Anda di halaman 1dari 7

MATA KULIAH KEAMANAN GLOBAL II

Essay Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Senapati Panji N. 170210080116

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2011

Meningkatnya pertumbuhan penduduk di dunia telah menjadi sebuah masalah tersendiri bagi setiap negara. Berbagai kebutuhan semakin diperlukan dan semakin berkurang dari waktu ke waktu. Dalam lingkup hubungan internasional, kebutuhan tersebut bisa dimasukkan ke dalam national interest dari suatu negara. Menurut saya, bagi setiap negara, national interest memiliki suatu hal yang sangat mendasar, yakni perdamaian, baik di ranah internasional, maupun di ranah domestik (masyarakatnya sendiri). Perdamaian tersebut tidak hanya didapatkan melalui perasaan aman karena tidak adanya perang seperti halnya yang dipaparkan oleh para penstudi keamanan global tradisional, namun juga didapatkan melalui perasaan aman karena hidupnya terjamin / sejahtera (non-tradisional). Keamanan non-traditional melingkupi segala aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik yang dapat memberi efek negatif bagi keamanan negara. Hal ini dikarenakan keamanan nontraditional bersifat multidimensional, tidak hanya berupa ancaman militer saja. Selain itu, keamanan non-tradisional tidak hanya membahas pada satu persoalan, namun berbagai macam persoalan. Namun dalam essai ini, saya ingin membahas mengenai keamanan global nontradisional yang terfokus pada berkurangnya minyak bumi yang merupakan sumber daya alam utama yang menjadi kebutuhan dunia saat ini. Memang, keamanan negara dari isu militer merupakan hal yang penting, namun isu tersebut tergeser perlahan sejak Perang Dunia II berakhir. Isu militer merugikan secara fisik, namun isu lain selain militer juga bisa menimbulkan kerugian pada kehidupan manusia. Robert Kaplan dalam buku Environmental Change and The New Security Agenda, Implications for Canadas Society and Environment (2008) menyatakan, Disease, overpopulation, unprovoked crime, scarcity of resources, refugee imigrations, the increasing erosion of nation state independence and international borders and the empowerment of private armies and drug cartels. Pernyataannya tersebut kemudian mendorong isu selain militer menjadi suatu diskusi penting dalam kaitannya dengan studi keamanan global. Bertambahnya jumlah penduduk akan memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan akan hutan, daratan, dan air sebagai kebutuhan energi. Meningkatnya konsumsi energi juga membutuhkan lebih banyak bahan bakar minyak bumi, dimana hal itu juga akan meningkatkan efek rumah kaca yang berujung pada global warming. Permasalahan utamanya adalah terkait kelangkaan sumber daya alam, penyakit dan

ledakan jumlah penduduk. Sebagaimana yang disampaikan oleh Homer-Dixon, Environmental change, population growth and changing consumption patterns alter a previously stabe balance of population and resources, leaving different groups in competition for the remaining scarce resources. This competition degenerates into violent conflict only way they will achieve their aims. Eksploitasi sumber daya alam minyak bumi tersebut dilakukan secara terus menerus hingga akhirnya bisa dikatakan sebagai suatu barang langka di beberapa tempat. Kelangkaan tersebut menyebabkan banyak pihak yang ingin memiliki sumber daya alam itu untuknya sendiri melalui persaingan. Menurut AS, persaingan untuk mendapatkan sumber daya alam minyak bumi saat ini bisa dikategorisasikan ke dalam tingkat vital karena beberapa faktor, yakni pertama adalah fakta bahwa minyak bumi merupakan sumber energi utama saat ini dan Amerika sebagai salah satu negara hegemoni merupakan pengkonsumsi minyak bumi terbesar di dunia. Ketiga, banyaknya ladang minyak yang telah mencapai peak production, yang berarti bahwa produksi minyak dunia terus menurun sedangkan permintaan dunia akan minyak tetap meningkat. Hal ini menyebabkan meroketnya harga minyak yang diprediksi oleh banyak pengamat akan menembus angka US $100/barrel dan menyebabkan akan terjadinya krisis minyak global. Keempat, apabila AS kekurangan pasokan minyak maka hal tersebut berimbas langsung terhadap sektor industri dan militer AS sebagai pengkonsumsi utama BBM (bahan bakar minyak). Apabila ini terjadi maka perekonomian negara juga akan terganggu. Dan bila perekonomian AS terganggu, maka perekonomian dunia pun akan mengalami imbasnya terkait dengan World Bank yang menjadi acuan perekonomian dunia sekarang. Karena alasan-alasan tersebut, Amerika menganggap isu keamanan non-tradisional minyak bumi ini begitu penting. Contoh kasus mengenai pentingnya minyak bumi bisa dilihat pada kasus Argentina-Inggris terkait pulau Malvinas. Awal dari permasalahan kasus itu adalah masalah status kepemilikan pulau tersebut, yang pada awalnya diklaim milik Argentina, namun disanggah oleh Inggris yang menyatakan bahwa pulau tersebut merupakan wilayahnya, yang dilihat berdasarkan sejarah dari kedua negara. Perdebatan mengenai status kepemilikan pulau Malvinas berlangsung sejak 1832. Lalu pada tahun 1995, suasana panas yang ada pada kedua negara sempat mereda, hingga kedua negara mau melakukan hubungan kerjasama karena keduanya sama-sama merasa memiliki pulau Malvinas. Namun pada tahun 2003, Argentina kembali mempermasalahkan keabsahan pulau

Malvinas sebagai milik Inggris. Hal itu karena diketahui sebelumnya, oleh kedua negara, bahwa pulau Malvinas mengandung cadangan minyak bumi hingga 60 juta barel. Contoh lainnya dapat dilihat pada kasus Perang Teluk I, yakni invasi Irak ke Kuwait. Akibat Perang Teluk ini, ladang minyak Kuwait mengalami kerusakan yang berat. Total (Irak, Kuwait, Saudi) menguasai 35% minyak dunia. Oleh sebab itu, terjadinya Perang Teluk telah mendongkrak harga minyak sebesar 15%, tingkat tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir di pada masa terjadinya perang tersebut. Kenaikan harga minyak ini berimbas pada negara-negara lain pengimpor minyak. Dengan kenaikan harga minyak, maka berimbas pula pada kenaikan harga barang. Contoh kasus tersebut menunjukkan betapa pentingnya sumber daya alam minyak bumi tersebut untuk kehidupan manusia saat ini. Bisa dilihat dari kehidupan kita sekarang, dimana salah satu dari kebutuhan utama kita, yakni alat transportasi. Dan kendaraan bermotor merupakan hal paling utama yang digunakan sebagai alat transportasi kita saat ini. Motor, mobil, kereta, pesawat, kapal laut, semuanya menggunakan bahan bakar hasil olahan dari minyak bumi. Semakin minyak bumi dieksploitasi, semakin besar pula kerugian yang akan ditanggung oleh kita sendiri. Dari data yang saya dapatkan, penduduk di dunia saat ini ada +7 miliar berdasarkan catatan Geohive (sebuah situs statistik kependudukan dunia), dan jumlah kendaraan bermotor di dunia ada +1,015 miliar (2010) berdasarkan catatanWardAuto (situs analisis kendaraan berroda empat atau lebih). Jumlah kendaraan bermotor berroda empat atau lebih tersebut tidak pasti digunakan 100% semuanya. Ada banyak orang yang memiliki lebih dari satu kendaraan di rumahnya. Ada juga kolektor mobil, atau orang yang membeli banyak truk untuk alat transportasi pekerjaannya. Namun data-data tersebut belum ditambahkan oleh kendaraan berroda dua, kapal laut, dan pesawat. Bila semuanya diakumulasikan, bukan tidak mungkin bila minyak bumi yang ada sebenarnya sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan manusia dalam aspek transportasi ini. Menurunnya persediaan minyak bumi yang ada ini bisa saya katakan telah disebabkan oleh perubahan lingkungan dari tradisional menuju modern. Perubahan lingkungan dan adanya perubahan konsumsi serta jumlah penduduk yang meningkat, merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan konflik yang saling memperebutkan apa yang menjadi kebutuhan dasarnya. Teori dari Homer-Dixon diatas dapat menjadi penghubung antara isu lingkungan dan konsep studi

keamanan non-tradisional saat ini, dengan tanpa menghilangkan konsep keamanan tradisional. Karena pada dasarnya, ketika manusia kehabisan kebutuhan hidupnya, maka ia akan berusaha sekeras mungkin untuk memenuhinya. Besar kemungkinan ketika tujuan itu harus diwujudkan, manusia akan bersaing satu sama lain untuk memperebutkannya. Bila dikaitkan dengan liberalisme, maka persaingan tersebut bisa menjadi sebuah kerjasama. Akan tetapi, dalam pendekatan realisme persaingan tersebut bisa menjadi konflik dan berujung pada aksi kekerasan yang lebih merugikan. Selain itu, kita juga harus memperhitungkan tentang manusia dan perilakunya terhadap lingkungan, sebab faktor inilah yang menentukan terhadap keberlangsungan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Kebanyakan kasus kerusakan lingkungan sangat sulit atau bahkan sama sekali tidak dapat diperbaiki kembali ke kondisi semula (irreversibility). Beban akibat kerusakan lingkungan, dan solusinya, memiliki cakupan yang cenderung bervariasi, baik dari dimensi waktu maupun dimensi ruang atau wilayah (temporal and spatial variability). Misalnya dalam hal minyak bumi ini, pengaruhnya akan sangat besar terhadap kehidupan manusia, dimana olahan minyak bumi yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor menghasilkan gas karbondioksida dan monoksida yang sangat berbahaya terutama untuk manusia itu sendiri. Pernyataan itu bisa menjelaskan mengapa isu lingkungan hidup sifatnya sungguh luas, kesalahan perilaku yang diperbuat manusia dapat mengakibatkan kerusakan di alam. Dan kerusakan ini tidak bersifat dari wilayah yang terbatas saja, tetapi juga dapat meluas hingga melintasi batas-batas negara. Hubungan yang muncul diantara isu lingkungan hidup dan studi keamanan di dalam dunia internasional, khususnya dalam ilmu hubungan internasional, menunjukkan bahwa ilmu hubungan internasional mengalami dinamisasi secara periodik, dimana sebenarnya masih berkaitan dengan studi-studi tradisionalnya. Munculnya isu lingkungan hidup telah berhasil memperkaya berbagai perspektif teoretis yang ada dalam ilmu hubungan internasional dan memperluas cakupan pemahaman para penstudi atas suatu cakupan wilayah dan pusat perhatian studi seperti negara, konflik, kesenjangan, kerjasama, lembaga dan pemerintahan. Hal ini disebabkan karena seringkali terjadi peristiwa-peristiwa alam yang dimunculkan disini dengan istilah isu lingkungan hidup yang dapat mengancam keamanan sebuah negara bahkan juga mengancam keamanan masyarakat / individunya itu sendiri. Hubungan isu ini kemudian membuat konsep keamanan tradisional

mengalami pergeseran, seiring dengan semakin menurunnya peristiwa perang dan perdamaian secara periodik. Isu lingkungan ini merupakan bagian dari konsep studi keamanan non-tradisional, dimana isu tersebut dijadikan sebagai faktor-faktor pendukung ketika berbicara pada konsep keamanan yang lebih khusus, yaitu manusia. Konsep keamanan manusia inilah yang menjadikan konsep keamanan tradisional (negara) mengalami perubahan, seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat dunia terhadap isu lingkungan hidup dan semakin berkurangnya peristiwa-peristiwa kedaulatan, militer dan perdamaian. Hal ini yang menjadi dasar mengapa isu lingkungan hidup, salah satunya permasalahan minyak bumi diatas, menjadi bagian dari studi keamanan dalam ilmu hubungan internasional yang cukup penting untuk diperhatikan.

Daftar Pustaka

Aegi. 2010. Pertikaian Argentina-Inggris Meningkat, Terkait Malvinas. Dikutip dari www.kompas.com Brown, Oli and Alec Crawford. 2008. Environmental Change and The New Security Agenda, Implications for Canadas Society and Environment. International Institute for Sustainable Development. Robert J. Art. (2003). A Grand Strategy for America. Ithaca: Cornell University Press. Sinha, Uttam Kummar. 2006. Environmental Stresses and Their Security Implications for South Asia. Institute for Defence and Analysis. www.geohive.com www.wardauto.com