perencanaan yang merupakan bagian dari pengetahuan yang lebih luas tentang peran negara dalam transformasi sosial dan keruangan. Akibatnya, teori perencanaan menjadi tumpang tindih dengan teoriteori lain yang terkait dengan disiplin ilmu sosial dan menjadi sangat sulit untuk membatasi ruang lingkup atau untuk mempertaruhkan sebuah hal khusus untuk perencanaan. Kedua, batasan antara seorang perencana dengan profesi lain yang terkait (misalnya pengembang, arsitek, dan anggota dewan) tidak terlalu berbeda. Suatu rencana dapat dibuat tidak hanya oleh seorang perencana tetapi juga oleh orang-orang lain yang memiliki profesi terkait dengan perencanaan. Ketiga, bidang perencanaan dibagi menjadi golongan mereka-mereka yang menentukan sesuai dengan objeknya (pola penggunaan lahan dari lingkungan yang terbangun dan masih alami) dan mereka yang melakukannya berdasarkan metode yang ada (proses dari pembuatan keputusan). Pada akhirnya banyak bidang yang ditetapkan berdasarkan metodologi-metodologi yang spesifik. Namun perencanaan umumnya meminjam metodologi yang beragam dari disiplin ilmu yang berbeda, sehingga basis teoritis menjadi tidak mudah untuk diterapkan dalam proses analisis. Ketidaksetujuan atas ruang lingkup, fungsi perencanaan, dan masalah mendefinisikan siapa sebenarnya perencana mengaburkan deliniasi dari teori perencanaan yang sebenarnya. Pendekatan yang digunakan di dalam bahan bacaan ini adalah untuk meletakkan teori perencanaan di dalam pertemuan antara ekonomi politik dan sejarah intelektual. Orang-orang yang menyalahgunakan teori struktural pasti akan menjadi korban rasa tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan-kekuatan sosial yang ada. Sebagai gantinya, perencana harus menggunakan teori untuk mempertimbangkan bagaimana ekonomi politik lokal dan nasional, di samping sejarah dari negara tersebut, bersama-sama mempengaruhi imajinasi kolektif dari kemungkinan bidang itu, keterbatasan, dan identitas profesional. Tantangan untuk profesional, dan terkadang aktivis, bidang perencanaan tersebut adalah untuk menemukan ruang negosiasi dalam struktur sosial yang lebih besar untuk mengejar

kota yang baik. Selain itu, teori perencanaan juga ditempatkan di dalam pertemuan lain, yaitu antara kota sebagai fenomena dan rencana sebagai aktivitas manusia. Perencanaan menyesuaikan dengan perubahan di kota, yang pada gilirannya diubah dengan perencanaan dan politik. Interaksi ini bukan sistem tertutup. Perencana tidak hanya merencanakan kota-kota. Mereka juga bernegosiasi, membuat ramalan, meneliti, melakukan survei, dan mengatur pendanaan. Hasilnya bidang dalam perencanaan dipengaruhi oleh berbagai macam ide substantif dan prosedural yang melampaui batas-batas sederhana dari bidang itu sendiri. Tidak ada satu paradigma yang dapat mendefinisikan dasar dari teori perencanaan. Akibatnya, kurangnya kesepakatan tentang prioritas dan ideologi perencanaan tidak bisa dihindari. Teori perencanaan harus dapat menyediakan sarana untuk mengatasi perdebatan dan memahami akar mereka lebih dalam. Ada enam pertanyaan yang biasanya diperdebatkan. Pertama adalah apa akar dari sejarah perencanaan. Pertanyaan pertama yang biasa diajukan adalah identitas, yang mana akan membawa kita kepada sejarah. Sejarah menceritakan perencanaan kota modern muncul dari beberapa gerakan yang terpisah pada masa pergantian abad, kota taman, kota yang indah, dan reformasi kesehatan masyarakat. Tiga bidang dasar ditandai pada sejarah selanjutnya: (1) tahun-tahun formatif selama para pelopor (Howard,Burnham,dll) belum mengidentifikasi diri mereka sebagai perencana (akhir tahun 1800 1910), (2) periode pelembagaan, profesionalisasi, dan pengakuan diri dari perencanaan yang bersamaan dengan munculnya upaya perencanaan wilayah dan federal (1910 1945), dan (3) era sesudah perang standardisasi, krisis, dan diversifikasi perencanaan (Krueckeberg 1983). Cerita tentang lahirnya perencanaan ini masih diperdebatkan. Memang dalam menulis sejarah perencanaan tidak hanya dibutuhkan keakuratan, tetapi juga kritikan, orientasi pada detail, dan pemahaman dalam praktek perencanaan. Kedua adalah apa pembenaran untuk perencanaan ketika ada hal-hal yang menghalangi. Perencanaan sebenarnya adalah suatu intervensi untuk mengubah kenyataan yang ada dari suatu peristiwa. Waktu dan legitimasi dari intervensi perencanaan menjadi pertanyaan pokok dari teori perencanaan. Kapan dan pada situasi seperti apa perencanaan dapat memberikan intervensi? Pemahaman tentang alternatif untuk perencanaan dibuthkan secara implisit. Meskipun paling sering diasumsikan bahwa alternatif adalah pasar bebas, itu tidak menutup kemungkinan bahwa dapat terjadi kekacauan. Memang, secara otomatis mengasumsikan bahwa kita mengetahui alternatif untuk perencanaan adalah berbahaya. Untuk beberapa orang, harapan untuk perencanaan yang rasional hanyalah menyamakan pasar dengan ketidakpastian dan percaya bahwa logika rencana akan menggantikan kekacauan pasar. Namun orang lain memegang keyakinan sebaliknya: bahwa logika pasar harus mengganti kekacauan yang ditinggalkan oleh perencanaan. Dualitas antara perencanaan dan pasar adalah kerangka kerja yang menentukan dalam teori perencanaan. Pertanyaan ketiga adalah mengenai aturan permainan. Nilai-nilai apa yang akan dimasukkan ke dalam perencanaan dan dilema apa yang dihadapi oleh perencana. Dilema biasanya timbul ketika perencana dihadapkan pada sektor publik dan swasta. Dilema ini menjadi lebih rumit karena adanya perluasan fungsi perencanaan yang lebih dari sekedar gol teknokratis untuk mengatasi tantangan

sosial, ekonomi, dan lingkungan yang lebih besar. Konflik-konflik tersebut tercermin dalam pilihan-pilihan perencana yang harus dibuat ketika mereka mencoba untuk mendamaikan tujuan yang saling bertentangan dari pembangunan ekonomi, keadilan sosial, dan perlindungan lingkungan. Meskipun ketiga tujuan ini merupakan janji jangka panjang dari pembangunan berkelanjutan, mereka telah menciptakan ketegangan tidak hanya antara perencana dan dunia luar, tetapi juga di dalam perencanaan itu sendiri (Champbell 1996). Dimensi etis lain muncul dari kesulitan seputar peran sebagai ahli perencana. Pertanyaan mengenai keseimbangan yang tepat antara keahlian dan masukan warga muncul dalam isu-isu seperti desain jalan raya dan fasilitas pembuangan limbah, isu-isu dimana kelompok-kelompok sosial tertentu harus menanggung biaya. Para ahli perencana mengaku menggunakan keahlian ilmiah untuk membenarkan keraguan kebijakan legitimasi metode mereka, dengan alasan bahwa bahasa teknis menyamarkan nilainilai yang menyela dan mengaburkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Namun pengembangan metode peramalan teknis tetap diperlukan jika perencana adalah untuk memenuhi tanggung jawab mereka ketika merancang kebijakan untuk jangka panjang. Keempat adalah kendala dalam wewenang perencanaan. Bagaimana perencanaan bisa efektif ketika dihadapkan pada ekonomi campuran. Tidak seperti pekerjaan-pekerjaan lain, perencana tidak punya wewenang penuh atau keahlian melebihi objek dalam pekerjaan mereka. Perencana bekerja dalam keterbatasan ekonomi politik kapitalis dan visi kota mereka, serta bersaing dengan orang-orang dari pengembang, konsumen, dan kelompok-kelompok yang lebih kuat lainnya. Mereka juga bekerja dalam batasan demokrasi dan birokrasi pemerintah. Para perencana yang paling kuat adalah mereka yang dapat mengatur sumber daya untuk melakukan perubahan dan mendapatkan pembangunan proyek-proyek (Doig, bab 19, edisi ini: Caro 1974; Walsh 1978). Pertanyaan kelima adalah gaya perencanaan. Apa yang perencana lakukan. Standar teori perencanaan menjelaskan perencanaan komprehensif sebagai upaya untuk mengkoordinasikan pengembangan berganda dan inisiatif regulasi yang dilakukan di daerah atau kota. Keberhasilan bergantung pada tingkat pengetahuan yang dimiliki dan kemampuan teknologi untuk menggunakannya. Upaya itu seolaholah layak tapi gagal dalam dua hal. Pertama, perencanaan yang komprehensif diperlukan tingkat pengetahuan, analisis, dan koordinasi organisasi yang mustahil kompleks (Altshuler 1972). Kritik ini menyebabkan dorongan untuk perencanaan tambahan (Lindblom, bab 13, edisi ini). Kedua, dianggap kepentingan masyarakat umum tetapi pada dasarnya memberikan suara untuk hanya satu golongan dan mengabaikan kebutuhan masyarakat miskin dan lemah. Kritik ini menyebabkan panggilan untuk perencanaan advokasi (Davidoff, bab 14, edisi ini). Tantangan yang nantinya akan dihadapi dalam perencanaan komprehensif merupakan bagian dari ekspansi yang lebih besar dari teori perencanaan di luar perencanaan penggunaan lahan ke dalam kebijakan sosial dan ekonomi. Pertanyaan yang terakhir adalah pertanyaan abadi dari kepentingan publik. Perencana terus menghadapi kontroversi apakah memang ada kepentingan umum tunggal dan apakah mereka mengenali dan melayaninya. Sampai saat ini perencana belum meninggalkan gagasan melayani kepentingan umum. Keyakinan dalam kepentingan umum adalah dasar untuk satu set nilai-nilai yang perencana sayangi:

perlindungan dan kesempatan yang sama, ruang publik, dan rasa masyarakat sipil dan tanggung jawab sosial. Tantangannya adalah untuk mendamaikan manfaat dari suatu kepentingan masyarakat umum dengan keragaman (sesudah modern dan sebaliknya) yang berasal dari masyarakat yang hidup berdampingan. David Harvey memandang umumnya ide-ide keadilan sosial dan rasionalitas diadakan sebagai jembatan untuk mengatasi dilema ini. Tugas utama perencana adalah melayani kepentingan publik di kota-kota, pinggiran kota, dan pedesaan.

Kritikal Review Mendefinisikan teori perencanaan memang bukan perkara mudah. Setiap orang di dunia ini bisa merencanakan sesuatu tanpa harus mengetahui teori-teori yang terkait dengan perencanaan. Walaupun hasil dari perencanaan yang menggunakan teori pada umumnya lebih baik daripada yang tidak menggunakan teori. Bahan bacaan yang saya buat ringkasannya di atas memberikan banyak argumen yang menguatkan bahwa sebenarnya tidak ada definisi teori perencanaan yang pasti. Setiap orang bisa membuat definisi sendiri. Menurut saya pribadi teori perencanaan secara sederhana adalah penjelasan tentang banyak fakta-fakta sehingga kita dapat memahami langkah-langkah di dalam perencanaan. Selain argumen-argumen yang ada di dalam bahan bacaan tersebut, alasan lain yang bisa digunakan untuk memperkuat sulitnya mendefinisikan teori perencanaan adalah bahwa perencanaan bukanlah ilmu yang pasti. Maksud tidak pasti di sini adalah hasil dari perencanaan tidak selalu sesuai dengan rencana yang kita buat. Ada kalanya di dalam proses perwujudan rencana, rencana yang telah kita buat mengalami perubahan misalnya karena faktor cuaca atau faktor manusianya itu sendiri. Jadi perencanaan di sini tidak seperti ilmu matematika yang satu ditambah satu hasilnya akan tetap dua walaupun terjadi bencana alam atau perang antar suku. Akibatnya setiap orang bebas membuat definisi teori perencanaan sesuai dengan pemahaman masing-masing.