Anda di halaman 1dari 22

SELUK BELUK ANESTESI REGIONAL Cynthia Stefanie*, Purwito Nugroho** ABSTRACT Regional anesthesia or local anesthesia is using of local

analgesic drugs to inhibit sensory nerve conduction, so that pain impulses from one part of the body is blocked for a temporary (reversible) motoric function may be affected in part or in full and in a state of the patient remains conscious. A regional anesthetic block is divided into neuroaxial and peripheral. Local anesthetics can be classified into several groups with functionality and usability of each. Keywords : Anesthesia, Regional anesthesia, Local anesthesia, neuroaxial, peripheral blocks ABSTRAK Anestesi regional atau anestesi lokal merupakan penggunaan obat analgetik lokal untuk menghambat hantaran saraf sensorik,sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh diblokir untuk sementara (reversible) fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya dan dalam keadaan penderita tetap sadar. Anestesi regional terbagi menjadi neuroaxial dan blok perifer. Anestesi lokal dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan dengan fungsi dan kegunaan masing-masing. Kata kunci : Anestesi, Anestesi regional, Anestesi lokal, neuroaxial, blok perifer *Coass FK Universitas Trisakti Periode 9 April s/d 12 Mei 2012 **Dokter Spesialis Anestesiologi BLU RSUD Semarang

PENDAHULUAN Setiap pasien yang akan menjalani tindakan invasif, seperti tindakan bedah akan menjalani prosedur anestesi. Anestesi sendiri secara umum menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Secara umum anestesi dibagi menjadi dua, yang pertama anestesi total , yaitu hilangnya kesadaran secara total dan anestesi regional yaitu hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan.1 Sejarah Anestesi regional atau lokal pertama yang efektif adalah kokain. Kemampuannya dalam mematirasakan membran mukosa dan jaringan terbuka telah diketahui selama berabad-abad di Peru. Carl Koller, seorang dokter mata di Wina, Austria, pertama kali menggunakan kokain pada praktek kliniknya pada praktek kliniknya pada 1884. Sebelumnya banyak operasi mata tanpa anesthesia dan empat dekade setelah ditemukannya eter, anestesi umum memiliki keterbatasan. Kecanduan kokain dan morfin merupakan masalah yang sering timbul pada akhir abad XIX. Teknik anesthesia lokal lainnya dilakukan sebelum akhir abad XIX. Tahun 1885,

Leonard Corning, dokter ahli saraf, melakukan anesthesia spinal dan mengusulkan substitusi eter untuk tindakan bedah genitourinaria atau cabang-cabang bedah lainnya. August Bier dan Theodor Tuffier menjelaskan anesthesia spinal otentik. Bier berjasa dalam memperkenalkan anestesi spinal. Sedangkan Martinez Curbelo dari Havana, Cuba, pada

tahun 1945 melakukan anestesi epidural pertama dengan memakai jarum Tuohy dan kateter ureter. Pendekatan lumbal pertama kali digunakan untuk blok saraf paravertebral multiple sebelum teknik injeksi tunggal Pages-Doglloti diterima. Achille M. Dogliotti dari Turin, Italia memakai teknik epidural dengan identifikasi epidural space dengan teknik loss of resistance. Harvey Cushing pada tahun 1902 memperkenalkan istilah anestesi regional, untuk teknik anestesinya yakni memblok pleksus brakhialis dan skiatik melalui visualisasi langsung selama anesthesia umum untuk mengurangi kebutuhan anestetik dan mendapatkan pengurangan rasa nyeri setelah operasi. Teknik anesthesia regional intravena dilaporkan pada tahun 1908 oleh August Bier, ahli bedah yang menjadi pionir anesthesia spinal dengan teknik Bier block, yakni injeksi procaine intravena pada ekstremitas atas diantara dua torniket. Teknik ini tidak digunakan selama beberapa tahun, sampai diperkenalkan kembali 55 tahun kemudian oleh Mackinson Holmes, yang memodifikasi teknik Bier dengan menerapkan cuff tunggal proksimal. Holmes memakai lidocaine, anestetik lokal golongan amida yang disintesis oleh Lofgren dan Lundquist dari Swedia pada tahun 1943. Heinrich Braun menulis buku teks anesthesia lokal pertama dan terjemahan dalam bahasa Inggrisnya terbit pada tahun 1914. Setelah tahun 1922,Regional Anesthesia oleh Gatson Labat mendominasi Amerika Serikat dan kerjasamanya dengan Hippolite Wertheim mendirikan untuk pertama kalinya American Society of Regional Anesthesia.2,3 Anatomi Tulang punggung manusia terdiri dari 7 vertebra servikalis, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sakral menyatu pada dewasa dan 4-5 vertebra koksigeal menyatu
3

pada dewasa. Prosesus spinosus C2 teraba langsung dibawah oksipital. Prosesus spinosus C7 menonjol dan disebut sebagai vertebra prominens.2,4

Gambar 1: Tulang punggung manusia (Dikutip dari daftar pustaka nomor 4 ) Tulang belakang berperan untuk penyokong struktur tubuh dan perlindungan untuk medulla spinalis dan saraf, dan memungkinkan pergerakan tubuh. Pada setiap tingkat medulla spinalis, sepasang saraf spinal keluar dari sistem saraf pusat. Lekukan kolumna vertebralis berpengaruh terhadap penyebaran obat analgetika lokal dalam ruang subarakhnoid. Pada posisi terlentang titik tertinggi pada vertebra lumbal 3 dan terendah pada torakal 5. Lapisan yang harus ditembus untuk mencapai ruang sub arakhnoid dari luar yaitu kulit, subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum flavum dan duramater.
4

Arakhnoid terletak antara duramater dan piamater serta mengikuti otak sampai medula spinalis dan melekat pada duramater. Antara arakhnoid dan piamater terdapat ruang yang disebut ruang sub arakhnoid. Kanalis spinalis berisi medula spinalis yang ditutupi oleh meninges, jaringan lemak, dan pleksus vena. Meninges terdiri dari tiga lapisan: piameter, araknoid, dan dura mater, dimana urutan dari dalam keluar dimulai dari piamater, araknoid, dan duramater. Cerebrospinal fluid (CSF) terdapat pada ruang subaraknoid yang berada diantara piamater dan araknoid. Ruang subdural adalah ruang yang berada diantara duramater dengan araknoid, sedangkan ruang epidural adalah ruang yang berada diantara duramater dengan ligamentum flavum. Pada orang dewasa, medula spinalis berakhir pada lumbal 1 sedangakan pada anakanak medula spinalis berakhir pada lumbal 2 hinggal lumbal 3 dan akan bergerak naik saat anak-anak tumbuh dewasa. Vaskularisasi darah pada medula spinalis hingga akar saraf berasal dari arteri spinalis anterior dan sepasang arteri spinalis posterior. Arteri spinalis anterior berasal dari arteri vertebralis dan memperdarahi 2/3 bagian anterior dari tulang belakang sedangkan arteri spinalis posterior dari arteri cerebelum posterior inferior dan memperdarahi 1/3 bagian posterior dari tulang belakang. Selain itu arteria damkiewicz,arteri magna radicularis, yang berasal dari aorta dan memberikan vaskularisasi pada 2/3 bawah anterior dari tulang belakang. Untuk mencapai cairan serebrospinalis, maka jarum suntik akan menembus dari kulit, subkutis, ligamen supraspinosum, ligamen interspinosu, ligamen Flavum, ruang epidural, durameter dan ruang subarachnoid.2,5

Gambar 2: anatomi lapisan jaringan punggung (Dikutip dari daftar pustaka nomor 5) Anestesi Regional Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara pada impuls syaraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari satu bagian tubuh diblokir untuk sementara . Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya. Tetapi pasien tetap sadar. Pembagian Anestesi Regional
1. Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal, epidural dan kaudal.

Tindakan ini sering dikerjakan.


2. Blok perifer (blok saraf), misalnya anestesi topikal, infiltrasi lokal, blok lapangan, dan

analgesia regional intravena.2 Persiapan Anestesi Regional Persiapan anestesi regional sama dengan persiapan anestesi umum karena untuk mengantisipasi terjadinya toksik sistemik reaction yang bisa berakibat fatal, perlu persiapan resusitasi. Misalnya: obat anestesi spinal/epidural masuk ke pembuluh darah dapat
6

menyebabkan kolaps kardiovaskular sampai cardiac arrest. Juga untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan, sehingga operasi bisa dilanjutkan dengan anestesi umum.2 Keuntungan Anestesia Regional
1. Alat minim dan teknik relatif sederhana, sehingga biaya relatif lebih murah. 2. Relatif aman untuk pasien yang tidak puasa (operasi emergency, lambung penuh)

karena penderita sadar.


3. Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi. 4. Tidak ada polusi kamar operasi oleh gas anestesi. 5. Perawatan post operasi lebih ringan.6

Kerugian Anestesia Regional


1. Tidak semua penderita mau dilakukan anestesi secara regional. 2. Membutuhkan kerjasama pasien yang kooperatif. 3. Sulit diterapkan pada anak-anak. 4. Tidak semua ahli bedah menyukai anestesi regional. 5. Terdapat kemungkinan kegagalan pada teknik anestesi regional.6

BLOK SENTRAL Neuroaksial blok (spinal dan epidural anestesi) akan menyebabkan blok simpatis, analgesia sensoris dan blok motoris (tergantung dari dosis, konsentrasi dan volume obat anestesi lokal).7 Anestesi Spinal Anestesi spinal ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarackhnoid. Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang

subarachnoid. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. Untuk mencapai cairan serebrospinal, maka jarum suntik akan menembus kulis subkutis Lig. Supraspinosum Lig. Interspinosum Lig. Flavum ruang epidural durameter ruang subarachnoid.

Gambar 3 : Penusukan Jarum Pada Anestesi Spinal (Dikutip dari daftar pustaka nomor 7) Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal, dibungkus oleh meningens (duramater, lemak dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3. Oleh karena itu, anestesi/analgesi spinal

dilakukan ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4-L5.2,7 Indikasi 1. 2. 3. Bedah ekstremitas bawah Bedah panggul Tindakan sekitar rektum perineum
8

4. 5. 6. 7.

Bedah obstetrik-ginekologi Bedah urologi Bedah abdomen bawah Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya dikombinasikan dengan anesthesia umum ringan2,7

Kontra indikasi absolut 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pasien menolak Infeksi pada tempat suntikan Hipovolemia berat, syok Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan Tekanan intrakranial meningkat Fasilitas resusitasi minim Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi.2,7

Kontra indikasi relatif 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Infeksi sistemik Infeksi sekitar tempat suntikan Kelainan neurologis Kelainan psikis Bedah lama Penyakit jantung Hipovolemia ringan Nyeri punggung kronik2,7

Persiapan analgesia spinal Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada anastesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada
9

kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini: 1. Informed consent Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anesthesia spinal 2. Pemeriksaan fisik Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung 3. Pemeriksaan laboratorium anjuran Hb, Ht, PT (Protrombin Time) , PPT (Partial Tromboplastin Time)2,7 Peralatan analgesia spinal 1. 2. 3. Peralatan monitor: tekanan darah,pulse oximetri,EKG Peralatan resusitasi Jarum spinal

Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing/quinckebacock) atau jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point, Whitecare)2,7

Gambar 4 : Jarum Spinal (Dikutip dari daftar pustaka nomor 4 )

10

Teknik analgesia spinal Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.2,7 1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maximal agar processus spinosus mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.

Gambar 5 : Teknik analgesia spinal (Dikutip dari daftar pustaka nomor 2)


2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka, misal L2-L3, L3-

L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis. 3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol. 4. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan,misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml
5. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G, 25G dapat

langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam kira11

kira 2cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah keatas atau kebawah, untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 biasanya likuor keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter.
6. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid (wasir)

dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa 6cm.2,8

Gambar 6 : Posisi duduk untuk anestesi spinal (Dikutip dari daftar pustaka nomor 6) Anastetik lokal untuk analgesia spinal
12

Berat jenis cairan cerebrospinalis pada 37 derajat celcius adalah 1.003-1.008. Anastetik lokal dengan berat jenis sama dengan css disebut isobarik. Anastetik lokal dengan berat jenis lebih besar dari css disebut hiperbarik. Anastetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari css disebut hipobarik. Anastetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik local dengan dextrose. Untuk jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi. Anestetik lokal yang paling sering digunakan:
1. Lidokaine(xylobain,lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobarik, dosis 20-100mg (2-

5ml)
2. Lidokaine(xylobain,lignokaine) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis 1.033, sifat

hyperbarik, dose 20-50mg (1-2ml)


3. Bupivakaine(markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat isobarik, dosis 5-20mg (1-

4ml)
4. Bupivakaine(markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis 1.027, sifat hiperbarik, dosis

5-15mg (1-3ml).2,7 Penyebaran anastetik lokal tergantung:


1. Faktor utama: a. Berat jenis anestetik lokal (barisitas) b. Posisi pasien c. Dosis dan volume anestetik lokal

2. Faktor tambahan a. Ketinggian suntikan b. Kecepatan suntikan/barbotase c. Ukuran jarum d. Keadaan fisik pasien
13

e. Tekanan intra abdominal2,7

Lama kerja anestetik lokal tergantung: 1. 2. 3. 4. Jenis anestetia lokal Besarnya dosis Ada tidaknya vasokonstriktor Besarnya penyebaran anestetik lokal

Komplikasi tindakan anestesi spinal 1. Hipotensi berat Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan. 2. Bradikardia Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia,terjadi akibat blok sampai T-2 3. Hipoventilasi Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas 4. Trauma pembuluh saraf 5. Trauma saraf 6. Mual-muntah 7. Gangguan pendengaran
8. Blok spinal tinggi atau spinal total.2,7,9

Komplikasi pasca tindakan 1. 2. Nyeri tempat suntikan Nyeri punggung


14

3. 4. 5.

Nyeri kepala karena kebocoran likuor Retensio urine Meningitis.2,7,9

Anestesi Epidural Anestesia atau analgesia epidural adalah blokade saraf dengan menempatkan obat di ruang epidural. Ruang ini berada diantara ligamentum flavum dan duramater. Kedalaman ruang ini rata-rata 5mm dan dibagian posterior kedalaman maksimal pada daerah lumbal.9 Obat anestetik di lokal diruang epidural bekerja langsung pada akar saraf spinal yang terletak dilateral. Awal kerja anestesi epidural lebih lambat dibanding anestesi spinal, sedangkan kualitas blockade sensorik-motorik juga lebih lemah.2,7

Gambar 6 : Teknik Anestesi Epidural (Dikutip dari daftar pustaka nomor 7) Keuntungan epidural dibandingkan spinal : 1. Bisa segmental 2. Tidak terjadi headache post op 3. Hypotensi lambat terjadi
15

Kerugian epidural dibandingkan spinal : 1. Teknik lebih sulit 2. Jumlah obat anestesi lokal lebih besar
3. Reaksi sistemis meningkat

Komplikasi anestesi epidural : 1. Blok tidak merata 2. Depresi kardiovaskular (hipotensi)


3. Hipoventilasi (hati-hati keracunan obat)9

4. Mual muntah

BLOK PERIFER Anestesi Lokal Anestesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Anestesi lokal ialah obat yang menghasilkan blokade koduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf.9 Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi lokal: 1. Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen 2. Batas keamanan harus lebar 1. Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada membran mukosa
16

2. Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang cukup

lama 3. Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap pemanasan. Anestesi lokal sering kali digunakan secara parenteral (injeksi) pada pembedahan kecil dimana anestesi umum tidak perlu atau tidak diinginkan. Di Indonesia, yang paling banyak digunakan adalah lidokain dan bupivakain.9

Mekanisme kerja Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel), mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium sehingga tidak terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya, tidak terjadi konduksi saraf. Potensi dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak, makin larut makin poten. Ikatan dengan protein (protein binding) mempengaruhi lama kerja dan konstanta dissosiasi (pKa) menentukan awal kerja.8 Konsentrasi minimal anestetika lokal (analog dengan MAC, minimum alveolar concentration) dipengaruhi oleh: 1. Ukuran, jenis dan mielinisasi saraf 2. pH (asidosis menghambat blockade saraf) 3. Frekuensi stimulasi saraf Awal bekerja bergantung beberapa faktor, yaitu:
1. pKa mendekati pH fisiologis sehingga konsentrasi bagian tak terionisasi meningkat

dan dapat menembus membran sel saraf sehingga menghasilkan mula kerja cepat 2. Alkalinisasi anestetika lokal membuat awal kerja cepat 3. Konsentrasi obat anestetika lokal Lama kerja dipengaruhi oleh:
17

1. Ikatan dengan protein plasma karena reseptor anestetika lokal adalah protein 2. Dipengaruhi oleh kecepatan absorpsi 3. Dipengaruhi oleh banyaknya pembuluh darah perifer di daerah pemberian

Efek samping terhadap sistem tubuh Sistem kardiovaskular 1. Depresi automatisasi miokard 2. Depresi kontraktilitas miokard 3. Dilatasi arteriolar 4. Dosis besar dapat menyebabkan disritmia/kolaps sirkulasi Sistem pernafasan 1. Relaksasi otot polos bronkus 2. Henti nafas akibat paralisis saraf frenikus 3. Paralisis interkostal 4. Depresi langsung pusat pengaturan nafas Sistem saraf pusat 1. Parestesia lidah 2. Pusing 3. Tinnitus 4. Pandangan kabur 5. Agitasi 6. Depresi pernafasan 7. Tidak sadar 8. Konvulsi 9. Koma
18

Imunologi 1. Reaksi alergi Sistem muskuloskeletal 2. Miotoksik (bupivakain > lidokain > prokain) Komplikasi obat anestesi lokal Obat anestesi lokal, melewati dosis tertentu merupakan zat toksik, sehingga untuk tiap jenis obat anestesi lokal dicantumkan dosis maksimalnya. Komplikasi dapat bersifat lokal atau sistemik.10,11 Komplikasi lokal
1. Terjadi ditempat suntikan berupa edema, abses, nekrosis dan gangren.

2. Komplikasi infeksi hampir selalu disebabkan kelainan tindakan asepsis dan antisepsis.
3. Iskemia jaringan dan nekrosis karena penambahan vasokonstriktor yang disuntikkan

pada daerah dengan arteri buntu.10,11 Komplikasi sistemik 1. Manifestasi klinis umumnya berupa reaksi neurologis dan kardiovaskuler. 2. Pengaruh pada korteks serebri dan pusat yang lebih tinggi adalah berupa perangsangan sedangkan pengaruh pada pons dan batang otak berupa depresi.
3. Pengaruh kardiovaskuler adalah berupa penurunan tekanan darah dan depresi

miokardium serta gangguan hantaran listrik jantung.10,11 Beberapa anastetik lokal yang sering digunakan
1. Kokain dalam bentuk topikal semprot 4% untuk mukosa jalan nafas atas. Lama kerja

2-30 menit.
2. Prokain untuk infiltrasi larutan: 0,25-0,5%, blok saraf: 1-2%, dosis 15mg/kgBB dan

lama kerja 30-60 menit.

19

3. Lidokain konsentrasi efektf minimal 0,25%, infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi

otot cukup baik. Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan.
4. Bupivakain konsentrasi efektif minimal 0,125%, mula kerja lebih lambat dibanding

lidokain, tetapi lama kerja sampai 8 jam.6,9 KESIMPULAN Anestesi regional atau anestesi lokal merupakan penggunaan obat analgetik lokal untuk menghambat hantaran saraf sensorik,sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh diblokir untuk sementara (reversible) fungsimotorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya dan dalam keadaan penderita tetap sadar. Anestesi regional dibagi menjadi blok sentral (blok neuroaksial) dan blok perifer (blok saraf). Persiapan anestesi regional sama dengan persiapan anestesi umum karena untuk mengantisipasi terjadinya toksik sistemik reaction yang bisa berakibat fatal. Baik blok sentral maupun blok perifer mempunyai keuntungan dan kerugian masing-masing. DAFTAR PUSTAKA
1. Soenarjo, Jatmiko HD. Anestesi Lokal/Regional. In : AnestesiologidanTerapiIntensif.

Semarang: Fakultas Kedokteran Undip/RSUP Dr.Kariadi; 2010, 4, 309-10


2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Analgesia Regional. In: Petunjuk Praktis

Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Jakarta: Fakultas kedokteran Universitas Indonesia; 2007,5:105-20
3. History

of

Anesthesia.

2009.

Available Accessed on

at April

http://www.docstoc.com/docs/7804135/History-of-anesthesia. 23rd,2012.
4. Urmwey

William

F.

Spinal

Anesthesia.

2009.

Available

at

http://www.nysora.com/regional_anesthesia/index.1.html. Accessed on May 3rd,2012.


5. Morgan G.E, Mikhail M.S, Murray M.J. Spinal, Epidural, and Caudal Blocks. In:

Morgan G.E, Mikhail M.S, Murray M.J, ed. Clinical Anesthesiology. 4th edition. New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill, Inc; 2005, 437-498.
20

6. Torpy JM, Lynm C, Golub Robert M. Regional Anesthesia. The Journal of the

American
7. Harry

Medical Spinal

Association. The

Available

at Block .

http://jama.amaAvailable at :

assn.org/content/306/7/781.full. Accessed on April 23rd, 2012. S. Anesthesia Subarachnoid http://www.pitt.edu/~regional/Spinal/Spinal.htm. Accessed on : April 23rd, 2011.
8. Primatika A.D, Marwoto, Sutiyono D. Teknik Anestesi Spinal dan Epidural. In:

Soenarjo, Jatmiko H.D, ed.

Anestesiologi. 1st edition. Semarang: Ikatan Dokter

Spesialis Anestesi dan Reanimasi Cabang Jawa Tengah, Inc; 2010, 325.
9. Local

and

Regional

Anesthesia.

Available

at:

http://emedicine.medscape.com/article/1831870-print. Accessed on April 23rd, 2012.


10. Komplikasi

Spinal

Anestesi.

2010.

Available

at:

http://medicanie.blogspot.com/2010/08/komplikasi-spinal-anestesi.html. Accessed on April 23rd,2012.


11. El-Kassabany

N.

Complications

of

Regional

Anesthesia.

Available

at:

http://www.slideshare.net/scribeofegypt/complications-of-regional-anesthesia-7765645. Accessed on April 23rd, 2012.

21

22